• Tidak ada hasil yang ditemukan

Provinsi Jawa Barat berada di daratan Pulau Jawa bersama dengan Provinsi lainnya seperti Provinsi Banten, Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Timur. Secara astronomis wilayah Provinsi Jawa Barat ini terletak pada koordinat antara 550' -750' Lintang Selatan (LS) dan 10448' - 10848' Bujur Timur (BT) dengan batas wilayah sebelah utara adalah Laut Jawa dan Provinsi DKI Jakarta, sebelah timur adalah Provinsi Jawa Tengah, sebelah selatan adalah Samudera Indonesia dan sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Banten.

Luas wilayah Provinsi Jawa Barat meliputi wilayah daratan seluas 3.735.327 hektar dan garis pantai sepanjang 755,829 km. Daratan Jawa Barat dapat dibedakan atas wilayah pegunungan curam (9,5% dari total luas wilayah Jawa Barat) terletak di bagian Selatan dengan ketinggian lebih dari 1.500m di atas permukaan laut (dpl); wilayah lereng bukit yang landai (36,48%) terletak di bagian Tengah dengan ketinggian 10-1.500 m dpl; dan wilayah dataran luas (54,03%) terletak di bagian Utara dengan ketinggian 0 -10 m dpl (BIG 2010).

Tutupan lahan terluas di Jawa Barat berupa sawah (29,03 % dari luas wilayah Jawa Barat), perkebunan dan ladang (28,52%), dan hutan primer serta hutan sekunder (18,73%), sementara lahan terbangun dan kawasan industri di Jawa Barat hanya 12,37% dari seluruh luas wilayah Jawa Barat (BIG 2010).

Berdasarkan data BBSDLP, jenis tanah di wilayah Jawa Barat didominasi oleh Latosol. Latosol merupakan tanah yang mempunyai kadar liat tinggi (>60%) dan merupakan jenis tanah yang cocok untuk tanaman padi, palawija, kopi, coklat, lada, buah-buahan, sayuran dan ubi. Selain Latosol, jenis tanah yang ada di wilayah Jawa Barat meliputi Aluvial, Andosol, Brown Forest, Glei, Grumosol, Latosol, Litosol, Mediteran, Organosol, Podsol Merah Kuning, dan Regosol.

Gambar 1 Peta wilayah kajian UTARA

TENGAH

Kondisi Klimatologis Wilayah

Jawa Barat memiliki iklim tropis dengan suhu rata-rata 17,4 - 30,7°C dan kelembaban udara antara 73-84%. Data BMKG menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2008, turun hujan selama 1-26 hari setiap bulannya dengan curah hujan antara 3,6 hingga 332,8 mm (Diperta 2014). Jawa Barat tergolong wilayah dengan tipe curah hujan monsoonal. Pola curah hujan tipe ini memiliki perbedaan yang jelas antara periode musim hujan dan musim kemarau dengan satu puncak musim hujan dan satu puncak musim kemarau. Secara umum, dapat dilihat pola seperti huruf U yang tinggi pada awal dan akhir tahun dan rendah pada pertengahan tahun. Wilayah dengan pola curah hujan ini dipengaruhi oleh angin monsoon barat dan angin monsoon timur.

Berdasarkan data curah hujan dan suhu yang didapatkan melalui satelit CRU untuk wilayah Jawa Barat, dapat dilihat pola sebaran pada gambar berikut.

a b

c

Gambar 2 Hubungan antara curah hujan dan suhu rata-rata tahun 1980-2012 bagian utara (a), tengah (b) dan selatan (c) Jawa Barat

24 24.5 25 25.5 26 26.5 27 27.5 28 28.5 29 0 100 200 300 400 500 Jan Feb Ma r Ap r Me i Ju n Ju l Agu st Se p Ok t N o p De s CH (m m ) CH Suhu 24 24.5 25 25.5 26 26.5 27 27.5 28 28.5 29 0 100 200 300 400 500 Jan Feb Ma r Ap r Me i Ju n Ju l Agu st Se p O k t N o p De s CH (m m ) CH Suhu 24 24.5 25 25.5 26 26.5 27 27.5 28 28.5 29 0 100 200 300 400 500 Jan Feb Ma r Ap r Me i Ju n Ju l Agu st Se p Ok t N o p De s CH (m m ) CH Suhu

Berdasarkan gambar tersebut, dapat terlihat bahwa curah hujan tertinggi terdapat di wilayah Jawa Barat bagian selatan sedangkan suhu tertinggi berada dibagian utara. Wilayah tengah dan selatan Jawa Barat memiliki nilai curah hujan tertinggi sebesar 412 mm pada bulan November dan terendah pada bulan Agutus dengan 75 mm, sedangkan suhu sebesar 25,5-26,5°C. Untuk wilayah utara curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari sebesar 335 mm dan terendah pada bulan Agustus sebesar 53 mm, untuk suhu sebesar 27-28°C. Dapat dillihat pada bulan Juni Juli dan Agustus terjadi penurunan suhu sebesar 0,2-0,3°C, penurunan suhu tersebut terjadi karena adanya pengaruh radiasi matahari ataupun kecepatan angin yang cukup tinggi terjadi pada saat itu.

Berdasarkan kondisi klimatologis wilayah Jawa Barat, dapat dikatakan bahwa wilayah utara lebih panas dibandingkan wilayah bagian tengah dan selatan. Hal tersebut dapat dilihat pada nilai rata-rata curah hujan yang lebih kecil dan nilai rata-rata suhu yang lebih tinggi dibanding wilayah lainnya. Bagian utara Jawa Barat merupakan wilayah dataran rendah yang dekat dengan pantai dan memiliki topografi yang landai, selain itu bagian utara didominasi oleh lahan terbangun dan sawah dengan kemampuan tanah untuk menyimpan air yang cukup rendah.

Kejadian El Nino akan mempengaruhi wilayah dengan pola curah hujan monsoonal. Selain El Nino, La Nina pun akan mempengaruhi keadaan curah hujan suatu wilayah. Perbedaan sebaran curah hujan pada tahun normal, El Nino dan La Nina dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 3 Pola curah hujan tahun normal, El Nino dan La Nina di Jawa Barat Secara umum, dapat terlihat bahwa pada tahun-tahun El Nino, sebaran curah hujan yang dimiliki lebih kecil dibandingkan pada saat tahun-tahun normal dan La Nina. Untuk curah hujan pada tahun-tahun La Nina, cenderung lebih besar dibandingkan pada tahun normal meskipun terkadang memiliki curah hujan yang sama besar. Pada tahun normal curah hujan mencapai 105 – 380 mm. Untuk tahun La Nina sebaran curah hujan yaitu 80 – 390 mm sedangkan pada tahun-tahun El Nino nilai curah hujan sebesar 25 – 350 mm (Tabel 2).

0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 CH (m m )

Tabel 2 Sebaran curah hujan tahun normal, El Nino dan La Nina di Jawa Barat

Bulan CH

Normal El Nino La Nina

Januari 380 343 330 Februari 285 282 338 Maret 321 284 315 April 308 281 301 Mei 182 179 257 Juni 126 70 141 Juli 105 66 106 Agustus 106 25 82 September 121 84 156 Oktober 295 168 280 Nopember 320 306 386 Desember 318 316 334

Pendugaan Kapasitas Air Tersedia (KAT)

Kapasitas air tersedia merupakan kemampuan atau kapasitas tanah untuk menyimpan air dan dimanfaatkan berbagai jenis tanaman untuk tumbuh. Menurut Turyanti (1995), lapisan tanah terbagi menjadi dua jenis, yaitu lapisan tanah bagian atas sedalam ±25 cm dan lapisan tanah bagian bawah yang dalamnya sesuai dengan zone perakaran. Nilai KAT sendiri didapatkan menggunakan bantuan tabel pendugaan KAT dari Thornthwaite dan Mather (1957).

Wilayah Jawa Barat bagian utara didominasi oleh sawah dan lahan terbangun, dengan luas sawah mencapai 30-65% dan luas wilayah terbangun mencapai 15-45%. Nilai KAT pada lapisan atas berkisar 40-60 mm, sedangkan nilai KAT pada lapisan bawah berkisar antara 60-120 mm.Wilayah Jawa Barat bagian selatan dan barat di dominasi oleh kebun dan hutan dengan nilai KAT bagian atas berkisar 60-70 mm dan nilai KAT bagian bawah berkisar antara 160-230 mm. Untuk wilayah Jawa Barat bagian tengah di dominasi oleh tutupan lahan sawah, kebun dan hutan dengan nilai KAT bagian atas berkisar antara 50-60 mm dan 120-180 mm untuk nilai KAT bagian bawah.

Perhitungan Neraca Air

Neraca air dihitung pada setiap wilayah yang sudah dibagi.

Masing-masing akan menghasilkan nilai koefisien neraca air, yaitu α (koefisien evepotranspirasi), (koefisien recharge), (koefisien runoff) dan δ (koefisien loss). Dimana setiap koefisien neraca air tersebut akan digunakan dalam perhitungan indeks Palmer.

Besarnya selisih curah hujan dan evapotranspirasi potensial dapat mempengaruhi cadangan air tanah. Hujan yang turun setelah terjadi penurunan cadangan air tanah, diasumsikan mengisi air tanah lebih dulu hingga mencapai kapasitas lapang, kemudian terjadi limpasan. Saat selisih curah hujan dan evapotranspirasi bernilai negatif maka akan terjadi loss (L). Loss merupakan

jumlah kehilangan air pada kedua lapisan tanah. Jika tidak terjadi hujan pada periode tersebut, maka jumlah kehilangan air disebut Potential Loss (PL). Apabila nilai negatif ini terus berlangsung, maka tanah dilapisan bawah akan mengalami kehilangan air karena air pada tanah lapisan atas sudah habis terlebih dahulu dan kehilangan cadangan air.

Recharge (R) terjadi saat selisih curah hujan dan evapotranspirasi bernilai postitif dan kedua lapisan tanah belum mencapai kapasitas lapang. Potential Recharge (PR) sendiri merupakan jumlah air yang diperlukan untuk pengisian cadangan air tanah kedua lapisan hingga mencapai kapasitas lapang. Ketika tanah telah mencapai kapasitas lapang maka PR akan bernilai 0, hal ini dkarenakan hujan yang jatuh di permukaan tanah seluruhnya akan menjadi RO dan perkolasi sebagai surplus air. Nilai RO dan PR saling bertolak belakang satu sama lain. Saat nilai RO menurun maka nilai PR akan menurun, begitu juga sebaliknya.

Koefisien evapotranspirasi (α) merupakan nilai yang menggambarkan

besarnya evapotranspirasi di suatu wilayah yang berkisar antara 0 sampai 1. Pada umumnya nilai koefisien evapotranspirasi mendekati 1 pada bulan-bulan basah dan mendekati 0 pada saat bulan kering. Hal tersebut menunjukkan bahwa evapotranspirasi akan mencapai nilai potensialnya saat wilayah tersebut mengalami musim hujan. Sedangkan nilai koefisien evapotranspirasi akan mernurun saat memasuki musim kemarau, karena kondisi cadangan air pada musim kemarau akan menurun dan mempengaruhi evapotranspirasi aktual.

Gambar 4 Grafik nilai koefisien evapotranspirasi (α) dari γ wilayah di Jawa Barat

Wilayah Jawa Barat memiliki nilai koefisien evapotranspirasi lebih dari 0,7 yang berarti bahwa evapotranspirasi aktual yang terjadi lebih dari 70% dan melebihi nilai evapotranspirasi potensialnya. Berdasarkan gambar 4, wilayah tengah dan selatan mempunyai pola yang relatif sama, dengan nilai koefisien tertinggi 1 yang terjadi pada bulan-bulan basah dan nilai koefisien terendah yaitu 0,4 yang terjadi pada bulan September dan Oktober. Wilayah utara memiliki nilai koefisien terendah pada bulan Oktober dengan nilai mendekati 0 dan memiliki nilai tertinggi yaitu 1 pada bulan-bulan basah. Penurunan nilai koefisien evapotranspirasi yang terjadi lebih awal pada bulan Mei menyebabkan wilayah tersebut mengalami penurunan kondisi cadangan air tanah yang lebih lama

0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00

dinbandingkan wilayah lain dan berpotensi menjadi daerah kering. Umumnya wilayah dengan nilai koefisien terendah adalah wilayah utara Jawa Barat.

Gambar 5 Grafik nilai koefisien recharge ( ) dari γ wilayah di Jawa Barat Koefisien recharge ( ) merupakan nilai yang menggambarkan besarnya

pengisian air tanah yang terjadi saat hujan hingga mencapai kapasitas lapang.

Nilai mendekati 1 saat terjadi penambahan air hujan kedalam tanah setelah

terjadinya defisit cadangan air tanah. Saat koefisien recharge bernilai 1 maka pengisian air tanah saat hujan telah mendekati nilai potensialnya hingga mencapai kapasitas lapang. Nilai akan mendekati 0 saat tidak terjadinya defisit air tanah

sehingga hujan yang turun diasumsikan melimpas. Secara umum, nilai koefisien

recharge bernilai 1 saat musim hujan dan bernilai 0 saat musim kemarau.

Berdasarkan gambar 5, nilai koefisien recharge cenderung menurun bahkan mendekati nol saat bulan Juni hingga September. Hal ini dikerenakan pada bulan-bulan tersebut, curah hujan yang jatuh ke permukaan cenderung menurun

sehingga nilai pun ikut menurun. Secara umum, nilai cenderung tak beraturan,

karena selain dipengaruhi oleh besarnya curah hujan tapi dipengaruhi juga oleh faktor-faktor lain seperti vegetasi, tekstur dan struktur tanah dan juga kelerengan yang tidak dihitung pada perhitungan ini.

Gambar 6 Grafik nilai koefisien runoff ( ) dari γ wilayah di Jawa Barat

0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00

Utara Tengah Selatan

0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00

Koefisien runoff ( ) merupakan nilai yang menggambarkan besarnya curah hujan yang mengalir menjadi limpasan permukaan (runoff). Pada dasarnya,

fluktuasi nilai hampir sama dengan fluktuasi nilai α. Nilai koefisien runoff akan mendekati 1 saat musim hujan, karena hujan yang turun dan jatuh ke permukaan akan menjadi runoff seluruhnya. Sedangkan saat musim kemarau nilainya akan mendekati 0 karena hujan yang jatuh akan terinfiltrasi kedalam tanah.

Berdasarkan gambar 6, pada musim hujan nilai koefisen runoff mendekati 1 dan perlahan menurun saat memasuki musim kemarau. Pada wilayah utara, nilai koefisien limpasan paling cepat mengalami penurunan dan memiliki nilai koefisien paling tinggi diantara wilayah lainnya. Hal ini dapat menunjukkan bahwa wilayah bagian utara mengalami penurunan curah hujan dan juga tidak memiliki daerah resapan yang cukup efektif. Berbeda halnya dengan wilayah tengah yang memiliki nilai koefisien runoff mendekati 0 pada musim kemarau, hal ini dapat dipengaruhi oleh kondisi daerah yang efektif terhadapan resapan air atau karena curah hujan yang menurun.

Gambar 7 Grafik nilai koefisien loss (δ) dari γ wilayah di Jawa Barat

Koefisien loss (δ) merupakan nilai yang menunjukkan kehilangan lengas tanah yang terjadi. Nilai δ berkebalikan dengan ketiga paramater sebelumnya, dimana pada musim kemarau nilai δ lebih tinggi hingga mendekati 1 dan pada musim hujan nilai δ akan lebih rendah mendekati 0. Pada musim kemarau, hujan yang jatuh ke permukaam menurun sehingga cadangan air tanah dan evapotranspirasi aktual menurun dan potensial kehilangan lengas pun menurun. Sedangkan pada musim hujan, diasumsikan tidak terjadi evapotranspirasi sehingga potensi kehilangan lengas cukup besar.

Berdasarkan gambar 7, pada musim kemarau nilai koefisien loss perlahan meningkat hingga mencapai titik tertinggi pada bulan September. Hal tersebut membuktikan bahwa pada ketiga wilayah tersebut, potensial kehilangan lengas tertinggi terjadi pada bulan September. Sedangkan pada musim hujan, nilai koefisien loss cenderung menurun bahkan mendekati 0.

0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00

Indeks Kekeringan

Indeks kekeringan Palmer merupakan indeks yang menggunakan angka dengan kisaran -4 sampai 4. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, indeks kekeringan di Jawa Barat menunjukkan sebaran yang cukup besar, dengan nilai tertinggi yaitu 22 dan nilai terendah -34. Nilai tersebut jauh melebar dibandingkan klasifikasi yang telah disusun oleh Palmer. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya perbedaan curah hujan di tempat penelitian Palmer dan di Indonesia, khususnya Jawa Barat. Selain itu, kondisi El Nino dan La Nina pun dapat menyebabkan kondisi kering dan basah pada suatu wilayah semakin panjang, terutama pada wilayah dengan pola hujan monsoon dimana pengaruh El Nino akan lebih kuat (Tjasyono 1997).

DJF MAM JJA SON

Gambar 8 Perbandingan sebaran rata-rata indeks kekeringan tahun normal di Jawa Barat

Berdasarkan Gambar 8 dapat terlihat bahwa Jawa Barat merupakan wilayah dengan kategori normal. Pada bulan SON dan DJF wilayah Jawa Barat bagian selatan cenderung basah, sedangkan pada bulan MAM dan JJA wilayah bagian utara memiliki indeks lebih kering. Secara umum, bagian selatan Jawa Barat lebih basah dibandingkan bagian selatan. Hal ini dikarenakan bagian selatan berada pada elevasi tinggi dan dikelilingi oleh pegunungan sehingga curah hujan dan kemampuan tanah untuk menyimpan cadangan air lebih tinggi.

ENSO merupakan salah satu fenomena iklim yang berkaitan dengan indeks osilasi selatan yang terjadi di Samudera Pasifik. Peristiwa ENSO terbagi menjadi dua yaitu El Nino dan La Nina, dimana keduanya dapat mempengaruhi variabilitas iklim di Indonesia. El Nino dapat menyebabkan memanasnya suhu muka air laut di daerah Samudra Pasifik yang terjadi secara berkala dan dalam selang waktu tertentu, serta ditandai dengan meningkatnya perbedaan tekanan udara antara Darwin dengan Tahiti. Pada saat yang bersamaan, terjadi perubahan pola tekanan udara yang berdampak luas dengan gejala yang berbeda-beda. Secara umum fenomena ini mengakibatkan curah hujan berkurang di daerah-daerah yang terkena dampaknya (Fox 2000). Tingkat Kejadian El Nino dan La Nina dapat diklasifikan menjadi tiga skala yaitu ringan, sedang dan tinggi. Perbedaan intensitas tesebut dipengaruhi oleh nilai SST di Samudera Pasifik dan nilai perubahan tekanan udara yang dapat terbaca melalui nilai SOI yang menyatakan semakin semakin besar nilai negatifnya maka intensitas El-Nino akan semakin kuat. Selama periode antara tahun 1980-2012 telah terjadi beberapa kejadian El-Nino dan La-Nina dalam tiga skala tersebut, seperti pada tabel berikut

Tabel 3 Tahun kejadian El-Nino dan La-Nina dari tahun 1980-2012

El-Nino La-Nina

Weak Moderate Strong Weak Moderate Strong

2004-2005 1986-1987 1982-1983 1983-1984 1998-1999 1988-1989 2006-2007 1991-1992 1987-1988 1995-1996 2007-2008 1999-2000 1994-1995 1997-1998 2000-2001 2010-2011 2009-2010 2002-2003 2005-2006 2008-2009 2011-2012 Sumber: ggweather.com/enso/oni.htm

ENSO berpengaruh terhadap iklim monsun yang ada di Indonesia (Qian et al. 2010) yaitu sirkulasi atmosfer dan cuaca. Indonesia menerima dampak ENSO yang besar karena merupakan daerah pemanasan samudera yang paling intensif yang akan memengaruhi sirkulasi konvektif. Faktor tersebut menyebabkan Indonesia memiliki curah hujan tinggi dan menjadi sumber utama pemanasan atmosfer global (Kahya 1993).

Secara keseluruhan kondisi El Nino di wilayah Indonesia menyebabkan penurunan curah hujan hingga 100 mm/bulan. Penurunan curah hujan tertinggi terjadi di wilayah Indonesia bagian timur sedangkan peningkatan curah hujan terjadi di sebagian wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Kepulauan Riau hingga 50 mm/bulan. Kondisi anomali suhu permukaan laut (ASPL) di perairan Indonesia mengalami penurunan sedangkan di Samudera Pasifik mengalami peningkatan ASPL sehingga Indonesia mengalami tekanan tinggi dan angin akan membawa uap air yang berpotensi menjadi awan hujan bergerak menuju perairan yang bertekanan rendah.

Menurut Tjasyono (1997) pengaruh ENSO akan kuat pada daerah dengan pola curah hujan monsoon, lemah pada daerah dengan pola curah hujan equatorial dan tidak jelas dengan pola curah hujan lokal. Jawa Barat dengan pola curah hujan monsoon membuat Jawa Barat menjadi wilayah yang dipengaruhi oleh El Nino. Selain dapat mempengaruhi tingginya curah hujan, kejadian El Nino juga berpengaruh terhadap masuknya musim kemarau. Di samping itu periode musim hujan akan lebih pendek (Kailaku 2009).

Pulau Jawa merupakan wilayah beriklim monsun yang menerima dampak

El Nino. Akan tetapi, topografinya yang kompleks menyebabkan terjadinya keragaman pengaruh. Efek orografis yang terjadi pada wilayah pegunungan lebih dipengaruhi oleh iklim lokal (angin gunung) dibandingkan dengan iklim monsun (Mc Gregor 1998).

Gambar 9 Peta sebaran indeks kekeringan tahun El Nino di Jawa Barat Gambar 9 menunjukkan sebaran indeks kekeringan maksimal pada tahun-tahun El Nino. Sebagian besar wilayah utara Jawa Barat mengalami kekeringan dengan indeks sedikit kering hingga ekstrem kering. Hal ini dapat menyebabkan wilayah utara Jawa Barat merupakan salah satu wilayah yang rawan terhadap kekeringan.

Indeks kekeringan yang didapat pada tahun-tahun normal, El-Nino dan La-Nina berbeda satu sama lain. Pada tahun-tahun El-Nino terdapat indeks bernilai negatif yang terjadi selama 5-6 bulan berturut-turut bahkan terus berlangsung hingga tahun berikutnya. Nilai indeks negatif pun dapat terjadi pada tahun normal bahkan tahun basah. Hal ini terjadi hanya pada wilayah tertentu dengan situasi-situasi lokal yang ada. Secara keseluruhan selama periode 1980-2012 wilayah Jawa Barat cenderung berada pada kategori normal. Hanya pada bulan-bulan dan pada wilayah-wilayah tertentu indeks bernilai negatif dan tidak berlangsung dalam waktu yang lama.

El Nino Normal

M AM El Nino Normal JJA S ON

Gambar 10 Perbandingan sebaran indeks kekeringan maksimum tahun El Nino dan Normal di Jawa Barat

Berdasarkan gambar 10, terlihat bahwa pada tahun normal bulan SON kondisi wilayah Jawa Barat mulai basah dibagian selatan, sedangkan pada tahun El Nino bulan SON wilayah Jawa Barat lebih kering dibandingkan bulan lainnya. Menurut Qian et. al (2010) dampak El Nino lebih signifikan pada bulan September Oktober November (SON), El Nino pun dapat memberikan dampak signifikan dalam menurunkan curah hujan pada bulan Desember Januari Februari (DJF). Hal ini sesuai dengan Aldrian (2003) yang menyatakan bahwa pengaruh ENSO di Indonesia dimulai pada bulan April dan akan mencapai puncak pada bulan Agustus dan September serta terus menurun sampai bulan November dan Desember. Hal ini dikarenakan anomali curah hujan dan suhu permukaan laut (ASPL) Pulau Jawa bernilai negatif sejak musim JJA hingga SON dengan anomali negatif tinggi pada musim SON hampir di seluruh wilayah pulau Jawa.

Pada bulan SON, terdapat dua wilayah kuat yang terkait dengan atmosfer antara Sanudera Pasifik dan Samudera Hindia serta sirkulasi Walker dimana pusat tekanan panas fenomena atmosfer tropis berada dekat dengan Indonesia. Meningkatnya kekeringan bulan SON pada tahun El Nino merupakan salah satu penyimpangan iklim yang terjadi dimana seharusnya pada bulan-bulan tersebut kekeringan sudah mulai berkurang sehingga kondisi akan semakin basah. Dapat dikatakan bahwa puncak kekeringan pada tahun El Nino terjadi pada bulan Agustus dan September.

Tingginya indeks kekeringan pada bulan SON, selain dipengaruhi oleh ENSO juga dipengaruhi oleh kemampuan tanah dalam menyimpan cadangan air. Pada perhitungan indeks kekeringan yang dilakukan, nilai indeks kekeringan juga dipengaruhi oleh nilai KAT lapisan tanah pada bulan sebelumnya. Hal ini terjadi karena proses pergerakan air dalam tanah memerlukan waktu sehingga terjadinya lag. Turyanti (1995) menyatakan bahwa indeks kekeringan sangat dipengaruhi oleh curah hujan bulanan pada periode yang sama dan oleh curah hujan bulan sebelumnya. Penurunan curah hujan dalam waktu yang singkat jika kondisi sebelumnya normal tidak akan begitu berpengaruh terhadap kondisi air tanah pada saat itu. Tetapi jika curah hujan berkurang terus-menerus, maka kondisi air tanah akan mulai terpengaruh. Hal inilah yang menyebabkan terkadang masih terjadi penurunan nilai indeks ketika curah hujan mulai meningkat.

Wilayah utara Jawa Barat berada pada sabuk pantai (the coastal belt) yang membentuk dataran rendah yang terbentang dari laut ke bukit-bukit dibawah gunung. Sungai yang mengalir melintasi dataran ini pun menyediakan air irigasi untuk menngaliri lahan pertanian. Kondisi inilah yang menjadikan wilayah pantai utara cocok dijadikan lahan pertanian terutama sawah bahkan menjadi sentra produksi beras Nasional. Menurut Pramudia (2002), wilayah pantai utara Jawa Barat memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap kekeringan dan penurunan produksi, terutama pada tahun-tahun El Nino.

Secara umum dapat terlihat bahwa wilayah Jawa Barat bagian utara lebih

Dokumen terkait