E. Keadaan Lembaga Penyuluhan Pertanian
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Penyelenggaraan Program peningkatan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) 1. Struktur Organisasi
Program Peningkatan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) merupakan program yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui perbaikan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan infrastruktur dasar pedesaan. Salah satu daerah di Provinsi Jawa Tengah Kabupaten Semarang yang mendapatkan Program Peningkatan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) adalah kecamatan Tengaran, dengan dipilih dua desa didalamnya sebagai lokasi pembangunan yaitu Desa Duren dan Desa Regunung. Pemilihan lokasi tersebut didasarkan hasil musyawarah dan skala prioritas kebutuhan penduduk miskin, dan dengan Infrastruktur yang dipilih berupa jalan desa sekaligus sebagai jalan usahatani. Penyelenggaraan Program Peningkatan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) didukung dengan struktur organisasi penyelenggara yang menggambarkan pola penanganan program secara menyeluruh dari tingkat pusat sampai dengan tingkat masyarakat dengan melibatkan komponen-komponen pelaksana dan institusi terkait lainnya.
a. Tingkat Kabupaten
1) Pemerintah Kabupaten
Pemerintah Kabupaten Semarang dalam hal ini Bupati, sebagai penanggung jawab pelaksanaan program di kabupaten. Tugas dari pemerintah kabupaten adalah Mengkoordinasikan penyelenggaraan Program Peningkatan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) di wilayah kerjanya, dan membentuk Tim Pengarah Kabupaten, DPIU dan Tim Kecamatan.
2) Tim Pengarah Kabupaten (TPK)
Tim Pengarah Kabupaten Semarang terdiri dari Ketua Bappeda Kabupaten sebagai Ketua Tim, Kepala Dinas Bidang Pekerjaan Umum/Kimpraswil sebagai sekretaris, dan sebagai anggota adalah commit to user
Instansi Pemberdayaan Masyarakat, Kepala Dinas/Instansi terkait serta masyarakat dan stakeholders lainnya seperti universitas (jumlah keanggotaannya mininum 25 persen).
3) District Project Implementation Unit (DPIU)
DPIU dibentuk di tingkat kabupaten dalam lingkungan Dinas Pekerjaan Umum dan DPIU.
4) Satuan Kerja Tingkat Kabupaten
Satuan Kerja Tingkat Kabupaten Semarang adalah pejabat pengelola anggaran, sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) yang ditunjuk dan diangkat oleh Menteri PU atas usulan Bupati, dan diberi kewenangan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran yang telah ditetapkan dalam DIPA.
b. Tingkat Kecamatan
Tim Kecamatan dibentuk berdasarkan/disahkan oleh Bupati, bertugas sebagai Pembina program di wilayah kerja kecamatan. Tim Kecamatan Tengaran terdiri dari unsur-unsur pemberdayaan masyarakat dan aparat kabupaten Semarang yang bertugas di kecamatan.
c. Tingkat Desa
1) Organisasi Masyarakat Setempat (OMS)/Kelompok Masyarakat (Pokmas)/Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD)
OMS/Pokmas/LKD ditetapkan/dibentuk melalui Musyawarah Desa I yang difasilitasi oleh Satker Tingkat Kabupaten. Disyaratkan tiap desa dibentuk 1(satu) OMS/Pokmas/LKD dan disahkan oleh Kepala Desa dan diketahui oleh Camat.
2) Kader Desa (KD)
KD berasal dari masyarakat setempat yang mampu mendorong masyarakat untuk melaksanakan kegiatan Program Peningkatan Infrastruktur Pedesaan sesuai dengan kriteria dan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan. Di masing-masing lokasi desa sasaran akan ditunjuk 1 tenaga Kader Desa. commit to user
3) Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP)
KPP adalah organisasi warga masyarakat yang terdiri dari unsur pemerintahan desa (selain Kepala Desa), perwakilan masyarakat desa yang berkepentingan selaku pengguna/pemanfaat infrastruktur serta perwakilan masyarakat awam setempat.
4) Konsultan Pendamping
Pengendalian dan pengawasan pelaksanaan Program Peningkatan Infrastruktur Pedesaan didukung oleh konsultan yang memberi bantuan teknis dan fasilitasi yang ditempatkan di tingkat Pusat, Propinsi dan Kabupaten.
Berikut ini susunan Organisasi Masyarakat Setempat (OMS): a) Desa Duren
Penanggung Jawab : Wahyudi
Ketua : Sukandar
Sekretaris : Komarul Hadi Bendahara : Siti Faisaturrahman Kader Desa : Pitoyo
Kader Teknis : Supriyadi
Anggota : Chariri, Adib Susilo, Iskandar, Syaifudin, Sucipto
b) Desa Regunung
Ketua : Drs. Suwarno
Sekretaris : Adib Fikri
Bendahara : H. Slamet Harun, Sutiman Pelaksana : Ibnu Umar
2. Mekanisme Penyelenggaraan Program Peningkatan Infrastruktur Pedesaan (PPIP)
a. Kriteria dan mekanisme pemilihan dan penetapan kabupaten dan desa sasaran adalah sebagai berikut:
1) Kabupaten sasaran mengacu pada kriteria kabupaten tertinggal yang telah ditetapkan oleh Kementerian PDT. commit to user
2) Desa sasaran merupakan desa tertinggal yang diusulkan oleh Gubernur dan Bupati, dan mengacu pada kriteria desa tertinggal yang telah ditetapkan oleh Kementerian PDT.
3) Desa sasaran merupakan desa tertinggal yang belum mendapatkan bantuan dana pembangunan infastruktur pedesaan dari program sejenis selama 2 tahun terakhir.
Salah satu daerah di Kabupaten yang ditetapkan menerima PPIP adalah Kecamatan Tengaran tepatnya di Desa Duren dan Regunung. Pertimbangan pemilihan dua desa tersebut adalah Desa Duren dan Regunung merupakan desa tertinggal yang ada di Kecamatan Tengaran yang masih memiliki sarana infrastruktur pedesaan terbatas, serta terdapat masyarakat miskin didalamnya.
b. Pemilihan jenis Infrastruktur di lokasi sasaran dilakukan dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
1) Infrastruktur yang mendukung aksesibilitas, berupa jalan dan jembatan pedesaan
2) Infrastruktur yang mendukung produksi pangan, berupa irigasi pedesaan
3) Infrastruktur untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat pedesaan, berupa penyediaan air minum dan sanitasi pedesaan.
Infrastruktur yang dipilih di Desa Duren berupa jalan desa utama sepanjang 1059 m dengan lebar 2,5 m, gorong-gorong 0,8 m x 4 m, talut dengan panjang 192 m dan tinggi 1,5 m, serta macadam 2,5 m x 796 m yang mendukung aksesibilitas masyarakat dalam kegiatan perekonomian, terutama bagi para petani yang mengangkut hasil pertanian ke luar desa, membuka jalan isolasi yang menghubungkan antara Desa Duren Kecamatan Tengaran dengan Desa Gondang Kecamatan Ampel untuk mendukung kegiatan sosial, serta mempermudah dalam memperoleh akses kesehatan ke puskesmas yang terletak di luar daerah. Desa Regunung juga memilih infrastruktur yang dibangun berupa jalan desa sepanjang 2100 m dan talut kanan kiri commit to user
seluas 1000 m2 , karena dirasa merupakan infrastruktur yang paling mendesak dan dibutuhkan oleh masyarakat dan petani sekitar.
c. Mekanisme pencairan dana dalam DIPA Program Peningkatan Infrastruktur Pedesaan dirinci sebagai berikut:
1) Penerima Dana Bantuan Sosial Infrastrukturn Pedesaaan (DBS) untuk rehabilitasi dan peningkatan infrastruktur dan sarana adalah masyarakat desa melalui Organisasi Masyarakat Setempat (OMS) dengan penanggung jawab Ketua OMS yang bersangkutan yang disalurkan ke rekening masing-masing OMS, baik OMS Desa Duren maupun Desa Regunung.
2) Secara khusus ketua OMS dan bendahara diwajibkan membuka rekening bantuan di Bank Umum atas nama Rekening OMS Program Peningkatan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) dan memberitahukan nomor rekeningnya kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satuan kerja Program Peningkatan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) Kabupaten.
3) Penyaluran dana masyarakat dilakukan dalam 3 tahap, tahap I sebesar 40 % (100 juta rupiah) setelah Rencana Kegiatan Masyarakat (RKM) disetujui, tahap II sebesar 40% (100 juta rupiah) dari dana masyarakat pada saat pencapaian pekerjaan fisik mencapai minimal 36%, dan tahap III sebesar 50 juta.
3. Pelaksanaan
Pelaksanaan Program Peningkatan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) dapat dikelompokkan menjadi:
a. Persiapan
Kegiatan persiapan program merupakan bagian dalam tahap pelaksanaan Program Peningkatan Infrastruktur Pedesaan (PPIP), meliputi: Pembentukan tim koordinasi dan tim pengarah, Penyusunan pedoman dan program, Pengadaan konsultan pendamping, Penetapan lokasi dan anggaran.
b. Sosialisasi
Sosialisasi kegiatan dilaksanakan untuk menyebarluaskan konsep dan menyatukan persepsi dalam pelaksanaan Program Peningkatan Infrastruktur Pedesaan. Sosialisasi dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat pusat, propinsi, dan kabupaten. Kegiatan sosialisai tingkat desa dilaksanakan satu kali di Desa Duren dan Regunung pada tanggal 28 Mei 2008 dengan dihadiri fasilitator, tenaga ahli, kepala desa, perangkat desa, tokoh masyarakat, beserta perwakilan dari masyarakat miskin setempat.
c. Perencanaan
Perencanaan dilaksanakan sepenuhnya oleh masyarakat dengan difasilitasi oleh konsultan pendamping kegiatan. Pada tahap ini pemerintah berperan sebagai pendorong (enabler) dari seluruh kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat. Secara garis besar tahapan pelaksanaan kegiatan di tingkat desa adalah sebagai berikut: 1) Musyawarah Desa I yang dilaksanakan pada tanggal 14 Juni 2008
dengan pembentukan Organisasi Masyarakat Setempat (OMS), serta pembahasan usulan program dan penggalian dana swadaya. 2) Identifikasi Permasalahan, dilakukan dengan pembuatan skala
prioritas kebutuhan infrastruktur yang paling mendesak baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun kelembagaan di Desa Duren dan Regunung.
3) Musyawarah Desa II, dilaksanakan pada tanggal 16 Juni 2008 dengan pembahasan penetapan urutan usulan kegiatan di lapang. 4) Pembuatan Rencana Kegiatan Masyarakat (RKM), Rencana Teknis
dan Rencana Anggaran Biaya (RAB). d. Pelaksanaan Fisik
Tahapan pelaksanaan fisik dimulai dengan melaksanakan Musyawarah Desa III, dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2008 dengan pembahasan mengenai mekanisme rencana pembangunan, pembentukan Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP), serta commit to user
rencana operasi dan pemeliharaan, Penandatanganan Kontrak Kerja, dan Pelaksanaan Fisik Infrastruktur. Pelaksanaan fisik selama 3 bulam mencakup proses pelaksanaan konstruksi yang meliputi penyiapan lokasi, pengadaan material, pelaksanaan konstruksi, pengadaan alat, pengendalian tenaga kerja, pengendalian waktu pelaksanaan serta pengendalian pengeluaran dana oleh pelaksana. Tenaga kerja dalam pelaksanaan program ini diambil dari masyarakat miskin daerah setempat yang dipilih dari masing-masing RT berdasarkan keadaan ekonomi (memiliki ekonomi lemah dan kemampuan mencukupi kebutuhan rendah), petani yang memiliki luas lahan < 2500 m2 dengan pergiliran setiap satu minggu sekali. Dalam pelaksanaan fisik dilakukan pula kegiatan swadaya masyarakat secara keseluruhan yang dilakukan melalui kegiatan pengadaan material (batu kali) dari sungai yang ada di desa tersebut, persiapan badan jalan, perataan sisi jalan yang masih berupa tebing. Kegiatan supervisi terdiri atas pemantauan kegiatan dan pelaporan pertanggungjawaban kegiatan, setelah pelaksanaan fisik infrastruktur selesai dilakukan penyelesaian kegiatan (finalisasi) dan serah terima hasil infrastruktur.
4. Pengendalian
Pengendalian merupakan serangkaian tindakan untuk menjamin kesesuaian antara pelaksanaan kegiatan dengan peraturan/ketentuan yang berlaku agar dapat dicapai tujuan dan sasaran secara efektif dan efisien. Pengendalian diperlukan agar proses pelaksanaan Program Peningkatan Infrastruktur Pedesaan sesuai dengan prinsip, pendekatan dan mekanisme yang telah ditetapkan.
Ruang lingkup pengendalian program dilakukan mulai dari tahap persiapan, perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Pemantauan Internal, dilakukan oleh seluruh unit pelaksana program pelaku di dalam sistem (Aparat Pemerintah/Struktural, Konsultan/Fungsional, serta masyarakat desa sasaran). Program Peningkatan Infrastruktur Pedesaan (PPIP),
pemantauan eksternal dilakukan oleh pelaku di luar unit pelaksana kegiatan seperti LSM, Perguruan Tinggi, Ormas, Media Massa, dll.
5. Pemeliharaan
Operasi dan pemeliharaan adalah upaya pemanfaatan dan pemeliharaan prasarana dan sarana secara optimal oleh masyarakat, pengguna prasarana dan sarana dengan pembinaan pemerintah daerah secara berkesinambungan. Kegiatan pemeliharaan dalam Program Peningkatan dan Infrastruktur Pedesaan (PPIP) ini, menjadi tanggung jawab Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) yang dibentuk melalui Musyawarah Desa. Rencana kegiatan pengawasan dan pemeliharaan yang dilaksanakan di Desa Regunung mencakup perawatan jalan dengan kerja bakti, pengadaan iuran sebesar Rp 1.000,00 setiap bulan, dan penarikan retribusi kendaraan roda empat yang masuk sebesar Rp 2.000,00 untuk penambahan dan swadaya masyarakat yang dapat digunakan untuk perawatan dan pemeliharaan jalan bersama, akan tetapi realisasinya belum dapat dilaksanakan secara maksimal, begitu pula di Desa Duren pemeliharaan hanya dilakukan berdasarkan kesadaran masyarakat yang ingin memberikan sumbangan bantuan untuk perbaiakan jalan.