Awal Percobaan
Dalam penelitian ini, analisis konsentrasi lipid peroksida darah dilakukan pada sampel minggu ke-0, 2, 4, 6, 8, dan 10. Rerata konsentrasi lipid peroksida serum darah seluruh tikus (26 ekor) dalam penelitian ini sebelum percobaan (pada minggu ke-0) yaitu 3.15 ± 0.12 nmol/mL. Pada minggu ini, hewan coba hanya diberi pakan standar saja dan belum mendapat perlakuan khusus. Konsentrasi lipid peroksida darah hewan coba kelompok normal (N) dan kelompok pakan kolesterol (HK) pada minggu ke-0 berturut- turut yaitu 3.24 ± 0.09 nmol/mL dan 3.12 ± 0.11 nmol/mL (Gambar 8). Berdasarkan uji
statistika (t-test), nilai tersebut tidak berbeda nyata atau tidak signifikan (p<0.05), artinya dapat dikatakan konsentrasi lipid peroksida semua tikus seragam.
Konsentrasi lipid peroksida darah tikus kelompok normal dalam penelitian ini lebih besar nilainya dibandingkan dengan laporan Safaati (2007), yang melaporkan bahwa bahwa rerata konsentrasi lipid peroksida serum darah tikus hari ke-0 sebesar 0.453 ± 0.059 nmol/mL. Nilai konsentrasi lipid peroksida darah tikus kelompok normal dalam penelitian ini juga sekitar lima kali lebih besar dibandingkan dengan yang dilaporkan oleh Lavenia (2010) yaitu sebesar 0.586 ± 0.177 nmol/mL. Nilai konsentrasi lipid peroksida darah tikus kelompok normal dalam penelitian ini sedikit lebih rendah dari nilai yang dilaporkan Haidari et al. (2009) yaitu 3.41 ± 0.57 nmol/mL, namun jenis tikus yang digunakan adalah Wistar. Hal ini terjadi karena adanya stres yang dialami oleh tikus percobaan. Stres ini dapat berasal dari perbedaan kondisi lingkungan asal tikus dengan lingkungan percobaan.
Nilai konsentrasi lipid peroksida tiap tikus berbeda walaupun perbedaannya tidak signifikan secara statistik, namun variasi nilai konsentrasi lipid peroksida darah pada masing-masing tikus terjadi karena radikal bebas yang diproduksi tiap tubuh individu berbeda dan kemampuan menetralkannya pun berbeda. Sesuai dengan Muhilal (1991) bahwa radikal bebas dapat dihasilkan di dalam tubuh sebagai produk sampingan dari oksidasi di dalam tubuh. Selain itu, peningkatan radikal bebas dapat disebabkan oleh stres yang dialami tikus karena belum terbiasa dengan lingkungan percobaan.
Gambar 8 Konsentrasi lipid peroksida darah tikus pada minggu ke-0 kelompok N ( ) dan HK ( ). 3,24 3,12 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 K ons ent ra si l ipi d pe roks ida da ra h ( nm ol /m L ) Kelompok
11
Lipid Peroksida Darah selama Pemberian Pakan Kolesterol
Hiperkolesterolemia merupakan keadaan ketika konsentrasi kolesterol di dalam tubuh melebihi normal atau meningkat lebih dari 50%. Manusia dikatakan hiperkolesterolemia jika memiliki konsentrasi kolesterol melebihi 240 mg/dL (Dalimartha 2005; Grundy 1991), sedangkan pada tikus hiperkolesterolemia konsentrasi kolesterolnya melebihi 130 mg/dL (Malole & Pramono 1989). Dalam penelitian ini, konsentrasi kolesterol tikus ditingkatkan dengan pemberian pakan kolesterol dan induksi PTU selama 6 minggu.
Terdapat 2 kelompok percobaan pada minggu ke-0 hingga minggu ke-6, yaitu kelompok normal (N) dan kelompok pakan kolesterol (HK). Kelompok normal terdiri atas 6 ekor tikus, sedangkan kelompok pakan kolesterol terdiri atas 20 ekor tikus. Kelompok pakan kolesterol nantinya akan dibagi menjadi 3 kelompok lagi setelah minggu ke-6, yaitu kelompok hiperkolesterolemia (HK I) yang diberi pakan kolesterol dan diinduksi PTU, kelompok teh herbal dosis 1 (HK II) yang diberi pakan kolesterol, diinduksi PTU dan ekstrak teh herbal lempuyang gajah dosis 1, dan kelompok teh herbal dosis 2 (HK III) yang diberi pakan kolesterol, diinduksi PTU dan ekstrak teh herbal lempuyang gajah dosis 2.
Rerata konsentrasi lipid peroksida darah tiap kelompok hewan coba pada minggu ke-2 mengalami peningkatan dibandingkan pada minggu ke-0 (Gambar 9). Pada minggu ke-2 rerata konsentrasi lipid peroksida darah semua tikus yaitu sebesar 4.06 ± 0.69 nmol/mL. Konsentrasi lipid peroksida darah kelompok HK pada minggu ke-2 adalah 4.17 ± 0.73 nmol/mL atau meningkat 33.65% dibandingkan dengan minggu ke-0. Nilai konsentrasi lipid peroksida darah kelompok HK pada minggu ini lebih tinggi 12.99% dibandingkan dengan kelompok normal. Konsentrasi lipid peroksida darah kelompok normal yaitu sebesar 3.69 ± 0.36 nmol/mL.
Seluruh hewan coba mengalami peningkatan konsentrasi lipid peroksida darah pada minggu ke-4, yaitu 4.50 ± 0.64 nmol/mL atau meningkat 49.04% dibandingkan dengan minggu ke-0. Serupa dengan minggu ke-2, konsentrasi lipid peroksida darah kelompok HK pada minggu ke-4 lebih tinggi 15.78% dibandingkan dengan kelompok normal. Pada minggu ini, konsentrasi lipid peroksida darah kelompok HK yaitu 4.65 ± 0.58 nmol/mL, sedangkan konsentrasi lipid peroksida darah kelompok normal yaitu 4.02 ± 0.66 nmol/mL.
Gambar 9 Konsentrasi lipid peroksida darah tikus selama masa peningkatan kolesterol pada kelompok normal ( ) dan kelompok pakan kolesterol ( ).
Rerata konsentrasi lipid peroksida darah pada kelompok HK pada minggu ke-6 adalah 5.54 ± 1.12 nmol/mL. Berbeda dengan kelompok normal yang turun konsentrasi lipid peroksidanya menjadi 3.95 ± 0.38 nmol/mL, namun cenderung lebih stabil jika dibandingkan pada kelompok HK. Berdasarkan uji statistika, nilai tersebut sangat signifikan (p<0.05) jika dibandingkan antara nilai lipid peroksida darah kelompok HK dengan kelompok normal.
Hasil penelitian ini sesuai dengan yang laporkan oleh Muliasari (2009) bahwa pemberian pakan kolesterol 0.5% selama 8 minggu dapat meningkatkan konsentrasi lipid peroksida hati kelinci sebesar 209.20% dibandingkan dengan konsentrasi lipid peroksida hati normal atau dua kali lipat dibandingkan normal. Selain itu, Nurkriswanto (2009) melaporkan bahwa proses peroksidasi lipid darah kelinci yang diberi pakan aterogenik (0.5% kolesterol dan 5% minyak kelapa) selama 8 minggu, meningkat hingga 163.76% dibandingkan dengan kelompok normal. Begitu pula dengan laporan Alviani (2007) bahwa pemberian pakan kolesterol 1.25% meningkatkan konsentrasi lipid peroksida hati tikus hingga 5 kali lebih besar dibandingkan dengan kelompok normalnya.
Pemberian pakan kaya kolesterol mulai minggu ke-0 hingga minggu ke-6 telah berhasil meningkatkan konsentrasi lipid peroksida darah hewan coba pada kelompok HK sebesar 40.31% dibandingkan kelompok normal. Pemberian pakan kolesterol selama 6 minggu ini diduga membuat tikus stres secara fisik dan psikis yang mungkin dialami tikus selama percobaan, sehingga meningkatkan konsentrasi lipid peroksida darah tikus kelompok HK sebesar 77.56% dibandingkan dengan sebelum pemberian pakan kolesterol (minggu ke-0). Hal ini didukung dengan laporan Ariyani (2010), yang melaporkan
0 2 4 6 0 2 4 6 K o ns ent ra si l ipi d pe ro k si da da ra h (nm o l/ m L ) Minggu ke-
bahwa konsentrasi kolesterol darah tikus kelompok HK (yang digunakan dalam penelitian ini) telah meningkatkan sebesar 61.23% (p=0.004).
Nilai koefisien korelasi (KK) pada kelompok HK, antara konsentrasi lipid peroksida darah dalam penelitian ini dengan konsentrasi kolesterol darah yang telah dilaporkan oleh Ariyani (2010) yaitu sebesar 0.384 (p=0.000). Artinya hubungan antara konsentrasi lipid peroksida darah dan konsentrasi kolesterol darah memiliki hubungan searah dan positif, namun pengaruh konsentrasi kolesterol terhadap konsentrasi lipid peroksida darah yaitu nilai koefisien determinasi (R2) hanya 13.4% (Gambar 10). Peningkatan konsentrasi lipid peroksida darah tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh peningkatan konsentrasi kolesterol karena pemberian pakan kolesterol dan induksi (propiltiourasil) PTU.
Gambar 10 Scatterplot konsentrasi lipid peroksida dengan konsentrasi kolesterol selama pemberian pakan kolesterol.
Lipid Peroksida Darah selama Perlakuan Ekstrak
Nilai konsentrasi lipid peroksida darah kelompok HK I, HK II, dan HK III menurun setelah minggu ke-6 (Gambar 11). Apabila konsentrasi lipid peroksida darah minggu ke-6 dibandingkan dengan minggu ke-8, maka terlihat adanya penurunan konsentrasi lipid peroksida darah pada minggu ke-8.
Rerata konsentrasi lipid peroksida minggu ke-8 pada kelompok HK I, HK II, dan HK III masing-masing sebesar 4.76 ± 0.29 nmol/mL, 4.25 ± 0.58 nmol/mL, dan 4.07 ± 0.67 nmol/mL. Antara ketiga kelompok tersebut, penurunan konsentrasi lipid peroksida belum berbeda nyata secara statistik (p=0.097) pada minggu ke-8, namun jika dibandingkan antara minggu ke-8 dan minggu ke-6 (sebelum diberi ekstrak) maka signifikan (p<0.05) baik pada kelompok HK II dan HK III. Penurunan konsentrasi lipid peroksida kelompok HK II dan HK III pada minggu ke-8 masing-masing 10.80% dan 14.40% lebih banyak daripada
kelompok HK I jika dibandingkan dengan minggu ke-6 (sebelum pemberian ekstrak teh herbal).
Penurunan konsentrasi lipid peroksida darah pada kelompok HK I, HK II, dan HK III disebabkan karena penghentian pakan kolesterol terhadap ketiga kelompok tersebut pada minggu ke-6, kemudian ketiga kelompok tersebut hanya diberi pakan standar seperti kelompok normal. Penurunan konsentrasi lipid peroksida darah pada kelompok HK II dan HK III lebih dikarenakan oleh pemberian ekstrak teh herbal. Selain dihentikannya pemberian pakan kolesterol, kelompok HK II dan HK III juga dicekok dengan ekstrak seduhan teh herbal lempuyang gajah mulai minggu ke-7 sampai minggu ke-10. Kelompok HK II dan HK III masing-masing dicekok teh herbal dengan dosis 14.29 mg/Kg BB dan 21 mg/Kg BB.
Efek pemberian teh herbal ini semakin terlihat pada minggu ke-10. Rata-rata konsentrasi lipid peroksida darah hewan coba pada minggu terakhir masa percobaan (minggu ke-10) untuk kelompok HK II adalah 3.78 ± 0.25 nmol/mL dan kelompok HK III yaitu 3.24 ± 0.28 nmol/mL. Konsentrasi lipid peroksida darah kedua kelompok ini lebih rendah daripada konsentasi lipid peroksida darah kelompok HK I yaitu 4.73 ± 0.21 nmol/mL. Konsentrasi lipid peroksida darah minggu ke-10 antara ketiga kelompok tersebut sangat berbeda nyata berdasarkan analisis ragam dan uji Duncan (p<0.05), artinya terdapat efek dari pemberian ekstrak teh herbal baik dosis 1 maupun dosis 2. Ini terlihat dengan konsentrasi lipid peroksida dari kedua kelompok tersebut yang mencapai di bawah konsentrasi lipid peroksida kelompok normal pada minggu ke-10.
Gambar 11 Konsentrasi lipid peroksida darah tikus selama masa perlakuan ekstrak teh herbal pada kelompok HK I ( ), kelompok HK II ( ), dan kelompok HK III ( X ). y = 0,019x + 3,100 R² = 0,134 0 2 4 6 8 10 0 50 100 150 K o ns ent ra si l ipi d pe ro k si da da ra h (nm o l/ m L )
Konsentrasi kolesterol darah (mg/dL)
0 1 2 3 4 5 6 6 8 10 K o ns ent ra si l ipi d pe ro k si da da ra h (nm o l/ m L ) Minggu ke-
13
Penurunan konsentrasi lipid peroksida darah kelompok HK I, HK II, dan HK III pada masa perlakuan ekstrak hingga akhir perlakuan (Gambar 12) sangat berbeda nyata (p=0.000) jika dibandingkan dengan sebelum minggu perlakuan (minggu ke-6). Kelompok HK III mengalami penurunan konsentrasi lipid peroksida darah terbesar yaitu sekitar 26.55% pada minggu ke-8 dan 40.50% pada minggu ke-10, sedangkan penurunan konsentrasi lipid peroksida darah pada kelompok HK II pada minggu ke-8 dan minggu ke-10 berturut-turut sebesar 32.57%. Hal ini disebabkan oleh dosis ekstrak teh herbal yang diberikan pada kelompok HK III lebih besar daripada kelompok HK II. Kedua kelompok tersebut mengalami penurunan konsentrasi lipid peroksida darah yang lebih besar daripada kelompok HK I yang hanya turun sekitar 12.65% pada minggu ke-8 dan 13.19% pada minggu ke-10.
Dapat dikatakan bahwa ekstrak teh herbal lempuyang gajah mampu menurunkan konsentrasi lipid peroksida darah tikus yang hiperkolesterolemia. Hal ini sesuai dengan hipotesis awal dalam penelitian ini. Selain itu, ekstrak teh herbal lempuyang gajah mengandung beberapa senyawa bioaktif yang diduga berperan dalam proses antioksidasi, antara lain saponin, zerumbon (Gambar 13), dan flavonoid seperti afzelin dan diasetilafzelin (Jang et al. 2004, Ruslay et al.
2007, MTIC 2002). Zerumbon merupakan seskuiterpena dari Z. zerumbet, yang berpotensi sebagai antiinflamasi dan kemoterapi (Jang et al. 2004), sedangkan afzelin termasuk flavonoid glikosida dan merupakan turunan kaempferol, 3-flavonol yang diketahui sebagai antioksidan (Ruslay et al. 2007).
Gambar 12 Persentase penurunan konsentrasi lipid peroksida selama masa perlakuan ekstrak teh herbal pada minggu ke-8 ( ) dan minggu ke- 10 ( ).
Gambar 13 Struktur zerumbon. Nilai koefisien korelasi (KK) antara konsentrasi lipid peroksida darah pada minggu terakhir percobaan ini (minggu ke-10) dengan konsentrasi lipid peroksida hati yang telah dilaporkan oleh Vernanda (2010) yaitu sebesar -0.191 (p=0.432). Bila dilihat hubungan antara konsentrasi lipid peroksida darah kelompok HK I, HK II dan HK III pada minggu ke-10 dengan konsentrasi lipid peroksida hati (Gambar 14), maka terlihat hampir tidak ada korelasi pada kelompok HK I (R2=11.1%) dan kelompok HK II (R2=29.3%), serta tidak terlihat adanya korelasi pada kelompok HK III (R2=0%). Nilai korelasinya negatif dan nilai R2 jauh di bawah 99% sehingga dapat dikatakan bahwa konsentrasi lipid peroksida darah tidak dipengaruhi konsentrasi lipid peroksida hati.
Penumpukan lipid peroksida di hati yang lebih banyak daripada di darah sesuai dengan Yagi (1994), bahwa konsentrasi lipid peroksida yang meningkat di hati dapat menyebabkan kerusakan sel-sel hati. Kemudian lipid peroksida tersebut akan keluar dari hati menuju pembuluh darah sehingga dapat merusak jaringan dan organ lainnya. Selain itu, ekstrak teh herbal yang diberikan pada kelompok HK II dan HK III semakin mengurangi konsentrasi lipid peroksida di darah, namun belum mampu menurunkan konsentrasi lipid peroksida di hati karena penumpukan lipid peroksida di hati yang terlalu banyak.
Nilai koefisien korelasi (KK) antara konsentrasi lipid peroksida darah kelompok HK I, HK II, dan HK III dengan konsentrasi kolesterol darah yang dilaporkan oleh Ariyani (2010) selama perlakuan ekstrak (Gambar 15), yaitu sebesar 0.381 (p=0.003). Bila dilihat hubungan antara konsentrasi lipid peroksida darah dalam penelitian ini dengan konsentrasi kolesterol darah pada kelompok HK I, HK II dan HK III, maka terlihat ada korelasi pada kelompok HK I (R2=13.2%), HK II (R2=4.3%) dan HK III (R2=33.0%) yang ditandai dengan garis kurva yang cenderung naik. Walaupun ekstrak yang diberikan memberikan respon yang positif terhadap penurunan konsentrasi lipid peroksida darah yang sejalan dengan penurunan konsentrasi -12,65 -24,20 -26,55 -13,19 -32,57 -40,50 -45 -40 -35 -30 -25 -20 -15 -10 -5 0 HK I HK II HK III P er se nt as e pe nur una n k o ns ent ra si l ipi d pe ro k si da da ra h (nm o l/ m L ) Kelompok
kolesterol pada kelompok HK II dan HK III, namun nilai R2 jauh di bawah 99% sehingga dapat dikatakan bahwa konsentrasi lipid peroksida darah tidak sepenuhnya dipengaruhi konsentrasi kolesterol darah.
Keadaan hiperkolesterolemia hanya salah satu faktor yang memicu timbulnya peroksidasi lipid. Faktor-faktor lain yang memicu timbulnya peroksidasi lipid antara lain kondisi stres, pertambahan usia dan respirasi di mitokondria. Usia tikus yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 4 bulan di awal penelitian, berbeda dengan Alviani (2007) menggunakan tikus berusia 2 bulan. Kondisi stres yang terjadi pada hewan coba merupakan salah satu faktor yang sulit untuk dikontrol karena bergantung dari setiap individu dari hewan coba dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Kondisi stres akan memicu timbulnya radikal bebas di dalam tubuh. Respirasi yang terjadi di mitokondria juga menghasilkan radikal bebas di dalam tubuh. Pembentukan radikal O2- di sel dapat terjadi secara alami,
contohnya ketika mitokondria berfungsi saat transport elektron para rantai pernapasan ke luar dari pembawa elektron dan secara langsung terpapar oksigen (Halliwell 1989).
Radikal bebas yang terlalu banyak di dalam tubuh hewan coba kemungkinan telah membuat SOD tidak mampu menetralkan radikal-radikal bebas tersebut sehingga menimbulkan peroksidasi lipid. Hal ini sesuai dengan Halliwell (1989), bila radikal bebas di dalam tubuh semakin banyak maka antioksidan endogen seperti superoksida dismutase (SOD) tidak mampu mengatasinya (Halliwell 1989).
Gambar 14 Scatterplot konsentrasi lipid peroksida darah dengan konsentrasi lipid peroksida hati kelompok HK I ( ), HK II ( ) dan HK III (X).
Gambar 15 Scatterplot konsentrasi lipid peroksida darah dengan konsentrasi kolesterol selama perlakuan ekstrak kelompok HK I ( ), HK II ( ), dan HK III (X).
y = 0,008x + 4,461 R² = 0.111 y = 0,009x + 3,377 R² = 0.293 y = 0,000x + 3,287 R² = 0.000 0 1 2 3 4 5 6 0 20 40 60 80 Konsentrasi lipid perok sida darah (nm ol/m L )
Konsentrasi lipid peroksida hati (nmol/gram)
y = 0,009x + 4,363 R² = 0.132 y = 0,008x + 4,005 R² = 0.043 y = 0,044x + 1,493 R² = 0.330 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 50 100 150 Konsentrasi lipid perok sida darah (nm ol/m L )
15
SIMPULAN DAN SARAN
SimpulanTeh herbal dari campuran teh hijau (Camellia sinensis) dan rimpang lempuyang gajah (Zingiber zerumbet L.) berpotensi sebagai antioksidan secara in vivo dan dapat menurunkan konsentrasi lipid peroksida darah tikus putih galur Sprague Dawley yang hiperkolesterolemia. Persentase penurunan konsentrasi lipid peroksida darah pada akhir masa perlakuan ekstrak kelompok HK III (21 mg/kg BB) yaitu 40.50% atau lebih besar daripada kelompok HK II (14.29 mg/kg BB) yaitu 32.57% jika dibandingkan dengan sebelum perlakuan ekstrak. Terdapat korelasi yang positif antara konsentrasi kolesterol darah dengan konsentrasi lipid peroksida darah, namun konsentrasi kolesterol darah tidak sepenuhnya berpengaruh terhadap konsentrasi lipid peroksida darah. Tidak terdapat korelasi antara konsentrasi lipid peroksida darah dengan konsentrasi lipid peroksida hati.
Saran
Perlu ditambah kelompok kontrol positif sebagai pembanding. Perlu variasi dosis yang lebih banyak agar dapat ditentukan dosis efektif teh herbal lempuyang gajah.
DAFTAR PUSTAKA
Alviani. 2007. Khasiat ramuan ekstrak daun jati belanda terhadap peroksidasi lipid hati tikus hiperlipidemia. [skripsi]. Bogor: IPB.
Ariyani R. 2010. Potensi
antihiperkolesterolemia ekstrak seduhan teh herbal lempuyang gajah (Zingiber zerumbet L.). [skripsi]. Bogor: IPB. Ariyani R, Sari N, Asmoro FT, Falachi R,
Anshori L. 2009. Laporan akhir program kreativitas mahasiswa: teh herbal dari campuran lempuyang gajah (Zingiber zerumbet L.) dan teh hijau (Camellia sinensis) sebagai antihiperkolesterolemia. Bogor: IPB.
Buck DF. 1991. Antioxidant. Di dalam: Food Additive User’s Handbook. Smith J, penyunting. Glasgow: Blakie Academic & Professional.
Carlson JR, Bauer BA, Vincent A, Limburg PJ, Wilson T. 2007. Reading the tea leaves: Anticarcinogenic properties of (-)-
epigallocatechin-3-gallate. Mayo Clin Proc. 82: 725-732.
Dalimartha S. 2005. 36 Resep Tumbuhan Obat untuk Menurunkan Kolesterol. Surabaya: Penebar Swadaya.
Devasagayam TPA, Boloor KK, Ramasarma T. 2003. Methods for estimating lipid peroxidation: an analysis of merits and demerits. Indian Journal of Biochemistry & Biophysics 40: 300-308.
Fernandez PL, Pablos F, Martin MJ, Gonzales AG. 2002. Study of catechin as xanthine the profiles as geographical tracer. J. Agric.Food Chem. 50: 1833-1839. Gago-Dominguez M, Xuejuan J, Castelao JE.
2007. Lipid peroxidation, oxidative stress genes and dietary factors in breast cancer protection: a hypothesis. Breast Cancer Research 9: 1-11.
Ganong WF. 2001. Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran. Ed ke-20. Djauhari
Widjajakusumah, penerjemah. Jakarta: EGC. Terjemahan dari: Review of Medicinal Phsiology.
Giri LN. 2008. Potensi antioksidan daun salam: kajian in vivo pada tikus hiperkolesterolemia dan hiperglikemia. [skripsi]. Bogor: IPB.
Gordon I. 1994. Functional Food, Food Design, Pharmafood. New York: Champman and Hall.
Grundy SM. 1991. Multifactorial etiology of hypercholesterolemia: implication for prevention of coronary heart disease.
Arteriosclerosis, Thrombosis, and Vascular Biology 11: 1619-1635.
Gurr MI, Harwood JL, Frayn KN. 2002. Lipid Biochemistry. Oxford: Blackwell Science. Haidari F, Keshavarz SA, Rashidi MR, Shahi
MM. 2009. Orange juice and hesperetin supplementation to hyperuricemic rats alter oxidative stress markers and xanthine oxidoreductase activity. J Clin Biochem Nutr 45: 285-291.
Halliwell B. 1989. Tell me about free radicals, doctor: a review. Journal of the Royal Society of Medicine Volume 82: 747-752. Halliwell B. 2006. Reactive species and
antioxidants: Redox biology is a fundamental theme of aerobic life. Plant Physiology 141: 312–322.
Halliwell B, Chirico S. 1993. Lipid peroxidation: its mechanism, measurement, and significance. Am J Clin Nutr 57: 715S-725S.
Hambali E, Nasution MZ, Herliana E. 2005.
Membuat Aneka Herbal Tea. Jakarta: Penebar Swadaya.
Irianto BES. 2008. Teh hijau sebagai antihiperpigmentasi karena paparan ultra violet. Medicinus 21: 125-127.
Jang DS et al. 2004. Flavonoids and aromatic compounds from the rhizomes of Zingiber zerumbet. Arch Pharm Res 27: 386-389. Jorge PAR et al. 2005. Effect of atorvastatin,
fluvastatin, pravastatin, and simvastatin on endothelial function, lipid peroxidation, and aortic atherosclerosis in hypercholesterolemic rabbits. Arquivos Brasileiros de Cardiologia 84.
Kenny AP. 1952. The determination of cholesterol by the Liebermann-burchard reaction. J. Biol Chem 52: 611-619. Koolman J, Rőhm KH. 2001. Atlas Berwarna
dan Teks Biokimia. Wanandi, penerjemah. Jakarta: Hipokrates. Terjemahan dari:
Color Atlas of Biochemistry.
Kristiani EBE. 2003. Ekstrak daun jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) sebagai obat alternatif untuk hiperlipidemia: kajian in vivo dan in vitro. [tesis]. Bogor: Program Pasca Sarjana IPB. Lavenia A. 2010. Potensi ekstrak kulit batang mahoni sebagai antioksidan pada tikus hiperurisemia. [skripsi]. Bogor: Departemen Biokimia FMIPA IPB. Lestari JE. 2003. Analisis preferensi
konsumen terhadap produk teh celup merk Gunung Mas (studi kasus di kecamatan makasar dan pancoran, DKI Jakarta). [skripsi]. Bogor: IPB.
[MTIC] Martha Tilaar Innovation Center. 2002. Budi Daya Secara Organik Tanaman Obat Rimpang. Jakarta: Penebar Swadaya.
Malole MBM, Pramono CSU. 1989.
Penggunaan Hewan-Hewan Percobaan di Laboratorium. Bogor: PAU IPB.
Matjik AA, Sumertajaya. 2002. Peancangan Percobaan Jilid I. Ed ke-2. Bogor: IPB Press.
Muhilal. 1991. Teori radikal bebas dalam gizi
dan kedokteran. Cermin Dunia Kedokteran 73: 9-11.
Muliasari A. 2009. Konsentrasi lipid peroksida hati kelinci hiperlipidemia yang diberi senyawa hipolipidemik. [skripsi]. Bogor: IPB.
Murray RK, Granner DK, Rodwell VW. 2009.
Biokimia Harper. Ed ke-27. Pendit BU, penerjemah; Jakarta: EGC. Terjemahan dari: Harper’s Illustrated Biochemistry, 27th ed.
Nelson DL, Cox MM. 2005. Lehninger Principles of Biochemistry. Ed ke-4. New York: WH Freeman.
Nurkriswanto W. 2009. Proses peroksidasi lipid kelinci hiperlipidemia pada pemberian senyawa penurun kolesterol. [skripsi]. Bogor: IPB.
Ohkawa H, Ohishi N, Yagi K. 1979. Assay for lipid peroxides in animal tissues by thiobarbituric acid reaction. Analytical Biochemistry 95: 351-358.
Percival M. 1998. Antioxidant. Clinical Nutrition Insight 10: 1-4.
Rael LT et al. 2004. Lipid peroxidation and the thiobarbituric acid assay: standardization of the assay when using saturated and unsaturated fatty acids.
Journal of Biochemistry and Molecular Biology 37: 749-752.
Ridwina G. 2008. Perbandingan pengukuran aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol dan minyak atsiri lempuyang gajah. [skripsi]. Bogor: IPB Press.
Rohdiana D, Raharjo S, Gardjito M. 2005. Evaluasi daya hambat tablet effervescent teh hijau pada oksidasi asam linoleat.
Majalah Farmasi Indonesia 16: 76-80. Ruslay S et al. 2007. Characterization of the
components present in the active fractions of health gingers (Curcuma xanthorrhiza
and Zingiber zerumbet) by HPLC-DAD- ASIMS. Food Chemistry 104: 1183-1191. Rustandi MI. 2006. Potensi antioksidan ekstrak daun sangitan (Sambucus javanica
Reinw ex Blume) sebagai hepatoprotektor pada tikus. [skripsi]. Bogor: IPB Press. Safaati NS. 2007. Potensi ramuan jahe merah
dan herba suruhan sebagai antiksidan pada tikus putih hiperurisemia. [skripsi]. Bogor: IPB Press.
17
Shahidi F. 1997. Natural Antioxidant, Chemistry, Health Effect and Application. Illinois: AOCS Press.
Tachibana H. 2011. Green tea polyphenol sensing. Proc. Jpn. Acad., Ser. B 87: 66- 80.
Tapan E. 2005a. Kanker, Antioksidan dan Terapi Komplementer. Jakarta: Alex Media Komputindo.
Tapan E. 2005b. Penyakit Degeneratif. Jakarta: Alex Media Komputindo.
Vernanda RY. 2010. Telaah in vivo teh herbal lempuyang gajah (Zingiber zerumbet L.) sebagai antioksidan pada tikus hiperkolesterolemia. [skripsi]. Bogor: IPB Press.
Wiseman H, Goldfarb P, Ridgway T, Wiseman A. 2000. Biomolecular Free Radical Toxicity: Causes and Prevention.
Chichester: John Willey & Sons.
Yagi K. 1994. Lipid peroxides and related