Lingkungan mikro kandang meliputi suhu udara dan kelembaban udara dalam kandang. Pengendalian kelembaban, temperatur, intensitas cahaya, dan bau serta pengaturan jarak antara satu ternak dengan ternak lainnya penting untuk dilakukan demi kenyamanan dan produktivitas hewan ternak (Wikipedia, 2010). Prinsip metode modifikasi lingkungan mikro adalah menciptakan keadaan lingkungan di dalam kandang sama dengan keadaan yang ideal untuk produksi, tanpa tergantung pada keadaan lingkungan luar. Di daerah panas diperlukan alat pendingin seperti air conditioner dan kipas angin. Beberapa cara yang dapat ditempuh untuk modifikasi iklim mikro, yaitu: (1) mengatur kontruksi kandang, tinggi kandang tidak kurang dari 3 m dan lebar kandang tidak kurang dari 4 m, menggunakan atap yang bersifat insulation, (2) menanam pohon-pohon peneduh di sekeliling kandang (Gunawan dan Sihombing, 2004).
Kandang Penelitian
Kandang yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe kandang tertutup (closed house) yang dibedakan menjadi dua lokasi, yaitu kandang pada suhu sekitar 23 ºC dan kandang pada suhu sekitar 30 ºC. Kandang pada suhu sekitar 23 ºC dilengkapi dengan peralatan seperti AC (air conditioner), termometer dan exhaust fan. Kandang suhu sekitar 30 ºC dilengkapi dengan pemanas ruangan (heater room), termometer dan exhaust fan. Cara kerja exhaust fan yang digunakan di dalam kandang adalah udara akan mengalir dari dalam kandang menuju ke luar. Temperatur ini dapat dicapai pada kondisi kandang terkontrol seperti tipe kandang tertutup (Bell dan Weaver, 2002). Masing-masing kandang dibagi dalam empat buah sekat dengan ukuran 1,15 m x 1,15 m x 60 cm. Masing-masing sekat berisi 10 ekor broiler dan dipasang 1 buah lampu pijar berkekuatan 60 watt dengan warna cahaya merah dan warna cahaya putih sesuai perlakuan. Alas yang digunakan adalah litter berbahan sekam padi. Olanrewaju et al. (2006) menyatakan bahwa dengan menggunakan kandang tertutup maka dapat diatur suhu dan sistem program pencahayaan, seperti intensitas cahaya, lama pencahayaan dan panjang gelombang yang berakibat pada pertumbuhan.
Suhu dan Kelembaban Udara Relatif Kandang
Suhu dan kelembaban udara merupakan unsur lingkungan yang berpengaruh terhadap performa broiler. Pengukuran suhu dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07.00, siang hari sekitar pukul 12.00 dan sore hari sekitar pukul 17.00 dengan menggunakan termometer yang diletakkan pada masing-masing kandang. Hasil pengukuran rataan suhu kandang sekitar 23 ºC selama penelitian pada minggu ke-3, ke-4 dan ke-5 masing-masing 23,6 ºC; 23,5 ºC dan 23,5 ºC. Estimasi rataan kelembaban udara masing-masing 77,8%; 76,9% dan 76,5%. Rataan suhu kandang sekitar 30 ºC pada minggu ke-3, ke-4 dan ke-5 masing-masing 30,4 ºC; 30,6 ºC dan 30,7 ºC dengan estimasi rataan kelembaban udara 71,1%; 66,7% dan 72,6%. Ayam cenderung lebih baik berada pada suhu lingkungan yang relatif stabil dan akan lebih stres pada suhu yang berfluktuasi. Ketika terjadi fluktuasi suhu, ayam membutuhkan banyak energi untuk menjaga supaya suhu tubuhnya relatif konstan (Canadian Poultry Consultants, 2008). Menurut Nugroho (2010) suhu udara rata-rata tertinggi di Bogor setiap bulannya berkisar antara 33 ºC dan suhu rata-rata terendah adalah 21,8 ºC dengan kelembaban udaranya kurang lebih 70%.
Konsumsi Pakan
Hasil analisis statistik yang ditunjukkan pada Tabel 7, tidak ada interaksi (P>0,05) antara suhu dan warna cahaya terhadap konsumsi pakan broiler pada minggu ke-3 dan ke-4, sedangkan pada minggu ke-5 terdapat interaksi yang nyata (P<0,05). Konsumsi pakan pada suhu sekitar 23 ºC dengan warna cahaya putih dan merah adalah sama dan konsumsi pakan terendah terdapat pada suhu sekitar 30 ºC dengan warna cahaya merah. Konsumsi pakan menurun ketika suhu lingkungan di atas suhu normal (18-23 ºC) (Yahav et al,. 1996; Ain Baziz et al., 2006).
Menurunnya konsumsi ransum pada suhu lingkungan tinggi, merupakan salah satu usaha ayam dalam mengurangi penimbunan panas dalam tubuh, dengan memperbanyak minum yang akan berdampak pada berkurangnya konsumsi pakan.
Suhu lingkungan yang masuk ke tubuh akan sampai ke hipotalamus melalui reseptor kulit maupun pembuluh darah. Suhu lingkungan yang tinggi akan menstimulasi pusat haus dan sekresi hormon kortikosteroid, sementara pusat lapar dan sekresi thyroid stimulating hormon (TSH) yang berperan dalam sekresi hormon thyroid dihambat (Gunawan dan Sihombing, 2004). Hal ini berakibat menurunnya konsumsi pakan
sehingga terjadi penurunan metabolisme dan produksi menurun. Menurunnya konsumsi pakan juga diakibatkan karena intensitas cahaya merah yang lebih rendah daripada cahaya putih, sehingga konsumsi pakan broiler pada cahaya merah lebih rendah. Olanrewaju et al. (2006) menyatakan bahwa intensitas cahaya yang lebih tinggi dapat meningkatkan aktivitas makan. Hasil penelitian Al Homidan et al.
(1997) menunjukkan bahwa konsumsi pakan lebih banyak dengan intensitas cahaya yang tinggi. Pengaruh suhu dan warna cahaya yang terjadi pada minggu ke-5 karena akumulasi dari minggu sebelumnya yang berakibat pada penurunan produksi. Rataan konsumsi pakan broiler selama tiga minggu pemeliharaan disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Rataan Konsumsi Pakan Broiler selama Tiga Minggu Pemeliharaan
Faktor suhu tidak berpengaruh terhadap konsumsi pakan pada minggu ke-3 dan ke-4, hal ini mungkin karena perbedaan suhu kandang yang tidak terlalu ekstrim.
Hasil yang sama dengan penelitian Akyuz (2009) yang menunjukan bahwa pada musim panas konsumsi pakan hampir sama dengan musim dingin. Hal ini berbeda dengan beberapa hasil penelitian yang menunjukan bahwa suhu yang lebih tinggi dapat mengurangi konsumsi pakan (Dieyeh, 2006; Al-Batshan 2002; Kusnadi 2006).
Selain faktor suhu, kandungan energi pakan mempengaruhi jumlah pakan yang yang dikonsumsi, ayam akan mengurangi konsumsinya jika kandungan energi pakan tinggi dan menaikan konsumsinya jika energi pakan berkurang (Amrullah, 2004).
Faktor warna cahaya berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsumsi pakan minggu ke-4. Konsumsi pakan yang dipelihara dalam kandang dengan warna cahaya putih lebih tinggi 5,31% daripada konsumsi pakan yang dipelihara dalam kandang dengan warna cahaya merah, hal ini disebabkan intensitas cahaya putih lebih tinggi daripada intensitas cahaya merah. Cahaya dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan aktivitas makan, sementara intensitas yang lebih rendah memberikan pengaruh terhadap pengontrolan agresivitas dalam tingkah laku. Lama pencahayaan yang pendek pada awal-awal tahap pemeliharaan dapat mengurangi asupan pakan dan menekan tingkat pertumbuhan, hal ini disebabkan oleh periode penggelapan yang lebih lama akan membatasi akses terhadap konsumsi pakan (Olanrewaju et al., 2006). Rahimi et al. (2005) menyatakan bahwa konsumsi pakan pada pemberian cahaya yang terus menerus ataupun tidak, menunjukkan hasil yang sama dalam setiap percobaan. Beberapa percobaan lain menunjukkan pemberian cahaya yang terus-menerus mengakibatkan broiler kurang beraktivitas untuk makan. Konsumsi pakan broiler meningkat dengan pemberian cahaya terputus yang terjadi setelah awal periode pencahayaan. Pemberian cahaya terputus dapat dilakukan untuk menyelaraskan aktivitas makan dengan laju pengosongan saluran pencernaan, sehingga pakan yang dikonsumsi dapat dicerna ayam secara sempurna pada saat lampu dimatikan (Ohtani dan Lesson, 2000). Standar total konsumsi pakan broiler strain Ross yang dikeluarkan oleh PT Cibadak Indah Sari Farm menunjukkan konsumsi pakan yang lebih besar dibandingkan dengan hasil penelitian. Hal ini disebabkan karena adanya perlakuan suhu ruangan, sehingga konsumsi pakan lebih kecil.
Bobot Badan
Hasil analisis statistik yang ditunjukkan pada Tabel 8, tidak ada interaksi antara suhu dan warna cahaya terhadap bobot badan broiler pada minggu ke-3, ke-4 dan ke-5. Faktor suhu berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap bobot badan broiler pada minggu ke-3, ke-4 dan ke-5. Bobot badan broiler minggu ke-3, ke-4 dan ke-5 yang dipelihara pada suhu sekitar 23 ºC lebih tinggi 5,8%; 7,9% dan 10,9%
daripada bobot badan broiler pada suhu sekitar 30 ºC. Hal ini disebabkan karena pada suhu sekitar 30 ºC broiler mengalami cekaman yang akan menurunkan konsumsi pakan, sehingga menurunkan bobot badan broiler. Namun, konsumsi
pakan pada minggu ke-3 dan ke-4 adalah sama, sehingga bobot badan yang tinggi pada suhu sekitar 23 ºC mungkin disebabkan kemampuan broiler yang dipelihara pada suhu sekitar 23 ºC lebih efisien dalam mengubah pakan menjadi daging.
Amrullah (2004) menyatakan bahwa konversi pakan lebih baik pada suhu optimum, sehingga akan meningkatkan bobot badan. Rataan bobot badan broiler selama tiga minggu pemeliharaan disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Rataan Bobot Badan Broiler selama Tiga Minggu Pemeliharaan Rataan 1880,30 ± 100,70a 1811,80 ±129,30b
Keterangan : huruf besar superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukan perbedaan sangat nyata (P<0,01)
huruf kecil superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukan perbedaan nyata (P<0,05)
Bell dan Weaver (2002) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi bobot badan antara lain pakan, genetik, jenis kelamin, suhu dan tatalaksana. Suhu optimum untuk pertumbuhan broiler dalam selang umur 3-7 minggu yaitu 18-23 ºC. Temperatur yang tinggi dapat menimbulkan stres dan mengakibatkan adaptasi perilaku, fisiologik dan biokimiawi pada tubuh ayam.
Sebaliknya, ketika suhu rendah broiler akan meningkatkan suhu tubuhnya dengan meningkatkan aktivitas dan konsumsi pakan, sehingga bobot badannya meningkat.
Hasil penelitian menunjukan bobot badan broiler yang dipelihara pada suhu yang lebih tinggi berkisar antara 25-30 ºC bobot badannya lebih kecil dibandingkan pada suhu optimum broiler (Dieyeh, 2006; Teeter dan Belay, 1996).
Suhu yang tinggi akan menyebabkan penurunan bobot badan karena ayam akan berusaha untuk mengurangi produksi panas di dalam tubuh sehingga akan
mengurangi konsumsi pakan, seperti pernyataan Lin et al. (2004) bahwa kenaikan suhu akan menyebabkan rendahnya bobot badan. Akibatnya pakan yang dikonsumsi tidak bisa tercerna dengan baik dan banyak yang dibuang dalam bentuk feses (Bell dan Weaver, 2002). Stres panas dapat menekan bobot badan dan secara umum menjadi penyebab penurunan produksi. Kondisi panas yang terus-menerus menurunkan daya cerna protein dan menurunnya daya cerna pakan akibat suhu lingkungan yang tinggi (Bonett et al., 1997). Ketika suhu diatas suhu optimum, ayam mulai menggunakan energi lebih banyak sebagai usaha supaya tetap nyaman. Ayam mulai memelarkan pembuluh darah arteri untuk mengalirkan darah lebih banyak ke jengger, gelambir, kaki dan lainnya dalam usaha untuk meningkatkan kapasitas pendinginan. Salah satunya ditandai dengan panting dan sayap turun begitu suhu mulai meningkat, sehingga luas permukaan tubuh meningkat dan udara mudah mengalir bebas menyentuh kulit dan menyerap lalu membuang panas (Amrullah, 2004). Bobot badan broiler yang dipelihara pada suhu sekitar 23 ºC lebih besar dibandingkan standar bobot badan broiler strain Ross yang dikeluarkan oleh PT Cibadak Indah Sari Farm (2005). Akan tetapi, jika dibandingkan dengan hasil penelitian yang dipelihara pada suhu sekitar 30 ºC bobot badan broiler lebih kecil, hal ini disebabkan adanya perlakuan suhu ruangan yang lebih tinggi sehingga ayam mengalami cekaman panas.
Faktor warna cahaya berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot badan broiler pada minggu ke-5. Bobot badan broiler dalam kandang dengan warna cahaya putih lebih tinggi 3,82% daripada warna cahaya merah. Lewis dan Morris (2006) menyatakan bahwa warna cahaya mempengaruhi performa broiler yang ditentukan oleh panjang gelombang, intensitas dan lama pencahayaan. Warna cahaya dengan berbagai panjang gelombang akan mengakibatkan efek terhadap retina mata ayam, sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ayam. Cahaya merah mempunyai panjang gelombang yang lebih panjang (630–780 nm), sehingga intensitas cahayanya lebih kecil, sedangkan warna cahaya dengan panjang gelombang yang lebih pendek berperan dalam pertumbuhan. Hasil penelitian Saputro (2007) menunjukkan dari keempat warna cahaya lampu yang mendekati intensitas cahaya yang optimal untuk pertumbuhan ayam adalah penggunaan warna cahaya hijau dengan rataan intensitas sebesar 6,03 lux, sedangkan bobot badan akhir broiler
dengan penggunaan warna cahaya merah lebih kecil. Hal ini disebabkan aktivitas broiler pada warna cahaya merah lebih besar sehingga energi yang diperoleh dari pakan tidak hanya untuk pembentukan daging, melainkan untuk aktivitas lain di dalam kandang seperti berdiri, berjalan dan mengepakan sayap.
Peningkatan bobot badan broiler terjadi ketika intensitas cahaya sekitar 5 lux dan broiler pada umur 0-7 hari memerlukan cahaya dengan intensitas 20 lux (Olanrewaju et al., 2006). Buyse et al. (1996) menyatakan bahwa intensitas cahaya yang rendah akan menurunkan aktivitas ayam untuk berdiri dan berjalan, sehingga akan menurunkan terjadinya saling tabrakan antara ayam, menurunkan aktivitas mengepakan sayap dan menurunkan kanibalisme, akibatnya efisiensi pakan akan tercapai. Knisley (1990) menyatakan bahwa untuk menguraikan warna cahaya dalam pemilihan penerangan unggas dilihat dari kromatisitas, nilai kromatisitas dinyatakan dalam derajat Kelvin dengan skala 2000–7000 ºK. Nilai kromatisitas cahaya merah lebih rendah sekitar 3000 ºK dan dipertimbangkan hangat. Besarnya nilai kromatisitas berbanding terbalik dengan semakin panjangnya gelombang yang dimiliki warna cahaya.
Pertambahan Bobot Badan
Hasil analisis statistik yang ditunjukkan pada Tabel 9, tidak ada interaksi antara suhu dan warna cahaya berbeda yang mempengaruhi pertambahan bobot badan broiler pada minggu ke-3, ke-4 dan ke-5. Faktor suhu berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pertambahan bobot badan broiler minggu ke-5.
Pertambahan bobot badan broiler dalam kandang pada suhu sekitar 23 ºC lebih tinggi sebesar 19,6 % daripada suhu sekitar 30 ºC. Broiler akan mengalami cekaman panas pada suhu sekitar 30 ºC sehingga konsumsinya menurun, hal ini mengakibatkan bobot badan menurun sehingga pertambahan bobot badannya lebih kecil dibandingkan bobot badan pada suhu sekitar 23 ºC (Bell dan Weaver, 2002).
May dan Lott, (2000) menyatakan bahwa bobot hidup broiler jantan umur 7 minggu pada suhu 18 ºC lebih tinggi dibandingkan pada suhu 30 ºC dan ketika suhu lingkungan antara 22-32 ºC terjadi penurunan pertambahan bobot hidup sebesar 46%. Pertambahan bobot badan broiler umur 4 s/d 6 minggu yang dipelihara pada suhu lingkungan 32 ºC sebesar 515 gram/ekor sedangkan pada suhu 22 ºC pertambahan bobot badan broiler sebesar 1084 gram/ekor (Bonnet et al., 1997).
Turunnya produksi pada kondisi cekaman panas tersebut, diperkuat dengan berkurangnya retensi nitrogen, sehingga dapat menurunkan daya cerna protein dan beberapa asam amino dan peningkatan pengeluaran beberapa mineral pada urin serta menurunnya bakteri yang berguna dalam saluran pencernaan (Zupprizal et al., 1993;
Tabiri et al., 2000). Hasil rataan pertambahan bobot badan broiler selama pemeliharaan menunjukkan pertambahan bobot badan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan standar bobot badan broiler strain Ross yang dikeluarkan oleh PT Cibadak Indah Sari Farm (2005). Hal ini disebabkan karena adanya perlakuan suhu yang berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan broiler. Rataan pertambahan bobot badan broiler selama tiga minggu pemeliharaan disajikan pada Tabel 9.
Keterangan : huruf superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukan perbedaan sangat nyata (P<0,01).
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa faktor warna cahaya tidak berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan broiler. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Saputro (2007) yang menunjukkan bahwa pertambahan bobot badan broiler yang mendapat warna cahaya hijau lebih besar daripada warna cahaya merah dan broiler yang mendapat warna cahaya merah dapat menurunkan pertambahan bobot badan pada minggu ketiga. Warna cahaya hijau mempunyai gelombang cahaya pendek sehingga memberi suasana tenang untuk pembentukan daging, sehingga pertambahan bobot badan lebih baik (Rozenboim, 1999). Renden et al. (1996) menyatakan bahwa pada minggu pertama broiler memerlukan cahaya dengan
intensitas 20 lux. Namun pada minggu selanjutnya sampai panen intensitas cahaya yang diperlukan lebih kecil sekitar 5 lux. Warna cahaya hijau mampu menghasilkan pertambahan bobot badan yang lebih besar karena broiler cenderung tenang dan tidak banyak beraktivitas, sama halnya dengan warna cahaya kuning juga menghasilkan pertambahan bobot badan yang tinggi (Saputro, 2007; Surya, 2007).
Rozenboim et al. (1999) menyatakan bahwa warna cahaya hijau dapat mempercepat pertumbuhan jaringan otot dan menstimulasi pertumbuhan broiler pada umur muda.
Rahimi et al. (2005) menyatakan bahwa pertambahan bobot badan broiler yang diberikan warna cahaya secara terputus menghasilkan pertambahan bobot badan yang lebih besar dibandingkan dengan pemberian cahaya yang terus-menerus pada umur 14-42 hari. Pencahayaan dapat memaksimalkan konsumsi pakan dan pertumbuhan. Hasil penelitian menunjukkan performa broiler lebih baik jika diberikan pencahayaan terputus. Periode gelap selama 12 jam terus-menerus tidak akan berakibat pada pertumbuhan yang maksimum. Periode gelap yang lebih panjang akan mengurangi kesempatan ayam memperoleh makanan, sehingga konsumsi pakan akan menurun dan berakibat pada pertumbuhan broiler.
Konversi Pakan
Rataan konversi pakan broiler selama tiga minggu pemeliharaan disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Rataan Konversi Pakan Broiler selama Tiga Minggu Pemeliharaan
Suhu Warna Cahaya
Keterangan : huruf superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukan perbedaan nyata (P<0,05).
Hasil analisis statistik yang ditunjukkan pada Tabel 10, tidak ada interaksi antara suhu dan warna cahaya terhadap konversi pakan broiler pada minggu ke-3, ke-4 dan ke-5. Faktor suhu berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konversi pakan pada minggu ke-5. Nilai konversi pakan pada suhu sekitar 30ºC lebih tinggi 10,83%
daripada suhu sekitar 23 ºC, begitu juga hasil dari penelitian Al-Batshan dan Hussein (1998) menyatakan bahwa nilai konversi pakan broiler lebih rendah pada suhu rendah. Semakin dewasa ayam maka efisiensi pakan akan semakin kecil, hal ini disebabkan ayam yang semakin besar akan lebih banyak mengkonsumsi pakan untuk menjaga ukuran berat badan. Penggunaan protein sebesar 80% untuk menjaga berat badannya yang besar dan 20% untuk pertumbuhan sehingga efisiensi pakan menjadi kurang baik (Lesson, 2000). Broiler pada minggu ke-5 telah mencapai bobot badan yang lebih besar sehingga mudah mengalami stres, hal ini mengakibatkan efesiensi penggunaan pakan menjadi rendah.
Menurut Ensminger (1992) untuk menghasilkan efisiensi pakan dengan pertumbuhan yang baik, temperatur ruang yang disarankan adalah 22,78 ºC dengan kelembaban relatif adalah 60%-70%. May dan Lott (2000) menyatakan bahwa nilai rataan konversi pakan broiler pada suhu yang tinggi di atas suhu nyaman akan mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan konversi pakan broiler pada suhu nyaman. Broiler dapat menggunakan pakan lebih efisien dalam kisaran suhu lingkungan optimum karena tidak mengeluarkan energi untuk mengatasi suhu lingkungan yang tidak normal. Pada suhu lingkungan yang lebih tinggi, broiler berusaha menjaga suhu tubuhnya dengan cara menyeimbangkan produksi panas dengan hilangnya panas dan mengubah-ubah sifat insulatif bulu. Suhu lingkungan tinggi merupakan salah satu faktor penghambat produksi broiler, karena secara langsung hal ini mengakibatkan turunnya konsumsi pakan sehingga terjadi defisiensi zat-zat makanan (Daghir, 1995).
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa faktor warna cahaya tidak berpengaruh terhadap konversi pakan broiler. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Saputro (2007) yang menunjukkan bahwa perlakuan warna cahaya hijau memiliki nilai konversi pakan yang lebih kecil jika dibandingkan dengan warna cahaya merah.
Broiler yang diberi warna cahaya hijau tidak banyak beraktivitas sehingga pakan yang dikonsumsi efektif untuk pertumbuhan. Keadaan ini menunjukkan bahwa
efektivitas penggunaan pakan untuk pertumbuhan bobot badan broiler lebih baik didapat dari kandang dengan warna cahaya hijau, karena warna cahaya hijau lebih memberikan kondisi yang tenang. Rozenboim et al. (1999) menyatakan bahwa warna cahaya hijau jauh lebih baik dibandingkan warna cahaya biru dalam memacu deposit protein menjadi daging. Nilai konversi pakan broiler yang dipelihara pada pencahayaan terputus lebih baik daripada pencahayaan terus menerus (Rahimi et al., 2005; Ingram dan Hatten 2000; Ohtani dan Leeson 2000). Hal ini terjadi karena pada periode gelap aktivitas fisik lebih rendah sehingga pengeluaran energi sedikit dan ini dapat meningkatkan efisiensi produksi. Selain faktor cahaya, konversi pakan juga dipengaruhi oleh genetik. Bell dan Weaver (2002) menyatakan bahwa broiler jantan lebih efisien dalam mengubah pakan menjadi daging karena mempunyai pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan betina. Nilai konversi pakan yang dikeluarkan oleh PT Cibadak Indah Sari Farm (2005) menunjukkan nilai konversi pakan yang lebih kecil dibandingkan dengan konversi pakan hasil penelitian. Hal ini disebabkan adanya perlakuan suhu ruangan diatas suhu optimum, sedangkan konversi pakan lebih baik pada suhu optimum.
Konsumsi Air Minum
Air merupakan salah satu komponen mendasar dalam kehidupan. Air juga berhubungan dengan mekanisme termoregulator dan kemampuan untuk bertahan hidup pada temperatur lingkungan yang tinggi. Hasil analisis statistik yang ditunjukkan pada Tabel 11, tidak ada interaksi antara suhu dan warna cahaya terhadap konsumsi air minum pada minggu ke-3, ke-4 dan ke-5. Faktor suhu berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi air minum selama penelitian.
Konsumsi air minum pada suhu sekitar 30 ºC lebih banyak sebesar 26,38%, 27,38%
dan 21,63% dibandingkan pada suhu sekitar 23 ºC. Church dan Pond (1995) menyatakan bahwa temperatur lingkungan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi konsumsi air minum. Rataan konsumsi air selama tiga minggu pemeliharaan disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11. Rataan Konsumsi Air Minum Broiler selama Tiga Minggu Pemeliharaan
Keterangan : huruf superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukan perbedaan sangat nyata (P<0,01).
Temperatur lingkungan yang tinggi dapat menyebabkan cekaman panas sehingga konsumsi air minum lebih banyak untuk mempertahankan keadaan homeostasis. Suhu dan kelembaban yang tinggi menyebabkan ternak stres panas, hal ini akan meningkatkan konsumsi air minum. Keadaan suhu lingkungan yang cukup tinggi pada siang hari di daerah tropis dapat menimbulkan cekaman panas yang dapat menurunkan konsumsi pakan. Ketika suhu lingkungan rendah, broiler akan menurunkan konsumsi air minum. Faktor cahaya tidak berpengaruh terhadap konsumsi air minum, karena konsumsi air minum lebih dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang lebih tinggi. Faktor yang dapat mempengaruhi konsumsi terhadap air minum yaitu temperatur lingkungan, konsumsi pakan, komposisi pakan, bentuk pakan, genetik, umur, jenis kelamin, kandungan mineral air, temperatur air, dan jenis tempat minum (Church dan Pond, 1995).
Mortalitas
Mortalitas atau kematian merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan usaha pengembangan peternakan ayam. Bell dan Weaver (2002) menyatakan bahwa persentase kematian selama periode pemeliharaan tidak boleh lebih dari 4%. Persentase kematian broiler selama penelitian yaitu
Mortalitas atau kematian merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan usaha pengembangan peternakan ayam. Bell dan Weaver (2002) menyatakan bahwa persentase kematian selama periode pemeliharaan tidak boleh lebih dari 4%. Persentase kematian broiler selama penelitian yaitu