• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Perairan Pesisir Timur Pulau Weh Sabang

Pesisir Timur Pulau Weh (PTPW) Sabang merupakan wilayah yang berada di bagian Timur Pulau Weh dengan panjang garis pantai ± 15.8 km mulai dari Pantai Paradiso hingga ke Ujung Seuke. PTPW Sabang memiliki potensi sumberdaya laut dan keanekaragaman hayati yang tinggi sehingga sangat mendukung sektor perikanan dan pariwisata. PTPW Sabang memiliki hukum adat laut yang berfungsi untuk mengatur masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya laut. Kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga sumberdaya pesisir dan didukung oleh aturan adat yang di kawasan PTPW Sabang merupakan dasar dibentuknya PTPW menjadi kawasan konservasi dengan tujuan untuk menjaga sumberdaya terumbu karang dan ikan secara berkelanjutan dari segala dimensi, baik dari dimensi ekologis, sosial ekonomi dan kelembagaannya.

Perairan PTPW Sabang memiliki dua musim yaitu Musim Barat dan Musim Timur. Musim Barat terjadi pada Bulan November hingga Januari yang merupakan bulan-bulan dengan suhu yang relatif rendah (26°C) dan curah hujan yang paling tinggi (353.8 mm). Musim Timur terjadi pada bulan Mei hingga Juli. Rata-rata suhu udara pada Musim Timur dapat mencapai 28.4°C dan kelembaban udara mencapai titik terendah yaitu 73%. Angin pada Musim Timur merupakan angin kecepatan tertinggi (DKP Sabang 2011).

Kualitas perairan di PTPW Sabang memiliki kondisi cukup baik untuk pertumbuhan terumbu karang dengan rata-rata suhu perairan sebesar 25oC. Suhu dalam kisaran tersebut merupakan suhu yang baik untuk pertumbuhan terumbu karang. Hal ini didukung oleh Supriharyono (2000) yang menyatakan bahwa suhu yang baik untuk pertumbuhan terumbu karang berkisar antara 25-29oC, sedangkan batas minimum berada pada kisaran 16-17oC dan batas maksimum berada pada 36oC (Tabel 9).

Tabel 9 Kondisi kualitas perairan di kawasan PTPW Sabang

Lokasi Suhu (oC) pH Kecerahan % Salinitas Kedalaman (m)

Sumur Tiga 25 7.9 100 33 6 - 7 Ujung Kareung 25 7.8 100 33 6 - 7 Reuteuk 26 7.9 100 32 6 - 7 Benteng 25 7.8 100 33 6 - 7 Anoi Itam 25 7.9 100 33 6 - 7 Ujung Seuke 25 7.9 100 32 6 - 7

Nilai derajat keasaman (pH) yang diperoleh dari pengukuran di lapangan rata-rata 7.8. Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Baku Mutu Air Laut, pH normal air laut untuk terumbu karang berkisar antara 7-8.5. Peningkatan keasaman perairan (pH air laut yang lebih rendah) dapat memengaruhi pertumbuhan terumbu karang (Rani 2007).

Pengukuran terhadap kecerahan pada kedalaman 6-7 m masih sangat baik yaitu mencapai 100 % di setiap lokasi pengamatan terumbu karang. Hal ini karena masih kurangnya pengaruh air limbah domestik dari daratan yang masuk ke perairan, selain itu diduga karena pengamatan dilakukan pada musim kemarau yang

menyebabkan kurangnya masukan aliran air dari daratan ke perairan pantai. Menurut Nybakken (1998) limbah domestik dari daratan yang masuk keperairan dapat memengaruhi kecerahan dan ini akan memengaruhi pertumbuhan ekologi. Kecerahan yang optimal sangat mendukung pertumbuhan biota karang dalam proses fotosintesis untuk menghasilkan kalsium karbonat dalam pembentukan terumbu (Nybakken 1998). Ardiwijaya et al. (2006) menambahkan bahwa perairan Pulau Weh relatif memiliki kecerahan perairan yang tinggi, sehingga karang mendapatkan cahaya matahari yang cukup. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Muttaqin (2014) mengatakan bahwa, secara fisika dan kimia perairan di Pulau Weh berada pada kondisi yang baik untuk pertumbuhan ekosistem terumbu karang dengan tingkat kecerahan yang sangat tinggi.

Salinitas yang diperoleh di setiap lokasi penelitian berkisar antara 32-33‰, nilai salinitas ini sesuai dengan kisaran optimal salinitas untuk pertumbuhan karang, yaitu 32-35 ‰ (Nybakken 1992). Namun karang mempunyai toleransi terhadap salinitas yang berkisar antara 27-40 ‰ (Sukarno et al. 1981). Nilai salinitas ini juga sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Muliari (2011) dan Ulfa (2011). Persentase Tutupan Terumbu Karang

Kawasan Konservasi Perairan Daerah Pesisir Timur Pulau Weh (KKPD PTPW) didominasi oleh hamparan terumbu karang dengan tutupan karang hidup yang relatif tinggi, memiliki karakteristik substrat berpasir dengan kemiringan dasar perairan yang cukup landai. Terumbu karang di wilayah ini didominasi oleh beberapa genus tertentu seperti Porites, Pocillopora, dan Heliopora. Hasil penelitian ini juga dikuatkan dari penelitian yang dilakukan oleh Muttaqin (2014) yang mengatakan bahwa, komposisi Genera karang keras didominasi oleh genera karang Porites sebesar 35-40%.

Kondisi terumbu karang di kawasan PTPW Sabang memiliki kategori sedang hingga baik (32-65%), kategori persentase terumbu karang di rujuk dari Gomez dan Yap (1988) dan Yulianda et al. (2010). Persentase tutupan karang tertinggi ditemukan di Benteng yaitu sebesar 65% dan berada pada kategori baik, kemudian diikuti wilayah Sumur Tiga (55%), Ujung Seuke (48%), Anoi Itam (45%), Reutek (41%) sedangkan Ujung Kareung memiliki tutupan terendah yaitu 32.17% dengan kategori sedang (Gambar 3).

Gambar 3 Tutupan karang keras di PTPW Sabang tahun 2015 Tingginya persentase tutupan terumbu karang di wilayah Benteng disebabkan kawasan ini telah ditetapkan sebagai Daerah Perlindungan Laut (DPL)

0 10 20 30 40 50 60 70 80

Anoe Itam Benteng Reutek Sumur Tiga Ujung Kareung Ujung Seuke P erse n tas e

18

yang merupakan zona inti (no-take zone) dari tahun 2006 yang dikelola dengan sistem hukum Adat Laot. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Muliari (2011), ulfa (2011) dan Muttaqin (2014) menyebutkan bahwa Benteng merupakan lokasi yang memiliki persentase tutupan karang tertinggi di setiap tahun pengamatan di PTPW Sabang. Kawasan yang dilindungi secara baik telah meningkatkan pertumbuhan terumbu karang secara perlahan. Hal ini didukung oleh Christie et al. (2002) yang menyebutkan terjadi peningkatan tutupan karang hidup secara signifikan pada daerah yang dilindungi.

Ujung Kareung merupakan stasiun yang memiliki persentase tutupan karang terendah dibandingkan statiun lainnya. Tutupan karang pada stasiun ini rendah diduga akibat tingginya penangkapan terhadap ikan karang khususnya bagi nelayan speargun. Selain itu lokasi ini merupakan lokasi dengan pertumbuhan terumbu karang di dominasi oleh karang Porites dan sand sehingga sulit bagi karang baru untuk tumbuh dikawasan ini. Untuk kawasan dengan pertumbuhan karang hidup yang rendah perlu pengelolaan yang lebih maksimal dibandingkan kawasan lainnya, seperti menyediakan substat baru untuk memancing pertumbuhan anakan karang, melakukan transplantasi karang agar pertumbuhan karang lebih beragam dan mengurangi aktifitas penangkapan supaya tidak menggagu pertumbuhan terumbu karang di kawasan. Begitu juga terhadap stasiun Reuteuk yang memiliki persentase pertumbuhan karang rendah.

Kawasan KKPD PTPW Sabang memiliki genus dan komunitas life form karang yang beragam, ditemukan sebanyak 30 genus karang (Lampiran 2) dan 11 life form karang keras (Lampiran 3). Komposisi life form yang ditemukan diantaranya Coral Massive (CM), Coral Branching (CB), Coral Encrusting (CE), Coral Submassive (CSM), Coral Heliopora (CHL), Coral Foliose (CF), Coral Milliopora (CME), Acropora Branching (ACB), Acropora Digitate (ACD), Acropora Encrusting (ACE) dan Coral Masroom (CMR). Coral Massive merupakan jenis life form yang paling mendominasi di setiap lokasi pengamatan.

Karateristik perairan PTPW Sabang yang terbuka dan memiliki gelombang serta arus yang tinggi menyebabkan karang massive mendominasi kawasan ini. Karang massive memiliki struktur yang kokoh dan umumnya berbentuk bulat sehingga mampu bertahan di perairan yang memiliki arus dan ombak yang kuat. Hal ini sejalan dengan pernyataan Panggabean (2007), karang massive merupakan karang yang mampu beradaptasi pada berbagai kondisi lingkungan perairan. Siringoringo dan Hadi (2013) menambahkan bahwa karang massive lebih resistan terhadap kondisi lingkungan dengan turbiditas (kekeruhan) tinggi. Bentuk pertumbuhan karang massive merupakan cara terumbu karang dalam mentolerir terhadap kondisi perairan yang ekstrim.

Porites merupakan genus yang dominan ditemukan di lokasi penelitian yaitu sebanyak 63%, Heliopora sebesar 12%, Montipora sebesar 7%, Milliopora dan Favites sebesar 3% (Gambar 4). Sebanyak 30 genus karang keras yang ditemukan selama pengambilan data di kawasan PTPW Sabang (Lampiran 4). Menurut Muliari (2011), Porites merupakan jenis karang yang paling banyak ditemukan pada daerah rataan terumbu yang terkena kematian karang. Hal ini sesuai dengan kondisi yang terjadi di kawasan PTPW Sabang. Kelimpahan genus Porites tertinggi juga ditemukan pada penelitian yang dilakukan oleh Seto et al. (2014) di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, kelimpahan tertinggi ditemukan pada genus Porites dengan persentase 19.70% dan Montipora sebesar 16.69%.

Keberadaan genus Porites dan Montipora ditemukan di seluruh stasiun dengan jumlah yang banyak disebabkan oleh beberapa faktor. Mekanisme reproduksi Porites melalui brooding, kelompok karang dengan telur yang dibuahi di dalam polyp, selanjutnya terjadi perkembangan embrio dan larva di dalam polyp Harrison dan Wallace (1990) dalam Pitasari et al. (2011). Larva genus Porites mampu menempel langsung pada substrat karena telah memiliki septa dan alga Zooxanthella Richmond (1997) dalam Seto et al. (2014). Porites juga mampu menghasilkan banyak larva planula setiap tahunnya sehingga memiliki tingkat rekrutmen yang lebih tinggi Moulding (2005) dalam Pitasari et al. (2011). Siringoringo dan Hadi (2013) menambahkan bahwa karang jenis Porites mampu melakukan recovery (pulih kembali) terhadap penutupan sedimen meskipun telah terkubur keseluruhan selama 3 hari.

Gambar 4 Persentase genus karang di KKPD PTPW Sabang

Kelimpahan karang Porites berfungsi sebagai tempat berlindung bagi ikan Lutjanidae, Serranidae, Mullidae dan beberapa jenis ikan nokturnal lainnya. Ikan nokturnal adalah ikan yang aktif pada malam hari sehingga lebih sering ditemukan bersembunyi di celah-celah karang Porites pada siang hari. Rani et al. (2008) menyatakan keterkaitan yang terjadi secara langsung antara karang hidup dengan ikan karang yaitu sebagai rumah dan sebagai tempat persembunyian bagi ikan-ikan target. Struktur karang yang kuat dan berbentuk bulat yang menyerupai batu menjadikan Porites berfungsi sebagai pemecah gelombang sehingga dapat menjaga pesisir pantai dari hempasan ombak besar. Tipe karang massive (porites) biasanya hidup pada perairan yang berarus dan terluar seperti di wilayah PTPW Sabang. Hal ini sesuai dengan penjelasan English et al. (1997), jenis karang yang dominan disuatu habitat bergantung pada lingkungan atau kondisi karang tersebut hidup.

Dari hasil survei yang dilakukan oleh WCS dari tahun 2009-2013 tutupan karang di kawasan PTPW Sabang mengalami perubahan, kondisi ini disebabkan karena terjadinya perubahan suhu pada tahun 2010 yang menyebabkan sebagian besar terumbu karang mati khususnya karang bercabang seperti Acropora, sedangkan karang Porites tetap bertahan dan pulih kembali. Muttaqin (2014) menyatakan komposisi genera karang di wilayah KKP Pantai Timur 35% diantaranya adalah karang Acropora dan Pocillopora. Setelah terjadinya pemutihan

Acropora 0% DCA 38% Echinopora 0% Favia 1% Favites 1% Galaxea 0% Heliopora 6% Milliopora 2% Montipora 3% Pavona 1% Pocillopora 0% Porites 29% Rock 2% Montastrea 0% Rubble 4% Sand 9% lainnya 1% Hydnopora 1%

20

karang semua genera tersebut mengalami kematian. Kondisi ini yang menyebabkan tutupan alga di kawasan cukup tinggi dan menyisakan karang-karang yang kuat seperti Porites.

Kondisi terumbu karang tahun 2009 termasuk dalam kategori baik (persentase tutupan karang sebesar 56%), pada tahun 2011 turun pada kategori sedang (persentase tutupan karang sebesar 41%) dan tahun 2013 berada pada kategori rendah (persentase tutupan sebesar 30%) (Gambar 5). Perubahan penutupan ini akibat perubahan iklim yang menyebabkan terjadinya pemutihan terumbu karang di wilayah PTPW Sabang tahun 2010 (Ulfa 2011; Muttaqin 2014). Perubahan persentase tutupan karang juga terjadi di wilayah Amet Bali pada tahun 2010 akibat pemutihan karang Simorangkir (2015). Rani (2007) menyebutkan bahwa diperkirakan terjadi penurunan kondisi karang sebesar 70-95% pada hewan karang yang kehilangan simbionnya yang bergantung pada intensitas pemulihannya.

Gambar 5 Tutupan karang hidup di KKPD PTPW Sabang tahun 2009 - 2015 (data

WCS dan lapangan)

Karang mati tertinggi tahun 2013 terjadi di lokasi Ujung Kareung, Sumur Tiga dan Reutek. Hal ini disebabkan pada lokasi tersebut banyak ditumbuhi karang bercabang yang kurang tahan terhadap perubahan suhu perairan yang ekstrim, sehingga tidak dapat beradaptasi dengan kondisi tersebut. Pada tahun 2013 penurunan persen tutupan karang masih tetap berlanjut, hal ini diduga akibat proses pemulihan atau adaptasi terumbu karang terhadap lingkungan dan perairan masih belum berjalan secara normal.

Pada tahun 2011 hingga tahun 2015 persen tutupan karang di lokasi Benteng lebih baik dibandingkan lokasi lain. Hal ini karena Benteng berada pada kawasan yang sedikit terlindung dari laut lepas dengan kontur kawasan yang hampir seperti lagoon sehingga terumbu karang terlindung dari pengaruh gelombang dan arus yang terjadi pada musim Timur. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Seto et al. (2014) yang menyatakan bahwa, nilai tutupan karang tertinggi berada di stasiun Gosong Sebaru Besar di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu disebabkan karena kawasan tersebut berada diantara beberapa pulau sehingga terlindung dari arus yang kencang. Secara umum kawasan PTPW Sabang merupakan kawasan yang langsung menghadap laut lepas, sehingga

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

Anoe Itam Benteng Reutek Sumur Tiga Ujung

Kareung

Ujung Seuke

pergerakan angin dan arus sangat berpengaruh terhadap kondisi pertumbuhan terumbu karang.

Pertumbuhan terumbu karang pada lokasi Reutek dan Anoi Itam cenderung stabil meskipun tetap mengalami perubahan jika dibandingkan dengan Sumur Tiga dan Ujung Kareung. Penurunan persen tutupan karang pada tahun 2013 di lokasi tersebut terjadi dengan sangat drastis. Rendahnya tutupan karang diduga masih dipengaruhi oleh kematian karang akibat karang bleaching. Kemampuan pemulihan karang bleaching membutuhkan waktu yang lama. McClanahan (2000) menyebutkan bahwa masih terus dilakukan penelitian terhadap lamanya waktu yang di butuhkan untuk pemulihan karang bleaching.

Lambatnya pertumbuhan karang dan meningkatnya tutupan alga menyebabkan terumbu karang sulit untuk pulih. Kemampuan terumbu karang untuk pulih sangat dipengaruhi oleh kualitas perairan (Suharsono 1984) dan aktivitas manusia. Menurut Westmacot et al. (2000) terumbu karang yang tidak diganggu oleh kegiatan manusia memiliki kemampuan lebih untuk pulih, bila didukung oleh keadaan lingkungan yang optimal untuk pertumbuhan karang.

Kondisi tutupan karang mengalami peningkatan pada tahun 2015, karena terumbu karang mulai beradaptasi dengan perubahan suhu dan lingkungan. Dan sistem pengelolaan yang semakin membaik juga memengaruhi peningkatan tutupan karang, salah satunya dengan membatasi alat tangkap. Penggunaan alat tangkap pancing merupakan langkah yang paling tepat untuk menjaga kelestarian terumbu karang dan ikan karang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Simorakir (2015), pengelolaan kawasan merupakan langkah yang tepat untuk membantu menjaga pertumbuhan karang.

Pertumbuhan Anakan (Rekrutmen) Karang

Kelimpahan koloni rekrutmen karang pada saat pengamatan termasuk dalam kategori rendah dengan rata-rata kelimpahan sebesar 5 koloni/m2.

Kelimpahan koloni anakan karang pada masing-masing lokasi sebagai berikut: kelimpahan tertinggi berada pada lokasi Ujung Seuke yaitu sebanyak 9.2 koloni/m2, selanjutnya Sumur Tiga sebanyak 6.4 koloni/m2, Reuteuk sebanyak 4.4 koloni/m2,

Ujung Kareung sebanyak 2.9 koloni/m2, Benteng sebanyak 2.8 koloni/m2 dan lokasi yang memiliki pertumbuhan anakan karang terendah berada pada Anoi Itam sebanyak 2.1 koloni/m2 (Gambar 6).

Gambar 6 Kelimpahan koloni karang muda tahun 2015

0,0 2,0 4,0 6,0 8,0 10,0 12,0

Anoi Itam Benteng Reutek Sumur Tiga Ujung Kareng Ujung Seuke

Ko lo n i/ m 2

22

Pertumbuhan rekrutmen (anakan) karang sangat dipengaruhi oleh ketersedian larva karang, substrat yang baik dan nutrien yang cukup. Pertumbuhan rekrutmen karang mengidentifikasikan pemulihan ekosistem terumbu karang di suatu kawasan. Rendahnya pertumbuhan rekrutmen karang akibat tingginya arus yang terjadi pada musim Timur dan musim peralihan yang menyebabkan gelombang laut yang besar. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dikaji oleh Suryanti et al. (2011) yang menyatakan bahwa tekanan ekologis yang berasal dari alam berupa gelombang laut yang besar menyebabkan terumbu karang rusak dan tercabut dari substratnya selain itu kondisi substrat yang labil menyebabkan rekrutmen karang sulit untuk menempel. Pertumbuhan anakan (rekrutmen) karang di kawasan PTPW Sabang di jumpai sebanyak 20 genus (Lampiran 8) dengan pertumbuhan tertinggi dari genus Porites.

Terbatasnya ketersediaan nutrien ditambah dengan sulitnya mendapatkan lokasi yang sesuai untuk penempelan larva karang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan rekruit karang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Abrar (2011) bahwa salah satu faktor yang memengaruhi kelulus hidupan juvenil karang di suatu perairan adalah ketersediaan substrat stabil, sedimentasi, dan biota predator. Kesuksesan hidup rekrutmen karang sangat dipengaruhi oleh karakteristik dasar perairan. Karakteristik tersebut berhubungan dengan jenis substrat dan ketersediaan ruang sebagai tempat penempelan larva karang (Bachtiar et al. 2012). Timotius (2003) menambahkan bahwa kondisi substrat dasar perairan sangat berpengaruh dalam keberhasilan polyp karang untuk menempel dan menjadi individu karang baru.

Rendahnya pertumbuhan anakan karang di kawasan berhubungan dengan persentase tutupan substrat di lokasi pengamatan (Gambar 7). Persentase antara tutupan karang hidup dengan persen Dead Coral Alga (DCA) hampir sama, bahkan terdapat beberapa lokasi yang lebih tinggi persen DCA dibandingkan karang hidup. Meningkatnya pertumbuhan DCA menyebabkan terjadinya kompetisi ruang antara alga dan anakan karang (Ardiwijaya 2006). Kondisi ini dipengaruhi oleh tingginya patahan karang ataupun karang yang terbalik akibat arus dan gelombang yang kuat. Selain itu diduga akibat penangkapan ikan dengan menggunakan speargun (panahan). Proses penangkapan tersebut menyebabkan karang patah saat nelayan mengejar ikan-ikan target yang bersembunyi di sela-sela karang hidup. Akibatnya patahan karang yang tidak dapat pulih akan mati dan ditumbuhi alga. Berdasarkan grafik tersebut terlihat bahwa substrat yang terdapat di kawasan terdiri dari karang hidup, DCA, other, rock, patahan karang, pasir dan soft coral.

Gambar 7 Persentase substrat dasar perairan di kawasan PTPW Sabang

0 10 20 30 40 50 60 70 80

Anoe Itam Benteng Reutek Sumur Tiga Ujung Kareung Ujung Seuke P erse n tas e

Tingginya karang mati yang ditumbuhi alga (DCA) dapat ditemukan pada daerah yang berombak dan kawasan yang pergerakan gelombangnya tinggi, seperti yang terjadi di KKPD PTPW Sabang. Pernyataan ini dikuatkan oleh hasil penelitian Souhoka (2013) yang menyatakan karang mati beralga (DCA) dapat ditemukan pada daerah yang berombak (alamiah) dan juga pada daerah yang pergerakan gelombangnya tidak terlalu besar sebagai akibat adanya tekanan kerusakan oleh aktivitas manusia. Tingginya DCA juga bisa dipengaruhi oleh rendahnya kelimpahan ikan herbivora. Menurut Muttaqin (2015) kelompok ikan herbivora terdiri dari famili Acanthuridae, kyphosidae, Labridae dan Scarida. Ikan karang tersebut memakan alga yang menempel pada substrat dalam rombongan. Palupi et al. (2012) menyatakan bahwa area dengan rekrutmen karang yang tinggi cenderung mempunyai algae yang melimpah, sedikit ditemukan macroalgae, dan banyak ditemukan ikan herbivora serta bulu babi untuk membantu menjaga substrat agar tidak ditumbuhi algae.

Kelimpahan Ikan karang

Kelimpahan ikan karang rata-rata di PTPW Sabang sebesar 227 ind/250 m2 dengan kategori melimpah. Kelimpahan tertinggi berada di Ujung Seuke yaitu sebesar ±380 ind/250 m2 dengan kategori sedang diikuti oleh Ujung Kareung ±254 ind/250 m2, Sumur Tiga ±247 ind/250 m2, Anoi Itam ±166 ind/m2, Reutek ±158 ind/m2 dan lokasi dengan kelimpahan terendah berada pada lokasi Benteng yaitu sebesar ±156 ind/250 m2 dengan kategori rendah (Gambar 8). Kondisi ini diduga akibat penangkapan di daerah Benteng sangat tinggi, semakin tinggi penangkapan maka kesempatan ikan untuk berkembang biak akan semakin rendah dan memengaruhi kelimpahan. Hal ini didukung oleh pernyataan Wang et al. (2016), peningkatan alat tangkap, teknologi penangkapan yang semakin canggih dan peningkatan penangkapan ikan telah mengakibatkan penurunan biomassa dan ukuran ikan dan rendahnya spesies ikan target. Charton et al. (2008) menambahkan bahwa mengurangai penangkapan yang berlebihan dapat memberikan perlindungan bagi ekosistem.

Gambar 8 Kelimpahan ikan karang di PTPW Sabang tahun 2015

Ujung Seuke terletak di ujung Pantai Timur yang berhadapan langsung dengan laut sumatra, lokasi tersebut memiliki jarak yang sedikit jauh dari penduduk. Kawasan tersebut tidak memiliki pantai namun memiliki pergerakan arus yang kuat karena dipengaruhi oleh arus masuk dan keluar pada saat pasang

0 50 100 150 200 250 300 350 400 450

Anoi Itam Benteng Reutek Sumur Tiga Ujung Kareung Ujung Seuke In d /2 5 0 m 2

24

surut. Oleh sebab itu, nelayan jarang melakukan penangkapan di kawasan ini, dengan alasan jarak dan arus yang kuat yang menyebabkan nelayan sulit memancing dan menembak. Berdasaran kondisi tersebut yang diduga tingginya kelimpahan ikan karang di Ujung Seuke. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wang et al. (2016) menunjukkan total biomassa ikan meningkat selama usaha penangkapan dialihkan/dikurangi. Berdasarkan perbedaan kelimpahan ikan karang pada masing-masing stasiun maka pengelolaan terhadap ikan karang juga berbeda. Stasiun dengan kelimpahan ikan rendah seperti Anoi Itam, Benteng dan Reuteuk harus dikurangi aktivitas penangkapannya, sehingga kelimpahan ikan karang kedepannya tetap stabil. Hal ini untuk mencegah terjadinya overfishing untuk kawasan-kawasan tertentu khususnya penangkapan terhadap ikan-ikan yangmenjadi target tangkapan nelayan seperti ikan kerapu yang memiliki nilai jual tinggi. Menurut masyarakat ikan kerapu (Plectropomus leopardus) telah jarang di jumpai di setiap kawasan di PTPW Sabang akibat permintaan pasaryan cukup tinggi.

Pengukuran terhadap Ikan karang dilakukan berdasarkan tiga kelompok yaitu ikan mayor, ikan target dan ikan indikator. Ikan mayor merupakan ikan yang keberadaannya paling tinggi di setiap lokasi penelitian dengan kelimpahan rata-rata sebesar ±156 ind/250 m2, jumlah ini jauh lebih tinggi dibanding dengan kelimpahan ikan target yang hanya sebesar ±59 ind/250 m2 (Gambar 9). Tingginya kelimpahan ikan mayor disebabkan karena jumlah ikan tersebut paling banyak ditemukan di perairan. Seperti pada famili Pomacentridae, Balistidae dan Labridae. Ikan-ikan ini paling sering ditemui di terumbu karang dan paling banyak jenisnya yaitu sekitar 300 spesies. Ikan ini merupakan kelompok ikan diurnal (aktif pada siang hari) dan beberapa jenis juga hidup secara berkelompok (Terangi 2004).

Gambar 9 Kelimpahan ikan karang berdasarkan kelompok di kawasan PTPW Sabang

Ikan indikator merupakan ikan yang menunjukkan kondisi kesehatan terumbu karang di suatu kawasan. Kelimpahan ikan indikator dilihat dari kelimpahan ikan Chaetodontidae. Semakin tinggi keberadan ikan tersebut dapat dipastikan kondisi terumbu karang semakin sehat. Keberadaan ikan indikator di kawasan rata-rata sebesar 15 ind/250 m2 yang menandakan berada pada kategori sedang. Kondisi ini diduga berpengaruh pada kelimpahan tutupan karang di kawasan. Hasil penelitian Maharbhakti (2009) menyebutkan persen tutupan karang memberikan pengaruh yang besar terhadap kelimpahan ikan Chaetodontidae. Hasil

0 50 100 150 200 250 300 350 400

Anoi Itam Benteng Reutek Sumur Tiga Ujung Kareung Ujung Seuke In d /2 5 0 m 2

ini diperkuat dengan hasil analisis makanan yang ditemukan di dalam usus ikan tersebut, sebesar 52 % isi ususnya mengandung zat kapur (dari terumbu karang). Berkurangnya ikan Chaetodontidae juga berpengaruh pada melimpahnya karang Porites dibandingkan karang bercabang. Hasil penelitian Maddupa (2006)

Dokumen terkait