Pencapaian produksi tebu yang diharapkan tidak terlepas dari pengaruh komponen-komponen produksi. Berdasarkan ketersediaan data pada PTPN-II Unit Kwala Madu, komponen-komponen produksi tanaman tebu ialah hablur, SHS (Superior Head Sugar) dan tetes.
Berikut di sajikan data komponen produksi tebu di PTPN-II unit Kwala Madu selama lima tahun (2008-2012) pada tabel 2.
Tabel 2. Komponen produksi tebu di PTPN-II Unit Kwala Madu selama 5 tahun (2008-2012)
Tahun Luas
Areal Produksi Hablur Tetes Shs
AFD 1-5 AFD 6-9 X1 X2 X3
2008 1745.2 32385.01 44454.7 5,489,425 5,753,581 5,472,982 2009 726.2 17109.89 41699.7 3,670,938 4,046,972 3,403,261 2010 1147.37 9429.72 14912 2,592,060 2,262,484 2,782,154 2011 1403.2 38523.56 45518.5 5,330,126 5,357,567 5,388,068 2012 1239 27850.36 34220.7 4.950.95 5,495,750 4,933,967 Hasil uji korelasi pada komponen-komponen produksi tebu di PTPN-II Unit Kwala Madu, Kabupaten Langkat, dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Uji korelasi komponen produktivitas pada tanaman tebu Correlations
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
Keterangan : * = Berbeda nyata pada taraf uji 5 %
Dari tabel 3. diatas hasil uji kolerasi menunjukan bahwa terdapat hubungan yang erat antara komponen produksi SHS dengan tetes dilihat dari nilai korelasi sebesar 0,951 padan uji taraf 5% . Pada komponen SHS dengan hablur terdapat hubungan keeratan yang lemah dengan nilai korelasi sebesar 0,357 pada taraf uji α= 0,05 sedangkan perbandingan komponen produksi lainnya menunjukan hasil yang tidak berdeda nyata.
Dari hasil uji korelasi pada komponen (hablur, SHS, tetes) selama 5 tahun (2008, 2009, 2010, 2011, 2012) pada tanaman tebu menunjukkan hubungan yang erat nyata searah antara varibel shs dan tetes.
Produksi Tebu (ton), Curah Hujan (mm) dan Hari Hujan (hari) pada Tanaman Tebu Selama 5 Tahun
Data produksi tebu (ton) selama 5 tahun (2008-2012) dari PTPN-II Kebun Kwala Madu pada tanaman tebu dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Produksi tebu (ton) selama 5 tahun (2008-2012)
Total
Tabel 4. menyatakan bahwa produksi tebu tertinggi terdapat pada tahun 2010 di Afdeling H yakni sebesar 18409.77 ton dan terendah terdapat pada tahun 2009 di Afdeling E yakni sebesar 2300.82 ton.
Tabel 5. Produksi tebu (ton/ha) pada tahun 2008 di kebun PTPN II Kwala Madu
Tabel 5. menyatakan bahwa produksi tebu (ton) tertinggi pada tahun 2008 terdapat di Afdeling H yakni sebesar 14658.04 ton dengan luas lahan 241.70 ha dan terendah pada Afdeling D yakni sebesar 4273.01 ton dengan luas lahan 125.60 ha. Produktivitas tertinggi terdapat pada Afdeling I yakni sebesar 63.09 ton/ha dan terendah terdapat pada Afdeling E yakni sebesar 28.65 ton/ha.
Curah hujan pada tahun 2008 yakni sebesar 1753.9 mm/tahun, dan hari hujan pada tahun yakni sebesar 88 hari. Produksi tebu tertinggi pada tahun 2008 di pengaruhi oleh curah hujan yang tinggi, hal ini sesuai literatur deptan (2013) yang menyatakan bahwa curah hujan yang di inginkan adalah sebesar 1000 – 1300 mm/tahun dan hari hujan yang rendah sebesar 88 hari, hal ini sesuai literatur Sianturi (2001) yang menyatakan bahwa hari hujan yang di kehendaki tanaman tebu adalah sebesar 100 – 150 hari/ tahun.
Tabel 6. Produksi tebu (ton/ha) pada tahun 2009 di kebun PTPN II Kwala Madu
Tabel 6. menyatakan bahwa produksi tebu (ton) tertinggi pada tahun 2009 terdapat di Afdeling H yakni sebesar 10267.97 ton dengan luas lahan 160 ha dan terendah pada Afdeling E yakni sebesar 2300.82 ton dengan luas lahan 58.70 ha.
Produktivitas tertinggi terdapat pada Afdeling G yakni sebesar 69.09 ton/ha dan terendah terdapat pada Afdeling E yakni sebesar 39.20 ton/ha.
Curah hujan pada tahun 2009 yakni sebesar 2291.8 mm/tahun, dan hari hujan pada tahun 2009 yakni sebesar 114 hari. Produksi tebu tertinggi pada tahun 2009 di pengaruhi oleh curah hujan yang tinggi, hal ini sesuai literatur Deptan (2013) yang menyatakan bahwa curah hujan yang di inginkan adalah sebesar 1000 – 1300 mm/tahun.
Tabel 7. Produksi tebu (ton/ha) pada tahun 2010 di kebun PTPN II Kwala Madu Tahun Afdeling
Tabel 7. menyatakan bahwa produksi tebu (ton) tertinggi pada tahun 2010 terdapat di Afdeling H yakni sebesar 18409.77 ton dengan luas lahan 209 ha dan terendah pada Afdeling B yakni sebesar 6408.22 ton dengan luas lahan 94.09 ha.
Produktivitas tertinggi terdapat pada Afdeling C yakni sebesar 88.28 ton/ha dan terendah terdapat pada Afdeling A yakni sebesar 67.52 ton/ha.
Curah hujan pada tahun 2010 yakni sebesar 1535.4 mm/tahun, dan hari hujan sebesar 73. Produksi tebu tertinggi di pengaruhi oleh curah hujan yang tinggi, hal ini sesuai literatur Deptan (2013) yang menyatakan bahwa curah hujan yang di inginkan adalah sebesar 1000 – 1300 mm/ tahun dan hari hujan yang rendah sebesar 73 hari, hal ini sesuai literatur Sianturi (2001) yang menyatakan bahwa hari hujan yang di kehendaki tanaman tebu adalah sebesar 100 – 150 hari Tabel 8. Produksi tebu (ton/ha) pada tahun 2011 di kebun PTPN II Kwala Madu
Tahun Afdeling
Tabel 8. menyatakan bahwa produksi tebu (ton) tertinggi pada tahun 2011 terdapat di Afdeling H yakni sebesar 14182.58 ton dengan luas lahan 231.4 ha dan terendah pada Afdeling A yakni sebesar 8059.15 ton dengan luas lahan 146.9 ha.
Produktivitas tertinggi terdapat pada Afdeling C yakni sebesar 69.09 ton/ha dan terendah terdapat pada Afdeling A yakni sebesar 54.86 ton/ha.
Curah hujan pada tahun 2011 yakni sebesar 1448.8 mm/tahun, dan hari hujan sebesar 92 hari. Produksi tebu tertinggi di pengaruhi oleh curah hujan yang
tinggi, hal ini sesuai literatur Deptan (2013) yang menyatakan bahwa curah hujan yang di inginkan adalah sebesar 1000 – 1300 mm/tahun dan hari hujan yang rendah sebesar 92 hari, hal ini sesuai literatur Sianturi (2001) yang menyatakan bahwa hari hujan yang di kehendaki tanaman tebu adalah sebesar 100 – 150 hari/ tahun.
Tabel 9. Produksi tebu (ton/ha) pada tahun 2012 di kebun PTPN II Kwala Madu Tahun Afdeling
Tabel 9. menyatakan bahwa produksi tebu (ton/) tertinggi pada tahun 2012 terdapat di Afdeling H yakni sebesar 11791.67 ton dengan luas lahan 222.20 ha dan terendah pada Afdeling D yakni sebesar 5879.94 ton dengan luas lahan 113.50 ha. Produktivitas tertinggi terdapat pada Afdeling C yakni sebesar 53.41 ton/ha dan terendah terdapat pada Afdeling B 44.31 ton/ha.
Curah hujan pada tahun 2012 yakni sebesar 2025.1 mm/tahun, dan hari hujan sebesar 87 hari. Produksi tebu tertinggi di pengaruhi oleh curah hujan yang tinggi, hal ini sesuai literatur Deptan (2013) yang menyatakan bahwa curah hujan yang di inginkan adalah sebesar 1000 – 1300 mm/tahun dan hari hujan sebesar 87 hari, hal ini sesuai literatur Sianturi (2001) yang menyatakan bahwa hari hujan yang di kehendaki tanaman tebu adalah sebesar 100 – 150 hari/ tahun.
Tabel 10. Data rataan curah hujan (mm/tahun) selama 5 tahun (2008-2012) dari PTPN-II Kebun Kwala Madu pada tanaman tebu
Bulan Tahun Rataan Tabel 10. menyatakan bahwa rataan curah hujan tertinggi terdapat pada bulan oktober sebesar 297.30 mm dan curah hujan tertinggi terdapat pada tahun 2009 yakni sebesar 2291.8 mm/tahun, sedangkan rataan curah hujan terendah terdapat pada bulan Februari yakni sebesar 34.02 mm dan rataan curah hujan terendah terdapat pada tahun 2011 yakni sebesar 1448.8 mm / tahun.
Tabel 11. Data rataan hari hujan (hari/bulan) selama 5 tahun (2008-2012) dari PTPN-II Kebun Kwala Madu pada tanaman tebu.
BULAN TAHUN
Tabel 11. menyatakan bahwa rataan hari hujan tertinggi terdapat pada bulan oktober yakni sebesar 12.60 mm, dan total hari hujan tertinggi terdapat pada tahun 2009 yakni sebesar 114 mm, sedangkan rataan hari hujan terendah terdapat pada bulan februari yakni sebesar 4.20 mm, dan total hari hujan terendah terdapat pada tahun 2008 yakni sebesar 88 mm.
Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik dilakukan untuk mengetahui apakah persamaan regresi berganda layak atau tidak untuk digunakan. Uji asumsi klasik terdiri dari uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinearitas dan uji autokorelasi.
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah populasi data berdistribusi normal atau tidak. Persyaratan uji normalitas adalah data berdistribusi normal. Data dianalisis dengan uji One Sample Kolmogoro-Smirnov pada taraf uji 0,05. Data dinyatakan berdistribusi normal jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (sig > α 0,05). Untuk persamaan regresi pada tanaman tebu diproleh nilai Kolmogoro-Smirnov dan nilai signifikansi yaitu 0,821 (α = 0,600) (Lampiran 6) yang berarti data terdistribusi dengan normal.
Tabel 12. Nilai signifikasi uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
.0000000 .0000000 280.9260 1540.5542 74.9875 Std. Deviation 259.33624954 .70710678 361.15337 683.64562 28.29741 Most Extreme
Uji Heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik heteroskedastisitas yaitu adanya ketidaksamaan varian dan residual untuk semua pengamatan pada model regresi. Pra syarat yang harus terpenuhi pada model regresi adalah tidak adanya gejala heteroskedastisitas atau biasa disebut homoskedastisitas. Metode pengujian yang digunakan ialah uji Glejser. Uji Glejser dilakukan dengan meregresikan absolute residual terhadap variabel independen lainnya. Jika nilai β signifikan maka mengindikasikan terdapat heteroskedastisitas dalam model. Berikut disajikan uji heteroskedastisitas menggunakan uji Glejser pada model persamaan regresi linear berganda pada tanaman tebu selama 5 tahun (2008-2012) pada tabel 13.
Tabel 13. Uji heteroskedastisitas menggunakan uji glejser pada model persamaan regresi linear berganda pada tanaman tebu selama 5 tahun (2008-2012)
Tahun Variabel Sig.
5 Tahun
Konstanta 0,726
Curah hujan 0,203
Hari hujan 0,241
Berdasarkan uji heteroskedastisitas diatas menunjukkan bahwa variabel curah hujan memiliki nilai signifikansi pada tanaman tebu selama 5 tahun yaitu sebesar 0, 203 sedangkan variabel hari hujan memiliki nilai signifikansi sebesar 0, 241. Variabel curah hujan dan hari hujan memiliki nilai signifikansi diatas 0,01 dalam model ini sehingga memiliki sebaran varian yang sama (homogen). Dengan kata lain, tidak terdapat heteroskedastisitas pada model ini.
Tabel 14. Uji multikolinearitas nilai VIF dan Tolerance pada tanaman tebu selama 5 tahun (2008-2012).
Tahun Variabel Tolerance VIF
5 Tahun Curah hujan 0,048 20.996
Hari hujan 0,048 20.996
Uji multikolinealitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya
harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya multikolinealitas. Uji multikolinealitas dilakukan dengan melihat varian inflation factor (VIF) dan nilai Tolerance pada model regresi. Model regresi yang baik ialah tidak terjadi multikolinearitas yang dibuktikan dengan nilai VIF < 5 dan nilai Tolerance > 0,1.
Berdasarkan hasil uji multikolinearitas diatas diproleh nilai VIF yang lebih besar dari 5 dan nilai Tolerance kurang dari 0,1 untuk kedua variabel diuji dapat diartikan bahwa terdapat multikolinearitas pada model persamaan regresi tersebut.
Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi dapat dilihat dari nilai Durbin Watson (d) yang dibandingkan dengan nilai dari tabel Durbin Watson (Lampiran 8). Untuk model persamaan regresi pada tanaman
tebu dibawah, diperoleh nilai Durbin Watson (d) ialah 1,672 dengan nilai dL = 1,30 nilai dU = 1,57 dari tabel Durbin Watson.
Tabel 15. Nilai Hitung Durbin Watson (d)
Umur Tanaman Nilai Hitung Durbin Watson (d) 2008
2009 2010 2011 2012
1,672
Berdasarkan pada kriteria uji autokorelasi, jika d terletak pada 0 dan dL, maka autokorelasi positif, jika d terletak antara dL dan dU atau diantara (4-dU) dan (4-dL), maka tidak dapat disimpulkan, jika d terletak antara dU dan 4-dU, maka tidak ada autokorelasi, jika d terletak antara 4-dL dan 4, maka ada autokorelasi negatif. Oleh karena itu, pada persamaan regresi pada tanaman tebu
4-dU. Dari keempat uji asumsi tersebut dinyatakan bahwa persamaan regresi pada tanaman tebu selama 5 tahun telah memenuhi syarat.
Hubungan Curah Hujan dan Hari Hujan Terhadap Produksi Tebu
Pola hujan tahunan mempengaruhi perilaku pertumbuhan dan produksi tebu. Curah hujan yang tinggi mendorong peningkatan pertumbuhan pelepah daun. Kadar air di dalam pelepah daun mempunyai korelasi positif dengan kecepatan tumbuh karena dimasa kecilnya pertumbuhan berjalan cepat, maka kadar air pada pelepah daun tinggi. Untuk melihat hubungan curah hujan dan hari hujan terhadap produksi tebu selama 5 tahun (2008-2012) dapat dilihat pada tabel 16.
Tabel 16. Hubungan curah hujan dan hari hujan terhadap produksi tebu
Tahun
Dari tabel 16. dapat diketahui bahwa total produktivitas pada tanaman tebu selama 5 tahun (2008-2012) pada afdeling A sebesar 262 ton/ha, afdeling B sebesar 259 ton/ha, afdeling C sebedar 313 ton/ha, afdeling D sebesar 287 ton/ha, afdeling E sebesar 67.9 ton/ha, afdeling F sebesar 287 ton/ha, afdeling G sebesar 289 ton/ha, afdeling H sebesar 327 ton/ha, afdeling I sebesar 333 ton/ha,
sedangkan total curah hujan sebesar 9055 mm dan total hari hujan sebesar 454 hari.
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa rataan produktivitas tertinggi pada tanaman tebu selama 5 tahun (2008-2012) terdapat pada afdeling C sebesar 88.3 ton/ha dan rataan produksi terendah terdapat pada afdeling E sebesar 28.7 ton/ha.
Rataan curah hujan tertinggi terdapat pada tahun 2009 sebesar 2291.80 mm dan rataan curah hujan terendah terdapat pada tahun 2011 sebesar 1448.80 mm sedangkan rataan hari hujan tertinggi terdapat pada tahun 2009 sebesar 114 hari dan rataan hari hujan terendah terdapat pada tahun 2010 sebesar 73 hari/bulan.
Analisis Data
Analisis produksi tebu pada tahun 2008, 2009, 2010, 2011, 2012 di PTPN-II Kebun Kwala Madu dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linear berganda dan analisis korelasi. Analisis linear berganda untuk mengetahui apakah variabel curah hujan dan hari hujan akan memberikan pengaruh terhadap produksi tebu. Analisis korelasi berguna untuk melihat kuat lemahnya hubungan antara variabel bebas dan terikat. Alat bantu untuk mengolah data menggunakan SPSS.v.22 for windows.
Analisis Regresi Linear Berganda
Dalam uji regresi berganda dikenal nilai koefisien korelasi (R), koefisien determinasi (R2), dan koefisien determinasi terkoreksi (Adjusted R2). Koefisien bebas dan variabel terikat. Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengetahui persentase sumbangan pengaruh serentak variabel-variabel bebas terhadap varabel terikat. Berikut disajikan nilai koefisien pada model persamaan
regresi linear berganda pada tanaman tebu selama 5 tahun (2008-2012) di PTPN-II Kebun Kwala Madu pada table 12.
Tabel 17. Nilai koefisien persamaan regresi linear berganda pada tanaman tebu selama 5 tahun (2008-2012)
Model 1
R 0.821
R Square 0.674
Adjusted R Square 0.347
Pada tabel 17. dapat diperoleh bahwa pada tanaman tebu nilai koefisien (R) sebesar 82,1 %, koefisien determinasi (R2) sebesar 64,7 % dan kofisien determinasi terkoreksi (Adjusted R2) sebesar 34,7 %. Nilai koefisien (R) sebesar 82,1 % menunjukkan besarnya hubungan variabel hubungan curah hujan dan hari
hujan terhadap variabel produksi tebu selama 5 tahun ialah kuat (dilihat pada tabel 12). Koefisien determinasi (R2) menandakan bahwa 67.4%
variasi produksi tebu dapat dijelaskan oleh variasi variabel curah hujan dan hari hujan yang terjadi dan sisanya sebesar 32.6 % dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model.
Uji t-parsial dilakukan dengan membandingkan nilai t hitung dengan nilai t tabel. Berikut disajikan uji t-parsial pada tanaman tebu selama 5 tahun (2008-2012) pada tabel 13.
Tabel 18. Uji t-parsial pada tanaman tebu selama 5 tahun (2008-2012)
Peubah T hitung Sig
Curah Hujan -1.866 0.203 tn
Hari Hujan 1.646 0.241 tn
Keterangan : tn : tidak nyata
Hasil uji t-parsial di atas,terlihat bahwa nilai signifikansi pada tanaman tebu lebih besar dari alpha 5% (Sig > α 0,05), maka dapat dikatakan t hitung berpengaruh tidak nyata pada taraf kepercayaan 95% dengan nilai t tabel sebesar 2.776. Variabel yang berpengaruh tidak nyata adalah curah hujan dengan nilai t
hitung -1,866 dan nilai signifikansi sebesar 0,203 serta hari hujan dengan nilai t hitung sebesar 1,646 dan nilai signifikansi sebesar 0,241.
Berikut disajikan analisis sidik ragam untuk persamaan regresi linear berganda variabel curah hujan dan hari hujan pada tanaman tebu selama 5 tahun (2008-2012) pada tabel 14.
Tabel 19. Sidik ragam persamaan regresi linear berganda pada tanaman tebu selama 5 tahun (2008-2012)
Jumlah
Keterangan : tn = tidak nyata
Berdasarkan pendugaan model produksi diatas, pada tanaman tebu di tahun 2008-2012, diperoleh F hitung sebesar 2,063 dengan F tabel = 3,34 dan nilai signifikansi pada uji ini adalah 0,326. Nilai signifikansi pada uji F lebih besar daripada alpha 5% (Sig > α 0,05), maka dapat dikatakan F hitung berpengaruh tidak nyata pada taraf kepercayaan 95%. Hal tersebut mengartikan bahwa variabel curah hujan dan hari hujan pada model secara bersama-sama berpengaruh tidak nyata terhadap produksi tanaman tebu.
Berikut disajikan hasil model pengujian analisis regresi linear berganda pada tanaman tebu selama 5 tahun (2008-2012) pada tabel 15.
Tabel 20. Hasil model pengujian analisis regresi linear berganda pada tanaman tebu selama 5 tahun (2008-2012)
Tahun Variable Koefisien regresi Sig
5 Tahun
Konstanta 0.403 0.726
Curah hujan -1.866 0.203
Hari hujan 1.646 0.241
Berdasarkan hasil analisis di atas, dapat di bentuk persamaan regresi yang dihasilkan oleh variabel curah hujan dan hari hujan dalam memprediksi produksi tebu pada tanaman tebu berikut ini :
Y = 0.403 - 1.866 X1 + 1.646 X2 +
ε
Model persamaan dapat diartikan bahwa setiap penambahan satu satuan nilai curah hujan akan menurunkan nilai produksi tebu sebesar -1.866 satuan dan setiap penambahan satu satuan nlai hari hujan akan menaikkan nilai produksi tebu sebesar 1.646 satuan.
Analisis Korelasi
Analisis korelasi berguna untuk melihat kuat-lemahnya hubungan antara variabel bebas dan terikat. Berikut disajikan interpretasi nilai R pada analisis korelasi pada Tabel 16.
Tabel 21. Interpretasi nilai r pada analisis korelasi
Nilai r Interpretasi
0,00 Tidak ada korelasi
0,01-0,20 Sangat lemah
Uji analisis korelasi pada tabel 16. dapat dilihat bahwa tanaman tebu selama 5 tahun menunjukkan hubungan yang erat antara variabel curah hujan dan hari hujan yaitu 0.976. Hubungan yang kuat memperlihatkan berpengaruhnya antara variebel curah hujan dan hari hujan terhadap pencapaian produktivitas tebu.
Hal ini terlihat dari nilai signifikansi lebih kecil dari 5% (Sig > α 0,05) dan korelasi lainnya memperlihatkan hubungan berpengaruh tidak nyata terhadap pencapaian produktivitas tebu yang disebabkan nilai signifikansi lebih besar dari
5% (Sig > α 0,05). Korelasi terlemah terjadi pada variabel produktivitas tebu dengan curah hujan terdapat pada tanaman tebu selama 5 tahun yaitu sebesar 0.21.
Berikut disajikan hasil analisis korelasi antara variabel produksi tebu, curah hujan dan hari hujan pada tanaman tebu selama 5 tahun (2008-2012) pada tabel 22.
Tabel 22. Uji analisis korelasi pada tanaman tebu selama 5 tahun (2008-2012).
Tahun Variabel Statistik Uji
Variabel
Uji analisis korelasi pada Tabel 22. Bahwa pada tanaman tebu selama 5 tahun menunjukkan hubungan yang erat antara variabel curah hujan dan hari hujan yaitu 0.976. Hubungan yang kuat memperlihatkan berpengaruhnya antara variabel curah hujan dan hari hujan terhadap pencapaian produksi tebu. Hal ini terlihat dari nilai signifikansi lebih kecil dari 5% (Sig < α 0,05) dan korelasi lainnya memperlihatkan hubungan berpengaruh tidak nyata terhadap pencapaian
produksi tebu yang disebabkan nilai signifikansi lebih besar dari 5% (Sig > α 0,05). Korelasi terlemah terjadi pada variabel produksi tebu dengan
hari hujan terdapat pada tanaman tebu selama 5 tahun yaitu sebesar 0,324.
Pengaruh Curah Hujan (mm) dan Hari hujan (hari) Terhadap Produksi Tebu Selama 5 Tahun
Dalam Indrawanto et al. (2010) menyatakan bahwa tanaman tebu dapat tumbuh dengan baik di daerah dengan curah hujan berkisar antara 1.000-1300 mm
per tahun dengan sekurang-kurangnya 3 bulan kering. Distribusi curah hujan yang ideal untuk pertanaman tebu adalah: pada periode pertumbuhan vegetatif diperlukan curah hujan yang tinggi (200 mm per bulan) selama 5-6 bulan. Periode selanjutnya selama 2 bulan dengan curah hujan 125 mm dan 4 – 5 bulan dengan curah hujan kurang dari 75 mm/tahun yang merupakan periode kering. Periode ini merupakan periode pertumbuhan generatif dan pemasakan tebu.
Berdasarkan data curah hujan di PTPN-II Unit Kwala Madu, klasifikasi iklim menurut Schimidth-Ferguson termasuk ke dalam tipe B yaitu daerah basah (Lampiran 4). Data curah hujan tertinggi terdapat pada tahun 2009 sebesar 2291 mm/tahun dengan rataan bulan basah sebanyak 10 bulan dan rataan bulan kering sebanyak 2 bulan, dan curah hujan terendah terdapat pada tahun 2011 sebesar 1448,8 mm/tahun dengan rataan bulan basah sebanyak 10 bulan dan rataan bulan kering sebanyak 2 bulan (Lampiran 4). Data total rataan curah hujan pada tanaman tebu di PTPN-II Unit Kwala Madu ialah 1831.56 mm/tahun sedangkan total rataan hari hujan tahunan ialah 91.95 hari. Oleh karena itu jumlah curah hujan sudah sesuai dengan kebutuhan dan syarat tumbuh tanaman tebu.
Rataan produktivitas tebu tertinggi terdapat pada tahun 2010 yaitu afdeling C sebesar 88.3 ton/ha dengan luas lahan 141 ha. Rataan curah hujan pada tahun 2010 adalah sebesar 1535 mm/tahun dan rataan hari hujan pada tahun 2010 adalah sebesar 73 hari/tahun. Hal ini menunjukkan bahwa curah hujan berpengaruh pada tingginya produktivitas tebu, dimana rataan curah hujan pada umumnya adalah sebesar 1000 sampai 1300 mm/tahun, hal ini sesuai dengan literatur Deptan (2013) yang menyatakan bahwa Tanaman tebu dapat tumbuh dengan baik di
daerah dengan intensitas curah hujan antara 1.000 – 1.300 mm pertahun dan memiliki 3 kali bulan kering dalam setahun.
Rataan produktivitas tebu terendah terdapat pada tahun 2008 yaitu afdeling E sebesar 28.7 ton/ha dengan luas lahan sebesar 206 ha. Rataan curah hujan pada tahun 2008 sebesar 1753 mm/tahun dan hari hujan sebesar 88 hari/tahun. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya curah hujan dan rendah nya hari hujan dapat mempengaruhi produktivitas tebu. Sianturi (2001) menyatakan bahwa Jumlah hari hujan yang diinginkan adalah 100 – 150 hari hujan (hh) per tahun. Hari hujan yang tidak merata menyebabkan hasil panen juga tidak merata sehingga kapasitas pabrik dan tenaga buruh tidak dapat dipertahankan secara maksimal.
Berdasarkan hasil analisis regresi, diperoleh nilai koefisien regresi curah hujan selama 5 tahun (2008-2012) pada tanaman tebu memiliki tanda negatif sebesar 1.866 (Tabel 15). Hal tersebut mengartikan bahwa setiap penambahan
satu satuan nilai curah hujan maka akan menurunkan produksi tebu sebesar 1.866 kg dengan asumsi variabel lain dianggap konstan. Sedangkan nilai koefisien
regresi hari hujan memiliki tanda positif sebesar 1.646 (Tabel 15). Hal tersebut mengartikan bahwa setiap penambahan satu hari hujan maka akan menaikkan produksi tebu sebesar 1.646 kg dengan asumsi variabel lain dianggap konstan.
Hasil analisis secara serempak (uji-F) memperlihatkan bahwa variabel curah hujan yang berpengaruh tidak nyata pada taraf uji 5% terhadap produksi tebu. Nilai F hitung pada analisis ini lebih kecil dari pada nilai F tabelnya yakni sebesar 2,063 (2,063 < 3,34) dengan signifikansi 0.326 (Sig > 0,05). Ini membuktikan bahwa curah hujan dan hari hujan secara bersama-sama (serempak) berpengaruh tidak nyata terhadap produksi tebu di PTPN-II Unit Kwala Madu.
Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa curah hujan dan hari hujan secara statistik berpengaruh tidak nyata terhadap produksi tebu pada tanaman tebu di PTPN-II Kebun Kwala Madu. Hal ini diduga disebabkan karena curah hujan terlalu tinggi juga akan berpengaruh kurang baik karena pertumbuhan vegetatif lebih dominan daripada pertumbuhan generatif sehingga bunga atau buah yang terbentuk relatif lebih sedikit. Selain itu, jumlah curah hujan yang terlalu tinggi
Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa curah hujan dan hari hujan secara statistik berpengaruh tidak nyata terhadap produksi tebu pada tanaman tebu di PTPN-II Kebun Kwala Madu. Hal ini diduga disebabkan karena curah hujan terlalu tinggi juga akan berpengaruh kurang baik karena pertumbuhan vegetatif lebih dominan daripada pertumbuhan generatif sehingga bunga atau buah yang terbentuk relatif lebih sedikit. Selain itu, jumlah curah hujan yang terlalu tinggi