2 TINJAUAN PUSTAKA
5 HASIL DAN PEMBAHASAN Keragaan Pariwisata Tanjung Lesung
Pengembangan Pariwisata Tanjung Lesung
Departeman Pariwisata, POS dan Telekomunikas, Direktoral Jenderal Pariwisata dan berdasarkan studi JICA tahun 1986 yang melakukan studi inventarisasi potensi-potensi yang dapat dikembangkan sebagai DTW. Hasilnya,
terdapat suatu kawasan yang sangat potensial di Jawa Barat (sekarang menjadi Provinsi Banten) untuk dikembangkan sebagai kawasan pariwisata, salah satunya adalah kawasan pantai Tanjung Lesung.
Lokasi potensial untuk pengembangan pariwisata ini kemudian didorong kepada pihak swasta agar berpartisipasi untuk melaksanakan pengembangan bidang kepariwisataan. Dilakukannya pengembangan sektor pariwisata ini secara visi diharapkan dapat menciptakan DTW yang terdepan di Indonesia dalam meraih kunjungan wisatawan domestik dan bersaing di mancanegara, melalui pembangun Kawasan Pariwisata Tanjung Lesung di Kabupaten Pandeglang.
Pembukaan pariwisata Tanjung Lesung dimulai sejak tahun 1994. Pengelolaan pariwisata Tanjung Lesung dilaksanakan oleh perusahaan pengembang berbadan hukum PT. Banten West Java (BWJ) TDC. PT. Banten West Java melaksanakan kegiatan usaha dibidang objek wisata, kawasan pariwisata dan pembangunan rumah susun (kondominium), pusat pendidikan dan latihan pariwisata.
PT Banten West Java mendapatkan ijin prinsip dari pemerintah, berupa:
1) Surat Gubernur Jawa Barat No. 593/1603/PKPMD/1990 tanggal 22 Mei 1990;
2) SK Bupati Kepala Daerah Tingkat II Pandeglang No. 503.3/132-Huk/90 tanggal 2 Juli 1990;
3) SK Bupati Kepala Daerah Tingkat II Pandeglang No. 593/SK.287- HUK/1995 tanggal 27 Oktober 1995;
4) Surat No. 59/D.2/VI/90 tanggal 7 Juni 1990 tentang dukungan dari Departemen Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi Direktorat Jenderal Pariwisata melalui surat, dimana BWJ diberikan status Tourism Development Coorporation (TDC) untuk melakukan pembangunan dan pengelolaan Kawasan Pariwisata Terpadu di Tanjung Lesung.
BWJ memiliki ijin lokasi untuk melakukan pengembangan Kawasan Pariwisata Terpadu di Tanjung Lesung dengan luas lahan 1.500 ha. Saat ini BWJ telah mengembangkan kawasan pariwisa ta di Tanjung Lesung yang terdiri dari:
1) Pembangunan dan pengelolaan kawasan wisata dan fasilitas pendukungnya, antara lain: pembangunan jalan, jaringan listrik, jaringan telepon, water treatment, waste water treatment.
2) Pembangunan dan pengusahaan perumahan, hotel, villa, dan resort, antara lain: pembangunan penginapan The Bay Villass, Tanjung Lesung Sailing Club, Legon Dadap Village, Green Coral dan The Blue Fish;
3) Pembangunan dan pengelolaan objek wisata, antara lain: Beach Club, Sailing Club, dan Desa Wisata Cikadu.
Izin pengembangan pariwisata dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten Pandeglang tahun 1994 dengan status kepemilikan Lahan berupa Hak Guna Bangunan (HBG). Diteruskan dengan ditetapkannya AMDAL Masterplan Existing Tahun 1997.
Pada tahap awal PT. Banten West Java membangunan operator-operator
wisata; Beach Club tahun 1997, dilanjutkan dengan pembangunan Hotel Bay Villas tahun 1998 dan Sailing Club di Tahun 2000. Pengembangan sempat terhenti dikarenakan belum ada lagi investor yang berminat menanamkan investasinya di kawasan ini.
Seiring berjalannya waktu, Pemeritah Daerah Kabupaten Pandeglang mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 2 tahun 2002 tentang Rencana Pengembangan Kawasan Tanjung Lesung. Perda ini mengatur tentang wilayah perencanaan pengembangan kawasan pariwisata Tanjung Lesung seluas 4.000 Ha yang meliputi Desa Tanjungjaya Kecamatan Panimbang dan Desa Banyuasih Kecamatan Cigeulis. Tujuan dari rencana pengembangan kawasan pariwisata Tanjung Lesung adalah memberikan arahan pengembangan agar semua kawasan investasi dapat terjangkau oleh infrastruktur kawasan dengan sasaran pengembangan, meliputi; (i) Tertatanya kawasan yang berfungsi lindung dan budidaya (ii) Tertatanya sistem transportasi (iii) Tertatanya sarana dan prasarana fasiltitas ekonomi, sosial, dan budaya dan (iv) tertatanya pemukiman penduduk pedesaan. peran pemerintah daerah berkontribusi dalam pengembangan Tanjung Lesung merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah akan pentingnya pengembangan pariwisata. Selain memperjelas posisi Tanjung Lesung sebagai sebuah kawasan wisata, juga dimaksudkan agar dapat menarik investor masuk ke Tanjung Lesung. Setelah keluarnya Perda ini, setidaknya ada penambahan 3 operator yang masuk yakni, Villa Legon di tahun 2008, Blue Fish di tahun 2009 dan Villa Kalicaa di tahun 2011. Gambaran kondisi land use kawasan Tanjung Lesung saat ini, dapat dilihat pada Gambar 5.
Kawasan wisata Tanjung Lesung yang dikembangkan oleh PT. Banten West Java TDC seluas 1500 Ha saat ini memiliki berbagai fasilitas yang sudah dijalankan oleh operator-operator sebagai berikut :
a) Tanjung Lesung Bay Villass Hotel and Resort (115 Kamar) b) Kalicaa Villa (63 Kamar)
c) Sailing Club (18 Kamar)
d) Legon Dadap Village (11 Kamar). e) Blue Fish Hotel (18 Kamar)
f) Fasilitas penunjang berupa Beach Club (watersport), camping ground, driving range, Bodur Garden (Children Play Ground) dan The Bodur Beach (Natural Beach)
Fasilitas wisata yang ada dikawasan Tanjug Lesung dikelola oleh operator dengan kepemilikan dan status pengelolaan yang beragam satu dengan yang lainnya. Pada umumnya pemilik dan pengelola operator wisata di Tanjung Lesung adalah investor dari dalam negeri namun umumnya tidak ada investor dari wilayah Kabupaten Pandeglang sendiri. Selain pengelolaan wisata untuk disewakan, pihak operator juga menjual unit villa kepada perorangan sebagai kepemilikan pribadi, misalnya Villa Legon Dadap dan beberapa unit villa di operator wisata Villa Kalicaa. Gambaran pengelolaan dan kepemilikan dijelaskan pada Tabel 26.
Tabel 26 Operator dan bentuk pengelolaan pariwisata di Tanjung Lesung
Bentuk Wisata/ Operator
Bentuk Pengelolaan/
Kepemilikan Luas Lahan Atraksi (Ragam)
Operasi (Tahun) Beach Club Kerjasama Investor
Dalam Negeri dengan PT. BWJ
2 Ha. Beach activities, Trip ke Ujung Kulon dan ke Gunung Krakatau
1997
Hotel Bay Villas
Investor Swasta Dalam Negeri
10 Ha. Room, general facility, sport & leasure dan dinning
1998 Sailing Club Kerjasama Investor
Dalam Negeri dengan PT. BWJ
2 Ha. Room, general facility, sport & sailing activities, beach activities
2000
Blue Fish Investor Swasta Dalam Negeri
3000 m2 Room, general facility, sport & fishing activities 2009 Villa Kalicaa Investor Swasta Dalam Negeri
12 Ha. Room, general facility, sport & leasure dan dinning
2011 Legon
Dadap
Kepemiliki pribadi Investor Dalam Negeri
4 Ha. Villa -
Pantai Bodur PT. BWJ - Beach activities, sunset viewes, lokasi pedagang kecil
-
Sumber: PT. Banten West Java Tahun 2013
Pemanfaatan Lahan di Kawasan Tanjung Lesung
Total luas lahan yang ada di kawasan Tanjung Lesung ditargetkan mencapai 1.500 ha, saat ini yang telah dikuasai atau dimiliki PT. Banten West Java baru mencapai 1.250 ha, sisanya masih dalam tahap penyelesaian pembebasan. Selain pemanfaatan lahan untuk operator wisata sebagai fasilitas wisata utama, lahan yang ada digunakan juga untuk kantor estate office Banten West Java, terbangun sarana penunjang lainnya, lokasi sistem pengelolaan air bersih dan limbah, lahan Pantai Bodur, lahan perkebunan vegetasi berupa pohon-
Lahan terbangun untuk pemanfaatan pariwisata relatif masih sedikit, kurang dari 200 ha, sisanya lahan kosong yang sebagian digunakan sebagai fasilitas penunjang pariwisata setiap operator wisata, sebagian besar lainnya lahan yang belum termanfaatkan. Lokasi lahan yang di manfaatkan masyarakat setempat seperti perkebunan kayu, Pantai Bodur dan persawahan nampak pada Gambar 6.
Gambar 6 Lahan di dalam Kawasan Tanjung Lesung yang dimanfaatkan masyarakat
Lahan untuk pantai Bodur, lokasi vegetasi pohon dan persawahan, secara keseluruhannya telah dimanfaatkan oleh masyaratakat sekitar dengan persetujuan dari pihak Banten West Java. Lokasi perkebunan kayu dimanfaatkan karena lahan kosong masih sangat luas. Penanaman pohon dilakukan perusahaan Banten West Java bekerjasama dengan masyarakat setempat. Bentuk kerjasamanya ada yang dilaksanakan dengan pola bagi hasil setelah panen dan ada juga sebagian digarap oleh warga dengan mendapatkan upah dari pemilik modal.
Pantai Bodur merupakan lokasi yang banyak dikunjungi oleh wisatawan terutama dari nusantara dan lokal utuk menikmati pantai yang tenang dan bersih juga pemandangan sunset yang bagus dan bulat sempurna. Wisatawan datang kepantai ini sebagai alternatif dari fasilitas berwisata yang ada di kawasan Tanjung Lesung selain atraksi wisata utama. Di Pantai Bodur, masyarakat sekitar memanfaatkan untuk aktivitas berdagang makanan, minuman, penjualan souvenir dan manchandise. Lokasi Pantai Bodur dapat dilihat pada Gambar 7.
Pedagang tidak dipungut biaya apapun oleh pihak Banten West Java untuk aktivitas berdagang dia area ini. Jumlah pedangan di Pantai Bodur/Kalicaah ini ada 30 orang dan jika pada pada moment hari besar mencapai 100 pedagang, terdiri dari pedangan makanan dan minuman, baju pantai, sovenir, juga berdagang hasil kebun seperti petai, emping melinjo, buah-buahan dan lain sebagainya.
Pantai Bodur dipersiapkan oleh pihak PT BWJ bagi masyarakat sebagai bentuk kepedulian dan peberdayaan masyarakat sekitar pada aspek ekonomi. Aktivitas berdagang di pantai ini memiliki waktu-waktu puncak kunjungan misalnya waktu
liburan sekolah, libur panjang, libur hari raya, libur nasional dan tahun baru. Pada musim tahun baru dan hari raya, perolehan omset pedagang kain dan baju mencapai 1 sampai 2 juta rupiah per hari sepanjang liburan hari raya dan waktu
long weekend. Demikian halnya dengan pedangan makanan dan minuman, omset
mereka bisa mencapai Rp. 300 – 500 ribu per hari jika pada hari biasa, saat pengunjug jarang yang datang, para pedagang tidak melakukan aktivitas berdagang secara masif, hanya ada 3 – 5 pedagang makanan saja yang bertahan untuk berdagang dengan perolehan omset hanya Rp. 50.000 – 100.000 ribu per hari.
Pada aspek pertanian, pihak Banten West Java menyediakan lahan sawah seluas 200 ha. untuk digarap oleh masyarakakat sekitar. Setiap keluarga dapat memanfaatkan lahan persawahan minimal 2500 m2 dansebagian besar masyarakat
yang mengelola lahan persawahan ini adalah warga yang dahulunya merupakan pemilik lahan di dalam kawasan yang telah menjual tanahnya ke Banten West Java untuk pengembangan pariwisata tahun 1990-an. Mereka adalah warga
kampung Cikadu, kampung Bojen, Kalicaah, Bodur dan lain-lain. Pemanfaatan
lahan untuk persawahan sudah berjalan sejak adanya kawasan Tanjung Lesung hingga sekarang. Ijin mengelola lahan sawah yang diberikan oleh pengelola Tanjung Lesung hanya diperuntukan kepada warga eks dalam kawasan serta berlaku turun-temurun kepada anak-anaknya, kendati pun ada saja beberapa
diantaranya sudah beralih penggarap di luar warga eks dalam kawasan Tanjung Lesung.
Ketentuan yang mengikat adalah bahwa masyarakat boleh mengelola lahan sawah atas sepengetahuan dan ijin pihak Banten West Java. Oleh pihak pengelola Banten West Java, warga diminta kontribusinya sebesar Rp. 150.000 – 250.000,- per panen. Musim tanam padi di kawasan ini hanya satu tahun sekali
terutama pada musim penghujan. Persahawan di dalam kawasan Tanjung Lesung masih dengan pola tadah hujan karena tidak ada sistem pengairan yang memadai. Jika hasil padi tidak terkena penyakit serius hingga waktu panen, penggarap memperoleh laba bersih 1,2 juta rupiah per petak (2500 m2).
Keragaan Operator Wisata di Tanjung Lesung
Pasokan (Input) Komoditi Semua Operator Wisata Di Tanjung Lesung
Data yang disajikan pada analisis biaya pembelian pasokan komoditi ini merupakan sampel dari beragamnya jenis komoditi ataupun pengeluaran lain setiap operator wisata di Tanjung Lesung. Data yang disajikan bersumber dari lima operator wisata, terdiri atas; (1) Beach Club, (2) Tanjung Lesung Beach Hotel (Bay Villas), (3) Sailing Club, (4) Blue Fish dan (5) Villa Kalicaa.
Pasokan komoditi untuk aktivitas pariwisata Tanjung Lesung di semua operator diperoleh dari beberapa wilayah seperti; Desa Tanjungjaya, Pasar Citeureup, Pasar Panimbang, Pasar Labuan, Serang, Cilegon, Tangerang, Jakarta dan Bali. Pasokan komoditi untuk seluruh operator wisata di Tanjung Lesung dapat dilihat pada Tabel 27.
Tabel 27 Pasokan komoditi semua operator wisata di Tanjung Lesung
Sumber: Data diolah dari 5 operator wisata di Tanjung Lesung tahun 2013
Berdasarkan Tabel 6 di atas, dapat dijelaskan bahwa ada pasokan komoditi diperoleh dari wilayah sekitar kawasan wisata Tanjung Lesung sendiri seperti, Desa Tanjungjaya, Desa Citeureup, dan Kecamatan Panimbang (Pasar dan Tempat Pelelangan Ikan Panimbang), sementara ada pula jenis komoditi yang diperoleh dari luar Kecamatan Panimbang, yakni Kecamatan Labuan, Kota Cilegon, Kabupaten Tangerang, Jakarta dan Bali.
Kelompok komoditi logistik menyerap porsi biaya yang paling besar dengan total Rp. 273.568.057,-per bulan atau 79,5% persen. Jenis komoditi pada kelompok logistik meliputi; sembako (groseries), makanan dan minuman (food and beverage), perawatan (maintanance), engineering (BBM, electrical dan matrial bangunan), alat kantor (stationary), keperluan pembersih (cleaning supply) dan lain-lain. Disusul dengan komoditi untuk keperluan akomodasi (hotel amenities & goods) sebesar Rp 56.086.100,- per bulan atau 16,3 persen dan komoditi untuk atraksi (misalnya keperluan alat untuk memancing, diving, snorkling dan lain-lain) sebesar Rp. 14.322.277,-per bulan atau 4,16 persen.
Pengeluaran untuk belanja komoditi pariwisata lebih banyak ke luar wilayah sekitar kawasan Tanjung Lesung, uang banyak mengalir ke Jakarta dengan total Rp. 214.714.967,-per bulan atau Rp. 2,5 milyar per tahun atau 62,4 persen, disusul ke wilayah Kecamatan Labuan dengan Rp. 51.020.542,-per bulan atau Rp. 612.246.504,- per tahun 14,8 persen. Selanjutnya, belanja komoditi paling banyak juga mengalir ke wilayah Tangerang dengan Rp. 39.636.625,-per bulan atau Rp. 475.639.500,- per tahun atau 11,5 persen. Sementara belanja
No Wilayah Pembelian
Kelompok Komoditi (Rp/Bulan) Total (Rp/Bulan)
Total (Rp/Tahun) % Logistik Akomodasi Atraksi
1 Ds.Tanjungjaya 10.403.333 - - 10.403.333 124.839.996 3,0 2 Ds. Citeureup 4.071.166 - - 4.071.166 48.853.992 1,2 3 Kec. Panimbang 22.785.135 - - 22.785.135 273.421.620 6,6 4 Kec. Labuan 51.020.542 - - 51.020.542 612.246.504 14,8 5 Kota Cilegon 1.078.000 - 100.000 1.178.000 14.136.000 0,3 6 Tangerang 36.534.275 3.102.350 - 39.636.625 475.639.500 11,5 7 Jakarta 147.675.606 52.983.750 14.055.611 214.714.967 2.576.579.601 62,4 8 Bali - - 166.666 166.666 1.999.992 0,05 JUMAH (%) 273.568.057 56.086.100 14.322.277 343.976.434 4.127.717.205 100 79,5% 16,3% 4,16%
komoditi di sekitar kawasan masuk di dalamnya Kecamatan Panimbang, Desa Tanjungjaya dan Desa Cituereup, masing-masing secara berturut-turut dengan 6,6 persen, 3 persen dan 1,2 persen. Selain itu ada belanja jenis komoditi (atraksi) juga mengalir ke Bali dengan nilai relatif sangat kecil yakni 0,05 persen. Proposi belanja komoditi pariwisata Tanjung Lesung antar wilayah dapat dilihat pada Gambar 8.
Sumber: Data Hasil Olah tahun 2013
Gambar 8 Sumber dan persentase nilai pasokan komoditi pariwisata Tanjung Lesung dari wilayah
Secara umum potensi nilai input komoditi untuk keperluan aktivitas pariwisata Tanjung Lesung sangat besar yakni 4,1 milyar per tahun. Kondisi saat ini uang untuk membeli komoditi banyak mengalir ke luar wilayah kawasan Tanjung Lesung, wilayah setempat (sekitar kawasan) memperoleh aliran uang hanya sebesar Rp. 447.115.608,- per tahun.
Latar belakang mengapa pihak operator wisata membeli komoditi dari luar wilayah Panimbang khususnya di supermarket berdasarkan pada pertimbangan ekonomis, kualitas komoditi yang berstandar dan efisiensi. Secara ekonomi karena harga komoditi di supermarket rata-rata dapat lebih murah dari pada harga di pasar lokal. Kualitas produk di supermarket lebih baik dan berstandar, selain itu menjadi efisien karena ketersediaan jenis komoditi yang lebih lengkap dan beragam sehingga dimungkinkan untuk membeli dalam partai besar dan dilakukan di satu tempat. Selain itu, lebih banyak jenis komoditi yang diperlukan untuk keperluan pariwisata tidak tersedia di lokal, baik untuk keperluan logistik, akomodasi dan atraksi.
Berdasarkan hasil pengamatan, tidak sepenuhnya harga semua jenis komoditi lebih murah di supermarket. Harga di pasar lokal (Pasar Panimbang dan Citeureup) yang diperbandingkan dengan harga supermarket khususnya pada komoditi sayuran -setidaknya ada 28 jenis komoditi sayuran- lebih murah di wilayah setempat dari pada komoditi yang dibeli supermarket (mall) dengan
3,0% 1,2% 6,6% 14,8% 0,3% 11,5% 62,4% 0,05% 0.0% 10.0% 20.0% 30.0% 40.0% 50.0% 60.0% 70.0% Desa Tanjungjaya Desa Citeureup Kec. Panimbang
Kec. Labuan Kota Cilegon Tangerang Jakarta Bali
selisih rata-rata 42,9 persen. Jenis komoditi tersebut berupa jenis rempah, palawija termasuk sayur-mayur, sebagian buah-buahan, dan jenis olahan dari kedelai. Sementara untuk beberapa jenis komoditi lainnya harga di lokal dengan di supermarket tidak berbeda atau tidak terlampau jauh berbeda.
Berdasarkan penelitan ini, dapat dijelaskan bahwa tidak sepenuhnya penyelenggaraan kepariwisataan berdampak ekonomi secara optimal bagi masyarakat setempat, namun justru wilayah yang secara lokasi jauh yakni pusat- pusat ekonomi seperti di Jakarta, Tangerang, Cilegon dan termasuk juga Kecamatan Labuan, menerima dampak ekonomi (rente) yang lebih besar dari pada wilayah setempat. Selain karena faktor daya dukung sumber daya yang ada di lokal masih terbatas kualitas dan kuantitas komoditasnya, juga faktor kurangnya perhatian pemerintah terhadap pengembangan jenis komoditi tertentu yang dapat diupayakan dari wilayah setempat misalnya; hasil pertanian, perkebunan, budidaya, dan hasil laut. Selain itu, faktor belum terbangunnya kelembagaan antara pemerintah, pengelola kawasan dan masyarakat dalam sebuah konteks kerjasama terkait dengan pasokan komoditi untuk aktivitas kepariwisataan Tanjung Lesung.
Pasokan Komoditi Masing-masing Opertator Wisata di Tanjung Lesung
Pasokasan komoditi dari lima operator wisata yakni operator Beach Club, Hotel Tanjung Lesung Bech hotel (Bay Villas), Sailing Club, Blue Fish dan Villa Kalicaa dapat diuraikan pada pembahasan berikut:
Operator Beach Club (BC)
Tanjung Lesung Beach Club menawarkan berbagai macam olah raga air dan kegiatan di pantai. Aktivitas atraksi air BC memiliki fasilitas jet ski, banana boat, glass bottom boat, kayak, atau snorkling, berlayar atau fishing. Selain itu, operator ini menawarkan trip ke DTW lainnya, seperti; Gunung Krakatau, Pulau Umang, dan Taman Nasional Ujung Kulon.
Tingkat kunjugan wisatawawan musim ramai (peak season), pada
umumnya terjadi di bulan Mei, Juni, Juli, September, Oktober dan Desember. Sementara kunjungan rendah (low seasons) terjadi di Bulan Januari sampai April Kunjungan wisatawan dipengaruhi oleh waktu liburan, terutama long weekend. Jumlah wisatawan yang berkunjung mengalami peningkatan setiap tahunnya, sebanyak 8.759 orang ditahun 2010, meningkat menjadi 8.759 dan 9.374 orang ditahun 2011 dan 20112.
Jumlah tenaga kerja di operator Beach Club sebanyak 26 karyawan yang terdiri dari tenaga kerja tetap dan kontrak, dengan proporsi 92,3 persen tenaga kerja dari wilayah sekitar (Desa Citeureup dan Tanjungjaya) sisanya dari 7,3 persen dari wilayah luar sekitar kawasan wisata. Gambaran tenaga kerja pada operator Beach Club diuraikan pada Tabel 28.
Tabel 28 Jumlah tenaga kerja Beach Club
Departement Person Sex
Male Female
Manager Club 1 1
Accounting Officer 2 1 1
Boat and beach crew 7 7 -
Maintenance crew 2 2 -
Restaurat crew 8 2 6
waiterss & Houseman 6 3 3
Total 26 16 10
Sumber: Operator wisata Beach Club tahun 2013
Pasokan komoditi untuk aktivitas wisata Beach Club diperoleh dari beberapa wilayah. Untuk jenis komoditi yang tidak tersedia di wilayah sekitar kawasan, pihak managemen membelinya di luar wilayah lainnya seperti Kecamatan Labuan, Kota Cilegon, Jakarta hingga Bali. Pasokan komoditi operator Beach Club diuraikan pada Tabel 29.
Tabel 29 Pasokan Komoditi Operator Beach Club tahun 2012
No Wilayah Pembelian Kelompok Komoditi (Rp/Bulan) Total (Rp/Bulan) Total (Rp/Tahun) % Logistik Atraksi 1 Tanjungjaya 4.603.333 - 4.603.333 55.240.000 17,0 2 Citeureup 3.455.167 - 3.455.167 41.462.000 12,8 3 Panimbang 5.349.125 - 5.349.125 64.189.500 19,8 4 Labuan 1.427.500 - 1.427.500 17.130.000 5,3 5 Cilegon 853.000 100.000 953.000 10.436.000 3,2 6 Jakarta - 9.690.833 9.690.833 116.290.000 35,8 7 Bali - 166.667 166.667 20.000.000 6,2 JUMAH (%) 15.688.125 9.957.500 25.645.625 324.747.500 100 61,2% 38,8%
Sumber: Operator Beach Club diolah tahun 2013
Komoditi yang yang butuhkan di Beach Club meliputi kelompok logistik (jenis barang untuk keperluan dapur, operasional, maintanance, BBM dan lain-
lain) dan atraksi (jenis komoditi untuk keperluan aktivitas laut). Berdasarkan pengelompokan ini, alokasi biaya untuk keperluan logistik lebih besar mencapai 61,2 persen, berikutnya alokasi untuk keperluan atraksi dengan 38,8 persen, sementara biaya untuk keperluan akomodasi tidak ada, karena operator Beach Club tidak menyediakan fasilitas penginapan baik hotel atau villa.
Besaran biaya untuk pembelian komoditi di operator Beach Club mencapai Rp. 8.210.978,- per bulan atau Rp. 98.531.229,- per tahun. Dari total biaya
tersebut, untuk keperluan komoditi yang dibeli dari wilayah sekitar kawasan seperti Desa Tanjungjaya, Citeureup, dan pasar Panimbang masing masing sebesar Rp 4.603.333,- per bulan, Rp. 3.455.167,- per bulan dan Rp. 5.349.125,- per
banyak dari wilayah Jakarta dengan total anggaran Rp. 9.690.833,-per bulan atau
35,8 persen dari total anggaran yang dikeluarkan setiap bulannya. Operator Tanjung Lesung Beach Hotel (Bay Villas)
Lesung Bay Villass Hotel & Resort terletak di semenanjung bagian barat kawasan Tanjung Lesung, menghadap Selat Sunda dengan pemandangan langsung Gunung Krakatau dan dekat dekat Pulau Panaitan di Taman Nasional Ujung Kulon. Suasana di operator wisata ini mengutamakan privasi yang tinggi bagi tamu-tamunya dengan fasilitas pendukung yang sangat baik, berupa sarana prasarana, panorama alam, masakan terbaik dan suasana yang alami. Tingkat kunjungan tamu umumnya akan tinggi (peak) pada bulan Mei, Juni, Juli,
September, Oktober dan Desember. Sementara kunjungan rendah (low seasons) terjadi di Bulan Januari hingga April.
Tingkat kunjugan wisatawan musim ramai (peak season), pada umumnya
terjadi di bulan Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober dan Desember.
Terutama pada Agustus dan Desember kunjungan wisatawan mencapai masing-
masing 1108 dan 954 orang. Sementara kunjungan rendah (low seasons) terjadi di bulan Januari hingga April, terutama di bulan Februari hanya 159 orang. Dalam satu tahun jumlah wisatawan yang berkunjung ke operator ini sebanyak 6.261 orang di tahun 2012. Pada umumnya kunjungan wisatawan dipengaruhi oleh waktu liburan, terutama long weekend.
Operator Bay Villas merekrut tenaga kerja mayoritas dari masyarakat sekitar Desa Tanjungjaya dan Desa Citeuruep, selain juga tenaga kerja dari luar wilayah sekitar kawasan wisata. Uraian tenaga kerja di operator wisata Hotel Bay Villas dapat dilihat pada Tabel 30.
Tabel 30 Jumlah tenaga kerja operator Hotel Bay Villas
Departement Person Sex
Male Female
Executive Office 1 1 -
Jakarta Sales Office 6 3 3
Front Office 8 6 2
House Keeping 11 11 -
Food & Beverage Service 10 8 2
Food & Beverage Product 13 12 1
Engineering 11 11 -
Accounting Office 9 8 1
Personal Office 2 2 -
Security Section 6 6 -
Sport & Leasure 5 4 1
Total 82 72 10
Sumber: Operator Beach Club diolah tahun 2013
Komoditi untuk operator wisata Hotel Bay Villas diperoleh dari beberapa wilayah seperti Serang, Cilegon dan Jakarta. Data pasokan dari serang dan Cilegon tidak diuraikan pada pembahasan ini, karena ketidaklengkapan dan keterbatasan data yang diperoleh, namun pada umumnya pasokan komoditi diperoleh dari pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta.
jenis komoditi di supermarket dengan terlebih dahulu melakukan bidding untuk