ANALISIS PENDAPATAN DAN BIAYA PADA NELAYAN BURUH PERAHU MOTOR KAPASITAS 5 GT DI DESA TEBING TINGGI KECAMATAN TANJUNG BERINGIN
KABUPATEN SERDANG BEDAGAI
SKRIPSI
OLEH : NADYA ULFA
160304049 AGRIBISNIS
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
ANALISIS PENDAPATAN DAN BIAYA PADA NELAYAN BURUH PERAHU MOTOR KAPASITAS 5 GT DI DESA TEBING TINGGI KECAMATAN TANJUNG BERINGIN
KABUPATEN SERDANG BEDAGAI
SKRIPSI
OLEH : NADYA ULFA
160304049 AGRIBISNIS
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
ABSTRAK
Nadya Ulfa (160304049/AGRIBISNIS) dengan judul penelitian Analisis Pendapatan Dan Biaya Pada Nelayan Buruh Perahu Motor Kapasitas 5 GT Di Desa Tebing Tinggi Kecamatan Tanjung Beringin Kabupaten Serdang Bedagai. Penelitian ini dibimbing oleh Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec sebagai ketua komisi pembimbing dan Ibu Ir. Iskandarini, MM, Ph.D sebagai anggota komisi pembimbing.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya operasional, penerimaan, pendapatan, kelayakan serta tingkat kesejahteraan nelayan buruh perahu motor kapasitas 5 GT. Metode penelitian menggunakan metode analisis pendapatan dan analisis kelayakan, serta analisis deksriftif kuantitatif Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya yang dikeluarkan oleh nelayan buruh adalah Rp.1.497.210/bulan/19 trip, dengan penerimaan adalah Rp.4.186.345/bulan/19 trip, pendapatan yang diterima nelayan buruh Rp.2.689.135/bulan/19 trip, pendapatan nelayan buruh /bulan masih layak untuk diteruskan walau masih dalam tingkat kesejahteraan yang sedang.
Kata Kunci : Nelayan buruh, Pendapatan, Kelayakan
ABSTRACT
Nadya Ulfa (160304049/ AGRIBISNIS) with the thesis title is Analysis of Income and Costs of Fishermen Labor Motorboat with 5 GT Capacity in Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai. Supervised by Bapak. Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec as the head of the supervisory commission and Ibu. Ir. Iskandarini, MM, Ph.D as a member of the supervisory commission.
The purpose of this research was to analyze the operational costs, revenue, income, and to analyze the feasibility of income of motorboat labor fishermen with a capacity of 5 GT. The research method uses the method of income analysis and feasibility analysis. The results showed that the costs incurred by labor fishermen were Rp.1,497,210 /month /19 trips, with revenues of Rp.4,186,345 /month /19 trips, income received by labor fishermen was Rp.2,689,135 /month /19 trips, the income of labor fisherman /month is still feasible to continue even thoughit is still at a moderate level of welfare..
Keywords: fishermen labor, income, feasibility
RIWAYAT HIDUP
NADYA ULFA, lahir di Kota Medan, pada tanggal 05 Januari 1998 dari Ayahanda Suriadi dan Ibunda Khairun Niswah Lubis. Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara.
Pendidikan formal yang pernah diikuti adalah sebagai berikut :
1. Tahun 2010 lulus dari SD Negeri 102016 Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai
2. Tahun 2013 lulus dari SMP Negeri 1 Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai
3. Tahun 2016 lulus dari SMA Negeri 1 Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai
4. Tahun 2016 diterima di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara melalui jalur SNMPTN
Kegiatan yang pernah diikuti penulis selama masa perkuliahan adalah sebagai berikut :
1. Penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Desa Turangi, Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat.
2. Penulis melakukan penelitian skripsi di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai
3. Panitia Agrifest ke 38th pada perayaan hari ulang tahun IMASEP
4. Anggota Ikatan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (IMASEP) Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim. Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Adapun judul skripsi ini adalah “Analisis Pendapatan dan Biaya Pada Nelayan Buruh Perahu Motor Kapasitas 5 GT di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
Penyelesaian skripsi ini juga tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Sebagai bentuk rasa syukur penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada:
1. Kedua orangtua saya tercinta Ibunda Khairun Niswah Lubis dan Ayahanda Suriadi serta kakak tersayang Mawaddahtul Husna, S.Pd yang selalu memberikan kasih sayang, perhatian, semangat, nasihat, doa serta dukungan baik secara moril maupun materil bagi penulis dalam menyelesaikan pendidikan di Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec selaku ketua komisi pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya untuk membimbing penulis dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, serta selalu memberikan motivasi dan semangat kepada penulis dan selalu membantu penulis dalam perkuliahan maupun dalam penyelesaian skripsi ini.
3. Ibu Ir. Iskandarini, MM, Ph.D, selaku anggota komisi pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya untuk membimbing, mengarahkan, memberikan motivasi, serta membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
4. Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec. selaku Ketua Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian USU dan Bapak Ir. M. Jufri, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian USU yang telah memberikan banyak kemudahan selama masa perkuliahan.
5. Bapak Ir. Sinar Indra Kesuma M.Si dan Ir. M. Jufri, M.Si, selaku dosen penguji yang telah memberi kritik dan saran yang membangun dalam penyempurnaan skripsi ini.
6. Seluruh dosen Fakultas Pertanian USU khususnya Program Studi Agribisnis yang telah memberikan ilmu-ilmu yang bermanfaat kepada penulis selama masa perkuliahan.
7. Seluruh pegawai di Fakultas Pertanian USU khususnya Program Studi Agribisnis yang telah membantu dan memberi kemudahan pada seluruh proses administrasi.
8. Kepada Kepala Desa Tebing Tinggi yang telah memberi izin untuk melakukan penelitian skripsi.
9. Kepada nelayan buruh yang telah mengizinkan saya untuk melakukan penelitian skripsi dan menjadi sampel dalam penelitian skripsi saya.
10. Kepada Sahabat-sahabat saya Rahma Khairini, Sophi Sucita, Evi Nurul Afsyah, Reni Arfiani, Ummi Kalsum Pulungan, Wulan Sari, Elza Hafizah, dan Fany Rahmasari, yang selalu memberikan perhatian, semangat, motivasi, serta bantuan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
11. Teman-teman seperjuangan Agribisnis stambuk 2016, yang telah banyak membantu dan menjadi penyemangat penulis selama masa perkuliahan dan penyelesaian skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skrpsi ini. Akhir kata, penulis ucapkan terima kasih. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan pihak pihak lain yang membutuhkan. Amin.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Medan, Agustus 2020
Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Identifikasi Masalah ... 8
1.3 Tujuan penelitian ... 9
1.4 Manfaat penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Tinjauan Pustaka ... 10
2.1.1 Nelayan ... 10
2.2 Landasan Teori ... 13
2.2.1 Biaya Produksi ... 13
2.2.2 Teori Penerimaan ... 14
2.2.3 Teori Pendapatan ... 15
2.2.4 Analisis Kelayakan ... 16
2.3 Penelitian Terdahulu ... 17
2.4 Kerangka Pemikiran ... 20
2.5 Hipotesis Penelitian ... 22
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian ... 23
3.2 Metode Penentuan Sampel ... 23
3.3 Metode Penentuan Pengumpulan Data ... 24
3.4 Metode Analisis Data ... 24
3.5 Definisi Dan Batasan Operasional ... 26
3.5.1 Definisi ... 26
3.5.2 Batasan Operasional ... 26
BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK SAMPEL 4.1 Deskripsi Daerah Penelitian ... 27
4.1.1 Keadaan Penduduk ... 28
4.1.2 Sarana Dan Prasarana ... 31
4.2 Karakteristik Sampel Penelitian ... 31
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Biaya Produksi Nelayan Buruh Perahu Motor Kapasitas 5 GT ... 35
5.2 Penerimaan dan Pendapatan Nelayan Buruh Perahu Motor Kapasitas 5 GT ... 36
5.3 Analisis Kelayakan Pendapatan Nelayan Buruh Perahu Motor Kapasitas 5 GT ... 38
5.4 Analisis Tingkat Kesejahteraan Nelayan Buruh Perahu Motor Kapasitas 5 GT ... 39
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 45
6.2 Saran ... 45 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
No. Judul Halaman
1.1 Tabel PDRB Kabupaten Serdang Bedagai Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku (Juta Rp)
5 1.2 Jumlah Nelayan di Kabupaten Serdang Bedagai
Menurut Kecamatan, 2018
6 1.3 Jumlah Perahu Tanpa Motor dan Perahu Bermotor di
Kabupaten Serdang Bedagai Menurut Kecamatan, 2018
7
4.1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2019
26 4.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama Tahun 2019 26 4.3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Etnis/Suku Tahun
2019
27 4.4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Pekerjaan Tahun
2019
27 4.5 Sarana dan Prasarana di Desa Tebing Tinggi 28
4.6 Nelayan Sampel Berdasarkan Kelompok Umur 29
4.7 Nelayan Sampel Berdasarkan Pengalama Melaut 30 4.8 Nelayan Sampel Berdasarkan Jumlah Tangggungan 30 4.9 Nelayan Sampel Berdasarkan Tingkat Pendidikan 31 5.1 Rata-Rata Biaya Melaut Nelayan Buruh dan
Persentase dalam Satu Bulan/19 Trip di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai
35
5.2 Rata-rata Penerimaan Nelayan Buruh /bulan/19 Trip di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai
37
5.3 Rata-rata Pendapatan Nelayan Buruh /bulan /19 Trip di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai
38
5.4 Kelayakan Pendapatan Nelayan Buruh Perahu Motor /bulan/19 Trip di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai
39
5.5 Rekapituasi Indikator Kesejahteraan Nelayan Buruh di Desa tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai.
44
DAFTAR GAMBAR
No Keterangan Halaman
1 Skema Kerangka Pemikiran Analisis Pendapatan dan Biaya pada Nelayan Buruh Perahu Motor Kapasitas 5 GT di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai.
20
DAFTAR LAMPIRAN
No. Keterangan
1. Karakteristik Nelayan Buruh di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai
2a Biaya Melaut Nelayan /Bulan/19 Trip di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai
2b Biaya Melaut Nelayan Buruh /Bulan/19 Trip di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai
3a Hasil Tangkapan Nelayan di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai
3b Hasil Tangkapan Nelayan Buruh di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai
4a Total Penerimaan Nelayan /Bulan/19 Trip di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai
4b Total Penerimaan Nelayan Buruh /Bulan/19 Trip di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai 5a Total Pendapatan Nelayan /Bulan/19 Trip di Desa Tebing Tinggi,
Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai
5b Total Pendapatan Nelayan Buruh /Bulan/19 Trip di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai 6a Analisis Kelayakan Pendapatan Penangkapan Ikan Per Bulan di Desa
Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai Berdasarkan R/C
6b Analisis Kelayakan Pendapatan Nelayan Buruh Per Bulan di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai Berdasarkan R/C
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu sektor ekonomi yang memilki peranan dalam pembangunan ekonomi nasional, khususnya dalam penyediaan bahan pangan protein, perolehan devisa, dan penyediaan lapangan kerja. Pada saat krisis ekonomi, peranan sektor perikanan semakin signifikan, terutama dalam hal mendatangkan devisa. Akan tetapi ironisnya sektor perikanan selama ini belum mendapat perhatian yang serius dari pemerintah dan kalangan pengusaha, padahal bila sektor perikanan dikelola secara serius akan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pembangunan ekonomi nasional serta dapat mengentaskan kemiskinan masyarakat Indonesia terutama masyarakat nelayan dan petani ikan (Mulyadi, 2005).
Berdasarkan data Food and Agriculture Organization (2014) pada tahun 2012 Indonesia menempati peringkat ke-2 untuk produksi perikanan tangkap dan peringkat ke-4 untuk produksi perikanan budidaya di dunia. Fakta ini dapat memberikan gambaran bahwa potensi perikanan Indonesia sangat besar, sehingga bila dikelola dengan baik dan bertanggungjawab agar kegiatannya dapat berkelanjutan, maka dapat menjadi salah satu sumber modal utama pembangunan di masa kini dan masa yang akan datang. Upaya memanfaatkan sumber daya ikan secara optimal, berkelanjutan, dan lestari merupakan tuntutan yang sangat mendesak bagi sebesarnya-besarnya kemakmuran rakyat, terutama untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan dan pembudidaya ikan.
Sumberdaya perikanan merupakan potensi utama yang menggerakkan kegiatan perekonomian desa di kawasan pesisir pada khususnya. Secara umum kegiatan perekonomian desa pesisir bersifat fluktuatif, karena hal tersebut sangat bergantung pada tinggi rendahnya produktivitas perikanan atau hasil tangkapan.
Kondisi ini yang mempengaruhi kuat lemahnya kegiatan perekonomian desa.
Suatu usaha penangkapan dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan. Berdasarkan pendapatan yang diperoleh akan mempengaruhi keberlangsungan hidup nelayan tersebut. Meningkatnya jumlah nelayan merupakan akibat dari pertumbuhan penduduk yang cepat tanpa diimbangi lapangan pekerjaan dan mudahnya orang melakukan penangkapan ikan.
Bertambahnya jumlah nelayan juga mempengaruhi pendapatan yang diperoleh nelayan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil tangkapan nelayan antara lain yaitu tenaga kerja, bahan bakar, jenis alat tangkap yang digunakan, jenis perahu, perbekalan, dan pengalaman nahkoda (Sutanto, 2005).
Pendapatan yang tinggi merupakan harapan bagi setiap nelayan dalam usaha penangkapan ikan. Untuk memperoleh pendapatan yang maksimal harus dapat mengalokasikan dana dengan tepat dalam artian penggunaan biaya yang seminimal mungkin dan pengeluaran untuk keperluan lainnya yang harus ditekan sedemikian rupa, agar apabila produktifitas hasil tangkapan menurun nelayan tidak akan mengalami kesulitan biaya, baik biaya untuk hidup maupun biaya untuk keperluan sarana dan prasarana penangkapan.
Masyarakat yang bermata pencaharian sebagai nelayan merupakan salah satu dari kelompok masyarakat yang melakukan aktivitas usaha dengan mendapat
penghasilan bersumber dari kegiatan nelayan itu sendiri. Nelayan adalah orang yang secara aktif melakukan pekerjaan dalam operasi penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap mesin.Tingkat kesejahteraan nelayan sangat ditentukan oleh hasil tangkapannya. Banyaknya tangkapan akan telihat pula besarnya pendapatan yang diterima dan pendapatan tersebut sebagian besar untuk keperluan konsumsi keluarga. Maka tingkat pemenuhan kebutuhan konsumsi keluarga dan kebutuhan fisik lainnya sangat ditentukan oleh pendapatan yang diterima (Sujarno,2008).
Sebagian besar nelayan Indonesia tergolong dalam nelayan tradisional, yaitu nelayan yang masih menggunakan peralatan secara tradisional, seperti perahu layar sebagai alat angkutan dan alat tangkap yang masih sederhana.Bahkan mayoritas nelayan Indonesia merupakan nelayan buruh atau nelayan yang bekerja kepada nelayan pemilik kapal yang dalam hal ini, nelayan buruh hanya dapat menyumbang jasa tenaganya dalam menangkap ikan serta mendapatkan upah yang lebih kecil daripada nelayan pemilik kapal.
Sumberdaya ikan yang bersifat multispesies di perairan Indonesia dan ikan bergantung pada lingkungannya menyebabkan adanya pola penyebaran ikan dan berdampak terhadap pola penyebaran ikan dan mengakibatkan adanya perbedaan daerah penangkapan ikan dan jumlah dan jenis ikan yang tertangkap. Ikan pelagis kecil adalah kelompok besar ikan yang membentuk schooling di dalam kehidupannya dan mempunyai sifat berenang bebas dengan melakukan migrasi secara vertikal maupun horizontal mendekati permukaan dengan ukuran tubuh relatif kecil Beberapa contoh ikan pelagis kecil antara lain layang (Decapterus
spp), kembung (Rastrelliger sp), siro (Amblygastersirm), selar (Selaroides sp),
tembang (Sardinellafimbriata), dan teri (Stolephorus spp).
(Fréon et all, 2005).
Kabupaten Serdang Bedagai merupakan salah satu Kabupaten yang berada di kawasan pantai timur Sumatera Utara yang memiliki luas daerah 1.900,22 km2 terdiri dari 17 Kecamatan dengan Ibukota Sei Rampah.Salah satu Kecamatan yang ada di Kabupaten Serdang Bedagai yaitu Kecamatan Tanjung Beringin yang terdiri dari 8 desa diantaranya yaitu Desa Tebing Tinggi. Desa Tebing Tinggi merupakan salah satu desa yang mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai nelayan dengan berbagai macam jenis perahu motor yang digunakan salah satunya yaitu perahu motor dengan kapasitas 3 GT, 5 GT, 10 GT dan lain sebagainya.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator tingkat kesejahteraan suatu daerah. PDRB pada dasarnya merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. Tahun 2018 PDRB Kabupaten Serdang Bedagai atas dasar harga berlaku mencapai Rp. 25.994.818,9 Pada tahun 2018 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Serdang Bedagai mencapai 5,16%.
Pertumbuhan ekonomi terbesar terjadi pada sektor pertanian mencapai 2,27 %.
sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan merupakan kontributor utama yang memberikan peranan sebesar 39,10%. Selanjutnya diikuti oleh sektor industri 19,60%, sektor perdagangan, hotel dan restoran 15,18%, dan sektor bangunan 10,43%. Sedangkan sektor pengadaan air, pengelolaan sampah memiliki kontribusi sebesar 0,01%. PDRB Kabupaten Serdang Bedagai dapat dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 1.1 Tabel PDRB Kabupaten Serdang Bedagai Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku (Juta Rp).
No Lapangan Usaha 2016 2017* 2018**
1 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
8.736.860,4 9.420.278,6 10.095.384,9 2 Pertambangan dan Penggalian 210.544,5 218.522,8 234.522,8 3 Industri Pengolahan 4.280.224,6 4.743.853,3 5.072.844,9 4 Pengadaan Gas dan Listrik 16.618,7 18.488 19.987,2 5 Pengadaan Air, Pengadaan
Sampah, dan Daur Ulang
3.019,8 3.317,3 3.482,5
6 Kosntruksi 2.237.952 2.492.175,9 2.750.124,8
7 Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
3.378.708,3 3.656.727,1 4.013.890,8
8 Transportasi dan Pergudangan 213.868,3 228.491,6 238.885,7 9 Penyediaan Akomodasi Makan
dan Minum
669.315,2 721.851,6 770.388,3 10 Informasi dan Komunikasi 113.922,5 122.196,7 130.963,2 11 Jasa Keuangan dan Asuransi 128.409,6 138.260,9 143.959
12 Real Estate 628.531,4 682.616,1 747.096,3
13 Jasa Perusahaan 124.133,4 134.727,4 143.212,9
14 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan jaminan Sosial Wajib
736.251,9 812.081,9 867.907,2
15 Jasa Pendidikan 305.015.2 331.100,2 356.599,3
16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial
206.562,3 228.842,3 251.722
17 Jasa Lainnya 123.885,5 141.054,3 153.847,2
PDRB 22.113.823,6 24.094.586,1 25.994.818,9 Sumber : BPS Kabupaten Serdang Bedagai, 2019
Berdasarkan tabel 1.1 dapat diketahui bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar di dalam PDRB Serdang Bedagai. Pada tahun 2018 sektor tersebut memberikan kontribusi sebesar Rp.10.095.384,9 hal ini menunjukkan peningkatan di setiap tahunnya. Dengan meningkatnya jumlah PDRB di daerah Serdang Bedagai diharapkan kawasan ini mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Serdang Bedagai. Banyaknya jumlah masyarakat yang bekerja sebagai nelayan di Kabupaten Serdang Bedagai.
Menjadikan nelayan sebagai sumber utama penghasilan mereka, hal ini dapat
dilihat dari Tabel 1.2 berikut ini.
Tabel 1.2 Jumlah Nelayan di Kabupaten Serdang Bedagai Menurut Kecamatan, 2018.
Kecamatan Waktu penuh Sambilan Jumlah
Bandar Khalifah 525 649 1174
Tanjung Beringin 4585 873 5458
Sei Rampah 130 30 160
Teluk Mengkudu 2189 301 2490
Perbaungan 125 21 146
Pantai Cermin 1582 420 2002
Jumlah/Total 9136 2294 11457
Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Serdang Bedagai, 2019
Berdasarkan tabel 1.2 dapat diketahui bahwa Kecamatan Tanjung Beringin merupakan Kecamatan yang memiliki jumlah nelayan terbanyak di Kabupaten Serdang Bedagai yaitu sebanyak 5485 orang yang terdiri dari 4585 orang nelayan waktu penuh atau yang pekerjaan utama nya sebagai nelayan dan 873 orang nelayan sambilan, serta Kecamatan dengan jumlah nelayan paling sedikit yaitu Kecamatan Perbaungan sebanyak 146 orang, dan. Dengan total jumlah nelayan di Kabupaten Serdang Bedagai sebanyak 11.457 orang.
Dewasa ini banyak masyarakat yang belum memahami perbedaan perahu dan kapal sehingga mereka sering mengalami kesulitan dalam perizinan perahu atau kapal yang mereka miliki. Kesalahpahaman seperti ini sering terjadi sehingga banyak dampak yang diterima oleh nelayan lain seperti overfishing misalnya.
Perahu itu sendiri merupakan kendaraan air yang konstruksinya lebih sederhana yang memiliki ukuran dibawah 7 GT, sedangkan kapal merupakan kendaraan air yang konstruksinya rumit dan memiliki ukuran sekurang-kurangnya 7 GT. Jumlah perahu dan kapal bermotor di Kabupaten Serdang Bedagai dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1.3 Jumlah Perahu Tanpa Motor dan Perahu Bermotor di Kabupaten Serdang Bedagai Menurut Kecamatan, 2018.
No Kecamatan
Perahu tanpa motor
Perahu perahu Bermotor (GT Gross Tonage)
≤5 >5 Jumlah
1 Bandar Khalifah 25 150 - 175
2 Tanjung Beringin 15 120 328 463
3 Sei Rampah - 40 2 42
4 Teluk Mengkudu 10 730 50 790
5 Perbaungan 8 115 - 123
6 Pantai Cermin 12 1232 2 1244
Jumlah/total 70 2387 382 2837
Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Serdang Bedagai,2019
Berdasarkan tabel 1.3 dapat diketahui bahwa di Kabupaten Serdang Bedagai terdapat 2.837 buah Perahu yang terdiri dari perahu tanpa motor sebanyak 70 buah dan perahu bermotor sebanyak 2.769 buah. Jenis perahu bermotor kapasitas ≤5 GT merupakan jenis perahu terbanyak yaitu sebanyak 2.387 sedangkan untuk ˃5 GT sebanyak 382 buah.Tanjung Beringin adalah Kecamatan dengan perahu terbanyak ketiga setelah Kecamatan Pantai Cermin dan Kecamatan Teluk Mengkudu.
Berdasarkan kapasitas perahu yang dimiliki oleh nelayan diharapkan mampu meningkatkan pendapatan nelayan dengan cara menimalkan biaya-biaya yang dikeluarkan. Baik biaya tetap seperti biaya penyusutan perahu, biaya perawatan perahu, penyusutan jaring. Sedangkan biaya variabel seperti biaya bahan bakar, es batu sebagai bahan pengawet ikan, bahkan konsumsi serta rokok nelayan yang ikut melaut dalam perahu tersebut.
Selain semakin banyaknya jumlah masyarakat yang bekerja sebagai nelayan, banyaknya biaya yang dikeluarkan oleh nelayan juga membuat pendapatan
nelayan perahu motor 5 GT menjadi lebih sedikit. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan agar dapat diketahui berapa besarnya pendapatan dan biaya apa yang menyebabkan pendapatan nelayan menjadi sedikit ataukah ada faktor lainnya selain biaya.
1.2 Identifikasi Masalah
Adapun identifikasi masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Berapa biaya operasional nelayan buruh perahu motor kapasitas 5 GT?
2. Berapa penerimaan dan pendapatan nelayan buruh perahu motor kapasitas 5 GT?
3. Bagaimana kelayakan pendapatan nelayan buruh perahu motor kapasitas 5 GT?
4. Bagaimana tingkat kesejahteraan nelayan buruh perahu motor kapasitas 5 GT?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk menganalisis biaya operasional nelayan buruh perahu motor kapasitas 5 GT
2. Untuk menganalisis penerimaan dan pendapatan nelayan buruh perahu motor kapasitas 5 GT
3. Untuk menganalisis kelayakan pendapatan nelayan buruh perahu motor kapasitas 5 GT
4. Untuk menganalisis tingkat kesejahteraan nelayan buruh perahu motor kapasitas 5 GT
1.4 Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Sebagai bahan informasi bagi nelayan mengenai besarnya biaya operasional dan pendapatan nelayan buruh perahu motor kapasitas 5GT
2. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah dan instansi-instansi terkait dalam pengambilan kebijakan mengenai permasalahan jenis perahu nelayan.
3. Sebagai bahan informasi guna penelitian selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI,
KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN
2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Nelayan
Nelayan dapat didefinisikan sebagai orang atau komunitas orang yang secara keseluruhan atau sebahagian dari hidupnya tergantung dari kegiatan menangkap ikan (Widodo, 2006). Menurut Mulyadi (2005) yang dikatakan nelayan adalah orang yang secara aktif melakukan kegiatan menangkap ikan, baik secara langsung seperti penebar dan pemakai jaring maupun secara tidak langsung seperti juru mudi perahu layar, nahkoda kapal ikan bermotor, ahli mesin kapal, juru masak kapal penangkap ikan, sebagai matapencaharian.
Pengertian nelayan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang atau masyarakat yang mata pencarian utamanya adalah menangkap ikan.
Sedangkan menurut UU No.45 Tahun 2009 – Perikanan, nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan, sedangkan pada pasal 1 angka 11 nelayan kecil adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang menggunakan kapal perikanan berukuran paling besar 5 (lima) Gross Ton (GT)”.
Menurut Imron 2003 (dalam Mulyadi, 2005) nelayan adalah suatu kelompok masyarakat yang kehidupannya tergantung langsung pada hasil laut, baik dengan cara melakukan penangkapan ataupun budidaya. Mereka pada umumnya tinggal di pinggiran pantai, sebuah lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya.
Nelayan bukanlah suatu identitas tunggal, mereka terdiri dari beberapa kelompok.
Dilihat dari segi pemilikan alat tangkap, nelayan dapat di bedakan menjadi tiga kelompok yaitu nelayan buruh, nelayan juragan, dan nelayan perorangan. Nelayan buruh adalah nelayan yang bekerja dengan alat tangkap milik orang lain.
Sebaliknya nelayan juragan adalah nelayan yang memiliki alat tangkap yang dioperasikan oleh orang lain. Adapun nelayan perorangan adalah nelayan yang memiliki peralatan tangkap sendiri dan dalam pengoperasiannya tidak melibatkan orang lain (Mulyadi,2005).
Dalam kegiatan sehari-hari, nelayan lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sendiri, dalam arti bahwa hasil penangkapan yang dijual hanya untuk kebutuhan pokok sehari-hari khususnya pangan, sandang, dan bukan di investasikan kembali untuk pengembangan usaha, namun berbeda dengan nelayan modern yang sudah bisa menginvestasikan hasil usahanya karena jumlah produksi yang melimpah.
Nelayan kecil pada dasarnya berasal dari nelayan tradisional hanya saja dengan adanya program modernisasi/motorisasi perahu dan alat tangkap maka mereka tidak lagi semata-mata mengandalkan perahu tradisional maupun alat tangkap yang konvensional saja melainkan juga menggunakan diesel atau motor, sehingga jangkauan wilayah penangkapan agak meluas atau jauh.
Kegiatan usaha perikanan tangkap merupakan aktivitas ekonomi yang kompleks, karena melibatkan banyak pihak yang saling terkait secara fungsional dan substansional. Sekurang-kurangnnya pihak tersebut adalah (1) nelayan pemilik (perahu dan alat tangkap), (2) nelayan buruh (ABK), (3) pedagang ikan, (4) Pemilik toko, yang menjadi pemasok kebutuhan hidup nelayan atau kebutuhan
melaut seperti bahan bakar, jaring, lampu dll. Diantara mereka terikat oleh jaringan patron-klien karena mereka saling bergantung dan saling membutuhkan karena masing-masing pihak mempunyai sumber daya yang saling dipertukarkan dalam jaringan hubungan patron-klien. Jaringan patron-klien merupakan wadah atau sarana yang menyediakan sumber daya jaminan sosial secara tradisional untuk menjaga kelangsungan hidup nelayan. Kekuatan patron-klien ini dapat dilihat pada pola-pola relasi sosial antara (1) nelayan pemilik dengan nelayan buruh, (2) nelayan pemilik dengan penyedia modal (3) nelayan (Nelayan pemilik dan buruh) dengan pemilik toko guna memenuhi kebutuhan hidup nelayan.
Charles 2001 (dalam Widodo, 2006) Membagi kelompok nelayan dalam empat kelompok yaitu:
1. Nelayan subsisten (subsistence fishers), yaitu nelayan yang menangkap ikan hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri.
2. Nelayan asli (native/indigenous/aboriginal fishers), yaitu nelayan yang sedikit banyak memiliki karakter yang sama dengan kelompok pertama, namun memiliki juga hak untuk melakukan aktivitas secara komersial walaupun dalam skala yang sangat kecil.
3. Nelayan rekreasi (recreational/sport fishers), yaitu orang-orang yang secara prinsip melakukan kegiatan penangkapan hanya sekedar untuk kesenangan atau berolahraga.
4. Nelayan komersial (commercial fishers), yaitu mereka yang menangkap ikan untuk tujuan komersial atau dipasarkan baik untuk pasar domestic maupun pasar ekspor. Kelompok nelayan ini dibagi dua, yaitu nelayan skala kecil dan nelayan skala besar.
Di samping pembagian di atas, kita juga menemukan pembagian lainnya seperti daya jangkau armada perikanan dan juga lokasi penangkapan ikan. Dapat kita sebutkan misalnya nelayan pantai atau bisa disebut:
1. Perikanan pantai untuk usaha perikanan skala kecil dengan armada yang didominasi oleh perahu tanpa motor atau kapal motor tempel.
2. Perikanan untuk lepas pantai untuk perikanan dengan kapasitas perahu rata- rata 30 GT.
3. Perikanan samudera untuk kapal-kapal ukuran besar misalnya 100 GT dengan target perikanan tunggal seperti tuna.
2.2 LandasanTeori
2.2.1 Teori Biaya Produksi
Produksi merupakan kegiatan menambah kegunaan suatu benda atau menciptakan benda baru sehingga lebih bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan. Faktor produksi adalah semua korbanan yang diberikan pada tanaman sehingga tanaman mampu untuk tumbuh dan menghasilkan dengan baik. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi yaitu komoditi, luas lahan, tenaga kerja, modal, manajemen, iklim dan faktor sosial-ekonomi produsen (Soekartawi, 2005).
Dalam suatu usaha untuk menghasilkan suatu produk memerlukan biaya, yaitu seluruh korbanan dalam proses produksi, dinyatakan dalam uang menurut harga pasar yang berlaku. Pengorbanan adalah faktor-faktor yang digunakan sebagai input, dinilai dalam bentuk uang menurut harga pasar menjadi biaya produksi.
Biaya usahatani adalah semua pengeluaran yang dipergunakan dalam suatu usahatani. Biaya dalam usahatani dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu: biaya
tetap (fixed cost) adalah biaya yang relatif tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Sehingga biaya tetap ini tidak tergantung pada besar kecilnya produksi yang diperoleh. Biaya yang dikeluarkan yang tidak habis terpakai dalam satu kali periode produksi. Dan biaya tidak tetap (variable cost) adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh. Sehingga biaya ini sifatnya berubah-ubah tergantung dari besar kecilnya produksi yang diinginkan. Biaya yang dikeluarkan yang habis terpakai dalam satu kali periode produksi.
Untuk mengetahui berapa besar biaya produksi yang dikeluarkan dalam usahatani dengan melakukan perhitungan biaya yang dikeluarkan untuk masing-masing input. Untuk mengetahui total biaya yang dikeluarkan tersebut secara matematis dapat dihitung dengan memakai rumus sebagai berikut (Firdaus, 2007):
Dimana:
TC = Total Cost (total biaya yang dikeluarkan usaha penangkapan ikan) FC = Fixed Cost (biaya tetap yang dikeluarkan usaha penangkapan ikan) VC = Variabel Cost (biaya variabel yang dikeluarkan usaha penangkapan ikan)
2.2.2 Teori Penerimaan
Penerimaan dalam usahatani merupakan total produksi dikali harga produksi tersebut. Penerimaan tunai dalam usahatani merupakan nilai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani tidak mencakup pinjaman uang serta tidak dihitung nilai produk yang dikonsumsi sendiri (Soekartawi, 2011).
Analisis penerimaan digunakan untuk mengetahui besarnya penerimaan yang TC = FC + VC
diterima oleh nelayan yang menggunakan kapal motor 5 GT. Untuk mengetahui total penerimaan tersebut, secara matematik dapat dihitung dengan memakai rumus:
Dimana :
TR = total penerimaan yang didapat usaha penangkapan ikan (Rp) P = harga jual ikan (Rp)
Q = jumlah ikan hasil tangkapan (Kg)
2.2.3 Teori Pendapatan
Pendapatan usaha tangkap nelayan sangat berbeda dengan jenis usaha lainnya, seperti pedagang atau bahkan petani. Jika pedagang dapat mengkalkulasikan keuntungan yang diperolehnya setiap bulannya, begitu pula petani dapat dapat memprediksi hasil panennya, maka tidak demikian dengan nelayan yang kegiatannya penuh dengan ketidakpastian (uncertainty) serta bersifat spekulatif dan fluktuatif (Kusnadi, 2003).
Pendapatan ditentukan oleh kemampuan faktor-faktor produksi guna menghasilkan barang dan jasa. Semakin besar kemampuan faktor-faktor produksi menghasilkan barang dan jasa, semakin besar pula pendapatan yang diciptakan (Sukirno, 2004).
Pendapatan usaha nelayan merupakan selisih antara penerimaan (TR) dan semua biaya (TC). Jadi dapat dirumuskan Pd = TR –TC. Penerimaan usaha nelayan (TR) adalah perkalian antara produksi yang diproduksi yang diperoleh (Y) dengan harga jual. Biaya usaha nelayan biasanya diklasifikasikan menjadi dua, biaya tetap
TR = P x Q
dan biaya tidak tetap. Biaya tetap (FC) adalah biaya yang relatif tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diproduksi banyak atau sedikit.
Biaya variabel (VC) adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh. Contoh biaya untuk tenaga kerja. Total biaya (TC) adalah jumlah dari biaya tetap (FC) dan biaya variabel (VC), maka TC = FC + CV (Rahardja dan Manurung, 2006).
Menurut Soekartawi (2005) pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya, pendapatan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Dimana :
π = income (pendapatan didapat pada usaha penangkapanikan)
TR = total revenue (total penerimaan yang didapat usaha penangkapan ikan) TC = total cost (total biaya yang dikeluarkan usaha penangkapan ikan)
2.2.4 Analisis Kelayakan
Studi kelayakan adalah sebuah studi untuk mengkaji secara komprehensif dan mendalam terhadap kelayakan sebuah usaha. Layak atau tidak layak dijalankannya sebuah usaha merujuk pada hasil perbandingan semua faktor ekonomi yang akan dialokasikan ke dalam sebuah usaha atau bisnis baru dengan hasil pengembaliannya yang akan diperoleh dalam jangka waktu tertentu (Johan, 2011)
Analisis R/C
Menurut Suratiyah (2015), R/C adalah perbandingan antara penerimaan dengan
π
= TR - TCDimana :
R/C = return cost rasio usaha penangkapan ikan
TR = total penerimaan yang didapat usaha penangkapan ikan (Rp)
TC = total biaya yang dikeluarkan usaha penangkapan ikan (Rp)
Ada tiga kriteria dalam perhitungannya,yaitu:
a. Apabila R/C > 1 artinya usahatani tersebut menguntungkan.
b. Apabila R/C = 1 artinya usahatani tersebut impas.
c. Apabila R/C < 1 artinya usahatani tersebut rugi.
Analisis Tingkat Kesejahteraan
Data kuantitatif mengenai tingkat kesejahteraan nelayan dianalisis dengan memberikan skor terhadap indikator kesejahteraan nelayan yang terdiri dari indikator kesejahteraan menurut Badan Pusat Statistik Pusat (2015) dalam SUSENAS 2014 yang dimodifikasi. Modifikasi dilakukan dengan memasukkan kriteria perhitungan pendapatan menurut Mardiana tahun 2004 pada indikator pendapatan rumah tangga dengan standar upah Minimum Regional Kabupaten Serdang Bedagai dan standar Kebutuhan Fisik Minimum pada indikator pengeluaran rumah tangga yang didasarkan pada 9 bahan pokok dalam setahun.
a. Upah Minimum Regional (UMR)
Setiap daerah mempunyai UMR sendiri yang ditetapkan oleh Gubernur pada tingkat provinsi dan Bupati/Walikota pada tingkat Kabupaten/Kota. Untuk upah
R/C = 𝑝𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑎𝑛 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 (𝑇𝑅) 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 (𝑇𝐶)
minimum regional Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2020 adalah sebesar Rp.2.869.291,95 /bulan.
b. Kebutuhan Fisik Minimum (KFM)
Berdasarkan harga yang berlaku pada saat penelitian, jumlah sembilan bahan pokok dalam setahun adalah Rp. 3.804.100
c. BPS (Badan Pusat Statistik)
Aspek yang akan dijadikan indikator kesejahteraan nelayan buruh adalah sebagai berikut:
1. Pendapatan rumah tangga (Rp/bulan)
2. Konsumsi/Pengeluaran rumah tangga (Rp/bulan) 3. Keadaan tempat tinggal
4. Fasilitas tempat tinggal
5. Kesehatan anggota rumah tangga
6. Kemudahan pemanfaatan fasilitas tenaga kesehatan 7. Kualitas pendidikan anggota rumah tangga
8. Kemudahan memasukkan anak ke jenjang pendidikan 9. Rasa aman dari gangguan kejahatan
10. Kemudahan mengakses teknomogi informasi dan komunikasi.
2.3 Penelitian Terdahulu
Menurut penelitian Zuriat (2016) yang berjudul Analisis Pendapatan Nelayan pada Kapal Motor 5-10 Gt di Kabupaten Aceh Barat Daya. Dengan tujuan untuk mengetahui kehidupan nelayan dalam hal pendapatan dan kesejahteraan.Metode yang digunakan yaitu analisis deskriptif. Hasil analisis menunjukkan bahwa
dibawah standar Bank Dunia.
Menurut Deasy Yunawati (2008) yang berjudul Analisis Pendapatan dan Sistem Pembagian Hasil Nelayan Bermotor <5 Gt dan 5-9 Gt. Dengan tujuan untuk mengetahui sejauhmana perbandingan persentase bagi hasil nelayan toke dan nelayan buruh perahu bermotor <5 gt dan 5-9 GT di Kecamatan Datuk Bandar dan di Kecamatan Teluk Nibung. Untuk mengetahui perbandingan pendapatan antara nelayan toke dan nelayan buruh perahu bermotor <5 GT, untuk mengetahui perbandingan pendapatan antara nelayan toke dan nelayan buruh perahu bermotor 5-9 GT. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan toke dan nelayan buruh di daerah penelitian. Metode analisis yang digunakan adalah uji t-test dan analisis regresi linear berganda. Hasil analisis menyimpulkan bahwa rata-rata pendapatan nelayan toke kapal < 5 GT di Kecamatan Datuk Bandar adalah sebesar Rp.84,331,432, sedangkan pendapatan nelayan buruh kapal <5 GT di Kecamatan Datuk Bandar adalah sebesar Rp. 11,567,078.97. Rata- rata pendapatan nelayan toke kapal 5-9 GT di Kecamatan Datuk Bandar adalah sebesar Rp.135,846,712.92, sedangkan pendapatan nelayan buruh kapal 5- 9 GT di Kecamatan Datuk Bandar adalah sebesar Rp.14,561,660.49. Rata-rata pendapatan nelayan toke kapal < 5 GT di Kecamatan Teluk Nibung adalah sebesar Rp.72,188,096.84, sedangkan pendapatan nelayan buruh kapal <5 GT di Kecamatan Teluk Nibung adalah sebesar Rp. 9,335,947.72. Rata-rata pendapatan nelayan toke kapal 5-9 GT di Kecamatan Teluk Nibung adalah sebesar Rp.114,736,698.52, sedangkan pendapatan nelayan buruh kapal 5-9 GT di Kecamatan Teluk Nibung adalah sebesar Rp. 12,729,916.27. Pendapatan nelayan toke kapal <5 GT di Kecamatan Datuk Bandar lebih besar daripada pendapatan
nelayan toke kapal <5 GT di Kecamatan Teluk Nibung.Pendapatan nelayan buruh kapal <5 GT di Kecamatan Datuk Bandar lebih besar daripada pendapatan nelayan buruh kapal <5 GT di Kecamatan Teluk Nibung. Pendapatan nelayan toke kapal 5-9 GT di Kecamatan Datuk Bandar lebih besar daripada pendapatan nelayan toke kapal 5-9 GT di Kecamatan Teluk Nibung. Pendapatan nelayan buruh kapal 5-9 GT di Kecamatan Datuk Bandar lebih besar daripada pendapatan nelayan toke kapal 5-9 GT di Kecamatan Teluk Nibung. Secara serempak pengalaman nelayan toke, lama melaut, ukuran kapal, frekuensi melaut berpengaruh nyata terhadap pendapatan nelayan buruh.Secara serempak jumlah hasil tangkapan, frekuensi melaut, lama melaut dan jumlah tenaga kerja yang terdapat dalam satu kapal berpengaruh nyata terhadap pendapatan nelayan buruh.
Menurut Romelia J Hutajulu (2013) yang berjudul Analisis Usaha Penangkapan Ikan Studi Kasus Kecamatan Teluk Nibung Kota Tanjung Balai. Dengan tujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap jumlah hasil tangkapan ikan, dan untuk menganalisis perbedaan biaya operasional dan pendapatan nelayan kapal kapasitas 3-5 GT dengan kapal 6-10 GT di daerah penelitian. Metode yang digunakan yaitu analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa faktor yang berpengaruh nyata terhadap jumlah hasil tangkapan ikan adalah kapasitas kapal. Biaya operasional dan pendapatan bersih kapasitas 6-10 GT lebih tinggi dari biaya operasional dan pendapatan bersih kapasitas 3-5GT.
2.4 Kerangka Pemikiran
Usaha penangkapan ikan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat
yang dalam hal ini berprofesi sebagai nelayan buruh dalam menghidupi kebutuhan sehari-harinya. Untuk mendapatkan hasil tangkapan yang besar maka diperlukan juga input atau biaya yang besar seperti bahan bakar untuk perahu motor, es untuk hasil tangkapan serta biaya untuk konsumsi nelayan itu sendiri selama melaut.
Usaha penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan yang menggunakan perahu motor 5 GT di Desa Tebing Tinggi ini sendiri akan diketahui bagaimana karakteristik nelayan tersebut, berapa besar biaya operasional, penerimaan serta berapa besar pendapatan yang mereka peroleh.
Usaha Penangkapan Ikan
Penerimaan
Harga Jual
Total Biaya
Pendapatan Nelayan Buruh
Hasil Tangkapan
Analisis Kelayakan Nelayan Berdasarkan R/C
Layak Tidak Layak Nelayan Buruh Perahu
Kapasitas 5 GT
Kesejahteraan Nelayan Buruh
Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran Keterangan :
: menyatakan hubungan : menyatakan pengaruh
2.5 Hipotesis Penelitian
1. Nilai R/C pada pendapatan nelayan buruh perahu motor kapasitas 5 GT > 1
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Tebing Tinggi Kecamatan Tanjung Beringin Kabupaten Serdang Bedagai. Pemilihan daerah penelitian ini dilakukan dengan sengaja (Purposive) dengan pertimbangan bahwa Desa Tebing Tinggi merupakan desa yang masyarakatnya bekerja sebagai nelayan buruh dengan perahu motor berkapasitas 5 GT, desa ini memiliki tempat pelelangan ikan (TPI) sebagai sarana dan prasarana dalam memasarkan ikan dan juga merupakan sentra produksi ikan laut di Kabupaten Serdang Bedagai.
3.2 Metode Penentuan Sampel
Metode yang digunakan dalam penentuan sampel adalah metode Simple Random Sampling, yaitu suatu teknik penggambilan secara acak. Dimana setiap elemen
atau anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi sampel.
Jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu sebesar 30 orang.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini dengan kriteria sebagai berikut : 1. Nelayan buruh (ABK) yang menggunakan perahu bermotor 5 GT.
2. Nelayan buruh berasal dari perahu yang berbeda 3. Berusia minimal 19 Tahun
Menurut Baily dalam Hasan (2002), untuk penelitian yang menggunakan analisis statistik, ukuran sampel yang paling minimum adalah 30. Selanjutnya diperkuat oleh pendapat Gay dalam Hasan (2002), bahwa ukuran minimal sampel yang dapat diterima berdasarkan pada metode penelitian yang digunakan, dimana metode deskriptif kolerasional minimal sebanyak 30 sampel.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh peneliti melalui wawancara, observasi dan diskusi dengan nelayan buruh secara langsung dengan menggunakan kuesioner yang telah dipersiapkan.
Data sekunder diperoleh dari berbagai instansi yang terkait dengan penelitian ini, seperti Dinas Kelautan dan Perikanan Serdang Bedagai, Badan Pusat Statistik (BPS), Kantor Desa Tebing Tinggi, serta dari berbagai literature, jurnal, buku dan internet yang mendukung penelitian ini.
3.4 Metode Analisis Data
Untuk identifikasi masalah 1 yaitu menganalisis biaya operasional nelayan buruh dengan perahu motor 5 GT yaitu menggunakan rumus :
Dimana :
TC = total biaya yang dikeluarkan usaha penangkapan ikan (Rp) VC = biaya bergerak yang dikeluarkan usaha penangkapan ikan (Rp)
Untuk identifikasi masalah 2 yaitu menganalisis besarnya penerimaan dan pendapatan nelayan buruh dengan perahu motor 5 GT yaitu menggunakan sistem bagi hasil dengan rumus :
1. Total Penerimaan (Total Revenue)
2. Total Pendapatan Nelayan Buruh (ABK) : TC =VC
TR = P X Q
PNB = 60% (TR – TC) : n + 1
Dimana :
TR = total penerimaan yang didapat usaha penangkapan ikan (Rp) TC = total biaya yang dikeluarkan usaha penangkapan ikan (Rp) P = harga jual ikan (Rp)
Q = jumlah hasil tangkapan (Kg) PNB = pendapatan nelayan buruh (Rp) n = jumlah orang di dalam perahu
Untuk identifikasi masalah 3 yaitu menganalisis tingkat kelayakan pendapatan nelayan buruh perahu motor kapasitas 5 GT yaitu dengan menggunakan analisis R/C.
Dimana :
R/C = return cost rasio usaha penangkapan ikan
TR = total penerimaan yang didapat usaha penangkapan ikan (Rp) TC = total biaya yang dikeluarkan usaha penangkapan ikan (Rp)
Ada tiga kriteria dalam perhitungannya, yaitu:
a. Apabila R/C > 1 artinya usahatani tersebut menguntungkan.
b. Apabila R/C = 1 artinya usahatani tersebut impas.
c. Apabila R/C < 1 artinya usahatani tersebut rugi.
Untuk identifikasi masalah 4 yaitu menganalisis tingkat kesejahteraan nelayan buruh perahu motor 5 GT yaitu menggunakan sistem bagi hasil dengan rumus :
R/C = Penerimaan Total (TR ) Biaya Total (TC )
3.5 Definisi dan Batasan Operasional 3.5.1 Definisi
1. Nelayan adalah orang yang secara aktif melakukan kegiatan menangkap ikan di laut menggunakan perahu motor kapasitas 5 GT untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
2. Nelayan buruh adalah orang yang bekerja kepada pemilik perahu motor kapasitas 5 GT yang melakukan kegiatan menangkap ikan dilaut dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dan nelayan yang dimaksud adalah Nelayan buruh (ABK) yang menggunakan perahu bermotor 5 GT, berasal dari perahu yang berbeda dan berusia minimal 19 Tahun
3. Total biaya adalah jumlah seluruh biaya yang dikeluarkan nelayan buruh dalam satu bulan (Rp)
4. Biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan oleh nelayan buruh dalam satu bulan melaut seperti es batangan, solar, dan perbekalan yang digunakan (Rp) 5. Penerimaan adalah 60 % dari hasil tangkapan dibagi jumlah orang yang ada di
perahu ditambah 1 (Rp)
6. Pendapatan adalah hasil pengurangan dari penerimaan dan total biaya (Rp)
3.5.2 Batasan Operasional
1. Penelitian dilakukan di Desa Tebing Tinggi Kecamatan Tanjung Beringin Kabupaten Serdang Bedagai.
2. Sampel penelitian adalah nelayan buruh di Desa Tebing Tinggi 3. Waktu penelitian dilakukan pada tahun 2020.
BAB IV
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISKTIK SAMPEL 4.1 Deskripsi Daerah Penelitian
Penelitian ini dilakukan di sebuah desa bernama Tebing Tinggi. Desa Tebing Tinggi berada di Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Desa ini merupakan salah satu dari 8 desa yang berada di Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai. Desa Tebing Tinggi memiliki luas wilayah sebesar ± 164,8 Km2. Jarak tempuh Desa tebing Tinggi Ke pusat pemerintah Kecamatan sekitar 4 Km dan sekitar 10 Km Ke ibukota Kabupaten Serdang Bedagai.
Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai memiliki batas – batas wilayah sebagai berikut.
Sebelah Utara : Sungai Bedagai/ Desa Bagan Kuala Sebelah Selatan : Desa Pematang Cermai
Sebelah Timur : Desa Gelam Sei Sarimah Sebelah Barat : Desa Pekan Tanjung Beringin
Wilayah desa Tebing Tinggi termasuk dataran rendah dengan suhu rata-rata 30o C, yang memiliki ketinggian 7 mdpl, dengan curah hujan 2000 mm/tahun, musim kemarau berkisar antara Januari sampai dengan Agustus dan musim penghujan bulan September sampai dengan Desember.
4.1.1 Keadaan Penduduk
Penduduk Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin Kabupaten Serdang Bedagai berjumlah 4734 jiwa yaitu 2.115 jiwa laki-laki dan 2.619 jiwa
perempuan. Berdasarkan golongan umur penduduk Desa Tebing Tinggi dapat dilihat pada tabel 4.1 sebagai berikut :
Tabel 4.1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2019 No. Kelompok Umur
(Tahun)
Jumlah (Jiwa)
Persentase (%)
1 0-3 239 5,05
2 4-6 478 10,1
3 7-12 386 8,15
4 13-15 399 8.43
5 16-18 336 7,1
6 ≥ 19 2896 60,38
Total 4734 100
Sumber : Kantor Kepala Desa Tebing Tinggi, 2020
Berdasarkan tabel 4.1 bahwa jumlah penduduk Desa Tebing Tinggi pada tahun 2019 adalah sebesar 4734 jiwa. Penduduk dengan jumlah terbanyak yaitu penduduk dengan kelompok umur ≥ 19 tahun yaitu sebesar 60,38 % atau 2896 jiwa, sedangkan jumlah penduduk yang paling sedikit yaitu penduduk dengan kelompok umur 0-3 tahun yaitu sebesar 5,05 % atau 236 jiwa.
Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama Tahun 2019
No. Agama Jumlah (Jiwa) Persentase(%)
1 Islam 2763 58,37
2 Kristen 1629 34,41
3 Katholik 342 7,22
4 Hindu - -
5 Budha - -
Total 4734 100
Sumber : Kantor Kepala Desa Tebing Tinggi, 2020
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan bahwa penduduk Desa Tebing Tinggi pada tahun 2019 mayoritas masyarakat beragama islam yaitu sebesar 58,37 % atau 2763 jiwa. Sedangkan agama Kristen sebesar 34,41 % atau 1629 jiwa dan agama Katholik sebesar 7,22 % atau 342 jiwa.
Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Etnis/Suku Tahun 2019
No. Etnis/Suku Jumlah (Jiwa) Persentase(%)
1 Jawa 399 8,43
2 Melayu 1602 33,84
3 Simalungun 170 3,59
4 Toba 497 10,50
5 Mandailing 233 4,92
6 Banjar 284 6
7 Karo 174 3,68
8 Minangkabau 95 2
9 Nias 7 0,14
10 Pakpak 18 0,38
11 Aceh 224 4,73
12 Lainnya 13 0,27
Total 4734 100
Sumber : Kantor Kepala Desa Tebing Tinggi, 2020
Berdasarkan tabel 4.3 penduduk dengan etnis/suku terbanyak yaitu suku Melayu sebesar 33,84 % atau sebanyak 1602 jiwa sedangkan untuk penduduk dengan suku yang paling sedikit adalah suku Nias sebesar 0,14 % atau sebesar 7 jiwa.
Tabel 4.4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan Tahun 2019 No. Jenis Pekerjaan Jumlah (Jiwa) Persentase(%)
1 Belum/Tidak Bekerja 767 16,2
2 Mengurus Rumah Tangga 328 6,92
3 Pelajar/Mahasiswa 380 8,02
4 Pensiunan 28 0,59
5 TNI/POLRI/PNS 55 1,16
6 Karyawan Swasta 7 0,15
7 Karyawan BUMN 5 0,11
8 Pedagang/Wiraswasta 726 15,34
9 Petani/Buruh Tani 1589 33,57
10 Tukang 35 0,74
11 Nelayan 789 16,67
12 Lainnya 25 0,53
Total 4734 100
Sumber : Kantor Kepala Desa Tebing Tinggi, 2020
Berdasarkan tabel 4.4 penduduk dengan jenis pekerjaan petani/buruh tani yang merupakan jenis pekerjaan paling dominan di desa tebing Tinggi yaitu sebesar
sedikit yaitu penduduk dengan jenis pekerjaan Karyawan BUMN sebesar 0,11 % atau 5 jiwa.
4.1.2 Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang ada akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan pembangunan di suatu desa, semakin baik sarana dan prasarana maka dapat mempercepat laju perkembangan dan pembangunan di desa tersebut. Desa Tebing Tinggi memiliki berbagai sarana dan prasarana sebagai berikut:
Tabel 4.5 Sarana dan Prasarana di Desa Tebing Tinggi
No. Sarana dan Prasarana Jumlah (Unit) 1 Sarana Ibadah
- Masjid 2
- Mushola 6
- Gereja 9
2 Sarana Pendidikan
- PAUD 1
- Sekolah Dasar (SD) 3
- Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1
3 Tempat Pelelangan Ikan (TPI) 1
Sumber : Kantor Kepala Desa Tebing Tinggi, 2020
Berdasarkan tabel 4.5 ketersediaaan sarana dan prasarana di Desa Tebing Tinggi cukup baik, yaitu untuk sarana ibadah desa ini memiliki 2 unit masjid, 6 unit mushola serta 3 unit gereja. Untuk sarana dan pendidikan Desa Tebing Tinggi memiliki 1 unit PAUD, 3 unit Sekolah Dasar (SD) serta 1 unit Sekolah Menengah Pertama. Dan 1 unit tempat pelelangan ikan yang mampu menggerakkan ekonomi Desa Tebing Tinggi terutama untuk masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan.
4.2 Karakteristik Sampel penelitian
Sampel dalam penelitian ini adalah nelayan buruh, atau nelayan yang bekerja kepada pemilik perahu motor kapasitas 5 GT yang melakukan kegiatan
menangkap ikan di laut. Karakteristik sampel penelitian atau responden meliputi umur, pendidikan, jumlah tanggungan, pengalaman melaut, serta usaha lain yang dimiliki nelayan sampel. Berikut adalah karakteristik nelayan sampel.:
1. Umur Nelayan
Adapun kelompok umur nelayan sampel di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai dapat dilihat berdasarkan tabel 4.6 berikut ini:
Tabel 4.6 Nelayan Sampel Berdasarkan Kelompok Umur No. Kelompok Umur
(Tahun)
Jumlah (Jiwa)
Persentase (%)
1 20-30 8 26,7
2 31-40 7 23,3
3 41-50 9 30
4 51-60 4 13.3
5 61-69 2 6,7
Total 30 100
Sumber : Data Primer Diolah Dari Lampiran 1
Berdasarkan Tabel 4.6 dapat dilihat jumlah nelayan sampel terbanyak berada di kelompok umur 41-50 Tahun yaitu sebanyak 9 orang dengan persentase 30 % sedangkan untuk nelayan sampel paling sedikit berada di kelompok umur 61-69 yaitu sejumlah 2 orang dengan persentase 6,7 %.
2. Pengalaman Melaut
Adapun lama pengalaman melaut nelayan sampel di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai dapat dilihat berdasarkan tabel 4.7 berikut ini:
Tabel 4.7 Nelayan Sampel Berdasarkan Pengalaman Melaut No. Pengalaman Melaut
(Tahun)
Jumlah (Jiwa)
Persentase (%)
1 0-10 12 40
2 11-20 7 23,3
3 21-30 3 10
4 31-40 5 16,7
5 41-50 3 10
Total 30 100
Sumber :Data Primer Diolah Dari Lampiran 1
Berdasarkan tabel dapat dillihat bahwa jumlah nelayan sampel paling banyak berada dalam kelompok dengan pengalaman melaut 0-10 tahun yaitu sebanyak 12 orang dengan persentase sebesar 40 % dan jumlah nelayan sampel paling sedikit berada dalam kelompok dengan pengalaman melaut 21-30 tahun dan juga 41-50 tahun yaitu masing-masing sebanyak 3 orang dengan persentase 10 %.
3. Jumlah Tanggungan
Adapun jumlah anggota kelurga yang ditanggung oleh nelayan sampel di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai dapat dilihat berdasarkan tabel 4.8 berikut ini:
Tabel 4.8 Nelayan Sampel Berdasarkan Jumlah Tanggungan No. Jumlah Tanggungan
(jiwa)
Jumlah (Jiwa)
Persentase (%)
1 0 5 16,7
2 1-4 12 40
3 5-9 13 43,3
Total 30 100
Sumber : Data Primer Diolah Dari Lampiran 1, 2020
Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa jumlah nelayan sampel yang memiliki anggota keluarga yang ditanggung terbanyak yaitu rentang 5-9 orang sebanyak 13 orang dengan persentase 43,3%, sedangkan nelayan sampel yang tidak memiliki
4. Tingkat Pendidikan
Adapun tingkat pendidikan nelayan sampel di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai dapat dilihat berdasarkan tabel 4.9 berikut ini:
Tabel 4.9 Nelayan Sampel Berdasarkan Tingkat Pendidikan No. Tingkat Pendidikan
(jiwa)
Jumlah (Jiwa)
Persentase (%)
1 Tidak Tamat SD 3 10
2 SD 11 36,7
3 SMP 9 30
4 SMA 7 23,3
Total 30 100
Sumber : Data Primer Diolah Dari Lampiran 1, 2020
Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa nelayan sampel terbanyak yaitu dengan tingkat pendidikan SD sebanyak 11 orang dengan persentase 36,7 %, sedangkan untuk nelayan yang paling sedikit dengan tingkat pendidikan tidak tamat SD sebanyak 3 orang dengan persentase 10 %.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Biaya Operasional Nelayan Buruh Perahu Motor Kapasitas 5 GT
Biaya operasional adalah jumlah pengeluaran yang digunakan dalam usaha penangkapan ikan dihitung dalam rupiah perbulan. Biaya operasional dalam hal ini ditujukan kepada seluruh biaya yang dikeluarkan oleh nelayan buruh (ABK) perahu motor kapasitas 5 GT di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai.
Biaya operasional terdiri dari biaya variabel seperti bahan bakar, es batangan sebagai pengawet ikan, perbekalan seperti konsumsi serta rokok para nelayan.
Sedangkan biaya tetap dianggap Rp.0 karena seluruh biaya tetap ditanggung oleh nelayan toke, nelayan buruh mengeluarkan biaya hanya jika melaut. Biaya-biaya tersebut menjadi sangat mahal karena mereka membeli dengan cara berhutang kepada pedagang eceran di sekitar dengan memberikan sedikit uang jaminan.
Hutang akan dibayar setelah melaut dan mendapatkan hasil. Biaya rata-rata nelayan dalam satu bulan/19 trip dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 5.1 Rata-Rata Biaya Melaut Nelayan Buruh Dan Persentase Dalam Satu Bulan/19 Trip di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai.
No Uraian Jumlah (Rp) Persentase (%)
1 BBM 535,416 35,76
2 Es 261,167 17,44
3 Perbekalan 700,627 46,80
Jumlah 1,497,210 100
Sumber :Data Primer Diolah Dari Lampiran 2b, 2020
Berdasarkan tabel 5.1 dapat diketahui bahwa rata-rata biaya melaut nelayan buruh (ABK) di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai dalam satu bulan membutuhkan biaya sebesar Rp. 1,497,210
dimana biaya untuk perbekalan merupakan biaya paling besar yaitu Rp. 700,627 atau sebesar 46,80% dari total seluruh biaya sedangkan biaya paling sedikit yaitu biaya es sebagai bahan pengawet ikan sebesar Rp. 261,167 atau 17,44% dari total biaya nelayan buruh dalam satu bulan.
5.2. Penerimaan dan Pendapatan Nelayan Buruh Perahu Motor Kapasitas 5 GT
Produk yang dihasilkan oleh nelayan adalah hasil tangkapan berupa ikan kembung (gembung), ikan tenggiri, ikan dencis, ikan tongkol dan ikan selar. Ikan yang didapat dijual nelayan ke tempat pelelangan ikan (TPI) yang berada di desa Tebing Tinggi tersebut. Hasil tangkapan yang diperoleh nelayan bergantung pada musim ikan, serta kondisi cuaca dan angin.Apabila angin kencang, cuaca tidak bagus dan perahu nelayan rusak maka nelayan tidak melaut. Nelayan melaut dengan jarak tempuh sekitar 24-35 mil dengan waktu 24 jam (1 hari). Nelayan berangkat melaut sepanjang tahun dengan rata-rata frekuensi 19,43 per bulan dengan rentang 17 sampai 21 kali per bulannya.
Untuk menganalisis keuntungan nelayan buruh dalam satu bulan maka dilakukan perhitungan besarnya penerimaan dan pendapatan nelayan. Penerimaan nelayan merupakan hasil tangkapan nelayan dikali dengan harga jual, sedangkan pendapatan adalah total penerimaan dikurangi total biaya yang dikeluarkan.
Penerimaan serta pendapatan nelayan tergantung dari hasil tangkapan melaut nelayan, apabila tidak mendapatkan hasil maka nelayan akan merugi dan bahkan harus berhutang ke warung-warung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, tidak jarang nelayan mendapatkan hasil yang nihil ketika melaut. Rata-
Tabel 5.2 Rata-Rata Penerimaan Nelayan Buruh/Bulan/19 Trip di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai
No Jenis Ikan Hasil tangkapan (kg)
Harga (Rp)
Jumlah (Rp) I
2 3 4 5
Kembung Tenggiri Dencis Tongkol Selar
247 4 6 8 7
15.000 50.000 14.000 12.000 14.000
3,699,005 214450 79,576 92,444 100,870
Jumlah 4,186,345
Sumber :Data Primer Diolah Dari Lampiran 3b, 2020
Berdasarkan tabel 5.2 dapat diketahui penerimaan nelayan buruh perbulan sebesar Rp.4.185.741. Penerimaan paling besar bersumber dari jenis ikan gembung yang jumlah hasil tangkapannya paling banyak yaitu sebesar 88% dari total penerimaan.
Pendapatan nelayan buruh di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai meliputi total penerimaan setelah dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi atau penangkapan ikan dan meliputi sistem bagi hasil dengan juragan/pemilik kapal. Pendapatan nelayan berbeda-beda, pada nelayan toke atau juragan, nelayan tekong, dan nelayan buruh atau ABK. Pembagian hasil pada nelayan di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai yaitu 40% untuk nelayan toke atau juragan, untuk nelayan buruh tersisa 60% dibagi jumlah ABK +1 yang berada di dalam satu perahu tersebut. Untuk nelayan tekong atau nakhoda mendapatkan 2 bagian dari pendapatan nelayan buruh Meskipun bagian yang diterima oleh nelayan toke lebih banyak dibanding nelayan buruh, namun hasil bersih yang diterima oleh nelayan toke tidak sebanyak itu. Hal ini dikarenakan adanya beban tanggungan biaya untuk nelayan toke berupa biaya penyusutan alat tangkap dan
biaya tetap lainnya. Pendapatan nelayan buruh atau ABK merupakan pendapatan yang paling rendah, sehingga uang yang diterima mereka paling sedikit daripada pendapatan toke dan juga nelayan tekong. Rata-rata pendapatan nelayan buruh per bulan dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 5.3 Rata-Rata Pendapatan Nelayan Buruh/Bulan/19 Trip di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai.
No Uraian Rp/Bulan Rp/Tahun
1 Biaya 1.497.210 17.966.517
2 Penerimaan 4.186.345 50.228.901
3 Pendapatan 2.689.135 32.262.384
Sumber :Data Primer Diolah Dari Lampiran 2b, 4b, 5b, 2020
Berdasarkan tabel dapat diketahui bahwa pendapatan nelayan buruh di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai yaitu sebesar Rp. 2.689.135. Pendapatan ini lebih kecil sedikit dibanding dengan UMK Kabupaten Serdang Bedagai yaitu sebesar Rp. 2.869.291,95. Pendapatan nelayan buruh per bulan tersebut masih tergolong rendah jika dilihat dari banyaknya jumlah tanggungan nelayan buruh, namun dari beberapa nelayan buruh memiliki pekerjaan sampingan seperti buruh bangunan, buruh tani, pedagang serta pengolah ikan asin yang dapat membantu perekonomian rumah tangga nelayan.
5.3 Kelayakan Pendapatan Nelayan Buruh Perahu Motor Kapasitas 5 GT Lanjut tidaknya suatu usaha atau pekerjaan dapat diketahui dengan menghitung tingkat kelayakan suatu usaha atau pekerjaan tersebut. Kelayakan pendapatan nelayan buruh perahu motor kapasitas 5 GT per satu bulan dapat dihitung dengan rumus R/C (return cost ratio) atau dikenal dengan sebagai perbandingan atau nisbah antara penerimaan dan biaya. Adapun kelayakan pendapatan nelayan buruh perahu motor kapasitas 5 GT per bulan dapat dilihat pada tabel 5.4 berikut ini: