• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam dokumen OLEH WINA MEYLANI H (Halaman 71-87)

5.1. Perubahan Indikator Kemiskinan Mustahiq Setelah Mengikuti Program Ikhtiar

5.1.1. Karakteristik Demografi Responden

Data karakteristik demografi mustahiq anggota Program Ikhtiar yang menjadi responden pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 5.1.

Tabel 5.1. Karakteristik Demografi Responden Karakteristik

Berdasarkan Tabel 5.1, seluruh responden termasuk dalam kategori usia produktif, yaitu berusia antara 15-64 tahun. Sebagian besar responden berstatus menikah (86,75 persen) dengan jumlah tanggungan 0-3 orang sebanyak 33,3

persen, jumlah tanggungan 4-7 orang sebanyak 64,44 persen, dan jumlah tanggungan lebih dari 7 orang sebanyak 2,22 persen. Namun, di antara para responden tersebut, terdapat 13,33 persen yang berstatus sebagai janda sehingga mereka harus berjuang lebih keras sebagai kepala keluarga yang berkewajiban untuk menafkahi keluarganya.

Ditinjau dari aspek pendidikan, kondisi pendidikan responden tergolong memprihatinkan. Persentase responden yang tidak pernah bersekolah mencapai angka 11,11 persen, sedangkan responden yang pernah memasuki jenjang pendidikan SD namun tidak menamatkannya berjumlah 37,78 persen. Mayoritas responden merupakan lulusan SD, yaitu sebanyak 44,44 persen. Sementara itu, persentase responden yang tamat SLTP hanya 4,44 persen dan responden yang tamat SLTA hanya 2,22 persen. Rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan rendahnya pula wawasan dan skill yang dimiliki, sehingga kemampuan untuk berkompetisi di dunia kerja relatif kurang. Kondisi ini berpotensi menimbulkan pengangguran yang sangat rentan terhadap kemiskinan. Hal tersebut menunjukkan hubungan yang erat antara kemiskinan dengan tingkat pendidikan.

Seluruh responden pada penelitian ini adalah perempuan, karena seperti telah dijelaskannya sebelumnya bahwa sasaran Program Ikhtiar adalah kaum perempuan. Sebagian besar responden berstatus sebagai ibu rumah tangga dengan persentase sebesar 71,11 persen. Responden yang berstatus sebagai ibu rumah tangga tidak memiliki penghasilan sendiri, sehingga sangat tergantung pada penghasilan kepala keluarga (suami). Namun, di antara 45 orang responden tersebut, terdapat responden yang aktif bekerja sehingga bisa memiliki

penghasilan sendiri. Mereka mayoritas bekerja sebagai pedagang, jumlahnya adalah 15,56 persen. Sedangkan responden lainnya bekerja sebagai buruh (8,89 persen), petani (2,22 persen), dan jenis pekerjaan lainnya (2,22 persen).

5.1.2. Indikator Kemiskinan Mustahiq

Hasil pengolahan data pendapatan per kapita responden sebelum dan setelah adanya mengikuti Program Ikhtiar yang dianalisis menggunakan FGT Index dapat dilihat pada Tabel 5.2.

Tabel 5.2. Indeks Kemiskinan Mustahiq Sebelum dan Setelah Mengikuti Program Ikhtiar

Indeks Kemiskinan Sebelum Mengikuti Program Ikhtiar

Setelah Mengikuti Program Ikhtiar

H 0,49 0,44

P1 0,17 0,14

P2 0,09 0,06

Sumber: Lampiran 2, 3, dan 4.

a. Headcount Ratio (H)

Hasil pengolahan data pada Tabel 5.2 menunjukkan bahwa setelah mengikuti Program Ikhtiar, headcount ratio (H) mengalami penurunan dari 0,49 menjadi 0,44. Hal ini berarti jumlah mustahiq yang termasuk kategori miskin berkurang dari 49 persen menjadi 44 persen setelah adanya pendistribusian ZIS melalui Program Ikhtiar. Menurunnya nilai H tidak terlepas dari pengaruh peningkatan pendapatan mustahiq setelah mengikuti program Ikhtiar. Berdasarkan penelitian, sebanyak 64,44 persen mustahiq yang menjadi responden mengalami peningkatan pendapatan setelah mereka mengikuti Program Ikhtiar (lampiran 1).

Meski demikian, tidak semua mustahiq yang mengalami peningkatan pendapatan tersebut mampu keluar dari garis kemiskinan. Hal ini antara lain disebabkan oleh banyaknya jumlah tanggungan pada keluarga mustahiq. Semakin banyak jumlah tanggungan, maka pendapatan per kapita akan semakin rendah.

Jadi, walaupun mustahiq anggota Program Ikhtiar ini telah mengalami peningkatan pendapatan, mereka tidak bisa keluar dari garis kemiskinan apabila peningkatan pendapatan tersebut tidak sebanding dengan jumlah orang yang menjadi tanggungannya.

Sebagai contoh kasus, pada penelitian ini terdapat seorang responden yang memiliki jumlah tanggungan sebanyak tujuh orang. Setelah mengikuti Program Ikhtiar, pendapatan rumah tangga responden tersebut meningkat sebesar 75 persen, yaitu dari Rp 600.000,00 menjadi Rp 1.050.000,00. Namun, banyaknya jumlah tanggungan yang dimiliki menyebabkan peningkatan pendapatan rumah tangga responden tersebut tidak signifikan untuk meningkatkan pendapatan per kapita anggota keluarganya. Hal ini menyebabkan anggota keluarga mustahiq tersebut masih tetap berada di bawah garis kemiskinan.

Meskipun sebagian besar mustahiq, yaitu sebanyak 64,44 persen mengalami peningkatan pendapatan setelah mereka mendapatkan bantuan berupa pinjaman modal kerja melalui Program Ikhtiar, namun .pada penelitian ini terdapat mustahiq yang pendapatannya tidak mengalami perubahan, bahkan ada pula yang pendapatanya justru menurun. Persentase mustahiq yang pendapatannya tidak berubah adalah 24,44 persen. Sedangkan mustahiq yang pendapatannya justru menurun berjumlah 11,11 persen (lampiran 1). Faktor-faktor yang menyebabkan

pendapatan mustahiq tersebut tidak berubah atau bahkan justru menurun diantaranya adalah:

1) Faktor internal keluarga

Faktor internal keluarga maksudnya adalah kondisi keluarga mustahiq yang berpengaruh terhadap tingkat pendapatan responden. Misalnya, mustahiq yang mengalami perceraian/suami mustahiq meninggal dunia. Karena sumber utama pendapatan yang sebelumnya berasal dari suami sudah tidak ada, maka mereka dituntut untuk bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Dengan latar belakang pendidikan yang rendah dan skill seadanya, tidak banyak lapangan kerja yang dapat mereka masuki, sehingga sebagian ada yang terpaksa harus menjadi buruh untuk memperoleh penghasilan. Contoh lain adalah mustahiq yang berhenti bekerja dengan pertimbangan kewajibannya sebagai seorang ibu. Hasil wawancara di lapangan menunjukkan bahwa terdapat mustahiq yang memilih berhenti bekerja karena harus mengurus anaknya yang masih balita. Hal ini menyebabkan pendapatan keluarga mustahiq berkurang karena hanya suaminya yang bekerja.

2) Besarnya pembiayaan

Responden yang tingkat pendapatannya tidak berubah setelah mendapatkan bantuan modal usaha produktif menyatakan bahwa jumlah pinjaman/pembiayaan yang mereka terima relatif kecil sehingga tidak berpengaruh terhadap tingkat pendapatan. Hasil survei di lapangan menunjukkan bahwa plafon pinjaman responden masih berkisar antara Rp

200 ribu–Rp 2,5 juta, namun mayoritas plafon pinjaman masih berada antara Rp 200 ribu-Rp 600 ribu. Menurut pihak pelaksana Program Ikhtiar, perkembangan perekonomian anggota Program Ikhtiar di Desa Ciaruteun Ilir memang tergolong lambat dibanding perkembangan anggota di daerah-daerah lain. Para TPL dan fasilitaor wilayah bahkan harus gencar memberikan motivasi pada angggota agar mereka mau mengajukan pembiayaan untuk modal usaha. Hal ini merupakan salah satu penyebab lambatnya perkembangan perekonomian anggota Program Ikhtiar di Desa Ciaruteun Ilir yang diindikasikan oleh relatif rendahnya plafon pinjaman anggota.

b. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1)

Indeks kedalaman kemiskinan mustahiq mengalami penurunan dari 0,17 menjadi 0,14 setelah mustahiq mengikuti Program Ikhtiar. Penurunan nilai indeks kedalaman kemiskinan ini mengindikasikan bahwa rata-rata pendapatan mustahiq cenderung semakin mendekati garis kemiskinan, sehingga kesenjangan antara pendapatan mustahiq dengan garis kemiskinan semakin berkurang.

Berdasarkan hasil penelitian, pada awalnya rata-rata pendapatan per kapita mustahiq yang termasuk dalam kategori miskin adalah Rp 100.681,82. Namun setelah mengikuti Program Ikhtiar, rata-rata pendapatan per kapita tersebut kemudian meningkat 35,91 persen menjadi Rp 136.833,33 (lampiran 2 dan 3).

c. Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)

Pada Tabel 5.2 dapat dilihat bahwa nilai indeks keparahan kemiskinan mustahiq sebelum mengikuti Program Ikhtiar adalah 0,09. Sedangkan setelah

mengikuti Program Ikhtiar, nilai indeks P2 menurun menjadi 0,06. Hal ini menunjukkan bahwa pendistribusian ZIS untuk modal kerja dapat mengurangi ketimpangan pendapatan di antara mustahiq, sehingga distribusi pendapatan di antara mereka relatif lebih merata dibanding dengan kondisi sebelum adanya program pendistribusian ZIS sebagai modal kerja melalui Program Ikhtiar.

Penurunan indeks keparahan kemiskinan ini disebabkan terbukanya akses para mustahiq untuk memperoleh dana, karena sebelumnya mereka tidak mampu mengakses pinjaman dana dari lembaga keuangan formal dan komersil untuk modal usahanya. Dengan adanya Program Ikhtiar yang mendistribusikan dana ZIS untuk membantu modal usaha mustahiq, akses mereka terhadap sumber dana yang mereka perlukan untuk modal usaha telah terbuka. Beban mustahiq juga menjadi lebih ringan, karena pada pinjaman pertama, akad yang digunakan adalah qardhul hasan (pinjaman kebaikan), sehingga para mustahiq hanya perlu mengembalikan pokok pinjaman tanpa harus memberikan bagi hasil atau magrin. Hal tersebut dapat menambah motivasi para mustahiq untuk melakukan usaha/bekerja, sehingga mereka dapat memperoleh penghasilan secara mandiri dan distribusi pendapatan di antara mereka cenderung menjadi lebih merata dibandingkan dengan kondisi sebelum mereka mendapatkan bantuan berupa pinjaman modal kerja melalui Program Ikhtiar.

5.2. Pengaruh Program Ikhtiar terhadap Pendapatan Per Kapita Mustahiq 5.2.1. Evalusi Model

Hasil estimasi model persamaan pendapatan per kapita mustahiq yang diolah dengan menggunakan program E-views 6 dapat dilihat pada Tabel 5.3.

Tabel 5.3. Hasil Estimasi Model Pendapatan Per Kapita Mustahiq Dependent variabel: YKAP

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 209710,4 90642,04 2,313611 0,0265

Berdasarkan hasil estimasi tersebut, maka diperoleh model persamaan pendapatan per kapita mustahiq sebagai berikut:

YKAP = 209710,4 + 0,000963*M + 5264,729*PYD + 0,311208*PUB – 74474,02*TG + 137283,0*DK + 48790,19*DP1 + 53667,35*DP2 – 19526,90*DP3

a. Uji Kriteria Statistik 1) Uji-F

Hasil uji-F menunjukkan bahwa nilai probabilitas F-statistik adalah 0,00000; lebih kecil daripada taraf nyata yang digunakan, yaitu = 1 persen. Jadi,

dapat diambil kesimpulan bahwa pada model persamaan pendapatan per kapita mustahiq tersebut minimal terdapat satu variabel bebas yang dapat menjelaskan keragaman yang terjadi pada pendapatan per kapita mustahiq pada taraf nyata 1 persen.

2) Uji Koefisien Determinasi

Berdasarkan Tabel 5.3, nilai adjusted R-squared pada persamaan model pendapatan per kapita mustahiq adalah 0,7059. Artinya, model tersebut dapat menjelaskan 70,59 persen keragaman yang terjadi pada pendapatan per kapita mustahiq, sedangkan sisanya sebesar 29,41 persen dijelaskan oleh variabel-variabel lain di luar model.

3) Uji-t

Uji-t dilakukan untuk mengetahui variabel-variabel bebas mana yang memiliki pengaruh nyata terhadap variabel tak bebas. Hasil uji-t menunjukkan bahwa pada model persamaan pendapatan per kapita mustahiq, variabel-variabel yang secara signifikan mempengaruhi pendapatan per kapita mustahiq pada taraf nyata 1 persen adalah pendapatan usaha yang menggunakan dana dari Program Ikhtiar (PUB), jumlah tanggungan (Tg), dan variabel dummy keaktifan bekerja mustahiq (DK). Hal ini dapat dilihat dari nilai probabilitas t-statistik ketiga variabel tersebut yang lebih kecil daripada taraf nyata yang digunakan. Sedangkan variabel besarnya modal kerja yang diterima dari Program Ikhtiar (M), banyaknya mustahiq melakukan pembiayaan (PYD), dan variabel dummy tingkat pendidikan mustahiq (DP1, DP2, dan DP3) dapat disimpulkan tidak memiliki pengaruh yang

signifikan terhadap pendapatan per kapita mustahiq karena probabilitas t-statistik pada kedua variabel tersebut lebih besar dari 1 persen.

b. Uji Kriteria Ekonometrik 1) Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas dilakukan dengan menggunakan correlation matrix.

Masalah multikolinearitas terjadi apabila terdapat nilai koefisien korelasi antarvariabel bebas yang bernilai lebih besar dari 0,80 . Matriks korelasi persamaan model pendapatan per kapita mustahiq dapat dilihat pada Tabel 5.4.

Tabel 5.4. Hasil Uji Multikolinearitas

Sumber: Lampiran 6.

Berdasarkan Tabel 5.4, dapat disimpulkan bahwa model persamaan permintaan per kapita mustahiq terbebas dari masalah multikolinearitas. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien korelasi antarvariabel bebas yang lebih kecil dari 0,80 .

2) Uji Heteroskedastisitas

Pada penelitian ini, uji heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan White Heteroskedasticity Test. Hasil uji heteroskedastisitas tersebut dapat dilihat pada Tabel 5.5.

YKAP M PYD PUB TG DK DP1 DP2 DP3

YKAP 1.000000 0.316982 0.071362 0.618437 -0.313816 0.366676 0.139080 -0.056878 0.043248 M 0.316982 1.000000 0.581969 0.362356 0.119714 0.230325 -0.050528 -0.006412 0.116541 PYD 0.071362 0.581969 1.000000 0.191422 0.208494 -0.008886 -0.162103 0.019543 0.081967 PUB 0.618437 0.362356 0.191422 1.000000 0.322709 -0.135400 -0.140358 -0.132540 0.124402 TG -0.313816 0.119714 0.208494 0.322709 1.000000 -0.404773 -0.279934 0.014594 0.010202 DK 0.366676 0.230325 -0.008886 -0.135400 -0.404773 1.000000 0.120595 0.100452 -0.096088 DP1 0.139080 -0.050528 -0.162103 -0.140358 -0.279934 0.120595 1.000000 -0.192897 -0.134840 DP2 -0.056878 -0.006412 0.019543 -0.132540 0.014594 0.100452 -0.192897 1.000000 -0.032513 DP3 0.043248 0.116541 0.081967 0.124402 0.010202 -0.096088 -0.134840 -0.032513 1.000000

Tabel 5.5. Hasil Uji Heteroskedastisitas Heteroskedasticity Test: White

F-statistic 14.08068 Probability 0.0000

Obs*R-squared 43.24501 Probability 0.0330

Sumber: Lampiran 6.

Pada Tabel 5.5 dapat dilihat bahwa nilai probabilitas Obs*Squared adalah 0,0330. Hal ini menunjukkan bahwa pada persamaan pendapatan per kapita mustahiq tidak terdapat masalah heteroskedastisitas karena nilai probabilitas Obs*R-squared yang lebih besar dari taraf nyata 1 persen.

5.2.2 Interpretasi Model

a. Besarnya Pembiayaan untuk Modal Kerja (M)

Berdasarkan hasil estimasi model, pada taraf nyata 1 persen, besarnya pembiayaan untuk modal kerja tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan per kapita mustahiq. Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa besarnya pembiayaan untuk modal kerja memiliki pengaruh yang signifikan dan positif terhadap pendapatan per kapita mustahiq.

Ketidaksesuaian antara hipotesis awal dengan hasil estimasi ini diduga terjadi karena modal yang diterima mustahiq relatif kecil sehingga tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan mereka. Besarnya pinjaman modal yang diterima belum cukup untuk meningkatkan skala usaha mustahiq yang akan menyebabkan pendapatan mereka turut meningkat. Meski demikian, para mustahiq mengaku bahwa modal tersebut sangat bermanfaat untuk mempertahankan kelangsungan usaha yang menjadi sumber mata pencaharian

bagi keluarga mereka. Besarnya plafon pembiayaan terakhir yang diterima mustahiq berkisar antara Rp 200 ribu-Rp 2,5 juta. Data sebaran plafon pembiayaan produktif mustahiq yang menjadi responden pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 5.6.

Tabel 5.6. Komposisi Mustahiq Berdasarkan Plafon Pembiayaan Produktif No Plafon Pembiayaan (Rp) Jumlah Mustahiq (Jiwa) Persentase (Persen)

1 200.000 4 8,89

2 400.000 3 6,67

3 500.000 10 22,22

4 600.000 8 17,78

5 700.000 1 2,22

6 800.000 6 13,33

7 1.000.000 11 24,44

8 1.200.000 1 2,22

9 2.500.000 1 2,22

Berdasarkan Tabel 5.6, plafon pembiyaan produktif yang diterima mustahiq sebagian besar masih berkisar antara Rp 200 ribu-Rp 600 ribu, jumlahnya yaitu 55,56 persen. Dengan kata lain, lebih dari separuh mustahiq, plafon pembiayaannya masih berada di antara Rp 200 ribu-Rp 600 ribu. Meski demikian, lembaga pelaksana Program Ikhtiar tidak dapat serta-merta meningkatkan jumlah plafon pembiayaan untuk para mustahiq karena peningkatan plafon pembiayaan memang dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan potensi ekonomi, disiplin kehadiran, disiplin angsuran, disiplin tabungan, dan kesepakatan tanggung renteng oleh anggota lainnya. Pada penelitian ini, mustahiq yang telah mendapatkan plafon pembiayaan mencapai Rp 1 juta adalah sebanyak 24,44 persen, sedangkan mustahiq yang mendapatkan plafon pembiayaan Rp 1,2 juta dan Rp 2,5 juta jumlahnya masing-masing hanya 2,22 persen.

Selain relatif kecilnya jumlah pembiayaan yang diterima, faktor lain yang membuat besarnya modal yang diterima menjadi tidak signifikan terhadap pendapatan per kapita mustahiq adalah terjadinya penyalahgunaan alokasi dana pembiayaan yang diperoleh. Berdasarkan hasil wawancara, terdapat beberapa mustahiq yang tidak sepenuhnya menggunakan pembiayaan produktif dari Program Ikhtiar untuk modal usaha, walaupun dalam akad telah dinyatakan bahwa dana tersebut akan digunakan untuk modal. Dana yang seharusnya digunakan sebagai modal usaha agar pendapatannya bisa meningkat justru digunakan mustahiq untuk memenuhi kebutuhan konsumtif mereka, sehingga adanya pembiayaan yang diterima tidak berdampak signifikan terhadap pendapatan.

b. Banyaknya Mustahiq Melakukan Pembiayaan (PYD)

Berdasarkan hasil estimasi, banyaknya mustahiq melakukan pembiayaan (PYD) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan per kapita mustahiq pada taraf nyata 1 persen. Hasil tersebut tidak sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa banyaknya mustahiq melakukan pembiayaan memiliki pengaruh yang signifikan dan positif terhadap pendapatan per kapita mustahiq.

Berdasarkan hasil wawancara, pembiayaan yang dilakukan mustahiq selama mereka menjadi anggota Program Ikhtiar (2006-2009) berkisar antara 1-5 kali.

Namun, tidak semua pembiayaan yang diterima mustahiq ditujukan untuk kegiatan produktif. Beberapa mustahiq lebih cenderung untuk memenuhi kebutuhan konsumtif terlebih dahulu, sehingga pengajuan pembiayaan pada

periode awal mereka mengikuti Program Ikhtiar lebih ditujukan untuk kegiatan konsumtif, misalnya perbaikan rumah, pemasangan listrik, biaya pendidikan anak, dan lain-lain. Hal ini menyebabkan banyaknya mustahiq melakukan pembiayaan tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatannya.

c. Pendapatan Usaha yang Menggunakan Modal dari Program Ikhtiar (PUB)

Sesuai dengan hipotesis penelitian, pendapatan usaha mustahiq yang menggunakan modal dari Program Ikhtiar (PUB) memiliki pengaruh yang signifikan dan positif terhadap pendapatan per kapita mustahiq pada taraf nyata 1 persen. Hasil wawancara di lapangan menunjukkan bahwa dana yang berasal dari pembiayaan produktif yang diterima mustahiq digunakan sebagai modal pada usaha yang merupakan sumber mata pencaharian utama bagi keluarga mustahiq.

Meski besarnya modal yang diperoleh tidak cukup signifikan untuk meningkatkan pendapatan per kapita mustahiq, namun modal tersebut telah membantu para mustahiq untuk menjaga kelangsungan usahanya.

Berdasarkan hasil estimasi diperoleh nilai koefisien PUB sebesar 0,3112.

Artinya, apabila terjadi peningkatan sebesar 1 rupiah pada pendapatan usaha mustahiq yang menggunakan dana dari Program Ikhtiar, maka pendapatan per kapita mustahiq akan meningkat sebesar 0,3112 rupiah atau dengan kata lain, jika terjadi peningkatan pendapatan usaha mustahiq yang menggunakan dana dari Program Ikhtiar sebesar Rp 100.000,00; maka pendapatan per kapita mustahiq akan meningkat sebesar Rp 31.120,00; cateris paribus.

d. Jumlah Tanggungan Mustahiq (Tg)

Jumlah tanggungan yang menjadi beban mustahiq (Tg) berpengaruh signifikan dengan arah yang negatif terhadap pendapatan per kapita mustahiq pada taraf nyata 1 persen. Nilai koefisien variabel Tg yang diperoleh adalah sebesar 74474,02. Artinya, apabila terjadi penambahan jumlah tanggungan mustahiq sebanyak 1 jiwa, maka pendapatan per kapita mustahiq tersebut akan mengalami penurunan sebesar Rp 74.474,02; cateris paribus.

Hasil estimasi ini sesuai dengan hipotesis penelitian. Semakin banyak jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan mustahiq, maka pendapatan per kapita mustahiq akan semakin kecil. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil wawancara, mayoritas jumlah tanggungan mustahiq adalah antara 4-7 orang, persentasenya adalah 64,44 persen. Sedangkan mustahiq yang memiliki jumlah tanggungan antara 0-3 orang berjumlah 33,33 persen dan mustahiq dengan jumlah tanggungan lebih dari 7 orang berjumlah 2,22 persen.

e. Variabel Dummy Keaktifan Bekerja Mustahiq (DK)

Variabel dummy keaktifan bekerja mustahiq digunakan untuk melihat pengaruh jika para mustahiq yang merupakan ibu rumah tangga ini turut aktif bekerja agar dapat memperoleh tambahan penghasilan untuk keluarganya. Sesuai dengan hipotesis penelitian, hasil estimasi pada model menunjukkan bahwa DK berpengaruh secara signifikan dan positif terhadap pendapatan per kapita mustahiq pada taraf nyata 1 persen. Hal tersebut berarti apabila para ibu rumah tangga yang merupakan mustahiq dalam Program Ikhtiar tersebut ikut aktif

bekerja, maka pendapatan per kapitanya akan lebih tinggi dibanding pendapatan per kapita mustahiq yang hanya menjadi ibu rumah tangga, cateris paribus.

Berdasarkan hasil wawancara, jumlah responden yang ikut aktif bekerja masih tergolong sedikit, yaitu hanya 28,89 persen. Jenis usaha yang ditekuni sebagian besar dari mereka adalah usaha dagang dengan membuka warung di rumahnya. Dengan demikian, mereka bisa memperoleh penghasilan tambahan dari berjualan tanpa mengabaikan tugasnya dalam mengurus rumah dan keluarga.

f. Variabel Dummy Tingkat Pendidikan Mustahiq (DP)

Variabel dummy tingkat pendidikan mustahiq digunakan untuk melihat pengaruh tingkat pendidikan mustahiq terhadap tingkat pendapatan per kapita mustahiq. Berdasarkan hasil estimasi, tingkat pendidikan mustahiq tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan per kapita mustahiq pada taraf nyata 1 persen. Artinya, tidak ada perbedaan pendapatan per kapita yang nyata pada responden yang memiliki tingkat pendidikan SD (DP1), SLTP (DP2), SLTA (DP3), dan mustahiq yang tidak tamat SD atau tidak pernah sekolah.

Hal ini terjadi karena tingkat pendidikan mustahiq tidak signifikan mempengaruhi jenis pekerjaan mustahiq. Jadi, walaupun tingkat pendidikan mustahiq berbeda-beda, jenis pekerjaan yang mereka tekuni hampir sama sehingga tidak berpengaruh terhadap pendapatan per kapita mereka. Berdasarkan hasil wawancara, tingkat pendidikan mustahiq sebagian besar adalah SD (44,44 persen). Mustahiq yang tamat SLTP hanya 4,44 persen dan tamat SLTA hanya 2,22 persen. Sedangkan sisanya, 37,78 persen tidak tamat SD dan 11,11 persen bahkan tidak pernah sekolah.

Dalam dokumen OLEH WINA MEYLANI H (Halaman 71-87)

Dokumen terkait