• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERFORMA BROILER PADA SUHU KANDANG DAN WARNA CAHAYA YANG BERBEDA SKRIPSI LISTIANI YUNIAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERFORMA BROILER PADA SUHU KANDANG DAN WARNA CAHAYA YANG BERBEDA SKRIPSI LISTIANI YUNIAR"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

PERFORMA BROILER PADA SUHU KANDANG DAN WARNA CAHAYA YANG BERBEDA

SKRIPSI LISTIANI YUNIAR

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

(2)

RINGKASAN

LISTIANI YUNIAR. D1406278. 2010. Performa Broiler Pada Suhu Kandang Dan Warna Cahaya Yang Berbeda. Skripsi. Program Studi Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Pembimbing utama : Prof. Dr. Ir. Iman Rahayu Hidayati Soesanto, M.S.

Pembimbing kedua : Dr. Ir. Rita Mutia, M.Agr.

Broiler merupakan ternak penghasil sumber protein hewani untuk pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. Suhu dan cahaya merupakan faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan broiler. Suhu optimum untuk pertumbuhan broiler adalah 18ºC- 23ºC. Ternak unggas merupakan ternak yang peka terhadap cahaya.

Cahaya terdiri dari tiga aspek, yaitu lama pencahayaan, intensitas cahaya, dan warna cahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan warna cahaya yang berbeda terhadap performa broiler. Peubah yang diamati meliputi konsumsi pakan, bobot badan, pertambahan bobot badan, konversi pakan, konsumsi air minum dan mortalitas. Ternak yang digunakan adalah broiler Jumbo 747 strain Ross umur satu hari sebanyak 160 ekor, pemeliharaan dilakukan selama 35 hari. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial (2x2) dengan 4 ulangan. Perlakuan terdiri atas faktor suhu dan warna cahaya. Faktor suhu terdiri atas dua taraf, yaitu suhu sekitar 23ºC dan suhu sekitar 30ºC. Faktor cahaya terdiri dari dua jenis, yaitu warna cahaya merah dan warna cahaya putih. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analysis of variance (ANOVA) untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diamati.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara suhu dan warna cahaya (P>0,05) terhadap konsumsi pakan (minggu ke-3 dan ke-4), bobot badan, pertambahan bobot badan, konversi pakan, dan konsumsi air minum, akan tetapi terdapat interaksi antara suhu dan warna cahaya (P<0,05) terhadap konsumsi pakan minggu ke-5. Konsumsi pakan terendah terdapat pada suhu sekitar 30ºC dengan warna cahaya merah, sedangkan konsumsi pakan pada suhu sekitar 23ºC dengan warna cahaya putih dan merah adalah sama. Faktor suhu berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap bobot badan dan konsumsi air minum selama penelitian serta pertambahan bobot badan broiler minggu ke-5 dan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konversi pakan minggu ke-5. Bobot badan, pertambahan bobot badan dan konsumsi air minum broiler lebih tinggi pada suhu sekitar 23ºC dan nilai konversi pakan lebih tinggi pada suhu sekitar 30ºC. Faktor warna cahaya berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsumsi pakan minggu ke-4 dan bobot badan minggu ke-5.

Konsumsi pakan dan bobot badan broiler lebih tinggi dengan pemberian warna cahaya putih. Sehingga dapat disimpulkan bahwa performa broiler lebih baik pada suhu sekitar 23ºC dengan pemberian warna cahaya putih. Mortalitas broiler selama penelitian sebesar 2,5% yang disebabkan oleh infeksi E. coli (Colibacillosis).

Kata-kata kunci : suhu, cahaya, performa, broiler

(3)

ABSTRACT

Effect of Temperature and Ligthing Colour to Broiler Performance Yuniar, L., H.S. Iman Rahayu, and R. Mutia

Temperature and lighting are environment factors that influence the broiler growth. Temperature optimum for the broiler growth is 18ºC-23ºC. Light consists of three different aspects those are photoperiode, light intensity, and colour. The aim of this research was to determine the influence of temperature and light colour on performance of broiler. Feed consumption, body weight, body weight gain, feed conversion, water consumption and mortality were parameters data collected. A hundread and sixty broiler chicks (Ross Strain) were used in the research and reared until 35 days. This research used Factorial Completly Randomized Designed 2x2 with 4 replicate. The factors are temperature (about 23ºC and 30ºC) and colour of lighting (white light and red light). The collected data were analyzed by Anova (Analysis of Variance).

The results show that there was interaction between temperature and colour of light on fifth week of feed consumption (P<0.05). However, there was no interaction (P>0.05) between temperature and light on feed consumption (third week and fourth week), body weight, feed conversion and water consumption.

Temperature was high significantly different (P<0.01) on body weight, water consumption and gain at fifth week. However, it was significantly different (P<0.05) on feed conversion at fifth week. Lighting was significantly different (P<0.05) on feed consumption at forth week and body weight at fifth week. Mortality of broilers was caused by E. coli infection (Colibacillosis).

Keywords: temperature, lighting, performance, broiler

(4)

PERFORMA BROILER PADA SUHU KANDANG DAN WARNA CAHAYA YANG BERBEDA

LISTIANI YUNIAR D14062708

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada

Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

(5)

Judul : Performa Broiler Pada Suhu Kandang Dan Warna Cahaya Yang Berbeda

Nama : Listiani Yuniar NIM : D14062708

Menyetujui,

Pembimbing Utama,

(Prof. Dr. Ir. Iman Rahayu HS, MS) NIP. 19590421 198403 2 002

Pembimbing Anggota,

(Dr. Ir. Rita Mutia, M. Agr) NIP. 19630917 198803 2 001

Mengetahui:

Ketua Departemen,

Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan

(Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri, M.Agr.Sc) NIP: 19591212 198603 1 004

Tanggal Ujian : 4 Oktober 2010 Tanggal Lulus :

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Subang, Jawa Barat pada tanggal 17 Januari 1989.

Penulis merupakan anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Wahyul Ansor dan Ibu Entin Apriyatin.

Riwayat pendidikan penulis dimulai pada tahun 1995 di Sekolah Dasar (SD) Negeri Wangunreja dan diselesaikan pada tahun 2000. Kemudian melanjutkan pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 4 Subang hingga tahun 2003. Pada tahun 2006 penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMAN) Negeri 1 Subang dan lulus tahun 2006. Penulis melanjutkan pendidikan sebagai mahasiswa di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2006. Penulis terdaftar sebagai mahasiswa di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.

Selama mengikuti pendidikan di Institut Pertanian Bogor penulis aktif dalam kegiatan kampus sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Produksi Peternakan (HIMAPROTER) Fakultas Peternakan periode 2007-2008. Penulis juga aktif sebagai anggota Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) Famm Al-Anam periode 2007-2008 dan sebagai sekretaris Famm Al-Anam periode 2008-2009. Penulis pernah tergabung dalam paduan suara Graziono Symphonia Fakultas Peternakan. Penulis juga aktif dalam kepengurusan OMDA.

(7)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, Rabb yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang senantiasa memberikan hidayah, rahmat dan karunia kepada umat-Nya serta dengan izin-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi yang berjudul Performa Broiler pada Suhu Kandang dan Warna Cahaya yang Berbeda. Shalawat serta salam selalu dijunjungkan kepada manusia yang telah berpengaruh besar dalam peradaban dunia ini, Nabyyullah Muhammad SAW. Skripsi ini disusun dalam rangka penyelesaian studi di Program Studi Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Pada kesempatan ini penulis hendak mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada Prof. Dr. Ir. Iman Rahayu Hidayati Soesanto, MS dan Dr. Ir. Rita Mutia, M.Agr selaku dosen pembimbing yang dengan sabar memberikan dukungan, bimbingan, bantuan dan arahan selama penelitian hingga terselesaikannya penulisan skripsi ini. Ucapan terima kasih yang tulus penulis sampaikan kepada Ayah dan Ibu tercinta, yang dengan penuh pengorbanan membiayai studi penulis, dan atas doa restunya yang senantiasa mengiringi gerak langkah penulis hingga saat ini. Terima kasih kepada kakakku tersayang Wida Panca Setya dan Adiku Resa Budi Susila dan Septiadi Gumilar atas dukungan dan kasih sayangnya.

Kesempurnaan hanyalah milik Allah, sedangkan manusia adalah tempat dosa dan kesalahan. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada pihak-pihak yang membutuhkan.

Bogor, Oktober 2010

Penulis

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

RINGKASAN ... i

ABSTRACT... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

LEMBAR PENGESAHAN ... iv

RIWAYAT HIDUP ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI... vii

DAFTAR TABEL... ix

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN... x

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1

Tujuan ... 2

TINJAUAN PUSTAKA ... 3

Broiler ... 3

Kandang ... 3

Suhu ... 4

Performa Broiler ... 5

Konsumsi Pakan ... 5

Bobot Badan dan Pertumbuhan ... 6

Konversi Pakan ... 8

Konsumsi Air Minum ... 9

Mortalitas ... 10

Cahaya untuk Broiler ... 11

Mekanisme Rangsangan Cahaya ... 11

Lama Pencahayaan ... 11

Intensitas Cahaya ... 13

Warna dan Panjang Gelombang Cahaya ... 13

MATERI DAN METODE ... 15

Lokasi dan Waktu ... 15

Materi ... 15

Ternak ... 15

Pakan ... 15

Vitamin dan Vaksin ... 16

Kandang ... 16

Peralatan ... 16

Rancangan Percobaan ... 16

Analisis Data ... 17

(9)

Peubah yang Diamati ... 17

Prosedur ... 18

Persiapan Kandang dan Peralatan ... 18

Pemeliharaan ... 18

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 20

Kondisi Lingkungan Mikro Kandang ... 20

Kandang Penelitian ... 20

Suhu dan Kelembaban Udara Relatif Kandang ... 21

Konsumsi Pakan ... 21

Bobot Badan ... 23

Pertambahan Bobot Badan ... 26

Konversi Pakan ... 28

Konsumsi Air Minum ... 31

Mortalitas ... 31

KESIMPULAN ... 33

Kesimpulan ... 33

UCAPAN TERIMA KASIH ... 34

DAFTAR PUSTAKA ... 35

LAMPIRAN... 39

(10)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Konsumsi Pakan Ayam Pedaging Strain Ross Jumbo ... 6

2. Bobot Badan dan Pertambahan Bobot Badan Strain Ross Jumbo ... 8

3. Konversi Pakan Strain Ross Jumbo ... 9

4. Jumlah Kebutuhan Air Minum Broiler ... 10

5. Rekomendasi Program Pencahayaan Untuk Broiler ... 12

6. Komposisi Zat Makanan untuk Broiler ... 15

7. Hasil Rataan Konsumsi Pakan Broiler selama Pemeliharaan ... 22

8. Hasil Rataan Bobot Badan Broiler selama Pemeliharaan ... 24

9. Hasil Rataan Pertambahan Bobot Badan Broiler selama Pemeliharaan ... 27

10. Hasil Rataan Konversi Pakan Broiler selama Pemeliharaan ... 28

11. Hasil Rataan Konsumsi Air Broiler selama Pemeliharaan ... 31

(11)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Keadaan Kandang Penelitian ... 43

2. Keadaan Kandang Suhu Sekitar 23ºC dan Warna Cahaya Putih ... 44

3. Keadaan Kandang Suhu Sekitar 23ºC dan Warna Cahaya Merah ... 45

4. Keadaan Kandang Suhu Sekitar 30ºC dan Warna Cahaya Putih ... 46

5. Keadaan Kandang Suhu Sekitar 30ºC dan Warna Cahaya Merah ... 47

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Analisis Ragam Konsumsi Pakan Minggu ke-3 ... 39

2. Analisis Ragam Konsumsi Pakan Minggu ke-4 ... 39

3. Analisis Ragam Konsumsi Pakan Minggu ke-5 ... 39

4. Analisis Ragam Bobot Badan Minggu ke-3 ... 39

5. Analisis Ragam Bobot Badan Minggu ke-4 ... 40

6. Analisis Ragam Bobot Badan Minggu ke-5 ... 40

7. Analisis Ragam Pertambahan Bobot Badan Minggu ke-3 ... 40

8. Analisis Ragam Pertambahan Bobot Badan Minggu ke-4 ... 40

9. Analisis Ragam Pertambahan Bobot Badan Minggu ke-5 ... 41

10. Analisis Ragam Konversi Pakan Minggu ke-3 ... 41

11. Analisis Ragam Konversi Pakan Minggu ke-4 ... 41

12. Analisis Ragam Konversi Pakan Minggu ke-5 ... 41

13. Analisis Ragam Konsumsi Air Minggu ke-3 ... 42

14. Analisis Ragam Konsumsi Air Minggu ke-4 ... 42

15. Analisis Ragam Konsumsi Air Minggu ke-5 ... 42

16. Lampiran Gambar Keadaan Kandang dan Lokasi Penelitian... 43

17. Lampiran Hasil Patologi Anatomi ... 48

(13)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Broiler merupakan ternak penghasil sumber protein hewani untuk pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. Permintaan terhadap daging ayam semakin bertambah seiring dengan meningkatnya penghasilan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya asupan protein hewani, sehingga produksi broiler perlu ditingkatkan dengan sistem manajemen pemeliharaan yang baik. Broiler adalah strain ayam hibrida modern yang berjenis kelamin jantan dan betina yang dikembangbiakkan oleh perusahaan pembibitan khusus, dapat tumbuh sangat cepat sehingga dapat dipanen pada umur 4-5 minggu (Gordon dan Charles, 2002). Bell dan Weaver (2002) menyatakan bahwa broiler mempunyai karakteristik yang khas antara lain pertumbuhan yang cepat dan siap dipotong pada umur yang relatif muda.

Keberhasilan peternakan broiler tergantung pada mutu genetik, lingkungan dan interaksi antara genetik dengan lingkungan. Manajemen merupakan salah satu faktor penting dalam budidaya broiler, diantaranya manajemen perkandangan yang harus menjadi perhatian karena secara tidak langsung akan mempengaruhi produksi.

Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam sistem perkandangan adalah aspek lingkungan seperti suhu dan cahaya yang mempengaruhi pertumbuhan broiler. Ayam termasuk hewan berdarah panas (homeothermik), maka kesesuaian suhu lingkungan menjadi sangat penting untuk pertumbuhan. Menurut Bell dan Weaver (2002), suhu optimum untuk pertumbuhan broiler adalah 18-23 ºC.

Ternak unggas merupakan ternak yang peka terhadap cahaya. Cahaya yang mengenai mata ayam akan diterima oleh reseptor pada mata dan kemudian diteruskan ke hipofisa. Hal ini akan merangsang hipofisa anterior mengeluarkan hormon pengendali yang antara lain terdiri dari hormon stimulasi tiroid dan hormon somatotropik (Card dan Nesheim, 1972). Cahaya berfungsi dalam proses penglihatan yang memungkinkan unggas untuk mengatur ritme harian dan mensinkronisasikan beberapa fungsi penting di dalam tubuh seperti suhu tubuh dan bermacam tahapan metabolis yang terkait dengan pemberian pakan dan pencernaan. Cahaya akan merangsang pola sekresi beberapa hormon yang mengontrol pertumbuhan, pendewasaan dan reproduksi (Olanrewaju et al., 2006). Pemberian cahaya terhadap broiler pada manajemen pemeliharaan tergantung pada lama pencahayaan, intensitas

(14)

cahaya dan warna cahaya. Warna cahaya erat hubungannya dengan intensitas cahaya dan panjang gelombang dari cahaya (Lewis dan Morris, 2006). Pengaturan suhu kandang dan pemberian cahaya yang sesuai diharapkan dapat meningkatkan produktivitas ayam.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu kandang dan warna cahaya yang berbeda terhadap performa broiler pada pemeliharaan umur 21–35 hari.

(15)

TINJAUAN PUSTAKA Broiler

Ayam diklasifikasikan ke dalam kingdom Animalia, phylum Chordata, class Aves, ordo Galliformes, family Phasianidae, genus Gallus, species Gallus gallus, dan subspecies Gallus gallus domesticus. Strain broiler berasal dari persilangan antara White Plymouth Rock dan White Cornish (Poultry Indonesia, 2002). Menurut Gordon dan Charles (2002), broiler adalah strain ayam hibrida modern yang berjenis kelamin jantan dan betina yang dikembangbiakkan oleh perusahaan pembibitan khusus. Broiler merupakan ayam pedaging tipe berat yang lebih muda dan berukuran lebih kecil, dapat tumbuh sangat cepat sehingga dapat dipanen pada umur 4-5 minggu.

Persyaratan mutu bibit broiler atau DOC (Day Old Chick) menurut SNI (Badan Standar Nasional, 2005), yaitu berat DOC per ekor minimal 37 gram dengan kondisi fisik sehat, kaki normal, dapat berdiri tegak, tampak segar dan aktif, tidak ada kelainan bentuk dan tidak ada cacat fisik, sekitar pusar dan dubur kering, pusar tertutup, warna bulu seragam sesuai dengan strain, kondisi bulu kering, serta jaminan kematian DOC maksimal 2%. Fadilah (2004) menyatakan bahwa besarnya keuntungan yang didapat diperoleh dari beternak broiler cukup besar diantaranya adalah: (a) broiler mempunyai kemampuan tumbuh dan berkembang yang sangat cepat, sehingga perputaran modal juga lebih cepat; (b) dapat dibangun pada lahan yang tidak terlalu luas; (c) broiler memiliki daya produktivitas yang tinggi terhadap pembentukan daging dengan konversi pakan yang kecil; (d) limbah berupa kotoran ayam merupakan tambahan pendapatan.

Kandang

Syarat-syarat kandang yang baik adalah kandang cukup mendapat sinar matahari dan udara segar, kandang tidak terletak pada lokasi yang gaduh mengingat ayam mudah stres, ukuran dan luas kandang disesuaikan dengan jumlah dan umur ayam. Pengadaan kandang sebaiknya dibangun sesuai dengan kebutuhan dan kehidupan ayam yang akan dipelihara, supaya ayam dapat hidup nyaman, tenang dan terpelihara kesehatannya, sehingga hal ini dapat meningkatkan produktivitas ayam dalam menghasilkan daging (Jahja, 2000). Menurut Santoso (2009) berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan kandang sampai dengan 14 ekor/m2, masih

(16)

cukup baik. Jadi, untuk 1000 ekor broiler memerlukan kandang dengan ukuran 6 x 12 meter.

Broiler memerlukan suhu lingkungan dan pencahayaan yang memadai sesuai umur untuk pertumbuhan yang optimal. Panas lingkungan pada masa pertumbuhan awal (brooding) broiler dapat diperoleh dari lampu pijar dengan kekuatan (daya) tertentu. Keadaan suhu lingkungan yang cukup tinggi pada siang hari di daerah tropis dapat menimbulkan cekaman panas yang dapat menurunkan konsumsi pakan. Ketika suhu lingkungan rendah broiler akan menurunkan konsumsi air minum dan meningkatkan konsumsi pakan. Suhu lingkungan yang berbeda mempengaruhi aktivitas tingkah laku broiler seperti lokomosi, makan, minum, panting, dan istirahat (Bell dan Weaver, 2002).

Sistem ventilasi di kandang tertutup (closed house) bergantung pada jenis kipas (fan) yang digunakan. Berdasarkan cara kerjanya, fan dibagi dua tipe, yaitu mendorong udara masuk dan menyedot udara keluar. Cara kerja fan pertama adalah udara yang mengalir ke dalam akan menyebabkan tekanan yang positif (positive pressure system). Cara kerja fan kedua adalah udara akan mengalir dari dalam kandang menuju ke luar akibat adanya daya sedot fan sehingga terjadi tekanan negatif. Temperatur ini dapat dicapai pada kondisi kandang terkontrol seperti tipe kandang tertutup (Bell dan Weaver, 2002). Suhu lingkungan sangat berpengaruh terhadap performa broiler. Temperatur pada siang hari di Indonesia berkisar 27- 34ºC, bahkan pada musim panas didaerah tertentu bisa mencapai 38 ºC. Rataan suhu di Dramaga, Bogor berkisar 30,54 ºC ± 1,22 ºC (maksimum) dan 21,04ºC ± 1,48 ºC (minimum) (BPS, 2007). Suhu lingkungan tinggi dapat memberikan dampak negatif terhadap kondisi fisiologis dan produktivitas broiler. Ayam kurang toleran terhadap perubahan suhu lingkungan, sehingga lebih sulit melakukan adaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan, terutama setelah ayam tersebut berumur lebih dari tiga minggu (Yousef, 1985).

Suhu

Ayam merupakan hewan homeotermi, artinya memilki kemampuan untuk mempertahankan suhu tubuhnya tetap stabil walaupun suhu lingkungan berubah- ubah dalam kisaran yang luas. Mekanisme homeostasis berjalan efisien pada batasan (toleransi) yang sempit disebut wilayah suhu netral (thermoneutral zone atau comfort

(17)

zone). Wilayah termonetral adalah kisaran suhu yang diperlukan agar proses homeostasis berjalan normal. Panting merupakan salah satu respon broiler yang nyata akibat stres cekaman panas dan mekanisme evaporasi melalui saluran pernafasan. Suhu nyaman untuk mencapai pertumbuhan optimum broiler berkisar antara 18-23 ºC (Bell dan Weaver, 2002).

Suhu tubuh broiler berada pada kisaran sempit yang digambarkan oleh batasan rendah atau tinggi ritme circadian di dalam tubuh. Peningkatan suhu tubuh disebabkan oleh suhu lingkungan, batasan tinggi ritme circadian, yang biasanya berkisar pada batasan tinggi 41,5 ºC dan batasan rendahnya 40,5 ºC. Ketika berada pada keadaan lingkungan yang panas, suhu tubuh ayam akan terus meningkat 1–2 ºC sebagai panas tubuh, dan terus meningkat hingga tubuh ayam dapat kembali beradaptasi hingga batas yang dapat dilaluinya (Bell dan Weaver, 2002).

Performa Broiler

Bell dan Weaver (2002) menyatakan bahwa performa produksi yang harus diamati dalam pengelolaan broiler meliputi konsumsi pakan, bobot badan hidup, pertambahan bobot badan, akumulasi konsumsi pakan, konsumsi pakan setiap minggu, akumulasi konversi pakan dan konversi pakan setiap minggu.

Konsumsi Pakan

Bell dan Weaver (2002) menyatakan bahwa konsumsi pakan adalah jumlah pakan yang dikonsumsi oleh ayam selama periode pemeliharaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi pakan adalah bobot badan, galur, tingkat produksi, tingkat cekaman, aktivitas ternak, mortalitas, kandungan energi protein dalam pakan dan suhu lingkungan. Salah satu faktor yang mempengaruhi konsumsi pakan adalah suhu lingkungan. Suhu ruangan di bawah thermoneutral menyebabkan kosumsi pakan ayam meningkat, sedangkan suhu ruangan di atas kisaran tersebut menyebabkan penurunan konsumsi pakan.

Yahav et al. (1996) menyatakan bahwa konsumsi pakan menurun ketika suhu lingkungan di atas suhu normal (18-23 ºC). Cuaca panas dapat menyebabkan bernafas secara cepat (panting) untuk berusaha mendinginkan tubuhnya, hal ini menyebabkan peredaran darah banyak menuju ke organ pernafasan, sedangkan peredaran darah pada organ pencernaan mengalami penurunan sehingga bisa mengganggu pencernaan dan metabolisme. Pakan yang dikonsumsi tidak dapat

(18)

dicerna dengan baik dan nutrien dalam pakan banyak yang dibuang dalam bentuk feses (Bell dan Weaver, 2002). Konsumsi pakan broiler menurun sebesar 3,6%

setiap peningkatan suhu lingkungan 1 ºC (pada suhu lingkungan antara 22 ºC dan 32ºC). Menurunnya konsumsi pakan pada suhu lingkungan tinggi, merupakan usaha ayam dalam mengurangi penimbunan panas dalam tubuh (Ain Bazis et al., 1996).

Cahaya berpengaruh pada konsumsi pakan, berfungsi untuk mengetahui letak tempat pakan sehingga mempengaruhi ayam untuk mengkonsumsi pakan. Intensitas cahaya yang lebih tinggi dapat merangsang konsumsi pakan (Lewis dan Morris, 2006). Konsumsi pakan pada intensitas cahaya 30 lux lebih besar daripada konsumsi pakan pada intensitas cahaya 20 lux (Al Homidan et al., 1997). Total konsumsi pakan broiler strain Ross Jumbo selama periode 1-6 minggu disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Total Konsumsi Pakan Broiler Strain Ross

Umur Jantan Betina Jantan dan Betina

(gram/ekor) (gram/ekor) (gram/ekor)

Minggu 1 141 138 139

Minggu 2 474 452 462

Minggu 3 1.063 991 1.024

Minggu 4 1.936 1.767 1.849

Minggu 5 3.043 2.717 2.877

Minggu 6 4.353 3.802 4.075

Sumber : Cibadak Indah Sari Farm (2005)

Bobot Badan dan Pertumbuhan

Bobot badan broiler akan bertambah setiap minggu, namun pertambahan bobot badan setiap minggu tidak terjadi secara seragam. Setiap minggu pertumbuhan broiler mengalami peningkatan hingga mencapai pertumbuhan maksimal, setelah itu mengalami penurunan. Kenaikan bobot badan dengan bertambahnya umur, selain diikuti peningkatan jumlah penutupan bulu juga mempengaruhi peningkatan konsumsi pakan dan menurunkan efisiensi penggunaan pakan (Bell dan Weaver, 2002).

Pertumbuhan adalah suatu proses peningkatan dalam ukuran tulang, otot, organ dalam dan bagian tubuh yang terjadi sebelum lahir (prenatal) dan setelah lahir

(19)

(postnatal) sampai mencapai dewasa (Ensminger et al., 1992). Pertumbuhan yang paling cepat terjadi sejak setelah menetas sampai umur 4-6 minggu kemudian mengalami penurunan, setelah itu berhenti sampai mencapai dewasa tubuh. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan yaitu galur ayam, jenis kelamin dan faktor lingkungan yang mendukung. Menurut Anggorodi (1985) pada periode pertumbuhan diperlukan pakan dengan zat makanan yang seimbang. Kandungan pakan yang menentukan performa pada unggas adalah imbangan protein dan energi, selain itu kebutuhan vitamin dan mineral juga harus terpenuhi. Bobot hidup broiler jantan umur 7 minggu pada suhu 18ºC yaitu 3407 gram, ternyata lebih tinggi dibandingkan pada suhu 30 ºC yaitu 2714 gram (May dan Lott, 2001). Bobot badan dan pertambahan bobot badan lebih tinggi pada suhu 20 ºC dibandingkan pada suhu 35ºC (Dieyeh, 2006). Bobot badan dan pertambahan bobot badan harian broiler strain Ross Jumbo selama periode 1-5 minggu disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Bobot Badan, Pertambahan Bobot Badan Broiler Strain Ross

Umur Jantan Betina Jantan dan Betina

BB PBB BB PBB BB PBB

(g/ekor) (g/ekor/minggu) (g/ekor) (g/ekor/minggu) (g/ekor) (g/ekor/minggu)

Minggu 1 170 128 164 122 167 125

Minggu 2 443 273 414 250 429 262

Minggu 3 861 418 778 364 820 391

Minggu 4 1401 540 1231 453 1316 496

Minggu 5 2022 621 1741 510 1822 566

Sumber : Cibadak Indah Sari Farm (2005).

Keterangan: BB = Bobot Badan

PBB = Pertambahan Bobot Badan

Peningkatan bobot badan broiler dapat terjadi ketika intensitas cahaya sekitar lima lux. Periode gelap yang selama 12 jam terus menerus tidak akan berakibat pada pertumbuhan yang maksimum. Periode gelap yang lebih panjang akan mengurangi kesempatan ayam untuk memperoleh pakan, sehingga konsumsi pakan akan menurun, hal ini berakibat pada pertumbuhan broiler. Pemberian cahaya 24 jam pada broiler akan meningkatkan waktu untuk makan, meningkatkan pertambahan bobot badan dan meningkatkan pertumbuhan bulu selama masa brooding. Bobot badan dan pertambahan bobot badan broiler dengan intensitas cahaya 20 lux lebih besar dibandingkan 30 lux (Al Homidan et al., 1997). Warna cahaya hijau mampu

(20)

menghasilkan pertambahan bobot badan yang lebih besar karena ayam cenderung tenang dan tidak banyak beraktivitas (Saputro, 2007).

Konversi Pakan

Konversi pakan sebagai rasio antara konsumsi pakan dengan pertambahan bobot badan yang diperoleh dalam kurun waktu tertentu. Semakin tinggi konversi pakan menunjukkan semakin banyak pakan yang dibutuhkan untuk meningkatkan bobot badan per satuan berat dan semakin rendah angka konversi pakan berarti kualitas pakan semakin baik. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai konversi pakan adalah stres, penyakit, kadar amoniak, suhu, cahaya, kebisingan, bentuk fisik dan faktor dari anti nutrisi (Bell dan Weaver, 2002).

Peningkatan suhu lingkungan akan menurunkan konsumsi pakan, efisiensi dan pertambahan bobot badan harian. Menurut Ensminger et al. (1992) untuk menghasilkan efisiensi pakan dengan pertumbuhan yang baik, temperatur ruang yang disarankan adalah 22,78 ºC dengan kelembaban relatif adalah 60%-70%. Pemberian warna cahaya hijau memiliki nilai konversi pakan yang lebih kecil jika dibandingkan dengan warna cahaya merah yaitu sebesar 1,62. (Saputro, 2007). Lewis dan Morris (2006) menyatakan bahwa ayam tidak dapat melihat ketika mendapatkan warna cahaya dengan panjang gelombang pendek. Rasio konversi pakan yang rendah berarti untuk menghasilkan satu kilogram daging ayam, dibutuhkan pakan dalam jumlah yang semakin sedikit.

Peningkatan pemberian kadar protein dari 20%-25% dapat meningkatkan pertumbuhan dan efesiensi dalam penggunaan pakan pada umur 4-6 minggu (Temim et al., 1999). Semakin dewasa ayam maka nilai efisiensi pakan akan semakin kecil, hal ini disebabkan ayam yang semakin besar akan makan lebih banyak pakan untuk menjaga ukuran berat badan, sehingga penggunaan protein sebesar 80% untuk menjaga berat badannya yang besar dan 20% untuk pertumbuhan, sehingga efisiensi pakan menjadi kurang baik (Lesson, 2000). Konversi pakan Strain Ross Jumbo selama lima minggu disajikan pada Tabel 3.

(21)

Tabel 3. Konversi Pakan Broiler Strain Ross selama Lima Minggu

Umur Jantan Betina Jantan dan Betina

Minggu 1 0,88 0,88 0,88

Minggu 2 1,09 1,11 1,10

Minggu 3 1,29 1,32 1,30

Minggu 4 1,44 1,48 1,46

Minggu 5 1,56 1,62 1,60

Sumber : Cibadak Indah Sari Farm, (2005)

Konsumsi Air Minum

Air merupakan salah satu komponen mendasar dalam kehidupan. Air juga berhubungan erat dengan mekanisme termoregulator dan kemampuan untuk bertahan hidup pada temperatur lingkungan yang tinggi. Kebutuhan air minum pada ternak dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor makanan, faktor lingkungan (suhu dan kelembaban), aktivitas ternak dan kondisi fisiologis ternak. Pada kondisi stres panas, ternak akan meningkatkan konsumsi air dan menurunkan konsumsi pakan. Pakan dengan kandungan protein, lemak dan garam yang semakin tinggi akan menyebabkan konsumsi air meningkat. Suhu dan kelembaban yang tinggi menyebabkan ternak stres panas, hal ini akan meningkatkan konsumsi air minum.

Selain itu, desain, kebersihan tempat minum dan jarak ke sumber air juga mempengaruhi konsumsi air minum pada ternak (Church dan Pond, 1995).

Konsumsi air minum broiler erat kaitannya dengan bobot badan dan konsumsi pakan. Wandoyo (1997) memberikan pedoman air minum pada broiler yang dipelihara pada suhu 21 ºC selama lima minggu secara berturut-turut sebagai berikut : 135, 230, 320, 545 dan 680 ml. Nilai konsumsi air minum sebesar 18,7%

dari bobot badan pada suhu 24 ºC dan 23,5% pada suhu 35 ºC. Jenis kelamin juga mempengaruhi konsumsi air minum broiler. Ayam jantan mampu menghabiskan 210 ml/ekor/hari pada umur 35 hari. Tabel 4 menunjukan kebutuhan air minum broiler yang dipelihara 1–5 minggu (NRC, 1994).

(22)

Tabel 4. Jumlah Kebutuhan Air Minum Broiler Umur 1-5 Minggu

Minggu ke- Kebutuhan Air Minum (ml/ekor)

1 225

2 480

3 725

4 1000

5 1250

Sumber : NRC, (1994) Mortalitas

Bell dan Weaver (2002) menyatakan bahwa persentase kematian selama periode pemeliharaan tidak boleh lebih dari 5%. Angka kematian pada minggu pertama selama periode pemeliharan tidak boleh lebih dari 1%, kematian selanjutnya harus relatif lebih rendah sampai hari terakhir minggu tersebut dan terus dalam keadaan konstan sampai berakhirnya periode pemeliharaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi persentase kematian antara lain bobot badan, bangsa, tipe ayam, iklim, kebersihan dan penyakit.

Wiryaman (2002) menyatakan bahwa mortalitas dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan sekitar kandang. Jika kandang tersebut tinggi amonia maka ayam akan mudah terserang penyakit dan akan menyebabkan kematian. Level amonia yang ditoleransi di bawah 25 ppm sebagai batas aman pada broiler, sedangkan level amonia yang dapat menyebabkan kematian pada broiler yaitu di atas 50 ppm. Faktor penyakit sangat dominan sebagai penyebab kematian utama peternakan broiler.

Salah satu penyakit yang sering menyerang adalah Cronic Respiratory Desease (CRD). Retno et al. (1998) melaporkan bahwa penyakit CRD ini dapat meningkatkan kepekaannya terhadap infeksi Eschericia coli, infectius Bronchitis (IB) dan Newscastle (ND). Ayam yang terserang ND gejala klinis yang tampak adalah kelainan pada saluran pernapasan (batuk, ngorok, susah bernapas, keluar lendir dari hidung), nafsu makan berkurang, tinja berwarna hijau dan disertai gumpalan putih, serta gemetar pada seluruh tubuh.

(23)

Cahaya untuk Broiler

Cahaya merupakan energi berbentuk gelombang yang dapat membantu proses penglihatan, bergerak lurus ke semua arah, tidak dapat membelok dan dapat dipantulkan. Sumber cahaya yang paling banyak digunakan dalam kandang tertutup untuk produksi broiler bersumber dari lampu pijar. Cahaya berfungsi dalam proses penglihatan yang memungkinkan unggas untuk mengatur ritme harian dan mensinkronisasikan beberapa fungsi penting di dalam tubuh seperti suhu tubuh dan bermacam tahapan metabolis yang terkait dengan pemberian pakan dan pencernaan.

Cahaya akan merangsang pola sekresi beberapa hormon yang mengontrol pertumbuhan, pendewasaan dan reproduksi (Olanrewaju et al., 2006).

Mekanisme Rangsangan Cahaya

Ternak unggas merupakan ternak yang peka terhadap cahaya. Cahaya yang mengenai mata akan diterima oleh reseptor pada mata ayam, merangsang syaraf mata dan kemudian rangsangan akan diteruskan ke hipofisa. Hal ini akan merangsang hipofisa anterior mengeluarkan hormon pengendali yang antara lain terdiri dari hormon stimulasi tiroid dan hormon somatotropik yang berfungsi mengatur pertumbuhan yaitu mengendalikan metabolisme asam amino dalam pembentukan protein (Card dan Nesheim, 1972).

Lama Pencahayaan

Lama pencahayaan yang umum dilakukan peternak untuk broiler adalah pemberian cahaya terus-menerus selama 24 jam dengan intensitas yang semakin menurun pada fase akhir. Saat lampu dimatikan memberi kesempatan pada broiler untuk mencerna makanan secara sempurna karena broiler tidak melakukan aktivitas saat lampu dimatikan. Lama pencahayaan (photoperiode) yang pendek pada awal- awal tahap pemeliharaan dapat mengurangi asupan pakan dan menekan tingkat pertumbuhan (Olanrewaju et al., 2006).

Pencahayaan secara terus menerus dapat menyebabkan terjadinya gangguan ritme harian (diurnal). Broiler yang diberi cahaya terus-menerus memiliki peluang yang lebih tinggi terkena kelainan kaki dan tulang (Sanotra et al., 2002). Efek selanjutnya dapat menyebabkan broiler mengalami kesulitan untuk mendapatkan pakan dan air minum (Wong-Valle et al., 1993). Broiler yang tetap berada pada posisi ritme hariannya mampu secara normal mengatur pola tingkah laku seperti

(24)

makan, tidur, bergerak dan istirahat (Olanrewaju et al., 2006). Broiler yang diberi pencahayaan secara bergantian akan mengalami pengurangan stres bila dibandingkan dengan broiler yang diberikan cahaya secara terus-menerus. Pemberian lama pencahayaan selama 16 jam dapat menurunkan stres fisiologis, peningkatan respon kekebalan, peningkatan metabolisme tulang, peningkatan aktivitas total dan peningkatan kesehatan kaki (Classen et al., 2004).

Unggas yang diberikan periode gelap yang cukup, akan mengurangi masalah kesehatan seperti mortalitas, gangguan pada kaki dan sudden death syndrome. Hal ini dapat dijelaskan dengan penjelasan fisiologis. Melatonin merupakan hormon yang disekresikan dari kelenjar pineal yang terlibat dalam proses ritme harian suhu tubuh, beberapa fungsi esensial metabolisme tubuh terkait dengan konsumsi pakan (Apeldoorn et al., 1999). Periode gelap harian diperlukan untuk membentuk pola sekresi hormon melatonin secara normal. Melatonin yang disintesis dalam kelenjar pineal dan retina pada unggas, disekresikan selama periode gelap sebagai respon terhadap aktivitas enzim serotonin-N-acetyltranspherase yaitu enzim yang berfungsi mengkatalisis sintesa melatonin baik pada retina maupun kelenjar pineal (Yuwanta, 2004). Rekomendasi pencahayaan untuk broiler disajikan dalam Tabel 5.

Tabel 5. Rekomendasi Program Pencahayaan untuk Broiler

Umur Intensitas Cahaya Periode Pencahayaan

(Hari) (Lux) (24 Jam)

0-7 20 23 T ; 1 G

8-14 5,0 16 T ; 8 G

15-21 5,0 16 T ; 3 G ; 2 T ; 3 G

22-28 5,0 16 T ; 2 G ; 4 T ; 2 G

29-35 5,0 16 T ; 1 G ; 6 T ; 1 G

36-49 5,0 23 T ; 1 G

Sumber : Renden et al, (1996) Keterangan : T : Terang

G : Gelap

(25)

Intensitas Cahaya

Intensitas cahaya dipengaruhi oleh luas dan kepadatan kandang (Saputro, 2007). Intensitas cahaya dapat dinyatakan dalam satuan lux (lx) atau lumen/m2, footcandle (fc), lumen (lm), dan W/m2. Lampu pijar dengan daya 1 watt menghasilkan intensitas sebesar 12,56 lm (Bell dan Weaver, 2002). Intensitas cahaya yang diberikan pada broiler menurut rekomendasi Renden et al. (2006) adalah 20 lux hingga broiler berumur tujuh hari dan berikutnya adalah 5,0 lux hingga berumur 49 hari. Intensitas cahaya yang lebih rendah dapat menurunkan aktivitas ayam untuk berjalan dan berdiri, sehingga mengurangi tingkah laku berkelahi antar sesama ayam, menurunkan aktivitas mengepakkan sayap dan kanibalisme. Cahaya berimplikasi pada perubahan struktur morfologi mata. Intensitas cahaya yang sangat rendah (<5lux) akan menyebabkan kebutaan pada ayam (Buyse et al., 1996). Cahaya dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan aktivitas makan, sementara intensitas yang lebih rendah memberikan pengaruh terhadap pengontrolan agresivitas dalam tingkah laku (Olanrewaju et al., 2006). Surya (2007) dari hasil penelitiannya menunjukan bahwa rataan intensitas cahaya merah (13,79 lux), cahaya kuning sebesar (27,86 lux), cahaya hijau (16,96 lux) dan cahaya biru (12,87 lux).

Warna dan Panjang Gelombang Cahaya

Warna cahaya lampu ditentukan oleh panjang gelombang dan dapat mempengaruhi performa dari broiler. Indera penglihatan ayam mempunyai tingkat sensitivitas terhadap warna yang diterima retina mata, sehingga mampu membedakan warna dengan tingkat kepekaan yang berbeda. Cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda-beda diinterpretasikan oleh otak sebagai warna cahaya. Gelombang cahaya tersebut mampu merangsang retina mata yang menghasilkan sensasi penglihatan yang disebut dengan pandangan, oleh karena itu penglihatan memerlukan mata yang berfungsi baik dan cahaya yang tampak. Cahaya tampak adalah sebagian dari spektrum yang mempunyai panjang gelombang 400 nm–800 nm. Gelombang cahaya dibawah 400 nm (ultraviolet) dan diatas 800 nm tidak dapat dilihat (Lewis dan Morris, 2006).

Penggunaan berbagai macam lampu dengan panjang gelombang yang berbeda menghasilkan warna cahaya yang berbeda pula dan dapat mempengaruhi tingkah laku yang berdampak pada performa dan produktivitas broiler (Bell dan

(26)

Weaver, 2002). Lewis dan Morris (2006) menyatakan bahwa unggas sensitif terhadap panjang gelombang 415, 455, 508 dan 571 nm, sedangkan pada manusia maksimal pada panjang gelombang 419, 531 dan 558 nm. Knisley (1990) menyatakan bahwa suatu metoda untuk menguraikan warna cahaya dalam penerangan unggas dilihat dari kromatisitas. Kromatisitas adalah ukuran dari suatu sumber cahaya hangat atau dingin yang dinyatakan dalam derajat Kelvin dengan skala 2000-7000 °K.

(27)

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Kandang Blok B Bagian Ilmu Produksi Ternak Unggas (IPTU), Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilakukan pada bulan Juli-September 2009.

Materi Ternak

Ternak yang digunakan adalah 160 ekor DOC broiler Jumbo 747 strain Ross yang diproduksi oleh PT. Cibadak Indah Sari Farm yang tidak dibedakan antara jantan dan betina.

Pakan

Pakan yang diberikan dalam penelitian ini untuk periode starter (0–3 minggu) adalah PC 100 sedangkan untuk periode finisher (3–6 minggu) adalah BR1.

Pakan diproduksi oleh PT. Charoen Phokphand. Berikut kandungan nutrisi dari pakan untuk broiler (starter dan finisher) ditampilkan pada Tabel 6.

Tabel 6. Komposisi Zat Makanan Broiler Zat makanan

Komposisi

Periode Starter Periode Finisher

Kadar Air (%) Max 13,0 Max 13,0

Protein (%) 21,5 – 23,5 21,5 – 23,0

Lemak (%) Min 5,0 Min 5,0

Serat (%) Max 5,0 Max 5,0

Abu (%) Max 7,0 Max 7,0

Calcium (%) Min 0,9 Min 0,9

Phosphor (%) Min 0,6 Min 0,6

ME (kkal/kg) 3020 – 3120 3020 – 3100

Sumber : PT Charoen Phokphand (2009)

(28)

Vitamin dan Vaksin

Vitamin yang digunakan adalah Vita Chicks dan Vita Stress. Vaksin yang digunakan adalah vaksin ND 1 LD500, ND La Sota dan Gumboro B.

Kandang

Kandang yang digunakan adalah kandang tertutup yang dibedakan dalam dua perlakuan suhu, yaitu kandang suhu netral sekitar 23 ºC dan kandang suhu panas sekitar 30 ºC. Setiap kandang dibagi dalam empat buah sekat ukuran 1,15 m x 1,15 m x 60 cm. Masing-masing sekat berisi 10 ekor broiler dan dipasang 1 buah lampu pijar berkekuatan 60 watt dengan warna cahaya merah dan warna cahaya putih sesuai perlakuan. Alas yang digunakan adalah litter berbahan sekam padi.

Peralatan

Peralatan yang digunakan adalah lampu pijar dengan daya 60 watt sebanyak 1 buah setiap sekat. Peralatan lainnya yang digunakan adalah air conditioner (AC), pemanas ruangan (heater room), exhaust fan, tempat pakan dan air minum, timbangan kapasitas 5 kg, timbangan digital, gelas ukur, bambu, termometer, baskom, kardus, kamera digital, kertas label dan alat tulis.

Rancangan Percobaan

Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial (2x2) dengan 4 ulangan.

Faktor A : pengaturan suhu kandang yang terdiri dari 2 taraf yaitu : P1: kandang suhu netral sekitar 23 ºC

P2 : kandang suhu panas sekitar 30 ºC

Faktor B : pemberian cahaya kandang yang terdiri dari 2 jenis yaitu:

Y1: warna cahaya putih Y2: warna cahaya merah

Model matematis sebagai berikut (Gaspersz, 1991):

Yijk = µ + αi + βj + (αβ) ij + € ijk

Dimana :

Yijk : nilai pengamatan pada satuan percobaan ke-k yang memperoleh kombinasi

perlakuan ij (taraf ke-i dari faktor suhu dan taraf ke-j dari faktor warna cahaya)

(29)

µ : nilai tengah populasi

αi : pengaruh aditif taraf ke-i dari faktor suhu

βj : pengaruh aditif taraf ke-j dari faktor warna cahaya

(αβ)ij: pengaruh interaksi taraf ke-i faktor suhu dan taraf ke-j faktor warna cahaya

ijk : pengaruh galat dari satuan percobaan ke-k yang memperoleh kombinasi perlakuan ij

Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis dengan Analysis of variance (ANOVA) untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diamati. Jika pada analisis ragam didapatkan hasil yang berbeda nyata, maka dilanjutkan dengan uji Tukey (Gaspersz, 1991).

Peubah yang Diamati

Peubah yang diamati selama penelitian meliputi : 1. Konsumsi pakan (gram/ekor/hari)

Konsumsi pakan dihitung dari jumlah pakan yang dikonsumsi oleh broiler selama periode pemeliharaan. Konsumsi pakan dihitung dari pakan yang diberikan kepada broiler dikurangi dengan sisa pakan.

2. Bobot badan (gram/ekor/hari)

Bobot badan broiler diperoleh dengan penimbangan setiap minggu.

3. Pertambahan bobot badan (gram/ekor/hari)

Pertambahan bobot badan diperoleh dengan cara menghitung selisih antara bobot badan broiler akhir pemeliharaan dengan bobot badan umur hari sebelumnya.

4. Konversi pakan

Konversi pakan dihitung berdasarkan jumlah pakan yang dikonsumsi dibagi pertambahan bobot badan broiler selama periode pemeliharaan.

5. Konsumsi air minum (mililiter/ekor/hari)

Konsumsi air minum dihitung dari jumlah air yang dikonsumsi oleh broiler selama periode pemeliharaan. Konsumsi air minum dihitung dari air yang diberikan dan dikurangi dengan sisa air.

(30)

6. Mortalitas (%)

Mortalitas diperoleh dari perbandingan jumlah broiler yang mati dengan jumlah broiler yang dipelihara dikalikan 100%.

Prosedur Persiapan Kandang dan Peralatan

Persiapan kandang dan peralatan dilakukan dua minggu sebelum pelaksanaan penelitian. Pemasangan sekat setiap kandang, pembersihan dan pencucian kandang dilakukan dengan urutan pencucian dengan air bersih, desinfeksi dengan lisol, pengapuran dan desinfeksi terakhir penyemprotan formalin yang sudah diencerkan dengan air (10 L air : 350 ml formalin). Peralatan yang digunakan juga dibersihkan dengan menggunakan air campuran desinfektan, kemudian direndam dalam larutan biocid dan dikeringkan. Lampu 60 watt dipasangkan di setiap kandang sebanyak satu buah pada tiap sekat dengan warna cahaya merah dan warna cahaya putih sesuai perlakuan.

Pemeliharaan

Pertama kali DOC datang ditimbang untuk mengetahui bobot awal dan diberikan larutan air gula 5% sebagai pengganti energi yang hilang selama pengangkutan dan perjalanan. Pakan dan air minum diberikan ad libitum. Vitamin yaitu Vita Chick dan Vita stress diberikan pada saat broiler pertama kali datang dan setelah penimbangan setiap minggu. Pencegahan penyakit dilakukan dengan vaksinasi. Vaksin ND 1 LD500 diberikan pada hari ke-3 melalui tetes mata, sedangkan vaksin ND La sota diberikan pada hari ke-22 melalui intramuscular.

Vaksin Gumboro diberikan pada hari ke-10 melalui air minum.

Selama dua minggu pertama setiap kandang dinyalakan lampu bohlam 60 watt sebagai pemanas dengan ketinggian diatur, hal ini dilakukan supaya suhu broiler pada masa brooding cepat beradaptasi dengan suhu lingkungan. Selain itu, untuk melindungi broiler dari suhu dingin karena bulu pada broiler belum tumbuh sempurna. Perlakuan dilakukan pada hari ke-15. Kandang suhu netral sekitar 23 ºC mulai dinyalakan AC (Air Conditioner) dan kandang suhu panas sekitar 30 ºC mulai dinyalakan pemanas ruangan (heater room). Lampu dengan warna cahaya putih dan cahaya merah dipasangkan pada masing-masing lokasi kandang sesuai perlakuan.

(31)

Ketinggian lampu penerangan disesuaikan dengan kebutuhan panas ayam broiler dan pengggunaanya dilakukan selama 24 jam.

Penimbangan ayam dilakukan setiap minggu. Pemberian pakan, sisa pakan, pemberian air minum dan sisa air minum ditimbang setiap hari. penggantian sekam diganti setiap minggu. Mortalitas dicek setiap hari dan jika ada broiler yang mati dibawa ke laboratorium Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Peubah yang diamati meliputi konsumsi pakan, bobot badan, konversi pakan, pertambahan bobot badan, konsumsi air minum dan mortalitas.

(32)

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Lingkungan Mikro Kandang

Lingkungan mikro kandang meliputi suhu udara dan kelembaban udara dalam kandang. Pengendalian kelembaban, temperatur, intensitas cahaya, dan bau serta pengaturan jarak antara satu ternak dengan ternak lainnya penting untuk dilakukan demi kenyamanan dan produktivitas hewan ternak (Wikipedia, 2010). Prinsip metode modifikasi lingkungan mikro adalah menciptakan keadaan lingkungan di dalam kandang sama dengan keadaan yang ideal untuk produksi, tanpa tergantung pada keadaan lingkungan luar. Di daerah panas diperlukan alat pendingin seperti air conditioner dan kipas angin. Beberapa cara yang dapat ditempuh untuk modifikasi iklim mikro, yaitu: (1) mengatur kontruksi kandang, tinggi kandang tidak kurang dari 3 m dan lebar kandang tidak kurang dari 4 m, menggunakan atap yang bersifat insulation, (2) menanam pohon-pohon peneduh di sekeliling kandang (Gunawan dan Sihombing, 2004).

Kandang Penelitian

Kandang yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe kandang tertutup (closed house) yang dibedakan menjadi dua lokasi, yaitu kandang pada suhu sekitar 23 ºC dan kandang pada suhu sekitar 30 ºC. Kandang pada suhu sekitar 23 ºC dilengkapi dengan peralatan seperti AC (air conditioner), termometer dan exhaust fan. Kandang suhu sekitar 30 ºC dilengkapi dengan pemanas ruangan (heater room), termometer dan exhaust fan. Cara kerja exhaust fan yang digunakan di dalam kandang adalah udara akan mengalir dari dalam kandang menuju ke luar. Temperatur ini dapat dicapai pada kondisi kandang terkontrol seperti tipe kandang tertutup (Bell dan Weaver, 2002). Masing-masing kandang dibagi dalam empat buah sekat dengan ukuran 1,15 m x 1,15 m x 60 cm. Masing-masing sekat berisi 10 ekor broiler dan dipasang 1 buah lampu pijar berkekuatan 60 watt dengan warna cahaya merah dan warna cahaya putih sesuai perlakuan. Alas yang digunakan adalah litter berbahan sekam padi. Olanrewaju et al. (2006) menyatakan bahwa dengan menggunakan kandang tertutup maka dapat diatur suhu dan sistem program pencahayaan, seperti intensitas cahaya, lama pencahayaan dan panjang gelombang yang berakibat pada pertumbuhan.

(33)

Suhu dan Kelembaban Udara Relatif Kandang

Suhu dan kelembaban udara merupakan unsur lingkungan yang berpengaruh terhadap performa broiler. Pengukuran suhu dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07.00, siang hari sekitar pukul 12.00 dan sore hari sekitar pukul 17.00 dengan menggunakan termometer yang diletakkan pada masing-masing kandang. Hasil pengukuran rataan suhu kandang sekitar 23 ºC selama penelitian pada minggu ke-3, ke-4 dan ke-5 masing-masing 23,6 ºC; 23,5 ºC dan 23,5 ºC. Estimasi rataan kelembaban udara masing-masing 77,8%; 76,9% dan 76,5%. Rataan suhu kandang sekitar 30 ºC pada minggu ke-3, ke-4 dan ke-5 masing-masing 30,4 ºC; 30,6 ºC dan 30,7 ºC dengan estimasi rataan kelembaban udara 71,1%; 66,7% dan 72,6%. Ayam cenderung lebih baik berada pada suhu lingkungan yang relatif stabil dan akan lebih stres pada suhu yang berfluktuasi. Ketika terjadi fluktuasi suhu, ayam membutuhkan banyak energi untuk menjaga supaya suhu tubuhnya relatif konstan (Canadian Poultry Consultants, 2008). Menurut Nugroho (2010) suhu udara rata-rata tertinggi di Bogor setiap bulannya berkisar antara 33 ºC dan suhu rata-rata terendah adalah 21,8 ºC dengan kelembaban udaranya kurang lebih 70%.

Konsumsi Pakan

Hasil analisis statistik yang ditunjukkan pada Tabel 7, tidak ada interaksi (P>0,05) antara suhu dan warna cahaya terhadap konsumsi pakan broiler pada minggu ke-3 dan ke-4, sedangkan pada minggu ke-5 terdapat interaksi yang nyata (P<0,05). Konsumsi pakan pada suhu sekitar 23 ºC dengan warna cahaya putih dan merah adalah sama dan konsumsi pakan terendah terdapat pada suhu sekitar 30 ºC dengan warna cahaya merah. Konsumsi pakan menurun ketika suhu lingkungan di atas suhu normal (18-23 ºC) (Yahav et al,. 1996; Ain Baziz et al., 2006).

Menurunnya konsumsi ransum pada suhu lingkungan tinggi, merupakan salah satu usaha ayam dalam mengurangi penimbunan panas dalam tubuh, dengan memperbanyak minum yang akan berdampak pada berkurangnya konsumsi pakan.

Suhu lingkungan yang masuk ke tubuh akan sampai ke hipotalamus melalui reseptor kulit maupun pembuluh darah. Suhu lingkungan yang tinggi akan menstimulasi pusat haus dan sekresi hormon kortikosteroid, sementara pusat lapar dan sekresi thyroid stimulating hormon (TSH) yang berperan dalam sekresi hormon thyroid dihambat (Gunawan dan Sihombing, 2004). Hal ini berakibat menurunnya konsumsi pakan

(34)

sehingga terjadi penurunan metabolisme dan produksi menurun. Menurunnya konsumsi pakan juga diakibatkan karena intensitas cahaya merah yang lebih rendah daripada cahaya putih, sehingga konsumsi pakan broiler pada cahaya merah lebih rendah. Olanrewaju et al. (2006) menyatakan bahwa intensitas cahaya yang lebih tinggi dapat meningkatkan aktivitas makan. Hasil penelitian Al Homidan et al.

(1997) menunjukkan bahwa konsumsi pakan lebih banyak dengan intensitas cahaya yang tinggi. Pengaruh suhu dan warna cahaya yang terjadi pada minggu ke-5 karena akumulasi dari minggu sebelumnya yang berakibat pada penurunan produksi. Rataan konsumsi pakan broiler selama tiga minggu pemeliharaan disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Rataan Konsumsi Pakan Broiler selama Tiga Minggu Pemeliharaan (gram/ekor/hari)

Suhu Warna Cahaya

Putih Merah

Minggu ke 3 23 ºC 91,71 ± 4,98 88,65 ± 4,45

30 ºC 95,28 ± 18,34 88,84 ± 3,49

Minggu ke 4

23 ºC 122,78 ± 4,13 120,28 ± 5,04

30 ºC 126,42 ± 6,28 116,36 ± 5,49

Rataan 124,60 ± 5,29a 118,32 ± 5,31b

Minggu ke 5 23 ºC 144,39 ± 2,99ap 141,05 ± 1,71ap 30 ºC 138,10 ± 2,05aq 125,83 ± 5,73bq

Keterangan : Huruf superskrip yang berbeda pada baris dan kolom yang sama menunjukan perbedaan nyata (P<0,05)

Faktor suhu tidak berpengaruh terhadap konsumsi pakan pada minggu ke-3 dan ke-4, hal ini mungkin karena perbedaan suhu kandang yang tidak terlalu ekstrim.

Hasil yang sama dengan penelitian Akyuz (2009) yang menunjukan bahwa pada musim panas konsumsi pakan hampir sama dengan musim dingin. Hal ini berbeda dengan beberapa hasil penelitian yang menunjukan bahwa suhu yang lebih tinggi dapat mengurangi konsumsi pakan (Dieyeh, 2006; Al-Batshan 2002; Kusnadi 2006).

Selain faktor suhu, kandungan energi pakan mempengaruhi jumlah pakan yang yang dikonsumsi, ayam akan mengurangi konsumsinya jika kandungan energi pakan tinggi dan menaikan konsumsinya jika energi pakan berkurang (Amrullah, 2004).

(35)

Faktor warna cahaya berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsumsi pakan minggu ke-4. Konsumsi pakan yang dipelihara dalam kandang dengan warna cahaya putih lebih tinggi 5,31% daripada konsumsi pakan yang dipelihara dalam kandang dengan warna cahaya merah, hal ini disebabkan intensitas cahaya putih lebih tinggi daripada intensitas cahaya merah. Cahaya dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan aktivitas makan, sementara intensitas yang lebih rendah memberikan pengaruh terhadap pengontrolan agresivitas dalam tingkah laku. Lama pencahayaan yang pendek pada awal-awal tahap pemeliharaan dapat mengurangi asupan pakan dan menekan tingkat pertumbuhan, hal ini disebabkan oleh periode penggelapan yang lebih lama akan membatasi akses terhadap konsumsi pakan (Olanrewaju et al., 2006). Rahimi et al. (2005) menyatakan bahwa konsumsi pakan pada pemberian cahaya yang terus menerus ataupun tidak, menunjukkan hasil yang sama dalam setiap percobaan. Beberapa percobaan lain menunjukkan pemberian cahaya yang terus-menerus mengakibatkan broiler kurang beraktivitas untuk makan. Konsumsi pakan broiler meningkat dengan pemberian cahaya terputus yang terjadi setelah awal periode pencahayaan. Pemberian cahaya terputus dapat dilakukan untuk menyelaraskan aktivitas makan dengan laju pengosongan saluran pencernaan, sehingga pakan yang dikonsumsi dapat dicerna ayam secara sempurna pada saat lampu dimatikan (Ohtani dan Lesson, 2000). Standar total konsumsi pakan broiler strain Ross yang dikeluarkan oleh PT Cibadak Indah Sari Farm menunjukkan konsumsi pakan yang lebih besar dibandingkan dengan hasil penelitian. Hal ini disebabkan karena adanya perlakuan suhu ruangan, sehingga konsumsi pakan lebih kecil.

Bobot Badan

Hasil analisis statistik yang ditunjukkan pada Tabel 8, tidak ada interaksi antara suhu dan warna cahaya terhadap bobot badan broiler pada minggu ke-3, ke-4 dan ke-5. Faktor suhu berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap bobot badan broiler pada minggu ke-3, ke-4 dan ke-5. Bobot badan broiler minggu ke-3, ke-4 dan ke-5 yang dipelihara pada suhu sekitar 23 ºC lebih tinggi 5,8%; 7,9% dan 10,9%

daripada bobot badan broiler pada suhu sekitar 30 ºC. Hal ini disebabkan karena pada suhu sekitar 30 ºC broiler mengalami cekaman yang akan menurunkan konsumsi pakan, sehingga menurunkan bobot badan broiler. Namun, konsumsi

(36)

pakan pada minggu ke-3 dan ke-4 adalah sama, sehingga bobot badan yang tinggi pada suhu sekitar 23 ºC mungkin disebabkan kemampuan broiler yang dipelihara pada suhu sekitar 23 ºC lebih efisien dalam mengubah pakan menjadi daging.

Amrullah (2004) menyatakan bahwa konversi pakan lebih baik pada suhu optimum, sehingga akan meningkatkan bobot badan. Rataan bobot badan broiler selama tiga minggu pemeliharaan disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8. Rataan Bobot Badan Broiler selama Tiga Minggu Pemeliharaan (gram/ekor/hari)

Suhu Warna Cahaya

Rataan

Putih Merah

Minggu ke 3

23 ºC 940,36 ± 10,76 921,00 ± 30,60 930,66 ±23,64A 30 ºC 864,90 ± 32,40 894,40 ± 41,90 879,70 ±38,10B Minggu

ke 4

23 ºC 1399,30 ± 75,10 1389,00 ± 21,30 1394,10±51,40A 30 ºC 1315,30 ± 35,90 1269,40 ± 93,20 1292,40±69,90B Minggu

ke 5

23 ºC 1963,30 ± 57,70 1920,70 ± 42,90 1942,00±52,30A 30 ºC 1797,30 ± 44,60 1702,90 ± 74,60 1750,10 ±76,10B Rataan 1880,30 ± 100,70a 1811,80 ±129,30b

Keterangan : huruf besar superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukan perbedaan sangat nyata (P<0,01)

huruf kecil superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukan perbedaan nyata (P<0,05)

Bell dan Weaver (2002) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi bobot badan antara lain pakan, genetik, jenis kelamin, suhu dan tatalaksana. Suhu optimum untuk pertumbuhan broiler dalam selang umur 3-7 minggu yaitu 18-23 ºC. Temperatur yang tinggi dapat menimbulkan stres dan mengakibatkan adaptasi perilaku, fisiologik dan biokimiawi pada tubuh ayam.

Sebaliknya, ketika suhu rendah broiler akan meningkatkan suhu tubuhnya dengan meningkatkan aktivitas dan konsumsi pakan, sehingga bobot badannya meningkat.

Hasil penelitian menunjukan bobot badan broiler yang dipelihara pada suhu yang lebih tinggi berkisar antara 25-30 ºC bobot badannya lebih kecil dibandingkan pada suhu optimum broiler (Dieyeh, 2006; Teeter dan Belay, 1996).

Suhu yang tinggi akan menyebabkan penurunan bobot badan karena ayam akan berusaha untuk mengurangi produksi panas di dalam tubuh sehingga akan

(37)

mengurangi konsumsi pakan, seperti pernyataan Lin et al. (2004) bahwa kenaikan suhu akan menyebabkan rendahnya bobot badan. Akibatnya pakan yang dikonsumsi tidak bisa tercerna dengan baik dan banyak yang dibuang dalam bentuk feses (Bell dan Weaver, 2002). Stres panas dapat menekan bobot badan dan secara umum menjadi penyebab penurunan produksi. Kondisi panas yang terus-menerus menurunkan daya cerna protein dan menurunnya daya cerna pakan akibat suhu lingkungan yang tinggi (Bonett et al., 1997). Ketika suhu diatas suhu optimum, ayam mulai menggunakan energi lebih banyak sebagai usaha supaya tetap nyaman. Ayam mulai memelarkan pembuluh darah arteri untuk mengalirkan darah lebih banyak ke jengger, gelambir, kaki dan lainnya dalam usaha untuk meningkatkan kapasitas pendinginan. Salah satunya ditandai dengan panting dan sayap turun begitu suhu mulai meningkat, sehingga luas permukaan tubuh meningkat dan udara mudah mengalir bebas menyentuh kulit dan menyerap lalu membuang panas (Amrullah, 2004). Bobot badan broiler yang dipelihara pada suhu sekitar 23 ºC lebih besar dibandingkan standar bobot badan broiler strain Ross yang dikeluarkan oleh PT Cibadak Indah Sari Farm (2005). Akan tetapi, jika dibandingkan dengan hasil penelitian yang dipelihara pada suhu sekitar 30 ºC bobot badan broiler lebih kecil, hal ini disebabkan adanya perlakuan suhu ruangan yang lebih tinggi sehingga ayam mengalami cekaman panas.

Faktor warna cahaya berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot badan broiler pada minggu ke-5. Bobot badan broiler dalam kandang dengan warna cahaya putih lebih tinggi 3,82% daripada warna cahaya merah. Lewis dan Morris (2006) menyatakan bahwa warna cahaya mempengaruhi performa broiler yang ditentukan oleh panjang gelombang, intensitas dan lama pencahayaan. Warna cahaya dengan berbagai panjang gelombang akan mengakibatkan efek terhadap retina mata ayam, sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ayam. Cahaya merah mempunyai panjang gelombang yang lebih panjang (630–780 nm), sehingga intensitas cahayanya lebih kecil, sedangkan warna cahaya dengan panjang gelombang yang lebih pendek berperan dalam pertumbuhan. Hasil penelitian Saputro (2007) menunjukkan dari keempat warna cahaya lampu yang mendekati intensitas cahaya yang optimal untuk pertumbuhan ayam adalah penggunaan warna cahaya hijau dengan rataan intensitas sebesar 6,03 lux, sedangkan bobot badan akhir broiler

(38)

dengan penggunaan warna cahaya merah lebih kecil. Hal ini disebabkan aktivitas broiler pada warna cahaya merah lebih besar sehingga energi yang diperoleh dari pakan tidak hanya untuk pembentukan daging, melainkan untuk aktivitas lain di dalam kandang seperti berdiri, berjalan dan mengepakan sayap.

Peningkatan bobot badan broiler terjadi ketika intensitas cahaya sekitar 5 lux dan broiler pada umur 0-7 hari memerlukan cahaya dengan intensitas 20 lux (Olanrewaju et al., 2006). Buyse et al. (1996) menyatakan bahwa intensitas cahaya yang rendah akan menurunkan aktivitas ayam untuk berdiri dan berjalan, sehingga akan menurunkan terjadinya saling tabrakan antara ayam, menurunkan aktivitas mengepakan sayap dan menurunkan kanibalisme, akibatnya efisiensi pakan akan tercapai. Knisley (1990) menyatakan bahwa untuk menguraikan warna cahaya dalam pemilihan penerangan unggas dilihat dari kromatisitas, nilai kromatisitas dinyatakan dalam derajat Kelvin dengan skala 2000–7000 ºK. Nilai kromatisitas cahaya merah lebih rendah sekitar 3000 ºK dan dipertimbangkan hangat. Besarnya nilai kromatisitas berbanding terbalik dengan semakin panjangnya gelombang yang dimiliki warna cahaya.

Pertambahan Bobot Badan

Hasil analisis statistik yang ditunjukkan pada Tabel 9, tidak ada interaksi antara suhu dan warna cahaya berbeda yang mempengaruhi pertambahan bobot badan broiler pada minggu ke-3, ke-4 dan ke-5. Faktor suhu berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pertambahan bobot badan broiler minggu ke-5.

Pertambahan bobot badan broiler dalam kandang pada suhu sekitar 23 ºC lebih tinggi sebesar 19,6 % daripada suhu sekitar 30 ºC. Broiler akan mengalami cekaman panas pada suhu sekitar 30 ºC sehingga konsumsinya menurun, hal ini mengakibatkan bobot badan menurun sehingga pertambahan bobot badannya lebih kecil dibandingkan bobot badan pada suhu sekitar 23 ºC (Bell dan Weaver, 2002).

May dan Lott, (2000) menyatakan bahwa bobot hidup broiler jantan umur 7 minggu pada suhu 18 ºC lebih tinggi dibandingkan pada suhu 30 ºC dan ketika suhu lingkungan antara 22-32 ºC terjadi penurunan pertambahan bobot hidup sebesar 46%. Pertambahan bobot badan broiler umur 4 s/d 6 minggu yang dipelihara pada suhu lingkungan 32 ºC sebesar 515 gram/ekor sedangkan pada suhu 22 ºC pertambahan bobot badan broiler sebesar 1084 gram/ekor (Bonnet et al., 1997).

(39)

Turunnya produksi pada kondisi cekaman panas tersebut, diperkuat dengan berkurangnya retensi nitrogen, sehingga dapat menurunkan daya cerna protein dan beberapa asam amino dan peningkatan pengeluaran beberapa mineral pada urin serta menurunnya bakteri yang berguna dalam saluran pencernaan (Zupprizal et al., 1993;

Tabiri et al., 2000). Hasil rataan pertambahan bobot badan broiler selama pemeliharaan menunjukkan pertambahan bobot badan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan standar bobot badan broiler strain Ross yang dikeluarkan oleh PT Cibadak Indah Sari Farm (2005). Hal ini disebabkan karena adanya perlakuan suhu yang berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan broiler. Rataan pertambahan bobot badan broiler selama tiga minggu pemeliharaan disajikan pada Tabel 9.

Tabel 9. Rataan Pertambahan Bobot Badan Broiler selama Tiga Minggu Pemeliharaan (gram/ekor/hari)

Warna Cahaya

Rataan

Suhu Putih Merah

Minggu ke-3 23 ºC 70,439 ± 0,74 68,51 ± 5,38 30 ºC 63,85 ± 5,38 66,33 ± 4,11 Minggu ke-4 23 ºC 65,56 ± 9,99 66,86 ± 3,75

30 ºC 64,34 ± 8,38 53,58 ± 8,09

Minggu ke-5 23 ºC 80,58 ± 8,10 75,95 ± 5,37 78,26 ± 6,83A 30 ºC 68,85 ± 1,96 61,92 ± 9,61 65,39 ± 7,41B

Keterangan : huruf superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukan perbedaan sangat nyata (P<0,01).

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa faktor warna cahaya tidak berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan broiler. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Saputro (2007) yang menunjukkan bahwa pertambahan bobot badan broiler yang mendapat warna cahaya hijau lebih besar daripada warna cahaya merah dan broiler yang mendapat warna cahaya merah dapat menurunkan pertambahan bobot badan pada minggu ketiga. Warna cahaya hijau mempunyai gelombang cahaya pendek sehingga memberi suasana tenang untuk pembentukan daging, sehingga pertambahan bobot badan lebih baik (Rozenboim, 1999). Renden et al. (1996) menyatakan bahwa pada minggu pertama broiler memerlukan cahaya dengan

Gambar

Tabel 1. Total Konsumsi Pakan Broiler Strain Ross
Tabel 3. Konversi Pakan Broiler Strain Ross selama Lima Minggu
Tabel 5. Rekomendasi Program Pencahayaan untuk Broiler
Tabel 6. Komposisi Zat Makanan Broiler  Zat makanan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Menurut responden di Desa Waioti dan di Desa Langir pada tahun 2010 ada tiga kali penyuluhan mengenai rencana perluasan Bandara Frans Seda, ganti rugi hak milik atas

Agama” dalam Hunafa: Jurnal Studia Islamika, Vol.. orang yang enggan bertanggung jawab terhadap apa yang telah ia lakukan, pada hal perbuatan tersebut telah terjadi pada dirinya

Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana telah diubah dengan

Penerapan manajemen risiko telah sesuai peraturan dan ketentuan yang berlaku, dengan memperhatikan pilar-pilar pengawasan, antara lain dalam pengawasan aktif Dewan Komisaris

Analisis portofolio saham adalah analisis yang dilakukan dengan mendiversifikasikan atau mengkombinasikan saham-saham selektif dalam investasi untuk memperoleh keuntungan yang

〔商法三四四〕 株式会社の取締役辞任後も商法二五八条一項に基づ き取締役としての権利義務を有する者の対第三者責任

didapatkan pasien menikah 2 kal sien menikah 2 kali, suami pertama pasien i, suami pertama pasien beker bekerja di ka-e di bali dan ja di ka-e di bali dan cerai karena ditinggal

Untuk menghindari subjektivitas terhadap analisis kesalahan yang dilakukan, penulis melibatkan seorang pakar di bidangnya untuk melakukan pengecekan, dan (4)