• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sifat kualitatif

Pengamatan karakteristik dilakukan secara kualitatif terhadap pola warna rambut dan ukuran tubuh ungko di TNBG melalui pengamatan jarak jauh serta secara kuantitatif terhadap ungko yang berasal dari Sumatera Barat. Berdasarkan pengamatan diperoleh penyebaran pola warna rambut ungko di TNBG yang berbeda-beda yaitu hitam, kuning, coklat dan gelap (hitam kecoklatan/abu-abu) (Gambar 7).

Gambar 7. Pola warna rambut ungko di TNBG

Ungko yang mempunyai pola warna rambut hitam kecoklatan adalah pada bagian punggung, dan dada lebih dominan dengan rambut berwarna hitam kecoklatan(gelap) sedangkan bagian tubuh lainnya dipenuhi rambut berwarna kecoklatan. Pada bagian lengan ungko ditumbuhi rambut berwarna hitam atau coklat

gelap walaupun pada seluruh tubuhnya dipenuhi warna yang lain seperti kuning atau coklat (Tabel 1)

Tabel 1. Deskripsi karakteristik ungko secara kualitatif Ungko .Bagian tubuh

Jantan Betina Rambut kepala Hitam/kuning Hitam/kuning

Wajah Hitam Hitam

Alis Putih bersambung Putih melengkung

Dagu Hitam Hitam

Punggung Hitam/kuning/coklat/abu-abu Hitam/kuning/coklat/abu-abu

Dada Hitam/kuning Hitam/kuning

Perut Hiitam/kuning Hiitam/kuning

Tangan Hitam/coklat/campuran Hitam/coklat/campuran

Jari tangan Hitam Hitam

Kali Hitam/coklat Hitam/coklat

jari Hitam Hitam

Tabel 1 diatas menunjukkan bahwa tidak terlihat perbedaan bentuk morfologi kualitatif yang jelas antara jantan dan betina, dalam hal ini pola warna rambut yang menutupi seluruh tubuh. Semua bentuk warna rambut dan kulit pada jantan hampir bisa dipastikan terdapat juga pada betina. Keadaan tersebut menggambarkan bahwa antara jantan dan betina tidak ada perbedaan penyebaran warna rambut yang disebabkan oleh pengaruh hormon (dimorfisma seks) kecuali pada rambut yang tumbuh di sekitar pipi jantan dan bentuk alis yang berbeda dengan betina.

Pola warna rambut ungko tidak terkait dengan perbedaan jenis kelamin (dimorfisma seks) karena perbedaan jenis warna rambut tersebut dapat ditemui pada setiap individu jantan atau betina dewasa, remaja atau anak sehingga dapat dikatakan perbedaan pola warna rambut bukan karena umur (tingkat kedewasaan).

Pewarisan pola warna rambut pada ungko di Taman Nasional Batang Gadis ini belum diketahui apakah terkait faktor genetik atau kerena adanya persilangan antara H agilis agilis dengan H.agilis ungko bahkan dengan Hylobates lar hal ini terkait letak TNBG sendiri yang merupakan daerah perbatasan penyebaran H.aglis agilis, H.agilis ungko dan H.lar. Berdasarkan penyebaran H.agilis agilis terdapat disepanjang pegunungan disebelah Barat Sumatera khususnya didaerah pegunungan,

H.aglis ungko dihutan dataran rendah sebelah Timur Sumatera (Supriatna&Wahyono 2000), sedangkan H.lar di Sumatera Utara ke Selatan sampai Danau Toba (PIKA 2007). Melihat peta penyebaran spesies dari famili Hylobates tersebut, ketiganya

sangat mungkin hidup di TN Batang Gadis. Hal ini dapat dilihat dari letak geografis dan topografi kawasan TN Batang Gadis sendiri yang terdapat diketinggian 300-2.145 m dpl dan terletak di perbatasan Sumatera bagian utara dan Sumatera bagian barat (Gambar 3 peta penyebaran ungko; Geismann (2006)).

Menurut Geismann (2006) di daerah Thailand dan semenanjung Malaya ditemukan adanya persilangan antara H. Lar dengan H. agilis ungko (Lowland agile gibbon). Adapun warna rambut tubuh ungko hasil persilangan tersebut hampir sama dengan ungko yang terdapat di TNBG, yaitu berwarna hitam, kuning dan coklat. Persilangan H. agilis tidak hanya terjadi di daerah Thailand dan Malaysia saja, Geismann (2006) juga melaporkan adanya persilangan antara H. agilis albibarbis

dengan H. Muelleri di daerah Barito kalimantan. Mengacu pada pernyataan-pernyaan tersebut makan tidak tertutup kemungkinan bahwa ungko yang terdapat di TNBG juga merupakan hasil persilangan antar spesies maupun subspesies Hylobates yang terdapat di Sumatera.

Karakteristik kualitatif (pola dan warna rambut) ungko dapat dilihat pada Gambar 7 diatas dan Gambar 8 berikut .

a b

Gambar 8. Ungko betina dan bayi (a) dan ungko jantan (b) (foto: Mootnick. A 2004) Pada umumnya karakteristik kualitatif warna rambut pada tubuh ungko jantan dan betina di TNBG hampir sama yaitu hitam, kuning, coklat dan keabu-abuan, namun sangat mudah untuk membedakan ungko jantan mauoun betina karena memiliki ciri khusus. Pada ungko jantan sekeliling wajah (pipi) ditumbuhi rambut

berwarna putih, sedangkan pada betina ditumbuhi rambut yang sama dengan warna tubuhnya. Alis pada jantan berwarna putih bersambung dan betina putih melengkung.

Persentase perbandingan karakteristik warna rambut ungko yang berwarna kuning (termasuk coklat) dan warna hitam pada ungko yang tercatat selama penelitian disajikan pada Tabel 2 berikut ini

Tabel 2. Persentase pewarisan warna rambut ungko dewasa Remaja/ anak Bayi Warna rambut pada tubuh ♂ ♀ ∑ ∑ Total Persentase (%) Hitam 5 5 4 3 17 41,46 Kuning 7 9 7 1 24 58,54 Jumlah 12 14 11 4 41

Tabel 2 menunujukkan bahwa sebagian besar ungko yang ditemui berwarna kuning, yaitu sebesar 58,54%, sedangkan yang berwarna hitam hanya 41,46%. Hal ini menunjukkan ungko tidak dapat diidentikkan dengan warna rambut hitam yang mendominasi seluruh tubuhnya. Hanya ungko yang masih bayi dan digendong induk yang lebih dominan berwarna hitam, hal ini menuntut penelitian yang lebih lanjut tentang pewarisan warna rambut pada ungko ini terkait akan faktor umur, sedangkan pada ungko yang telah memasuki usia anak sampai dewasa lebih didominasi rambut warna kuning pada sekujur tubuh ungko.

Selama pengamatan, ungko (H.agilis) biasanya melakukan morning call pada mulai pagi hari sekitar pukul 05.00 wib-08.00 wib. Biasanya ungko bernyanyi sahut-sahutan untuk menandakan batas teritori maupun untuk membangunkan anggota kelompoknya. Menurut Geissmann (1993), pada spesies Hylobates betina dewasa memiliki great call yang lebih besar dibanding dengan jantan dewasa. Pada siang hari sekitar pukul 11.00-15.00 wib, tidak terdengar lagi suara ungko karena ungko biasanya istirahat.

Berdasarkan pengamatan ungko biasanya mulai mencari pohon tidur sebelum matahari terbenam. Adapun pohon tidur yang dipilih adalah pohon yang paling aman dari serangan predator. Ungko biasanya memilih pohon bercabang yang berada dipinggiran sungai, hal ini dilakukan untuk menghindari serangan predator (Gambar 9). Predator biasanya mengetahui posisi ungko salah satu dengan cara mencium sisa defikasi ungko tersebut, tetapi dengan mencari pohon tidur yang berada ditepi sungai

yang percabangannya persis diatas sungai maka sisa defikasi ungko akan jatuh ke sungai sehingga jejaknya terhidar dari predator.

.

Gambar 9. Posisi ungko sedang tidur

Informasi yang diperoleh dari masyarakat mengidikasikan bahwa ungko dan siamang mempunyai predator yang sama yaitu Binturong (Arctictis binturong) yang biasa disebut Guliman oleh masyarakat setempat. Ular juga merupakan salah satu musuh/predator ungko dan siamang. Pada umumnya ungko diareal penelitian masih cenderung bersifat liar, hal ini disebabkan belum terhabituasi dengan baik. Cukup sulit untuk bisa mendekati ungko dari jarak yang dekat, sehingga pengamatan hanya dapat dilakukan dari jarak yang agak jauh dan dalam waktu yang singkat.

Pada saat survei populasi, sebagian besar ungko ditemukan sedang makan dan sisanya sedang lokomosi dan bermain. Ungko akan segera lari dan membuat kegaduhan atau membuat bunyi alarm call apabila menyadari ada manusia atau bahaya yang mengancam kelompok mereka. Biasanya untuk bisa melihat ungko dalam jarak yang dekat bisa dilakukan dengan menunggui dan bersembunyi disekitar dipohon pakan yang sering didatangi oleh kelompok ungko.

Sifat Kuantitatif

Berdasarkan pengukuran tubuh ungko secara kuantitatif, ungko jantan (2 ekor) memiliki bobot badan yang lebih besar dibanding betina 4,35±0,49 kg

berbanding 2,6 kg. Animal Diversity (2004) dan Fleagle (1988) menyatakan bahwa pada umumnya bobot tubuh jantan lebih besar dari betina yaitu 5,8 kg untuk jantan dan 5,4 kg betina. Hasil pengamatan jarak jauh menunjukkan bahwa ukuran jantan

dewasa lebih besar dibanding betina dewasa, jadi dengan melihat karakteristiknya dapat dibedakan dengan mudah jantan dan betina dewasa

Populasi

Populasi menurut Tarumingkeng (1994) adalah sebagai suatu himpunan individu atau kelompok suatu jenis makhluk hidup yang tergolong dalam suatu spesies dan pada suatu waktu tertentu menghuni suatu wilayah tertentu. Kepadatan populasi adalah ukuran populasi yang dapat dinyatakan sebagai jumlah atau biomassa per satuan luas atau per satuan volume (Suin 2003). Kepadatan populasi jenis kera atau monyet tergantung penggunaan dan tipe habitat, bentuk sosial kelompok maupun home range dan teritorialnya (Harianto 1988).

Ukuran dan estimasi kepadatan populasi ungko di Taman Nasional Batang Gadis pada setiap jalur sensus disajikan pada Tabel 3

Tabel 3. Estimasi kepadatan populasi ungko, lokasi dan luas daerah pengamatan, Juli sampai September 2005

Lokasi Luas daerah pengamatan (km2) Jumlah kelompok Kepadatan kelompok (kel/ km2) Rerata ukuran kelompok (individu/kelompok) Kepadatan individu (individu/km2) Jalur I 2,3 5 2,18 3,80 8,26 Jalur II 2,35 7 2,98 3,14 9,36 Rerata 2,325 6 2,60 3,41 8,82

Hasil estimasi kepadatan populasi pada setiap jalur, dengan luas total areal survei 4,65 km2 (Tabel 3), menunjukkan bahwa kepadatan kelompok di Taman Nasional Batang Gadis yaitu 2,6 kel/km2 dengan kepadatan individu berkisar 8,82 ekor/km2. Pada Jalur I, survei dilakukan ulangan sebanyak 10 kali teridentifikasi 5 kelompok ungko, dan jumlah individu yang teramati sebanyak 19 ekor. Estimasi kepadatan kelompok dan individu masing-masing 2,18 kel/km2 dan 8,26 ekor/km2 dengan rerata ukuran setiap kelompok 3,8 ekor/kelompok.

Pada Jalur II dari 10 kali ulangan dan teridentifikasi 7 kelompok ungko, dan jumlah individu yang teramati sebanyak 22 ekor. Estimasi kepadatan kelompok dan individu masing-masing 2,98 kelompok/km2 dan 9,36 ekor/km2 dengan rerata ukuran setiap kelompok 3,14 ekor/kelompok.

Perjumpaan dengan individu atau kelompok ungko pada kedua jalur disebabkan oleh beberapa faktor yaitu (1) kemampuan individu populasi untuk melakukan pergerakan, (2) adanya penghalang-penghalang baik fisik maupun biologis, (3) pengaruh kegiatan manusia dan (4) kemampuan suatu wilayah untuk mendukung dan merangsang satwa liar untuk datang (Alikodra 1997). Kepadatan populasi ungko pada Jalur II lebih tinggi dibandingkan denga Jalur I, hal ini disebabkan jenis pohon pakan pada Jalur II lebih banyak, dan ketika penelitian berlangsung pohon pakan yang berada diJalur II sebagian besar sedang berbuah. Pohon pakan yang sedang berbuah merupakan daerah yang paling sering dikunjungi ungko untuk memenuhi kebutuhan akan makanannya, hal ini sesuai dengan sifat ungko yang selektif terhadap makanan dimana jika ada pohon yang berbuah pada daerah teritorialnya, ungko berusaha untuk mengunjungi semua pohon tersebut dan sebagian dari waktu makan berorientasi sekitar makanan utama (Bismark 1984). Menurut Whitten (1982), untuk satwa primata, pergerakan didalam wilayah jelajahnya sangat ditentukan oleh sumberdaya makanan, pohon-pohon yang dipergunakan untuk bersuara/bernyanyi.

Kepadatan populasi ungko di Taman Nasional Batang Gadis lebih rendah jika dibandingkan dengan kawasan lindung HPHTI PT. Riau Andalan Pulp&Paper sektor Baserah dan lebih tinggi jika dibandingkan dengan sempadan sungai propinsi Riau seperti yang dilaporkan Apriadi (2001) yaitu kepadatan populasi ungko dikawasan tersebut masing-masing berkisar 17,45 ± 5,61 ekor/km2 4,26 ± 0,67 ekor/km2 dengan kepadatan kelompok masing-masing 7,47±0,52 kelompok/km2 dan 1,89±0,02 kelompok/km2. Secara umum kepadatan populasi ungko di Taman Nasional Batang Gadis cukup tinggi, jika dibandingkan dengan kepadatan pupulasi ungko diareal penelitian Taman Nasional Kerinci Seblat yaitu berkisar 0,283-0,567 kelompok/km2 (Kehati 2004).

TNBG meliputi kawasan seluas 108.000 hektar (DEPHUT 2004), dan kawasan hutan tersebut sesuai sebagai habitat. Berdasarkan luasan tersebut yang dapat dijadikan sebagai habitat ungko sekitar 80% hal ini mengingat faktor ketinggian dan fragmentasi habitat yang tidak dapat diabaikan, maka estimasi populasi ungko di TNBG sebanyak 2.240 kelompok atau 7.620 individu. Populasi ini lebih tinggi dari perkiraan Supriatna dan Wahyono (2000), yang menduga populasi

ungko yang tersedia di alam pada tahun 1986 hanya berkisar 30 ribu ekor yang hanya dapat ditemukan di daerah-daerah konservasi di Kalimantan dan Sumatera. Jika dibandingkan dengan kepadatan populasi H.a. albibarbis di Taman Nasional Sebangau yaitu 8,72 individu/km2 (Duma 2007) dan kepadatan owa jawa (Hylobates moloch) di Taman Nasional Halimun-Salak yaitu 8,2 individu/km2 (Iskandar 2007), maka kepadatan populasi H. agilis agilis di TNBG lebih tinggi. Tingginya populasi ungko di TNBG menunjukkan bahwa TNBG merupakan salah satu kawasan terbaik yang dapat mendukung keberlangsungan hidup dan kelestarian ungko di alam.

Dari pengamatan yang dilakukan ukuran kelompok berkisar 2-5 individu/kelompok. Komposisi kelompok disajikan pada Tabel 4

Tabel 4. Komposisi kelompok ungko (H.agilis-agilis) di TN Batang Gadis Dewasa Pradewasa Remaja/

anak Bayi Lokasi Total Nisbah kelamin dewasa Jalur I (kel: A) 1 1 - 2 - 4 1:1 (kel: B 1 1 - 1 1 1 5 1:2 (kel: C) 1 1 - 1 - 3 1:1 (kel: D) 1 1 - 1 - 3 1:1 (kel: E) 1 1 - - 1 3 1:1 Jalur II (kel: F) 1 1 - 1 1 - 4 1:2 (kel: G 1 1 - 1 - 3 1:1 (kel: H) 1 1 - - - 2 1:1 (kel: I) 1 1 - - 1 3 1:1 (kel: J) 1 1 - 1 - 3 1:1 (kel: K) 1 1 - 2 - 4 1:1 (kel: L) 1 1 - 1 1 4 1:1 Jumlah 12 12 - 2 11 3 41 Rerata (individu) 1:1 Komposisi (%) 29,27 29,27 0 4,88 26,83 9,75

Keterangan: (-) = tidak teridentifikasi

Ukuran kelompok pada jalur I (3,8 individu) lebih tinggi dibanding pada Jalur II (3,14), melihat pada Jalur I semua pasangan induk (kelompok) mempunyai anak, bahkan ada pasangan yang memiliki jumlah anggota kelompoknya lebih dari dua anak. Pada Jalur II terdapat pasangan induk yang tidak memiliki anak, diduga merupakan pasangan induk yang baru terbentuk

Komposisi kelompok memperlihatkan populasi jantan 29,27%, betina 29,27%, remaja/anak 26,83% dan bayi 9,75%. Berdasarkan ukuran dan komposisi

komposisi kelompok ungko yang terdapat di TNBG, maka dapat dilihat keberhasilan reproduksi dan regenerasi yang tinggi di kawasan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari ukuran kelompoknya yang mencapai 5 individu. Dua kelompok memiliki anggota pradewasa betina. Betina ini sudah mendekati morfologi dewasa, namun belum keluar dari kelompok mengingat tidak ditemukan pradewasa jantan dari kelompok sekitarnya untuk membentuk kelompok baru. Selain itu dapat diperkirakan bahwa betina pradewasa masih membutuhkan perlindungan dari kelompok induk untuk menghindari ancaman predator .Hampir setiap pasangan induk memiliki keturunan (anak) dan hanya satu kelompok yang terdiri dari sepasang induk, hal ini diduga karena kelompok tersebut baru terbentuk dan masih membutuhkan waktu yang lama untuk bereproduksi dan memiliki anak.

Seperti jenis owa lainya, ungko juga hidup berpasangan dengan keluarga yang monogamus. Tabel 4 menunjukkan bahwa perbandingan jantan dengan betina 1:1 yang mengidentifikasikan bahwa di TNBG ungko jantan hanya memiliki satu pasangan ungko betina saja, Napier (1972) menyatakan bahwa jumlah jantan dan betina dewasa pada famili Hylobates adalah sama. Pada Tabel 4 dapat dilihat 2 kelompok yang memiliki 1 jantan berbanding 2 betina dewasa, hal ini diduga mungkinkan karena salah satu betina dewasa tersebut adalah anggota keluarga tersebut yang sudah dewasa tetapi belum membentuk kelompok yang baru.

Habitat

Habitat ungko (H. agilis agilis) di Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) dapat digolongkan menjadi dua tipe yaitu kawasan hutan primer dan hutan yang telah mengalami gangguan (sekunder). Hutan terganggu sebabkan oleh pembukaan lahan dan penebangan pohon yang lakukan oleh manusia. Salah satu gambaran habitat TN Batang Gadis disajikan pada gambar 10.

Gambar 10. Gambaran habitat di lokasi penelitian di TN Batang Gadis

Berdasarkan letak topografi dan ketinggian serta jenis kayu yang terdapat di di kawasan hutan tersebut maka TNBG dapat digolongkan kedalam formasi hutan hujan tropika dataran rendah yaitu formasi hutan dengan ketinggian 0-900 m dpl (Bratawinata 2001). Hal ini dapat dilihat dari ketinggian lokasi penelitian di TNBG yang berkisar 637-967 m dpl dan tumbuhan yang banyak didominasi dari suku

Euphorbiaceae, Myrtaceae, Lauraceae dan Dipterocarpaceae. Hal ini sejalan dengan yang dinyatakan oleh Anwar et al. (1984) bahwa hutan-hutan dataran rendah Sumatera didominasi oleh pohon-pohon dari suku Euphorbiaceae, Myrtaceae, Lauraceae, Sapotaceae, Burseraccaea, Rubiaceae dan Dipterocarpaceae.

Menurut Forest Watch Indonesia (2000) tipe-tipe hutan utama di Indonesia berkisar dari hutan-hutan Dipterocarpaceae dataran rendah yang selalu hijau di Sumatera dan Kalimantan. keanekaragaman jenis tumbuhan di hutan dataran rendah yang juga sumber pakan untuk satwa liar merupakan habitat yang paling baik. Sebagian dari hutan tropis terbesar di dunia terdapat di Indonesia.

Vegetasi

Analisis vegetasi di lokasi penelitian dilakukan untuk mengetahui potensi habitat dalam mendukung kebutuhan hidup ungko di TN. Batang Gadis. Berdasarkan

hasil analisis vegetasi di lokasi penelitian, selanjutnya diidentifikasi jenis pohon yang dimanfaatkan sebagai pohon pakan. Jalur yang digunakan sebagai petak contoh analisis vegetasi dan pengamatan populasi dapat dilihat pada Gambar 11.

Gambar 11. Jalur transek analisis vegetasi dan pengamatan populasi Terdapat 97 jenis tumbuhan yang diidentifikasi pada areal penelitian yang jumlahnya lebih rendah dibanding plot 1 ha di hutan primer Aek Nangali yang dilaporkan Kartawinata et al. (2004) sebanyak 184 jenis tumbuhan dalam 41 suku. Tabel 5 menunjukkan hubungan antar vegetasi, habitat dan populasi ungko

Tabel 5. Parameter vegetasi, habitat dan populasi ungko Jumlah jenis

Habitat

pohon tiang pancang semai Jumlah pohon/ha Populasi (individu/km2) Bekas tebangan 24 13 17 27 220 8,26 Hutan primer 31 12 27 32 295 9,36

Kerapatan tingkat pohon pada Jalur I adalah 220 batang/ha dan pada Jalur II lebih tinggi yaitu 295 batang/ha. Hal ini terjadi karena pada Jalur I sebagian merupakan hutan terganggu akibat penebangan pohon yang terjadi beberapa tahun silam, sedangkan pada Jalur II relatif lebih baik karena berada dipunggungan bukit yang lebih sulit dijangkau manusia dan mendapat intensitas cahaya yang lebih baik. Tabel 5 juga menunjukkan bahwa perubahan kualitas habitat (bekas tebangan) menurunkan populasi ungko sebesar 12%. Tabel 6 menyajikan sepuluh INP tertinggi jenis vegetasi tingkat pohon dan Tabel 7 sepuluh INP tertinggi untuk tingkat tiang.

Tabel 6. Sepuluh nilai INP tertinggi vegetasi tingkat pohon

Jenis vegetasi KR FR DR INP

Tinggi pohon

Tingkat kesukaan Jalur I

oteng (Litsea elliptica (Blume) Boerl) 14,77 3,84 17,37 35,99 26,69 marambong (Geunsia farinosa Blume) 17,04 3,84 5,83 26,72 14,03 *

ndolok (Ixora sp.) 7,95 7,69 6,96 22,61 23,98

sengal (Shorea sp) 5,68 3,84 11,94 21,47 34,54

meranti Gembung (Shorea sp.) 4,54 3,84 12,44 20,83 32,07 andaurung (Grewia acuminata Juss.) 10,22 3,84 5,027 19,10 15,87 tampang (Artocarpus dadah Miq) 6,82 3,84 8,02 18,68 25,67 * tapa-tapa (Mallotus sp) 3,41 7,69 3,89 14,99 21

meranti merah (Aporosa antennifera) 2,27 7,69 4,57 14,53 40,75 darah-darah (Myristica iners Blume) 4,54 3,84 3,09 11,48 28,87 * Jalur II

tapa-tapa (Mallotus sp) 23,72 5,88 19,91 49,52 17,89

langsat hutan (Craton laevifolius Blume) 7,62 2,94 13,30 23,87 28,37 * marambong (Geunsia farinosa Blume) 7,62 5,88 6,48 19,99 22,51 * kemenyan (Syrax benzoin Dryan) 5,93 2,94 5,72 14,59 19,05

ndolok (Shionanthus ramiflorus Roxb) 3,38 5,88 5,05 14,32 33,87 mayang (Litsea Oppositifolia (Blume) Vill) 4,23 2,94 6,48 13,66 37,06

medang (Litsea sp) 4,23 2,94 5,05 12,23 24,94

oteng (Litsea elliptica (Blume) Boerl) 2,54 2,94 5,25 10,74 29 ndolok Silon (Syzygium cymosum) 3,39 2,94 4,27 10,60 27,17

rube (Ficus sp) 5,08 2,94 2,20 10,22 19,86 *

Tabel 6 menunjukkan tinggi pohon pada Jalur I mempunyai rerata 24,976±9,718 m dan lebih tinggi dibanding Jalur II yang mempunyai rerata 22,318±6,613 m. Berdasarkan analisis vegetasi, oteng (Litsea elliptica Blume Boerl), marambong (Geunsia farinosa Blume) dan ndolok (Ixora sp.) adalah jenis vegetasi tingkat pohon yang mendominasi plot pada Jalur I dengan INP berturut-turut 35,99; 26,72 dan 22,61. Pada Jalur II vegetasi didominasi oleh tapa-tapa (Mallotus sp) dari suku Euphorbiaceae, langsat hutan (Craton laevifolius Blume) dan marambong (Geunsia farinosa Blume) dengan INP berturut-turut 49,52; 23,87 dan 19,99

Jalur I dan II memiliki kesamaan vegetasi tingkat pohon sebanyak 40%, hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan vegetasi yang mendominasi kedua jalur. Rendahnya kesamaan vegetasi di kedua jalur tersebut diduga karena pengaruh ketinggian dari permukaan laut (dpl) yang membedakan jenis vegetasi yang tumbuh di kedua lokasi tersebut, berkaitan dengan temperatur atau iklim setempat. Dari sepuluh vegetasi tingkat pohon yang memiliki INP tertinggi pada kedua jalur, masing-masing terdapat 3 spesies pohon yang menjadi sumber pakan ungko dan hanya satu spesies yang sama yaitu marambong.

Tabel 7. Sepuluh nilai INP tertinggi vegetasi tingkat tiang

Jenis vegetasi KR FR DR INP

Tinggi tiang

Tingkat kesukaan

Jalur I

kayu air (Saurauia) 21,05 7,69 11,76 40,50 11,25

marambong(Geunsia farinosa Blume) 10,52 7,69 13,12 31,34 19 *

tandiang (Chistella parasitica) 10,52 7,69 11,36 29,58 15 durian hutan (Durio zibethinus Murr) 5,26 7,69 14,02 26,98 8,5

meranti (Shorea sp) 10,52 7,69 8,27 26,49 25

goring-goring (belum teridentifikasi) 5,26 7,69 11,22 24,17 10,5

gumbot (Ficus padana Blume) 5,26 7,69 8,99 21,94 8 *

medang (Litsea sp) 5,26 7,69 6,04 18,99 11,5

cimpedak (Artocarpus integer Merr) 5,26 7,69 4,85 17,81 6 * abo (Archidendron fagifolium (Blume en Miq)

Nielsen) 5,26 7,69 3,59 16,55 20

Jalur II

tapa-tapa (Mallotus sp) 20 7,69 24,10 51,79 21

darah-darah( Myristica iners Blume) 13,33 15,38 17,42 46,14 16 * oteng (Litsea elliptica (Blume) Boerl) 6,67 7,69 13,86 28,22 15 monton (Antidesma stipuilarei) 6,67 7,69 8,09 22,45 16,6 * tampang (Artocarpus dadah Miq) 6,67 7,69 7,96 22,32 15

langsat ( Craton laevifolius Blume) 6,67 7,69 7,21 21,57 18 * oteng Belanak (Famili Moracea) 6,67 7,69 6,93 21,29 22

ndolok (Ixora sp.) 6,67 7,69 4,71 19,07 13

simartulan (Myrica esculenta Buch-Ham) 6,67 7,69 3,85 18,20 15,8

marambong (Geunsia farinosa Blume) 6,67 7,69 3,81 18,17 25 *

Tinggi tiang pada Jalur I dan II berdasarkan Tabel 7 masing-masing 13,54 ± 5,98 m dan 19,42 ± 7,34 m. Hasil ini menunujukkan bahwa tinggi tingkat tiang pada Jalur II lebih tinggi dibanding jalur I yang artinya ungko akan lebih senang berada pada Jalur II mengingat ungko merupakan satwa yang arboreal dan cenderung berada pada tajuk strata A yaitu ketinggian lebih dari 15 m.

Pada tingkat tiang vegetasi Jalur I didominasi oleh kayu air (Saurauia) dari suku Actinidiaceae, marambong (Geunsia farinosa Blume) dari suku Verbenaceae

dan tandiang (Chistella parasitica) dari suku Thelipteridaceae dengan INP berturut turut yaitu 40,50; 31, 34 dan 29,58. Jalur II vegetasi tingkat tiang didominasi oleh tapa-tapa (Mallotus sp) dari suku Euphorbiaceae kemudian darah-darah dan oteng dengan INP berturut-turut adalah 51,79; 46,14 dan 28,22. Hanya marambong vegetasi tingkat tiang yang sama pada kedua jalur, sedangkan vegetasi yang lain berasal dari jenis yang berbeda. Pada Jalur I terdapat 3 jenis vegetasi yang merupakan sumber pakan ungko yaitu marambong, gumbot dan cimpedak, sedangkan Jalur II terdapat 4 jenis vegetasi yang merupakan sumber pakan ungko yaitu darah-darah, monton, langsat dan marambong.

Sumber Pakan

Pohon pakan merupakan jenis tumbuhan yang buah, daun, bunga atau bagian lainnya dimakan oleh ungko. Hasil pengamatan menunjukkan jenis pohon pakan yang mendominasi habitat di TNBG adalah Marambong (Geunsia farinosa Blume),langsat hutan (Craton laevifolius Blume) dan darah-darah(Myristica iners Blume) serta jambu-jambu (Syzygium sp). Secara keseluruhan ditemukan sebanyak 15 jenis pohon pakan ungko yang dikelompokkan ke dalam 6 famili di areal penelitian. Jumlah pohon pakan yang ditemukan dapat dikategorikan tinggi karena jumlah keseluruhan jenis vegetasi untuk tingkat pohon hanya 33 jenis dan 15 jenis merupakan pohon pakan untuk ungko. Tabel 8 menunjukkan daftar nama vegetasi yang menjadi sumber pakan ungko di lokasi penelitian di TNBG.

Tabel 8. Nama tumbuhan sumber pakan dominan ungko dari Juli sampai September 2005

Lokasi ditemukan

No Nama Lokal Nama Ilmiah Famili

Jalur I

Jalur II 1 batang riman belum dapat diidentifikasi belum dapat

diidentifikasi

*

2 cimpedak Artocarpus integer Merr Myristacaceae * *

3 darah-darah Myristica iners Blume Myristacaceae * *

4 dondong Ficus vagiageta Blume Moraceae * *

5 gitan Cheiocarpus sp Apycinaceae * *

6 gumbot Ficus padana Blume Moraceae * *

7 jambu-jambu Syzygium polyanthum (Wight) Walp

Myrtaceae *

8 langsat hutan Craton laevifolius Blume Euphorbiaceae *

9 lempayang Antthocephalus cadamba Miq Rubiaceae *

10 marambong Geunsia farinosa Blume Verbenaceae * *

11 mobi Ficus sp Moraceae *

12 monton Antidesma stipuilare Euphorbiacea *

13 rambutan hutan Knema latericia Elmer Myristacaceae * *

14 rube Ficus sp Moraceae *

15 tampang Artocarpus dadah Miq Moraceae * *

Tabel 8 menunjukkan bahwa pada Jalur II lebih banyak ditemui jenis pohon pakan (13 jenis) dibandingkan pada Jalur I (10 jenis). Berdasarkan pengamatan dan informasi masyarakat, jambu-jambu (Syzygium polyanthum (Wight) Walp), gumbot (Ficus padana Blume), marambong (Geunsia farinosa Blume), darah-darah (Myristica iners Blume) dan mobi (Ficus sp) adalah berturut-turut pohon pakan yang

paling sering dikunjungi ungko. Hal ini disebabkan tingkat kesukaan ungko terhadap buah yang dihasilkan pohon-pohon tersebut sangat tinggi.

Jenis pohon pakan ungko bervariasi menurut musim sehingga musim tertentu jumlahnya berbeda dengan jumlah musim yang lain. Sumber pohon pakan owa jawa

Dokumen terkait