Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Lapang Ternak Daging dan Kerja, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, dari bulan Juli sampai Agustus 2008.
Materi Hewan Percobaan
Hewan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sapi potong jantan jenis PO (Peranakan Ongole ) sebanyak dua belas ekor berumur + 2 tahun dengan bobot rata-rata 217,16±10,53 kg
Alat yang Digunakan
Peralatan yang digunakan antara lain kandang individu berukuran 2x1 m2, Kit test, pH meter, tabung destilasi, oven, timbangan, alumunium foil serta tabung dan alat sentrifuge.
Ransum yang Diberikan
Ransum yang digunakan pada penelitian ini terdiri atas jerami padi, tepung daun murbei dan konsentrat. Komposisi ransum penelitian disajikan dalam Tabel. 3 dan komposisi zat makanan pakan disajikan pada Tabel 4.
Tabel 3. Susunan Ransum Penelitian
Bahan Ransum Penelitian P1 P2 P3 --- (%) --- Jerami Padi Murbei Jagung Bungkil kedelai Bungkil kelapa Pollard Onggok Molases Urea DCP 50 0 10,72 8,935 7,5 15,095 3 3,5 1 0,25 50 25 5,36 4,4675 3,75 7.5475 1,5 1,75 0,25 0,125 50 50 - - - - - - - - Total 100 100 100
14 Tabel 4. Kandungan Zat Makanan Ransum Penelitian.
Zat makanan Ransum Penelitian P1 P2 P3 ---(%)--- TDN Protein Kasar Serat Kasar Lemak Kasar 60,6 13,7 15,47 3,35 61,1 13,7 16.94 2,72 61,5 13,7 18,41 2,1 Sumber : Laboratorium Biologi Hewan,
Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, IPB (2007)
Prosedur Pemeliharaan
Dua belas ekor sapi dibagi menjadi tiga perlakuan dan setiap perlakuan mempunyai empat ulangan. Ternak dipelihara dalam kandang individu selama sepuluh minggu. Dua minggu pertama digunakan sebagai masa adaptasi pakan (preliminary) dan pada minggu ketiga sampai ke sepuluh dilakukan pengamatan. Pemberian pakan 2,5-3% dari bobot badan dilakukan dua kali sehari, pada pagi hari pukul 06.00 – 07.00 WIB dan pada sore hari pada pukul 16.00 – 17.00 WIB. Pakan diberikan dengan cara dicampurkan antara konsentrat atau murbei dengan jerami padi, sedangkan pemberian air minum secara ad libitum.
Pembuatan Tepung Daun Murbei
Daun murbei segar dibeli dari daerah Cipanas Bogor, Jawa Barat. Daun tersebut kemudian dijemur di bawah terik matahari sampai kering. Daun kering digiling dengan mesin penggiling untuk mendapatkan tepung dengan ukuran partikel yang homogen.
Pengambilan sampel feses dan cairan rumen
Pengumpulan sampel feses dilakukan selama 5 (lima) hari pada masa akhir penelitian. Pengambilan dilakukan secara manual dengan mengambil feses setiap sapi ekskresi menggunakan sekop dan ember. Pengambilan sampel feses segar sebanyak 5% dari total feses segar, sedangkan pengambilan sampel untuk laboratorium sebanyak 1% dari total bobot kering feses selama 5 (lima) hari (Gutte, 1984).
15 Cairan rumen diambil pada saat hari terakhir pengumpulan feses. Cairan rumen diambil sebanyak 20 ml dengan cara disedot langsung menggunakan pompa melalui selang kecil yang dimasukkan ke dalam rumen sapi (stomach tube).
Metode Perlakuan Penelitian
Penelitian ini menggunakan 3 ransum perlakuan dengan 4 ulangan. Susunan ransum perlakuan adalah sebagai sebagai berikut :
P1 = 50% Jerami padi + 50% Konsentrat (kontrol)
P2 = 50% Jerami padi + 25 % Konsentrat + 25 % Daun murbei P3 = 50% Jerami padi + 50 % Daun murbei
Model
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan model matematik sebagai berikut (Mattjik dan Sumerta Jaya, 2002)
Yij = µ + τi + εij
Keterangan : i : Perlakuan j : Ulangan
Yij : Pengamatan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j
µ : Rataan umum
τi : Pengaruh pelakuan ke-i
εij : Pengaruh acak pada perlakuan ke-i ulangan ke-j
Peubah yang diamati
Peubah yang diamati pada penelitian ini yaitu kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, kecernaan protein, kecernaan lemak, kecernaan serat, konsentrasi VFA cairan rumen.
1. Kecernaan Bahan Kering
Kecernaaan bahan kering didapatkan dengan cara mengurangi bahan kering konsumsi dengan bahan kering feses lalu dibagi dengan bahan kering konsumsi yang kemudian dikali seratus persen. Bahan kering konsumsi didasarkan pada hasil analisis proksimat dan bahan kering feses diukur dari hasil rata-rata pengukuran
16 bahan kering feses selama empat hari terakhir periode penelitian. Koefisien cerna bahan kering dihitung dengan menggunakan rumus :
% = BK konsumsi−BK feses
� � x 100%
2. Kecernaan protein kasar
Kecernaan protein dapat dihitung dengan cara kandungan protein bahan yang dikonsumsi dikurangi kandungan protein feses lalu dibagi dengan kandungan protein bahan yang dikonsumsi kemudian dikali seratus persen. Protein yang dikonsumsi didasarkan pada hasil analisis proksimat bahan pakan dan protein feses diukur dari hasil rata-rata pengukuran protein feses selama lima hari terakhir periode penelitian. Koefisien cerna protein dihitung dengan menggunakan rumus :
��� �� � % = konsumsi PK−PK feses
� �� x 100%
3. Kecernaan serat kasar
Kecernaan serat dapat dihitung dengan cara kandungan serat kasar bahan yang dikonsumsi dikurangi kandungan serat kasar feses lalu dibagi dengan kandungan serat kasar bahan yang dikonsumsi kemudian dikali seratus persen. Serat kasar yang dikonsumsi didasarkan pada hasil analisis proksimat bahan pakan dan serat kasar feses diukur dari hasil rata-rata pengukuran serat kasar feses selama lima hari terakhir periode penelitian. Koefisien cerna serat dihitung dengan menggunakan
rumus :
��� �� � % = konsumsi SK−SK feses
� �� x 100%
4. Kecernaan lemak kasar
Kecernaan lemak dapat dihitung dengan cara kandungan lemak bahan yang dikonsumsi dikurangi kandungan lemak feses lalu dibagi dengan kandungan lemak bahan yang dikonsumsi kemudian dikali seratus persen. lemak yang dikonsumsi didasarkan pada hasil analisis proksimat bahan pakan dan lemak feses diukur dari hasil rata-rata pengukuran lemak feses selama lima hari terakhir periode penelitian. Koefisien cerna lemak dihitung dengan menggunakan rumus :
17 ��� �� % = konsumsi LK−LK feses
� � x 100%
5. Konsentrasi VFA
Konsentrasi VFA diukur menggunakan teknik destilasi uap dengan menggunakan prinsip asam-basa (General Laboratory Prosedure, 1966). Lima mililiter supernatan (berasal dari cairan rumen sapi yang telah disentrifuge) dimasukkan ke dalam tabung destilasi, kemudian ditambahkan 1 ml H2SO4 15%.
Dinding tabung dibilas dengan aquadest dan secepatnya ditutup dengan sumbat karet yang telah dihubungkan dengan pipa destilasi berdiameter 0,5 cm. Kemudian ujung pipa yang lain dihubungkan dengan alat pendingin Liebig. Tabung destilasi dimasukkan ke dalam labu didih yang telah berisi air mendidih tanpa menyentuh permukaan air tersebut.
Hasil destilasi berupa VFA akan tertangkap dalam labu erlenmeyer yang telah diisi 5 ml NaOH 0,5 N. Destilat ditampung hingga mencapai +300 ml. Destilat yang tertampung ditambah indikator phenophtalein (PP) sebanyak 2-3 tetes, lalu dititrasi dengan HCl 0,5 N sampai terjadi perubahan dari warna merah jambu menjadi tidak berwarna (bening). Konsentrasi VFA total diukur dengan rumus :
VFA total = (a-b) x N HCl x 1000/5 ml Keterangan:
a : Volume titran blanko b : Volume titran sampel
Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis statistik (Analysis of Variance) dan dilanjutkan dengan uji jarak Duncan (Steel and Torrie, 1991).
18
HASIL DAN PEMBAHASAN