Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas digunakan untuk melihat kemampuan suatu perusahaan dalam melunasi utang jangka pendeknya atau utang yang jatuh tempo menggunakan dana internal. Rasio likuiditas yang dianalisis dalam penelitian ini adalah rasio lancar. Rasio lancar menunjukkan kemampuan perusahaan untuk melunasi utang jangka pendeknya (utang lancar) dengan harta lancar yang dimilikinya. Semakin tinggi rasio lancar menunjukkan bahwa perusahaan tersebut juga memiliki tingkat likuiditas yang tinggi.
PT. Cipendawa Agroindustri Tbk. (CPDW). Data pada Tabel 2 memperlihatkan bahwa rasio lancar CPDW selama tahun 2003 hingga 2007 cenderung berfluktuasi.
Rasio lancar meningkat tajam pada tahun 2003-2004 sebesar 343%. Peningkatan ini seiring dengan menurunnya kewajiban lancar perusahaan karena perusahaan mengurangi pinjaman yang diterima dan dilunasinya sebagian kewajiban lancar perusahaan. Rasio lancar terus mengalami peningkatan hingga tahun 2005, namun pada tahun 2006 dan 2007 rasio lancar mengalami penurunan. Penurunan terjadi sebagai akibat dari menurunnya aktiva lancar dan semakin meningkatnya kewajiban lancar yaitu utang usaha.
Rasio lancar CPDW masih tergolong rendah karena nilainya dibawah 200%, sesuai dengan standar yang dipakai Kadarsan (1995). Hal ini berarti bahwa CPDW memiliki tingkat likuiditas yang rendah untuk membayar kewajiban lancarnya, bahkan pada tahun 2003 dan 2007, CPDW tidak mampu melunasi kewajiban lancarnya karena perusahaan sedang mengalami krisis keuangan terlihat dari nilai rasio lancarnya yang berada dibawah 100%. Rendahnya tingkat likuiditas CPDW disebabkan karena perusahaan memiliki modal kerja yang sedikit sehingga kewajiban lancar perusahaan semakin meningkat untuk membiayai kegiatan operasionalnya.
Tabel 2. Nilai Rasio Lancar CPDW Periode 2003-2007
Uraian Tahun
2003 2004 2005 2006 2007
Aktiva Lancar (Juta Rp) 27.534,95 21.239,08 24.401,42 23.668,51 22.760,60 Kewajiban Lancar (Juta Rp) 100.863,81 17.550,04 19.782,68 20.510,19 23.913,43 Rasio Lancar (%) 27.30 121.02 123.34 115.40 95.20
PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN). Selama tahun 2003-2007 rasio lancar CPIN berfluktuasi, namun nilainya masih berada diatas 100%. Pada tahun 2004 dan 2007, rasio lancar mengalami penurunan masing-masing sebesar 39,06%
dan 20,05% dari tahun sebelumnya. Data pada Tabel 3 menunjukkan bahwa penurunan rasio lancar ini diakibatkan oleh peningkatan kewajiban lancar perusahaan yang cukup signifikan. Meningkatnya kewajiban lancar perusahaan merupakan akibat dari meningkatnya utang bank jangka pendek dan utang usaha perusahaan karena CPIN memiliki modal kerja yang sedikit. Rasio lancar CPIN masih tergolong rendah karena nilainya berada dibawah 200%. Hal ini menunjukkan CPIN mempunyai kemampuan yang rendah untuk membayar kewajiban lancarnya dengan segera.
Tabel 3. Nilai Rasio Lancar CPIN Periode 2003-2007
Uraian Tahun
2003 2004 2005 2006 2007
Aktiva Lancar (Juta Rp) 1.521.771 1.450.015 1.450.146 1.792.215 3.099.170 Kewajiban Lancar (Juta Rp) 776.032 1.213.273 1.100.170 1.163.808 2.517.430
Rasio Lancar (%) 196,10 119,51 131,81 154 123,12
PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA). Rasio lancar JPFA sejak tahun 2003 hingga 2006 cenderung mengalami penurunan. Penurunan ini sebagai akibat dari peningkatan kewajiban lancar yaitu utang usaha pada pihak ketiga dan utang bank jangka pendek yang lebih besar dari peningkatan aktiva lancarnya. Akan tetapi pada tahun 2007 rasio lancar JPFA kembali meningkat sebesar 28,44%, dari 190,51%
menjadi 244,70%. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan melakukan perbaikan kinerja keuangannya. JPFA memiliki kemampuan likuiditas yang tinggi untuk melunasi kewajiban lancarnya dengan segera terlihat dari nilai rasio lancarnya yang tinggi yaitu diatas 200%. Hanya pada tahun 2006 saja rasio lancar JPFA berada
dibawah 200%, yaitu sebesar 190,51%. Hal ini terjadi karena perusahaan meningkatkan kewajiban lancarnya untuk menambah modal kerjanya.
Tabel 4. Nilai Rasio Lancar JPFA Periode 2003-2007
Uraian Tahun
618.664,08 645.053,54 830.903 1.147.62 2
1.018.73 8 Rasio Lancar (%) 266,80 266,78 230,31 190,51 244,70 PT. Multibreeder Adirama Indonesia Tbk. (MBAI). Seperti yang terlihat dalam Tabel 5, nilai rasio lancar MBAI cenderung mengalami fluktuasi selama tahun 2003 hingga 2007. Nilai rasio lancarnya berkisar antara 149,72% hingga 228,90%.
Penurunan rasio lancar terjadi pada tahun 2004 dan tahun 2007, masing-masing mengalami penurunan sebesar 19,6% dan 32,08% dari tahun sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh semakin meningkatnya kewajiban lancar perusahaan yang meliputi utang usaha dan utang pajak. MBAI memiliki kemampuan likuiditas yang tinggi untuk melunasi kewajiban lancarnya, hal ini terlihat dari tingginya rasio lancar MBAI yaitu diatas 200%.
Tabel 5. Nilai Rasio Lancar MBAI Periode 2003-2007
Uraian Tahun
2003 2004 2005 2006 2007
Aktiva Lancar (Juta Rp) 212.605,55 230.415,90 254.015 267.128 303.168 Kewajiban Lancar (Juta Rp) 92.880,25 125.208,55 118.758 121.182 202.491 Rasio Lancar (%) 228,90 184,03 213,89 220,44 149,72 PT. Sierad Produce Tbk. (SIPD). Seperti perusahaan agribisnis peternakan lainnya, rasio lancar SIPD juga berfluktuasi setiap tahunnya. Rasio lancar SIPD mengalami penurunan pada tahun 2003 hingga 2005 sebesar 41,82% yaitu dari 338,80% menjadi 197,13%. Penurunan ini sebagai akibat dari semakin meningkatnya kewajiban lancar perusahan berupa utang usaha, utang pajak dan biaya yang masih harus dibayar.
Rasio lancar SIPD sangat tinggi yaitu diatas 200% bahkan mencapai 300%
pada tahun 2003 dan 2005. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki tingkat likuiditas yang tinggi untuk melunasi kewajiban lancarnya, sehingga tidak akan
Tabel 6. Nilai Rasio Lancar SIPD Periode 2003-2007 perusahaan agribisnis peternakan cenderungan berfluktuatif setiap tahunnya. Akan tetapi jika dilihat dari tahun 2003 hingga tahun 2007, rasio lancar perusahaan agribisnis peternakan cenderung menurun. Hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan agribisnis peternakan untuk melunasi utang jangka pendeknya juga menurun. Akan tetapi selama nilai rasio likuiditasnya masih berada diatas 200%
maka perusahaan tersebut memiliki kemampuan likuiditas yang baik. Sebagian besar perusahaan agribisnis mempunyai tingkat likuiditas yang tinggi yaitu terlihat dari nilai rasio lancarnya diatas 200%, sesuai dengan standar yang ditetapkan Kadarsan (1995). Hanya CPIN dan CPDW yang memiliki rasio lancar dibawah 200%. Hal ini menunjukkan bahwa CPIN dan CPDW masih memiliki tingkat likuiditas yang rendah untuk segera melunasi kewajiban lancarnya.
0
Gambar 2. Trend Rasio Likuiditas Perusahaan Agribisnis Peternakan Rasio Kinerja Operasional
Rasio kinerja operasional menunjukkan seberapa baik manajemen mengelola bisnisnya. Rasio ini meliputi rasio efisiensi yaitu rasio perputaran total aktiva dan rasio perputaran ekuitas, dan rasio profitabilitas yaitu marjin laba kotor, marjin laba operasi, marjin laba bersih, tingkat pengembalian atas ekuitas (ROE), dan tingkat pengembalian atas aktiva (ROA).
PT. Cipendawa Agroindustri Tbk. CPDW memiliki rasio efisiensi yang cenderung terus meningkat selama tahun 2003-2007. Rasio perputaran total aktiva dan perputaran ekuitas masing-masing mengalami peningkatan sebesar 166% dan 836%
dari tahun 2003 hingga tahun 2007. Peningkatan ini menunjukkan bahwa perusahaan semakin efisien dalam menggunakan total aktiva dan ekuitas untuk menghasilkan penjualan. Seperti yang terlihat dalam Tabel 7, penjualan bersih perusahaan juga semakin meningkat.
Pada tahun 2003 rasio perputaran ekuitas CPDW bernilai negatif, karena pada tahun tersebut perusahaan memiliki ekuitas yang negatif akibat defisit yang tinggi.
Ekuitas yang negatif menunjukkan bahwa perusahaan sedang mengalami defisiensi modal. Akan tetapi pada tahun berikutnya ekuitas perusahaan bernilai positif seiring dengan meningkatnya laba perusahaan sehingga dapat menutup defisit yang dialami.
Semua rasio profitabilitas CPDW cenderung mengalami fluktuasi selama tahun 2003-2007, seperti yang terlihat dalam Tabel 7. Rasio marjin laba kotor meningkat dari tahun 2003 hingga 2005, yang menunjukkan bahwa perusahaan semakin efisien dalam mengendalikan beban pokok penjualannya. Akan tetapi pada tahun berikutnya (2006 dan 2007) marjin laba kotor mengalami penurunan. Hal ini terjadi karena semakin meningkatnya beban pokok penjualan seperti biaya pakan.
Data pada Tabel 7 menunjukkan bahwa CPDW memiliki penjualan yang terus meningkat. Namun perusahaan tidak mampu mengendalikan biaya operasinya terlihat dari nilai laba kotor yang positif setelah dikurangi dengan biaya operasional laba yang dihasilkan menjadi negatif, kecuali pada tahun 2005. Pada tahun 2005 perusahaan semakin efisien dalam mengendalikan beban pokok penjualan maupun beban operasional, terlihat dari semakin meningkatnya marjin laba kotor dan marjin laba operasi.
Pada tahun 2004 marjin laba bersih mengalami peningkatan yang sangat
seiring dengan meningkatnya laba bersih perusahaan sebesar 721% sebagai akibat dari dilakukannya penyelesaian atas sebagian besar hutang bermasalah sehingga seluruh bunga yang tertunggak telah dihapuskan dan diakui sebagai laba luar biasa pada tahun berjalan. Namun sejak tahun 2004 marjin laba bersih CPDW semakin menurun, bahkan pada tahun 2006 dan 2007 perusahaan memiliki marjin laba bersih yang negatif, seperti yang ditunjukkan Tabel 7. Penurunan ini seiring dengan semakin tidak efisiennya perusahaan dalam mengendalikan beban operasi dan beban lain-lain seperti beban bunga dan rugi selisih kurs sehingga laba bersih perusahaan semakin menurun.
Semakin menurunnya laba bersih CPDW juga mempengaruhi tingkat pengembalian atas total aktiva (ROA) dan ekuitas (ROE) CPDW. Terlihat pada Tabel 7, ROA dan ROE perusahaan semakin menurun sejak tahun 2004, bahkan pada tahun 2006 dan 2007 ROA dan ROE perusahaan bernilai negatif. Hal ini menjadikan permintaan saham CPDW semakin berkurang seiring dengan berkurangnya minat investor untuk berinvestasi pada saham CPDW.
Tabel 7. Nilai Rasio Kinerja Operasional CPDW Periode 2003-2007
Uraian Tahun
2003 2004 2005 2006 2007
Penjualan Bersih (Juta Rp) 32.408,56 33.593,71 43.562,72 39.065,95 43.989,22 Laba Kotor (Juta Rp) 1.302,09 3.682,78 9.694,93 6.791,80 5.340,91 Laba (Rugi) Usaha (Juta Rp) -4.043,47 -1.352,16 1.569,23 -606,21 -2.716,41 Laba Bersih (Juta Rp) 4.277,58 35.136,83 892,11 -2.929,64 -3.591,20 Total Aktiva (Juta Rp) 64.795,97 30.837,21 34.823,82 32.644,40 33.183,56 Ekuitas (Juta Rp) -36.916,57 12.418,37 13.310,48 10.380,84 6.789,64 Rasio Efisiensi
PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk. Rasio efisiensi CPIN cenderung mengalami fluktuasi selama tahun 2003 hingga 2007. Akan tetapi jika dilihat dari tahun 2003 ke tahun 2007, rasio efisiensi mengalami peningkatan. Masing-masing mengalami peningkatan sebesar 6,4% untuk perputaran total aktiva dan 57% untuk
perputaran ekuitas. Perputaran total aktiva dan ekuitas CPIN memiliki nilai yang cukup tinggi, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan semakin efisien dalam mengelola aktiva dan ekuitasnya sehingga penjualan yang dihasilkan perusahaan terus meningkat, seperti yang terlihat dalam Tabel 8.
Tabel 8. Nilai Rasio Kinerja Operasional CPIN Periode 2003-2007
Uraian Tahun
2003 2004 2005 2006 2007
Penjualan Bersih (Juta Rp) 4.298.689 4.814.904 5.540.262 6.385.579 8.679.504 Laba Kotor (Juta Rp) 486.696 373.455 833.638 978.470 1.202.405 Laba (Rugi) Usaha (Juta Rp) 61.716 -84.963 284.727 338.600 479.747 Laba (Rugi) Bersih (Juta Rp) -21.814 -196.652 41.156 157.057 185.448 Total Aktiva (Juta Rp) 2.507.191 2.627.876 2.620.029 2.902.419 4.760.491 Ekuitas (Juta Rp) 829.084 593.997 635.153 778.133 1.066.331 Rasio Efisiensi
Berdasarkan data pada Tabel 8 diketahui bahwa semua rasio profitabilitas CPIN berfluktuasi selama tahun 2003-2007. Marjin laba kotor CPIN mengalami peningkatan sejak tahun 2004 hingga 2006. Peningkatan ini terjadi seiring dengan meningkatnya laba kotor yang dihasilkan perusahaan karena perusahaan semakin efisien dalam mengendalikan beban pokok penjulannya.
Pada tahun 2003 marjin laba bersih CPIN bernilai negatif. Hal ini terjadi karena perusahaan tidak efisien dalam mengendalikan beban lain-lain meliputi beban keuangan, terlihat dari laba operasi yang positif namun setelah dikurangi dengan beban lain-lain, laba yang dihasilkan negatif. Akibat laba bersih yang negatif, perusahaan tidak dapat memberikan tingkat pengembalian yang positif atas total aktiva dan ekuitas kepada investor terlihat dari nilai ROA dan ROE yang bernilai negatif.
PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk. Data pada Tabel 9 menunjukkan bahwa rasio perputaran total aktiva perusahaan terus mengalami peningkatan dari tahun 2003
menggunakan total aktiva untuk menghasilkan penjualan. Akan tetapi peningkatan pada rasio perputaran total aktiva tidak diikuti oleh rasio perputaran ekuitas. Rasio perputaran ekuitas JPFA cenderung berfluktuasi. Rasio perputaran ekuitas meningkat sebesar 59% pada tahun 2004 seiring dengan menurunnya ekuitas, namun sejak tahun 2004 rasio ini terus mengalami penurunan hingga tahun 2007. Penurunan ini terjadi sebagai akibat dari semakin meningkatnya ekuitas perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan belum efisien dalam menggunakan ekuitasnya untuk menghasilkan penjualan.
Tabel 9. Rasio Kinerja Operasional JPFA Periode 2003-2007
Uraian Tahun
2003 2004 2005 2006 2007
Penjualan Bersih (Juta Rp) 4.407.906,04 4.649.430,94 5.340.116,28 6.401.365 7.903.315 Laba Kotor (Juta Rp) 603.877,78 705.310,61 910.067,66 1.109.835 1.435.924 Laba (Rugi) Usaha (Juta Rp) 37.962 141.228,66 198.783,14 267.685 440.502 Laba (Rugi) Bersih (Juta Rp) 151.099,84 -166.698,77 40.804,13 238.160 180.864 Total Aktiva (Juta Rp) 3.120.643,51 3.012.536,05 3.338.840 3.622.463 4.043.497 Ekuitas (Juta Rp) 485.726,23 322.500,26 374.158 596.813 792.583 Rasio Efisiensi terus mengalami peningkatan selama tahun 2003-2007. Peningkatan ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu mengendalikan beban pokok penjualan dan beban usaha sehingga diperoleh laba kotor dan laba usaha yang semakin meningkat.
Akan tetapi peningkatan ini tidak diikuti oleh marjin laba bersih. Marjin laba bersih cenderung berfluktuasi selama tahun 2003 hingga 2007, bahkan pada tahun 2004 marjin laba bersih menurun hingga bernilai negatif. Penyebabnya adalah perusahaan belum efisien dalam mengendalikan beban lain-lainnya. Hal ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya marjin laba operasi namun marjin laba bersih perusahaan cenderung berfluktuasi. Pada tahun 2004 marjin laba bersih bernilai negatif karena tingginya beban lain-lain perusahaan yang meliputi beban bunga dan kerugian kurs
mata uang asing sehingga perusahan mengalami kerugian. Hal ini juga mempengaruhi tingkat pengembalian atas total aktiva (ROA) dan ekuitas (ROE) pemegang saham. Nilai ROA dan ROE perusahaan pada tahun 2004 juga bernilai negatif karena perusahaan mengalami kerugian.
PT. Multibreeder Adirama Indonesia Tbk. Rasio perputaran total aktiva MBAI terus mengalami peningkatan sejak tahun 2003 hingga 2007, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 10. Peningkatan ini menunjukkan bahwa perusahaan semakin efisien dalam menggunakan total aktivanya sehingga menghasilkan penjualan yang semakin meningkat. Akan tetapi nilai rasio perputaran ekuitas MBAI cenderung berfluktuatif. Pada tahun 2003 dan 2004, rasio perputaran ekuitas MBAI bernilai negatif. Hal ini terjadi karena perusahaan mengalami defisiensi modal pada tahun tersebut. Namun sejak tahun 2005 nilai rasio perputaran ekuitas perusahaan sudah bernilai positif meskipun rasio ini semakin menurun. Penurunan ini terjadi karena peningkatan ekuitas perusahaan yang lebih besar dari peningkatan penjualannya. Hal ini menunjukkan bahwa MBAI belum efisien dalam menggunakan ekuitasnya untuk menghasilkan penjualan yang lebih besar lagi.
Semua rasio profitabilitas MBAI mengalami fluktuasi selama tahun 2003 hingga 2007. Seperti yang terlihat pada Tabel 10, marjin laba kotor mengalami penurunan pada tahun 2006 hingga 2007. Penurunan ini terjadi karena peningkatan penjualan yang lebih tinggi daripada peningkatan laba kotor yang dihasilkan perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan belum efisien dalam mengendalikan beban pokok penjualannya yaitu biaya pakan.
Sejak tahun 2003 hingga 2005, marjin laba operasi terus meningkat.
Peningkatan yang sangat signifikan terjadi pada tahun 2005 sebesar 1120% yaitu dari 0,98% pada tahun 2004 menjadi 11,96% pada tahun 2005. Peningkatan ini seiring dengan semakin meningkatnya laba usaha karena semakin efisiennya perusahaan dalam mengelola beban usahanya. Akan tetapi pada tahun berikutnya (2006 dan 2007) marjin laba operasi semakin menurun. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan semakin tidak efisien dalam mengendalikan beban usahanya.
Marjin laba bersih cenderung berfluktuasi. Pada tahun 2004 marjin laba bersih bernilai negatif. Hal ini disebabkan karena perusahaan tidak efisien dalam
dilihat dari laba bersih yang negatif setelah dikurangi dengan beban lain-lain.
Kerugian yang dialami perusahaan menjadikan tingkat pengembalian atas total aktiva (ROA) pada tahun 2004 bernilai negatif.
Pada tahun 2003, tingkat pengembalian atas ekuitas (ROE) bernilai negatif.
Hal ini sebagai akibat dari defisiensi modal yang dialami perusahaan. Akan tetapi pada tahun 2005, ROE meningkat cukup signifikan sebesar 897% dari tahun 2004.
Peningkatan ini terjadi karena meningkatnya laba bersih yang dihasilkan perusahaan.
Tabel 10. Rasio Kinerja Operasional MBAI Periode 2003-2007
Uraian Tahun
2003 2004 2005 2006 2007
Penjualan Bersih (Juta Rp) 479.713,24 546.135,31 655.102,58 786.082 962.741 Laba Kotor (Juta Rp) 114.048,53 116.998,18 207.201,51 234.234 275.496 Laba (Rugi) Usaha (Juta Rp) 4.619,10 5.349,29 78.358,84 88.909 93.153 Laba (Rugi) Bersih (Juta Rp) 18.995,34 -22.511,51 58.524,44 106.022 89.600 Total Aktiva (Juta Rp) 543.557,12 575.666,19 627.077 654.250 795.566 Ekuitas (Juta Rp) -23.906,73 -46.418,24 12.106 118.128 207.728 Rasio Efisiensi
PT. Sierad Produce Tbk. Rasio efisiensi SIPD cenderung berfluktuasi selama tahun 2003 hingga 2007. Seperti yang terlihat pada Tabel 11, rasio perputaran total aktiva dan perputaran ekuitas cenderung berfluktuasi. Pada tahun 2004 perputaran ekuitas SIPD sangat tinggi yaitu 26,02 kali, artinya selama satu tahun ekuitas berputar 26,02 kali untuk menghasilkan penjualan. Tingginya perputaran ekuitas terjadi karena ekuitas perusahaan mengalami penurunan sebagai akibat dari semakin meningkatnya defisit perusahaan.
Jika dilihat dari tahun 2003 ke tahun 2007, rasio perputaran total aktiva SIPD cenderung mengalami kenaikan sebesar 41,57%, yaitu dari 0,89 kali pada tahun 2003 menjadi 1,26 kali pada tahun 2007. Hal ini menunjukkan semakin efisiennya perusahaan dalam menggunakan total aktivanya sehingga penjualan yang dihasilkan perusahaan semakin meningkat. Akan tetapi peningkatan pada rasio perputaran total
aktiva tidak diikuti oleh rasio perputaran ekuitas. Rasio perputaran ekuitas SIPD cenderung mengalami penurunan sebesar 76,9% yaitu dari 5,46 pada tahun 2003 menjadi 1,62 pada tahun 2007. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan belum efisien dalam menggunakan ekuitasnya untuk menghasilkan penjualan.
Tabel 11. Rasio Kinerja Operasional SIPD Periode 2003-2007
Uraian Tahun
2003 2004 2005 2006 2007
Penjualan Bersih (Juta Rp) 1.126.707,97 1.353.621,33 1.425.222,70 1.111.242,03 1.632.453,61 Laba Kotor (Juta Rp) 72.504,63 69.635,55 53.517,09 172.599,69 158.589,81 Laba (Rugi) Usaha (Juta Rp) -40.039,36 -69.058,22 -84.864,16 68.257,68 48.916,87 Laba (Rugi) Bersih (Juta Rp) -105.719,33 -154.346,26 -122.479,67 40.953,74 21.196,44 Total Aktiva (Juta Rp) 1.265.566,12 1.254.008,87 1.157.773,44 1.113.796,11 1.294.772,76 Ekuitas (Juta Rp) 206.375,58 52.029,32 943.626,33 984.580,06 1.005.810,94 Rasio Efisiensi
Berdasarkan data pada Tabel 11, dari tahun 2003 sampai tahun 2005 hampir semua rasio profitabilitas SIPD mempunyai nilai yang negatif kecuali marjin laba kotor. Hal ini disebabkan karena tingginya beban usaha dan beban lain-lain perusahaan sehingga menghasilkan laba usaha dan laba bersih yang negatif. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan belum efisien dalam mengendalikan beban usaha dan beban lain-lain. Perusahaan mulai dapat menghasilkan laba usaha dan laba bersih pada tahun 2006 dan 2007 meskipun cenderung menurun. Hal ini menjadikan perusahaan dapat memberikan tingkat pengembalian atas aktiva dan ekuitas kepada pemegang sahamnya.
Sebagian besar perusahaan agribisnis peternakan memiliki rasio efisiensi yang meningkat, seperti yang terlihat dari semakin meningkatnya penjualan yang dihasilkan perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan semakin efisien dalam menggunakan total aktiva dan ekuitasnya sehingga dihasilkan pejualan yang semakin meningkat. Perusahaan agribisnis peternakan memiliki rasio profitabilitas yang cenderung berfluktuasi. Dari lima perusahaan agribisnis peternakan, hanya PT
Cipendawa Agroindustri Tbk. (CPDW) yang memiliki rasio profitabilitas yang semakin menurun hingga mencapai nilai negatif. Penurunan ini disebabkan karena perusahaan belum efisien dalam mengendalikan beban usaha dan beban lain-lain.
Rasio Tingkat Utang
Rasio tingkat utang digunakan untuk melihat struktur permodalan perusahaan yaitu seberapa besar perusahaan dibiayai oleh utang. Rasio ini juga dapat digunakan untuk melihat kemampuan perusahaan dalam membayar kewajibannya. Rasio yang dianalisis dalam penelitian ini adalah rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER).
PT. Cipendawa Agroindustri Tbk. CPDW memiliki rasio utang terhadap ekuitas (DER) yang terus meningkat setiap tahun, seperti yang terlihat dalam Tabel 12.
Peningkatan ini terjadi sebagai akibat dari kebijakan perusahaan untuk menggunakan utang sebagai sumber pembiayaannya. Jika dilihat dari komposisi utangnya, utang lancar lebih besar dari utang tidak lancarnya. Artinya perusahaan lebih banyak menggunakan utang lancar, sehingga peningkatan utang terjadi karena semakin meningkatnya utang lancar. Peningkatan utang lancar terjadi sebagai akibat dari sedikitnya modal kerja perusahaan, sehingga digunakan utang lancar untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan.
Nilai DER CPDW sangat tinggi yaitu berada diatas 100%. Prawironegoro (2006) mengatakan bahwa nilai DER diatas 100% sangat berbahaya bagi perusahaan.
Tingginya nilai DER menjadikan risiko yang ditanggung investor semakin tinggi karena kemampuan CPDW untuk menjamin utang dengan ekuitasnya semakin kecil.
Pada tahun 2003 DER CPDW bernilai negatif. Pada tahun tersebut perusahaan sedang mengalami defisiensi modal terlihat dari ekuitas perusahaan yang negatif. Hal ini menjadikan perusahaan mengandalkan utang sepenuhnya sebagai sumber pembiayaannya.
Tabel 12. Nilai Rasio Utang terhadap Ekuitas (DER) CPDW Periode 2003-2007
Uraian Tahun
2003 2004 2005 2006 2007
Total Kewajiban (Juta Rp) 101.713 18.419 21.513 22.264 26.394 Ekuitas (Juta Rp) -36.917 12.418 13.310 10.381 6.790
DER (%) -276 148 162 214 389 PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk. Nilai DER CPIN cenderung berfluktuasi selama tahun 2003 hingga 2007 akan tetapi nilai DER CPIN masih berada diatas 100%. Pada tahun 2005 dan 2006, DER perusahaan mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya ekuitas perusahaan.
CPIN memiliki DER yang tinggi yaitu berada diatas 100%, bahkan mencapai 300% pada tahun 2004, 2005, dan 2007. Tingginya nilai DER memberikan dampak yang tidak baik bagi kreditur karena risiko yang harus ditanggung semakin tinggi.
Dilihat dari komposisi utangnya, utang lancar perusahaan lebih besar dibandingkan dengan utang tidak lancarnya. Hal ini disebabkan karena perusahaan memiliki modal kerja yang sedikit sehingga digunakan utang lancar untuk membiayai kegiatan operasionalnya.
Tabel 13. Nilai Rasio Utang terhadap Ekuitas (DER) CPIN Periode 2003- 2007
Uraian Tahun
2003 2004 2005 2006 2007
Total Kewajiban (Juta Rp) 1.678.107 2.033.879 1.984.876 2.124.286 3.682.496 Ekuitas (Juta Rp) 829.084 593.997 635.153 778.133 1.066.331
DER (%) 202 342 313 273 345
PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk. Data pada Tabel 14 memperlihatkan bahwa rasio utang terhadap ekuitas (DER) JPFA cenderung mengalami penurunan pada tahun 2005 hingga 2007. Penurunan ini terjadi seiring dengan meningkatnya ekuitas perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa proporsi utang perusahaan semakin berkurang. Namun DER JPFA masih sangat tinggi diatas 300% bahkan mencapai nilai 800% pada tahun 2004. Hal ini sangat membahayakan bagi perusahaan, karena jika keadaan ekonomi memburuk akan menyebabkan perusahan mengalami kerugian karena tidak mampu melunasi utangnya, sehingga risiko yang ditanggung investor semakin tinggi. Tingginya nilai DER juga menunjukkan bahwa JPFA cenderung menggunakan utang sebagai sumber pembiayaannya.
Tabel 14. Nilai Rasio Utang terhadap Ekuitas (DER) JPFA Periode 2003-2007
Uraian Tahun
2003 2004 2005 2006 2007
Total Kewajiban (Juta Rp) 2.596.587 2.633.949 2.868.620 2.893.302 3.087.674 Ekuitas (Juta Rp) 485.726 322.500 374.158 596.813 792.583
DER (%) 535 817 767 485 390 PT. Multibreeder Adirama Indonesia Tbk. Rasio DER MBAI berfluktuasi selama tahun 2003-2007. Berdasarkan data pada Tabel 15, pada tahun 2003 hingga 2005 DER cenderung meningkat tajam. Hal ini sebagai akibat dari semakin meningkatnya utang MBAI karena perusahaan mengalami defisiensi modal. Namun pada tahun 2006 dan 2007 nilai DER mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya ekuitas perusahaan.
Pada tahun 2003 dan 2004 DER MBAI bernilai negatif. Pada tahun tersebut perusahaan mengalami defisiensi modal, terlihat dari ekuitas perusahaan yang bernilai negatif sebagai akibat dari semakin tingginya defisit yang dialami perusahaan. MBAI juga memiliki DER yang sangat tinggi mencapai nilai 5080%
pada tahun 2005. Artinya total utang dapat diatasi dengan 5080% dari total ekuitasnya. Hal ini menunjukkan bahwa risiko yang ditanggung investor/kreditur sangat tinggi.
Tabel 15. Nilai Rasio Utang terhadap Ekuitas (DER) MBAI Periode 2003-2007
Uraian Tahun
2003 2004 2005 2006 2007
Total Kewajiban (Juta Rp) 567.454 622.074 614.961 536.112 587.828 Ekuitas (Juta Rp) -23.907 -46.418 12.106 118.128 207.728
DER (%) -2374 -1340 5080 454 283
MBAI memiliki nilai DER yang tinggi yaitu diatas 200%. Tingginya nilai DER perusahaan menunjukkan bahwa perusahaan menggunakan utang sebagai sumber pembiayaannya, sehingga risiko yang ditanggung investor lebih besar, karena kemungkinan kerugian dari tidak terbayarnya utang oleh perusahaan semakin besar.
PT. Sierad Produce Tbk. Pada Tabel 16 menunjukkan bahwa pada tahun 2004 nilai DER SIPD sangat tinggi mencapai 2310%, artinya total utang dapat diatasi dengan 2310% dari total ekuitasnya. Tingginya rasio ini disebabkan karena tingginya utang perusahaan dibandingkan dengan ekuitas yang dimiliki perusahaan. Akan tetapi sejak tahun 2005 hingga 2007 nilai DER SIPD menurun drastis hingga dibawah 100%.
Pengkonversian obligasi dan utang sewa guna usaha menjadi saham menjadikan utang yang dimiliki perusahaan turun tajam. Pengkorversian obligasi dan utang sewa guna usaha ini juga meningkatkan modal yang disetor sehingga ekuitas SIPD juga
semakin meningkat. Sebagai akibatnya nilai DER semakin kecil seiring dengan menurunnya utang dan meningkatnya ekuitas yang dimiliki perusahaan.
Dengan semakin menurunnya nilai DER menjadi dibawah 100%, membuat tingkat risiko yang ditanggung investor semakin rendah. Hal ini terjadi sebagai
Dengan semakin menurunnya nilai DER menjadi dibawah 100%, membuat tingkat risiko yang ditanggung investor semakin rendah. Hal ini terjadi sebagai