Hasil sidik ragam menunjukkan perlakuan nyata mempengaruhi kecernaan bahan kering (P<0,05). Kecernaan bahan kering yang paling tinggi terdapat pada sapi yang mendapat perlakuan campuran jerami padi, konsentrat dan daun murbei (P2), sedangkan nilai kecernaan terendah pada sapi yang mendapat perlakuan jerami padi dan daun murbei (P3) (P<0,05). Kecernaan bahan kering (KCBK) P2 tidak berbeda dengan kontrol (P1), namun nilai KCBK P3 berbeda dengan kontrol. Nilai KCBK yang tidak signifikan antara P1 dan P2 menunjukkan daun murbei dapat digunakan sebagai substitusi konsentrat dengan komposisi 50:50. Histogram nilai kecernaan bahan kering disajikan dalam Gambar 4. Nilai KCBK yang pada P2 (60,91%) yang tidak berbeda dengan P1 (60,81%) menunjukkan bahwa daun murbei dapat menggantikan sebagian konsentrat.
Keterangan :
P1 = 50% Jerami Padi + 50% Konsentrat
P2 = 50% Jerami Padi + 25% Konsentrat + 25% Tepung Daun murbei P3 = 50% Jerami Padi + 50% Tepung Daun Murbei
Gambar 4. Kecernaan Bahan Kering Pakan yang Mengandung Daun Murbei sebagai Pengganti Konsentrat.
Berdasarkan uji Duncan dapat dilihat bahwa sapi yang diberi perlakuan jerami padi, konsentrat dan tepung daun murbei (P2) mempunyai nilai kecernaan bahan kering yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lain (Gambar 4.). Hal ini terjadi diduga karena daun murbei memberikan efek yang baik pada pakan berbasis
0 10 20 30 40 50 60 70 P1 P2 P3 K e c . B K ( % ) Perlakuan 60.82a 43.84b 60.91a
19 jerami padi, sehingga pada P2 memberikan kecernaan bahan kering lebih tinggi dibandingkan P3 pada ruminansia. Hal ini didukung dengan hasil pengamatan produksi VFA rumen P2 yang paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan lain (Gambar. 8).
Penggunaan tepung daun murbei pada P3 menyebabkan penurunan nilai KCBK dibanding kontrol (P1), hal tersebut disebabkan adanya senyawa DNJ pada daun murbei yang dapat memperlambat laju metabolisme dan hidrolisis nutrien dalam tubuh ternak. Senyawa DNJ dapat menghambat hidrolisis oligosakarida menjadi monomer-monomernya (Breitmer, 1997). DNJ menghambat enzim dalam menghidrolisis substrat namun penghambatannya tidak sempurna, yakni dengan cara menempel pada sisi aktif enzim glukosidase dan berkompetisi dengan enzim tersebut sehingga dapat memperlambat hidrolisis substrat tersebut. Namun dikarenakan pada daun murbei mengandung karbohidrat mudah tercerna (RAC) lebih sedikit, maka menghasilkan kecernaan bahan kering yang lebih rendah. Hal ini senada dengan Arai et al. (1998) yang menyatakan bahwa senyawa DNJ dapat menghambat hidrolisis karbohidrat menjadi monosakarida di dalam usus kecil.
Kecernaan Protein Kasar
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan nyata mempengaruhi kecernaan protein kasar (P<0,05). Kecernaan PK tertinggi terdapat pada sapi yang diberi jerami padi dan konsentrat (P1), sedangkan kecernaan PK terendah terdapat pada sapi yang mendapatkan perlakuan jerami padi dan tepung daun murbei (P3). Histogram nilai kecernaan protein kasar dapat dilihat pada Gambar 5.
Menurut Yulistiani (2007), degradasi protein dalam daun murbei akan sangat efisien bagi produksi mikroba rumen bila disuplementasi dengan karbohidrat yang mudah terfermentasi dalam rumen. Hal ini sesuai dengan data kecernaan proteinkasar yang tidak berbeda antara P2 dan P1 yang juga menunjukkan bahwa suplementasi daun murbei pada pakan dapat menggantikan konsentrat dengan baik pada taraf 50% atau 25% dari total pakan bila ditinjau dari kecernaan protein kasar
Pendugaan jenis mikroba yang mendominasi sistem rumen dapat dilakukan dengan mengamati nilai kecernaan barbagai zat makanan dalam ransum ruminansia. Jumlah dan jenis bakteri yang mendominasi sistem rumen akan tergantung pada jenis pakan yang dikonsumsi (Dehority, 2005). Ransum perlakuan P1 dan P2 yang
20 menghasilkan kecernaan portein kasar yang lebih tinggi dibandingkan dengan P3 mencerminkan dominasi bakteri proteolitik pada P1 dan P2 nyata lebih tinggi dibandingkan pada P3.
Keterangan :
P1 = 50% Jerami Padi + 50% Konsentrat
P2 = 50% Jerami Padi + 25% Konsentrat + 25% Tepung Daun murbei P3 = 50% Jerami Padi + 50% Tepung Daun Murbei
Gambar 5. Kecernaan Protein Kasar Pakan yang Mengandung Daun Murbei sebagai Pengganti Konsentrat.
Rendahnya kecernaan PK pada sapi yang mendapat ransum jerami padi dan daun murbei (P3) dibandingkan dengan perlakuan lain disebabkan pada pakan hijauan protein terletak di dalam isi sel tumbuhan sehingga untuk mencerna protein harus memecah dinding sel tumbuhan terlebih dahulu (Russel,1992). Dinding sel berfungsi untuk mempertahankan bentuk dan melindungi sel dari kerusakan mekanis (Hans, 1997).
Kecernaan Lemak Kasar
Hasil sidik ragam memperlihatkan perlakuan nyata (P<0,05) berpengaruh terhadap kecernaan lemak kasar. Penggunaan tepung daun murbei pada pakan nyata menurunkan kecernaan lemak kasar pakan yang ditandai dengan kecernaan lemak kasar pakan yang berbeda nyata pada setiap perlakuan. Kecernaan lemak kasar paling tinggi terdapat pada sapi yang diberi perlakuan jerami padi dan konsentrat (P1), sedangkan yang paling rendah terdapat pada sapi yang diberi perlakuan jerami padi dan tepung daun murbei (P3). Hasil penghitungan kecernaan lemak kasar ditampilkan pada Gambar 6.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 P1 P2 P3 K ec. P K ( % ) Perlakuan 74.93a 54.93b 70.88a
21 Keterangan :
P1 = 50% Jerami Padi + 50% Konsentrat
P2 = 50% Jerami Padi + 25% Konsentrat + 25% Tepung Daun murbei P3 = 50% Jerami Padi + 50% Tepung Daun Murbei
Gambar 6. Kecernaan Lemak Kasar Pakan yang Mengandung Daun Murbei sebagai Pengganti Konsentrat.
Faktor yang mempengaruhi rendahnya kecernaan lemak kasar pada sapi yang mendapat ransum jerami padi dan tepung daun murbei (P3) ialah kandungan lemak pada hijauan yang berupa glikolipid lebih sulit dicerna dibandingkan konsentrat (Harfoot dan Hazlewood, 1997). Lemak dalam konsentrat dapat dicerna oleh enzim lipase sedangkan lemak yang berbentuk glikolipid memerlukan enzim glikolipase baru kemudian bisa dicerna oleh lipase. Disamping itu juga disebabkan oleh kurang berkembangnya mikroba pencerna lemak dalam rumen karena kandungan lemak dalam ransum yang lebih sedikit dibandingkan dengan konsentrat yang memiliki kandungan lemak lebih tinggi. Ransum P3 juga mengandung serat kasar yang tinggi (18 %), sehingga mengakibatkan penurunan nilai kecernaan zat makanan yang lain.
Faktor lain yang dapat membedakan kecernaan lemak kasar antara ketiga perlakuan ialah posisi lemak dalam daun. Pada P3 (jerami padi dan tepung daun murbei) yang merupakan pakan hijauan, lemak pakan terdapat di dalam isi sel yang dilindungi oleh dinding sel. Dinding sel tumbuhan sebagian besar terdiri dari selulosa, sehingga untuk mencerna lemak pakan hijauan, harus memecah dinding sel tumbuhan.
Kecernaan Serat Kasar
Hasil sidik ragam menunjukkan perlakuan nyata (P<0,05) mempengaruhi kecernaan serat kasar. Kecernaan serat paling tinggi terdapat pada sapi yang diberi perlakuan jerami padi dan tepung daun murbei (P3), sedangkan yang paling rendah
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 P1 P2 P3 K e c . L K ( % ) Perlakuan 22.74c 83.2a 63.88b
22 terdapat pada sapi yang diberi perlakuan jerami padi dan konsentrat (P1). Histogram kecernaan serat kasar dapat dilihat pada Gambar 7.
Keterangan :
P1 = 50% Jerami Padi + 50% Konsentrat
P2 = 50% Jerami Padi + 25% Konsentrat + 25% Tepung Daun murbei P3 = 50% Jerami Padi + 50% Tepung Daun Murbei
Gambar 7. Kecernaan Serat Kasar Pakan yang Mengandung Daun Murbei sebagai Pengganti Konsentrat.
Tingginya kecernaan serat pada sapi yang diberi perlakuan jerami padi dan tepung daun murbei (P3) diduga disebabkan oleh berkembangnya bakteri pencerna serat dalam rumen dengan baik dan didukung banyaknya kandungan serat dalam pakan. Menurut Putra (1999) kecernaan nutrien pakan secara in vivo pada ternak ruminansia ditentukan oleh kandungan zat makanan pakan dan aktivitas mikroba rumen, terutama bakteri dan interaksi dari kedua faktor tersebut. Selain itu serat yang ada pada daun murbei lebih mudah didegradasi dibandingkan serat pada konsentrat yang umumnya berasal dari biji-bijian.
Secara umum sumber serat yang terdapat pada P1 (jerami padi dan konsentrat) sebagian besar berasal dari jerami padi (80% dari total serat kasar pakan) yang banyak mengandung silika, sehingga mengakibatkan sulit mencerna serat kasar pakan. Hal ini berbeda dengan P2 yang merupakan campuran antara jerami padi, konsentrat dan tepung daun murbei karena sumber serat kasar pakan juga berasal dari daun murbei, apalagi jika dibandingkan dengan P3 (jerami padi dan daun murbei) yang merupakan pakan sumber serat sehingga menghasilkan kecernaan serat kasar pakan yang lebih baik.
0 10 20 30 40 50 60 70 P1 P2 P3 K e c . S K ( % ) Perlakuan 63.83b 55.58ab 49.2a
23 Pada pakan yang mengandung konsentrat (P1 dan P2), kecernaan serat kedua perlakuan tersebut lebih rendah. Hal ini disebabkan kadar pH rumen pada sapi yang mendapat pakan konsentrat dan jerami padi (6,66+0,35) lebih rendah dibandingkan sapi yang mendapat perlakuan jerami padi dan tepung daun murbei (7,02+0,14). Sehingga bakteri rumen tidak berkembang dengan baik karena pH rumen yang lebih asam.
Produksi VFA Rumen
Hasil sidik ragam menunjukkan perlakuan nyata (P<0,05) berpengaruh terhadap produksi VFA dalam rumen. Pemberian tepung daun murbei dalam ransum (pada P2 dan P3) dapat meningkatkan konsentrasi VFA dalam rumen. Konsentrasi VFA tertinggi terdapat pada sapi yang diberi ransum jerami padi, konsentrat dan tepung daun murbei (P2), sedangkan yang paling rendah terdapat pada sapi yang diberi ransum jerami padi dan konsentrat (P1/kontrol). Gambar 8 menunjukkan histogram produksi VFA pada setiap perlakuan.
Keterangan :
P1 = 50% Jerami Padi + 50% Konsentrat
P2 = 50% Jerami Padi + 25% Konsentrat + 25% Tepung Daun murbei P3 = 50% Jerami Padi + 50% Tepung Daun Murbei
Gambar 8. Produksi VFA Rumen Pakan yang Mengandung Daun Murbei sebagai Pengganti Konsentrat.
Menurut Sutardi (1980), konsentrasi VFA yang dibutuhkan untuk pertumbuhan optimal mikroba rumen sekitar 80-160 mM. Konsentrasi VFA yang melebihi kisaran normal dapat menyebabkan mikroba rumen mati karena pH rumen
0 20 40 60 80 100 120 P1 P2 P3 V F A R u m e n ( m M ) Perlakuan 108.75b 75.22a 89.12ab
24 turun. Konsentrasi VFA pada ransum P2 (108,75 mM) masih berada pada kisaran normal, sehingga berdasarkan produksi VFA rumen ransum P2 lebih baik dibandingkan P1 dan P3. Tingginya konsentrasi VFA pada ransum P2 yang terdiri dari jerami padi, konsentrat dan daun murbei disebabkan adanya sinkronisasi C dan N antara DNJ dalam murbei dengan karbohidrat mudah tercerna (RAC) pada konsentrat sehingga memberikan efek positif pada perkembangan bakteri rumen.
DNJ pada ransum P2 yang terdiri dari jerami padi, konsentrat dan tepung daun murbei memperlambat hidrolisis pakan dalam rumen, sehingga ketersediaan RAC menjadi lebih seimbang dan membuat kondisi rumen tetap stabil yang memungkinkan lebih banyak terbentuk VFA. Yulistiani (2008) menyatakan bahwa kondisi rumen yang diberi pakan campuran murbei lebih baik dibandingkan dengan pakan yang hanya mengandung konsentrat.
Untuk mendapatkan energi awal, bakteri rumen pencerna serat kasar akan mencerna RAC pada konsentrat terlebih dahulu kemudian mencerna serat kasar pada daun murbei dan jerami padi untuk menghasilkan VFA serta gas CH4 dan CO2
sebagai hasil sampingan. Pada ransum P1 yang terdiri dari konsentrat dan jerami padi diduga banyak tersedia RAC namun karena terlalu cepat dihidrolisis, sehinga pH rumen turun lebih cepat yang berakibat terbentuknya asam laktat, sedangkan pada ransum P3 kandungan DNJ yang ada tidak diimbangi dengan ketersediaan RAC pakan, sehingga tidak terjadi sinkronisasi seperti pada ransum P2.
25