• Tidak ada hasil yang ditemukan

Suhu ruangan selama penyimpanan tertinggi ialah 280C dan terendah 26,60C sedangkan untuk kelembaban tertinggi ialah 87% dan terendah 81%. Rataan suhu dan kelembaban ruangan penyimpanan ditunjukkan pada Tabel 3.

Tabel 3. Rataan Suhu dan Kelembaban Ruangan selama Penyimpanan (September – Desember 2008)

Data suhu tempat penyimpanan yang diperoleh (Tabel 3) merupakan suhu aman untuk penyimpanan bahan, hal ini sesuai dengan Syarief dan Halid (1993) yang menyatakan bahwa suhu batas aman penyimpanan berkisar antara 27-300C. Kelembaban yang terjadi selama penyimpanan berkisar antara 81-87 %, kelembaban ini lebih tinggi dari yang disarankan Syarief dan Halid (1993) yang menyatakan bahwa kelembaban optimum untuk penyimpanan adalah sebesar 70%. Suhu dan kelembaban sangat penting dalam penyimpanan bahan pakan. Suhu dan kelembaban akan mempengaruhi kadar air suatu bahan sehingga memungkinkan tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme perusak serta mempengaruhi tumbuhnya serangga dalam komoditi yang disimpan. Selama penyimpanan suhu dan kelembaban ruang berfluktuatif untuk setiap minggunya. Nilai suhu dan kelembaban saat penyimpanan sesuai dengan suhu dan kelembaban kota Bogor pada setiap bulannya 260C dengan suhu tertinggi 300C dengan RH sekitar 70% (BMG, 2009). Kelembaban yang tinggi saat penyimpanan pada minggu ke-2 menyebabkan tumbuhnya serangga seperti kutu dalam jagung dan dedak padi yang disimpan dalam gudang.

Kadar Air

Kadar air dedak selama penyimpanan berkisar antara 11,26– 18,51% (Tabel 4). Minggu pertama penyimpanan merupakan nilai kadar air dedak terendah dan minggu ke delapan merupakan nilai kadar air tertinggi untuk semua perlakuan yang diberikan. Penambahan bahan pencegah kerusakan dan lama penyimpanan nyata

Minggu ke-

1 2 3 4 5 6 7 8 Rataan

Suhu (0) 27,67 28,00 27,67 28,00 26,26 27,40 27,20 27,57 27,58 ± 0,71

22 (P<0,05) berpengaruh terhadap kadar air dedak padi dan terdapat interaksi antara penambahan bahan pencegah kerusakan dengan lama penyimpanan terhadap kadar air dedak padi.

Selama penyimpanan nilai kadar air semakin meningkat dari minggu ke minggu. Kadar air dengan penambahan zeolit nyata berbeda dengan penambahan anti jamur komersil dan dengan penambahan zeolit, kadar air dedak cenderung lebih rendah bila dibandingkan dengan perlakuan yang lain untuk setiap minggunya. Kadar air dedak dengan penambahan bawang putih tidak berbeda dengan perlakun kontrol dan cenderung tinggi untuk setiap minggunya.

Peningkatan kadar air dedak dapat disebabkan oleh adanya pengaruh lingkungan (suhu dan kelembaban) selama proses penyimpanan, hal ini sesuai dengan Winarno (1980) yang menyatakan bahwa selama penyimpanan terjadi proses difusi air kedalam bahan, sehingga terjadi peningkatan kadar air. Apabila kadar air bahan rendah atau suhu bahan tinggi sedangkan RH (kelembaban) sekitarnya tinggi maka akan terjadi penyerapan uap air dari udara sehingga bahan menjadi lembab atau kadar air bahan menjadi tinggi. Alasan lain yang dapat menjelaskan berubahnya kadar air bahan saat penyimpanan adalah adanya proses respirasi bahan. Hasil dari proses respirasi adalah uap air, hal inilah yang menyebabkan kadar air bahan dapat meningkat, selain itu adanya aktivitas serangga yang sudah terdapat pada minggu ke- 2 dan adanya kapang pada bahan yaitu pada minggu ke-6 sehingga memicu peningkatan kadar air bahan. Hal ini sesuai dengan Yusawisana (2002) yang menyebutkan bahwa banyaknya air yang terbentuk adalah akibat reaksi dari Tabel 4. Rataan Nilai Kadar Air Dedak dan Jagung selama Penyimpanan (%)

Minggu Bahan Perlakuan 0 2 4 6 8 P0 15,95±0,36bc 16,46±0,68bcd 17,16±2,21bcd 19,04 ± 0,12d P1 15,66±0,83b 17,82±0,27bcd 15,82±1,57b 17,31 ± 1,24d P2 16,29±0,33bcd 18,35±0,48bcd 16,37±1,42bcd 17,01 ±1,23bcd Dedak P3 11,74±1,06a 10,57±0,85a 12,21±0,22a 10,55±0,51a 16,28±0,24bcd 17,52±0,03cd 16,55±1,12bcd 20,68 ± 2,76e P0 12,34±1,23 17,19± 4,96 15,80±0,57 14,62 ± 0,19 16,37 ± 0,16 P1 13,48±0,21 14,04± 0,14 15,59±0.77 14.84 ± 0,35 16,72 ± 0,54 P2 13,09±0,03 15,95± 2,24 17,17±1,09 15,09 ± 0,28 15,34 ± 0,17 Jagung P3 12,62±0,61 14,01± 0,13 15.79±0,33 15,34 ± 0,17 12.42 ± 3.52 rataan 12,88±0,50 15,30 ± 1,55 16,09±0,73 14,98 ± 0,31 15,59 ± 2,13

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada dedak menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05),; P0 = Jagung/dedak padi; P1= P0+ zeolit (1%); P2 = P0 + bawang putih (1%) ; P3 = P0 +Anti jamur Komersil (0,15%).

23 mikroorganisme yang muncul pada bahan dan juga akibat kelembaban yang tinggi pada ruangan, sebab mikroorganisme menguraikan bahan organik yang terkandung dan reaksi penguraian tersebut menghasilkan air.

Berbeda dengan dedak, kadar air jagung kerkisar antara 12,88-16,09%. Lama penyimpanan dan penambahan bahan pencegah kerusakan pada jagung nyata (P<0,05) tidak mempengaruhi kadar air jagung selama penyimpanan dan tidak terdapat interaksi antara lama penyimpanan dan panambahan bahan pencegah kerusakan terhadap kadar air jagung.

Jagung kurang responsif terhadap perlakuan yang diberikan selama proses penyimpanan dibandingkan dengan dedak, hal ini dikarenakan perbedaan ukuran partikel antara jagung dan dedak padi. Jagung memiliki partikel yang lebih besar dibandingkan dedak padi sehingga luas permukaan jagung lebih sempit bila dibandingkan dengan dedak sehingga bahan pencegah kerusakan tidak dapat mempengaruhi jagung, selain itu dikarenakan dedak memiliki kandungan serat yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan jagung sehingga lebih responsif bila dibandingkan dengan jagung.

Awal penyimpanan (minggu ke-0) menunjukan nilai kadar air paling rendah (12,88%), jika dibandingkan dengan minggu-minggu selanjutnya. Nilai kadar air jagung saat awal penyimpanan telah sesuai dengan batas aman kadar air untuk penyimpanan bahan-bahan hasil pertanian (dibawah 13–14%) seperti yang dilaporkan oleh Syarief dan Halid (1993) dan Novus (2000) yang menyatakan bahwa kadar air jagung untuk pakan ternak minimum 11,9 % dan maksimum 13,9 %.

Aktivitas Air (Aw)

Kisaran nilai Aw pada dedak adalah 0,74-0,81 sedangkan pada jagung berkisar 0,77-0,81 (Tabel 5). Nilai ini berarti jumlah air bebas yang digunakan untuk pertumbuhan mikroorganisme pada dedak sebesar 74-81% dan pada jagung sebesar 77-81 %. Hasil analisis ragam menunjukan bahwa perlakuan yang diberikan dan lama penyimpanan nyata (P<0,05) meningkatkan aktivitas air dedak padi. Tidak terdapat interaksi antara lama penyimpanan dengan penambahan bahan pencegah kerusakan terhadap aktivitas air dedak. Dedak dengan perlakuan kontrol (P0) selama penyimpanan cenderung memiliki nilai aktivitas air terendah untuk setiap minggunya, hal ini dikaitkan dengan sedikitnya kontaminan yang terkandung dalam

24 dedak perlakuan kontrol karena pada perlakuan kontrol tidak dilakukan proses pencampuran aditif saat persiapan penelitian sehingga sumber kontaminan bisa diperkecil dan nilai Aw yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Tingginya nilai aktivitas air pada perlakuan yang ditambahkan zeolit, bubuk bawang putih dan anti jamur komersial dikarenakan tingginya kontaminan pada dedak karena proses pencampuran bahan pencegah kerusakan ketika tahap persiapan penelitian.

Lama penyimpanan dan penambahan bahan pencegah kerusakan tidak berpengaruh terhadap aktivitas air jagung namun terdapat interaksi antara lama penyimpanan dengan penambahan bahan pencegah kerusakan terhadap aktivitas air jagung. Minggu ke-0 aktivitas air jagung nyata (P>0,05) berbeda untuk semua perlakuan. Minggu ke-2,4,6 dan 8 nilai kadar air tidak berbeda nyata (P>0,05) untuk semua perlakuan. Semua perlakuan pada minggu ke-0 nyata (P<0,05) lebih kecil dibandingkan dengan minggu ke-2,4,6, dan 8. Minggu ke-6 nyata (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan minggu ke- 2,4, dan 8 untuk semua perlakuan.

Kisaran nilai AW pada jagung pada penelitian ini ialah 0,76 - 0,81, kisaran nilai AW yang diperoleh berada pada daerah II dan III dalam peta Labuza seperti terlihat pada Gambar 10, yang menunjukkan stabilitas bahan dalam fungsi AW dimana pada AW pada daerah II merupakan AW optimal untuk pertumbuhan mikroorganisme (kapang dan khamir), serta terjadi peningkatan aktivitas enzim. Nilai AW pada daerah III merupakan keadaan optimal untuk tumbuhnya bakteri dan keadaan puncak dari beberapa reaksi kimia yang dapat merusak bahan.

Tabel 5. Rataan Nilai Aktivitas Air Dedak dan Jagung selama Penyimpanan (%) Minggu Bahan Perlakuan 0 2 4 6 8 P0 0,77±0,01bcd 0,77±0,14 bc 0,76±0,03ab 0,80±0,01e P1 0,79±0,01de 0,78±0,00cd 0,78±0,02 cd 0,79±0,01de P2 0,79±0,01 cde 0,79±0,00cde 0,79±0,01 ce 0,80±0,00e Dedak P3 0,74±0,00a 0,74±0,00a 0,74±0,00a 0,74±0,00a 0,79±0,01cd 0,79±0,01cde 0,78±0,00bcd 0,81±0,01f P0 0,77±0,00ab 0,80±0,01de 0,80±0,01cd 0,80±0,01ef 0,80±0,01de P1 0,77±0,00a 0,79±0,00cd 0,80±0,01de 0,81±0,01f 0,79±0.00cd P2 0,76±0,01a 0,79±0.00cd 0,81±0.00f 0,81±0,01f 0.79±0.01cd Jagung P3 0,78±0,01bc 0,79±0,01cd 0,79±0,00d 0,81±0,00f 0.79±0.01cd Keterangan : Superskrip yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) P0 = Jagung/dedak padi; P1= P0+ zeolit (1%); P2 = P0 + bawang putih (1%) ; P3 = P0 + Anti jamur Komersil (0,15%).

25

Gambar 10. Peta Stabilitas Bahan sebagai Fungsi dari AW (Labuza, 1971) dalam Winarno (1991).

Kerapatan Tumpukan

Kerapatan tumpukan digunakan untuk menentuakan volume ruang penyimpanan bahan dengan berat tertentu (Syarief dan Halid, 1993). Semakin tinggi nilai kerapatan tumpukan maka ruang penyimpanan yang dibutuhkan semakin kecil (Khalil, 1999a). Dengan meningkatnya kadar air bahan maka semakin meningkat pula nilai kerapatan tumpukan bahan (Khalil, 1999a)

Berdasarkan data Tabel 6 nilai kerapatan tumpukan dedak dari minggu ke- minggu selama penyimpanan semakin menurun.

Tabel 6. Rataan Nilai Kerapatan Tumpukan Dedak dan Jagung selama Penyimpanan (g/ml)

Minggu Bahan Perlakuan

0 2 4 6 8

P0 0,40±0,01d 0,33±0,03abc 0,31±0,04ab 0,33±0,02abcd

P1 0,35±0,02abcd 0,32±0,01ab 0,33±0,00abc 0,34±0.07abcd P2 0,31±0,02ab 0,30±0,04ab 0,35±0,03abcd 0,37±0,08bcd Dedak P3 0,43±0,00d 0,40±0,00d 0,39±0,00d 0,40±0,00d 0,33±0,01abc 0,24±0,05a 0,32±0,03ab 0,33±0,04abc P0 0,59±0,00c 0,59±0,05c 0,52±0,04ab 0,51±0,02ab 0,51±0,03ab P1 0,59±0,00c 0,59±0,01c 0,56±0,03bc 0,56±0,03abc 0,55±0,04abc P2 0,59±0,01c 0,58±0,04bc 0,56±0.04bc 0,56±0,09abc 0,54±0,03bc Jagung P3 0,59±0,01c 0,56±0,01bc 0,54±0,03bc 0,55±0,04abc 0,55±0,10abc Keterangan : Superskrip yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05)

P0 = Jagung/dedak padi; P1= P0+ zeolit (1%); P2 = P0 + bawang putih (1%) ; P3 = P0 + Anti jamur Komersil (0,15%); KT = Kerapatan Tumpukan (g/ml)

26

Kerapatan Tumpukan dedak

Perlakuan yang diberikan nyata tidak mempengaruhi kerapatan tumpukan dedak sedangkan lama penyimpanan nyata (P<0,05) menurunkan nilai kerapatan tumpukan dedak padi dan tidak terdapat interaksi antara lama penyimpanan dengan penambahan bahan pencegah kerusakan terhadap kerapatan tumpukan dedak. Nilai rataan kerapatan tumpukan dedak padi penelitian berkisar antara 0,28±0,05- 0,43±0,00 g/ml, nilai ini sesuai dengan Irawan (2006) yang menyatakan nilai rataan kerapatan tumpukan dedak padi dari tiga perusahaan yang berbeda sekitar 0,270±0,00-0,316±49,55 g/ml dan sesuai dengan Khajarern et al. (1987) yang melaporkan bahwa nilai kerapatan tumpukan dedak padi berkisar antara 0,350–0,337 g/ml. Nilai kerapatan tumpukan minggu pertama merupakan nilai rataan tertinggi (0,43 g/ml) dan terendah terdapat pada minggu ke-4 yaitu sebesar 0,28 g/ml.

Kerapatan tumpukan dedak pada minggu ke-0 nyata (P<0,05) lebih tinggi bila dibandingkan dengan minggu-minggu yang lain dan pada minggu ke-8 kerapatan tumpukan nyata lebih rendah bila dibandingkan dengan minggu ke-0,2,4 dan 6. Penambahan bahan pencegah kerusakan tidak mempengaruhi nilai kerapatan tumpukan dedak, namun lama penyimpanan berpengaruh terhadap penurunan nilai kerapatan tumpukan. Penurunan nilai rataan kerapatan tumpukan ini dikarenakan nilai kadar air dedak yang semakin meningkat, hal ini sesuai dengan Khalil (1999a) yang menyatakan bahwa kerapatan tumpukan dan kerapatan pemadatan tumpukan menurun dengan meningkatnya kandungan air bahan.

Selama penyimpanan terjadi penurunan nilai kerapatan tumpukan hal ini terkait dengan nilai kadar air yang semakin meningkat selama proses penyimpanan dan ini sesuai dengan pernyataan Suadyana (1998) yang menerangkan bahwa nilai kerapatan tumpukan menurun dengan semakin meningkatnya kadar air, karena bahan akan akan mengembang dan semakin tingginya kadar air menyebabkan volume ruang yang dibutuhkan menjadi besar. Hal ini didukung dengan nilai derajat korelasi antara kerapatan tumpukan dan kadar air yang bernilai -0.239. Korelasi bernilai negatif ini berarti apabila salah satu peubah (kadar air atau kerapatan tumpukan) mengalami peningkatan maka peubah yang lain menjadi menurun dan sebaliknya. Penurunan kerapatan tumpukan pada bahan selain dipengaruhi oleh kadar air dipengaruhi pula secara tidak langsung karena adanya aktivitas dari serangga yang

27 menggunakan nutrien yang terkandung dalam bahan untuk pertumbuhannya sehingga nilai nutrien menjadi berkurang dan kerapatan tumpukan bahan pun semakin berkurang. Kerapatan tumpukan dipengaruhi oleh intensitas gaya kohesi dan ukuran partikel, selanjutnya Peleg dan Bagley (1983) menjelaskan bahwa tepung yang halus dan memiliki kadar air tinggi memiliki gaya kohesi yang tinggi.

Kerapatan Tumpukan Jagung

Penambahan bahan pencegah kerusakan nyata tidak mempengaruhi nilai kerapatan tumpukan jagung sedangkan lama penyimpanan nyata (P<0,05) menurunkan nilai kerapatan tumpukan jagung dan tidak terdapat interaksi antara lama penyimpanan dengan penambahan bahan pencegah kerusakan terhadap kerapatan tumpukan jagung. Berbeda dengan dedak, nilai rataan kerapatan tumpukan jagung berkisar antara 0,51±0,052-0,59± 0,01 g/ml. Nilai rataan kerapatan tumpukan jagung ini sesuai dengan Irawan (2006) yang menyatakan bahwa nilai rataan kerapatan tumpukan jagung dari tiga perusahaan yang berbeda sekitar 0,576± 8,90– 0,561± 5,57 g/ml dan sesuai dengan Khajarern et al. (1987) yang melaporkan bahwa nilai kerapatan tumpukan jagung berkisar antara 0,529-0,545 g/ml. Nilai kerapatan tumpukan jagung pada minggu ke-0 merupakan nilai rataan kerapatan tumpukan tertinggi yaitu sebesar 0,59 g/ml. Pada minggu ke-2 nilai kerapatan tumpukan sama seperti pada minggu ke-0, pada minggu ke-4 nilai kerapatan tumpukan jagung menurun sampai berada pada 0,52 g/ml. Pada minggu ke-6 nilai kerapatan tumpukan sama dengan nilai kerapatan tumpukan pada minggu ke-4, tetapi hal ini hanya terjadi 2 minggu, nilai kerapatan tumpukan kembali menurun hal ini dikarenakan pada minggu ke-6 sudah terdapat kapang yang mengakibatkan peningkatan partikel- partikel halus pada jagung sehingga nilai kerapatan tumpukan jagung menjadi meningkat sehingga mengakibatkan nilai rataan kerapatan tumpukan pada minggu ke-8 menurun kembali, hal ini dikarenakan adanya proses respirasi bahan akibat dari nilai RH ruang penyimpanan tinggi serta adanya proses respirasi dari kapang sehingga mengakibatkan kadar air meningkat.

28

Kerapatan Pemadatan Tumpukan

Hampir sama dengan kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan digunakan untuk menentukan volume ruang penyimpanan bahan. Namun perbedaannya adalah adanya proses pemadatan pada bahan. Rataan kerapatan pemadatan tumpukan jagung dan dedak padi selama penyimpanan ditampilkan pada Tabel 7.

Kerapatan Pemadatan Tumpukan (KPT) Jagung

Perlakuan yang diberikan pada jagung nyata tidak mempengaruhi nilai kerapatan pemadatan tumpukan jagung sedangkan lama penyimpanan nyata (P<0,05) menurunkan nilai kerapatan pemadatan tumpukan jagung dan terdapat interaksi (P>0,05) antara penambahan bahan pencegah kerusakan dengan lama penyimpanan terhadap kerapatan pemadatan tumpukan jagung. Berdasarkan Tabel 7 nilai rataan KPT jagung berkisar antara 0.40-0.65 g/ml, nilai ini hampir sama dengan Irawan (2006) yang menyebutkan bahwa nilai kerapatan pemadatan tumpukan jagung dari tiga perusahaaan yang berbeda berkisar antara 0,62-0,67 g/ml.

Nilai kerapatan pemadatan tumpukan tertinggi pada minggu ke-0 dimiliki oleh jagung yang ditambahkan dengan zeolit (0,62 g/ml) sedangkan untuk perlakuan yang lain tidak berbeda nilainya (0,61 g/ml). Nilai kerapatan pemadatan tumpukan pada minggu ke-2 terendah dimiliki oleh jagung dengan perlakuan kontrol dan tertinggi dimiliki oleh jagung dengan penambahan zeolit dan anti jamur komersil (0,64 g/ml). Nilai kerapatan pemadatan tumpukan pada minggu ke-4 terendah

Tabel 7. Rataan Nilai Kerapatan Pemadatan Tumpukan Dedak dan Jagung selama Penyimpanan (g/ml) Minggu Bahan Perlakuan 0 2 4 6 8 P0 0,38±0,05c 0,40±0,04b 0,37±0,05c 0,40±0,03b P1 0,39±0,03ab 0,40±0,03b 0,38±0,00ab 0,45±0,06a P2 0,40±0,01ab 0,37±0,04ab 0,44±0,03a 0,41±0,07a Dedak P3 0,44±0,00a 0,41±0,01a 0,40±0,02a 0,40±0,00a 0,41±0,01ab 0,37±0,05ab 0,41±0,05ab 0,40±0,03b P0 0,61±0,00cd 0,61±0,14cd 0,58±0,04bc 0,57±0,058bc 0,42±0,02a P1 0,62±0,00cd 0,64±0,02ef 0,65±0,06ef 0,64±0,035ef 0.45± 0.06a P2 0,61±0,01cd 0,62±0,05cd 0,66±0,03ef 0,63±0.08de 0,41±0,07a Jagung P3 0,61±0,01cd 0,64±0,04ef 0,65±0,03ef 0,63±0.060def 0,40±0,03a Keterangan : Superskrip yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) P0 = Jagung/dedak padi; P1= P0+ zeolit (1%); P2 = P0 + bawang putih (1%) ; P3 = P0 + Anti jamur Komersil (0,15%); KPT = Kerapatan Pemadatan Tumpukan (g/ml)

29 8 6 4 2 0 0.65 0.60 0.55 0.50 0.45 0.40 M inggu ke- Ni la i Kerapatan P emadatan T u mpukan (g /ml ) p0 p1 p2 p3

dimiliki oleh jagung dengan perlakuan kontrol sedangkan untuk perlakuan yang lain nilai kerapatan pemadatan tumpukan tidak berbeda nilainya. Terjadi penurunan nilai kerapatan pemadatan tumpukan jagung pada minggu ke-6 untuk semua perlakuan yang diberikan pada jagung, nilai kerapatan tumpukan tertinggi dimiliki oleh jagung yang ditambahkan zeolit (0,64 g/ml) dan terendah dimiliki oleh jagung dengan perlakuan kontrol dan pada minggu ke-8 terjadi penurunan nilai kerapatan pemadatan tumpukan untuk semua perlakuan dan tidak terdapat perbedaan nilai kerapatan tumpukan dedak untuk semua perlakuan (Gambar 11).

Gambar 11. Pengaruh Lama Penyimpanan dengan atau tanpa Penambahan Bahan Penghambat Kerusakan Fisik terhadap Kerapatan Pemadatan Tumpukan Jagung

Berdasarkan hasil penelitian, nilai kerapatan pemadatan tumpukan jagung yang ditambahkan zeolit cenderung memiliki nilai kerapatan pemadatan tumpukan tertinggi untuk setiap minggunya, hal ini terkait dengan fungsi dari zeolit yaitu sebagai pengabsorbsi yang efektif sehingga dapat menjaga nilai kadar air bahan selama penyimpanan sehingga kerapatan pemadatan tumpukan selama penyimpanan tetap tinggi. Hal ini sesuai dengan Sayekti (1999) yang menerangkan bahwa kerapatan pemadatan tumpukan dipengaruhi oleh kadar air dan ukuran partikel. Hal ini menunjukkan dengan penambahan zeolit pada jagung, volume ruang yang dibutuhkan untuk penyimpanan jagung semakin kecil. Penambahan 1% bawang putih memiliki nilai yang tidak berbeda dengan kontrol dan penambahan anti jamur komersil, hal ini menunjukkan 1% bawang putih pada jagung tidak menunjukkan

30 dampak yang nyata dalam mempertahankan nilai kerapatan pemadatan tumpukan jagung selama penyimpanan. Penambahan 1% zeolit pada jagung cenderung menghasilkan kerapatan pemadatan tumpukan yang lebih rendah bila dibandingkan dengan perlakuan yang lain, hal ini menunjukkan jagung yang ditambahkan dengan zeolit memiliki volume ruang yang lebih sedikit untuk penyimpanan sehingga bisa lebih banyak lagi jagung yang disimpan pada volume ruang tertentu.

Kerapatan Pemadatan Tumpukan Dedak

Perlakuan yang diberikan pada dedak nyata tidak mempengaruhi nilai kerapatan pemadatan tumpukan dedak sedangkan lama penyimpanan nyata (P<0,05) menurunkan nilai kerapatan pemadatan tumpukan dedak dan tidak terdapat interaksi (P>0,05) antara penambahan bahan pencegah kerusakan dengan lama penyimpanan dedak. Berdasarkan data pada Tabel 7 nilai kerapatan pemadatan tumpukan dedak berfluktuatif. Nilai kerapatan pemadatan tumpukan dedak hasil penelitian berkisar antara 0,365-0,447 g/ml, nilai ini sesuai dan hampir sama dengan Irawan (2006) yang menyebutkan bahwa nilai rataan KPT dedak pada tiga perusahaan yang berbeda berkisar antara 0,425±0,057-0,557±0,15g/ml.

Selama penyimpanan nilai kerapatan pemadatan tumpukan menurun sampai dengan minggu ke-4 tetapi pada minggu ke-6 sampai minggu ke-8 terjadi peningkatan kerapatan pemadatan tumpukan dedak. Hal ini dikarenakan akibat dari aktivitas mikroorganisme yang terus meningkat pada dedak sehingga mengakibatkan peningkatan partikel-partikel halus dalam dedak yang diakibatkan oleh aktivitas serangga dan adanya kapang sehingga mengakibatkan nilai kerapatan pemadatan tumpukan dedak menjadi semakin meningkat, selain itu dikarenakan adanya getaran dan benturan selama penyimpanan. Menurut Johnson (1994), kerapatan pemadatan tumpukan cenderung meningkat semakin banyaknya jumlah partikel halus dalam ransum. Penambahan jumlah partikel halus dipengaruhi oleh adanya pengaruh dari luar seperti adanya getaran dan benturan selama penyimpanan.

Sudut Tumpukan

Sudut tumpukan merupakan kriteria kebebasan bergerak partikel dari suatu tumpukan bahan. Semakin bebas suatu partikel bergerak, maka sudut tumpukan yang terbentuk juga akan semakin kecil. nilai sudut tumpukan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat dilihat pada Tabel 8.

31

Sudut Tumpukan Dedak

Penambahan bahan pencegah kerusakan pada dedak nyata mempengaruhi nilai sudut tumpukan dedak sedangkan lama penyimpanan nyata (P<0,05) menurunkan nilai sudut tumpukan dedak dan terdapat interaksi (P>0,05) antara penambahan bahan pencegah kerusakan dengan lama penyimpanan. Sudut tumpukan dedak pada minggu ke-0 tidak berbeda nyata untuk semua perlakuan, pada minggu ke-2 penambahan anti jamur komersil nyata paling tinggi bila dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Pada minggu ke-4,6 dan minggu ke-8 nilai sudut tumpukan tidak berbeda nyata untuk semua perlakuan. Nilai sudut tumpukan perlakuan kontrol untuk setiap minggunya nyata tidak meningkat, pada perlakuan penambahan zeolit, minggu ke-0 nyata lebih rendah bila dibandingkan dengan minggu yang lain, sedangkan untuk minggu yang lain tidak berbeda nyata sedangkan untuk perlakuan penambahan 1% bawang putih minggu ke-0 dan minggu ke-4 nyata lebih kecil bila dibandingkan dengan minggu yang lain, minggu ke-6 nilai sudut tumpukan nyata lebih tinggi bila dibandingkan dengan minggu yang lain. Untuk penambahan anti jamur komersil minggu ke-0 dan minggu ke-2 nyata berbeda bila dibandingkan dengan minggu yang lain.

Berdasarkan data hasil penelitian, nilai rataan sudut tumpukan berkisar antara 20,030-24,250, nilai sudut tumpukan ini berbeda dengan Khalil (1999b) yang menyatakan bahwa nilai sudut tumpukan dedak adalah 43,60, perbedaan nilai sudut tumpukan ini dikarenakan berbagai faktor diantaranya adalah perbedaan alat pengukur sudut tumpukan, selain itu dikarenakan perbedaan kandungan air bahan.

Tabel 8. Rataan Nilai Sudut Tumpukan Dedak dan Jagung Selama Penyimpanan (0) Minggu Bahan Perlakuan 0 2 4 6 8 P0 22.27±0.21bc 22.03±0.37abc 23.39±0.64bc 21.30±1.10ab P1 22.23±0.43bc 22.06±0.09abc 23.75±0.22de 21.66±1.20cd P2 22.37±0.39bc 20.86±0.82a 24.25±0.96e 22.24±0.27bc Dedak P3 22.76±0,00a 22.81±0,01a 22.74±0,00a 22.75±0,01a 23.66±0.85de 22.29±0.62bc 22.58±1.63bcd 22.04±0.39abc P0 20.02±0,00a 15.32±0.24abc 15.93±0.50abc 16.50±0.88bc 14.03±0.45d P1 20.12±0,00a 15.80±0.08abc 15.38±0.22abc 15.50±1.03abc 14.45±1.06d P2 20.10±0,01a 16.02±0.34 abc 15.88±0.71abc 15.07±0.89cd 15.01±0.74abc Jagung

P3 20.10±0,01a 15.82±0.763abc 16.48±0.72bc 14.75±2.18cd 16.86±1.80b Keterangan : Superskrip yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) P0 = Jagung/dedak padi; P1= P0+ zeolit (1%); P2 = P0 + bawang putih (1%) ; P3 = P0 + Anti jamur Komersil (0,15%)

32 Nilai sudut tumpukan perlakuan kontrol pada dedak nyata berbeda dengan dedak yang ditambahkan zeolit, tetapi dedak yang ditambahkan bawang putih dan anti jamur komersil tidak berbeda dengan perlakuan dedak yang ditambahkan zeolit dan kontrol. Keempat perlakuan yang diberikan pada dedak menghasilkan nilai sudut tumpukan yang rendah dan termasuk kedalam bahan yang mudah untuk mengalir karena nilai sudut tumpukannya berkisar antara 20-300. Nilai sudut tumpukan yang dihasilkan sesuai dengan Rutloftt (1981) dalam Khalil (1999b) yang menyatakan bahwa nilai sudut tumpukan dedak berkisar 22-300 dan termasuk grup 1 yaitu bahan mudah diangkat dengan alat mekanik. Besarnya sudut tumpukan sangat dipengaruhi oleh ukuran partikel, bentuk dan karakteristik permukaan partikel, kandungan air, berat jenis, dan kerapatan tumpukan (Khalil, 1999b).

Selama penyimpanan dengan penambahan 1% zeolit pada dedak cenderung lebih mampu mempertahankan nilai sudut tumpukan tetap lebih rendah bila dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Hal ini terkait dengan kadar air yang terkandung dalam dedak yang ditambahkan dengan zeolit, karena sifat zeolit sebagai pengabsorbsi yang efektif maka zeolit mampu menurunkan nilai kadar air dedak sehingga berpengaruh terhadap besarnya sudut tumpukan yang dihasilkan, sedangkan penambahan 1% bawang putih memiliki nilai sudut tumpukan yang tidak berbeda nyata dengan dedak perlakuan kontrol, hal ini menunjukkan bahwa penambahan 1% bawang putih tidak memberikan dampak yang nyata dalam mempertahankan nilai sudut tumpukan dedak selama penyimpanan. Hal ini menunjukkan dengan penambahan 1% zeolit, dedak menjadi lebih cepat dan efisien pada proses pengosongan silo baik secara vertikal pada saat pemindahan bahan menuju unit penimbangan atau pada saat pencampuran bahan dan lebih mudah,efisien dan cepat saat pengangkutan bahan secara mekanik.

Sudut Tumpukan Jagung

Perlakuan yang diberikan pada jagung nyata tidak mempengaruhi nilai sudut tumpukan jagung sedangkan lama penyimpanan nyata (P<0,05) menurunkan nilai sudut tumpukan jagung dan tidak terdapat interaksi (P>0,05) antara penambahan bahan pencegah kerusakan dengan lama penyimpanan terhadap sudut tumpukan jagung. Nilai sudut tumpukan jagung pada minggu ke-0 nyata lebih tinggi

33 dibandingkan dengan minggu yang lain, minggu ke-2,4,6 dan 8 tidak berbeda nyata.

Dokumen terkait