• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Lingkungan dan Sosial

Pantai Citepus merupakan kawasan yang secara administratif berada di Desa Citepus Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat, yang memiliki luas sebesar 3,8 ha serta terletak pada posisi koordinat 106°30’25’’ BT - 106°31’59,2’’ BT dan 06°57’46,4’’ LS - 06°58’53,2’’ LS. Pantai Citepus dikelola oleh Pemerintah Desa Citepus dan berjarak 3 km dari Ibu Kota Kabupaten dengan daya tempuh 15-30 menit perjalanan normal menggunakan kendaraan. Pantai Citepus termasuk kedalam Objek Daerah Tujuan Wisata (ODTW) dan merupakan salah satu bagian dari Kawasan Andalan Kabupaten Sukabumi. Luas Desa Citepus mencapai 1.351,487 ha. Jumlah penduduk di Desa Citepus mencapai 10.826 jiwa dengan 2.680 Kepala Keluarga yang mayoritas sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan karyawan swasta dengan kepadatan penduduk mencapai 801 jiwa/km2 (BPS Sukabumi 2012).

Gambar 4 Persepsi Masyarakat Sekitar terhadap Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana yang baik merupakan salah satu hal penting yang dibutuhkan oleh wisatawan apabila berkunjung ke suatu kawasan wisata (Tuwo 2011). Sarana dan prasarana yang memadai di Pantai Citepus akan membuat nyaman wisatawan dan mendukung adanya wisata Arung Gelombang. Salah satu bentuk pendekatan dalam pengembangan wisata alam adalah pendekatan pengembangan

0 5 10 15 20 25 Ju m lah

Sarana dan Prasarana Sangat

Baik Cukup Kurang Tidak Tahu

infrastruktur dasar yang meliputi jalan, jembatan, air bersih, jaringan telekomunikasi, listrik serta pemeliharaan lingkungan (Sastrayuda 2010). Berdasarkan wawancara dengan masyarakat sekitar Pantai Citepus, sarana prasarana yang terdiri dari sumber air bersih, air bersih, transportasi, kios makanan dan tempat ibadah yang termasuk kategori baik, sedangkan penginapan dan fasilitas listrik termasuk cukup dikarenakan jumlah yang terbatas di sekitar pantai dan kendala pemadaman listrik. Akses jalan menuju wisata Arung Gelombang termasuk kurang hal ini dikarenakan kondisi jalan yang rusak, berlubang dan sempit dan menjadi jalur pengangkutan truk pengangkut batubara.

Manajemen Keselamatan di Pantai Citepus termasuk sangat penting karena dapat mengurangi tingkat resiko akibat kecelakaan disaat kegiatan wisata Arung Gelombang dilaksanakan. Untuk tingkat keselamatan termasuk kategori baik, peralatan keselamatan yang digunakan selama berarung Gelombang seperti life jacket (pelampung) dan dayung termasuk kategori baik, hal ini dikarenakan kondisi yang baik dan dapat difungsikan tanpa adanya kendala ketika berarung gelombang. Untuk tingkat keamanan, wisatawan lebih memilih arung gelombang yang memiliki tingkat keamanan yang tinggi dan resiko kecelakaan yang rendah, hal ini dikarenakan wilayah untuk berarung gelombang merupakan wilayah yang aman dan jauh dari batu-batuan. Untuk sarana perahu masuk kedalam sarana cukup dan rencana tapak penting bagi wisata Arung Gelombang, hal ini berkaitan dengan pemanfaatan wilayah yang tepat dan pengembangan Arung Gelombang ke tahap selanjutnya.

Gambar 5 Persepsi Wisatawan Mengenai Keselamatan Arung Gelombang 0 2 4 6 8 10 12 14 16

TINGKAT PELAMPUNG DAYUNG PERAHU AKSES

Ju m lah Sangat Baik Baik Cukup Kurang Tidak Tahu

Pengembangan Indikator Kesesuaian

Karakteristik Arung Gelombang

Berdasarkan wawancara dengan pihak pengelola di Pantai Citepus, arung gelombang memiliki empat aspek :

1. Aspek kompetisi, dimana kegiatan Arung Gelombang dapat dijadikan perlombaan yang dapat memacu adrenalin dan membangun kerjasama tim dalam memecahkan permasalahan dalam mengarungi ombak yang menantang.

2. Aspek rekreasi, kegiatan arung gelombang dapat menghilangkan kejenuhan, wisatawan dapat merasakan relaksasi dan menemukan ketenangan ketika berenang di tengah laut dengan tingkat pengamanan yang ketat.

3. Aspek adventure, wisatawan akan diajak dalam dunia berpetualang mengarungi sensasi Ombak Pantai Selatan yang menantang.

4. Aspek olahraga, merupakan kegiatan yang dapat meningkatkan kesehatan karena dapat mengasah otak dalam mengambil keputusan selama menghadapi rintangan alam yang nyata, dan kadang tidak dapat diduga dan datangnya tiba-tiba.

Gambar 6 Arung Gelombang

Peralatan-peralatan pada Arung Gelombang bersifat “zero accident” dimana memiliki resiko kecelakaan yang kecil, hal ini disebabkan oleh pemilihan tempat pelaksanaan yang aman, jauh dari pantai yang berkarakteristik berbatu, pemakaian alat pengamanan yang memadai dan adanya pendampingan dari Badan Penyelamat

Pantai BALAWISTA (lifeguard). Untuk peserta pemula (beginner) ketika berarung gelombang, daya tampung isi kapal sebesar 7 orang yang terdiri dari 2 orang lifeguard yang bertugas mengawasi dan mendamping wisatawan diposisi depan dan belakang kapal, serta 5 peserta pemula (beginner) yamg terletak di bagian kiri dan kanan kapal, selain itu 2 orang lifeguard menggunakan Malibu (papan selancar) mendampingi proses jalannya Arung Gelombang. Dan untuk peserta yang mahir (advanced) maka dapat menggunakan satu perahu tanpa adanya pengawasan dari lifeguard.

Indikator Kesesuaian

Berdasarkan hasil wawancara di lapang, didapatkan 5 faktor yang dianggap mempengaruhi kesesuaian wisata arung gelombang, seperti disajikan dalam tabel berikut

Tabel 5 Faktor kesesuaian wisata Arung Gelombang

Indikator Pemilih Total Persentase

Masyarakat Wisatawan Gelombang 24 27 51 60 Arus 9 6 15 18 Angin 12 2 14 16 Bangunan Pantai 3 0 3 4 Biota Berbahaya 1 1 2 2 Bentuk Pantai 0 0 0 0 Kemiringan pantai 0 0 0 0 Jenis Substrat 0 0 0 0

Penutupan Lahan Pantai 0 0 0 0

Kedalaman Perairan 0 0 0 0

Total 85 100

Dari kesepuluh faktor diatas, sebanyak 60% wisatawan dan masyarakat lokal memilih gelombang sebagai indikator utama yang sangat mempengaruhi kesesuaian wisata arung gelombang di Pantai Citepus. Sebanyak 18% memilih responden memilih indikator arus. Angin sebesar 16%, bangunan pantai sebesar 4% serta 2% masyarakat sekitar dan wisatawan memilih biota berbahaya. Dan faktor bentuk pantai, kemiringan pantai, jenis substrat, penutupan lahan pantai dan kedalaman perairan tidak ada yang memenuhi faktor kesesuaian wisata arung gelombang.

Gelombang

Berdasarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (2012), didapatkan data tinggi gelombang yang sesuai untuk wisata Arung Gelombang berkisar antara 1.5-3 m. Tinggi gelombang maksimum terjadi pada bulan Januari, Maret, Mei, Juli dan Agustus yang memiliki rentang 2.5-3 m yang merupakan waktu yang tepat untuk berarung gelombang bagi peserta yang mahir (advanced) sedangkan tinggi gelombang minimum terjadi di bulan Februari, April, Juni dan Bulan September hingga bulan Desember yang mencapai 1.5 meter yang merupakan waktu yang tepat untuk berarung gelombang bagi peserta pemula (beginner).

Gambar 7 Grafik fluktuasi tinggi gelombang dalam satu tahun

Arus

Berdasarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (2012), didapatkan data kecepatan arus yang sesuai untuk wisata Arung Gelombang berkisar antara 5-70 cm/detik. Kecepatan arus maksimum terjadi di bulan April, Mei-Desember yang mencapai rentang 35-70 cm/detik sedangkan kecepatan arus minimum terjadi di bulan Januari - Maret yang mencapai rentang 5–35 cm/detik.

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des

Ti n g g i Ge lo m b an g ( m ) Bulan Minimum Maksimum

Angin

Berdasarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (2012), didapatkan data kecepatan angin yang sesuai untuk wisata Arung Gelombang berkisar antara 5-15 knot. Kecepatan Angin maksimum terjadi di bulan Januari, Maret, Mei hingga November yang mencapai 15 knot, sedangkan kecepatan angin minimum terjadi di bulan Februari, April dan Desember yang mencapai rentang 7 knot.

Gambar 9 Grafik fluktuasi kecepatan angin dalam satu tahun

0 2 4 6 8 10 12 14 16

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des

K e ce p atan An g in ( kn o t) Bulan Minimum Maksimum 0 10 20 30 40 50 60 70 80

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des

K e ce p atan Ar u s (C m /d e t) Bulan Minimum Maksimum

Menurut Hutabarat dan Evans (2008) angin yang bertiup di atas permukaan laut merupakan pembangkit utama gelombang. Bentuk gelombang yang dihasilkan cenderung tidak tertentu tergantung kepada bermacam sifat seperti tinggi, periode di daerah terbentuknya gelombang. Sifat-sifat gelombang dipengaruhi oleh tiga bentuk angin yaitu kecepatan angin, umumnya makin kencang angin yang bertiup makin besar gelombang yang terbentuk dan gelombang ini mempunyai kecepatan yang tinggi dan panjang gelombang yang besar, waktu dimana angin sedang bertiup.

Tinggi, kecepatan dan panjang gelombang seluruhnya cenderung untuk meningkat sesuai dengan meningkatnya waktu pada saat angin pembangkit gelombang mulai bergerak bertiup dan jarak tanpa rintangan dimana angin sedang bertiup (fetch), pentingnya fetch dapat digambarkan dengan membandingkan gelombang yang terbentuk pada kolom air yang relatif kecil seperti danau di daratan dengan yang terbentuk di lautan bebas.

Bahaya biologi

Ubur-ubur merupakan salah satu potensi biota berbahaya yang ditemukan di kawasan Pantai Citepus, termasuk potensi bahaya karena memiliki potensi menyengat yang dapat menimbulkan resiko mulai dari menyebabkan gatal-gatal, demam, sampai dapat menyerang jantung dan mematikan korban yang tersengat (Barnes in Ulpah 2012). Berdasarkan hasil wawancara dengan pengelola setempat, jenis ubur-ubur yang ditemukan adalah jenis Aurelia aurita, memiliki karakteristik berwarna putih bening, memiliki resiko bahaya ringan sampai sedang dan menyebabkan gatal-gatal hingga demam (Tillah in Ulpah 2012).

Berdasarkan pengamatan, beberapa pengunjung yang menjadi korban sengatan ubur-ubur belum ada yang sampai meninggal dunia. Ubur-ubur memiliki tingkat peluang kemunculan jarang, hanya muncul ketika Pantai Citepus mengalami pasang. Hal ini dikarenakan ubur-ubur merupakan hewan lunak dan mudah terbawa ketika air laut pasang hingga ke pinggir pantai.

Gambar 10 Aurelia aurita Sumber: Google.com

Ubur-ubur merupakan pemakan zooplankton dan muncul ketika musim kemarau pada bulan Juni hingga September, pada musim kemarau intensitas cahaya cenderung tinggi hal ini dibutuhkan untuk proses fotosintesis fitoplankton. Ketersediaan fitoplankton tinggi, maka ketersediaan zooplankton juga tinggi, sehingga keberadaan ubur-ubur melimpah (Heriawan 1994).

Bangunan pantai

Menurut Hidayat (2006), bangunan pantai yang dibangun dapat digunakan untuk melindungi pantai terhadap kerusakan karena serangan gelombang dan arus. Terdapat menara pengawas yang digunakan oleh Balawista untuk berpatroli mengamankan keadaan di Pantai Citepus. Selain itu terdapat breakwater yang terletak di Pantai Citepus. Breakwater atau dalam hal ini pemecah gelombang lepas pantai adalah bangunan yang dibuat sejajar pantai dan berada pada jarak tertentu dari garis pantai. Pemecah gelombang dibangun sebagai salah satu bentuk perlindungan pantai terhadap erosi dengan menghancurkan energi gelombang sebelum sampai ke pantai, sehingga terjadi endapan dibelakang bangunan. Endapan ini dapat menghalangi transport sedimen sepanjang pantai yang akan mempengaruhi tingkat besarnya gelombang terhadap wisata arung gelombang.

Gambar 11 Bangunan Pantai di Pantai Citepus (a) breakwater (b) menara pengawas

Evaluasi Kesesuaian dan Daya Dukung

Indeks Kesesuaian Wisata (IKW)

Analisis kesesuaian wilayah sebagai kawasan wisata pantai adalah analisis untuk mengetahui kecocokan dan kemampuan kawasan menyangga segala macam aktivitas wisata. Kawasan wisata merupakan bagian dari wisata alam sehingga perlu diketahui informasi tentang kesesuaian suatu wilayah untuk wisata. Nilai indeks kesesuaian lahan untuk wisata pantai kategori rekreasi diperlukan untuk mengetahui kesesuaian wilayah pantai untuk kegiatan wisata berdasarkan faktor yang mempunyai nilai penting terhadap pengelolaannya. Nilai indeks kesesuaian wisata Arung Gelombang dapat dilihat pada tabel dibawah ini

Tabel 6 Nilai Indeks Kesesuaian Wisata Arung Gelombang Lokasi Pengamatan Total Skor IKW

(%)

Tingkat Kesesuaian

Stasiun Istiqomah 27 60 S2

Diperoleh Nilai Indeks Kesesuaian Wisata bagi kegiatan wisata Arung Gelombang Berdasarkan hasil perhitungan nilai Indeks Kesesuaian Wisata Arung Gelombang di Stasiun Istiqomah sebesar 60%. Dapat disimpulkan bahwa Pantai Citepus termasuk dalam kategori S2, sehingga kawasan tersebut termasuk kriteria Sesuai untuk kegiatan wisata Arung Gelombang. Penentuan nilai IKW hanya pada satu stasiun, hal ini disebabkan sebagai evaluasi pengelolaan kegiatan Arung Gelombang yang sejak awal diperkenalkan sejak tahun 2002 sudah dilakukan hanya di Stasiun Istiqomah.

Daya Dukung Kawasan (DDK)

Analisa daya dukung ditujukan pada pengembangan wisata bahari dengan memanfaatkan potensi sumberdaya pesisir, pantai dan pulau-pulau kecil secara lestari. Metode yang diperkenalkan untuk menghitung daya dukung pengembangan adalah menggunakan konsep Daya Dukung Kawasan. Daya Dukung Kawasan (DDK) diartikan sebagai jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung di kawasan yang disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia (Yulianda 2007). Daya dukung kawasan Pantai Citepus disesuaikan dengan karakteristik sumberdaya dan peruntukan. Hasil perhitungan Daya Dukung Kawasan Pantai Citepus untuk wisata Arung Gelombang disajikan pada tabel dibawah ini.

Tabel 7 Daya dukung ekologis kawasan Pantai Citepus

Lokasi Jenis Panjang Garis DDK

Kegiatan Pantai (Lt)

Stasiun Arung

500 m 20 orang

Istiqomah Gelombang

Total 20 orang

Sumber: Data primer

Berdasarkan hasil perhitungan, diketahui bahwa nilai Daya Dukung Kawasan di Pantai Citepus untuk kegiatan Arung Gelombang adalah sebesar 20 orang per hari dengan panjang garis pantai yang dapat dimanfaatkan sebesar 500 meter. Pantai Citepus memiliki Daya Dukung Kawasan (DDK) sebesar 20 orang per hari untuk kegiatan Arung Gelombang, yang berarti bahwa jumlah pengunjung yang diperbolehkan untuk melakukan kegiatan wisata Arung Gelombang di Pantai Citepus sebesar 20 orang. Pembatasan kuota wisatawan bertujuan agar kondisi Pantai Citepus tetap asri dan terjaga dari dampak negatif terhadap lingkungan yang ditimbulkan oleh wisatawan.

Analisis Gabungan Kesesuaian secara Temporal

Berdasarkan faktor yang mempengaruhi kesesuaian Arung Gelombang, dapat dikembangkan analisis gabungan kesesuaian secara temporal sebagai berikut:

AG = f (G,Ar,An,BB)

Kesesuaian arung gelombang dapat disesuaikan dengan kondisi potensial yang terdiri dari tinggi gelombang (G), kecepatan arus (Ar), kecepatan angin (An), dan keberadaan biota berbahaya (BB) yang disajikan oleh tabel berikut:

Tabel 8 Analisis Kesesuaian Arung Gelombang secara Temporal

Parameter Kondisi Potensial Bulan Kesesuaian Gelombang ++ Januari, Maret, Mei, Juli, Agustus Januari

Arus ++ April - Desember Desember

Angin + Februari, April, Desember Desember

Biota Berbahaya - Desember - Maret Desember

Keterangan : ++ Tinggi + Rendah - Tidak ada

Gelombang yang tinggi merupakan kondisi potensial untuk arung gelombang yang terjadi pada bulan Januari, Maret, Mei, Juli dan Agustus dengan waktu gelombang yang sesuai pada bulan Januari. Arus yang tinggi merupakan bagian dari faktor kesesuaian arung gelombang, yang terjadi pada bulan April hingga Desember dengan waktu arus yang sesuai terjadi pada bulan Desember. Angin yang rendah diperlukan, agar tidak membahayakn keselamatan peserta, yang terjadi pada bulan Februari, April dan Desember dengan waktu yang sesuai terjadi pada bulan Desember. Ketidakberadaan biota berbahaya diharapkan, dikarenakan tidak menimbulkan potensi resiko bahaya berupa sengatan. Pada bulan Desember hingga Maret merupakan waktu yang sesuai, hal ini dikarenakan merupakan musim hujan dengan waktu yang sesuai pada bulan Desember. Bulan Desember dan Januari merupakan bulan yang sesuai dikarenakan kondisi perairan yang cocok untuk wisata arung gelombang.

Analisis Resiko dan Manajemen Keselamatan

Analisis Resiko

Penilaian terhadap resiko potensi bahaya dilakukan untuk mengetahui kemungkinan resiko yang dapat ditimbulkan dari masing-masing potensi bahaya berdasarkan nilai peluang dan keparahan terjadinya bahaya tersebut. Dari penilaian ini akan diperoleh tingkat resiko yang akan menentukan apa dan bagaimana menangani resiko bahaya melalui bentuk bentuk pengelolaan keselamatan yang akan direkomendasikan bagi wisata arung gelombang di Pantai Citepus. Dalam pengukuran ini diperlukan parameter tingkat keparahan (severity) dari suatu bahaya yang akan dikalikan dengan tingkat keseringan (peluang) terjadinya suatu bahaya. Hasil wawancara kepada responden pengunjung dan masyarakat diperoleh beberapa potensi bahaya terkait dengan wisata arung gelombang di Pantai Citepus diantaranya gelombang, pasang surut (arus), angin, ubur-ubur dan peralatan arung gelombang disaat perahu terbalik diterjang gelombang (dayung,perahu).

Tabel 9 Potensi bahaya Arung Gelombang di Pantai Citepus

No Potensi bahaya Wisatawan Masyarakat

Jumlah Persentase Jumlah Persentase

1 Gelombang 26 77% 27 90% 2 Arus 4 13% 8 27% 3 Biota 4 13% 1 3% 4 Angin 2 7% 11 37% 5 Peralatan 2 7% 0 0 n = 60

Berdasarkan hasil wawancara terhadap responden wisatawan dan masyarakat mengenai potensi bahaya Arung Gelombang di Pantai Citepus, diperoleh bahwa sebanyak 77% wisatawan dan 90% masyarakat sekitar menjawab Gelombang merupakan potensi bahaya terbesar ketika berarung gelombang di Pantai Citepus, hal ini dikarenakan lokasi Pantai Citepus yang berhadapan langsung dengan samudera Hindia yang memiliki karakteristik ombak besar, batimetri laut dalam dan gelombang yang tinggi.

Menurut wisatawan, gelombang besar berpengaruh pada perahu yang digunakan ketika berarung gelombang. Sebanyak 13% wisatawan dan 27% masyarakat sekitar menjawab pasang surut merupakan potensi bahaya yang dapat mengakibatkan banjir rob dan dapat mengakibatkan kerusakan pada pemukiman penduduk sekitar. Sebanyak 7% wisatawan dan 37% masyarakat sekitar menjawab angin yang besar mempengaruhi kegiatan arung gelombang, angin yang bertiup di atas permukaan laut merupakan pembangkit gelombang. Sebanyak 13% wisatawan dan 3% masyarakat sekitar menjawab bahwa biota dari jenis ubur-ubur Aurelia aurita memiliki potensi bahaya yang mengganggu selama kegiatan arung gelombang. Sebanyak 7% wisatawan dan 0% masyarakat sekitar menyatakan peralatan selama berarung gelombang seperti perahu dan dayung dapat menimbulkan potensi bahaya akibat terbaliknya perahu akibat terjangan gelombang.

Penilaian resiko bahaya gelombang

Berdasarkan data yang diperoleh, responden wisatawan dan masyarakat paling banyak menjawab gelombang sebagai kriteria yang agak parah. Berdasarkan indeks keparahan, potensi bahaya tersebut diasumsikan sebagai bahaya yang agak parah di Pantai Citepus. Berdasarkan pembobotan UNEP (2008), kriteria keparahan bahaya yang tergolong agak parah diberi bobot 2.

Tabel 10 Tingkat keparahan potensi bahaya gelombang di Pantai Citepus

No Tingkat Jumlah Responden

keparahan wisatawan masyarakat

1 Sangat parah 5 1 2 Parah 4 7 3 Cukup parah 7 9 4 Agak parah 13 11 5 Tidak parah 1 2 n = 60

Penilaian peluang (tingkat keseringan) suatu bahaya gelombang yang terjadi di Kawasan Citepus, dapat disajikan pada tabel dibawah ini:

Tabel 11 Tingkat peluang potensi bahaya gelombang di Pantai Citepus

No Peluang Jumlah Responden

wisatawan masyarakat 1 Sangat sering 6 5 2 Sering 5 13 3 Cukup sering 12 3 4 Agak sering 5 5 5 Jarang 2 4 n = 60

Berdasarkan data yang diperoleh, responden wisatawan dan masyarakat paling banyak menjawab peluang terjadinya gelombang besar sebagai kriteria yang sering. Berdasarkan penilaian peluang, potensi bahaya tersebut diasumsikan sebagai bahaya yang tergolong sering terjadi di Pantai Citepus. Berdasarkan pembobotan UNEP (2008), kriteria keparahan bahaya yang tergolong sering diberi bobot 4 (tabel 2). Hasil perhitungan berdasarkan tingkat peluang dan keparahan, didapatkan resiko bahaya gelombang sebesar 8, digolongkan pada kriteria tingkat resiko moderate risk (tabel 14).

Moderate risk merupakan potensi bahaya dengan tingkat resiko sedang karena walaupun tergolong kriteria keparahan dengan tingkat agak parah, namun dilihat dari peluang terjadinya, potensi bahaya tersebut sering terjadi di kawasan. Selanjutnya penilaian potensi resiko bahaya untuk faktor lainnya akan disajikan berdasarkan tabel penilaian potensi bahaya arung gelombang, yang akan disajikan sebagai berikut: Tabel 12 Penilaian potensi resiko bahaya arung gelombang

J1 J2 J3 J4 J5

P1

P2 Ubur-ubur Peralatan Angin Gelombang Pasang Surut

P4

P8

P16

Keterangan :

P1 : Tidak Parah J1 : Jarang P2 : Agak Parah J2 : Agak Sering P4 : Cukup Parah J3 : Cukup Sering P8 : Parah J4 : Sering P16 : Sangat Parah J5 : Sangat Sering

Peluang

Manajemen Pengurangan Resiko Bahaya

Manajemen Pengurangan Resiko Bahaya merupakan strategi untuk mengurangi Resiko bahaya ketika pelaksanaan kegiatan wisata. Manajemen pengurangan resiko dilakukan dengan mengevaluasi setiap resiko bahaya yang terdapat pada kawasan dan membuat rekomendasi pilihan (opsi) manajemen yang harus dilakukan. Berdasarkan opsi manajemen pengurangan resiko bahaya yang dipilih untuk potensi bahaya gelombang yaitu dengan cara mengurangi resiko (reduce risk), dengan menyesuaikan pada potensi bahaya gelombang yang memiliki tingkat keparahan rendah tetapi tingkat frekuensi yang tinggi. Pengurangan resiko dapat dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar dalam mengurangi potensi bahaya, serta membangun perencanaan fisik kawasan dan pengembangan zonasi pada lokasi pantai yang lebih aman dan sesuai dengan rencana tapak.

Tabel 13 Evaluasi resiko berdasarkan jenis bahaya

No Jenis bahaya Tingkat Tingkat Nilai Tingkat

keparahan frekuensi resiko Resiko

1 Gelombang rendah tinggi 8 Sedang

(moderate risk)

2 Angin rendah rendah 6 Kecil

(tolerable risk)

3 Pasang surut rendah rendah 4 Kecil

(tolerable risk)

4 Peralatan rendah rendah 4 Kecil

(tolerable risk)

5 Ubur-ubur rendah rendah 2 Kecil

(tolerable risk)

Tabel 14 Matriks evaluasi resiko arung gelombang

Selain itu, peran petugas keselamatan pantai sangat penting dan harus dapat menerapkan prosedur kebijakan keselamatan. Potensi bahaya yang termasuk pasang surut, angin, ubur-ubur dan peralatan termasuk tingkat resiko yang rendah (tolerable risk), hal ini dikarenakan tingkat keparahan yang rendah dan peluang terjadinya

Resiko= Keparahan

Peluang x Severity Rendah Sedang Tinggi

Rendah Angin Ubur-ubur Gelombang

Nilai ≤ 16 Pasang surut Peralatan

Sedang

16 < Nilai ≤ 51

Tinggi

jarang. Opsi manajemen yang dapat dilakukan yaitu dengan menerima resiko atau mentolerir resiko yang ada, dengan tetap melakukan pengawasan dari pengelola keselamatan pengunjung. Pengelola harus mementingkan aspek keselamatan wisatawan dengan cara mensosialisasikan mengenai resiko dari potensi bahaya, sehingga wisatawan dapat lebih berhati-hati.

Rekomendasi Tindakan Keselamatan Wisatawan

Teknis keselamatan wisatawan yang dapat direkomendasikan untuk kawasan wisata Pantai Citepus saat berarung gelombang, dapat disesuaikan dengan tingkat resiko masing-masing potensi bahaya. Namun pada umumnya teknis keselamatan pengunjung tersebut dapat dilakukan setelah kejadian kecelakaan pengunjung yang disebabkan oleh potensi bahaya. Teknis keselamatan wisatawan yang perlu diterapkan di Pantai Citepus saat berarung gelombang.

Tabel 15 Teknis Keselamatan Wisatawan No Potensi Bahaya Opsi Manajemen

Resiko

Tindakan

Preventif Represif

1 Pasang surut Kurangi Resiko

(reduce risk)

Mensosialisasikan kondisi arus, Pengawas

mengadakan patroli secara intensif

Pertolongan secara prosedur, Korban dibawa ke tepi pantai dan memanggil bantuan medis 2 Gelombang Terima Resiko (accept tolerable risk) Mensosialisasikan kondisi gelombang secara langsung oleh petugas, Pengawasan dan patroli kawasan pantai

Pertolongan secara prosedur, Korban dibawa ke tepi pantai dan memanggil bantuan medis 3 Angin Terima Resiko (accept tolerable risk) Mensosialisasikan kondisi angin, Pengawasan dan patroli kawasan pantai serta mensosialisasikan dengan papan interpretasi

Pertolongan secara prosedur, Korban dibawa ke tepi pantai dan memanggil bantuan medis 4 Ubur-ubur Terima Resiko (accept tolerable risk) Mensosialisasikan kondisi perairan, Pengawasan dan patroli kawasan pantai serta mensosialisasikan dengan papan interpretasi apabila jumlah ubur-ubur banyak, pantai sementara ditutup

Dokumen terkait