Pertumbuhan tanaman pada umur satu bulan sangat baik karena kebutuhan air dan unsur hara tercukupi. Kebutuhan air untuk tanaman tercukupi dari air hujan dengan curah hujan bulanan sedang yaitu 136 mm, tetapi pada bulan ke dua setelah tanam terjadi curah hujan yang sangat tinggi (392 mm) sehingga menyebabkan terjadinya busuk akar pada beberapa tanaman. Curah hujan pada awal pertumbuhan generatif sangat rendah yaitu antara 79-100 mm. Data curah hujan harian di lokasi sekitar penelitian dapat dilihat pada Lampiran 7 . Tanaman kekurangan air menyebabkan bunga hermaprodit tidak muncul dan berganti dengan munculnya bunga jantan, proses pembuahan terhambat, bunga dan calon buah gugur. Aiyelaagbe et al. (1986) menyatakan bahwa pertumbuhan generatif, pembungaan dan hasil pada tanaman pepaya dipengaruhi oleh ketersediaan air.
Curah hujan yang tidak stabil menyebabkan serangan hama thrip dan aphid meningkat. Serangan kutu aphid (Myzus persicae) lebih banyak menyerang tanaman tetua P1, P2, P4 dan hibrida P1 x P2. Serangan Thrips parvispinus menyebabkan keriting pada pucuk daun, calon bunga dan buah gugur. Thrips dan aphid merupakan vektor virus yang membuat daun menjadi keriting.
Beberapa penyakit yang teridentifikasi di lapang adalah busuk akar karena Fusarium ssp, Phytophthora palmivora, busuk buah biasanya disebabkan oleh antraknosa. Penyakit busuk akar mengakibatkan tanaman menjadi layu dan mati. Penyakit layu Fusarium disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum dan gejala serangan Phytophthora palmivora ditemui pada genotipe P3, hibrida P2 X P3, dimana pangkal batangnya busuk basah kecoklatan dan diikuti pembusukan akar tunggang. Antraknosa disebabkan oleh cendawan Colletotrichum sp. yang menimbulkan lingkaran kehitaman pada buah hingga akhirnya membusuk. Kondisi umum pertumbuhan dan perkembangan tanaman pepaya pada umur 5 sampai 10 bulan setelah tanam menjadi normal kembali.
Keragaan Populasi Setengah Dialel Lima Tetua Pepaya Karakter Kualitatif
Hasil karakterisasi sifat-sifat kualitatif yang berpedoman pada buku panduan UPOV 2011 dapat dilihat pada Tabel 2. Sifat kualitatif pada umumnya dikendalikan oleh satu atau dua gen dan tidak mudah dipengaruhi lingkungan (Mangoendidjojo 2003).
Tetua P3 mempunyai karakter kualitatif yang berbeda dengan empat tetua lainnya terutama pada karakter bentuk daun termasuk tipe 3, arah tangkai daun ke atas, tidak ada pewarnaan antosianin pada tangkai daun, bentuk ovarium dekat putik menyempit, warna buah muda hijau kuat, permukaan kulit kasar, bentuk rongga buah tipe satu dan aroma daging buah tidak kuat.Tetua P5 mempunyai beberapa karakter kualitatif yang berbeda apabila dibandingkan dengan empat tetua lainnya yaitu terdapat daun bendera dan bentuk buah obovate.
Karakter-karakter kualitatif pada sepuluh hibrida mirip dengan salah satu tetuanya,tetapi ada beberapa kombinasi persilangan agak berbeda dengan kedua tetuanya. Tetua P3 mewariskan karakter tidak ada pewarnaan antosianin pada
16
tangkai daun dan arah tangkai daun mendatar pada hibrida P1 x P3, P3 x P5 dan P3 x P4.
Bentuk ovarium dekat putik berukuran lebar menyebabkan letak putik dekat dengan serbuksari dan karakter ini dimiliki oleh tetua P1, P2, P4, P5 dan hibrida P1 X P4, P2 X P5, P4 X P5. Hasil penelitian Suketi 2011, menunjukkan keragaan letak benang sari terhadap kepala putik pada bunga hermaprodit pepaya kategori kecil memperlihatkan perbedaan dengan bunga hermaprodit ukuran besar. Keragaan morfologi bunga yang demikian memungkinkan terjadinya penyerbukan sendiri, sehingga diduga bunga papaya kategori buah kecil melakukan penyerbukan sendiri.
Bentuk rongga dalam buah pepaya dari genotipe-genotipe yang diuji terdiri dari tipe star shape, stellate, angular dan circular. Tetua P1, P2 dan P4 mempunyai bentuk rongga buah tipe stellate, rongga buah tetua P3 berbentuk tipe star shape dan rongga buah tetua P5 berbentuk angular. Hibrida P4 X P5 mempunyai rongga buah tipe circular. Bentuk rongga buah dari sepuluh hibrida pada umumnya mengikuti salah satu dari bentuk rongga buah tetuanya. Bentuk rongga buah yang idela yaitu berbentuk circular dan angular, karena konsumen akan lebih mudah membersihkan biji didalam buah sehingga lebih mudah mengkonsumsinya.
Bentuk rongga buah dalam satu genotipe kadang-kadang tidak seragam. Hasil penelitian Suketi (2009) menduga bentuk rongga buah dipengaruhi oleh bentuk jumlah lekukan tangkai kepala putik sehingga menyebabkan karakter bentuk rongga buah pada satu genotipe sering tidak sama. Misalnya bentuk rongga dan lekukan buah pepaya hermafrodit genotipe IPB 1 bervariasi, dari berjumlah lima sampai lebih dari lima. Gambar keragaaan bentuk rongga buah dan bentuk ovarium bunga hermaprodit dapat dilihat pada lampiran 9.
Keragaan warna daging buah pepaya dari genotipe yang diuji terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok berdaging buah oranye dan berdaging buah oranye kemerahan. Warna daging buah oranye sampai oranye kemerahan ini bisanya disukai oleh konsumen. Beberapa varietas pepaya komersial yang disukai oleh konsumen mempunyai warna daging buah oranye atau oranye kemerahan (Sobir, 2009).
Tabel 2. Karakter kualitatif dari populasi setengah dialel lima tetua pepaya. Genotipe Bentuk daun Daun bendera Pewarnaan Antosianin tangkai daun Arah tangkai daun Bentuk ovarium dekat putik Bentuk buah Warna buah mentah Permukaan kulit Warna daging buah Aroma daging Bentuk rongga buah P1 15 tidak ada sedang ke bawah lebar Obovate hijau sedang sedang merah oranye kuat stellate P2 15 tidak ada sedang ke bawah lebar Obovate hijau sedang halus merah oranye sedang stellate P3 3 tidak ada tidak ada datar lempit Obovate hijau kuat kasar Oranye lemah Star shape P4 15 tidak ada sedang ke bawah lebar Obovate hijau sedang sedang merah oranye kuat stellate P5 15 ada sedang ke atas lebar Oblong hijau sedang halus Oranye lemah angular P1 x P2 15 tidak ada sedang ke bawah sempit Obovate hijau sedang sedang merah oranye kuat stellate P1 x P3 15 tidak ada tidak ada datar sedang Obovate hijau sedang halus Oranye kuat angular P1 x P4 15 tidak ada sedang datar lebar Obovate hijau sedang sedang Oranye sedang stellate P1 x P5 15 ada sedang ke bawah medium Oblong hijau sedang halus Oranye kuat Star shape P2 x P3 15 tidak ada sedang ke bawah medium Obovate hijau kuat kasar merah oranye sedang Star shape P2 x P4 15 tidak ada sedang ke bawah medium obovate hijau kuat kasar merah oranye sedang Star shape P2 x P5 15 tidak ada sedang datar lebar Oblong hijau sedang halus Oranye sedang Star shape P3 x P4 15 tidak ada tidak ada datar sempit obovate hijau kuat sedang Oranye lemah angular P3 x P5 15 tidak ada tidak ada datar medium obovate hijau kuat sedang Oranye lemah angular P4 x P5 15 ada sedang ke atas lebar Oblong hijau sedang halus Oranye lemah circular
18
Karakter Kuantitatif
Hasil analisis ragam gabungan karakter kuantitatif pada buah dan hasil menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara genotipe yang diuji dengan periode panen (Lampiran 2). Hal ini menunjukkan bahwa keragaan genotipe-genotipe yang diuji sama pada dua periode panen, sehingga data yang dianalisa yaitu data keragaan buah rata-rata dua periode panen dan untuk keragaan komponen hasil menggunakan data gabungan dua kali pengamatan pada umur 6 dan 9 bulan setelah tanam. Hasil sidik ragam untuk semua karakter vegetatif dan generatif menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata di antara genotipe yang diuji (Lampiran 1). Pada penelitian ini rata-rata koefisien keragaman berkisar antara 2.18%-18.85%, hal ini menunjukkan keragaman data tidak terlalu besar, sehingga tingkat akurasi penelitian cukup tinggi. Koefisien keragaman pada karakter lag fase cukup tinggi yaitu mencapai 23.79%, hal ini kemungkinan disebabkan pengaruh faktor lingkungan.
Keragaan karakter vegetatif
Karakter vegetatif yang diamati yaitu tinggi tanaman, diameter batang, panjang ruas batang bagian tengah, panjang daun, lebar daun dan panjang tangkai daun dapat dilihat pada tabel 3. Hasil uji lanjut DMRT menunjukkan terdapat perbedaan tinggi tanaman pada lima tetua yaitu tetua P1, P2 dan P4 lebih tinggi jika dibandingkan dengan tetua P3 dan P5. Hibrida P4 X P5 mempunyai tinggi tanaman yang lebih rendah dibandingkan dengan hibrida lainnya dan tidak berbeda nyata dengan tetua P5. Selain itu hibrida P4 X P5 mempunyai tnggi tanaman yang lebih rendah jika dibanding tetua P1, P2, P3 dan P4.
Tinggi tanaman pepaya yang ideal yaitu berperawakan pendek. Tanaman yang terlalu tinggi tidak disukai karena petani akan mengalami kesulitan saat panen buah. Varetas pepaya Calina yang disukai konsumen dan banyak ditanam petani, mempunyai perawakan tanaman pendek (Mentan 2010 ). Hibrida P4 X P5 mempunyai tinggi tanaman lebih rendah dibandingkan pepaya Calina, sehingga hibrida ini dapat dipilih untuk calan hibrida dengan perawakan tanaman pendek.
Tanaman pepaya mempunyai tipe batang herbaceouse sehingga diperlukan diameter batang yang besar agar tanaman dapat tumbuh dengan kuat. Lima tetua yang diuji mempunyai perbedaan pada karakter diameter batang yaitu terlihat tetua P4 mempunyai rata-rata diameter batang terbesar dibanding empat tetua lainnya. Hibrida-hibrida yang menggunakan tetua P4 sebagai salah satu tetuanya mempunyai diameter batang yang lebih rendah jika dibandingkan tetua P4. Tetua P3 mempunyai panjang buku batang bagian tengah yang lebih pendek jika dibandingkan dengan tetu P1, P2 dan P4. Hibrida-hibrida yang diuji mempunyai panjang ruas batang bagian tengah yang tidak berbeda nyata dengan tetua P3 kecuali hibrida P1XP4, hibrida P2XP5 dan hibrida P3XP5.
Daun merupakan organ utama tempat berlangsungnya fotosintesis. Oleh karena itu informasi keragaman karakter daun pada tanaman pepaya perlu diketahui. Tetua P5 mempunyai panjang tangkai daun yang lebih pendek jika dibandingkan dengan tetua-tetua lainnya. Semua hibrida mempunyai panjang tangkai daun yang lebih panjang jika dibandingkan dengan tetua P5. Hibrida P1xP3 mempunyai panjang tangkai daun dan panjang daun yang lebih panjang
jika dibandingkan dengan tetua P2, P4, P5, hibrida P1 X P2, dan hibrida P4X P5. Tetua P1, P4 dan P5 mempunyai ukuran daun terlebar dibandingkan tetua lain dan hibrida-hibrida keturunannya. Hibrida P4 x P5 mempunyai lebar daun paling sempit. Apabila dibandingkan dengan keragaan morfologi tanaman pepaya Calina maka sepuluh hibrid yang diuji mempunyai panjang tangkai daun, panjang daun dewasa dan lebar daun dewasa yang lebih besar (Deptan 2010).
Tangkai daun yang panjang dapat menurunkan terjadinya saling menutupi antar daun, sehingga kemampuan daun menyerap cahaya matahari untuk fotosintesis semakin besar (Tanekaka 1994). Tangkai daun yang panjang dan daun yang lebar akan menyebabkan kanopi tajuk tanaman menjadi lebih lebar. Hal ini dapat merugikan petani dalam budidaya tanaman pepaya, karena diperlukan jarak tanam yang lebih besar, sehingga akan mengakibatkan jumlah populasi persatuan luas semakin berkurang dan dapat menurunkan produktivitas per luas lahan (Sulistyo 2006). Oleh karena itu perlu dipertimbangkan dalam penentuan ukuran tajuk tanaman dengan produktivitas lahan. Produksi per pohon yang tinggi dan jumlah populasi yang besar per satuan luas lahan akan meningkatkan produktivitas lahan.
Tabel 3. Rata-rata keragaan karakter vegetatif populasi setengah dialel lima tetua papaya pada umur 6 bulan setelah tanam
Genotipe Tinggi tanaman (cm) Diameter Batang (cm) Panjang Tangkai (cm) Panjang daun (cm) Lebar daun (cm) Panjang buku tengah (cm) P1 226.7 a 8.6 cde 89.3a-d 71.0c-f 68.6a 4.5b P2 210.3 ab 8.7cde 83.3cde 61.3f 61.0b 5.3a P3 165.9 fg 7.8de 81.4de 81.6abc 51.4cde 1.6e P4 194.6 bcd 12.7 a 80.0de 65.0ef 68.6a 3.0c P5 170.0 gh 10.2b 69.3f 63.3f 68.3a 2.3cde P1 x P2 168.2efg 8.0 de 85.7cde 68.1def 43.2fg 2.1de P1 x P3 168.4efg 9.9bc 99.1a 87.0a 55.7bc 2.2de P1 x P4 166.1fg 10.4 b 88.5bcd 77.3a-d 46.8def 2.4 cd P1 x P5 180.4c-f 9.8bc 92.7abc 76.6a-d 47.2def 2.0de P2 x P3 174.2d-g 8.7cde 92.5abc 76.8a-d 51.0cde 2.2de P2 x P4 198.6bc 9.2bcd 98.3ab 81.2abc 50.3cde 2.3cde P2 x P5 174.7d-g 9.7bc 91.9abc 74.8b-e 45.7efg 2.4cd P3 x P4 174.4d-g 9.7bc 98.3ab 86.7a 51.8cde 2.3cde P3 x P5 188.5cde 9.9bc 98.7a 84.5ab 53.6cd 2.4cd P4 x P5 138.5h 7.3e 78.5e 69.5 def 39.9g 1.9de Keterangan : Angka pada kolom yang sama dan diikuti oleh huruf yang sama tidak berpengaruh
nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf nyata 5%.
Keragaan karakter generatif
Karakter generatif yang diamati yaitu posisi tinggi bunga pertama, buku posisi bunga pertama, tinggi buah pertama, buku posisi buah pertama dan umur panen buah pertama. Nilai rata-rata karakter generatif yang diamati dapat dilihat
20
pada Tabel 4. Terdapat perbedaan yang nyata pada karakter posisi tinggi bunga pertama, buku posisi bunga pertama, tinggi buah pertama, buku posisi buah pertama dan umur panen buah pertama. Karakter buku posisi bunga dan buah pertama mencirikan karakter umur berbunga dan umur berbuah pertama. Tanaman pepaya mengalami penambahan jumlah buku setiap 3-5 hari/buku batang. Pertumbuhan jumlah buku batang varietas Sunrise solo dan Subang 6 setiap minggu bertambah 3 ruas (Chan 2009). Oleh karena itu semakin tinggi posisi bunga dan buah pertama serta jumlah buku batang posisi bunga dan buah pertama semakin banyak maka umur berbunga dan berbuah pertama semakin panjang.
Tabel 4. Rata-rata keragaan karakter generatif populasi setengah dialel lima tetua pepaya. Genotipe Tinggi bunga pertama (cm) Buku letak bunga pertama Tinggi buah pertama (cm) Buku posisi buah pertama Umur panen buah pertama (HSS) P1 102.3 a 24.2 abc 119.4 a 37.3ab 277.3 de P2 93.4 ab 25.2 ab 118.5 a 41.0 a 345.0 a P3 54.5 e 18.8 d 83.3 cde 32.7 bc 319.0 b P4 74.4 b-e 21.3 bcd 100.0 bc 40.3 a 279.6 d P5 76.1 bcd 21.5 bcd 78.7 de 36.9 ab 299.0 c P1 x P2 80.6 bcd 25.7 a 83.7 cde 35.4 ab 338.3 a P1 x P3 62.5 de 23.0 abc 79.1 de 34.9abc 307.3 bc P1 x P4 68.4 cde 21.0 cd 94.8 bcd 34.7 abc 267.6 ef P1 x P5 87.2 abc 21.3 bcd 107.6 ab 37.2 ab 261.6 fg P2 x P3 73.7 b-e 22.1 a-d 91.8 bcd 32.6 bc 311.0 b P2 x P4 82.2 bcd 22.6 a-d 107.1 ab 37.2 ab 310.6 b P2 x P5 72.3 cde 22.4 a-d 93.8 bcd 32.3 bc 263.3 fg P3 x P4 69.7 cde 21.6 bcd 82.4 de 30.1 bc 255.6 g P3 x P5 73.8 b-e 22.9 abc 82.7 de 32.0 bc 312.6 b P4 x P5 64.1 de 21.0cd 69.2e 27.7c 266.3efg
Keterangan : Angka pada kolom yang sama dan diikuti oleh huruf yang sama tidak berpengaruh nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf nyata 5%
Hasil uji lanjut DMRT memperlihatkan bahwa tetua P3 mempunyai tinggi bunga pertama yang tidak berbeda nyata dengan P4, tetapi lebih rendah dibandingkan P1, P2 dan P5. Hibrida-hibrida yang diuji mempunyai tinggi bunga pertama yang tidak berbeda nyata denga P3 kecuali hibrida P1XP2, hibrida P1XP5 dan hibrida P2XP4. Selain itu tetua P3 mempunyai buku posisi bunga pertama yang lebih rendah dibandingkan P1, P2. Hibrida-hibrida yang diuji juga mempunyai buku posisi bunga pertama yang tidak berbeda nyata dengan P3 kecuali hibrida P1XP2, hibrida P1XP3 dan hibrida P3XP5.
Hibrida P4 X P5 mempunyai posisi tinggi dan buku bunga pertama serta posisi tinggi buah dan buku buah pertama yang lebih rendah jika dibandingkan dengan tetua P1, P2, P4, dan hibrida P1X P5. Hibrida P3 X P4 mempunyai umur panen buah pertama yang lebih pendek jika dibandingkan dengan tetua P1, P2,
P3, P4, P5, hibrida P1XP2, hibrida P1XP3, hibrida P1XP4, hibrida P2XP3, hibrida P2XP4 dan hibrida P3XP5. Apabila dilihat dari posisi bunga dan buah pertama, maka hibrida P4XP5 mempunyai saat berbuah dan berbunga yang cepat, demikian juga umur panen buah pertama tergolong cepat. Oleh karena itu hibrida P4 X P5 dapat dipilih sebagai hibrida yang mempunyai sifat genjah.
Apabila dibandingkan dengan pepaya Calina, maka hibrida P4XP5 dapat disejajarkan keunggulannya pada karakter kegenjahan tanaman karena mempunyai umur panen buah pertama yang lebih cepat. Keunggulan pepaya Calina antara lain batangnya pendek, tinggi buah pertama pendek, berperawakan tajuk tanaman kecil, ukuran buah sedang, rasa manis dan tekstur daging agak keras (Firdaus dan Wagiono, 2009; Sobir 2010). Berdasarkan diskripsi tanaman pepaya Calina mempunyai kedudukan buah pertama berada pada ketinggian 97.35 cm dari permukaan tanah (Deptan 2010). Posisi bunga dan buah pertama beberapa hibrida yang diuji lebih rendah dibandingkan dengan posisi buah pepaya Calina. Pepaya Calina mempunyai umur produksi tergolong genjah dengan masa umur petik sekitar 180 hari setelah antesis (HSA) (Sujiprihati dan Suketi, 2009).
Keragaan karakter buah
Hasil uji lanjut DMRT untuk karakter buah pada Tabel 5 menunjukkan bahwa tetua P3 mempunyai ukuran buah besar jika dibandingkan dengan empat tetua lainnya, sedangkan P1 dan P2 mempunyai ukuran buah kecil. Hibrida P3XP4 dan hibrida P3 X P5 mempunyai buah yang berukuran besar sama dengan tetua P3. Hal ini terlihat dari bobot buah, diameter buah dan panjang buah yang lebih besar dibanding genotipe lainnya. Hibrida P1 X P2 dan P1 X P4 termasuk dalam kelompok ukuran buah kecil dan tidak berbeda nyata dengan tetua P1 dan tetua P2 (Tabel 5). Fagundes dan Yamanishi (2001) mengemukakan bahwa rata-rata bobot buah pepaya kategori kecil yang dikenal dengan tipe Solo. Yon 1994 mengklasifikasikan ukuran buah pepaya berdasarkan bobot buah ke dalam tiga kelompok ukuran, yaitu buah kecil yang mempunyai bobot berkisar 300-700g, buah sedang dengan bobot 800-1500 g, dan buah besar 2000-4000 g.
Pepaya yang diminati konsumen saat ini adalah pepaya California, Hawai dan Red Lady. Pepaya California dan Red Lady berukuran sedang dengan bobot buah antara 800 gram hingga 1200 gram. Pepaya Hawai berukuran kecil dengan bobot buah kurang dari 700 gram. Menurut Broto et al. (1991) preferensi masyarakat golongan menengah ke atas dan pasar luar negeri lebih menyukai pepaya yang memiliki ukuran kecil atau sedang, sedangkan ukuran besar lebih sesuai untuk buah potong atau pasar tradisonal. Oleh karena itu berdasarkan ukuran buah maka P1, P2, P4, hibrida P1 X P2 dan P1 X P4 mempunyai potensi yang baik untuk memenuhi permintaan pasar moderen di dalam negeri dan luar negeri, sedangkan tetua P3, hibrida P3 X P5 dan P3 X P4 sesuai untuk memenuhi pasar tradisonal dan buah potong.
Pepaya yang mempunyai tekstur daging buah agak keras lebih disukai konsumen karena lebih enak dan tahan simpan. Hasil penelitian Fabi et al. (2007) menyatakan bahwa buah pepaya sangat rentan terhadap kerusakan pada saat penyimpanan akibat pelunakan kulit dan daging buah. Tekstur buah yang keras dapat melindungi buah dari kerusakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kekerasan daging buah antara 0.20-0.57 kg.cm-2. Tetua P3 mempunyai kekerasan
22
daging buah tertinggi dibandingkan tetua dan hibrida lainnya. Hibrida P3 X P5 dan P4 X P5 mempunyai kekerasan daging buah yang tinggi jika dibandingkan dengan tetua P1, P2, P4, hibrida P1XP2, P1XP5, P2XP4, dan P2XP5 (Tabel 5). Oleh karena itu tetua P3, hibrida P3 X P5 dan P4 X P5 dapat dipilih sebagai genotipe yang mempunyai tesktur daging keras.
Hibrida P3 X P5 dan P1 X P3 mempunyai daging buah yang lebih tebal dibanding lima tetua, hibrida P1XP2, P1XP4, P2XP5 dan P4XP5. Konsumen lebih menyukai buah berdaging tebal karena bagian buah yang dapat dimakan menjadi lebih banyak. Kadar PTT dari sepuluh hibrida yang diuji menunjukkan tidak terdapat perbedaan nyata antar hibrida. Kadar PTT daging buah berkisar antara 10.34 - 10.56 0brix. Buah pepaya yang mempunyai kadar PTT tinggi maka rasa daging buahnya semakin manis sehingga lebih disukai konsumen. Varietas pepaya Calina yang saat ini disukai masyarakat, mempunyai TSS antara 10-110brix, sehingga sepuluh hibrida yang diuji mempunyai peluang untuk dicalonkan menjadi varietas baru karena mempunyai tingkat kemanisan yang hampir sama dengan pepaya Calina.
Tabel 5. Rata-rata keragaan karakter buah populasi setengah dialel lima tetua pepaya. Geno-tipe Bobot buah Diameter buah (cm) Panjang buah (cm) Kekerasan kulit buah kg.cm-2 Kekerasan daging buah kg.cm-2 Tebal daging buah (cm) PTT daging buah (0 brix) P1 463.41 g 9.0 ef 15.4 f 0.80 c-e 0.25 f 2.0 i 10.1 b P2 487.2 fg 9.0 ef 15.6 ef 0.80 de 0.27 f 2.3 gh 9.3 c P3 1600.1 a 12.41 a 28.6 a 0.87ab 0.57 a 2.8 bcd 10.6 ab P4 645.9 e 9.5 de 17.0 e 0.79 de 0.24 f 2.5 efg 9.0 c P5 819.3 d 8.9 ef 20.0 d 0.88 ab 0.46 bcd 2.7 b-e 10.2 ab P1 x P2 620.4 ef 9.6 de 16.3 ef 0.76 e f 0.24 f 2.5 fg 10.3 ab P1 x P3 1403.7 b 11.37 bc 24.2 c 0.87ab 0.46 bcd 3.2 a 10.6 ab P1 x P4 575.1 efg 9.5 de 16.5 ef 0.74 f 0.20 f 2.2 hi 10.4 ab P1 x P5 848.9 d 10.02 d 19.6 d 0.8 b-d 0.34 e 2.8 bcd 10.4 ab P2 x P3 1161.5 c 11.29 c 23.4 c 0.86 abc 0.46 bcd 2.9 bc 10.8 ab P2 x P4 1079.8 c 10.85 c 23.0 c 0.84 b-d 0.3de 3.1 ab 10.5 ab P2 x P5 849.7 d 9.8 de 19.4 d 0.84 b-d 0.40 cde 2.6 def 10.5 ab P3 x P4 1626.4 a 12.59 a 26.2 b 0.86 ab 0.47 bc 3.0 ab 10.5 ab P3 x P5 1636.2 a 12.06 ab 26.5 b 0.87 ab 0.49 b 3.3 a 10.5 ab P4 x P5 706.1 de 8.6 f 20.2 d 0.90 a 0.50 b 2.6 c-f 10.8 a Keterangan : Angka pada kolom yang sama dan diikuti oleh huruf yang sama tidak berpengaruh
nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf nyata 5%
Keragaan komponen hasil
Keragaan komponen hasil pepaya yang diamati yaitu peubah jumlah buah per pohon, produksi buah per pohon, persentase buah cacat dan jumlah ruas tidak berbuah (lag fase) (Tabel 6). Hasil analisis sidik ragam keragaan karakter komponen hasil data gabungan umur 6 dan 9 bulan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antar genotipe yang diuji untuk peubah jumlah buah per
pohon, produksi buah per pohon, persentase buah cacat dan jumlah ruas tidak berbuah (lag fase) (Lampiran 1).
Hasil uji lanjut DMRT terhadap keragaan komponen hasil pepaya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan jumlah buah antara tetua-tetua yang diuji (Tabel 6). Tetua P5 mempunyai jumlah buah tertinggi jika dibanding tetua lainnya. Jumlah buah yang dimiliki oleh tetua P5 juga tidak berbeda nyata dengan hibrida yang mempunyai jumlah buah terbanyak yaitu hibrida P1 X P4, hibrida P1XP5 dan hibrida P2XP5. Perbedaan jumlah buah per pohon dapat disebabkan faktor genotipe dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang mempengaruhi jumlah buah antara lain yaitu ketersediaan air tanah, unsur hara dan hama penyakit. Menurut Aiyelaagbe et al.(1986), ketersediaan air untuk pertumbuhan tanaman papaya sangat penting. Pada fase pembungaan dan pembentukan buah sangat sensitif terhadap ketersediaan air. Kadar lengas air tanah rendah, menyebabkan bunga dan calon buah gugur.
Tabel 6. Rata-rata keragaan karakter komponen hasil pada populasi setengah dialel lima tetua pepaya.
Genotipe Jumlah buah
Produksi per tanaman (kg)
Persentase buah
cacat(%) Lag fase
P1 49.7 ef 23.1 f 29.2 a-d 40.9 a P2 67.9 bcd 56.3 e 31.1 abc 37.5 ab P3 34.5 g 54.7 e 34.3 ab 31.8 abc P4 69.6 bcd 25.2 f 26.8 b-e 28.0 bc P5 72.8 a-d 59.3 e 23.4 cde 26.4 bc P1 x P2 50.5 ef 31.5 f 24.6 cde 37.9 ab P1 x P3 64.8 cde 89.4 bc 18.4 e 23.4 c P1 x P4 87.1 a 50.0 e 19.7 de 26.6 bc P1 x P5 83.1 ab 69.8 de 22.0 cde 25.5 bc P2 x P3 68.3 bcd 80.0 cd 37.3 a 33.3 abc P2 x P4 62.9 de 68.1 de 34.5 ab 26.6 bc P2 x P5 79.8 abc 68.4 de 24.9 cde 22.4 c P3 x P4 61.5 de 101.5 ab 19.0 e 24.1 c P3 x P5 66.9 bcd 109.8 a 26.3 b-e 20.7 c P4 x P5 39.7 fg 28.2 f 20.5 de 25.6 bc
Keterangan : Angka pada kolom yang sama dan diikuti oleh huruf yang sama tidak berpengaruh nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf nyata 5%
Lima tetua yang diuji mempunyai produksi per pohon yang lebih rendah jika dibandingkan beberapa hibrida keturunannya. Produksi per pohon tertinggi yaitu 109 kg.pohon-1 dan 101 kg.pohon-1 dihasilkan oleh hibrida P3 X P5 dan P3X P4. Hibrida P1XP4 walaupun mempunyai jumlah buah yang banyak, tetapi produksi per pohon tidak terlalu besar yaitu 50 kg.pohon-1. Hal ini disebabkan ukuran buah hibrida tersebut termasuk dalam kelompok buah kecil.
Karakter fase lag merupakan jumlah buku yang tidak berbuah selama dua periode pengambilan data. Tetua P1 mempunyai fase lag yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan tetua P4 dan tetua P5. Hibrida P1 X P3, P2 X P5, P3 X P5
24
dan P3 X P4 mempunyai lag fase yang rendah jika dibandingkan dengan tetua P1, P2 dan hibrida P1XP2. Fase lag yang rendah menunjukkan kemampuan genotipe