Temperatur dan kelembaban diperhitungkan sebagai faktor penting yang mempengaruhi keadaan mencit selama penelitian. Hasil pengukuran di lokasi penelitian menunjukkan temperatur di dalam kandang sebesar 30,12°C dengan kelembaban sebesar 60%. Berdasarkan hasil pengukuran tersebut, dapat dinyatakan bahwa temperatur lokasi penelitian adalah cukup ekstrim dan kemungkinan dapat mempengaruhi parameter-parameter penelitian yang diamati. Inglis (1980) menyatakan bahwa temperatur dan kelembaban relatif lingkungan yang dibutuhkan atau sesuai untuk mencit secara berturut-turut berkisar antara 24-25°C dan 45-55%.
Malole dan Pramono (1989) juga menyatakan bahwa temperatur lingkungan yang ideal untuk mencit adalah 21-29°C dan kelembaban relatif 30-70%.
Konsumsi Ransum dan Zat Makanan Mencit
Pengaruh pemberian ekstrak metanol dan residu BBJP terhadap konsumsi ransum dan zat makanan pada mencit selama penelitian tahap I disajikan pada Tabel 10. Rataan konsumsi bahan kering (BK) ransum mencit selama penelitian tahap I (awal-2 minggu) berkisar antara 2,06-3,02 g/ekor/hari yang setara dengan 10% bobot badan mencit. Nilai rataan konsumsi yang diperoleh selama penelitian tahap I sebanding dengan nilai konsumsi menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988) yang besarnya 3-5 g/ekor/hari. Konsumsi BK ransum mencit perlakuan yang mengandung 10% residu BBJP dalam ransum (R1-10) dan 5% ekstrak metanol BBJP dalam air minum (E1-5) lebih rendah 14,61% dan 31,56% dibandingkan dengan kontrol. Hal ini disebabkan oleh keberadaan senyawa curcin dan phorbolester dengan konsentrasi tinggi yang terdapat dalam residu BBJP dan ekstrak metanol yang digunakan. Pada mencit yang mendapat perlakuan 20% residu BBJP dalam ransum (R1-20) menunjukkan nilai konsumsi yang sama dengan perlakuan kontrol (K1).
Tabel 10. Rataan Konsumsi Ransum dan Zat Makanan Mencit Selama BBJP hasil ekstraksi metanol, E1-5 = K1 + 5% ekstrak metanol BBJP dalam air minum, E1-5C = K1 + 5% ekstrak metanol BBJP di cekok. *) Kematian 100% pada hari pertama.
Mencit pada perlakuan E1-5C langsung mati setelah dicekok sehingga tidak memiliki nilai konsumsi ransum. Pada proses pemberian 5% dosis ekstrak metanol BBJP yang dicekok (E1-5C) melalui mulut hewan, setelah beberapa jam pencekokan di hari pertama penelitian, mencit telah menunjukkan gejala-gejala keracunan yang menuju pada kematian. Gejala-gejala sebagai kematian adalah tubuh menjadi lesu dan lemas, tidak agresif, gerakannya menjadi lambat hingga tidak mampu untuk menggerakan tubuhnya.
Pemberian ransum yang mengandung residu BBJP (perlakuan 10 dan R1-20) menyebabkan penurunan konsumsi protein kasar bila dibandingkan dengan konsumsi protein kasar perlakuan K1 (ransum tanpa residu BBJP). Penurunan konsumsi protein kasar juga terjadi pada mencit dengan perlakuan E1-5 (K1 + 5%
ekstrak metanol BBJP dalam air minum) dengan persentase penurunan sebesar 25,37% dibandingkan dengan kontrol. Penurunan konsumsi protein kasar pada perlakuan R1-10 dan R1-20 disebabkan oleh penurunan konsumsi bahan kering dan ransum yang menjadi tidak palatabel bagi mencit. Semakin rendah ransum yang dikonsumsi maka semakin rendah protein yang dapat diserap oleh tubuh. Hal ini dikarenakan racun phorbolester dan curcin. Menurut Lin et al. (2003), curcin atau
lectin dapat mengikat glikoprotein pada permukaan sel yang menyebabkan sel menjadi mati. Mekanisme dari curcin atau lectin berhubungan dengan aktivitas N-glycosidase yang kemudian mempengaruhi metabolisme. Curcin sangat beracun bagi manusia dan ternak karena dapat menghambat sintesis protein di dalam ribosom.
Antitripsin juga merupakan antinutrisi yang terdapat dalam bungkil biji jarak yang dapat menghambat pemanfaatan protein ransum dengan cara menghambat kerja enzim tripsin dalam menghidrolisis protein yang diperlukan untuk tumbuh (Andajani dan Susanto, 1986).
Nilai rataan konsumsi lemak kasar ransum pada perlakuan yang mengandung residu BBJP serta perlakuan pemberian ekstrak metanol berada pada kisaran yang mendekati nilai rataan konsumsi lemak kasar ransum perlakuan kontrol, yaitu 0,05-0,07 g/e/hari. Kisaran konsumsi lemak kasar yang rendah pada semua perlakuan disebabkan oleh rendahnya lemak ransum. Kandungan lemak dalam ransum-ransum perlakuan berkisar antara 1,72-1,97%, sedangkan kebutuhan lemak mencit menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988) yaitu 10-12%.
Nilai rataan konsumsi serat kasar tertinggi ditunjukkan oleh mencit dengan perlakuan 20% residu BBJP dalam ransum (R1-20) dengan persentase penurunan sebesar 79,16% dibandingkan dengan perlakuan ransum kontrol (K1). Penggunaan 20% residu BBJP dalam ransum secara langsung merubah jumlah total serat kasar dalam ransum R1-20 sehingga mempengaruhi jumlah serat kasar yang dikonsumsi.
Nilai rataan konsumsi BETN mengalami penurunan pada ransum yang mengandung residu BBJP, yakni pada perlakuan R1-10 (1,49 g/e/hari) dan perlakuan R1-20 (1,64 g/e/hari) bila dibandingkan dengan perlakuan K1 (2,16 g/e/hari) dan perlakuan E1-5 (1,59 g/e/hari). Konsumsi BETN ransum R1-10 yang rendah (31,01% lebih rendah dibandingkan perlakuan kontrol) diduga disebabkan oleh rendahnya konsumsi bahan kering, abu, protein kasar, lemak kasar, dan serat kasar dari ransum.
Berdasarkan Tabel 10 terlihat bahwa konsumsi energi ransum perlakuan mengalami penurunan pada ransum yang mengandung residu BBJP dan juga perlakuan pemberian ekstrak metanol dalam air minum. Nilai rataan konsumsi energi ransum terendah terjadi pada perlakuan R1-10 dengan persentase penurunan sebesar 31,65% dibandingkan kontrol. Rendahnya konsumsi energi pada ransum perlakuan
R1-10 diduga dikarenakan rendahnya kandungan energi dalam ransum (3.599 kkal/kg) dibandingkan kandungan energi ransum perlakuan lainnya serta rendahnya nafsu makan mencit terhadap ransum tersebut. Jadi, semua penurunan konsumsi nutrien yang terjadi pada semua perlakuan pada tahap I penelitian ini disebabkan oleh penurunan konsumsi bahan kering dan kualitas ransum yang rendah serta ransum yang tidak palatabel bagi mencit.
Tabel 10 juga menunjukkan bahwa perlakuan E1-5C mengalami kematian secara cepat pada hari pertama penelitian yang disebabkan oleh tingginya senyawa racun phorbolester yang terdapat di dalam ekstrak bila dibandingkan dengan produk residunya. Senyawa phorbolester mampu berikatan dengan lemak sehingga melalui proses ekstraksi dengan menggunakan pelarut metanol menghasilkan racun yang terkonsentrasi tinggi dalam ekstrak. Menurut Asaoka et al. (1992) phorbolester diketahui dapat mengaktivasi protein kinase C (PKC) yang meniru aktivitas diacyl glycerol (DAG). Phorbolester dapat meningkatkan afinitas PKC Ca2+ secara dramatis dan karena phorbolester bersifat stabil dan tidak terdegradasi secara cepat setelah menstimulasi PKC sehingga menyebabkan aktivasi yang mengarah pada respon fisiologis seperti poliferasi dan diferensiasi sel yang tidak terkontrol. Menurut Becker dan Makkar (1998) phorbolester menempel pada bagian reseptor dan mengaktivasi PKC sehingga dapat merusak sel dan jaringan. Selain sebagai cocarsinogen, phorbolester dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan morfologi sel yang berdampak pada kerusakan membran sel sehingga menyebabkan sel menjadi mati.
Rataan konsumsi zat makanan pada mencit selama penelitian tahap II ditunjukkan pada Tabel 11. Pada Tabel ini terlihat semakin menurunnya konsumsi zat makanan (bahan kering ransum, protein kasar, lemak kasar, serat kasar, BETN dan energi ransum) yang semakin drastis dibandingkan dengan penelitian tahap I.
Pada tahap II ini konsumsi bahan kering ransum oleh mencit berkisar antara 1,79-2,32 g/ekor/hari yang setara dengan 10% bobot badan mencit. Nilai rataan konsumsi bahan kering yang diperoleh pada tahap II lebih rendah dibandingkan dengan nilai rataan konsumsi bahan kering ransum pada penelitian tahap I. Nilai rataan konsumsi bahan kering ransum yang diperoleh pada tahap II jelas mempengaruhi konsumsi zat makanan lainnya.
Tabel 11. Rataan Konsumsi Ransum dan Zat Makanan Mencit Selama
Keterangan : K2 = Ransum kontrol (tanpa bungkil biji jarak pagar), R2-10 = K2 mengandung 10% residu BBJP hasil ekstraksi metanol, R2-20 = K2 mengandung 20% residu BBJP hasil ekstraksi metanol, E2-10
= K2 + 10% ekstrak metanol BBJP dalam air minum.
Nilai rataan konsumsi bahan kering terendah pada tahap II ini adalah perlakuan E2-10 (K2 + 10% ekstrak metanol BBJP dalam air minum) sebesar 1,79 g/ekor/hari. Hal ini disebabkan oleh pemberian ekstrak dengan dosis yang ditingkatkan dalam air minum menyebabkan konsumsi ransum yang rendah.
Konsumsi bahan kering ransum yang rendah disebabkan oleh keberadaan senyawa phorbolester dengan konsentrasi tinggi yang bersifat toksik dalam ekstrak metanol yang diberikan. Selain itu, pada minuman mencit ditemukan bau dan rasa yang tidak enak yang ditimbulkan, sehingga menyebabkan mencit tidak nafsu makan dan minum. Hal ini didukung oleh pernyataan Smith dan Mangkoewidjojo (1988) yang menyatakan bahwa senyawa yang diberikan dengan cara dicampur dalam makanan atau minuman jika berbau atau menyebabkan rasa yang tidak enak dapat menyebabkan konsumsi ransum dan minuman tersebut berkurang.
Penurunan konsumsi zat makanan dalam ransum oleh mencit di tahap II dibandingkan penelitian tahap I, juga dipengaruhi oleh lamanya waktu pemberian residu BBJP akibat tahap I dan ekstrak metanol pada mencit di setiap perlakuan.
Pada Tabel 11 terlihat bahwa terjadi penurunan yang semakin drastis pada konsumsi lemak kasar dan serat kasar yang ditunjukkan oleh semua perlakuan. Konsumsi
energi yang ditunjukkan tiap-tiap perlakuan juga mengalami penurunan. Dengan demikian semakin lama waktu pemberian, semakin banyak zat racun yaitu curcin dan phorbolester yang akan terakumulasi di dalam tubuh. Keberadaan curcin dan phorbolester dalam tubuh memiliki aktivitas yang dapat mengganggu proses pencernaan dan mengganggu proses penyerapan protein dalam usus, serta menurunkan nilai nutrisi ransum. Adam dan Magzoub (1975) juga menyatakan bahwa keberadaan phorbolester dalam bungkil biji jarak pagar mampu menyebabkan penurunan level glukosa dan peningkatan konsentrasi arginase, glutamate dan oxaloacetate transaminase dalam serum darah. Selain itu, hal tersebut mengurangi konsumsi air pada ternak yang menyebabkan dehidrasi dan terjadi diare.
Konsumsi Phorbolester dan Curcin
Phorbolester dan curcin merupakan senyawa bersifat racun yang terdapat dalam bungkil biji jarak pagar. Penggunaan bungkil ini dalam ransum dapat menyebabkan kematian bagi ternak yang mengkonsumsi. Berikut ini adalah asumsi nilai asupan phorbolester dan curcin yang dikonsumsi oleh mencit terhadap ransum yang diberi residu bungkil biji jarak pagar hasil ekstraksi metanol. Tabel 12 dan Tabel 13 menunjukkan konsumsi harian phorbolester dan curcin dalam ransum pada penelitian tahap I dan II.
Tabel di bawah menunjukkan nilai dugaan rataan harian phorbolester dan curcin yang dikonsumsi oleh mencit 10 lebih rendah dibandingkan dengan R1-20. Hal ini membuktikan bahwa semakin tinggi penggunaan dosis residu bungkil biji jarak pagar hasil ekstraksi metanol, maka semakin tinggi pula mencit mengkonsumsi phorbolester dan curcin. Dugaan rataan konsumsi harian phorbolester oleh R1-10 sebesar 0,34 mg/ekor/hari dan R1-20 sebesar 0,80 mg/ekor/hari tidak dapat ditoleransi oleh ternak karena menurut Aregheore et al. (2003) kandungan phorbolester yang aman dalam ransum terdapat pada level 0,014 mg/g.
Tabel 12. Rataan Harian Konsumsi Phorbolester dan Curcin dalam Ransum
--ekor-- ---g--- --mg/ekor/hari-- ---µg/ekor/hari-
R1-10 4 140 0,34 ± 0,11 115,53 ± 38,09
R1-20 5 280 0,80 ± 0,28 271,44 ± 95,61
Keterangan : n = jumlah mencit. R1-10 = K1 (Ransum Kontrol) mengandung 10% residu bungkil biji jarak pagar hasil ekstraksi metanol, R1-20 = K1 (Ransum Kontrol) mengandung 20% residu bungkil biji jarak pagar hasil ekstraksi metanol.
Konsumsi Phorbolester yang tinggi oleh mencit menyebabkan penurunan konsumsi ransum yang berdampak pada gangguan metabolisme dan selanjutnya mengakibatkan penurunan bobot badan mencit. Aregheore et al. (2003) juga menyatakan bahwa tikus yang diberi ransum yang mengandung 16% bungkil biji jarak pagar yang didetoksifikasi memiliki kosentrasi phorbolester sebesar 0,13 mg/g menyebabkan penurunan konsumsi ransum dan penurunan bobot badan hewan.
Meskipun nilai dugaan konsumsi phorbolester pada penelitian tahap I ini berada pada level di atas batas yang dapat ditoleransi oleh ternak, namun belum menyebabkan kematian.
Dugaan rataan konsumsi curcin harian pada Tabel 12 berkisar pada level 115,53-271,44 µg/ekor/hari. Level tertinggi konsumsi curcin ditunjukkan oleh mencit dengan perlakuan R1-20. Semakin tinggi dosis yang diberikan dalam ransum maka semakin tinggi pula asupan curcin oleh mencit perlakuan.
Tabel 13. Rataan Harian Konsumsi Phorbolester dan Curcin dalam Ransum Penelitian Tahap II
Keterangan : n = jumlah mencit. R2-10 = K2 (Ransum Kontrol) mengandung 10% residu bungkil biji jarak pagar hasil ekstraksi metanol, R2-20 = K2 (Ransum Kontrol) mengandung 20% residu bungkil biji jarak pagar hasil ekstraksi metanol.
Perlakuan n
---ekor-- ---g--- --mg/ekor/hari-- ---µg/ekor/hari---
R2-10 4 140 0,30 ± 0,19 104,58 ± 58,32
R2-20 1 280 0,55 ± 0,49 186,57 ± 166,28
Penelitian tahap II (Tabel 13) menunjukkan dugaan konsumsi harian phorbolester pada mencit perlakuan R2-10 dan R2-20 semakin rendah dibandingkan pada penelitian tahap I. Lamanya waktu perlakuan merupakan faktor yang mempengaruhi jumlah konsumsi harian phorbolester. Semakin lama waktu perlakuan, maka semakin terakumulasi phorbolester yang dikonsumsi menyebabkan ransum yang dikonsumsi semakin rendah. Demikian halnya juga dengan dugaan konsumsi harian curcin yang semakin menurun dibandingkan dengan tahap I.
Pada penelitian tahap II ini tidak terjadi kematian pada mencit perlakuan R2-10 (ransum yang mengandung R2-10% residu bungkil biji jarak pagar hasil ekstraksi metanol). Meskipun nilai dugaan konsumsi harian phorbolester-nya berada pada level yang tidak dapat ditoleransi oleh ternak yaitu 0,014 mg/g dalam ransum (Aregheore et al., 2003).
Nilai dugaan konsumsi harian curcin pada perlakuan R2-10 yang besarnya 104,58 µg/ekor/hari ternyata aman untuk dikonsumsi mencit selama empat minggu.
Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Hidayah (2007) menunjukkan pemberian 10% bungkil biji jarak pagar segar dalam ransum pada ayam broiler menyebabkan LD50 (dosis yang menyebabkan 50% dari hewan percobaan mati) pada hari ke-7 dengan asupan curcin sebesar 1,72 mg/ekor. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan metanol dalam mengekstraksi bungkil biji jarak pagar mampu menurunkan level curcin dan phorbolester, sehingga asupan racunnya pun lebih rendah.
Perlakuan R2-20 pada tahap II menunjukkan kematian pada level dugaan konsumsi phorbolester sebesar 0,55 mg/ekor/hari dan konsumsi harian curcin sebesar 186,57 µg/ekor/hari pada hari ke-6 penelitian. Hidayah (2007) melaporkan LD50 pada ayam broiler yang diberi 15% bungkil biji jarak pagar dalam ransum memiliki rataan asupan curcin sebesar 0,42 mg/ekor pada hari ke-7. Nilai tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan perlakuan R2-20. Hal ini berkaitan dengan semakin tinggi dosis yang digunakan serta semakin lama waktu pemberian menyebabkan semakin banyak racun yang terakumulasi di dalam tubuh mencit perlakuan sehingga menyebabkan kematian.
Bobot Badan Mencit
Perubahan bobot badan merupakan salah satu cara dalam mengukur pertumbuhan ternak. Semakin meningkatnya konsumsi ransum maka diharapkan bobot badan yang dicapai juga akan meningkat. Rataan bobot badan mencit penelitian selama tahap I disajikan pada Tabel 14.
Pada perlakuan ransum kontrol menunjukkan pertambahan bobot badan sebesar 1,56% diakhir penelitian tahap I. Pada perlakuan ransum yang mengandung 10% residu BBJP dan 20% residu BBJP, serta penambahan 10% ekstrak metanol BBJP dalam air minum terjadi penurunan bobot badan dengan masing-masing nilai penurunan persentase sebesar 0,69%, 2,22%, dan 1,79%. Penurunan bobot badan mencit pada perlakuan yang diberi residu BBJP hasil ekstraksi metanol menunjukkan pada dosis 20% lebih rendah dibandingkan pada dosis 10%. Hal ini membuktikan bahwa di dalam residu BBJP ekstraksi metanol masih mengandung racun curcin dan phorbolester serta faktor antinutrisi berupa antitripsin yang menyebabkan konsumsi ransum menurun sehingga pada akhirnya menghambat pertumbuhan. Antitripsin merupakan antinutrisi yang mempunyai sifat menghambat kerja enzim tripsin dalam menghidrolisa protein yang diperlukan untuk tumbuh (Andajani dan Susanto, 1986).
Oleh karena itu, semakin tinggi penggunaan dosis residu BBJP hasil ekstraksi metanol dalam ransum semakin rendah nilai nutrisi ransum yang dapat dimanfaatkan mencit untuk pertumbuhan.
Tabel 14. Rataan Bobot Badan Mencit Selama Penelitian Tahap I Perlakuan BBJP hasil ekstraksi metanol, R1-20= K1 mengandung 20% residu BBJP hasil ekstraksi methanol, E1-5 = K1 + 5% ekstrak metanol BBJP dalam air minum, E1-5C = K1 + 5% ekstrak metanol BBJP dicekok.
Penurunan bobot badan mencit pada penelitian tahap I tidak sampai menyebabkan kematian di semua perlakuan, kecuali pada perlakuan 5% ekstrak metanol BBJP dicekok (E1-5C) yang mengalami kematian sangat cepat segera setelah pemberian dosis pada hari pertama. Artinya bahwa dalam waktu dua minggu dosis ekstrak metanol sebesar 5% yang diaplikasikan pada ternak dengan cara dicampurkan dalam air minum maupun residu BBJP yang digunakan dalam ransum dengan dosis 10% (R1-10) dan 20% (R1-20) belum mengakibatkan kematian yang fatal.
Penelitian pada tahap II menunjukkan penurunan bobot badan yang drastis untuk semua perlakuan. Nilai rataan bobot badan mencit selama tahap II ditunjukkan pada Tabel 15.
Tabel 15. Rataan Bobot Badan Mencit Selama Penelitian Tahap II Perlakuan BBJP hasil ekstraksi metanol, R2-20 =K2 mengandung 20% residu BBJP hasil ekstraksi metanol, E2-10 = K2 + 10% ekstrak metanol BBJP dalam air minum.
Persentase penurunan bobot badan mencit tahap II masing-masing adalah sebesar 3,64% (R2-10), 3,28% (R2-20), dan sebesar 5,08% (E2-10). Nilai persentase penurunan bobot badan pada penelitian tahap II lebih besar dibandingkan penelitian tahap I. Berdasarkan persentase penurunan bobot badan tersebut, diketahui bahwa penurunan bobot badan yang terbesar terjadi pada perlakuan penambahan 10%
ekstrak metanol BBJP dalam air minum (E2-10). Lamanya waktu pemberian dan tingginya dosis toksik diasumsikan sebagai salah satu penyebab penurunan bobot badan. Semakin lama pemberian ekstrak metanol dan residu BBJP yang diberikan dengan dosis yang berbeda-beda maka kandungan phorbolester dan curcin yang diasumsikan sebagai senyawa yang bersifat racun toksik baik dalam ransum penelitian maupun yang diberikan lewat air minum makin meningkat dalam tubuh
mencit. Sehingga hal ini sangat berpengaruh pada proses pertumbuhan diantaranya terganggunya proses fisiologis yang merupakan efek dari aktivitas zat racun tersebut.
Mortalitas Mencit
Pemberian ransum yang mengandung residu BBJP hasil ekstraksi metanol dan ekstrak metanol mempengaruhi mortalitas mencit. Selain itu juga cara penentuan dan media pemberian dosis merupakan faktor yang mempengaruhi nilai pengujian dosis kematian. Persentase mortalitas mencit selama penelitian tahap I dan II disajikan pada Tabel 16 dan Tabel 17.
Tabel 16. Persentase Mortalitas Mencit Selama Penelitian Tahap I
Perlakuan Mortalitas n Hari ke-
---%--- ---ekor---
K1 0 5 -
R1-10 0 4 -
R1-20 0 5 -
E1-5 0 5 -
E1-5C 100 5 1
Keterangan : n = jumlah mencit; K1 = Ransum kontrol (tanpa BBJP), R1-10 = K1 mengandung 10% residu BBJP hasil ekstraksi metanol, R1-20 = K1 mengandung 20% residu BBJP hasil ekstraksi metanol, E1-5 = K1 + 5% ekstrak metanol BBJP dalam air minum, E1-5C = K1 + 5% ekstrak metanol BBJP dicekok.
Penelitian tahap I menunjukkan bahwa pemberian ransum kontrol (K1), 10%
residu BBJP dan 20% residu BBJP dalam ransum, serta penambahan 5% ekstrak metanol BBJP dalam air minum belum menyebabkan kematian. Mortalitas terjadi pada pemberian 5% ekstrak metanol BBJP secara dicekok (E1-5C). Kematian terjadi pada hari ke-1 sebesar 100%, 3-6 jam setelah proses pencekokan. Sebelum terjadi kematian, dalam beberapa menit setelah pencekokan terlihat gejala-gejala seperti lemas, diam, tidak agresif, daya gerakannya menjadi lambat.
Pada perlakuan E1-5C dapat diidentifikasikan bahwa ekstrak yang diberikan secara dicekok lebih cepat didistribusikan ke seluruh tubuh setelah terjadi proses penyerapan di saluran pencernaan, sehingga mempengaruhi kecepatan metabolisme di dalam tubuh (Mutschler, 1991) apabila dibandingkan dengan pemberian dalam ransum dan air minum. Tingginya angka mortalitas yang terjadi pada perlakuan
E1-5C disebabkan tingginya racun phorbolester yang terdapat dalam ekstrak metanol BBJP. Phorbolester terdapat pada minyak (lemak) yang masih tersisa di dalam bungkil yang dapat diambil sempurna dengan cara ekstraksi menggunakan pelarut heksan (Makkar dan Becker, 1997). Efek toksikologi dari minyak biji jarak menurut Gandhi et al. (1995) dengan level enam ml/kg bobot badan pada tikus menyebabkan manifestasi toksikologi berupa diare, peradangan pada gastrointestinal dan iritasi yang disertai nekrosis pada kulit.
Hasil uji patologi dari sampel organ mencit ditemukan degenerasi hidropis pada seluruh sel organ hati, terjadi pembendungan pada organ jantung, serta ditemukannya extramedulary hematopoiesis (pembentukan sel-sel darah meningkat) yang terjadi pada organ limpa (Laboratorium Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, 2008).
Pada Tabel 17 (penelitian tahap II) menunjukkan bahwa mortalitas terjadi pada perlakuan kontrol (K2) dengan persentase mortalitas sebesar 60% pada hari ke-12 penelitian. Kematian yang terjadi pada hewan kontrol disebabkan oleh keelakaan yang terjadi pada saat penelitian berlangsung.
Tabel 17. Persentase Mortalitas Mencit Selama Penelitian Tahap II
Keterangan : * : n = jumlah mencit; K2 = Ransum kontrol (tanpa BBJP), R2-10 = K2 mengandung 10% residu BBJP hasil ekstraksi metanol, R2-20= K2 mengandung 20% residu BBJP hasil ekstraksi metanol, E2-10 = K2 + 10% ekstrak metanol BBJP dalam air minum.
Mortalitas pada mencit juga terjadi pada perlakuan 20% residu BBJP dalam ransum (R2-20) dan perlakuan pemberian 10% ekstrak metanol BBJP dalam air minum (E2-10). Angka mortalitas pada perlakuan R2-20 sebesar 80% terjadi pada pengamatan hari ke-6 (pada minggu ke2-4 pengamatan). Pada residu BBJP hasil ekstraksi metanol diduga masih mengandung senyawa yang bersifat racun yakni curcin dengan konsentrasi tinggi yang menurut Makkar dan Becker (1997) tidak dapat diekstraksi menggunakan pelarut organik atau tidak ikut terekstraksi.
Perlakuan Mortalitas n Hari ke-
Aregheore et al. (2003) berpendapat bahwa curcin dapat diinaktifkan dengan menggunakan perlakuan pemanasan pada suhu 1210C selama 30 menit. Racun ini mengakibatkan kematian yang sebelumnya ditandai dengan gejala-gejala seperti lesu, kehilangan nafsu makan, konsumsi ransum semakin rendah, bobot badan menurun, dan terjadi kerontokan bulu. Hasil penelitian Fachrudin (2007) juga menunjukkan bahwa penggunaan BBJP segar pada dosis 15% dapat menyebabkan mencit mengalami gejala-gejala seperti lesu, bobot badan menurun drastis, konsumsi ransum menurun, bulu tampak kusam, terdapat cairan kuning kecoklatan di sekitar anus, anus menjadi bengkak dan berwarna merah, serta feses cair dan berakhir dengan kematian.
Hasil uji patologi yang dilakukan pada organ mencit perlakuan R2-20 ditemukan keadaan nekrosis dan infiltrasi sel-sel limfosit secara multifokus pada organ hati, terjadinya degenerasi epitel tubuli dan pembendungan di organ ginjal, serta degenerasi ringan serabut otot pada jantung mencit. Hasil yang berbeda didapatkan dari penggunaan dosis 10% residu BBJP dalam ransum masih bisa dikategorikan aman sampai empat minggu. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya mortalitas yang terjadi pada perlakuan hingga akhir penelitian (minggu ke-4).
Mortalitas juga terjadi pada perlakuan E2-10 (K2 + 10% ekstrak metanol BBJP dalam air minum) sebesar 80% pada pengamatan hari ke-9 (Minggu Ke-2–4 penelitian). Berbeda dengan perlakuan R2-20, perlakuan E2-10 disebabkan oleh konsentrasi phorbolester dalam ekstrak yang tinggi di dalam air minum. Hal ini mengakibatkan kematian yang ditandai dengan gejala-gejala seperti lesu, kehilangan nafsu makan, konsumsi ransum semakin rendah, bobot badan menurun, terjadi kerontokan bulu, terdapat cairan berwana kuning disekitar anus, dan feses cair (diare). Hasil pemeriksaan histopatologi pada perlakuan E2-10 menunjukkan bagian organ paru-paru terjadi pneumonia interstisialis, hampir setengah alveoli tidak berfungsi, pada jantung terjadi pembendungan dan edema, sedangkan pada hati sinusoid meluas, pembendungan, dan degenerasi ringan sel-sel hati (Laboratorium Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, 2008).