• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lokasi Penelitian

Peternakan Babi Rachel Farm berada di Kampung Cina, Desa Tajur Halang, Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan pada awal bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2009 dan merupakan bagian musim kemarau, sehingga kondisi iklim makro relatif stabil selama pengamatan. Meskipun demikian, secara mikro atau lokal terdapat perbedaan kondisi iklim (suhu dan kelembaban) harian. Suhu pada pagi hari (jam 08.00 WIB) adalah 26-29°C dengan kelembaban 64-70%, suhu pada siang hari (jam 13.00 WIB) adalah 34-36°C dengan kelembaban 50-57%, suhu pada sore hari (18.00 WIB) adalah 31-32°C dengan kelembaban 65-71%, dan suhu pada malam hari (jam 22.00 WIB) adalah 28-29°C dengan kelembaban 77-78%. Suhu dan kelembaban diukur dengan alat thermohigrometer yang ditempatkan ditengah bangunan kandang tempat penelitian babi dilakukan.

Peternakan ini berdiri diatas lahan seluas 2.260 m2 dengan ukuran 90,4x25,0 m. Peternakan ini mempunyai tiga jenis bangunan yaitu rumah berukuran 6x8 m (tempat tinggal peternak bersama keluarganya), gudang pakan berukuran 6x4 m, dan perkandangan. Bangunan perkandangan (housing) dalam peternakan ini ada dua buah masing-masing berukuran 15x7 m. Selain itu juga terdapat empat buah bak penampungan limbah masing-masing berukuran 2,5x1,5x1,0 m (dua buah), 8x3x4 m dan 8x4x6 m yang terletak dibagian belakang kandang.

Tata Laksana Pemeliharaan

Induk-induk babi yang diamati sejak awal sudah dikandangkan, sehingga telah terbiasa berinteraksi dengan manusia, termasuk pada saat induk babi tersebut beranak dimana peternak dan peneliti membantu proses saat induk babi beranak sehingga pengamatan dari jarak dekat tidak mempengaruhi perilaku yang diperlihatkan. Selain itu, pada malam hari induk-induk babi sudah terbiasa dengan penerangan oleh cahaya lampu yang juga berfungsi sebagai penghangat bagi anak babi yang baru lahir.

Kandang yang digunakan ada dua jenis yaitu kandang kerangkeng khusus induk babi bunting dengan ukuran 120x60x80 cm dan kandang bak untuk induk menyusui, pejantan dan lepas sapih dengan ukuran 200x180x100 cm. Jumlah kandang kerangkeng dan kandang bak masing-masing adalah 37 dan 8 buah. Kandang bak yang digunakan untuk anak lepas sapih atau kandang pembesaran terdiri dari dua model yaitu model A (3x3x1 m) sebanyak 13 buah dan model B (3x8x1 m) sebanyak tiga buah. Kandang bak dilengkapi dengan water nipple, sehingga air minum diberikan ad libitum. Kandang kerangkeng tidak mempunyai water nipple, tetapi dilengkapi dengan tempat air minum.

Pengawinan induk berahi dilakukan secara alami yaitu pada pagi dan sore hari. Pejantan yang mengawini induk babi berahi pada pagi hari berbeda dengan pejantan untuk sore hari. Proses pengawinan berlangsung selama ± 30 menit. Induk babi dinyatakan bunting apabila pada hari ke-21 setelah pengawinan, induk babi tidak berahi kembali. Induk yang sudah bunting ditempatkan di kandang kerangkeng dan dipindahkan ke kandang induk beranak kira-kira 10 hari sebelum beranak. Penyapihan dilakukan setelah anak babi berumur ± 30 hari.

Pekerja (karyawan) di Peternakan Babi Rachel Farm berjumlah tiga orang termasuk pemilik peternakan, dimana tiap orang mempunyai tugas dan tanggungjawab masing-masing. Proses pencatatan dilakukan oleh peternak sendiri dengan menggunakan komputer yang tersedia di peternakan. Populasi ternak babi yang dipelihara sejak awal penelitian berlangsung adalah 276 ekor. Pembersihan kandang dilakukan bersamaan dengan memandikan babi yaitu satu kali sehari, yang dilakukan pada pagi hari (pukul 10.00 WIB). Semua ternak babi dimandikan kecuali induk babi yang baru beranak. Anak babi mulai dimandikan setelah umur ± 3 minggu. Pembersihan kandang dan memandikan babi dilakukan dengan menggunakan steam air. Penggunaan steam air ini sangat menguntungkan karena dengan tekanannya yang sangat kuat kandang dan ternak babi mudah dan cepat dibersihkan.

Ransum Penelitian dan Pemberiannya

Pemberian pakan di Peternakan Babi Rachel Farm dilakukan dua kali sehari yaitu pagi (pukul 08.00 WIB) dan sore hari (pukul 16.00 WIB). Ransum yang diberikan berupa pakan kering, yang terdiri dari campuran dedak halus dan jagung

giling. Pencampuran pakan dilakukan secara manual dengan menggunakan sekop dan biasanya dikerjakan pada sore hari. Komposisi campuran ransum yang berbeda-beda diberikan untuk setiap kelas ternak babi.

Persediaan bahan pakan dalam gudang pakan biasanya hanya mencukupi untuk kebutuhan sekitar satu minggu. Pada pertengahan penelitian, peternak terpaksa merubah jenis ransum yang digunakan untuk meminimalkan biaya produksi karena adanya musibah virus H1N1 yang mengakibatkan penyakit flu yang dapat menular pada manusia. Kasus ini mengakibatkan harga jual daging babi sangat rendah, karena permintaan konsumen terhadap daging babi menurun. Turunnya harga jual babi mengakibatkan kerugian yang besar bagi peternak, karena harga jual daging babi tidak sesuai dengan biaya produksi terutama dari segi biaya pakan.

Perubahan jenis ransum yang dilakukan adalah dengan mengganti pakan kering menjadi pakan basah (ampas tahu). Pergantian pakan ini tidak dapat dihindari karena peternak tidak mau mengalami kerugian yang lebih besar jika tetap menggunakan pakan kering. Biaya pakan kering jauh lebih besar dibandingkan dengan pakan basah (ampas tahu).

Ransum adalah makanan yang diberikan pada ternak tertentu selama 24 jam, pemberiannya dapat dilakukan sekali atau beberapa kali selama 24 jam. Pemberian pakan di Peternakan Babi Rachel Farm saat awal beranak sampai prasapih atau selama induk babi menyusui adalah pakan kering yang terdiri dari tepung jagung (25%), dedak padi (75%) dengan pemberian tepung daun bangun-bangun (TDB) pada taraf 0; 1,25; 2,50; dan 3,75% sebagai perlakuan. Pakan diberikan 3-4 kg/ekor/hari yang pemberiannya dilakukan pada pagi hari (jam 08.00 WIB) dan pada sore hari (jam 16.00 WIB).

Ransum yang diberikan pada ternak babi penelitian adalah ransum kering, dan komposisi zat makanan dari ransum yang digunakan untuk penelitian ditampilkan pada Tabel 4, sedangkan kebutuhan zat makanan untuk induk babi bunting dan menyusui ditampilkan pada Tabel 5. Berdasarkan hasil analisis proksimat diperoleh hasil bahwa ternak babi yang tidak diberi TDB (R0) dalam ransum memiliki energi bruto yang paling tinggi (4238 kkal/kg) dibanding dengan ternak babi yang diberi TDB masing-masing R1 (4125 kkal/kg), R2 (3798 kkal/kg) dan R3 (3463 kkal/kg). Perbedaan ini dapat disebabkan pemberian TDB yang

semakin tinggi akan mengurangi jumlah pakan yang lain dalam ransum, sehingga jumlah energinya akan semakin kecil. Jumlah energi ransum yang diberikan oleh peternak masih lebih tinggi daripada standar rekomendasi oleh NRC (1988) yaitu sebesar 3260 kkal/kg.

Tabel 4. Hasil Analisis Zat Makanan Ransum Penelitian

Perlakuan Zat Makanan Energi metb.

(kkal/kg) BK PK LK SK Ca P ---(%)--- Pakan Kering R1 85,94 12,79 9,68 10,75 0,08 0,89 4238 R2 85,11 12,30 9,30 12,25 0,09 1,16 4125 R3 84,91 12,01 7,64 12,89 0,14 1,42 3798 R4 84,88 11,75 6,56 13,76 0,27 1,11 3463 Pakan Basah R1 13,58 3,92 0,53 2,58 0,05 0,04 625 R2 13,66 3,70 0,91 3,05 0,07 0,09 612 R3 13,98 3,63 0,89 2,95 0,11 0,09 605 R4 14,26 3,62 1,83 2,84 0,18 0,09 540

Keterangan: R0 = Ransum biasa (kontrol) atau tanpa penambahan TDB; R1= Ransum biasa ditambahkan 1,25% TDB; R2= Ransum biasa ditambahkan 2,50% TDB; R3= Ransum biasa ditambahkan 3,75% TDB; ME: Metabolisme Energi; BK: Bahan Kering PK: Protein Kasar; LK: Lemak Kasar; SK: Serat Kasar; Ca: Kalsium; P: Fosfor

Bila dibandingkan hasil analisis kandungan zat makanan yang terdapat pada Tabel 4, ransum kering perlakuan R0, R1, R2, dan R3 memiliki kandungan protein kasar, lemak kasar, serat kasar dan posfor hampir sama dibanding dengan yang direkomendasikan oleh NRC (1988). Kandungan kalsium yang terdapat pada R1 dan R2, lebih rendah dibanding dengan R3 dan R4.

Berdasarkan analisis data dapat diketahui bahwa kandungan zat makanan yang diberikan oleh peternak tidak sesuai dengan NRC (1988). Hasil analisis kandungan zat makanan dari ampas tahu yang diberikan oleh peternak seperti terlihat pada Tabel 4 sangat rendah dibanding rekomendasi NRC (1988), baik energi, protein kasar, serat kasar, lemak kasar, kalsium maupun fosfor. Pemberian pakan basah dilakukan karena sulitnya peternak untuk memperoleh ransum kering sebagaimana biasanya diberikan pada ternak babi. Namun pemberian pakan ampas tahu saja tidak baik bagi pertumbuhan janin dan kesehatan induk, karena induk dan fetus kurang

asupan gizi, sehingga anak yang dilahirkan menjadi kerdil dan kurus. Pemberian pakan ampas tahu tanpa penambahan pakan yang lain juga tidak baik untuk induk bunting dan menyusui.

Tabel 5. Kebutuhan Zat Makanan untuk Induk Bunting dan Menyusui

Zat Makanan Kelas Ternak

Induk Bunting Induk Menyusui

Protein kasar (%) 13,0 14,0

Lemak kasar (%) 3,0 3,0

Serat kasar (%) 7,0 7,0

Kalsium (%) 0,75-1,0 0,75-1,0

Posfor (%) 0,7 0,7

Metabolisme Energi (kkal/kg) 3.100 3.200

Sumber: SNI (1995)

Bila dibandingkan analisis kandungan zat makanan ransum kering pada Tabel 4 dengan kebutuhan zat makanan induk babi menyusui pada Tabel 5, maka kandungan protein dan fosfor hampir sama, sedangkan lemak, serat kasar, energi lebih tinggi dan kalsium adalah lebih rendah. Sedangkan bila dibandingkan kandungan zat makanan pakan ampas tahu pada Tabel 4 dengan kebutuhan zat makanan induk menyusui pada Tabel 5, maka protein, energi, lemak kasar, serat kasar, kalsium dan fosfor adalah rendah.

Produksi Air Susu Induk Babi per Menyusui

Susu jauh lebih superior daripada semua makanan lain dalam hal ketersediaan dan kecernaan zat-zat makanan yang dikandungnya. Semua kebutuhan zat-zat makanan bagi anak yang baru lahir dapat diperoleh dari air susu induk kecuali zat besi. Pengukuran produksi air susu induk (PASI) babi dilakukan berdasarkan pertambahan bobot badan anak babi setelah menyusu yaitu dengan cara menimbang anak babi yang telah dipuasakan selama empat jam sebelum dan segera setelah menyusu. Selisih dari kedua pengukuran ini adalah produksi air susu induk babi setiap kali menyusui. Pengukuran produksi air susu induk babi dilakukan sebanyak enam kali, yaitu pada hari ke-5, ke-10, ke-15, ke-20, ke-25 dan ke-30 setelah beranak

atau selama menyusui. Rataan produksi air susu induk babi tiap kali menyusui selama penelitian ditampilkan pada Tabel 6.

Rataan PASI babi selama penelitian adalah 207,10±56,10 g/menyusui dengan KK 27,10%. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian TDB dalam ransum induk babi tidak berpengaruh nyata terhadap produksi air susu induk babi per menyusui, namun jika dicermati dari angka produksi air susu yang dihasilkan oleh induk babi, terdapat perbedaan antara setiap perlakuan. Pemberian TDB dalam ransum induk babi dapat meningkatkan produksi air susu hingga taraf 2,5% (229,17 g/menyusui) atau mengalami peningkatan sebesar 33,07% dibandingkan dengan kontrol, tetapi terjadi penurunan pada taraf 3,75% (204,17 g/menyusui) meskipun masih lebih tinggi daripada perlakuan R0 (172,22 g/menyusui). Hal ini mungkin disebabkan taraf pemberian 3,75% TDB dalam ransum induk terlalu banyak sehingga mengurangi energi yang diperoleh dari ransum. Berdasarkan hal tersebut maka dapat disarankan bahwa pemberian TDB yang optimal dalam ransum induk babi menyusui untuk meningkatkan PASI adalah pada taraf 2,5%.

Tabel 6. Produksi Air Susu Induk Babi Per Menyusui Selama Penelitian

Ulangan Perlakuan Rataan

R0 R1 R2 R3 ---(g/menyusui)--- 1 200,00 283,33 266,67 266,67 254,17 2 116,67 150,00 200,00 166,67 158,34 3 200,00 - 283,33 133,33 205,55 4 - 216,67 166,67 250,00 211,11 Rataan 172,22 ± 48,81 216,70 ± 54,50 229,17 ± 55,10 204,17 ± 64,40 207,10 ± 56,10 KK (%) 27,94 30,77 24,03 31,53 27,10 Keterangan : R0 = Ransum Kontrol; R1 = Ransum kontrol dengan penambahan 1,25%

TDB; R2 = Ransum kontrol dengan penambahan 2,5% TDB; R3 = Ransum kontrol dengan penambahan TDB 3,75%; KK = koefisien keragaman

Hasil pengukuran PASI yang tidak menunjukkan perbedaan signifikan untuk setiap perlakuan diduga karena keadaan induk babi yang tidak seragam, seperti perbedaan bangsa, bobot badan, litter size dan perbedaan kemampuan induk itu sendiri dalam menghasilkan air susu akibat periode laktasi yang berbeda pula.

Menurut Mepham (1987), produksi susu dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu: jumlah dan komposisi makanan yang dikonsumsi, jumlah dan komposisi darah yang diserap oleh kelenjar ambing, dan laju sintesis air susu. Selain itu produksi air susu juga dipengaruhi oleh genotip, parity, pakan, kondisi tubuh dan litter size. Semakin banyak anak menyusu cenderung menaikkan produksi air susu induk babi (Parakkasi, 1980).

Tingkah Laku Harian Induk Babi Menyusui

Pengamatan terhadap tingkah laku harian induk babi menyusui dengan menggunakan metode ad libitum sampling menghasilkan data waktu-waktu aktif dalam 24 jam. Tingkah laku harian yang diperlihatkan oleh induk babi menyusui meliputi tingkah laku makan, minum, istirahat, eliminasi, merawat diri dan anak, sosial, bergerak dan tingkah laku agonistik. Pengamatan tingkah laku harian induk babi menyusui dan anak babi menyusu juga menggunakan metode ad libitum sampling dibagi kedalam tiga fase pengamatan dengan interval waktu pengamatan 15 menit, yaitu Fase I (hari ke-1: 06.00-14.00 WIB), Fase II (hari ke-2: 14.00-22.00 WIB) dan Fase III (hari ke-3: 22.00-06.00 WIB). Persentase tingkah laku harian induk babi menyusui berhasil dicatat selama pengamatan pada empat ekor induk babi yang tidak mendapat pemberian TDB dalam ransum induk atau kontrol. Pengamatan tingkah laku harian dengan metode ad libitum sampling dilakukan enam hari setelah induk babi beranak.

Tingkah Laku Makan

Pakan yang diberikan pada induk babi menyusui berupa pakan kering yang terdiri dari tepung jagung, dan dedak padi yang diberi TDB dengan taraf berbeda.

Tingkah laku makan yang biasa dilakukan oleh induk babi pada saat makan (Gambar 3) adalah mengendus makanan, mengambil makanan dengan moncongnya, kemudian mengunyah dan menelan makanannya. Jika makanannya tinggal sedikit, maka induk babi akan mulai menjilati sisa-sisa makanan yang tinggal dengan menggunakan lidahnya kemudian meggosok-gosokkan moncongnya ke lantai.

Gambar 4. Frekuensi Tingkah Laku Makan Induk Babi

Berdasarkan Gambar 4, aktivitas makan yang paling banyak dilakukan adalah pada saat pagi hari yaitu jam 07.00-08.00 WIB (5,2 kali) dan pada sore hari pada jam 19.00-20.00 WIB (5,2 kali). Hal ini disebabkan waktu itu merupakan waktu pemberian makan ternak babi di Peternakan Babi Rachel Farm.

Tingkah Laku Minum

Aktivitas minum induk babi dipengaruhi oleh faktor lingkungan termasuk iklim dan jenis pakan yang diberikan oleh peternak. Pakan kering yang diberikan oleh peternak dan keadaan induk babi yang sedang menyusui, mendorong induk babi minum lebih banyak karena jumlah pakan kering yang diberikan mempengaruhi aktivitas minum induk babi menyusui. Frekuensi tingkah laku minum induk babi menyusui selama penelitian diperlihatkan pada Gambar 5.

Gambar 5. Frekuensi Tingkah Laku Minum Induk Babi Menyusui

Berdasarkan Gambar 5, diperoleh data bahwa aktivitas minum yang paling sering dilakukan oleh induk babi terjadi pada pagi hari jam 09.00-10.00 WIB (7,2 kali) setelah makan dan pada siang hari jam 13.00-14.00 WIB (6,3 kali). Waktu ini adalah kondisi di peternakan sangat panas pada musim kemarau. Untuk mengatasi rasa panas dan induk babi tidak kehilangan banyak air, maka peternak memandikan induk babi sampai induk babi merasa tenang.

Gambar 6. Salah Satu Tingkah Laku Induk Babi Minum

Tingkah laku minum dari induk babi menyusui (Gambar 6), biasanya dilakukan dengan cara menekuk kedua kaki depan dan mengarahkan moncongnya ke water nipple. Setelah water nipple disentuh oleh mulut maka air akan secara otomatis

keluar dan babi akan segera meminum air yang keluar tersebut. Induk babi minum selama 2-3 menit, kemudian babi tersebut akan berhenti dan akan minum kembali sekitar satu menit.

Tingkah Laku Istirahat

Tingkah laku istirahat sama seperti tingkah laku makan dan seksual yang

dipengaruhi oleh faktor endogenous. Ini merupakan suatu fase dimana ternak mulai memperhatikan tempat atau mempersiapkan tempat yang nyaman untuk istirahat. Istirahat merupakan suatu kondisi dimana kita dapat mengetahui tingkah laku ternak selama istirahat.

Induk babi beristirahat dalam keadaan berbaring, mata tertutup dengan kedua kaki terjulur kedepan ataupun tengkurap dengan keempat kakinya ditekuk, menyembunyikan puting atau diam ditempat beberapa saat. Anak–anak babi biasanya akan beristirahat didekat induknya atau beristirahat diatas tubuh induknya. Hal ini dilakukan oleh anak babi karena suhu tubuh induk yang hangat sehingga anak babi tidak akan kedinginan. Namun pada saat istirahat dalam kondisi seperti ini, anak babi banyak yang mati karena tertindih induk babi. Bagaimana tingkah laku induk babi saat istirahat diperlihatkan pada Gambar 7.

Gambar 7. Salah Satu Tingkah Laku Istirahat Induk Babi

Induk babi yang ada di Peternakan Babi Rachel Farm banyak melalukan istirahat baik tidur ataupun berdiam diri. Induk babi biasanya akan istirahat pada saat cuaca panas dan pada saat menyusui anak-anaknya.

Gambar 8. Frekuensi Tingkah Laku Istirahat Induk Babi

Berdasarkan Gambar 8 diperoleh data hasil pengamatan bahwa aktivitas istirahat yang paling banyak dilakukan adalah pada siang hari jam 15.00-16.00 WIB (14,5 kali). Kondisi peternakan yang panas pada siang hari menyebabkan induk babi malas untuk bergerak dan menggunakan banyak waktunya untuk istirahat.

Tingkah Laku Sosial

Ternak yang tinggal dalam lingkungan peternakan memperlihatkan tingkah laku sosial yang kompleks. Tingkah laku sosial tidak sama dengan tingkah laku yang lainnya yang didasarkan pada mekanisme psikologi dasar. Meskipun demikian, tingkah laku sosial ini muncul menjadi sebuah sistem motivasi yang tepat untuk dapat bersama dengan ternak lainnya.

Berdasarkan data hasil pengamatan selama penelitian seperti yang disajikan pada Gambar 9, diketahui bahwa aktivitas tingkah laku sosial terjadi pada pagi hari jam 07.00-08.00 WIB pada saat induk babi makan dan pada jam 13.00-16.00 WIB pada saat induk babi akan beristirahat. Frekuensi tingkah laku sosial selama penelitian disajikan pada Gambar 9.

Gambar 9. Frekuensi Tingkah Laku Sosial Induk Babi

Tingkah laku ini biasanya dilakukan dengan cara menggosok-gosokkan moncongnya ke tubuh anaknya ataupun bermain dengan anaknya. Tingkah laku ini sering dilakukan pada saat induk babi akan menyusui anak-anaknya.

Tingkah Laku Agonistik

Tingkah laku agonistik mempunyai pengertian yang cukup luas meliputi menonjolkan postur, melakukan pendekatan, menakut-nakuti dan berkelahi. Tingkah laku agonistik ini juga meliputi seluruh tingkah laku yang ada hubungannya dengan agresivitas, kepatuhan dan pertahanan. Tingkah laku ini dilakukan untuk mendapatkan kenyamanan dalam hidup dan tempat hidupnya. Berdasarkan hasil pengamatan (Gambar 10), bahwa aktivitas agonistik yang banyak dilakukan terjadi pada pagi hari yaitu jam 07.00-09.00 WIB (4,1 kali).

Tingkah laku ini terjadi pada saat induk babi akan diberi makan, dan pada saat induk babi menunggu giliran untuk makan. Hal ini menyebabkan induk babi akan marah dan menaikkan kedua kaki bagian depan keatas dan babi tersebut akan berteriak dan mulai menggigit induk babi lain yang mengganggu ketenangannya. Frekuensi tingkah laku agonistik induk babi selama penelitian disajikan pada Gambar 10.

Gambar 10. Frekuensi Tingkah Laku Agonistik Induk Babi

Untuk mencegah timbulnya tingkah laku menggigit induk babi lain yang masuk kedalam kandang induk babi yang sedang menyusui, disarankan agar peternak membuat dinding pemisah yang lebih tinggi, sehingga induk babi tidak dapat masuk atau mengganggu induk babi yang lain. Induk babi akan menggerakkan telinganya pada saat induk babi merasa ada ancaman seperti munculnya orang baru di kandang ataupun ada binatang yang masuk kedalam kandang.

Tingkah Laku Merawat

Induk babi yang diamati dalam penelitian ini tidak terlalu baik dalam merawat anaknya, dan merupakan kendala bagi peternak karena banyak anak-anak babi yang mati disebabkan tertindih ataupun terinjak oleh induknya. Namun ada juga induk babi yang sangat peka jika anaknya dalam keadaan bahaya, biasanya induk babi tersebut akan berbaring dengan anak-anaknya dan bahkan ada juga anak babi yang tidur diatas badan induknya. Tindakan merawat diri adalah dengan menggaruk-garuk badannya ke dinding atau mengais-ngais lantai kandang ketika akan berbaring. Berdasarkan data hasil pengamatan tingkah laku merawat induk babi yang diperoleh dari Gambar 11, diketahui bahwa frekuensi tingkah laku ini banyak dilakukan pada siang hari jam 13.00-14.00 WIB (5,2 kali), hal ini disebabkan saat kondisi ini induk babi melakukan aktivitas tanpa diganggu anak-anaknya.

Gambar 11. Frekuensi Tingkah Laku Merawat Induk Babi

Tingkah laku merawat dilakukan dengan cara mengosok-gosokkan badan ke dinding. Hubungan induk babi dengan anaknya dinyatakan dengan saling mengenal. Pengenalan antara induk babi dengan anaknya didasarkan pada penciuman, penglihatan dan pendengaran. Kelakuan induk terhadap anak mempengaruhi kelakuan emosional anak.

Tingkah Laku Bergerak

Tingkah laku bergerak merupakan tingkah laku yang paling banyak dilakukan oleh induk babi. Gambar 10 memperlihatkan hasil pengamatan, bahwa aktivitas bergerak banyak dilakukan pada pagi hari jam 09.00-10.00 WIB (15,5 kali), hal ini disebabkan karena pada waktu ini induk babi diberi makan, oleh karena itu induk babi akan melakukan pergerakan yang paling banyak pada saat menunggu giliran makannya. Tingkah laku ini biasanya banyak dilakukan oleh induk babi pada saat induk tersebut akan diberi makan ataupun pada saat induk babi menolak anak babi untuk menyusu dengan cara mengelilingi kandang ataupun berpindah dari satu sudut ke sudut yang lain. Hal ini dilakukan untuk menghindari anak dan untuk mendapat posisi aman pada saat induk babi tersebut selesai istirahat ataupun pada saat selesai menyusui.

Gambar 12. Frekuensi Tingkah Laku Bergerak Induk Babi

Aktivitas bergerak induk babi ini dilakukan untuk mendapat kenyamanan dalam kandang dan juga agar dapat memperoleh sesuatu yang diinginkan seperti bergerak untuk minum, makan dan bersosialisasi dengan anak-anak babi tingkah laku bergerak dilakukan didalam kandang induk babi menyusui tersebut.

Tingkah Laku Eliminasi

Tingkah laku membuang kotoran atau eliminasi berkaitan erat dengan kebiasaan hewan tersebut di alam bebas (Hafez et al., 1969). Ternak babi biasanya membuang kotoran di salah satu sudut kandang, dan ternak babi dikenal sebagai ternak yang bersih. Frekuensi tingkah laku eliminasi induk babi selama penelitian disajikan pada Gambar 13.

Gambar 13 memperlihatkan data hasil pengamatan bahwa tingkah laku eliminasi paling sering terjadi pada pagi hari jam 08.00-09.00 WIB (2 kali) dan pada siang hari jam 13.00-14.00 dan pada sore hari jam 18.00-19.00 (2 kali). Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan selama penelitian, diketahui bahwa induk babi melakukan eliminasi setelah makan dan beraktivitas.

Gambar 13. Frekuensi Tingkah Laku Eliminasi Induk Babi

Induk babi yang akan melakukan eliminasi akan mencari tempat di salah satu sudut dalam kandang, kemudian induk babi akan mengangkat ekor keatas kemudian

Dokumen terkait