• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam dokumen OLEH : NADYA ULFA AGRIBISNIS (Halaman 49-59)

5.1. Biaya Operasional Nelayan Buruh Perahu Motor Kapasitas 5 GT

Biaya operasional adalah jumlah pengeluaran yang digunakan dalam usaha penangkapan ikan dihitung dalam rupiah perbulan. Biaya operasional dalam hal ini ditujukan kepada seluruh biaya yang dikeluarkan oleh nelayan buruh (ABK) perahu motor kapasitas 5 GT di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai.

Biaya operasional terdiri dari biaya variabel seperti bahan bakar, es batangan sebagai pengawet ikan, perbekalan seperti konsumsi serta rokok para nelayan.

Sedangkan biaya tetap dianggap Rp.0 karena seluruh biaya tetap ditanggung oleh nelayan toke, nelayan buruh mengeluarkan biaya hanya jika melaut. Biaya-biaya tersebut menjadi sangat mahal karena mereka membeli dengan cara berhutang kepada pedagang eceran di sekitar dengan memberikan sedikit uang jaminan.

Hutang akan dibayar setelah melaut dan mendapatkan hasil. Biaya rata-rata nelayan dalam satu bulan/19 trip dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 5.1 Rata-Rata Biaya Melaut Nelayan Buruh Dan Persentase Dalam

Sumber :Data Primer Diolah Dari Lampiran 2b, 2020

Berdasarkan tabel 5.1 dapat diketahui bahwa rata-rata biaya melaut nelayan buruh (ABK) di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai dalam satu bulan membutuhkan biaya sebesar Rp. 1,497,210

dimana biaya untuk perbekalan merupakan biaya paling besar yaitu Rp. 700,627 atau sebesar 46,80% dari total seluruh biaya sedangkan biaya paling sedikit yaitu biaya es sebagai bahan pengawet ikan sebesar Rp. 261,167 atau 17,44% dari total biaya nelayan buruh dalam satu bulan.

5.2. Penerimaan dan Pendapatan Nelayan Buruh Perahu Motor Kapasitas 5 GT

Produk yang dihasilkan oleh nelayan adalah hasil tangkapan berupa ikan kembung (gembung), ikan tenggiri, ikan dencis, ikan tongkol dan ikan selar. Ikan yang didapat dijual nelayan ke tempat pelelangan ikan (TPI) yang berada di desa Tebing Tinggi tersebut. Hasil tangkapan yang diperoleh nelayan bergantung pada musim ikan, serta kondisi cuaca dan angin.Apabila angin kencang, cuaca tidak bagus dan perahu nelayan rusak maka nelayan tidak melaut. Nelayan melaut dengan jarak tempuh sekitar 24-35 mil dengan waktu 24 jam (1 hari). Nelayan berangkat melaut sepanjang tahun dengan rata-rata frekuensi 19,43 per bulan dengan rentang 17 sampai 21 kali per bulannya.

Untuk menganalisis keuntungan nelayan buruh dalam satu bulan maka dilakukan perhitungan besarnya penerimaan dan pendapatan nelayan. Penerimaan nelayan merupakan hasil tangkapan nelayan dikali dengan harga jual, sedangkan pendapatan adalah total penerimaan dikurangi total biaya yang dikeluarkan.

Penerimaan serta pendapatan nelayan tergantung dari hasil tangkapan melaut nelayan, apabila tidak mendapatkan hasil maka nelayan akan merugi dan bahkan harus berhutang ke warung-warung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, tidak jarang nelayan mendapatkan hasil yang nihil ketika melaut.

Rata-Tabel 5.2 Rata-Rata Penerimaan Nelayan Buruh/Bulan/19 Trip di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai

No Jenis Ikan Hasil tangkapan (kg)

Sumber :Data Primer Diolah Dari Lampiran 3b, 2020

Berdasarkan tabel 5.2 dapat diketahui penerimaan nelayan buruh perbulan sebesar Rp.4.185.741. Penerimaan paling besar bersumber dari jenis ikan gembung yang jumlah hasil tangkapannya paling banyak yaitu sebesar 88% dari total penerimaan.

Pendapatan nelayan buruh di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai meliputi total penerimaan setelah dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi atau penangkapan ikan dan meliputi sistem bagi hasil dengan juragan/pemilik kapal. Pendapatan nelayan berbeda-beda, pada nelayan toke atau juragan, nelayan tekong, dan nelayan buruh atau ABK. Pembagian hasil pada nelayan di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai yaitu 40% untuk nelayan toke atau juragan, untuk nelayan buruh tersisa 60% dibagi jumlah ABK +1 yang berada di dalam satu perahu tersebut. Untuk nelayan tekong atau nakhoda mendapatkan 2 bagian dari pendapatan nelayan buruh Meskipun bagian yang diterima oleh nelayan toke lebih banyak dibanding nelayan buruh, namun hasil bersih yang diterima oleh nelayan toke tidak sebanyak itu. Hal ini dikarenakan adanya beban tanggungan biaya untuk nelayan toke berupa biaya penyusutan alat tangkap dan

biaya tetap lainnya. Pendapatan nelayan buruh atau ABK merupakan pendapatan yang paling rendah, sehingga uang yang diterima mereka paling sedikit daripada pendapatan toke dan juga nelayan tekong. Rata-rata pendapatan nelayan buruh per bulan dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 5.3 Rata-Rata Pendapatan Nelayan Buruh/Bulan/19 Trip di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai.

No Uraian Rp/Bulan Rp/Tahun

1 Biaya 1.497.210 17.966.517

2 Penerimaan 4.186.345 50.228.901

3 Pendapatan 2.689.135 32.262.384

Sumber :Data Primer Diolah Dari Lampiran 2b, 4b, 5b, 2020

Berdasarkan tabel dapat diketahui bahwa pendapatan nelayan buruh di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai yaitu sebesar Rp. 2.689.135. Pendapatan ini lebih kecil sedikit dibanding dengan UMK Kabupaten Serdang Bedagai yaitu sebesar Rp. 2.869.291,95. Pendapatan nelayan buruh per bulan tersebut masih tergolong rendah jika dilihat dari banyaknya jumlah tanggungan nelayan buruh, namun dari beberapa nelayan buruh memiliki pekerjaan sampingan seperti buruh bangunan, buruh tani, pedagang serta pengolah ikan asin yang dapat membantu perekonomian rumah tangga nelayan.

5.3 Kelayakan Pendapatan Nelayan Buruh Perahu Motor Kapasitas 5 GT Lanjut tidaknya suatu usaha atau pekerjaan dapat diketahui dengan menghitung tingkat kelayakan suatu usaha atau pekerjaan tersebut. Kelayakan pendapatan nelayan buruh perahu motor kapasitas 5 GT per satu bulan dapat dihitung dengan rumus R/C (return cost ratio) atau dikenal dengan sebagai perbandingan atau nisbah antara penerimaan dan biaya. Adapun kelayakan pendapatan nelayan buruh perahu motor kapasitas 5 GT per bulan dapat dilihat pada tabel 5.4 berikut ini:

Tabel 5.3 Kelayakan Pendapatan Nelayan Buruh Perahu Motor Kapasitas 5 GT/Bulan/19 Trip di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai

No Uraian Satuan Jumlah

1 Penerimaan (TR) Rp 4.186.345

2 Total Biaya (TC) Rp 1,497,210

R/C 2,80

Sumber : Data Primer Diolah Dari Lampiran 2b,4b, 2020

Berdasarkan tabel 5.4 dapat diketahui bahwa hasil R/C sebesar 2,80 yaitu >1.

Maka dapat disimpulkan bahwa menjadi seorang nelayan buruh perahu motor kapasitas 5 GT per satu bulan di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai layak untuk diusahakan atau diteruskan.

Dengan demikian hipotesis 1 yang menyatakan bahwa nilai R/C pada pendapatan nelayan perahu motor kapasitas 5 GT > 1 dapat diterima.

5.4 Tingkat Kesejahteraan Nelayan Buruh Perahu Motor Kapasitas 5 GT Analisis Pendapatan Rumah Tangga

Pendapatan rumah tangga nelayan buruh di desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai berasal dari kegiatan penangkapan ikan. Pendapatan rata-rata nelayan buruh di Desa Tebing Tinggi yaitu Rp.2.689.135/bulan. Pendapatan nelayan buruh ini setiap bulannya tidak selalu sama, dikarenakan bergantung dari jumlah hasil tangkapan yang diperoleh dan juga bergantung pada musim.

Analisis Pengeluaran Rumah Tangga

Pengeluaran rumah tangga terdiri dari pengeluaran pangan dan non pangan.

Pengeluaran pangan terdiri dari Sembilan bahan pokok diantaranya beras, gula, minyak goreng, daging sapi atau ayam dan lain sebagainya, sedangkan untuk

tabungan dan lain sebagainya. Pengeluaran rumah tangga tersebut berpengaruh terhadap kesejahteraan keluarga nelayan. Rata-rata pengeluran untuk konsumsi makanan rumah tangga nelayan buruh di Desa Tebing Tinggi adalah sebesar

Kriteria Badan Pusat Statistik (BPS) dalam SUSENAS 1. Indikator Pendapatan Rumah Tangga

Pendapatan yang diterima oleh nelayan buruh berasal dari besaran upah yang diterima. Besaran pendapatan yang diterima yaitu Rp.2.689.135/bulan.

Pendapatan nelayan buruh ini setiap bulannya tidak selalu sama, dikarenakan bergantung dari jumlah hasil tangkapan yang diperoleh dan juga bergantung pada musim.

2. Indikator Pengeluaran Rumah Tangga

Konsumsi atau pengeluaran rumah tangga dibagi menjadi dua yaitu pengeluaran pangan dan non pangan. Pengeluaran rumah tangga ini dipengaruhi oleh banyaknya jumlah keluarga yang ditanggung oleh nelayan buruh. Konsumsi atau pengeluaran rumah tangga nelayan buruh di Desa Tebing TInggi tergolong tinggi dengan skor terbesar ketiga setelah indikator pendapatan dan indikator Kemudahan memasukkan anak ke jenjang pendidikan

3. Indikator Keadaan Tempat Tinggal

Salah satu indikator kesejahteraan suatu rumah tangga adalah rumah atau keadaan tempat tinggal. Semakin baik kondisi rumah yang ditempati oleh suatu rumah tangga bisa dikatakan semakin sejahtera pula rumah tangga tersebut. Menurut Badan Pusat Statistik Pusat (2015), sebuah rumah dikatakan miskin apabila masing-masing rumah mempunyai luas lantai kurang dari 8 m². Berdasarkan

penjelasan tersebut, luas lantai rumah nelayan buruh di desa Tebing Tinggi rata-rata lebih dari dari 8 m². Sehingga indikator ke-3 dapat dikatakan sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat dan dapat diterapkan sebagai salah satu indikator kemiskinan di Desa Tebing Tinggi.

4. Indikator Fasilitas Tempat Tinggal

Salah satu ukuran dari kenyamanan tempat tinggal adalah fasilitas tempat tinggal yang memadai. Sumber penerangan yang digunakan nelayan buruh 80% dari listrik di rumah masing-masing. Sedangkan sumber air nelayan buruh ada yang berasal PAM, sumur, mata air, dan sungai. Untuk kamar mandi semua sudah menggunakan kamar mandi sendiri. Sedangkan bahan bakar yang digunakan nelayan buruh di Sungai Buruh menggunakan gas sebesar 60%. Rumah tangga nelayan buruh semuanya sudah memiliki fasilitas tempat tinggal yang baik dan cukup baik.

5. Indikator Kesehatan Rumah Tangga

Menurut BPS (2015), kriteria kesehatan rumah tangga yaitu banyaknya anggota rumah tangga yang sering mengalami sakit dalam satu bulan. Kesehatan anggota keluarga dimana sebanyak 30 keluarga (29 keluarga) dikategorikan baik dan 1 keluarga dikategorikan kurang baik. Adapun penyakit yang biasa dialami anggota keluarga yaitu seperti batuk, nyeri sendi, demam dan diare. Banyak dari mereka para nelayan yang memilih pengobatan sendiri dirumah dengan membeli obat di warung jika dirasa sakit yang di derita belum terlalu parah. Namun ada juga yang memilih untuk berobat ke puskemas terdekat karena dirasa lebih praktis dan hemat.

6. Indikator Kemudahan Pemanfaatan Fasilitas Tenaga Kesehatan

Kemudahan dalam memperoleh pelayanan kesehatan ini kurang didukung oleh fasilitas seperti puskesmas. Jarak tempuh ke puskesmas yang lumayan jauh sekitar 2 km, jarak antara tempat tinggal dengan rumah sakit berjarak >10 km yang berada di pusat Kabupaten, namun banyak dari masyarakat lebih memilih berobat ke puskesmas. Pelayanan kesehatan selama berobat dikategorikan baik begitu juga dengan biaya berobat dan harga obat-obatan masih terjangkau.

7. Indikator Kualitas Pendidikan Keluarga

Pendidikan merupakan faktor yang dominan untuk mengangkat manusia dari berbagai ketertinggalan termasuk kemiskinan. Pendidikan selain memperoleh kepandaian berupa keterampilan berpolah pikir, manusia juga memperoleh wawasan baru yang akan membantu upaya mengangkat harkat hidup mereka.

Semakin tinggi pendidikan, maka semakin besar kualitas sumberdaya manusianya dan semakin tinggi peluang untuk mendapatkan pekerjaan sehingga semakin terbuka harapan untuk hidup sejahtera. Kualitas Pendidikan anggota rumah tangga nelayan buruh di desa Tebing Tinggi terbilang cukup baik dengan skor 0,26 tertinggi keempat setelah pendapatan, Kemudahan memasukkan anak ke jenjang pendidikan, dan Pengeluaran rumah tangga.

8. Indikator Kemudahan Memasukkan Anak Ke jenjang Pendidikan

Kemudahan nelayan dalam memasukkan anak ke jenjang pendidikan juga tidak menjadi persoalan dengan nilai skor terbesar ke 3. Ditinjau dari segi biaya, jarak ke sekolah, dan prosedur penerimaannya mudah. Hal ini ditunjang oleh fasilitas pendidikan yang cukup lengkap yang ada di Desa Tebing tinggi maupun desa

atau sederajat yang ada di sana. Jarak tempuh dari sekolah menuju sekolah berjarak antara 0-3 km. Dan prosedur penerimaan 30 keluarga (100%) menyatakan mudah karena adanya biaya gratis.

9. Indikator Rasa aman dari gangguan kejahatan

Tindak kejahatan adalah segala tindakan yang lain dalam hal badan, jiwa, harta benda, kehormatan, dan lainnya serta tindakan tersebut diancam hukuman penjara dan kurungan (BPS 2015). Di desa Tebing Tinggi sendiri untuk tingkat keamanan dinilai kurang baik karena banyaknya aktifitas yang dapat mengganggu ketenangan warga desa.

10. Indikator Kemudahan Mengakses Teknologi Informasi Dan Komunikasi Kemudahan mengakses teknologi informasi dan komunikasi sangat berpengaruh positif bagi masyarakat karena dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Selain itu TIK juga berperan dalam menciptakan lapangan pekerjaan, dan mengembangkan kemampuan masyarakat. Semakin banyak penduduk yang memiliki akses TIK dan terus mengikuti kemajuan teknologi maka dapat dipastikan kesejahteraan akan semakin meningkat (BPS 2015). Desa Tebing Tinggi Sendiri belum memaksimalkan teknologi informasi dan komunikasi karena kurang tersedia dan mahalnya fasilitas yang mendukung TIK tersebut di rumah-rumah nelayan buruh.

Hasil rekapitulasi indikator kesejahteraan nelayan buruh di Desa Tebing Tinggi.

Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai dapat dilihat pada tabel 5.4 berikut :

Tabel 5.4 Rekapitulasi Indikator Kesejahteraan Nelayan Buruh di Desa tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai. 6 Kemudahan pemanfaatan fasilitas

tenaga kesehatan

2,2 0,09 0,19

7 Kualitas pendidikan anggota rumah tangga

2,57 0,10 0,26

8 Kemudahan memasukkan anak ke jenjang pendidikan

2,93 0,12 0,34

9 Rasa aman dari gangguan keamanan

2,23 0,09 0,20

10 Kemudahan mengakases teknologi informasi dan komunikasi

2,43 0,10 0,23

Jumlah 25,46 1 2,60

Tingkat kesejahteraan rata-rata rumah tangga nelayan buruh di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai memiliki skor 2,60. Hal tersebut menyatakan bahwa tingkat kesejahteraan nelayan buruh berada pada tingkat sedang. Hal ini sesuai pada tingkat kesejahteraan yang dikelompokkanke dalam 3 bagian yaitu : 1. Skor antara 2,61 – 3,41 (tingkat kesejahteraan tinggi), 2. Skor antara 1,81 – 2,60 (tingkat kesejahteraan sedang) dan 3. Skor antara 1,0 – 11,81 (tingkat kesejahteraan rendah).

BAB VI

Dalam dokumen OLEH : NADYA ULFA AGRIBISNIS (Halaman 49-59)

Dokumen terkait