Kondisi Ternak dan Lingkungan Kandang
Minggu pertama penelitian, ternak babi masih menyesuaikan diri dengan lingkungan kandang dan ransum perlakuan yang diberikan. Hasil pengamatan menunjukkan konsumsi ransum yang masih rendah dan ada juga beberapa ternak babi yang mengalami penyakit pernafasan yang ditandai dengan batuk-batuk hingga muntah dan susah bernapas. Kejadian ini berlanjut hingga enam minggu pertama penelitian berlangsung. Ternak babi penelitian juga terserang gatal-gatal atau scabies
yang terjadi pada empat ekor babi secara bergantian. Ternak babi yang mendapat taraf perlakuan 2 kg Aclinop/ 100 kg ransum kondisi ketiga ternaknya mengalami masalah. Ketiga ternak babi tersebut sakit, sehingga kelompok perlakuan tersebut tidak diikutkan dalam pengamatan. Ternak babi penelitian diberi obat cacing contra worm yang dicampurkan dalam ransum dan pemberiannya dilakukan pada bulan pertama dan pada bulan kedua penelitian.
Ternak babi betina (enam ekor) penelitian sering gelisah, mengeluarkan suara, sering memanjat dinding kandang, vulva berwarna merah dan berlendir. Gejala-gejala tersebut biasanya terjadi jika ternak babi tersebut sedang mengalami berahi. Semua ternak babi betina mengalami berahi yang berulang setelah mencapai dewasa kelamin. Penurunan konsumsi ransum berlangsung dua sampai tiga hari selama masa berahi.
Pencatatan suhu dan kelembaban kandang selama penelitian dilakukan tiga kali setiap hari, yaitu pada pagi hari jam 07.00-08.00, siang hari jam 12.00-13.00 dan sore hari jam 18.00-19.00. Suhu kandang selama penelitian berlangsung berkisar antara 22,85 – 33,010C, dengan rataan suhu pagi hari adalah 24,01±0,630C, siang hari 32,00±0,610C, dan sore hari 28,34±0,620C. Rataan suhu selama penelitian masih jauh diatas kisaran suhu optimum bagi pertumbuhan ternak babi, yang menurut Sihombing (1997) suhu optimum bagi pertumbuhan ternak babi periode grower
(bobot badan 5-40 kg) adalah 18-240C, sedangkan untuk periode finisher (bobot badan 40-90 kg) adalah 12-220C. Kelembaban minimum disekitar kandang penelitian
yaitu 46,07% dan kelembaban maksimum 92,86% dengan rataan kelembaban pada pagi hari adalah 88,84±2,94%, siang hari 54,42±5,01% dan sore hari 68,95±5,93%. Hasil pencatatan suhu dan kelembaban harian disekitar kandang selama penelitian dengan rataan tiap periode dua minggu disajikan pada Tabel 4.
Pada suhu yang tinggi ternak babi akan kehilangan nafsu makan dan energi banyak digunakan untuk evaporasi, sedangkan jika suhu lebih rendah daripada suhu optimum maka babi akan makan lebih banyak dan sebagian energi dari makanan dialihkan untuk produksi panas. Rataan suhu selama penelitian melebihi suhu optimum sehingga energi dari makanan digunakan untuk mempertahankan suhu tubuh yang dapat dilihat dari tingkah lakunya yang terengah-engah. Kelembaban disekitar kandang penelitian juga mempengaruhi pemindahan panas dari tubuh ternak, kelembaban yang tinggi selama penelitian menyebabkan terlambatnya pemindahan panas dari tubuh ternak babi oleh aliran udara sehingga ternak babi mengalami cekaman panas. Untuk mengatasi masalah ini maka ternak babi dimandikan baik pada pagi, siang maupun sore hari. Dengan demikian walaupun temperatur sekitar kandang tinggi diharapkan tidak akan mempengaruhi penampilan ternak babi.
Tabel 4. Rataan Suhu dan Kelembaban dalam Kandang Selama Penelitian Periode
(2 minggu)
Temperatur Lingkungan (0C) Kelembaban Lingkungan (%) Pagi Siang Malam Pagi Siang Malam 1 24,49 31,12 27,76 92,86 65,50 77,71 2 24,91 31,56 27,86 91,93 60,00 76,93 3 23,81 31,65 28,55 86,50 53,43 67,64 4 24,34 31,54 27,95 91,07 56,71 72,50 5 23,69 31,70 27,70 91,57 54,86 72,71 6 22,85 32,06 28,27 88,57 50,43 67,93 7 23,61 31,44 28,93 88,21 56,43 61,79 8 23,32 32,06 28,76 84,86 50,21 63,21 9 23,59 32,99 28,99 85,93 46,07 59,57 10 23,54 33,01 29,35 84,71 49,79 62,29 11 23,80 32,58 29,24 85,07 50,86 63,21 12 24,69 32,70 27,97 90,79 54,14 70,79 13 24,84 32,11 27,58 89,93 53,14 71,21 14 24,75 31,54 27,88 91,75 60,25 77,85 Minimum 22,85 31,12 27,58 84,71 46,07 59,57 Maksimum 24,91 33,01 29,35 92,86 65,50 77,85 Rataan 24,01 32,00 28,34 88,84 54,42 68,95 Keterangan : Pagi (07.00-08.00 WIB), Siang (12.00-13.00 WIB), Malam (18.00-19.00 WIB)
Kandungan Nutrien Ransum
Ransum yang digunakan selama penelitian ada empat macam yaitu: R0, R1, R2 dan R3. Ransum R0 merupakan ransum kontrol, sedangkan ransum R1, R2 dan R3 merupakan ransum yang ditambahkan Aclinop berturut-turut 1, 3 dan 4 kg/ 100 kg ransum. Hasil analisa proksimat dari ransum penelitian merupakan hasil pengambilan sampel setiap kali pencampuran ransum selama penelitian. Hasil analisa proksimat ransum penelitian ditampilkan pada Tabel 5.
Tabel 5. Hasil Analisa Proksimat Ransum Penelitian
Perlakuan BK Abu PK SK LK
Beta-N Ca P ME* (kkal/kg) --- % --- R0 A 86,65 7,36 16,92 6,14 1,30 54,93 1,46 1,08 3191 B 86,38 7,53 15,59 7,70 2,23 53,33 1,60 0,95 3033 R1 A 86,80 7,70 16,32 4,19 1,45 56,28 1,63 1,09 3232 B 86,87 8,56 15,28 8,01 2,14 53,74 1,76 1,98 2968 R2 A 87,57 7,69 15,75 4,09 1,65 58,39 0,60 0,51 3303 B 87,72 8,50 15,12 6,29 3,11 54,70 1,55 0,86 3068 R3 A 87,23 9,27 16,59 5,97 3,22 52,18 0,85 0,43 3203 B 86,70 10,45 15,35 5,30 2,56 53,04 1,48 1,02 2942 Keterangan: * : Hasil perhitungan berdasarkan ME = 78,9 % (GE), Fuller (1979)
A = Analisa proksimat ransum yang diberikan pada periode grower
B = Analisa proksimat ransum yang diberikan pada periode finisher
R0 = 0 kg Aclinop/ 100 kg ransum; R1= 1 kg Aclinop/100 kg ransum; R2= 3 kg Aclinop/ 100 kg ransum; R3= 4 kg Aclinop/ 100 kg ransum
Sumber: Hasil Analisa Proksimat Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (2011)
Pada Tabel 5 terlihat bahwa semakin tinggi taraf penggunaan Aclinop dalam ransum maka akan semakin tinggi kadar abunya. Hal ini disebabkan abu adalah bahan anorganik berupa mineral yang merupakan komponen penyusun zeolit “Aclinop”. Dengan penambahan Aclinop yang semakin meningkat dalam ransum berarti terjadi penambahan mineral selain mineral yang berasal dari bahan makanan lainnya sebagai penyusun ransum.
Kebutuhan kandungan protein kasar, energi metabolisme, Ca, dan P ternak babi pada periode grower (bobot badan 20-50 kg) masing-masing adalah 15%; 3260 kkal/kg; 0,6%; dan 0,5% sedangkan untuk periode finisher (bobot badan 40-90 kg) masing-masing adalah 13%; 3275 kkal/kg; 0,5% dan 0,4% (NRC, 1988).
Berdasarkan Tabel 5 protein kasar, energi metabolisme, Ca dan P ransum penelitian yang diberikan pada babi periode grower sudah sesuai anjuran NRC (1988), namun untuk ransum penelitian pada perlakuan R0, R1 dan R3 energi metabolisme masih dibawah anjuran NRC (1988).
Hasil analisa proksimat ransum penelitian yang diberikan pada babi periode
finisher, kandungan protein kasar, Ca dan P sudah sesuai dengan anjuran NRC (1988) sedangkan energi metabolisme masih dibawah anjuran NRC (1988). Perbedaan hasil perhitungan dengan hasil analisa laboratorium dapat disebabkan perbedaan kandungan zat makanan yang digunakan dalam perhitungan dengan zat makanan yang terdapat dalam ransum. Perbedaan zat makanan dalam setiap bahan makanan dapat disebabkan oleh varietas, musim, jenis tanah, cara pemanenan, proses pengolahan, dan lamanya penyimpanan (Parakkasi, 1990).
Rataan kadar serat kasar hasil analisa proksimat ransum penelitian yang diberikan pada babi periode grower adalah 5,09% sedangkan rataan kadar serat kasar pada babi periode finisher adalah 6,83%. Parakkasi (1990) menyatakan, bahwa hingga taraf 6%, kadar serat kasar tidak mempengaruhi penampilan ternak babi. Kadar serat kasar yang tinggi dalam ransum dapat menurunkan pertambahan berat badan dan nilai efisiensi penggunaan makanan.
Kandungan lemak ransum penelitian hasil analisa proksimat yang diberikan pada babi periode grower memiliki rataan 1,91% dan untuk babi periode finisher
adalah 2,51%. Berdasarkan hasil penelitian Allen yang dikutip oleh Parakkasi (1990) dengan menggunakan minyak jagung sebagai sumber lemak pada taraf 1, 4, 7, 10, dan 13% menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata terhadap berat akhir, pertambahan berat badan, dan efisiensi penggunaan makanan.
Penampilan Produksi Ternak Babi pada Periode Grower-Finisher
Rataan penampilan produksi ternak babi dari masing-masing perlakuan yang diamati disajikan pada Lampiran 2. Penampilan produksi ternak babi pada penelitian ini meliputi rataan konsumsi ransum harian, rataan pertambahan bobot badan harian dan efisiensi penggunaan ransum.
Konsumsi Ransum Harian. Penambahan zeolit “Aclinop” dalam ransum menyebabkan terjadinya kenaikan konsumsi ransum harian. Dengan perkataan lain, Aclinop kelihatannya dapat merangsang konsumsi ransum dengan sifatnya yang khas, hingga pemanfaatan 4 kg Aclinop/ 100 kg ransum. Rataan konsumsi ransum harian babi selama periode grower, finisher dan selama penelitian masing-masing adalah 1373,65±346,36; 2058,50±215,35 g/ekor dan 1716,08±280,86 g/ e/ h (Lampiran 2).
Hasil analisa statistik menunjukkan, bahwa konsumsi ransum harian babi periode grower tidak berbeda nyata akibat penambahan Aclinop dalam ransum, sedangkan konsumsi harian babi periode finisher sangat berbeda (P<0,01) nyata akibat penambahan Aclinop dalam ransum. Hasil uji beda memperlihatkan ransum perlakuan R0 dan R1 tidak berbeda nyata, sedangkan ransum perlakuan R0, R2 dan R3 memperlihatkan perbedaan yang sangat nyata terhadap R1. Rataan konsumsi ransum harian pada perlakuan 1 kg Aclinop/ 100 kg ransum sangat berbeda nyata jauh lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan 3 dan 4 kg Aclinop/ 100 kg ransum. Hal ini diduga karena adanya penyerapan nutrien dalam ransum sehingga ternak babi harus mengkonsumsi ransum lebih banyak agar kebutuhan nutriennya terpenuhi terutama kebutuhan energinya. Lubis (1963) menyatakan, bahwa faktor yang mempengaruhi ternak babi dalam mengkonsumsi ransum diantaranya adalah palatabilitas dan bentuk fisik ransum, bobot badan, jenis kelamin, temperatur lingkungan, keseimbangan hormonal dan fase pertumbuhan.
Pertambahan Bobot Badan Harian. Rataan pertambahan bobot badan harian babi selama periode grower, finisher dan selama penelitian masing-masing adalah 328,97±110,97; 480,75±219,50 dan 404,86±165,24 g/ e/ h (Lampiran 2). Hasil yang diperoleh pada penelitian ini sangat jauh lebih rendah dibanding rataan pertambahan berat badan periode pertumbuhan yang hampir sama (50 – 110 kg) yaitu sebesar 820 g/ e/ h menurut NRC (1988). Siagian (2003) menyatakan, bahwa hal yang paling menonjol menyebabkan perbedaan ini adalah faktor genetik karena sifat pertambahan berat badan adalah sifat yang diturunkan, sedangkan faktor lain yang dapat menyebabkan pertambahan berat badan yang rendah adalah lingkungan yang kurang mendukung termasuk suhu dan kelembaban.
Hasil analisa statistik memperlihatkan, bahwa taraf Aclinop dalam ransum tidak memperlihatkan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan bobot badan harian baik pada babi periode grower maupun finisher.
Efisiensi Penggunaan Makanan. Efisiensi penggunaan makanan adalah jumlah konsumsi ransum dibagi dengan pertambahan berat badan dalam satuan waktu yang sama (feed/gain). Semakin kecil nilai penggunaan makanan, maka semakin efisien seekor ternak memanfaatkan ransum menjadi daging. Rataan efisiensi penggunaan makanan babi periode grower, finisher dan selama penelitian masing-masing adalah 4,40±0,74; 4,29±0,59; dan 4,35±0,67 (Lampiran 2).
Hasil analisa statistik menunjukkan, bahwa taraf penggunaan Aclinop dalam ransum babi periode grower dan finisher tidak berpengaruh nyata terhadap rataan umum efisiensi penggunaan makanan babi periode grower-finisher masing-masing adalah 4,40±0,74 dan 4,29±0,59. Devendra dan Fuller (1979) menyatakan, faktor yang mempengaruhi efisiensi makanan disamping nutrisi adalah juga bangsa ternak, lingkungan, kesehatan ternak dan keseimbangan zat gizi ransum.
Laju Makanan dalam Saluran Pencernaan. Pada penelitian ini, ternak babi yang mengkonsumsi ransum dengan penambahan Aclinop (R1, R2, dan R3), laju makanan dalam saluran pencernaan lebih lama dibandingkan ternak babi yang ransumnya tanpa diberi penambahan Aclinop. Taraf Aclinop yang semakin tinggi hingga 4 kg Aclinop/ 100 kg ransum pada babi periode finisher sangat nyata (P<0,01) meningkatkan waktu atau memperlambat laju makanan dalam saluran pencernaan (18 jam 42 menit ± 2 jam 16 menit). Sihombing (1997) menyatakan, bahwa kecepatan laju makanan dalam sistem pencernaan pada babi remaja atau dewasa berkisar antara 10 – 24 jam.
Cool dan Willard (1982) menyatakan zeolit “Aclinop” seharusnya dapat memperlambat laju pencernaan sehingga makanan tinggal lebih lama dalam usus dan konsumsi ransum juga akan ikut berkurang karena jeda ternak makan menjadi lebih panjang. Penambahan zeolit “Aclinop” dalam penelitian ini memperlambat laju makanan dalam saluran pencernaan, namun konsumsi ransum ternak babi dengan penambahan Aclinop (1, 3, dan 4 kg/ 100 kg ransum lebih tinggi dibandingkan babi yang diberi ransum tanpa penambahan Aclinop (Lampiran 3). Hal ini diduga karena
adanya penyerapan nutrien dalam ransum sehingga babi harus mengkonsumsi ransum lebih banyak agar kebutuhan nutriennya terpenuhi terutama kebutuhan energinya.
Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot Potong, Bobot Karkas dan Persentase Karkas
Semua ternak babi penelitian dipotong di tempat pemotongan pedagang daging babi Kampung Cina, Desa Tajur Halang, Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor, setelah dipuasakan terlebih dahulu selama 12 jam. Pemotongan dilakukan apabila ternak babi telah mencapai bobot potong berkisar antara 78 – 82 kg. Pada akhir penelitian rataan bobot potong ternak terlebih dahulu babi adalah 80,54±1,28 kg (Tabel 6). Hasil yang diperoleh sudah sesuai dengan ketentuan yang diutarakan oleh Whittemore (1980) yang menyebutkan, bahwa kisaran bobot potong yang optimum adalah antara 50 – 120 kg.
Tabel 6. Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Bobot Potong, Bobot Karkas dan Persentase Karkas
Perlakuan Rataan
*
Bobot Potong (kg)a Bobot Karkas (kg)b Persentase Karkas (%)c R0 80,33±1,76 58,53±1,47ab 72,86±0,72A R1 80,83±1,26 61,47±0,15d 76,05±1,17D R2 79,33±1,53 58,37±0,60a 73,58±0,66B R3 81,67±0,58 60,20±0,70c 73,71±0,35BC Rataan Umum 80,54±1,28 59,64±0,73 74,05±0,72 a CV = 1,37%; bCV = 0.85%; cCV = 0,64% Keterangan : R0 = 0 kg Aclinop/ 100 kg ransum
R1 = 1 kg Aclinop/100 kg ransum R2 = 3 kg Aclinop/ 100 kg ransum R3 = 4 kg Aclinop/ 100 kg ransum
* = dikoreksi terhadap bobot awal (20,2 kg) dan lama pemeliharaan (162,42 hari) Superskrip huruf kecil dan huruf besar yang berbeda pada baris yang sama masing-masing menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) dan sangat nyata (P<0,01) Hasil analisa statistik memperlihatkan, bahwa taraf Aclinop dalam ransum tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap bobot potong. Tabel 6 memperlihatkan bahwa perlakuan 4 kg Aclinop/ 100 kg ransum (R3) menghasilkan bobot potong tertinggi (81,67±0,58 kg), sedangkan perlakuan 3 kg Aclinop/ 100 kg ransum (R2) menghasilkan bobot potong paling rendah (79,33±1,53 kg). Bobot
potong yang berbeda lebih disebabkan oleh waktu pemotongan yang disesuaikan dengan keinginan para pemotong. Para pemotong hanya melakukan pemotongan pada hari Jumat dan Sabtu, sehingga ternak babi yang sudah mencapai bobot potong (78-82 kg) pada hari sebelum pemotongan harus menunggu hari tersebut. Bobot potong erat kaitannya dengan PBBH dan lama hari mencapai bobot potong. Pertambahan bobot badan harian yang semakin tinggi akan lebih cepat dalam mencapai bobot siap potong. Hal ini terbukti bahwa perlakuan R1 dan R3 yang memiliki PBBH tinggi (Lampiran 2) lebih cepat mencapai bobot siap potong (Lampiran 1).
Hasil analisa statistik menunjukkan, bahwa pemberian Aclinop dalam ransum berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot karkas. Hasil uji beda memperlihatkan bobot karkas pada perlakuan taraf 1 kg Aclinop/ 100 kg ransum (R1) berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Ternak babi pada perlakuan taraf 1 kg Aclinop/ 100 kg ransum menghasilkan berat karkas yang tertinggi. Perbedaan berat karkas diduga disebabkan oleh adanya perbedaan besar kapala, isi rongga perut dan dada. Hasil ini didukung oleh pernyataan Soeparno (1998) yang menyatakan, bahwa bobot potong yang tinggi tidak selalu menghasilkan bobot karkas yang tinggi. Hal ini dikarenakan sering adanya perbedaan pada kepala, bulu, isi rongga dada dan perut.
Rataan hasil persentase karkas yang diperoleh dari berat karkas dibagi bobot potong dikalikan 100% dapat dilihat pada Tabel 6, dengan rataan umum penelitian adalah 74,05±0,72%. Hasil penelitian menunjukkan rataan persentase karkas dengan urutan dari tertinggi hingga terendah secara berurutan adalah perlakuan R1 (76,05±1,17%), R3 (73,71±0,35%), R2 (73,58±0,66%), dan R0 (72,86±0,72%). Hasil analisa statistik menunjukkan, bahwa perlakuan yang diberikan sangat nyata (P<0,01) berbeda mempengaruhi persentase karkas. Besarnya persentase karkas dipengaruhi oleh faktor tipe, ukuran dan penanganan ternak, lamanya pemuasaan, serta banyaknya kotoran yang dikeluarkan. Penelitian yang dilakukan oleh Whittemore dan Elsley (1976), menyatakan bahwa persentase karkas babi periode pengakhiran adalah 73% dari bobot hidup. Dari keseluruhan perlakuan yang diberikan hanya persentase karkas babi yang dihasilkan dengan ransum R0 yang tidak sesuai dengan nilai tersebut. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa zeolit
“Aclinop” yang ditambahkan dalam ransum dapat meningkatkan persentase karkas ternak babi. Hal ini sesuai dengan sifat zeolit “Aclinop” yang berperan dalam meningkatkan proses penyerpan zat-zat nutrien dari ransum.
Rataan persentase karkas tertinggi (76,05±1,17%) adalah ternak babi yang memperoleh perlakuan R1 (1 kg Aclinop/ 100 kg ransum) dan yang terendah (72,86±0,72%) adalah ternak babi yang tidak diberi Aclinop dalam ransumnya. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa persentase karkas tertinggi dihasilkan oleh berat karkas yang tinggi meskipun dengan bobot potong yang relatif rendah.
Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa dengan penambahan 1 kg Aclinop/ 100 kg ransum menghasilkan bobot dan persentase karkas yang tinggi dibandingkan tanpa pemberian Aclinop. Keadaan ini memberikan gambaran bahwa pemberian 1 kg Aclinop/ 100 kg ransum sudah cukup dalam meningkatkan bobot dan persentase karkas.
Pengaruh Perlakuan terhadap Panjang Karkas dan Tebal Lemak Punggung Rataan umum panjang karkas hasil penelitian adalah 71,67±0,64 cm. Tabel 7 memperlihatkan, bahwa pemberian Aclinop dengan taraf 4 kg/100 kg ransum (R3) menghasilkan karkas paling panjang 72,17±0,29 cm dan diikuti dengan perlakuan R1, R2, dan R0, masing-masing 71,83±0,76; 71,50±0,87, dan 71,17±1,76 cm (Tabel 7). Panjang karkas relatif sama walaupun kenyataannya karkas cenderung semakin panjang seiring dengan meningkatnya penggunaan Aclinop dalam ransum. Perbedaan panjang karkas pada kelompok ternak babi ini berhubungan dengan bobot badan yang berbeda saat dilakukan penelitian, penampilan yang berbeda pada kelompok ternak babi dan perbedaan dalam tingkat protein yang diberikan, sebagaimana Nold et al. (1997) menyatakan, bahwa karkas lebih panjang pada ternak babi yang diberi ransum berprotein lebih tinggi daripada yang berprotein rendah.
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian taraf Aclinop yang berbeda dalam ransum tidak berpengaruh nyata terhadap panjang karkas. Hasil penelitian ini didukung hasil penelitian Siagian (2003). Siagian (2003) melaporkan, bahwa pemberian zeolit dan tepung darah dalam ransum tidak berpengaruh nyata terhadap panjang karkas. Rataan panjang karkas dalam penelitian tersebut adalah
71,90±5,80 cm yang diperoleh dari ternak babi dengan rataan bobot badan 79,78±12,65 kg. Miller et al. (1991), nilai heritabilitas panjang karkas ternak babi adalah 40-60%. Panjang karkas diukur dari tulang rusuk pertama sampai dengan “aitch bone”, dan cara pengukuran panjang karkas dapat dilihat pada Lampiran 12. Tabel 7. Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Panjang Karkas dan Tebal Lemak
Punggung
Perlakuan Rataan
*
Panjang Karkas (cm)a Tebal Lemak Punggung (cm)b
R0 71,17±1,76 2,36±0,27 R1 71,83±0,76 2,72±0,10 R2 71,50±0,87 2,72±0,39 R3 72,17±0,29 2,93±0,20 Rataan Umum 71,67±0,64 2,68±0,24 a CV = 1,34%; bCV = 5,16%
Keterangan : R0= 0 kg Aclinop/ 100 kg ransum R1 = 1 kg Aclinop/100 kg ransum R2= 3 kg Aclinop/ 100 kg ransum R3= 4 kg Aclinop/ 100 kg ransum
* = dikoreksi terhadap bobot awal (20,2 kg) dan lama pemeliharaan (162,42 hari) Nilai rataan tebal lemak punggung (TLP) akibat pengaruh taraf penggunaan Aclinop dalam ransum diperlihatkan pada Tabel 7. Tebal lemak punggung tiap ekor babi diukur pada karkas yang dilakukan pada tiga lokasi pengukuran yaitu diatas tulang rusuk pertama, terakhir dan diatas persendian tulang paha seperti diperlihatkan pada Lampiran 13 (Blakely dan David, 1982).
Nilai rataan umum TLP dari ternak penelitian adalah 2,68±0,24 cm, dengan urutan dari yang paling tipis hingga paling tebal adalah R0 (2,36±0,27 cm), R1 (2,72±0,10 cm), R2 (2,72±0,39 cm), dan R3 (2,93±0,20 cm). Hasil analisa statistik menunjukkan, bahwa taraf Aclinop dalam ransum tidak memberi pengaruh yang nyata terhadap TLP. Hasil penelitian ini didukung dengan hasil penelitian Siagian (2003) yang melaporkan, bahwa pengaruh taraf zeolit dan tepung darah dan interaksi keduanya dalam ransum tidak memberi pengaruh yang nyata terhadap TLP. Berdasarkan analisis regresi diperoleh hubungan fungsional antara bobot awal/BA (kg) dan lama pemeliharaan/LP (hari) dengan rataan TLP (cm), dengan persamaan regresi sebagai berikut: TLP = 5,495-0,062 BA-0,010 LP dengan koefisien determinasi (R2=0,944). Persamaan regresi ini menunjukkan bahwa setiap penurunan
satu kg bobot awal akan mengurangi TLP 0,062 cm dan menunjukkan juga bahwa setiap pengurangan satu hari pemeliharaan akan menurunkan TLP 0,010 cm.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternak yang mempunyai TLP yang tipis (R0) ternyata karkasnya tidak lebih panjang. Tebal lemak punggung juga berkaitan dengan bobot potong dan berat karkas. Mili et al. (1999 ) menyatakan, bahwa ternak dengan bobot potong yang minimum akan menghasilkan berat karkas dan tebal lemak punggung yang lebih rendah jika dibandingkan dengan ternak yang memiliki bobot potong optimum.
Menurut Whittemore (1980), tebal lemak punggung merupakan indikator yang baik untuk menentukan kualitas karkas ternak babi dan erat kaitannya dengan persentase daging yang dihasilkan dimana kedua hal ini merupakan faktor penentu kualitas karkas dan standar babi siap potong. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa terdapat hubungan positif antara bobot karkas, TLP dan panjang karkas. Babi dengan bobot karkas tertinggi menghasilkan panjang karkas relatif tinggi dan ketebalan lemak yang lebih dalam. Hasil ini berbeda dengan yang dilaporkan Whittemore (1980) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan negatif antara TLP dengan panjang karkas. Hal ini diduga akibat adanya perbedaan lama pemeliharaan hingga mencapai bobot potong pada penelitian ini.
Pengaruh Perlakuan terhadap Loin Eye Area
Loin eye area (LEA) atau disebut juga urat daging mata rusuk (udamaru) atau
loin merupakan salah satu indikator kualitas karkas yang sangat penting karena merupakan petunjuk untuk persentase daging. Semakin luas udamaru, persentase daging biasanya meningkat dan grade karkas semakin baik. Loin eye area diukur pada penampang otot longissimus dorsiii yang terletak diantara tulang rusuk ke-10 dan ke-11 dengan cara melukiskan luas penampangnya pada plastik tembus pandang, luasan tersebut kemudian diukur dengan menggunakan planimeter. Pengaruh taraf zeolit “Aclinop” dalam ransum terhadap LEA diperlihatkan pada Tabel 8.
Hasil analisa statistik menunjukkan, bahwa taraf Aclinop dalam ransum tidak memberi pengaruh nyata terhadap LEA. Hasil penelitian LEA memperlihatkan rataan umum 35,99±1,89 cm2 dengan urutan dari yang terluas hingga terkecil adalah perlakuan R1 (37,99±1,35 cm2), R0 (35,56±1,15 cm2), R2 (35,50±3,01 cm2), dan R3
(34,91±2,03 cm2). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa LEA pada perlakuan R0 masih lebih luas daripada perlakuan R2 dan R3, diduga terjadi mineralisasi pada proses metabolisme yang menyebabkan terjadinya peningkatan absorbsi zat nutrient oleh zeolit sehingga tidak dapat secara optimal diserap didalam saluran pencernaan pada taraf penambahan 3 dan 4 kg Aclinop/ 100 kg ransum.
Tabel 8. Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Loin Eye Area
Perlakuan Rataan (cm2)* R0 35,56±1,15 R1 37,99±1,35 R2 35,50±3,01 R3 34,91±2,03 Rataan Umum 35,99±1,89 CV = 4.74%
Keterangan : R0= 0 kg Aclinop/ 100 kg ransum R1= 1 kg Aclinop/ 100 kg ransum R2= 3 kg Aclinop/ 100 kg ransum R3= 4 kg Aclinop/ 100 kg ransum
* = dikoreksi terhadap bobot awal (20,2 kg) dan lama pemeliharaan (162,42 hari) Hasil penelitian ini menunjukkan adanya kenaikan LEA hanya pada penambahan taraf Aclinop 1 kg/ 100 kg ransum (R1). Taraf Aclinop yang semakin tinggi yaitu 3 dan 4 kg Aclinop/ 100 kg ransum memperlihatkan rataan luasan LEA yang semakin kecil. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Siagian (2003) yang melaporkan, bahwa dengan semakin meningkatnya taraf penggunaan zeolit dalam ransum menghasilkan LEA yang semakin luas.
Ternak babi dengan perlakuan 1 kg Aclinop/ 100 kg ransum memiliki LEA yang tertinggi diduga karena tebal lemak punggung yang relatif tipis, protein ransum yang relatif tinggi, bobot karkas yang lebih tinggi dan status kesehatan yang lebih baik yang dapat dilihat dari penampilan ternak babi yang lebih baik daripada perlakuan lainnya. Christian et al. (1980) menyatakan, bahwa tingkat protein ransum yang tinggi menghasilkan LEA yang lebih luas. Soeparno (1998) menambahkan, bahwa selain bobot potong dan tingkat protein ransum, faktor genetis sangat mempengaruhi luas LEA. Hal ini diketahui dari nilai heritabilitas LEA ternak babi yang tergolong cukup tinggi, yaitu 48%.