Perkembangan Produksi dan Konsumsi Beras di Indonesia
Produksi beras pada prinsipnya dipengaruhi oleh luas panen / tanam dan produktivitas. Menurut Amrullah (2003) produksi beras juga dipengaruhi oleh kondisi iklim, hama penyakit, ketersediaan tenaga kerja, konversi lahan dan penurunan rendemen (konversi padi ke beras). Sapuan (1999) dan Suryana et al.
(1997) menjelaskan bahwa selama periode akhir tahun 1960-an hingga pertengahan tahun 1980-an Indonesia telah berhasil meningkatkan produksi beras yang terbukti dengan dicapainya swasembada beras pada tahun 1984.
Produksi padi dalam negeri didominasi oleh produksi di pulau Jawa, dimana daerah sentra produksi padi dan berperan sebagai penyangga produksi beras nasional. Hal ini didukung oleh pendapat Surono (2001) yang menyebutkan bahwa 56 % produksi padi berada di pulau Jawa, 22 % di pulau Sumatera, 10 % di pulau Sulawesi dan 5 % di pulau Kalimantan. Menurut Amang (1994) dilihat dari sisi produksi, persediaan beras dalam negeri tidak berlangsung sepanjang tahun. Produksi beras sebesar 60% terjadi pada bulan Januari – April, 30% terjadi pada bulan Mei - Agustus, dan 10% pada bulan September – Desember.
Produksi beras mengalami peningkatan karena luas panen dan produktivitas meningkat setiap tahun (Gambar 3). Namun pada tahun 2001 produksi beras menurun karena terjadi penurunan luas panen/ tanam dan produktivitas. Sejak tahun 2006 produksi beras nasional terus meningkat karena tiga faktor, yakni program bagi-bagi benih unggul dan pupuk gratis, dorongan daya tarik harga beras yang membaik, serta introduksi benih padi hibrida¹.
1
20
Gambar 3 Perkembangan produksi beras di Indonesia 2000-2012
Sumber : diolah dari BULOG (2013)
Konsumsi beras nasional cenderung meningkat, hal ini didorong dengan pertumbuhan penduduk Indonesia yang meningkat dengan laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1.49% atau 3.5 juta jiwa tiap tahunnya (BPS 2012). Selain itu, pola konsumsi beras di masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh kemakmuran masyarakat. Jika sebuah keluarga memiliki pendapatan rendah maka mereka akan mengkonsumsi apa saja (selain beras). Namun jika pendapatannya meningkat, maka konsumsi terhadap beras meningkat. Jika pendapatannya lebih meningkat dan bisa dikategorikan keluarga menengah ke atas maka pola konsumsi semakin beragam. Situasi ini bisa diartikan bahwa pola konsumsi terhadap beras masih bisa menurun.
Timmer (1983) dan Harianto (2001) mengemukakan bahwa pola konsumsi memiliki kaitan erat dengan tingkat pendapatan yang dijelaskan dalam Engel`s Law dan Bennett`s Law. Engel`s Law menyatakan bahwa proporsi anggaran rumah tangga yang dialokasikan untuk membeli pangan akan semakin kecil pada saat tingkat pendapatan meningkat. Bennett`s Law mengatakan bahwa persentase kalori makanan pokok (starchy staple ratio) akan menurun pada saat pendapatan rumah tangga semakin naik. Adapun faktor lain yang mempengaruhi pola konsumsi masyarakat Indonesia yakni faktor ekonomi seperti pendapatan, selera dan harga dan faktor non – ekonomi seperti sosial – budaya yakni prestise, bahwa mengkonsumsi jagung atau umbi-umbian sebagai pengganti beras, identik dengan kemiskinan (tidak mampu membeli beras). Penurunan tingkat konsumsi beras bisa dilakukan jika pola diversifikasi pangan masyarakat sudah terbentuk.
Perkembangan Produksi dan Konsumsi Beras di Jepang
Produksi beras di Jepang mengalami penurunan tiap tahunnya (Gambar 4). Sejak tahun 2000 produksi beras Jepang rendah yakni 9 juta ton per tahun, yang
20000 25000 30000 35000 40000 Tahun
sebagian besar adalah untuk konsumsi domestik (MAFF 2000; MAFF 2011). Hal tersebut dipengaruhi oleh konsumsi per kapita terhadap beras di Jepang menurun. Konsumsi per kapita beras di Jepang menurun dipengaruhi oleh “aging population”
(persentase penduduk yang tidak produktif lebih besar dibandingkan persentase penduduk yang produktif). Meskipun konsumsi menurun, surplus beras menjadi masalah jangka panjang. Pemerintah berupaya untuk mengurangi surplus ini dengan mendorong petani untuk mengalihkan pemanfaatan lahan untuk ditanami tanaman selain padi.
Bagi Pemerintah Jepang, optimalisasi pendapatan petani merupakan bagian penting karena biaya produksi beras yang cukup tinggi yaitu sekitar Rp 28 500 per kg dibandingkan dengan harga beras di tingkat petani sebesar Rp 25 000 per kg, apalagi bila dibandingkan dengan harga beras di pasar internasional. Untuk mengoptimalkan pendapatan petani, pemerintah memberikan insentif melalui Income Support Direct Payment Program sekitar Rp 18 750 000 per hektar. Pemerintah berupaya mempertahankan harga tetap tinggi untuk memperkecil perbedaan harga dan biaya produksi melalui pemberian insentif kepada petani yang bersedia mengalihkan sebagian arealnya ke komoditi lain untuk menghindari kelebihan produksi dan mengantisipasi konsumsi yang makin menurun karena meningkatnya substitusi ke olahan gandum.
Gambar 4 Perkembangan produksi beras di Jepang 1995-2012
Sumber : diolah dari MAFF (2012)
Beras sangat penting dalam masyarakat Jepang dimana beras disebut juga esensi dari budaya. Keunggulan dari beras bagi masyarakat sebagai bahan pokok diet. Beras dalam bahasa Jepang adalah "gohan" yang artinya "nasi" serta "makan". Hal ini juga berlaku dalam budaya Asia lainnya di mana beras adalah
7000 7500 8000 8500 9000 9500 10000 10500 11000 Tahun
22
makanan pokok utama. Bagi sebagian besar orang Jepang hampir tidak mungkin untuk tidak memikirkan makan tanpa nasi. Secara historis, beras memiliki banyak hubungan ke berbagai aspek budaya Jepang dimana beras sebagai bagian dalam upacara keagamaan bagi agama Shinto (Wotjan 1993).
Jumlah beras yang dikonsumsi per orang turun sebesar 7 persen pada 1990 (MAFF 2000). Pada tahun 1962, ketersediaan beras tertinggi dengan tingkat konsumsi 130.4 kg/kapita. Namun pada tahun 1993 berkurang menjadi 69.2 kg/kapita dan terus menurun pada tahun 2012 konsumsi beras di Jepang sebesar 64.6 kg/kapita. Data tersebut didukung dengan penelitian oleh Kako (2005) dimana ada tiga fase tren konsumsi beras di Jepang yakni fase shortage pada tahun 1945 hingga tahun 1967, fase surplus pada tahun 1968 hingga 1994 dan fase liberalisasi perdagangan sejak tahun 1995.
Kondisi Stok Beras di Indonesia
Stok merupakan selisih antara ketersediaan dan kebutuhan. Informasi ketersediaan dan kebutuhan diperlukan apakah BULOG harus melakukan impor atau tidak. Morrow (1981) seperti yang dikutip Amang (1994), persediaan beras dikategorikan menjadi tiga tujuan utama, yaitu: (1) persediaan pengadaan, yang bertujuan untuk menjaga harga dasar (floor price) pada masa-masa panen, (b) persediaan penyaluran, bertujuan untuk keperluan penyaluran guna menjaga harga batas tertinggi (ceiling price) dan (c) persediaan kelebihan antar musim, berguna untuk membantu mengurangi variasi harga beras antar musim di dalam negeri.
Falcon et al. (1985) memaparkan bahwa pada tahun 1985, BULOG mengkategorikan persediaan beras ke dalam tiga jenis, yaitu: (a) operational stock, yaitu stok untuk kebutuhan operasional BULOG yang berjumlah sebesar 1.5 juta ton, (b) iron stock, yaitu stok yang harus tersedia sebesar 1 juta ton untuk mengantisipasi jika terjadi kegagalan panen, dan (c) surplus stock, merupakan kelebihan stok setelah dikurangi untuk kebutuhan operational stock dan iron stock.
Gambar 5 Perkembangan stok beras di Indonesia 2005-2012
Sumber : diolah dari BULOG (2013) 0 500000 1000000 1500000 2000000 2500000 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Ton Tahun
Jumlah stok yang dikelola oleh Perum BULOG pada akhir tahun umumnya rata-rata di atas 1 juta ton setara beras, tetapi pada tahun 2006, 2010, dan 2011 stok akhir yang dikuasai oleh Perum BULOG sangat rendah yaitu dibawah 1 juta ton setara beras. Rendahnya stok dipengaruhi oleh pengadaan yang rendah pada tahun tersebut. Sejak tahun 2012 kondisi stok beras nasional mengalami peningkatan yang signifikan (Gambar 5). Kondisi ini dipengaruhi dengan peningkatan produksi beras dan penyerapan secara maksimal untuk pengadaan dalam negeri. Namun mengapa impor tetap saja dilakukan menjadi sebuah pertanyaan besar. Stok beras yang seharusnya dapat mencukupi kebutuhan dalam negeri tidak dikelola dengan baik karena manajemen atau tata kelola perberasan belum berjalan secara maksimal.
Gambar 6 Mekanisme stok beras di Indonesia
Sumber : diolah dari Kementerian Pertanian (2011) dan BULOG (2012)
Stok dilakukan untuk kebutuhan RT dan motif
jaga-jaga Stok hanya motif memperoleh keuntungan.
Hanya 30% tengkulak yang melakukan stok Mekanisme Stok Beras di
Indonesia Petani Tengkulak RMU Grosir Ritel Jumlah Produksi Harga Jual Gabah Jumlah Anggota
Keluarga
Kapasitas Gudang Cadangan yang dimiliki Jumlah Pesaing
Luas Gudang Volume Penjualan
Konsumen (Organisasi & Individu)
Keterangan :
: Faktor yang mempengaruhi : Tujuan melakukan stok : Simpul tataniaga beras
24
Informasi stok di tiap daerah belum tersedia, informasi stok beras pemerintah lebih mudah diperoleh karena BULOG memiliki data stok sebagai upaya dalam memutuskan perlu tidaknya impor jika terjadi shortage. Stok akhir tahun berkisar pada satu juta ton beras, namun pada tahun 2012 terjadi peningkatan sebesar 2 260 000 ton beras (BULOG 2012). Hal ini didukung dengan terjadinya peningkatan produksi dan total pengadaan beras. Jika stok akhir tahun beras mengalami peningkatan dapat mengurangi jumlah impor beras. Jumlah stok harus mampu mencukupi kebutuhan rutin dan cadangan. Stok beras nasional harus tersedia di semua wilayah serta tersedia setiap waktu.
Persediaan beras antar daerah sangat dipengaruhi dengan kemampuan produksi antarwilayah yang tidak sama. Produksi beras terbesar berasal dari Pulau Jawa yakni sebesar 52.23%. diikuti oleh produksi beras di Pulau Sumatera sebesar 23.94%, produksi dari Sulawesi 11.12%, Kalimantan 6.97%, Bali dan Nusa Tenggara sebesar 5.31% dan dari Maluku dan Papua sebesar 0.44% (Kementan 2011). Data tersebut menunjukkan bahwa persediaan antar daerah tidak merata dipengaruhi oleh produksi.
Tujuan melakukan stok di tiap tingkatnya berbeda-beda (Gambar 6). Di tingkat petani, stok dilakukan dengan motif untuk berjaga-jaga dan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga. Jumlah stok yang disimpan berkisar 20% dari hasil produksi yang dihasilkan. Berbeda dengan di tingkatan tengkulak dimana stok dilakukan untuk mencari keuntungan. Hanya sekitar 30% tengkulak yang melakukan stok, sisanya tidak. Hal ini disebabkan karena di tingkat tengkulak produk yang dihasilkan berupa gabah kering panen (GKP) dimana tidak ada proses pengolahan, sehingga aliran produksi cepat. Di tingkat penggilingan padi (RMU /Rice Milling Unit) sekitar 70% melakukan stok gabah kering giling (GKG). Sementara di tingkat pedagang grosir, sekitar 45% melakukan stok dalam bentuk beras. Di tingkat ritel pun stok dilakukan dalam bentuk beras.
Gambar 7 Alur manajemen stok BULOG
Sumber : BULOG (2012)
Pengadaan Dalam Negeri Petani Persediaan / Penyimpanan Perawatan Stok Distribusi Pasar Pemerataan Stok
Pada Gambar 7 dijelaskan alur manajemen stok beras nasional, dimana pengadaan dalam negeri dilakukan dengan menyerap hasil produksi dari petani. Setelah dilakukan penyerapan hasil produksi, beras disimpan sebagai stok yang dilakukan oleh BULOG setiap tahunnya dalam menjaga kestabilan kondisi beras nasional. Kemudian stok akan disimpan dan dilakukan pemerataan ke setiap daerah yang mengalami kekurangan. Hasil penyerapan berupa stok akan kembali didistribusikan kembali ke pasar sesuai kebutuhan.
Kondisi Stok Beras di Jepang
Ada dua alasan khusus bagi pemerintah Jepang untuk menyimpan beras. Pertama adalah sejarah Jepang yang mengalami kekurangan beras pada akhir Perang Dunia II. Saat itu banyak anak-anak tunawisma yang orang tuanya tewas dalam perang, terutama di Hiroshima dan Nagasaki provinsi di mana bom atom yang meledak. Selanjutnya, Jepang tidak memiliki cukup beras yang tersimpan di gudang pemerintah karena perang. Kekurangan stok beras yang merupakan makanan pokok utama berdampak buruk yang menyebabkan terjadinya kelaparan di Jepang. Alasan kedua untuk menyimpan beras adalah cuaca mempengaruhi volume panen. Jepang adalah sebuah negara kepulauan dan adanya topan yang melewati Jepang selama musim panen. Peristiwa cuaca tak terduga lainnya juga dapat berpengaruh negatif terhadap volume panen. Oleh karena itu, menyimpan sejumlah beras sangat diperlukan agar pemerintah dapat menjaga persediaan beras yang cukup untuk mencegah gangguan terhadap pasokan beras untuk konsumsi dalam negeri.
Stok beras di Jepang setiap tahunnya berkisar 2 juta ton (Gambar 8). Kuantitas produksi beras setara dengan jumlah permintaan beras. Stok beras Jepang terbagi menjadi dua yakni stok beras pemerintah dan stok yang disimpan di swasta. Stok yang disimpan oleh pihak swasta yang dihitung sampai dengan akhir Juni (sebelum panen pertama dilakukan). Jumlah total stok beras berkisar pada 2 juta ton. Untuk mendukung stok di pihak swasta, pemerintah wajib menyimpan stok sebesar 1 juta ton yang selalu tersedia kapan saja. Pemerintah melakukan pembelian 0.2 juta ton per tahun melalui lelang terbuka dan penjualan sebesar 0.2 juta per tahun untuk makanan ternak dan tidak untuk dikonsumsi. Oleh karena itu, Jepang memiliki persediaan beras yang cukup untuk memenuhi permintaan domestik. Pelepasan stok beras untuk konsumsi dilakukan bila terjadi kekurangan pasokan akibat gagal panen dan dilakukan sesuai hasil rapat yang komprehensif oleh Dewan Pangan, Pertanian dan Kebijakan Pedesaan. Hal-hal yang menjadi pertimbangan pokok adalah kondisi areal pertanaman, jumlah stok, kondisi pasar, trend konsumsi, trend harga beras dan harga komoditi lainnya. Stok beras yang berasal dari impor dijadikan cadangan untuk keadaan darurat di dalam negeri maupun di luar negeri atau dijadikan bahan pakan ternak (Shiraiwa 2003; MAFF 2011). Untuk menjaga kestabilan harga pasar pemerintah Jepang menyebar sisa stok ke industri pengolahan (bir, sake, tepung beras dan alkohol). Total persediaan beras mengacu pada jumlah produksi, impor, dikurangi ekspor, dan perubahan stok. Total persediaan (saldo) menunjukkan volume beras yang dapat digunakan di pasar konsumsi.
26
Gambar 8 Perkembangan stok beras di Jepang 2005-2012
Sumber : diolah dari MAFF (2007) dalam Takahashi dan Honma (2009) ; Wailes dan Chavez (2012)
Pengadaan Beras di Indonesia
Pengadaan beras terbagi menjadi dua yakni pengadaan dalam negeri dan pengadaan luar negeri. Amang dan Sawit (2001) menjelaskan bahwa pengadaan dalam negeri diperoleh dengan melakukan pembelian beras dari hasil produksi petani baik secara langsung maupun melalui mitra dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) aman dan kualitas beras yang memenuhi standar, sedangkan pengadaan luar negeri adalah dengan impor beras. Pengadaan dalam negeri mampu memperkuat pilar ketersediaan dari ketahanan pangan. Adapun fungsi pengadaan dalam negeri mampu menjamin harga dan pasar. Yang dimaksud dengan jaminan pasar adalah kemampuan menyerap surplus selama panen, sedangkan jaminan harga adalah mampu mengangkat harga di pasar produsen sepanjang panen.
BULOG bekerja sama dengan penggilingan padi swasta yang dikelompokkan ke dalam empat tipe, yaitu A, B, C dan D dalam pengadaan sebagian besar beras/gabah dalam negeri (BULOG 2006). Penggilingan padi tipe A adalah yang tertinggi (kualitas premium atau super) dan tipe D yang terendah. BULOG membeli beras berkualitas medium sehingga tidak pernah bekerja sama dengan penggilingan padi tipe A. BULOG bekerja sama dengan 4 500 – 5 000 unit penggilingan padi yang sebagian besar tipe D. Penyerapan BULOG hampir 80% dari hasil penggilingan padi tipe D.
BULOG membeli gabah/beras sebanyak 2-3 juta ton/tahun. Jumlah tersebut merupakan 6-7 % dari total produksi beras nasional. Pengadaan beras dalam negeri tidak pernah lebih dari 10 % dari total produksi beras. Namun pada tahun 2013 pengadaan beras sudah mencapai 10% dari kebutuhan terhadap beras selama setahun². Dengan karakteristik produksi gabah yang tidak sama antar waktu dan antar tempat, maka pengadaan gabah BULOG mengikuti pola produksi.
Menurut Surono (2001) pengadaan beras/ gabah pada musim panen raya (bulan Februari – Mei) sebesar 66 %, musim panen gadu (antar bulan Juni – September) 30%, dan hanya 4 % pada musim panen paceklik (bulan Oktober – Januari tahun berikutnya). Pengadaan BULOG dinaikkan dari 6-7 % menjadi 8-
1500000 2000000 2500000 3000000 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Ton
10 % terhadap total produksi beras nasional pada era swasembada / surplus produksi. Kualitas pengadaan BULOG dan kualitas cadangan beras pemerintah menurun karena tingginya penyerapan beras berkualitas medium (Sawit 2011).
Pengadaan oleh BULOG mengalami peningkatan pada periode 2008- 2009, karena sejak tahun 2008 produksi dalam negeri meningkat tajam (Tabel 3). BULOG mengoptimalkan pengadaan dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan stok melalui produksi dalam negeri yang melimpah. Hal ini merupakan strategi BULOG dalam membeli produksi dalam negeri sebagai prioritas. Ternyata hal tersebut juga mengurangi terjadi perbedaan harga beras di dalam negeri. Kebutuhan stok dalam negeri tahun 2008 sepenuhnya dapat terpenuhi dari pengadaan dalam negeri sehingga tidak ada pengadaan dari luar negeri.
Tabel 3 Realisasi pengadaan beras dalam negeri, pengadaan beras luar negeri, dan total pengadaan beras oleh BULOG tahun 2000-2012
Tahun Pengadaan DL (ton) Pengadaan LN (ton) Total Pengadaan (ton) 2000 2 174 807 531 140 2 705 947 2001 2 018 338 68 737 2 087 125 2002 2 131 608 1 000 586 3 132 194 2003 2 008 954 655 126 2 664 080 2004 2 096 609 29 350 2 125 959 2005 1 529 718 68 800 1 598 518 2006 1 434 127 291 872 1 725 999 2007 1 765 987 1 293 980 3 059 967 2008 2 934 955 0 2 934 955 2009 3 625 522 0 3 625 522 2010 1 896 252 1 848 426 3 744 678 2011 1 730 153 1 892 856 3 623 009 2012 3 645 054 674 020 4 319 074 Sumber : BULOG (2013)
Pencapaian kuantitas pengadaan dalam negeri terus berlanjut di tahun berikutnya pada tahun 2009 dengan kemampuan BULOG menyerap hingga 3 625 522 juta ton dari produksi dalam negeri. Pengadaan beras dalam negeri pada tahun 2012 lebih tinggi dibandingkan pengadaan beras selama satu tahun pada 2010 dan 2011 yang masing-masing sebanyak 1 896 252 ton dan 1 730 153 ton. Pengoptimalan pengadaan beras dalam negeri dapat membantu dalam hal pemenuhan kebutuhan terhadap beras. Untuk mencapai target pengadaan yang direncanakan, BULOG menjalin kemitraan dengan pihak swasta (penggilingan padi) dan gabungan kelompok tani (gapoktan) yang ada di setiap daerah.
2
28
Produksi petani merupakan awal/sumber pengadaan gabah dan beras dalam negeri sebagai produsen. Menurut Amang dan Sawit (2001) pengadaan dalam negeri merupakan jaminan harga serta jaminan pasar bagi petani atas hasil produksinya. Intervensi pemerintah pada pemasaran beras di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1968 dengan ditentukannya harga dasar pembelian gabah. Pemerintah memberikan jaminan atas tercapainya harga dasar tersebut dengan mengelola stok (buffer stock) melalui pengadaan gabah di tingkat petani. Hal tersebut diperkuat dengan penelitian Arifin (2013) stok perlu disimpan untuk pengendalian gejolak harga. Petani merasa aman dengan adanya Harga Pembelian Pemerintah (HPP). HPP sebagai patokan harga jual sehingga petani bisa memilih untuk menjual hasil produksi ke pasar umum atau BULOG. HPP bisa dikatakan sebagai penyemangat petani dalam berproduksi. Jika produksi padi petani meningkat maka ketersediaan terhadap beras dapat tercukupi. Berdasarkan Inpres Nomor 3 Tahun 2012 HPP untuk gabah kering panen (GKP) pada tingkat petani adalah Rp 3 300/kg. Angka ini mengalami peningkatan Rp 900/kg dari harga sebelumnya yang ditetapkan pada tahun 2009 sebesar Rp 2 400/kg (BKP 2012).
Gambar 9 Alur pengadaan beras di Indonesia
Sumber : BULOG (2010)
Kantor Pusat PERUM BULOG
DIVRE / SUBDIVRE
UPGB MITRA KERJA SATGAS
Kontrak Pengadaan
Masing – masing saluran mengirimkan gabah dan beras ke gudang yang ditunjuk sesuai dengan jumlah yang disepakati
GUDANG
Petugas pemeriksa kualitas Survei pemeriksaan kualitas&kuantitas
Gambar 9 menjelaskan bahwa dilihat dari sisi operasional, saluran penyerapan produksi petani terbagi menjadi tiga yaitu Satgas, Unit Pengolahan Gabah dan Beras (UPGB), dan Mitra Kerja. Ketiga saluran tersebut membeli gabah langsung pada petani dengan patokan HPP. Gabah yang dibeli adalah gabah dengan kualitas apa adanya (di luar kualitas yang ada dalam Inpres). Sedangkan gabah yang diterima BULOG adalah Gabah Kering Giling (GKG). GKG adalah gabah dengan kualitas kadar air maksimum 14% dan kadar hampa kotoran maksimum 3%. Kualitas ini cukup tahan disimpan dalam waktu tertentu dan siap digiling untuk menghasilkan beras standar pada saatnya. Di dalam Inpres Nomor 3 tahun 2012, harga GKG di tingkat penggiling adalah Rp 4 150/kg dan di gudang Perum BULOG Rp 4 200/kg (BULOG 2010).
Satgas yang tidak memiliki sarana pengeringan maupun pengolahan dapat bekerjasama dengan UPGB atau Mitra Kerja yang melakukan pengolahan baik untuk mendapatkan GKG maupun beras standar. Persyaratan kualitas beras yang diterima BULOG berdasarkan Inpres Nomor 3 tahun 2012 adalah beras dengan kadar air maksimal 14%, butir patah maksimum 20%, dan derajat sosoh minimal 95%. Beras dengan kualitas tersebut diterima BULOG dengan harga Rp 6 600/kg di gudang Perum BULOG.
Pengadaan Beras di Jepang
Pengadaan beras di Jepang mengalami penurunan secara umum (Tabel 4). Hal ini dipengaruhi oleh produksi dalam negeri yang dikontrol oleh pemerintah agar tidak terjadi kelebihan produksi. Pengadaan beras dalam negeri dilakukan dengan menyerap hasil produksi dari petani secara maksimal dengan harga yang ditetapkan pemerintah dan harga tersebut tidak merugikan petani. Petani di Jepang umumnya lebih memilih menjual hasil panen kepada pihak pemerintah yakni JA dibandingkan kepada pihak swasta.
Tabel 4 Pengadaan beras di Jepang tahun 1995-2006
Tahun Pengadaan DN (ton)
1995 1 650 000 1996 1 160 000 1997 1 190 000 1998 300 000 1999 570 000 2000 410 000 2001 80 000 2002 140 000 2003 20 000 2004 370 000 2005 390 000 2006 250 000
30
Distribusi Beras di Indonesia
Distribusi beras yang tepat dapat menjamin ketersediaan pangan sepanjang tahun yang merata dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Gambar 10 menjelaskan proses distribusi beras di Indonesia dilakukan dengan dua cara yaitu melalui BULOG dan mekanisme pasar. BULOG hanya menguasai sekitar 10% dari pangsa pasar beras nasional, sedangkan sisanya melalui mekanisme pasar. Untuk mencegah terjadinya kerawanan pangan, BULOG mendistribusikan beras kepada gudang-gudang (divre dan subdivre) di seluruh provinsi di Indonesia. Distribusi stok dari divre surplus ke divre defisit (Firdaus
et al. 2008).
Gambar 10 Alur distribusi stok beras nasional
Sumber: BULOG (2012)
Divre surplus antara lain divre di Jawa, Sumatera, NTB dan Sulawesi. Tujuan distribusi stok beras terbagi menjadi tiga yakni menyediakan stok yang cukup setiap waktu di setiap daerah untuk memenuhi kebutuhan, meningkatkan akses pangan secara fisik yang dekat dengan lokasi penerima manfaat dan menjaga ketahanan pangan di wilayah masing-masing dengan ketersediaan stok yang merata di setiap daerah (BULOG 2012). Gambar 11 menjelaskan bagaimana pola distribusi beras dalam negeri yakni BULOG membeli beras dari petani melalui beberapa cara yaitu melalui KUD dan pedagang rekanan / mitra BULOG dengan harga sesuai HPP yang berlaku. Namun sebagian besar beras untuk pengadaan dalam negeri dibeli BULOG dari pedagang. Seharusnya BULOG langsung membeli beras ke tingkat petani agar harga jual di tingkat petani bisa lebih tinggi. Untuk meningkatkan efisiensi, BULOG dapat memberdayakan kembali peranan KUD. KUD dalam distribusi beras sangat strategis bagi petani untuk mendapatkan harga sesuai ketentuan pemerintah, khususnya saat panen raya. Beras yang sudah terkumpul kemudian disimpan di gudang BULOG, kemudian disalurkan ke pasar melalu grosir. KUD juga harus mengikuti pergerakan harga beras di pasar agar ketika harga gabah di pasar lebih tinggi dari HPP, petani tidak