Praktikum dilakukan di lahan percobaan Jatimulyo Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang dengan ketinggian tempat 460 mdpl. Lahan percobaan Jatimulyo merupakan lahan milik Universitas Brawijaya yang tergolong masih baru. Berdasarkan dari sejarah lahan, awal mulanya lahan ini ditanami dengan tanaman mentimun, kemudian beralih digunakan sebagai lahan percobaan tanaman ubi jalar. Selain ubi jalar, lahan ini juga ditanami oleh beberapa komoditas seperti jagung, tomat, labu, bunga kol,
semangka, kacang tanah, tebu, kedelai, dan bawang merah. Sebelum kegiatan penanaman, dilakukan pengambilan sampel tanah untuk mengetahui hasil analisis laboratorium mengenai kandungan sifat tanah pada lahan percobaan Jatimulyo. Berikut ini adalah tabel hasil analisis sifat tanah yang dilakukan di laboratorium.
Tabel 1. Hasil Analisa Kimia Tanah Lahan Ubi Jalar
Ket: dalam persen (%)
Berdasarkan analisis laboratorium diatas diperoleh hasil sifat kimia tanah. Dari sifat kimia tanah tersebut didapatkan hasil pH HCl sebesar 6.1 sedangkan pH KCl 1N sebesar 5.4. pH tanaman merupakan suatu ukuran tanaman untuk tumbuh dengan baik. Jika dalam tanah mempunyai pH rendah maka akan mengakibatkan tanah bersifat toksik atau racun. Sedangkan jika pH tinggi tanaman akan tumbuh dengan baik karena terdapat mikroorganisme yang dapat menguntungkan bagi akar tanaman. Menurut Juanda dan Cahyono (2000) bahwa tanaman ubi jalar optimal ditanam pada pH berkisar 5,5 hingga 7,5. Hal ini sesuai dengan rentang pH pada sampel tanah ubi jalar hasil laboratorium. Derajat keasaman (pH) yang cocok pada tanaman ubi jalar maka akan menyebabkan pertumbuhan tanaman baik dan hasil umbi akan melimpah.
Pada analisis laboratorium dihasilkan C-organik tanah sebesar 1.82% dan N-total tanah sebesar 0.19% sehingga dihasilkan C/N rasio sebesar 10. Nilai C-organik pada hasil sampel tanah ini termasuk dalam kategori rendah.Dengan
No Lab Kode pH1:1 C-org N-total C/N K Na Ca Mg KTK H2O KCL 1N NH4OAC1N pH 7 TNH1483 3.1 6.1 5.4 1.82 % 0.19 % 10 0.54 0.46 13.3 5 3.02 32.78
data diatas maka tanaman ubi jalar tidak sesuai dengan kondisi dilahan dikarenakan C/N rasio pada lahan tergolong dalam kategori rendah. C/N rasio yang rendah menyebabkan tanaman tetap pada masa vegetatifnya. Tanaman yang tetap pada fase vegetatif maka akan mengalami masalah dalam pembungaan serta pembuahannya.
Menurut Prijono (2013) menyatakan bahwa jumlah C-organik dalam tanah tidak kurang dari 2% agar kandungan bahan organik dalam tanah tidak menurun akibat dari dekomposisi mineralisasi. Sedangkan nilai N-total pada hasil sampel tanah termasuk ke dalam kategori rendah. Menurut Mawardiana (2013), N-total pada tanaman yang rendah akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman yang tidak optimal dan menurunkan produktifitas dari ubi jalar. Hasil C/N rasio dari sampel tanah tersebut termasuk rendah. C/N rasio adalah perbandingan dari nitrogen dan karbon yang terdapat dalam bahan organik. C/N rasio yang rendah menunjukkan bahan organik sudah terdekomposisi dan hampir menjadi humus. Menurut Achmad dkk (2011), indikator C/N rasio adalah sebagai indikator kestabilan bahan organik.
Kandungan unsur yang didapatkan dari sampel tanah antara lain K, Na, Ca, dan Mg. Nilai unsur K sebesar 0,54 me/100g, nilai Na sebesar 0,46 me/100g, nilai Ca sebesar 13,35 me/100g, dan nilai Mg sebesar 3,02 me/100g. Dari unsur tersebut yang mempunyai kandungan unsur paling tinggi di dalam tanah adalah unsur Ca sedangkan unsur paling sedikit yang ada di dalam tanah adalah unsur Na. Nilai KTK dalam sampel tanah tersebut sebesar 32,78 me/100g. Dari hasil KTK tanah tersebut tergolong dalam kondisi tinggi. Menurut Trubus (2015), Kapasitas Tukar Kation (KTK) merupakan petunjuk dari ketersediaan hara bagi tanaman serta dapat menjadi indikator dari kesuburan tanah. Semakin tinggi KTK akan semakin tinggi juga kemampuan tanah untuk menahan unsur hara.Dengan data diatas maka tanaman ubi jalar mampu tumbuh baik secara optimal.
Pada sampel tanah didapatkan komposisi pasir, debu, dan liat sebesar 11%, 44%, dan 45% sehingga tekstur tanah tersebut tergolong liat berdebu. Menurut Suparman (2007), jenis tanah yang sesuai untuk menanam tanaman ubi jalar yaitu tanah yang gembur serta banyak mengandung unsur hara yang
mempunyai kandungan lempung dan pasir. Sedangkan menurut jenis tanah yang paling baik untuk menanam ubi jalar yaitu tekstur tanah pasir berlempung, tanah gembur, bahan organik melimpah, mempunyai drainase yang baik, serta pH antara 5,5-7,5. Tanaman ubi jalar jika ditanam pada tanah yang kering akan
menyebabkan tanaman mudah terkena hama penggerek Cylas sp. Sedangkan jika ditanam pada drainase yang kurang bagus akan menyebabkan tanaman mejadi kerdil, ubi tanaman mudah busuk serta bentuk ubi akan benjol-benjol. Dari literatur tersebut menunjukkan ketidaksamaan jenis tanah di lapang dengan literatur. Dimana literatur menyebutkan bahwa tanah yang paling baik adalah jenis tanah pasir berlempung. Hal ini bisa dikarenakan lahan tersebut bekas dari
tanaman mentimun.
4.2 Parameter Pertumbuhan 4.2.1 Panjang Tanaman Ubi Jalar
Berdasarkan hasil pengamatan panjang tanaman ubi jalar yang dilakukan pada 3 minggu setelah tanam sampai 8 minggu setelah tanam dengan perlakuan toping dan non toping pada beberapa varietas ubi jalar diperoleh hasil sebagai berikut
Tabel 2. Rerata panjang tanaman ubi jalar perlakuan toping dan non toping pada beberapa varietas ubi jalar
No. Perlakuan Kelas Panjang Tanaman (Mst)
3 4 5 6 7 8 1. Antin 3 + Toping Y 19,2 19,1 27,4 64,2 103,1 173 2. Antin 3 + Non Toping J 22,6 26 42,2 84,4 123,4 142,4 3. Beta 2 + Toping M 2,86 26,82 30,1 56,2 84 85,2 4. Beta 2 + Non Toping Z 14,2 30,2 62,2 111,6 155,2 217 5. Sari 2 + Toping R 11,6 13,4 16,7 28,5 47,7 49,4 6. Sari 2 + Non Toping B 18,8 20,58 24 29,7 41,8 64,5 Ket: Mst (minggu setelah tanam)
Hasil pengamatan pada perlakuan toping varietas antin 3 tanaman ubi jalar menunjukan kenaikan panjang tanaman dengan kisaran 0,52 % pada 3 mst menuju 4 mst, 30,3 % pada 4 mst menuju 5 mst, 57,3 % pada 5 mst menuju 6 mst, 37,7 % pada 6 mst menuju 7 mst, 40,4 % pada 7 mst menuju 8 mst. Pengamatan dengan perlakuan non toping pada varietas antin 3 tanaman ubi jalar menunjukan kenaikan panjang tanaman dengan kisaran 13,07 % pada 3 mst menuju 4 mst, 38,4 % pada 4 mst menuju 5 mst, 50 % pada 5 mst menuju 6 mst, 31,6 % pada 6 mst menuju 7 mst, 13,3 % pada 7 mst menuju 8 mst.
Pengamatan dengan perlakuan toping varietas beta 2 tanaman ubi jalar menunjukan kenaikan panjang tanaman dengan kisaran 89,4 % pada 3 mst menuju 4 mst, 10,8 % pada 4 mst menuju 5 mst, 46,4 % pada 5 mst menuju 6 mst, 33,1 % pada 6 mst menuju 7 mst, 1,41 % pada 7 mst menuju 8 mst. Pengamatan dengan perlakuan non toping varietas beta 2 tanaman ubi jalar menunjukan kenaikan panjang tanaman dengan kisaran 53 % pada 3 mst menuju 4 mst, 51,4 % pada 4 mst menuju 5 mst, 44,3 % pada 5 mst menuju 6 mst, 28,1 % pada 6 mst menuju 7 mst, 28,5 % pada 7 mst menuju 8 mst.
Hasil pengamatan pada perlakuan toping varietas sari 2 tanaman ubi jalar menunjukan kenaikan panjang tanaman dengan kisaran 13,4 % pada 3 mst menuju 4 mst, 19,8 % pada 4 mst menuju 5 mst, 41,4 % pada 5 mst menuju 6 mst, 40,3 % pada 6 mst menuju 7 mst, 3,44 % pada 7 mst menuju 8 mst. Data pengamatan terakhir adalah data hasil pengamatan dengan perlakuan non toping varietas sari 2 tanaman ubi jalar menunjukan kenaikan panjang tanaman dengan kisaran 8,65 % pada 3 mst menuju 4 mst, 14,3 % pada 4 mst menuju 5 mst, 19,2 % pada 5 mst menuju 6 mst, 28,9 % pada 6 mst menuju 7 mst, 35,2 % pada 7 mst menuju 8 mst. Berdasarkan data hasil pengamatan pada perlakuan toping dan non toping mengalami peningkatan panjang tanaman ubi jalar dengan kisaran yang berbeda pada setiap minggu setelah tanam.
Gambar 8. Rerata panjang tanaman ubi jalar perlakuan toping dan non toping pada beberapa varietas ubi jalar
Berdasarkan hasil olah data grafik panjang tanaman ubi jalar ( Ipomea batatas L.) terhadap perlakuan toping dan non toping, hasil yang didapat yaitu setiap minggu atau sampai 8 Mst panjang tanaman selalu bertambah secara signifikan pada beberapa varietas ubi jalar. Hasil analisa menunjukan bahwa tiga varietas ubi jalar dan perlakuan toping tidak berpengaruh terhadap panjang
0 50 100 150 200 250 3 mst 4 mst 5 mst 6 mst 7 mst 8 mst Antin 3 + Topping Antin 3 + Non Topping Beta 2 + Topping Beta 2 + Non Topping Sari 2 + Topping Sari 2 + Non Topping
tanaman ubi jalar umur 3 minggu setelah tanam. Perbedaan varietas ubi jalar berpengaruh nyata pada pengamatan umur 3, 5, 6, 7, dan 8 Mst sedangkan perlakuan toping memberikan pengaruh nyata terhadap panjang tanaman ubi jalar pada pengamatan umur 8 Mst. Rerata panjang tanaman ubi jalar pada
varietas ubi jalar dan tingkat perlakuan toping dan non toping yang berbeda. Pemangkasan pucuk (toping) merupakan cara mengatur apical agar dapat ditiadakan, yang selanjutnya akan merangsang pada pembentukan cabang-cabang baru. (Rochayat, dkk. 2017). Rochmatino (2000) menyatakan bahwa tanaman yang pertumbuhannya terlalu subur dan rimbun, sebaiknya dilakukan pemangkasan dan pengurangan daun, sebab kalau daunnya banyak, hasil umbi bisa berkurang. Panjang tanaman ubi jalar sebagai komponen pertumbuhan dapat digunakan salah satu indikator kesuburan tanaman. Sulur tanaman yang panjang dan bobot kering tanaman yang tinggi akan menghasilkan umbi yang bagus (Astuti. 2009).
4.2.2 Jumlah Daun
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan pada tanaman ubi jalar dengan menghitung jumlah daun tanaman. Pengamatan dilakukan 3 minggu setelah tanam sampai 8 minggu setelah tanaman dengan perlakuan toping dan non toping pada tiga varietas yang berbeda. Hasil pengamatan rerata jumlah daun pada masing perlakuan adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Rerata panjang tanaman ubi jalar perlakuan toping dan non toping pada beberapa varietas ubi jalar
No. Perlakuan Kelas Jumlah Daun Pada Umur Tanaman 3 4 5 6 7 8 1. Antin 3 + Toping Y 8,2 15,8 29,6 55.6 110.6 167.2 2. Antin 3 + Non Toping J 3,2 9 17,2 50,4 79,8 109,2 3. Beta 2 + Toping M 17,4 52 99 190,8 220,2 213,4 4. Beta 2 + Non Toping Z 10.8 23.8 37 92.2 152.2 267 5. Sari 2 + Toping R 6,4 11,2 20,8 36,8 71,2 98,8 6. Sari 2 + Non Toping B 10,4 17 26,6 42,2 77 117,8 Ket: Mst (minggu setelah tanam)
Hasil pengamatan pada perlakuan toping varietas antin 3 tanaman ubi jalar menunjukan kenaikan jumlah daun dengan kisaran 48,1 % pada 3 mst menuju 4 mst, 46,6 % pada 4 mst menuju 5 mst, 46,8 % pada 5 mst menuju 6 mst, 49,7 % pada 6 mst menuju 7 mst, 33,9 % pada 7 mst menuju 8 mst.Pengamatan dengan perlakuan non toping varietas antin 3 tanaman ubi jalar menunjukan kenaikan
jumlah daun dengan kisaran 64,4 % pada 3 mst menuju 4 mst, 47,7 % pada 4 mst menuju 5 mst, 65,9 % pada 5 mst menuju 6 mst, 36,9 % pada 6 mst menuju 7 mst, 26,9 % pada 7 mst menuju 8 mst.Pengamatan dengan perlakuan toping varietas beta 2 tanaman ubi jalar menunjukan kenaikan jumlah daun dengan kisaran 66,5 % pada 3 mst menuju 4 mst, 47,5 % pada 4 mst menuju 5 mst, 48,1 % pada 5 mst menuju 6 mst, 13,4 % pada 6 mst menuju 7 mst, tetapi terjadi penurunan 3,19 % pada 7 mst menuju 8 mst.Pengamatan dengan perlakuan nontoping varietas beta 2 tanaman ubi jalar menunjukan kenaikan jumlah daun dengan kisaran 54,6 % pada 3 mst menuju 4 mst, 35,7 % pada 4 mst menuju 5 mst, 59,9 % pada 5 mst menuju 6 mst, 39,4 % pada 6 mst menuju 7 mst, 43 % pada 7 mst menuju 8 mst.
Selain itu, hasil pengamatan pada perlakuan toping varietas sari 2 tanaman ubi jalar menunjukan kenaikan jumlah daun dengan kisaran 42,9 % pada 3 mst menuju 4 mst, 46,2 % pada 4 mst menuju 5 mst, 43,5 % pada 5 mst menuju 6 mst, 48,3 % pada 6 mst menuju 7 mst, 28 % pada 7 mst menuju 8 mst. Data pengamatan terakhir adalah data hasil pengamatan dengan perlakuan non toping varietas sari 2 tanaman ubi jalar menunjukan kenaikan jumlah daun dengan kisaran 38,8 % pada 3 mst menuju 4 mst, 36,1 % pada 4 mst menuju 5 mst, 37 % pada 5 mst menuju 6 mst, 45,2 % pada 6 mst menuju 7 mst, 34,6 % pada 7 mst menuju 8 mst. Berdasarkan data hasil pengamatan pada perlakuan toping dan non toping mengalami peningkatan jumlah daun pada tanaman ubi jalar dengankisaran yang berbeda pada setiap minggu setelah tanam.
Gambar 9. Grafik perbandingan rerata jumlah daun tanaman ubi jalar
Berdasarkan data hasil analisa grafik yang telah disajikan menunujukan bahwa perlakuan Toping dan Non Toping pada varietas Antin 3, Beta 2, dan
0 50 100 150 200 250 300 3 mst 4 mst 5 mst 6 mst 7 mst 8 mst Antin 3 + Topping Antin 3 + Non Topping Beta 2 + Topping Beta 2 + Non Topping Sari 2 + Topping Sari 2 + Non Topping
Sari2 pad jumlah daun tanaman ubi jalar sampai pengamatan 7 minggu setelah tanam. Berdasarkan grafik diatas menunjukan perlakuan varietas Toping, Non Toping dan varietas ubi jalar tidak berpengaruh terhadap jumlah daun umur pengamatan 4, 5, 6 mst. Perlakuan toping, non toping dan varietas ubi jalar memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah daun pada umur pengamatan 7 mst. Rerata jumlah daun ubi jalar pada varietas ubi jalar dan toping, non toping selama penelitian disajikan dalam table. Pada semua perlakuan menunjukan varietas Beta 2 + Non Toping memiliki rerata jumlah daun paling banyak diantara kedua perlakuan dan ketiga varietas yang digunakan dalam penelitian ini. Daun merupakan salah satu organ penting tanaman untuk menyerap cahaya dan berlangsungnya proses fotosintesis. Spesies tanaman budidaya yang efisien cenderung menginvestasikan sebagian besar awal pertumbuhan dalam bentuk penembahan luas daun, yang berakibat pemanfaatan radiasi matahari yanf efisien (Purwanto, 2007). Novianti (2016) menyatakan upaya dalam meningkatkan produksi bibit ubi jalar cara budidaya yang dapat dilakukan adalah pemangkasan pucuk (Toping) dan jarak tanam. Tanaman yang tidak dilakukan pemangkasan pertumbuhan vegetatifnya lebih dominan, hal ini ditunjukkan dengan tumbuhnya jumlah daun yang banyak dan menghambat lajunya pertumbuhan generative tanaman, karena tanaman dengan jumlah daun yang terlalu banyak akan meningkatkan luas kanopi dan mengakibatkan cahaya matahari menjadi terhalang sehingga proses pemasakan buah pun menjadi tidak maksimal (Jayanti, Sunaryo, dan Widaryanto. 2016)
4.3 Keragaman Arthropoda Pada Komoditas Ubi Jalar
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap serangga pada lahan ubi jalar, menunjukkan adanya keberadaan beberapa arthropoda diantaranya adalah Laba Laba berjumlah 3 ekor, Kumbang Kubah Spot M, Jangkrik Seliring berjumlah 2 ekor, dan Kutu Daun. Hama adalah organisme yang merusak tanaman dan secara ekonomik merugikan manusia. Serangga ada yang berperan sebagai musuh alami baik sebagai parasitoid maupun predator, serangga penyerbuk dan dekomposer (Widiarto dkk , 2006).
Tabel 4. Keragaman Serangga Pada Tanaman Ubi jalar Varitas Beta-2
No.
Nama Serangga
Peran Dokumentasi
Nama Umum Nama Ilmiah
1. Laba Laba Lycosa sp. Musuh Alami
2. Kumbang Kubah Spot M
Menochilus
sexmatulacus Musuh Alami
3. Jangkrik Seliring Gryllus mitratus Musuh Alami
4. Kutu Daun Aphisgossypii Hama
5. Lalat Buah Bactrocera spp. Serangga Lain
Berdasarkan hasil pengamatan pada lahan ubi jalar terdapat hama kutu daun ( Aphid gossypii )berjumlah 1 ekor, menurutRita Noveriza (2012) hama ini menyerang daun dengan cara menghisap cairan daun sehingga daun tanaman menjadi melengkung kebawah dan menyempit seperti pita. Atau dengan serangan yang lebih hebat daun akan mengalami klorosis, sehingga penampilannya akan serupa seperti mosaik.Pada saat kutu daun memakan daun
dan berpindah dari satu tanaman ke tanaman lain, kutu daun tersebut dapat menularkan virus. Jenis virus yang ditularkan oleh kutu daun pada tanaman ubi jalar adalah virus belang/Sweet Potato Feathery Mottle Virus (SPFMV). Kutu
daun bersayap dapat menempuh jarak yang cukup jauh dan membawa virus ke daerah yang baru. Namun pada saat pengamatan lapang, tidak ditemukan gejala penyakit SPFMV yang menyerang tanaman ubi jalar.
Laba-laba (lycosa sp.) merupakan arthropoda yang ditemukan pada saat pengamatan, peranan dari laba-laba ini adalah sebagai musuh alami karena laba-laba memangsa serangga kecil maupun serangga yang lebih besar dari ukuran tubuhnya sendiri. Biasanya laba-laba memangsa kepik maupun ngengat. Direktorat Departemen Pertanian (2002) menyebutkan bahwa semua jenis laba laba adalah predator, bila laba-laba di kebun petani, hama lebih mudah terkendali. Laba-laba ini tidak membuat jaring tetapi berkeliling diantara tanaman mencari mangsa, sutera digunakan untuk menenun tali pengaman sehingga bila jatuh dari daun tali itu menghindarinya jatuh sampai tanah. Laba-laba dapat
menangkap mangsa yang lebih besar darinya dan merupakan pemangsa penting bagi kepik dan ngengat dah hama lainnya, laba-laba menusukan racun yang melumpuhkan mangsa kemudian menghisap cairannya. Kesimpulannya, laba-laba merupakan musuh alami atau predator yang dapat menekan pertumbuhan hama yang terdapat pada lahan ubi jalar.Menurut BK Agarwala (2001) Kumbang kubah spot M merupakan arthropoda yang pada usia larva maupun sudah menjadi kumbang dewasa dapat memangsa telur, nimfa, atau wereng dewasa. Habitat kumbang kubah sendiri dapat ditemui hampir pada setiap lahan perkebunan maupun areal persawahan, baik daerah yang kering maupun basah. Kumbang kubah ini apabila ditemui pada lahan perkebunan biasanya memangsa hama seperti kutu kebul atau kutu daun. Pada kasus ini, kumbang kubah memiliki peran yaitu sebagai musuh alami karena mampu memangsa hama kutu daun yang menyerang tanaman ubi jalar.
Jangkrik (Gryllus Mitratus) juga merupakan arthropoda yang ditemukan pada saat pengamatan di lahan ubi jalar, peranan jangkrik pada lahan ubi jalar yaitu sebagai musuh alami. Jangkrik memangsa serangga kecil dan juga telur hama sehingga dapat meminimalisir terjadinya serangan hama. Direktorat departemen pertanian (2002) menjelaskan bahwa sebagian jenis jangkrik dan belalang antenah adalah predator, pada umumnya jangkrik dan belalang berantena panjang merupakan predator yang suka memakan telur atau serangga
lain seperti ulat atau kutu. Memang tidak semua jangkrik adalah predator, ada juga yang bertindak sebagai pengurai. Jadi peran dari jangkrik ini adalah sebagai
musuh alami atau predator yang dapat meminimalisir serangan hama.
Lalat Buah (Bactrocera spp.) merupakan arthropoda yang ditemukan pada waktu pengamatan di lahan ubi jalar, namun lalat buah ini tidak menyerang tanaman ubi jalar, karena lalat buah sejatinya hanya menyerang tanaman buah, oleh karena itu lalat buah ini digolongkan kedalam serangga lain yang kebetulan hinggap di tanaman ubi jalar. Pada sekitar lahan ubi jalar didapati lahan tanaman tomat dan labu, hal ini sesuai dengan pernyataan Hetsi (2015) dimana tomat dan labu merupakan salah satu tanaman inang dari lalat buah tersebut.
4.4 Intesitas Penyakit
Data hasil pengamatan intensitas penyakit pada ubi jalar dari varietas antin 3 toping, antin 2 non toping, sari 3 toping, sari 2 non toping, beta 2 toping dan beta 2 non toping adalah 0. Berikut data hasil pengamatan yang didapat.
Tabel 5. Rerata Perbandingan Intensitas Penyakit Tanaman Ubi Jalar dengan Perlakuan Varietas yang Berbeda
NO Perlakuan Kelas Umur Tanaman
4 5 6 7 8 1 Antin – 3Toping Y 0 0 0 0 0 2 Sari – 3Toping T 0 0 1.758 2,006 3,368 3 Beta – 2Toping L 0 0 0 0 0 4 Beta – 2Non Toping Z 0 0 0 0 0 5 Sari – 2Non Toping B 0 0 0 0 0 6 Antin – 2Non Toping F 0 0 0 0 0 Ket: Mst (minggu setelah tanam)
Berdasarkan hasil pengamatan dari beberapa varietas seperti Antin – 3 Toping, Beta – 2 Toping, Beta – 2 Non Toping, Sari – 2 Non Toping, Antin – 2 Non Toping tidak ditemukan adanya tanaman yang terserang penyakit, namun pada varietas sari 3 toping ditemukan serangan penyakit. Sehingga data pengamatan intensitas penyakit hanya terdapat pada varietas sari 3 toping.
Tanaman ubi jalar dengan varietas Sari 3 toping yang diserang penyakit mulai dari 6 Mst sampai 8 Mst memiliki kenaikan persentase sebesar 0,14%, dan0,67% pada 7 Mst menuju 8 Mst. Menurut Rahayuningsih (2003) menyatakan bahwa tanaman ubi jalar varietas sari mudah terserang penyakit karena tangkai umbi pendek dan umbi tumbuh dekat permukaan tanah. Kondisi tekstur tanah
berpengaruh terhadap kesuburan dan kesehatan akar. Tanah dengan kandungan liat dan debu tinggi mendukung perkembangan penyakit karena drainasenya jelek, sehingga kelembaban tanahnya lebih tinggi (Hidayah dan Djajadi. 2009).
Tanaman ubi jalar dengan perlakuan varietas Antin 3 toping, Sari 3 toping, Beta 2 toping, Beta 2 non toping, Sari 2 non toping dan Antin 2 non toping bahwa ditemukan adanya tanaman yang terserang penyakit pada varietas sari 3 toping. Sehingga data pengamatan intensitas penyakit hanya terdapat pada varietas sari 3 toping
. Berikut ini merupakan grafik intensitas penyakit dari perlakuan varietas yang berbeda pada tanaman ubi jalar.
Gambar 10. Grafik perbandingan rerata intensitas serangan penyakit ubi jalar
Dari gambar grafik diatas dapat disimpulkan bahwa pengaruh varietas dan perlakuan pada tanaman ubi jalar dapat mempengaruhi terjadinya serangan penyakit. Ketahanan terhadap penyakit dipengaruhi oleh dua hal yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan, dengan didukung oleh faktor lingkungan seperti pemenuhan unsur hara yang cukup, pengairan yang baik, dan juga kondisi tempat penanaman ubi jalar yang tidak lembab sehingga akan mencegah tanaman terserang dari penyakit. Hal ini sesuai dengan pernyataan Saragih (2009), menyatakan pengaruh lingkungan memiliki peranan penting dalam perkembangan patogen.
Dalam tanaman yang rentan dan lingkungan yang lembab maka patogen akan cepat berkembang sehingga tanaman akan lebih cepat terserang oleh penyakit. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan Oka (2005) yaitu tanaman sehat lebih mampu menahan serangan berbagai patogen. Sebaliknya tanaman tidak akan mampu melawan serangan patogen bila kondisi lingkungannya buruk.Faktor selanjutnya adalah hama pada tanaman ubi jalar menyerang pada
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4 mst 5 mst 6 mst 7 mst 8 mst Antin 3 + toping Antin 3 + Non Toping Beta 2 + Toping Beta + Non Toping Sari 2 + Toping Sari 2 + Non Toping
musim panas. Pernyataan ini didukung oleh (Supriyatin, 2001) bahwa pada musim panas terdapat keretakan tanah sehingga memudahkan hama masuk ke dalam tanah dan menimbulkan penyakit.
4.5 Parameter Hasil
Pada semua komoditas ubi jalar diambil 5 sampel untuk dilakukan pengamatan. Salah satu pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan bobot akar dan bobot brangkasan yang dilakukan pada 9 mst pada 1 sampel acak. Berikut merupakan data yang diperoleh dari setiap komoditas dari ubi jalar.
Tabel 6. Pengaruh Varietas dan Perlakuan pada Bobot Brangkasan Ubi Jalar
Perlakuan Varietas
Parameter Hasil
Bobot akar Bobot brangkasan Sari + toping 26 362
Sari + non toping 6 101 Beta + toping 31 1152 Beta + non toping 10 638
Antin + toping 31 1207 Antin + non toping 40 659 Ket: dalam gram (gr)
Berdasarkan data hasil pengamatan bobot akar diatas yang dilakukan dengan varietas dan perlakuan yang berbeda maka diperoleh hasil varietas sari dengan perlakuan toping mempunyai bobot akar 26 gram. Sedangkan varietas sari dengan perlakuan non toping mempunyai bobot akar 6 gram. Pada varietas beta dengan perlakuan toping diperoleh hasil bobot akar 31 gram. Sedangkan varietas beta dengan perlakuan non toping diperoleh hasil bobo akar 10 gram.