Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner di PT Telkom Indonesia Tbk Regional IV Jateng & DIY dapat dilihat karakteristik dari responden yang mengisi kuesioner penelitian. Kuesioner disebar ke 35 responden pemagang, sehingga karakteristik responden dianalisa berdasarkan sisi demografi seperti jenis kelamin, usia, status, serta lama magang
TABEL 2 Karakteristik Responden pemagang
Karakteristik Responden Frekuensi Persentase (%)
Jenis Kelamin Responden
Laki-laki 15 43%
Perempuan 20 57%
Total 35 100%
25 19-23 tahun 14 40% Total 35 100% Status Mahasiswa 14 60% Pelajar 21 40% Total 35 100%
Periode Lama Magang 6 Mei 2019 – 1 Juli 2019 1 Mei 2019 – 31 Oktober 2019 29 April 2019 – 2 Agustus 2019 1 April 2019 – 30 Juni 2019 17 Desember 2018 – 17 Juni 2019 1-3 bulan 22 63% 4-6 bulan 13 37% Total 35 100% Sumber : Diolah (2019)
Pada tabel 2 dapat dilihat pada jenis kelamin yang mengisi kuesioner. Terlihat bahwa responden yang mengisi kuesioner dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 20 orang yang berarti nilai persentasenya 57,1 persen sedangkan pada jenis kelamin laki-laki sebanyak 15 orang yang berarti nilai persentasenya 42,9 persen dari data pemagang yang berjumlah 35 pemagang. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pemagang berjenis kelamin perempuan. Dilihat pada karakteristik usia sebagian besar pemagang berumur antara 15-18 tahun 21 sebanyak orang yang berarti persentase sebesar 60,0 persen. Pada karakteristik status terlihat bahwa sebagian besar pemagang statusnya adalah pelajar dengan jumlah 21 orang yang berarti persentasenya 60 persen. Untuk lama magang, sebagian besar besar pemagang melakukan magang paling banyak selama 1- 3 bulan sebanyak 22 orang yang berarti persentase 62,9 persen.
Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas
Berdasarkan hasil uji validitas yang telah dilakukan dilihat pada jumlah variabel yang digunakan dalam penelitian kepemimpinan terhadap kesiapan kerja dengan komunikasi
26
interpersonal, dengan pernyataan sebanyak 34 dan rentang koefisien korelasi 0,343 – 0,737 dengan demikian setiap item pernyataan dari variabel kepemimpinan, kesiapan kerja dan komunikasi interpersonal dinyatakan valid karena koefisien korelasi >0,3291.
Standart pengukuran uji reliabilitas yaitu apabila nilai Cronbach Alpha > 0,6 maka reliabel. Hasil uji reliabilitas untuk masing-masing variabel yang digunakan dalam penelitian yaitu kepemimpinan sebesar α = 0,714 kesiapan kerja sebesar α = 0,735 dan komunikasi interpersonal sebesar α = 0,755 jadi instrumen penelitian dinyatakan reliabel, karena nilai Cronbach Alpha > 0,6.
Uji Normalitas
Dalam melakukan uji normalitas data penelitian menggunakan uji statistik yaitu One Sample Kolmogorov-Smirnov Test. Data dapat dikatakan normal apabila nilai asymp. Sig. (2- tailed) > 0,05 atau nilai signifikansi 5%. Uji normalitas hasilnya dapat dilihat dari probability plot yang menjadi pembanding antara distribusi kumulatif data yang sebernarnya dengan ditribusi kumulatif dari data normal
TABEL 3 Hasil Uji Normalitas
N 35
Test Statistic 0,129 Asymp. Sig. (2-tailed) 0,149 Sumber : Diolah SPSS 22 (2019)
Hasil uji normalitas pada Tabel 5 menunjukkan bahwa uji normalitas terdistribusi normal, dengan melihat nilai asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0,149 > 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel penelitian kepemimpinan, kesiapan kerja dan komunikasi interpersonalberdistribusi secaranormal.
Uji Multikolinearitas
Uji asumsi ini diperiksa berdasarkan nilai VIF (Variance InflactionFactor), jika nilai VIF > 10 atau nilai tolerance > 0,1 maka tidak terjadi multikolinearitas.
27
TABEL 4 Hasil Uji Multikolinearitas
Variabel Perhitungan Keterangan
Tolerance VIF
Kepemimpinan 0,558 1,791 Tidak Terjadi
Multikolinearitas Komunikasi Interprsonal 0,558 1,791 Tidak Terjadi Multikolinearitas Sumber : Diolah SPSS 22 (2019)
Berdasarkan hasil uji multikolinearitas pada tabel 6 diketahui untuk semua variabel bebas memiliki nilai tolerance sebesar 0,558> 0,1 dan nilai VIF yaitu 1,791 < 10. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antara variabel kepemimpinan dan komunikasi interpersonal.
Uji Heteroskedastisitas
Hasil uji asumsi heteroskedastisitas pada model penelitian :
TABEL 5 Hasil Uji Heteroskedeastisitas Glejser
Variabel Signifikansi Keterangan
Kepemimpinan 0,222 Tidak Terjadi
Heteroskedastisitas
Komunikasi Interpersonal 0,279 Tidak Terjadi
Heteroskedastisitas Sumber : Diolah SPSS 22 (2019)
Berdasarkan hasil pengolahan data menggunakan SPSS 22 uji asumsi heteroskedastisitas terpenuhui. Diketahui bahwa nilai signifikansi variabel kepemimpinan (X1) sebesar 0,222 dan varibael komunikasi interpersonal sebesar 0,279. Nilai signifikansi dari kedua variabel tersebut lebih besar daripada 0,05 maka disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada variabel bebas X1 dan Z.
28 Uji Linearitas
Uji linearitas dilihat dari nilai (sig.) > 0,05 maka antara variabel bebas (X) dan variabel bebas (Y) terdapat hubungan linear secara signifikan. Sebaliknya, jika nilai (sig.) < 0,05 maka tidak terdapat hubungan linear yang signifikan antara variabel bebas (X) dengan variabel terikat(Y).
TABEL 6 Hasil Uji Linearitas Hubungan Variabel Deviation From
Linearity Keterangan Kepemimpinan (1) – kesiapan kerja(Y) 0,75 Linear Komunikasi interpersonal (Z) – kesiapan kerja(Y) 0,138 Linear Sumber : Diolah SPSS 22 (2019)
Hasil pengolahan data yang telah dilakukan di SPSS menunjukkan bahwa Anova Table pada baris Deviation from Linearity memiliki nilai signifikansi 0,75 < 0,05, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel kepemimpinan (X) dengan variabel kesiapan kerja (Y). Sedangkan untuk komunikasi interpersonal nilai signifikansi 0,138 > 0,05, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel komunikasi interpersonal (Z) dengan variabelkesiapan kerja(Y).
Data Diskriptif Kepemimpinan, Kesiapan kerja, dan Komunikasi Interpersonal
Dalam menentukan rentang skala likert dan rata-rata jawaban responden kuesioner dengan variabel kepemimpinan, kesiapan kerja, dan komunikasi interpersonal, maka dapat dirumuskan sebagai berikut:
TABEL 7 Data Nilai Interval
Range Keterangan
4.24 – 5.00 Sangat Baik
29
2.62 – 3.42 Cukup Baik
1.81 – 2.61 Tidak Baik
1.00 – 1.80 Sangat Tidak Baik Sumber: Data Primer Diolah (2019)
Dalam Mengetahui kategori dari setiap variabel, penelitian harus mengetahui nilai mean. Tabel penjelasan setiap variabel yaitu sebagai berikut :
TABEL 8 Data Deskriptif Kepemimpinan
No. PernyataanVariabel Kepemimpinan Mean Kategori
1 Pimpinan saya berada di tempat mengawasi pelaksanaan tugas pemagang
3.74 Baik
2 Pimpinan saya dapat menjelaskan hasil kerja karyawan sesuai dengan standar
3.54 Baik
3 Standar pekerjaan yang ditetapkan oleh pimpinan bersifat terukur dan jelas
3.49 Baik
4 Pimpinan saya memberikan penghargaan bagi karyawan yang memiliki prestasi kerja
3.57 Baik
5 Pimpinan menyatakan maksud tujuan yang penting secara sederhana mudah dipahami
3.17 Cukup
Baik
6 Instruksi yang diberikan pimpinan mudah dipahami dan dilaksanakan
3.11 Cukup
Baik 7 Pimpinan fokus pada penyimpangan,
ketidakbiasaan, perkecualian dan kesalahan dari hasil kerja saya
3.26 Cukup
Baik
8 Pimpinan saya memberikan kesempatan kepada karyawan mengambil keputusan berkaitan
3.31 Cukup
30 penyelesaian tugas
9 Pimpinan memiliki visi yang memacu saya
3.37 Cukup
Baik 10 Pimpinan mempunyai ide-ide yang
tidak pernah saya pikirkan sebelumnya
2.71 Cukup
Baik
11 Pimpinan mengembangkan cara-cara untuk mendorong kinerja saya
3.34 Cukup
Baik
Rata-rata Kepemimpinan 3.33 Cukup
Baik Sumber : Data Primer Diolah (2019)
Pada tabel menunjukkan bahwa nilai-nilai rata variabel kepemimpinan sebesar 3,33 dengan katagori cukup baik. Untuk nilai rata-rata tertinggi yaitu dengan nilai rata-rata 3,74 dengan pernyataan “Pimpinan saya berada di tempat mengawasi pelaksanaan tugas pemagang” dan terdapat nilai rata-rata teremdah yaitu degan nilai rata-rata 2,71 dengan pernyataan “Pimpinan mempunyai ide-ide yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya”
TABEL 9 Data Deskriptif Kesiapan Kerja No. PernyataanVariabel Kesiapan
Kerja
Mean Kategori
1 Saya dapat memahami setiap pelajaran yang diterangkan.
3.89 Baik
2 Saya akan bertanya apabila saya kurang mengerti akan materi yang disampaikan.
3.46 Baik
3 Saya mempelajari kembali materi yang disampaikan.
3.20 Cukup
Baik 4 Saya berusaha memperoleh nilai
yang baik pada setiap pembelajaran.
3.86 Baik
5 Saya menyukai pekerjaan sesuai latar pendidikan saya
31 6 Saya mempunyai ketrampilan pada
program keahlian yang saya tempuh.
3.94 Baik
7 Saya berusaha mengembangkan ketrampilan yang saya miliki.
3.86 Baik
8 Saya memilih program keahlian sesuai latar pendidikan saya untuk memperoleh pengalaman dalam rangka memperoleh pekerjaan di bidang yang sama.
3.69 Baik
9 Saya tertarik mengikuti kegiatan-kegiatan di luar yang berhubungan dengan keahlian saya.
3.63 Baik
10 Saya ingin bekerja sesuai latar pendidikan saya.
3.74 Baik
11 Praktik yang saya lakukan sesuai latar pendidikan saya
3.80 Baik
12 Praktik yang saya lakukan sesuai pelajaran di sekolah
3.40 Cukup
Baik
Rata-rata Kesiapan Kerja 3.72 Baik
Sumber : Data Primer Diolah (2019)
Pada tabel menunjukan bahwa nilai rata-rata variabel kesiapan kerja sebesar 3,72 termasuk katagori baik. Nilai rata-rata tertingi sebesar 4.11 yaitu pada pernyataan “Saya menyukai pekerjaan sesuai latar pendidikan saya”. Dan terdapat pernyataan paling rendah dengan nilai rata-rata 3,20 dengan katagori cukup baik yaitu dengan pernyataan “Saya mempelajari kembali materi yang disampaikan”.
TABEL 10 Data Deskriptif Komunikasi Interpersonal No. PernyataanVariabel Komunikasi
Interpersonal
Mean Kategori
1 Saya senang dan terbuka ketika berkomunikasi dengan rekan kerja.
3.40 Cukup
Baik
32 kegiatan diskusi
3 Saya menyanggah dengan baik dan profesional jika ada rekan saya yang melakukan kesalahan.
3.37 Cukup
Baik
4 Saya mendengarkan dengan baik ide atau gagasan atau pendapat dari rekan kerja
3.11 Cukup
Baik
5 Saya menjalankan tugas saya dengan penuh tanggung jawab.
3.46 Baik
6 Saya memberikan kritik di luar forum rapat atau hasil keputusan rapat kepada teman atau rekan kerja saya.
3.20 Cukup
Baik
7 Saya menghargai pendapat teman atau rekan kerja ketika diskusi.
2.97 Cukup
Baik 8 Saya membantu memperjelas
pembicaraan teman atau rekan kerja apabila diminta.
3.09 Cukup
Baik
9 Saya mengucapkan terimakasih kepada teman yang telah membantu.
3.40 Cukup
Baik 10 Saya mengucapkan maaf kepada
teman atau rekan kerja jika saya melakukan kesalahan.
3.11 Cukup
Baik
11 Saya mengucapkan tolong kepada teman atau rekan kerja ketika saya membutuhkan bantuan.
3.26 Cukup
Baik
Rata-rata Komunikasi Interpersonal 3.26 Cukup Baik Sumber : Data Primer Diolah (2019)
Pada tabel menunjukkan bahwa nilai rata-rata variabel komunikasi interpersonal sebesar 3,26 dengan katagori cukup baik. Untuk nilai rata-rata tertinggi terdapat 2 pernyataan yaitu dengan nilai rata-rata 3,46 dengan pernyataan “Saya mengeluarkan pendapat dalam kegiatan diskusi” dan “Saya menjalankan tugas saya dengan penuh tanggung jawab”. Untuk nilai rata-rata terendah
33
dengan pernyataan “Saya menghargai pendapat teman atau rekan kerja ketika diskusi” dengan nilai rata-rata 2,97 dengan katagori cukup baik.
Uji Hipotesis
TABEL 11 Hasil Uji Regresi KepemimpinanTerhadap Komunikasi Interpersonal Coefficients Model Unstandardiized Coefficiients Standardiized Coefficientss T Sig. B Std. Error Beta Constant Kepemimpinan -1.698 7.378 -.230 ,819 1.025 .201 .665 5.110 ,000
a. Dependent Variable: Komunikasi Interpersonal
Sumber : Diolah SPSS 22 (2019)
Berdasarkan dari Standardized Coefficients, nilai koefisien beta sebesar 0,665 dapat dibuat persamaan sebagai berikut:
Z = 0,633XZ + e1
Persamaan tersebut diartikan bahwa koefisien regresi kepemimpinan terhadap komunikasi interpersonal sebesar 0,665. Besarnya nilai error (e1) didapatkan dari perhitungan √(1 – R2) sehingga diperoleh sebesar 0,746
TABEL 12 Hasil Uji Regresi Kepemimpinan dan Komunikai Interpersonal Terhadap Kesiapan Kerja Coefficients Model Unstandardiized Coefficiients Standardiized Coefficientss T Sig. B Std. Error Beta (Constant) Kepemimpinan 37,918 7,402 5,122 ,000 -,449 ,269 -,327 -1,670 ,105
34 Komunikasi
Interpersonal
,645 ,175 ,723 3,695 ,001
Dependent Variable: Kesiapan kerja
Sumber : Diolah SPSS 22 (2019)
Berdasarkan tabel diatas dapat dibuat persamaan sebagai berikut: Y = -0,327XY + 0,723ZY + e2
Persamaan diatas dapat diartikan sebagai berikut:
a. Koefisien regresi kepemimpinan terhadap kesiapan kerja pemagang PT Telkom Indonesia Tbk Regional IV Jateng & DIY sebesar -0,327
b. Koefisien regresi komunikasi Interpersonal terhadap kesiapan kerja pemagang PT Telkom Indonesia Tbk Regional IV Jateng & DIY sebesar 0,723
c. Besarnya nilai error (e2) diperoleh dari perhitungan √(1 – R2) sehingga diperoleh sebesar 0,900
Uji Parsial (Uji-t)
TABEL 13 Hasil Uji-t Kepemimpinan Terhadap Komunikasi Interpersonal Coefficients Model Unstandardiized Coefficiients Standardiized Coefficientss T Sig. B Std. Error Beta Constant Kepemimpinan -1.698 7.378 -.230 ,819 1.025 .201 .665 5.110 ,000
a. Dependent Variable: Komunikasi Interpersonal
Sumber : Diolah SPSS 22 (2019) Berdasarkan hasil uji-t maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Hasil uji-t kepemimpinan terhadap komunikasi interpersonal diperoleh nilai t-hitung lebih besar dibanding nilai t-tabel (5,110> 0,169) dan nilai sig. lebih kecil dibanding α
35
(0,000 < 0,05). Hal ini berarti hipotesis (H1) diterima yang menyatakan kepemimpinan berpengaruh terhadap komunikasi interpersonal. Koefisien regresi B variabel kepemimpinan sebesar 0,663 dan nilainya positif, sehingga dapat dinyatakan bahwa arah pengaruh kepemimpinan terhadap komunikasi interpersonal adalah positif. TABEL 14 Hasil Uji-t kepemimpinan dan komunikasi interpersonalTerhadap kesiapan
kerja para pemagang Coefficients Model Unstandardiized Coefficiients Standardiized Coefficientss T Sig. B Std. Error Beta (Constant) Kepemimpinan 37,918 7,402 5,122 ,000 -,449 ,269 -,327 -1,670 ,105 Komunikasi Interpersonal ,645 ,175 ,723 3,695 ,001
Dependent Variable: Kesiapan kerja
Sumber : Diolah SPSS 22 (2019)
b. Hasil uji-t kepemimpinan terhadap kesiapan kerja para pemagnag diperoleh nilai t-hitung lebih besar dibanding nilai t-tabel (-1,670> 0,169) dan nilai sig. lebih besar dibanding α (0,105 > 0,05). Hal ini berarti (H2) ditolak yang menyatakan kepemimpinan tidak berpengaruh terhadap kesiapan kerja para pemagang. Nilai koefisien regresi variabel kepemimpinan sebesar -0,327 dan nilainya negatif, sehingga dapat dinyatakan bahwa arah pengaruh kepemimpinan terhadap kesiapan kerja para pemagang adalah negatif.
c. Hasil uji-t komunikasi interpersonal terhadap kesiapan kerja para pemagang diperoleh nilai t-hitung lebih besar dibanding nilai t-tabel (3,695> 0,169) dan nilai sig. lebih besar dibanding α (0,001 < 0,05). Hal ini berarti menerima (H3) yang menyatakan komunikasi interpersonal berpengaruh terhadap kesiapan kerja. Nilai koefisien regresi variabel komunikasi interpersonal sebesar 0,723 dan nilainya positif, sehingga dapat
36
dinyatakan bahwa arah pengaruh komunikasi interpersonal terhadap kesiapn kerja adalah positif.
Pengujian Variabel Intervening dengan Sobel Test
Berdasarkan dari perhitungan di SPSS 22 maka dapat diketahui pengaruh variabel intervening dengan menggunakan Uji Sobel (Sobel Test)
Sab = √𝑏2 + 𝑠𝑎2+ 𝑎2𝑠𝑏2 + 𝑠𝑎2𝑠𝑏2
Sab = √0,6452+ 0,2012+ 1,02520,1752+ 0,20120,1752
Sab = √0,416025 + 0,040401 + 0,0321753906 + 0,0012372806 Sab = √0,4898386712
Sab = 0,6998847557
Berdasarkan perhitungan nilai standar eror pengaruh tidak langsung diperoleh sebesar 0,6998847557
Nilai t hitung yaitu t = 𝑎𝑏
𝑠𝑎𝑏 t = 0,661125.
0,6998847557 t = 0,9446198029
Dari perhitungan t hitung diatas diperoleh sebesar 0,9446198029 sehingga nilai t hitung lebih besar dibanding t tabel (0,9446198029 > 0,169). Sehingga disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal bisa menjadi variabel yang memediasi pengaruh kepemimpinan terhadap kesiapan kerja para pemagang.
Hasil Penelitian Pembahasan
1. Pengaruh kepemimpinan terhadap komunikasi interpersonal
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan yang baik dapat mempengaruhi komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh pemimpin/mentor kepada para pemagang PT Telkom Indonesia Tbk Regional IV Jateng & DIY. Hal ini dibuktikan dengan hasil perhitungan regresi diperoleh nilai sig. lebih kecil dibanding α (0,000 < 0,05) dan dari nilai t-hitung lebih besar
37
dibanding nilai t-tabel (5,110 > 0,169). Koefisien regresi variabel kepemimpinan sebesar 0,665 dan nilainya positif, sehingga dapat dinyatakan bahwa pengaruh kepemimpinan terhadap komunikasi interpersonal adalah positif.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya. Penelitian yang dilakukan Candra (2016) menyatakan bahwa komunikasi merupakan faktor dalam melaksanakan suatu pekerjaan yang baik bagi pemimpin dan bawahan dan bawahan sesama dengan bawahan. Komunikasi diperlukan untuk menjalin hubungan saling menghormati, menghargai, toleransi, dalam mencapai satu tujuan yaitu mensukseskan pekerjaan yang baik sesuai dengan harapan untuk kemajuan organisasi. Hal ini berarti kepemimpinan dapat mempengaruhi komunikasi interpersonal agar dapat membentuk kesiapan kerja dalam suatu organisasi di perusahaan. Dilihat pada nilai koefisien regresi bernilai positif sehingga ketika penerapan kepemimpinan atau memberikan mentoring oleh para pemagang maka secara otomatis komunikasi interpersonal para pemagang juga akan meningkat Dengan adanya pemimpin, para pemagang dalam melaksanakan aktivitas kerja sehari-hari di suatu perusahaan dapat memberikan pengaruh pada komunikasi interpersonal. Dibuktikan ketika para pemagang menjalankan aktifitas pekerjaan sesuai dengan latar belakang pendidikan dan pembelajaran yang diajarkan oleh pemimpin, para pemagang mempelajari, mendengarkan, dan menyelesaikan tugas dari pemimpin/mentornya dengan penuh tanggung jawab. Jadi pemagang PT Telkom Indonesia Tbk Regional IV Jateng & DIY yang memberikan pelatihan kepemimpinan akan meningkatkan komunikasi interpersonal para pemagang itu sendiri.
Nilai rata-rata jawaban responden pada data kuesioner dilihat dari dimensi kemampuan sebagai pengawas sebesar 3,74 yang artinya penerapan kepemimpinan untuk pemagang pada dimensi kemampuan sebagai pengawas dapat dikatakan baik. Pada dimensi kebutuhan berprestasi, nilai rata-rata jawaban responden sebesar 3,49 yang artinya penerapan kepemimpinan untuk pemagang pada dimensi kebutuhan berprestasi dapat dikatakan baik. Kemudian pada dimensi kecerdasan, ketegasan, kepercayaan diri, dan inisiatif dengan asing-masing nilai rata-rata jawaban responden sebesar kecerdasan (3,17), ketegasan (3,26), kepercayaan diri (3,31), inisiatif (2,71) yang artinya penerapan kepemimpinan untuk pemagang pada dimensi kecerdasan, ketegasan, kepercayaan diri, dan inisiatif dalam katagori cukup baik
Hasil uji variabel kepemimpinan berpengaruh positif terhadap komunikasi interpersonal, hal ini sesuai dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Hafizurrachman (2011)
38
menyatakan kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap komunikasi interpersonal. Hal tersebut diperkuat dengan hasil penelitian dari Syahfarnas (2014) yang menyatakan kepemimpinan sangat mempengaruhi kinerja seorang karyawan dan mampu meningkatkan komunikasi yang efektif.Sehingga kepemimpinan berpengaruh terhadap komunikasi interpersonal.
2. Pengaruh kepemimpinan terhadap kesiapan kerja.
Berdasarkan hasil pengujian diperoleh kepemimpinan tidak berpengaruh terhadap kesiapan kerja para pemagang PT Telkom Indonesia Tbk Regional IV Jateng & DIY. Dibuktikan dengan hasil pengujian regresi memperoleh nilai sig. lebih besar dibanding α (0,105 > 0,05) dan dari nilai t-hitung lebih kecil dibanding nilai t-tabel (-1,670 < 0,169). Nilai koefisien regresi variabel kepemimpinan sebesar -0,327 dan nilainya negatif, sehingga dapat dinyatakan bahwa arah pengaruh kepemimpinan terhadap kesiapan kerja para pemagang adalah negatif.
Hasil penelitian tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya. Penelitin yang dilakukan oleh Nurahman (2017) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara program pelatihan dasar kepemimpinan terhadap kesiapan kerja peserta pelatihan di BBPLK Semarang. modal dasar yang sangat penting bagi perkembangan suatu bangsa adalah SDM, dilihat dari segi baik kuantitas maupun kualitas. Untuk meningkatkan kualitas SDM diperlukanya program pendidikan baik itu formal maupun nonformal, pendidikan nonformal dapat dilakukan dengan adanya pelatihan khususnya pelatihan magang atau praktik kerja industri yang bertujuan untuk membentuk kesiapan kerja. Studi mengenai magang/pengaruh praktek kerja industri terhadap kesiapan kerja telah dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu.Pada studi yang dilakukan oleh Santi, Maureen Evita (2013) menunjukkan bahwa magang/praktek kerja industri terbukti berpengaruh tidak signifikan terhadap kesiapan kerja. Oemar Hamalik (2008) mengungkapkan kesiapan merupakan keadaan atau tingkatan yang harus dicapai dalam proses perkembangan perorangan pada tingkatan pertumbuhan fisik, mental, social dan emosional. Kepemimpinan memiliki peran penting dalam mempengaruhi kesiapan kerja. Menurut data deskriptif kesiapan kerja dalam katagori baik tetapi dalam penelitian ini kepemiminan tidak berpengaruh terhadap kesiapan kerja hal ini ditunjukan pernyataan “Praktik yang saya lakukan sesuai latar pendidikan saya” dan “Praktik yang saya lakukan sesuai pelajaran di sekolah” kenyataan dilapangan pernyataan tersebut tidak sesuai dengan apa yang dipraktikan selama melakukan praktik magang
39
pemagang hanya menjalankan perintah pemimpin/mentor akan tetapi kurang sesuai dengan bidangnya keadaan tersebut membuat seorang pemagang tidak dapat mengembangkan keterampilan, oleh karena itu perlu halnya peran pemimpin untuk mengajarkan dan memanfaatkan para pemagang agar setelah selesai melakukan pelatihan magang dapat meningkatkan kesiapan kerja yang nantinya bermanfaat dalam peningkatan SDM.
Hasil uji variabel kepemimpinan tidak berpengaruh terhadap kesiapan kerja para pemagang, hal ini sesuai dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Susyanto, 2019) menyatakan bahwa kepemimpinan tidak berpengaruh terhadap kesiapan kerja.
3. Pengaruh komunikasi Interpersonal terhadap kesiapan kerja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal berpengaruh terhadap kesiapan kerja para pemagang PT Telkom Indonesia Tbk Regional IV Jateng & DIY. Hal tersebut disimpulkan dari nilai sig. yang diperoleh lebih kecil dibanding α (0,001 < 0,05) dan dari nilai t-hitung lebih besar dibanding nilai t-tabel (3,695 > 0,169). Nilai koefisien regresi variabel komunikasi interpersonal sebesar 0,723 dan nilainya positif, sehingga dapat dinyatakan bahwa arah pengaruh komunikasi interpersonal terhadap kesiapan kerja para pemagang adalah positif.
Kemampuan untuk membangun sebuah komunikasi dalam sebuah organisasi tidaklah mudah, dibutuhkan pemahaman serta interaksi sosial yang baik antara atasan dengan bawahan. De Vito (1992) mengungkapkan komunikasi interpersonal memberi peranan yang sangat besar bagi seorang pekerja atau seluruh pekerja dalam satu organisasi itu sendiri seperti adanya keterbukaan antar rekan kerja, empati, dukungan, rasa positif diantara pekerja dan kesetaraan. Sehingga segala kemungkinan yang menyebabkan kesalahpahaman yang berdampak negatif bagi pekerja itu sendiri tetapi juga yang berdampak negatif bagi organisasi dapat diminimalisir dan tujuan utama dari apa yang sudah direncanakan dapat tercapai secara maksimal. Sehingga berdasarkan hal-hal tersebut maka diharapkan kepemimpinan dan komunikasi interpersonal mempunyai pengaruh besar dalam membentuk kesiapan dalam bekerja. Dilihat pada nilai koefisien regresi bernilai positif sehingga ketika komunikasi interpersonal para pemagang PT Telkom Indonesia Tbk Regional IV Jateng & DIY meningkat maka otomatis kesiapan kerja para pemagang PT Telkom Indonesia Tbk Regional IV Jateng & DIY juga akan meningkat.
Nilai rata-rata jawaban responden pada kuesioner dilihat dari dimensi keterbukaan sebesar 3,40 yang artinya tingkat komunikasi interpersonal para pemagang PT Telkom Indonesia Tbk
40
Regional IV Jateng & DIY pada dimensi keterbukaan dapat dikatakan cukup baik. Pada dimensi sikap positif, nilai rata-rata jawaban responden sebesar 3,11 yang artinya tingkat para pemagang PT Telkom Indonesia Tbk Regional IV Jateng & DIY pada dimensi sikap positif dapat dikatakan cukup baik. Pada dimensi daya dukung, nilai rata-rata jawaban responden sebesar 3,20 yang artinya tingkat para pemagang PT Telkom Indonesia Tbk Regional IV Jateng & DIY pada dimensi daya dukung dapat dikatakan cukup baik. Kemudian pada dimensi empati, nilai rata-rata jawaban responden sebesar 3,40 yang artinya tingkat para pemagang PT Telkom Indonesia Tbk Regional IV Jateng & DIY pada dimensi empati dapat dikatakan cukup baik.
Hasil uji variabel komunikasi interpersonal berpengaruh positif terhadap kesiapan kerja para pemagang, hal ini sesuai dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Aminudin (2013) yang menyatakan bahwa komunikasi interpersonal didalam dunia kerja mempunyai fungsi sebagai: 1) membangun kerja sama dengan rekan kerja, 2) membangun hubungan baik antar rekan kerja di tempat kerja, 3) mengarahkan kerja sesuai dengan tujuan, 4) mengatasi perbedaan pendapat, konflik, dan ketegangan. Kemampuan komunikasi yang tinggi dapat mengakibatkan tingginya kesiapan kesja. Berdasarkan argumen tersebut komunikasi interpersonal dapat berpengaruh terhadap kesiapan kerja.
4. Pengaruh kepemimpinan secara tidak langsung terhadap kesiapan kerja melalui komunikasi interpersonal
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal dapat menjadi variabel yang memediasi antara kepemimpinan terhadap kesiapan kerja para pemagang. Hal ini dibuktikan oleh hasil perhitungan koefisien pengaruh langsung kepemimpinan terhadap kesiapan kerja para pemagang lebih kecil dibanding koefisien pengaruh tidak langsung kepemimpinan terhadap kesiapan kerja para pemagang dengan melalui komunikasi interpersonal (-0,449 < 0,212125).
Hasil penelitian didukung dengan data deskriptif variabel komunikasi interpersonal pada