Tekanan darah adalah kuatnya darah menekan dinding pembuluh darah saat dipompa dari jantung menuju ke seluruh jaringan tubuh. Di dalam tubuh manusia, tekanan darah dibedakan menjadi dua bagian, yakni tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik. Tekanan darah sistolik menunjukkan besarnya tekanan pada dinding pembuluh darah pada saat jantung berkontraksi (jantung berdenyut). Dengan kata lain, tekanan darah sistolik adalah besarnya tekanan tertinggi (saat jantung berkontraksi) pada pembuluh darah pada saat waktu tertentu, yaitu saat darah dipompa dari ventrikel kiri. Tekanan darah diastolik menunjukkan besarnya
tekanan pada dinding pembuluh darah pada saat otot jantung rileks di antara dua denyutan (Purwati et.al 2002).
Berdasarkan tekanan darah sistolik terdapat 11.9% subjek yang mengalami hipertensi tingkat 1 dan 5.1% yang mengalami hipertensi tingkat 2. Rata-rata tekanan darah sistolik subjek yaitu 122.05±18.71 mmHg yang artinya proporsi terbesar subjek berada pada kategori normal untuk tekanan darah sistoliknya (54.2%) (Tabel 7). Tekanan darah sistolik subjek berkisar antara 90−171 mmHg. Jika berdasarkan tekanan darah diastolik terdapat 8.5% yang mengalami hipertensi tingkat 1 dan 11.9% yang hipertensi tingkat 2. Rata-rata tekanan darah diastoliknya 81.02±12.37 mmHg dengan kisaran 73−110 mmHg (Tabel 7). Tekanan darah sistolik umumnya menunjukkan angka yang lebih besar dibandingkan angka diastoliknya.
Tabel 7 Sebaran subjek berdasarkan klasifikasi hipertensi
Variabel n % Sistolik Normal 32 54.2 Prehipertensi 17 28.8 Hipertensi tingkat 1 7 11.9 Hipertensi tingkat 2 3 5.1 Total 59 100 Diastolik Normal 30 50.8 Prehipertensi 17 28.8 Hipertensi tingkat 1 5 8.5 Hipertensi tingkat 2 7 11.9 Total 59 100
Subjek dikatakan hipertensi jika tekanan darah sistolik dan diastoliknya dan/atau melebihi batas normal. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dilihat bahwa besarnya prevalensi hipertensi yang ditemukan pada penelitian ini yaitu sebesar 22.1% dimana 6.8% termasuk hipertensi tingkat 1 dan 15.3 persennya termasuk hipertensi tingkat 2 (Gambar 2). Proporsi prehipertensi cukup besar yaitu sebesar 37.3%. Hal ini perlu diwaspadai karena berisiko menjadi hipertensi seiring dengan meningkatnya faktor risiko (Syofyarti 2013).
Karakteristik Subjek
Menurut UU RI No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, menyatakan bahwa pekerja dewasa jika berumur 18 tahun ke atas. Kisaran umur subjek antara 29 hingga 48 tahun dengan rata-rata umur 41.31±4.52 tahun (Tabel 7). Walaupun penuaan tidak selalu memicu hipertensi, tekanan darah tinggi biasanya terjadi pada usia lebih tua. Pada usia antara 30−65 tahun, tekanan sistolik meningkat rata-rata sebanyak 20 mmHg dan terus meningkat setelah usia 70 tahun (Casey et al.
2006). Hal ini mengindikasikan bahwa rata-rata umur subjek tergolong pada kelompok umur yang rentan terhadap hipertensi (30−50 tahun). Sebagian besar subjek berumur lebih dari 40 tahun (62.7%).
Stres dapat meningkatkan aktivitas saraf simpatik yang mengatur fungsi saraf dan hormon, sehingga dapat meningkatkan denyut jantung, menyempitkan pembuluh darah, dan meningkatkan retensi air dan garam (Syaifuddin 2006). Faktor lain seperti status pernikahan dan besar keluarga merupakan faktor lain yang dapat memicu stres terutama pada wanita. Semakin banyak anggota keluarga maka diduga memicu stres yang lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga yang anggotanya lebih sedikit. Seperti halnya besar keluarga, status pernikahan pun dapat mempengaruhi tingkat stres seseorang dan secara tidak langsung mempengaruhi tekanan darah.
Kisaran besar keluarga subjek yaitu 1−7 orang. Sebagian subjek termasuk ke dalam keluarga kecil (96.6%) dan sisanya termasuk ke dalam keluarga besar (3.4%). Secara umum, rata-rata besar keluarga subjek adalah 3.42±1.23 orang (Tabel 8). Sebagian besar subjek sudah menikah (83.1%), sedangkan sisanya tidak menikah (16.9%). Subjek yang dikategorikan tidak menikah terdiri dari subjek yang belum menikah (11.9%) dan cerai mati (5%). Subjek yang sudah menikah umumnya sudah berkeluarga (Tabel 8).
Tingkat pendidikan berpengaruh kepada sikap dan perilaku seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka diharapkan akan semakin luas pengetahuan serta semakin mudah dan cepat untuk menerima berbagai informasi dari berbagai media (Notoatmodjo 2003). Tingkat pendidikan dapat mempengaruhi konsumsi pangan seseorang dimana semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tingkat pengetahuan gizi seseorang sehingga pemilihan pangan akan lebih baik. Proporsi terbesar subjek berada di tingkat pendidikan yang masih rendah dimana pendidikan tertinggi hanya sampai SMA (81.4%). Hanya sebagian kecil yang melanjutkan hingga perguruan tinggi (18.6%). Tidak ada subjek yang tidak sekolah atau tidak tamat SD dan pendidikan tertinggi yang ditempuh subjek hingga S1 (Tabel 8).
Pekerjaan berhubungan dengan tingkat penghasilan. Sementara itu, penghasilan berhubungan dengan gaya hidup seseorang. Menurut SK Gubernur Nomor 561, UMR Kabupaten Bogor pada tahun 2014 yaitu Rp 2 242 240. Kisaran gaji subjek adalah Rp 1 000 000−Rp 9 500 000 per bulan. Rata-rata subjek memiliki gaji sebesar Rp 2 929 627 ± 1 772 787 per bulan. Lebih dari separuh subjek (78%) masih memiliki gaji yang rendah dan sisanya tergolong memiliki gaji yang tinggi (22%) (Tabel 8).
Masa kerja subjek yang paling baru di pabrik yaitu 5 tahun, sedangkan masa kerja terlama subjek adalah 27 tahun. Rata-rata subjek bekerja selama 18.96±5.97 tahun. Sebagian besar subjek berada pada masa kerja ≤ 20 tahun (50.8%) dan
tergolong masih baru (Tabel 8). Masa kerja menunjukkan lamanya subjek beradaptasi dengan lingkungan kerjanya dan dapat melihat tingkat stres pada pekerja yang lebih lama bekerja dibandingkan yang baru.
Tabel 8 Sebaran subjek berdasarkan karakteristik subjek
Karakteristik subjek n % Umur ≤ 40 tahun 22 37.3 > 40 tahun 37 62.7 Total 59 100 Besar keluarga Kecil (≤ 4 orang) 51 86.4 Besar (> 4 orang) 8 13.6 Total 59 100 Status pernikahan Menikah 49 83.1 Tidak menikah 10 16.9 Total 59 100 Tingkat pendidikan
Tinggi (SMA ke atas) 11 18.6
Rendah (SMA ke bawah) 48 81.4
Total 59 100 Gaji Tinggi 13 22.0 Rendah 46 78.0 Total 59 100 Masa kerja Baru 30 50.9 Lama 29 49.1 Total 59 100 Gaya Hidup
Gaya hidup merupakan hasil dari interaksi berbagai faktor sosial, budaya, dan lingkungan. Perubahan kebiasaan makan menyebabkan perubahan pada gaya hidup. Hal ini juga berarti bahwa gaya hidup dapat menentukan bentuk pola konsumsi pangan. Gaya hidup mempengaruhi kebiasaan makan seseorang atau sekelompok orang dan akan berdampak tertentu (positif atau negatif) khususnya yang berkaitan dengan gizi (Suhardjo 1989).
Kebiasaan merokok
Pengujian tekanan darah pada seorang perokok ditemukan bahwa dalam waktu lima menit pengisapan, tekanan sistolik subjek meningkat secara dramatis, rata-rata lebih dari 20 mmHg, sebelum secara bertahap menurun ke tingkat asli tekanan darah mereka setelah 30 menit. Hal ini berarti tekanan darah perokok melonjak berkali-kali sepanjang hari. Peningkatan ini terjadi karena nikotin yang
dapat menyempitkan pembuluh darah dan menimbulkan penggumpalan darah (Casey et al. 2006). Nikotin yang terkandung dalam rokok dapat menyebabkan epinefrin dan norepinefrin dalam darah meningkat sehingga menyebabkan jantung berdebar lebih cepat dan pembuluh darah berkontraksi atau menyempit (Bangun 2008).
Kelompok orang yang merokok dengan jumlah >20 batang setiap hari memiliki risiko 1,14 kali untuk menderita hipertensi dibandingkan subjek yang merokok < 10 batang per hari (Martini dan Hendarti 2003). Kebiasaan merokok juga dapat meningkatkan risiko prehipertensi lebih besar 1.787 kali (95% CI: 1.667−1.916) dibandingkan dengan yang tidak merokok di Sumatera Barat (Rachmawati et al. 2009).
Tabel 9 Sebaran subjek berdasarkan kebiasaan merokok
Kebiasaan merokok n % Tidak pernah 57 96.6 Pernah merokok Ya 1 1 1.7 1.7 Total 59 100
Tabel 9 menunjukkan bahwa subjek yang terbiasa merokok hingga sekarang hanya 1 orang (1.7%), sisanya merupakan mantan perokok (1.7%) dan tidak pernah merokok hingga sekarang (96.6%). Hal ini dikarenakan masih ada anggapan tabu bagi wanita untuk merokok, karena umumnya rokok identik dengan laki-laki.
Kebiasaan minum minuman beralkohol
Keseluruhan subjek tidak ada yang memiliki kebiasaan minum minuman beralkohol dan tidak ada yang memiliki riwayat minum alkohol sebelumnya (Tabel 10). Hal ini dapat diduga karena perempuan masih dianggap tabu apabila mengonsumsi alkohol.
Tabel 10 Sebaran subjek berdasarkan kebiasaan minum minuman beralkohol
Kebiasaan minum minuman beralkohol n %
Tidak 59 100
Ya 0 0
Total 59 100
Alkohol bersifat meningkatkan aktivitas saraf simpatis karena dapat merangsang sekresi corticotropin releasing hormone (CRH) yang berujung pada peningkatan tekanan darah (Irza 2009). Jika dibandingkan dengan orang yang bukan peminum alkohol, maka terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal tingginya tekanan darah. Sebesar 5−7% penyebab hipertensi pada suatu populasi adalah dikarenakan konsumsi alkohol (Appel et.al 2006 dalam Krummel 2004). Konsumsi alkohol 3 kali per hari dapat menjadi pencetus meningkatnya tekanan darah dan berhubungan dengan peningkatan 3 mmHg tekanan darah sistolik seseorang (Krummel 2004).
Kebiasaan minum kopi
Kopi mengandung kafein yang dapat meningkatkan debar jantung dan naiknya tekanan darah. Kafein merupakan salah satu zat yang terdapat dalam kopi yang meningkatkan pelepasan hormon norepinefrin yang akan menyebabkan vasokontriksi dan membatasi aliran darah (Wijayakusuma dan Dalimartha 2005).
Pada penelitian ini ditemukan bahwa sebanyak 30.5% subjek terbiasa minum kopi dalam sehari. Dari jumlah tersebut rata-rata subjek mengonsumsi kopi sebanyak 0.97±0.32 gelas per harinya dan tidak ada subjek yang mengonsumsi lebih dari 2 gelas per hari. (Tabel 11). Berdasarkan penelitian Zhang et al. (2011) risiko hipertensi meningkat sampai konsumsi kopi 3 cangkir/hari (1 cangkir = 237 ml) dan kemudian akan sedikit menurun pada jumlah konsumsi yang lebih tinggi.
Tabel 11 Sebaran subjek berdasarkan kebiasaan minum kopi
Variabel n %
Kebiasaan minum kopi
Ya 18 30.5
Tidak 41 69.5
Total 59 100
Jumlah kopi yang dikonsumsi < 1 gelas/hari
≥ 1 gelas/hari 44 15
74.6 25.4
Total 59 100
Pertama kali minum kopi Tidak minum kopi
≤ 1 tahun yang lalu 41 4
69.4 6.8
2−5 tahun yang lalu 6 10.2
>5 tahun yang lalu 8 13.6
Total 59 100
Manfaat minum kopi Tidak tahu/tidak jawab Menghilangkan kantuk 41 7 69.5 11.9 Menambah semangat 4 6.8 Menghilangkan pusing 2 3.4 Lain-lain 5 8.5 Total 59 100 *gelas = ukuran 200ml
Jenis kopi yang umum diminum oleh subjek yaitu kopi instan dan kopi hitam bubuk. Berdasarkan penelitian Wahyuni (2013), kopi hitam bubuk adalah kopi yang tidak mudah larut jika diseduh dengan air panas dan meninggalkan sisa ampas kopi, sedangkan kopi instan adalah kopi yang bersifat mudah larut (soluble) jika diseduh dengan air panas tanpa meninggalkan sisa ampas kopi. Berdasarkan penuturan subjek, jenis kopi yang sering dikonsumsi subjek yaitu kopi instan (34.5%) dengan merek Good Day, Luwak White Coffee, Nescafe, dan ABC Susu. Namun tidak jarang subjek yang mengonsumsi kopi hitam bubuk (65.5%) dengan merek Cap Liong, Cap Singa, dan Kapal Api. Kopi kemasan yang dikonsumsi subjek per hari umumnya 1 sachet/1 gelas tanpa tambahan gula.
Untuk kopi hitam bubuk, subjek mengonsumsi rata-rata mengonsumsi sebanyak 1 sendok makan (sdm) kopi dengan tambahan gula 1 sdm untuk 1 gelas.
Kandungan kafein dalam kopi murni (250 ml) adalah 150-240 mg, sedangkan untuk kopi instan 250 ml adalah 80-120 mg (ADF 2011). Asupan tinggi kafein yaitu sekitar ≥400 mg per hari (Kovacs 2011). Jumlah ini setara dengan 2-3 gelas kopi (200ml) untuk kopi murni dan 4-6 gelas kopi (200ml) untuk kopi instan.
Sebagian besar subjek yang memiliki kebiasaan minum kopi mengaku bahwa pertama kali minum kopi yaitu lebih dari 5 tahun yang lalu. Ada subjek yang mengaku sudah terbiasa minum kopi sejak dahulu (usia muda) dan ada yang baru terbiasa semenjak bekerja di pabrik. Masa minum kopi terlama subjek yaitu sekitar 33 tahun, sedangkan yang terbaru sekitar 10 bulan terbiasa minum kopi. Alasan subjek mengonsumsi kopi karena dirasa kopi dapat memberikan efek sugesti yang berbeda setiap individunya. Sebagian besar subjek merasa manfaat minum kopi yaitu untuk menghilangkan kantuk (38.9%), menambah semangat (22.2%), serta menghilangkan pusing (11.1%). Lainnya mengatakan bahwa kopi bermanfaat untuk menghilangkan mual, mengurangi kanker, dan membuat badan enak (Tabel 11).
Kebiasaan olahraga
Olahraga adalah segala aktivitas fisik yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis untuk mendorong, membina, dan mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial (Mutohir dan Maksum 2007). Orang yang kurang aktif berolahraga akan lebih berisiko 30-50% mengalami hipertensi dibandingkan yang aktif. Metaanalisis menunjukkan bahwa terdapat keuntungan dari pengaruh olahraga terhadap tekanan darah. Analisis pertama menunjukkan bahwa berjalan kaki pada orang dewasa dapat mengurangi tekanan darah rata-rata sebesar 2% (Kelley et.al 2001 dalam Krummel 2004). Analisis kedua, menunjukkan bahwa aerobik menurunkan tekanan darah sistolik rata-rata 4 mmHg dan tekanan darah diastolik 2 mmHg pada pasien dengan atau tanpa tekanan darah tinggi (Whelton et al 2002 dalam Krummel 2004). Ketidakaktifan fisik akan meningkatkan risiko gangguan kesehatan termasuk tekanan darah tinggi. Olahraga dapat mencegah terbentuknya plak di arteri dengan meningkatkan High Density Lipoprotein
(HDL) dan menurunkan Low Density Lipoprotein (LDL). Selain itu, olahraga dapat melindungi dinding arteri, dan menurunkan berat badan berlebih (Casey et al. 2006).
Subjek yang memiliki kebiasaan olahraga sebanyak 55.9% sedangkan yang tidak yaitu 44.1%. Ini dapat dikatakan bahwa lebih dari separuh subjek memiliki kebiasaan olahraga (Tabel 12). Jenis olahraga yang paling banyak dilakukan oleh subjek yaitu jalan pagi/sore (72.7%) dan jogging (24.2%). Olahraga ini digemari karena sangat mudah dilakukan di waktu senggang dan tidak memerlukan banyak biaya untuk dikeluarkan. Selain itu, subjek juga ada yang terbiasa melakukan olahraga seperti senam aerobik (18.2%), stretching (15.2%), bulutangkis (9.1%), bersepeda (3%) dan renang (3%).
Menurut jenisnya, olahraga dibedakan menjadi olahraga aerobik dan anaerobik. Olahraga aerobik merupakan aktivitas fisik yang dirancang untuk meningkatkan konsumsi oksigen dan meningkatkan fungsi sistem respirasi dan
sistem kardiovaskular (Dorland’s Medical Dictionary 2007). Olahraga aerobik dengan durasi minimal 30 menit yang dilakukan dengan rutin (3 kali/minggu) dengan intensitas ringan-sedang dapat menurunkan tekanan darah sebesar 15 mmHg (Cade et al. 1984). Olahraga yang termasuk olahraga aerobik adalah jalan cepat, jogging, renang, dansa, atau bersepeda sehingga dapat dikatakan bahwa jenis olahraga yang sering dilakukan oleh subjek termasuk olahraga aerobik.
Durasi olahraga subjek berada antara antara 0 hingga 240 menit dengan rata-rata 35.42±51.53 menit. Durasi terlama subjek melakukan olahraga yaitu 240 menit dimana jenis olahraga yang dilakukan yaitu jalan pagi/sore. Hasil ini dapat dikatakan bahwa rata-rata durasi subjek sudah cukup karena memenuhi angka anjuran olahraga yang dapat menurunkan tekanan darah menurut Cade et al. (1984) yaitu selama 30 menit. Namun sebagian besar subjek masih tergolong rendah untuk durasi olahraganya (55.9%).
Tabel 12 Sebaran subjek berdasarkan kebiasaan olahraga
Kebiasaan Olahraga n % Ya 33 55.9 Tidak 26 44.1 Total 59 100 Jenis Olahraga* Jogging 8 24.2 Jalan pagi/sore 24 72.7 Senam aerobik 6 18.2 Stretching 5 15.2 Renang 1 3.0 Bersepeda 1 3.0 Bulutangkis 3 9.1 Durasi Olahraga Rendah 33 55.9 Tinggi 26 44.1 Total 59 100 Frekuensi Olahraga Sering 9 15.3 Tidak sering 50 84.7 Total 59 100
Keterangan: *) persentase berdasarkan jumlah subjek yang memiliki kebiasaan olahraga
Frekuensi olahraga subjek masih dikatakan belum baik karena sebagian besar subjek melakukan olahraga dengan frekuensi yang rendah atau tidak sering (84.7%) dan hanya sebagian kecil yang memiliki frekuensi olahraga yang sering (15.3%). Rata-rata frekuensi olahraga subjek yaitu 1.32±1.88 kali/minggu dengan kisaran 0-9 kali/minggu. Hasil ini dapat dikatakan bahwa rata-rata frekuensi olahraga subjek masih di bawah anjuran Cade et al. (1984) yang mengatakan 3 kali/minggu merupakan olahraga yang baik untuk hipertensi.
Kebiasaan makan makanan berisiko
Suhardjo (1989) mendefinisikan kebiasaan makan adalah kebiasaan dan perilaku yang berhubungan dengan makanan dan makan seperti tata krama, frekuensi makan, pola makan yang dimakan, kepercayaan terhadap makanan, serta cara pemilihan bahan makanan yang hendak dikonsumsi. Kebiasaan makan yang berkenaan dengan kejadian hipertensi tergolong menjadi kebiasaan makan makanan berisiko dan makanan yang dapat menghambat terjadinya hipertensi. Kebiasaan makan makanan berisiko diantaranya konsumsi makanan asin, makanan yang diawetkan, makanan berlemak tinggi, dan makanan manis atau tinggi kalori. Sedangkan terbiasa mengonsumsi buah dan sayur merupakan faktor yang dapat menghambat terjadinya hipertensi.
Penelitian yang dilakukan oleh Dauchet et al. (2007) menyebutkan bahwa peningkatan konsumsi sayur dan buah serta penurunan konsumsi lemak total dan lemak jenuh, dapat menurunkan tekanan darah. Kandungan zat gizi seperti kalium dan serat serta antioksidan pada buah dan sayur yang cukup banyak terbukti mampu menurunkan tekanan darah. Kalium merupakan ion utama di dalam cairan intraseluler. Cara kerja kalium adalah kebalikan dari natrium dimana konsentrasi kalium yang banyak di dalam cairan intraseluler dapat cenderung menarik cairan di bagian ekstraseluler dan menurunkan tekanan darah (Nurrahmani 2012). Kebiasaan makan makanan berisiko yang diteliti dalam penelitian ini diantaranya kebiasaan makan makanan asin, awetan, dan berlemak.
Makanan asin dan awetan. Riskesdas (2007) menemukan bahwa hampir 24.5% penduduk Indonesia berusia di atas 10 tahun mengonsumsi makanan asin satu kali atau lebih tiap harinya. Sedangkan untuk makanan yang diawetkan proporsinya sebanyak 6.3%. Makanan asin merupakan makanan yang ditambahkan garam maupun penguat rasa (mononatrium glutamat) dalam jumlah banyak sehingga umumnya memiliki kandungan natrium yang tinggi. Natrium banyak terdapat pada makanan awetan (natrium benzoat dan natrium metabisulfit). Makanan awetan seperti makanan kaleng dan makanan kemasan mulai banyak dijumpai sekarang karena dinilai praktis dan cepat saji. Makanan awetan yang diteliti dalam penelitian ini tidak termasuk makanan yang diawetkan dengan penambahan gula (manisan) dan hanya produk-produk makanan industri.
Menurut Instalasi Gizi RSCM dan AsDI (2006), natrium adalah kation utama dalam cairan ekstraseluler tubuh yang mempunyai fungsi menjaga keseimbangan cairan dan asam basa tubuh, serta berperan dalam transmisi saraf dan kontraksi otot. Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah sehingga berdampak kepada jantung yang memompa lebih kuat sehingga tekanan darah menjadi naik. Jika kejadian ini terus menerus terjadi maka dapat menimbulkan hipertensi. Sumber natrium/sodium yang utama adalah natrium klorida (garam dapur), penyedap masakan (monosodium glutamat), dan sodium karbonat (pengawet makanan).
Berdasarkan Tabel 13, tiga jenis makanan asin yang paling sering dikonsumsi adalah ikan asin, kacang, dan keripik asin. Ikan asin merupakan makanan yang sering dikonsumsi oleh subjek dengan frekuensi 1.3 kali per minggunya. Menurut penuturan subjek, ikan asin digemari karena rasanya yang
enak dan harganya cukup murah sehingga mudah didapatkan. Namun jika dilihat dari jumlah konsumsi per minggunya, konsumsi ikan asin tidak terlalu tinggi. Hal ini dikarenakan umumnya subjek mengonsumsi ikan asin dalam jumlah yang sedikit dalam artian URT (Ukuran Rumah Tangga) hanya potongan kecil. Snack
asin seperti kacang dan keripik asin dikonsumsi subjek dengan frekuensi masing-masing 1.0 dan 0.5 kali per minggunya. Umumnya subjek membeli kedua snack
ini di koperasi pabrik yang tersedia dalam ukuran plastik kecil. Kacang yang dikonsumsi merupakan jenis kacang tanah goreng, kacang kulit hingga kacang atom. Sedangkan keripik asin yang dikonsumsi subjek diantaranya keripik singkong dan keripik kentang.
Tabel 13 Frekuensi dan jumlah konsumsi makanan asin dan awetan subjek Jenis makanan asin dan awetan Frekuensi (kali/minggu) Jumlah konsumsi (g/minggu) Jumlah konsumsi (g/hari) Asupan natrium (mg) Kontribusi (%)* Ikan asin 1.3 44.2 6.3 154.2 10.3 Kacang 1.0 31.4 4.5 17.8 1.2 Keripik asin 0.5 23.5 3.4 7.2 0.5 Telur asin 0.1 4.2 0.6 0.7 0.05 Keju 0.1 2.1 0.3 3.8 0.3 Mie instan 1.0 80.5 11.5 167.9 11.2 Sosis 0.4 14.9 2.1 21.3 1.4 Nugget 0.2 7.4 1.1 6.9 0.5 Sarden 0.1 5.4 0.8 1.9 0.1
Total kontribusi terhadap kecukupan (%) 25.4
*) berdasar kecukupan natrium sehari = 1500 mg
Jenis makanan awetan yang paling sering dikonsumsi subjek yaitu mie instan, sosis, dan nugget. Mie instan merupakan jenis makanan awetan yang paling sering dikonsumsi subjek dengan frekuensi 1 kali per minggu dengan jumlah konsumsi sekitar 80.5 gram/minggu dimana jumlah ini sama dengan berat satu bungkus mie instan. Satu porsi mie instan mengandung natrium kurang lebih 950−1400 mg. Jumlah ini hampir setara dengan kecukupan natrium dalam sehari (1500 mg) jika mie instan ini dikonsumsi setiap hari. Jenis makanan awetan lainnya yaitu sosis dan nugget dengan frekuensi masing-masing 0.4 dan 0.2 kali per minggunya. Kedua jenis makanan ini lebih banyak dikonsumsi di daerah perkotaan karena dinilai praktis dan mudah disajikan. Secara keseluruhan, frekuensi konsumsi makanan asin dan awetan subjek masih dikatakan jarang.
Pangan dikategorikan sebagai sumber vitamin dan mineral apabila kandungan vitamin dan mineralnya 15% dari kebutuhan zat gizi wanita dewasa yang tercantum dalam acuan label gizi (ALG) (BPOM RI 2011). Jenis pangan yang tergolong ke dalam sumber natrium bagi wanita dewasa ialah pangan yang kandungan natriumnya minimal 225 mg per 100 gramnya. Jenis makanan sumber natrium yang dikonsumsi subjek diantaranya ikan asin, kacang, keju, mie instan, sosis, nugget, dan sarden. Kontribusi natrium terbesar berasal dari ikan asin (10.3%) dan mie instan (11.2%). Kedua jenis patut diwaspadai jika dikonsumsi setiap hari karena menyumbang natrium yang cukup banyak. Secara keseluruhan, total kontribusi natrium dari makanan asin dan awetan sebesar 25.4%.
Penggunaan bumbu-bumbu. Bumbu-bumbu yang diamati di penelitian ini diantaranya bumbu-bumbu yang mengandung banyak natrium diantaranya garam, kecap manis, kecap asin, kaldu instan, terasi, dan vetsin (penyedap rasa). Bumbu tersebut banyak dijumpai dan digunakan hampir setiap hari untuk menambah rasa dari suatu masakan. Kebiasaan penggunaan bumbu-bumbu subjek diamati dengan melihat frekuensi penggunaan bumbu tersebut dalam seminggu serta seberapa banyak bumbu tersebut dalam sekali penggunaan. Baik frekuensi maupun jumlah penambahan bumbu dibagi menjadi dua, yaitu penambahan ketika makan dan ketika memasak dikarenakan subjek yang umumnya sudah berkeluarga dan memasak untuk keluarganya.
Tabel 14 Sebaran subjek berdasarkan kebiasaan penggunaan bumbu bumbu
Variabel n %
Penambahan garam, kecap, atau saus ketika makan
Sering 7 11.9
Kadang-kadang 6 10.2
Jarang 46 78
Total 59 100
Penambahan bumbu-bumbu* ketika masak
Sering 41 69.5
Kadang-kadang 4 6.8
Jarang 14 23.7
Total 59 100
Variabel Rata-rata ± SD
Seberapa banyak penambahan bumbu-bumbu ketika makan (gram)
Garam 0.98 ± 2.23
Kecap manis 2.08 ± 4.26
Kecap asin 0.14 ± 0.73
Saus sambal/tomat 3.22 ± 5.93
Seberapa banyak penambahan bumbu-bumbu ketika masak di rumah (gram)
Garam 10.58 ± 9.04 Kecap manis 9.90 ± 14.94 Kecap asin 0.41 ± 1.61 Kaldu instan 3.26 ± 3.42 Vetsin 1.36 ± 2.56 Terasi 1.00 ± 2.24 Saus sambal/tomat 1.10 ± 3.60
Keterangan: Sering (≥ 6 kali/minggu), Kadang-kadang (3-5 kali/minggu), Jarang (≤ 2 kali/minggu)
*) bumbu-bumbu : garam, kecap manis, kecap asin, kaldu instan, vetsin, terasi, atau saus
Lebih dari separuh subjek mengaku termasuk jarang menambahkan bumbu-bumbu seperti garam, kecap, atau saus ketika makan (78%), sisanya mengaku sering (11.9%) dan kadang-kadang (10.2%). Subjek dikatakan sering jika subjek melakukan ≥6 kali/minggu atau dapat dikatakan setidaknya 1 kali waktu makan dalam sehari. Subjek mengatakan bahwa jarang menambahkan bumbu-bumbu
ketika masakan sudah matang dan umumnya hanya pada masakan yang umumnya berkuah seperti bakso, mie instan, dan soto, sedangkan kebanyakan dari mereka tidak mengonsumsi masakan tersebut setiap hari.
Hasil yang berbeda didapat dari frekuensi penambahan bumbu-bumbu tersebut ketika memasak. Sebagian besar subjek mengaku bahwa sering menambahkan bumbu tersebut saat memasak (69.5%), namun tidak sedikit yang mengatakan jarang menambahkan saat masak (23.7%). Hal ini dikarenakan ada subjek yang tidak setiap hari memasak untuk keluarganya. Jika dilihat dari