• Tidak ada hasil yang ditemukan

OLEH WINA MEYLANI H

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "OLEH WINA MEYLANI H"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor)

OLEH WINA MEYLANI

H14050860

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

(2)

Shadaqah sebagai Modal Kerja terhadap Indikator Kemiskinan dan Pendapatan Mustahiq (Studi Kasus: Program Ikhtiar di Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor). Dibimbing oleh JAENAL EFFENDI.

Kemiskinan merupakan masalah fundamental yang tengah dihadapi oleh seluruh bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah kemiskinan tersebut adalah melakukan pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat miskin. Mengingat bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, maka peluang untuk melakukan upaya pengentasan kemiskinan dengan menggunakan dana Zakat, Infaq, dan Shadaqah (ZIS) terbuka lebar. Program Ikhtiar merupakan salah satu program pengentasan kemiskinan dengan memanfaatkan dana ZIS yang dilakukan oleh Lembaga Amil Zakat (LAZ) Baytul Maal (BM) Bogor, Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Mustadh’afin (Peramu), dan Koperasi Baytul Ikhtiar (BAIK).

Program Ikhtiar adalah program pendayagunaan ZIS yang dilakukan melalui pemberdayaan berbasis komunitas dengan mekanisme kelompok dan ditujukan secara khusus bagi kaum perempuan. Sejak pertama kali dijalankan pada tahun 1999, dana ZIS yang digulirkan hingga tahun 2008 telah mencapai Rp 7,353 milyar yang disalurkan kepada 5.115 orang anggota. Meski terus mengalami pertumbuhan yang pesat, baik dari sisi penyaluran dana maupun jumlah anggota, namun upaya pemberdayaan ekonomi yang dilakukan melalui Program Ikhtiar belum dapat dikatakan berhasil apabila tidak terjadi perubahan pada indikator kemiskinan para anggotanya. Perubahan indikator kemiskinan tersebut antara lain dicerminkan oleh tingkat pendapatan anggota setelah mengikuti Program Ikhtiar.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pelaksanaan Program Ikhtiar terhadap indikator kemiskinan dan pendapatan per kapita mustahiq (penerima zakat). Penelitian dilakukan dengan mengambil studi kasus pada salah satu wilayah tempat dilaksanakannya program Ikhtiar, yaitu di desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Pada desa tersebut, diambil 45 orang responden sebagai sampel penelitian. Responden adalah para mustahiq anggota Program Ikhtiar yang menggunakan pembiayaan terakhirnya dalam Program Ikhtiar untuk modal kerja.

Indikator kemiskinan mustahiq dianalisis dengan menggunakan FGT Index yang terdiri dari headcount ratio (H) yang menggambarkan persentase orang miskin dalam suatu populasi yang diobservasi, indeks kedalaman kemiskinan/poverty depth index (P1) yang menggambarkan kesenjangan antara pendapatan orang miskin dengan garis kemiskinan, dan indeks keparahan kemiskinan/poverty severity index (P2) yang menggambarkan distribusi pendapatan di antara orang miskin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai H, P1, dan P2 mengalami penurunan setelah mustahiq mengikuti Program Ikhtiar.

(3)

menggunakan dana dari Program Ikhtiar dan variabel dummy keaktifan bekerja mustahiq. Oleh karena itu, Yayasan Peramu sebagai salah satu lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan Program Ikhtiar khususnya dalam hal pembinaan dan pendampingan anggota perlu melakukan pelatihan-pelatihan kewirausahaan yang disesuaikan dengan potensi mustahiq dan lingkungannya. Pelatihan ini diperlukan untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan wirausaha mustahiq, apalagi jika mengingat tingkat pendidikan mustahiq tergolong rendah dan tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan per kapita mustahiq.

Besarnya modal/pembiayaan yang diterima dan banyaknya mustahiq melakukan pembiayaan melalui Program Ikhtiar tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap pendapatan per kapita mustahiq. Hal ini karena modal yang didapatkan mustahiq tergolong relatif kecil dan pada sebagian mustahiq dana untuk modal tersebut justru digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif.

Oleh karena itu, pihak manajemen Koperasi BAIK, Yayasan Peramu, dan BM Bogor perlu melakukan evaluasi terhadap tingkat plafon yang diberikan dalam pembiayaan produktif agar besarnya plafon tersebut efektif untuk meningkatkan pendapatan mustahiq. Proses monitoring penggunaan dana dengan meminta bukti- bukti transaksi dari mustahiq juga perlu diperketat agar penggunaan dana pembiayaan tetap sesuai dengan akad yang telah dibuat.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa variabel jumlah tanggungan berpengaruh signifikan, namun berhubungan negatif dengan pendapatan per kapita mustahiq. Hal ini mengindikasikan pentingnya perencanaan dalam sebuah keluarga, khususnya perencanaan mengenai jumlah anak. Oleh karena itu, anggota perlu mendapatkan pendidikan mengenai perencanaan keluarga. Dalam hal ini Yayasan Peramu dapat bekerjasama dengan lembaga-lembaga terkait yang concern terhadap masalah keluarga dan kependudukan, misalnya dengan BKKBN untuk memberikan pendidikan mengenai perencanaan keluarga kepada para mustahiq.

(4)

Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor)

OLEH WINA MEYLANI

H14050860

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

(5)

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh, Nama Mahasiswa : Wina Meylani

Nomor Registrasi Pokok : H14050860 Program Studi : Ilmu Ekonomi

Judul Skripsi : Analisis Pengaruh Pendayagunaan Zakat, Infaq, dan Shadaqah sebagai Modal Kerja terhadap Indikator Kemiskinan dan Pendapatan Mustahiq (Studi Kasus: Program Ikhtiar di Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor) dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Menyetujui, Dosen Pembimbing,

Jaenal Effendi, M.A.

NIP. 19740729 200604 1 001

Mengetahui,

Ketua Departemen Ilmu Ekonomi,

Dr. Ir. Rina Oktaviani, M.S.

NIP. 19641023 198903 2 002

Tanggal Kelulusan :

(6)

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Bogor, Agustus 2009

Wina Meylani H14050860

(7)

Penulis bernama Wina Meylani, lahir di Tasikmalaya, pada tanggal 3 Mei 1986. Penulis merupakan anak bungsu dari pasangan Bapak Endang Hidayat dan Ibu Jua. Penulis menyelesaikan jenjang pendidikan SD hingga SMA di Tasikmalaya, yaitu di SDN IPK Salawu III, SMPN 1 Salawu, dan SMAN 1 Tasikmalaya. Pada tahun 2005, penulis melanjutkan pendidikan di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).

Setahun kemudian, penulis memilih Program Studi Ilmu Ekonomi sebagai mayor (program studi utama) dan Ilmu Konsumen sebagai minor (program studi pendukung).

Selama menjadi mahasiswa IPB, penulis aktif pada beberapa organisasi kemahasiswaan, yaitu Shariah Economics Student Club (SES-C), Forum Mahasiswa Muslim dan Studi Islam (Formasi), dan Himpunan Mahasiswa Tasikmalaya (Himalaya). Selain itu, penulis juga pernah aktif sebagai Asisten Dosen Matakuliah Pendidikan Agama Islam IPB dan menjadi tenaga magang di The Indonesia Magnificence of Zakat (IMZ) Dompet Dhuafa Republika.

Kecintaan penulis pada ekonomi syariah, khususnya pada sektor keuangan mikro syariah dan filantropi Islam membuat penulis mantap mengambil zakat sebagai tema penelitian untuk skripsi ini.

(8)

mengaruniakan begitu banyak nikmat sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan.

Selama proses penyusunan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan bantuannya, diantaranya adalah:

1. Kedua orang tua penulis, Ibu Jua dan Bapak Endang Hidayat, atas segenap cinta, doa, dan kesabaran yang diberikan. Semoga Allah membalasnya dengan balasan yang sempurna.

2. Bapak Jaenal Effendi sebagai dosen pembimbing skripsi yang dengan penuh kesabaran telah mengarahkan dan membimbing penulis selama proses penyusunan skripsi.

3. Bapak Nunung Nuryartono dan Bapak Muhammad Findi sebagai dosen penguji sidang skripsi yang telah memberikan saran yang begitu berharga kepada penulis agar skripsi ini menjadi karya yang lebih baik.

4. Bapak Irfan Syauqi Beik, Bapak Suryana, dan Kak Hendro Wibowo atas saran dan bimbingan yang diberikan.

5. Kedua orang kakak penulis (Teh Ucu dan A Rahmat) atas motivasi dan nasihat yang diberikan, juga keponakan-keponakan tercinta (Fikri, Kiran, dan Tsabita) atas mimpi-mimpi dan keceriaan yang dibagi.

6. Pak Asad, Mba Titin, Pak Latif, Pak Azis, Pak Ahmad Laela, Pak Sholeh, Pak Agus, serta seluruh pengurus Yayasan Peramu, Koperasi BAIK, dan BM Bogor atas segala arahan, bantuan, dan informasi yang diberikan kepada penulis.

7. Teh Sundari, Rima, Pak Dini, Pak Komar, Heri, serta seluruh TPL dan anggota Program Ikhtiar di Desa Ciaruteun Ilir yang telah membantu penulis dalam proses pencarian data.

8. Ukhti Denok, Fitri, Ratna, Ratih, dan Nunung yang telah membantu penulis dalam proses pencarian dan pengolahan data.

(9)

Semoga seluruh bantuan yang diberikan akan dibalas Allah dengan balasan yang jauh lebih baik. Akhirnya, penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat, baik bagi para civitas akademika, maupun bagi pihak lainnya, khususnya pihak-pihak yang terkait dalam pengembangan sektor filantropi Islam.

Bogor, Agustus 2009

Wina Meylani H14050860

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... v

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 5

1.3. Tujuan Penelitian ... 8

1.4. Manfaat Penelitian ... 8

1.5. Ruang Lingkup Penelitian ... 9

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 10

2.1. Tinjauan Teoritis ... 10

2.1.1. Konsep dan Pengertian Zakat, Infaq, dan Shadaqah (ZIS) ... 10

2.1.2. Hikmah dan Manfaat Zakat ... 12

2.1.3. Pendayagunaan ZIS ... 13

2.1.3.1. Jenis-Jenis Pendayagunaan ZIS ... 13

2.1.3.2. Pendayagunaan ZIS melalui Program Ikhtiar ... 15

2.1.4. Dimensi dan Konsep Kemiskinan ... 30

2.2. Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 33

2.3. Kerangka Pemikiran ... 36

2.3.1. Indikator Kemiskinan ... 36

2.3.2. Pendapatan Per Kapita Mustahiq ... 38

2.4. Hipotesis Penelitian ... 41

III. METODE PENELITIAN ... 43

3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 43

3.2. Jenis dan Sumber Data ... 43

3.3. Sampel Penelitian ... 43

3.4. Metode Analisis Data ... 44

(11)

3.4.1. FGT Index ... 44

3.4.2. Analisis Regresi Linier Berganda ... 48

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN ... 53

4.1. Kondisi Geografi ... 53

4.2. Kondisi Demografi ... 53

V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 57

5.1. Perubahan Indikator Kemiskinan Mustahiq Setelah Mengikuti Program Ikhtiar... 57

5.1.1. Karaktersistik Demografi Responden ... 57

5.1.2. Indikator Kemiskinan Mustahiq ... 59

5.2. Pengaruh Program Ikhtiar terhadap Pendapatan Per Kapita Mustahiq ... 64

5.2.1. Evaluasi Model ... 64

5.2.2. Interpretasi Model ... 67

VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 73

6.1. Kesimpulan ... 73

6.2. Saran ... 74

DAFTAR PUSTAKA ... 76

LAMPIRAN ... . 79

(12)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1.1. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Daerah Periode

Maret 2007-Maret 2008 ... 1

1.2. Estimasi Potensi Zakat Indonesia Tahun 2009 ... 2

1.3. Angka Kemiskinan Provinsi Jawa Barat Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2005-2006 ... 4

1.4. Pertumbuhan Jumlah Anggota dan Dana Bergulir Program Ikhtiar Tahun 2003-2008 ... 7

2.1. Sebaran dan Jumlah Anggota Program Ikhtiar Per April 2009 ... 18

2.2. Komponen Angsuran Dana Program Ikhtiar Berdasarkan Plafon Pinjaman ... 28

2.3. Indikator Kemiskinan Sebelum dan Setelah Adanya Distribusi ZIS... 34

4.1. Jumlah Penduduk Desa Ciaruteun Ilir Berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis Kelamin ... 54

5.1. Karakteristik Demografi Responden ... 57

5.2. Indeks Kemiskinan Mustahiq Sebelum dan Setelah Mengikuti Program Ikhtiar ... 59

5.3. Hasil Estimasi Model Pendapatan Per Kapita Mustahiq ... 64

5.4. Hasil Uji Multikolinearitas ... 66

5.5. Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 67

5.6. Komposisi Mustahiq Berdasarkan Plafon Pembiayaan Produktif ... 68

(13)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1.1. Lingkaran Setan Kemiskinan ... 6

2.1. Bagan Pendayagunaan ZIS ... 14

2.2. Skema Manajemen Dana Koperasi BAIK ... 22

2.3. Tahapan Pelaksanaan Program Ikhtiar ... 23

2.4. Bagan Kerangka Pemikiran Penelitian ... 41

3.1. Teknik Penarikan Sampel Penelitian ... 44

4.1. Profil Penduduk Desa Ciaruteun Ilir Berdasarkan Mata Pencaharian ... 55

4.2. Profil Penduduk Desa Ciaruteun Ilir Berdasarkan Tingkat Pendidikan .... 56

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Pendapatan Rumah Tangga Mustahiq Sebelum dan Setelah Mengikuti

Program Ikhtiar ... 80 2. Data Kategori Kemiskinan Mustahiq Sebelum dan Setelah Mengikuti

Program Ikhtiar ... 81 3. Tabel Perhitungan FGT Index Sebelum Mustahiq Mengikuti Program

Ikhtiar ... 82 4. Tabel Perhitungan FGT Index Setelah Mustahiq Mengikuti Program

Ikhtiar ... 83 5. Data Persamaan Pendapatan Per Kapita Mustahiq ... 84 6. Hasil Pengolahan Data ... 86

(15)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kemiskinan merupakan masalah fundamental yang tengah dihadapi oleh seluruh bangsa di dunia, terutama oleh negara sedang berkembang seperti Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2008 menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai angka 34,96 juta jiwa atau sebesar 15,42 persen dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 226,72 juta jiwa. Sedangkan pada periode Maret 2009, jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan mengalami penurunan sebesar 2,43 juta jiwa. Meskipun telah mengalami penurunan, jumlah penduduk miskin di Indonesia masih tergolong tinggi, yaitu 32,53 juta jiwa atau sebesar 14,15 persen. Kemiskinan tersebut terutama terjadi di daerah pedesaan. Pada periode Maret 2009, jumlah penduduk miskin di daerah pedesaan adalah 20,62 juta jiwa, sedangkan jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan adalah 11,91 juta jiwa. Artinya, 63,39 persen penduduk miskin di Indonesia berada di daerah pedesaan (BPS, 2009).

Tabel 1.1. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Daerah Periode Maret 2007-Maret 2008

Daerah Tahun Jumlah Penduduk

Miskin (Juta)

Persentase Penduduk Miskin (%)

Perkotaan 2008 12,77 11,65

2009 11,91 10,72

Pedesaan 2008 22,19 18,93

2009 20,62 17,35

Total 2008 34,96 15,42

2009 32,53 14,15

Sumber: BPS, 2009.

(16)

Upaya pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat miskin merupakan hal penting yang dapat menjadi solusi permasalahan kemiskinan di Indonesia. Islam sebagai agama yang syaamil (menyeluruh), memiliki instrumen khusus yang bertujuan untuk menciptakan keadilan dalam bidang ekonomi sehingga dapat berfungsi untuk mengurangi tingkat kemiskinan di masyarakat. Instrumen tersebut adalah Zakat, Infaq, dan Shadaqah (ZIS). Indonesia yang merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia tentunya memiliki potensi ZIS yang besar pula. Nasution et al. (2008), memprediksi potensi zakat Indonesia pada tahun 2009 ini dapat mencapai hingga Rp 12,66 triliun. Angka tersebut tentunya akan bertambah besar apabila disertai dengan estimasi dana shadaqah dan infaq yang dapat dikumpulkan. Melihat besarnya potensi ZIS yang dimiliki, maka peluang untuk melakukan upaya pengentasan kemiskinan dengan menggunakan dana ZIS terbuka lebar.

Tabel 1.2. Estimasi Potensi Zakat Indonesia Tahun 2009

Determinan Potensi Zakat Skenario (a) Skenario (b) Keluarga muslim sejahtera1 35,2 juta jiwa 35,2 juta jiwa

Jumlah muzakki2 55,00% 55,00%

Muzakki yang membayar zakat3 95,50% 95,50 %

Proyeksi zakat per muzakki4 Rp 684.550,00 Rp 664.014,00 Proyeksi zakat nasional Rp 12.655,86 milyar Rp 12.276,18 milyar Potensi penghimpunan oleh BAZ

dan LAZ Rp 911,22 milyar Rp 883,88 milyar

Sumber: Nasution et al., 2008.

1 Berdasarkan data bahwa populasi muslim di Indonesia adalah 86 persen (BPS, 2008) dan jumlah keluarga sejahtera di Indonesia adalah 41,409 juta jiwa (BKKBN, 2008).

2 Berdasarkan hasil survei PIRAC, 2007.

3 Berdasarkan hasil survei PIRAC, 2007.

4 (a) Rp 684.550,00 (berdasarkan hasil survei PIRAC 2007) dan (b) Rp 664.014,00 (berdasarkan hasil survei PIRAC 2007 yang disesuaikan dengan asumsi penurunan ekonomi nasional sebagaimana yang digunakan dalam RAPBN 2009).

(17)

Besarnya potensi ZIS yang dimiliki menuntut adanya upaya pengelolaan ZIS yang lebih profesional. Pemerintah Indonesia merespon tuntutan tersebut dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. Berdasarkan UU tersebut, pengelolaan zakat di Indonesia dilakukan oleh organisasi pengelola zakat yang terdiri dari Badan Amil Zakat (BAZ) yang dibentuk pemerintah dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang dibentuk atas prakarsa masyarakat/swasta. Terbentuknya BAZ dan LAZ menandai era baru pengelolaan ZIS di Indonesia agar mampu berjalan secara profesional, transparan, dan akuntabel. Hal ini didasari oleh semangat untuk mengelola ZIS secara optimal sehingga dapat berjalan efektif dalam menyelesaikan berbagai permasalahan ekonomi, terutama kemiskinan.

Semangat ini pula yang kemudian melatarbelakangi Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Mustadh’afin (Peramu) membentuk LAZ Baytul Maal (BM) Bogor pada tahun 1999. Yayasan Peramu merupakan sebuah lembaga yang concern terhadap pemberdayaan masyarakat miskin dan keuangan mikro syariah. Melalui pembentukan BM Bogor, Yayasan Peramu berupaya melakukan pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat miskin dengan memanfaatkan dana ZIS. Program pemberdayaan ekonomi tersebut dinamakan Program Ikhtiar yang muncul akibat keprihatinan melihat realitas kemiskinan di Bogor. Tingkat kemiskinan Kabupaten Bogor tergolong tinggi jika dibanding dengan kabupaten/kota lain di Provinsi Jawa Barat. Sebagai perbandingan, data mengenai angka kemiskinan kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat pada dapat dilihat melalui Tabel 1.3.

(18)

Tabel 1.3. Angka Kemiskinan Provinsi Jawa Barat Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2005-2006

Kabupaten/Kota

Tahun 2005 Tahun 2006

Jumlah Penduduk

Miskin (ribu jiwa)

Persentase Penduduk Miskin (%)

Jumlah Penduduk

Miskin (ribu jiwa)

Persentase Penduduk Miskin (%)

Kab. Bogor 476,7 12,50 536,4 13,83

Kab. Sukabumi 364,9 16,57 384,6 17,66

Kab. Cianjur 369,4 17,57 415,7 19,81

Kab. Bandung 550,1 13,33 619,0 15,15

Kab. Garut 386,1 17,43 434,5 19,61

Kab. Tasikmalaya 296,2 18,23 331,3 20,27

Kab. Ciamis 228,6 15,07 244,1 16,13

Kab. Kuningan 196,7 18,65 196,7 18,69

Kab. Cirebon 386,1 18,59 434,5 21,13

Kab. Majalengka 227,4 19,39 255,9 21,82

Kab. Sumedang 137,5 13,34 154,7 15,12

Kab. Indramayu 312,1 18,43 351,2 20,66

Kab. Subang 232,7 16,67 261,9 18,90

Kab. Purwakarta 111,1 14,37 125,0 16,34

Kab. Karawang 285,6 14,93 321,4 16,51

Kab. Bekasi 137,5 7,01 154,7 7,58

Kota Bogor 79,3 8,31 89,2 9,64

Kota Sukabumi 21,9 7,09 24,6 8,20

Kota Bandung 84,6 3,71 95,2 4,09

Kota Cirebon 21,2 6,91 27,4 8,70

Kota Bekasi 71,5 3,42 104,4 5,07

Kota Depok 39,6 2,88 35,3 2,48

Kota Cimahi 50,8 8,44 42,2 7,41

Kota Tasikmalaya 52,9 9,12 59,5 10,23

Kota Banjar 17,1 10,07 13,0 7,96

Jawa Barat 5.137,6 13,06 5.712,5 14,49

Sumber: BPS, 2007.

Berdasarkan Tabel 1.3, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Bogor pada tahun 2005 mencapai 476,7 ribu jiwa atau sebanyak 12,5 persen. Jumlah penduduk miskin tersebut kemudian meningkat menjadi 536,4 ribu jiwa atau sebanyak 13,83 persen pada tahun 2006. Tingginya angka kemiskinan di Kabupaten Bogor pada tahun 2005 dan 2006 ini telah menempatkan Kabupaten

(19)

Bogor pada urutan kedua sebagai kabupaten/kota dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Provinsi Jawa Barat (BPS, 2007).

Upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin yang dilakukan melalui Program Ikhtiar diharapkan mampu menurunkan tingkat kemiskinan masyarakat Bogor. Program Ikhtiar merupakan program pendayagunaan ZIS berbasis pemberdayaan komunitas yang dilakukan melalui pelayanan keuangan mikro.

Sasaran program ini adalah kaum perempuan dari keluarga berpenghasilan rendah yang masih memiliki potensi ekonomi produktif. Program Ikhtiar terus mengalami peningkatan yang pesat, baik dari sisi jumlah anggota, maupun jumlah dana ZIS yang digulirkan. Sejak pertama kali dijalankan pada tahun 1999, dana ZIS yang digulirkan hingga tahun 2008 telah mencapai Rp 7,353 milyar yang disalurkan kepada 5.115 orang anggota program. Hal ini menunjukkan peran strategis Program Ikhtiar dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin di wilayah Bogor. Mengingat peran strategis tersebut, maka kajian untuk menganalisis pelaksanaan Program Ikhtiar dirasa penting untuk dilakukan.

1.2. Perumusan Masalah

Angka kemiskinan yang cenderung tinggi dari tahun ke tahun mengindikasikan sulitnya masyarakat miskin untuk keluar dari lingkaran setan kemiskinan (vicious circle of poverty). Teori lingkaran setan kemiskinan Nurkse menyatakan bahwa tingkat pendapatan yang rendah akan menyebabkan permintaan rendah (pada sisi permintaan) dan tabungan yang rendah (pada sisi penawaran), sehingga tingkat investasi pun rendah. Tingkat investasi yang rendah

(20)

menyebabkan kurangnya modal dan kembali menyebabkan produktivitas yang rendah (Jhingan, 2004).

Sumber: Jhingan, 2004.

Gambar 1.1. Lingkaran Setan Kemiskinan

Salah satu upaya untuk memutus lingkaran setan kemiskinan adalah dengan memberikan modal berupa modal kerja kepada masyarakat miskin agar mereka dapat melakukan usaha produktif sehingga mampu meningkatkan pendapatannya.

Namun, akses masyarakat miskin terhadap sumber modal sangat terbatas.

Kemiskinannya menyebabkan mereka dinilai tidak bankable sehingga tidak dapat mengakses dana untuk modal dari lembaga keuangan formal seperti bank. Oleh karena itu, Program Ikhtiar yang dijalankan oleh BM Bogor, Yayasan Peramu dan Koperasi BAIK berusaha membuka akses masyarakat miskin terhadap sumber dana untuk modal dengan cara menyederhanakan proses dan persyaratan dalam peminjaman dana.

Program Ikhtiar mulai dijalankan pertama kali pada tahun 1999 di Desa Sukaluyu, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Pada awalnya di Desa

pendapatan rendah

permintaan rendah (sisi permintaan) tabungan rendah (sisi penawaran)

investasi rendah kurang

modal

produktivitas rendah

(21)

Sukaluyu dibentuk tiga majelis (kelompok) yang terdiri dari 35 orang peserta sebagai pilot project. Setelah tiga tahun masa inisiasi program (1999-2002), jumlah anggota mengalami peningkatan yang signifikan. Bila pada tahun 2002 hanya terdapat 279 anggota, maka pada tahun 2003 jumlahnya meningkat menjadi 1.377 orang, dan hingga tahun 2008 jumlahnya telah mencapai 5.115 orang.

Jumlah dana ZIS yang digulirkan juga terus mengalami peningkatan, dengan total penyaluran dana mencapai Rp 7,353 milyar hingga tahun 2008. Data pertumbuhan anggota dan penyaluran dana bergulir dalam Program Ikhtiar setelah tiga tahun masa inisiasi program dapat dilihat melalui Tabel 1.4.

Tabel 1.4. Pertumbuhan Anggota dan Dana Bergulir Program Ikhtiar Tahun 2003-2008

Tahun Jumlah Anggota (orang)

Penyaluran Dana Tahun Berjalan (Rp)

Total Penyaluran Dana (Rp)

2003 1.377 Na 725.986.000

2004 1.851 581.250.000 1.307.236.000

2005 2.244 874.750.000 2.181.986.000

2006 3.003 1.188.550.000 3.370.536.000

2007 3.572 1.616.820.000 4.703.546.000

2008 5.115 2.664.500.000 7.353.046.000

Sumber: Koperasi BAIK, 2009.

Berdasarkan Tabel 1.4, pertumbuhan anggota Program Ikhtiar berkisar antara 19-43 persen per tahun dengan persentase pertumbuhan dana ZIS bergulir berkisar antara 40-80 persen per tahun. Meski terus mengalami pertumbuhan tiap tahunnya, namun pemberdayaan ekonomi yang dilakukan melalui Program Ikhtiar belum dapat dikatakan berhasil apabila tidak terjadi perubahan pada indikator kemiskinan para anggotanya. Perubahan indikator kemiskinan tersebut antara lain

(22)

dicerminkan oleh tingkat pendapatan anggota setelah mengikuti Program Ikhtiar.

Oleh karena itu, permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana perubahan indikator kemiskinan mustahiq setelah mengikuti program Program Ikhtiar?

2. Bagaimana pengaruh Program Ikhtiar terhadap pendapatan per kapita mustahiq dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pendapatan per kapita mustahiq tersebut?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah disebutkan, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Menganalisis perubahan indikator kemiskinan mustahiq setelah mengikuti program Program Ikhtiar.

2. Menganalisis pengaruh Program Ikhtiar terhadap pendapatan per kapita mustahiq dan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi BM Bogor, Yayasan Peramu, dan Koperasi BAIK untuk mengetahui bagaimana pengaruh Program Ikhtiar terhadap indikator kemiskinan dan tingkat pendapatan per kapita anggotanya. Dengan demikian, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi dan masukan dalam pelaksanaan Program Ikhtiar kedepannya agar dapat berjalan lebih optimal dalam hal pemberdayaaan ekonomi masyarakat miskin.

(23)

Bagi masyarakat, hasil penelitian ini dapat menjadi sebuah laporan empiris mengenai manfaat dana ZIS dalam upaya pengentasan kemiskinan, sehingga dapat membuka paradigma bahwa dana ZIS tidak hanya disalurkan dalam bentuk charity yang sifatnya konsumtif, tetapi juga dapat disalurkan dalam bentuk bantuan modal kerja yang bersifat produktif agar tercipta kemandirian para mustahiq.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan mengambil studi kasus pada Program Ikhtiar di Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Pada desa tersebut, diambil 45 orang anggota sebagai sampel penelitian. Anggota yang menjadi sampel adalah anggota yang pengajuan pembiayaan terakhirnya dalam Program Ikhtiar ditujukan untuk modal kerja.

Analisis pengaruh Program Ikhtiar terhadap indikator kemiskinan terbatas pada indikator kemiskinan absolut dengan menggunakan pendekatan pendapatan.

Garis kemiskinan yang digunakan adalah garis kemiskinan yang dikeluarkan oleh BPS. Pada penelitian ini dilakukan juga analisis mengenai pengaruh Program Ikhtiar terhadap tingkat pendapatan per kapita mustahiq. Analisis yang dilakukan terbatas pada uji nyata dan pengukuran pengaruh terhadap faktor-faktor terkait Program Ikhtiar yang diduga dapat mempengaruhi pendapatan per kapita mustahiq.

(24)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Teoritis

2.1.1. Konsep dan Pengertian Zakat, Infaq, dan Shadaqah (ZIS)

Zakat ditinjau dari segi bahasa memiliki beberapa arti, yaitu al-barakatu yang berarti keberkahan, al-namma yang berarti pertumbuhan dan perkembangan, ath-thaharathu yang berarti kesucian, dan ash-shalahu yang berarti keberesan.

Sedangkan menurut istilah, pengertian zakat adalah bagian dari harta yang telah memenuhi syarat tertentu, yang diwajibkan oleh Allah untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula (Hafidhuddin, 2002).

Orang yang mengeluarkan zakat disebut muzakki, sementara orang yang menerima zakat disebut mustahiq yang terdiri dari delapan golongan (ashnaf), yaitu orang-orang fakir, miskin, pengurus zakat (‘amilin), muallaf, memerdekakan budak (riqab), orang-orang yang berhutang (gharimin), untuk jalan Allah (fi- sabilillah), dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan (ibnu sabil).

Kententuan mengenai golongan orang yang berhak menerima zakat ini telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam QS. At-Taubah ayat 60, yang berbunyi:

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (muallaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”

Jenis harta yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah binatang ternak (al- mawasyi), hasil tanaman (az-zuru’), emas dan perak (an-naqdain), perniagaan (at- tijarah), harta hasil temuan/harta karun (rikaz), dan hasil tambang (ma’din). Harta

(25)

tersebut wajib dikeluarkan zakatnya apabila telah memenuhi persyaratan harta wajib zakat, yaitu:

a. Al-milk at-tam, artinya harta itu dikuasai secara penuh dan dimiliki secara sah, yang didapat dari usaha, warisan, atau pemberian yang sah, dimungkinkan untuk dipergunakan, diambil manfaatnya, atau disimpan.

Harta yang bersifat haram tidaklah sah dan tidak akan diterima zakatnya.

b. An-namaa, yaitu harta yang berkembang jika diusahakan atau memiliki potensi untuk berkembang, misalnya harta perdagangan, peternakan, pertanian, dan deposito mudharabah.

c. Telah mencapai nishab, maksudnya harta itu telah mencapai ukuran tertentu. Misalnya untuk binatang ternak jenis sapi, yaitu apabila jumlahnya telah mencapai 30 ekor atau untuk emas/perak nilainya telah mencapai 85 gram emas.

d. Telah melebihi kebutuhan pokok, yaitu kebutuhan minimal yang diperlukan seseorang dan anggota keluarga yang menjadi tanggungannya untuk kelangsungan hidupnya.

e. Telah mencapai haul, artinya harta itu telah dimiliki minimal satu tahun.

Untuk beberapa harta jenis lain, misalnya harta pertanian dan harta temuan, terdapat pengecualian, zakatnya dikeluarkan pada saat panen/saat harta tersebut diperoleh.

Berbeda dengan zakat yang memiliki persyaratan tertentu, infaq dan shadaqah lebih bersifat fleksibel karena tidak memiliki persyaratan nishab, haul, serta golongan yang wajib mengeluarkan dan yang berhak menerimanya. Infaq

(26)

berasal dari kata anfaqa yang berarti mengeluarkan sesuatu (harta) untuk suatu kepentingan. Begitu pula dengan shadaqah yang berasal dari kata shadaqa yang secara bahasa berarti benar. Pengertian shadaqah sama dengan infaq, tetapi bentuk pemberiannya berbeda. Shadaqah tidak saja merupakan pemberian dalam bentuk materi, melainkan bisa juga dalam bentuk non-materi seperti memberi nasihat, tolong-menolong, dan berbuat baik pada orang lain (Hafidhuddin, 1998).

2.1.2. Hikmah dan Manfaat Zakat

Setiap kewajiban yang diperintahkan Allah SWT, termasuk adanya kewajiban berzakat, pasti memiliki hikmah dan manfaat. Hafidhuddin (2002), mengemukakan beberapa peran dan hikmah zakat, yaitu:

a) Zakat merupakan perwujudan iman kepada Allah SWT, mensyukuri nikmat- Nya, menumbuhkan rasa kepedulian yang tinggi, menghilangkan sifat kikir dan rakus, sekaligus mengembangkan dan mensucikan harta yang dimiliki.

b) Zakat merupakan sarana untuk menolong dan membina mustahiq terutama ke arah kehidupan yang lebih sejahtera. Zakat sesungguhnya tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif yang bersifat sesaat, melainkan juga memberikan kecukupan kepada mustahiq dengan cara menghilangkan/memperkecil penyebab kemiskinan.

c) Zakat sebagai pilar jama’i antara kelompok aghniya yang berkecukupan dengan para mujahid yang waktunya sepenuhnya untuk berjuang di jalan Allah sehingga tidak memiliki waktu yang cukup untuk berusaha bagi kepentingan nafkah diri dan keluarganya.

(27)

d) Zakat merupakan salah satu bentuk konkrit jaminan sosial yang disyari’atkan oleh ajaran Islam bagi para mustahiq.

e) Zakat merupakan salah satu sumber dana pembangunan sarana dan prasarana yang harus dimiliki umat Islam, seperti sarana pendidikan, kesehatan, sosial-ekonomi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia muslim.

f) Zakat dapat memasyarakatkan etika bisnis yang benar. Hal ini karena zakat berarti mengeluarkan bagian dari hak orang lain dari harta yang diusahakan dengan baik dan benar.

g) Zakat merupakan salah satu instrumen pemerataan pendapatan. Melalui zakat, terjadi transfer kekayaan dari muzakki yang memiliki kelebihan harta kepada mustahiq yang kekurangan harta.

h) Dorongan ajaran Islam yang begitu kuat untuk berzakat, berinfaq, dan bershadaqah menunjukkan bahwa Islam mendorong umatnya untuk bekerja dan berusaha agar mampu memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya, serta berlomba-lomba menjadi muzakki dan munfiq (orang yang berinfaq).

2.1.3. Pendayagunaan ZIS

2.1.3.1. Jenis-Jenis Pendayagunaan ZIS

Pada pasal 16 ayat (1) dan (2) UU No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, secara eksplisit dinyatakan bahwa pendayagunaan zakat adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup para mustahiq sesuai dengan ketentuan agama (delapan ashnaf) dan dapat dimanfaatkan untuk usaha produktif. Secara lebih

(28)

spesifik, dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 373 Tahun 20035 pasal 28 ayat (2) dijelaskan bahwa pendayagunaan zakat untuk usaha produktif dilakukan apabila zakat sudah dapat memenuhi kebutuhan hidup para mustahiq dan ternyata masih terdapat kelebihan. Jadi, ZIS, terutama infaq dan shadaqah, dapat dimanfaatkan untuk usaha produktif apabila terdapat usaha-usaha nyata yang berpeluang menguntungkan.

Secara garis besar, dana ZIS dapat didistribusikan pada dua jenis kegiatan, yaitu kegiatan-kegiatan yang bersifat konsumtif dan produktif (Nasution et al., 2008). Kegiatan konsumtif adalah kegiatan yang berupa bantuan sesaat untuk menyelesaikan masalah yang sifatnya mendesak dan langsung habis setelah bantuan tersebut digunakan (jangka pendek). Sedangkan, kegiatan produktif adalah pemberian bantuan yang diperuntukkan bagi kegiatan usaha produktif sehingga dapat memberikan dampak jangka menengah-panjang bagi para mustahiq.

Sumber: Nasution et al., 2008.

Gambar 2.1. Bagan Pendayagunaan ZIS

5 KMA No. 373 Tahun 2003 merupakan pengganti dari KMA No. 581 Tahun 1999 tentang Pelaksanaan UU No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat.

Pendayagunaan ZIS

Kesehatan

Konsumtif Produktif

Pendidikan Sosial (emergency fund, bencana

alam, dll)

Pengembangan dan Pemberdayaan

UMKM

Pemberdayaan Komunitas

(29)

Pendayagunaan ZIS yang bersifat konsumtif dapat disalurkan dalam bentuk bantuan biaya kesehatan, pendidikan, serta kegiatan sosial lain yang bersifat insidental seperti bantuan penanganan bencana alam. Sedangkan pendayagunaan ZIS produktif dapat dilakukan melalui kegiatan pengembangan dan pemberdayaan UMKM serta pemberdayaan berbasis komunitas. Pendayagunaan ZIS secara produktif dapat dilakukan dengan memberikan pembiayaan produktif kepada para mustahiq. Menurut Antonio (2001), pembiayaan produktif adalah pembiayaan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam arti luas, yaitu untuk peningkatan usaha, baik usaha produksi, perdagangan maupun investasi.

Berdasarkan jenis keperluannya, pembiayaan produktif dibagi menjadi dua, yaitu:

1) Pembiayaan modal kerja, yang merupakan pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan produksi secara kuantitatif (jumlah hasil produksi) dan kualitatif (peningkatan kualitas atau mutu hasil produksi) serta untuk keperluan perdagangan atau peningkatan utility of place dari suatu barang.

2) Pembiayaan investasi, yang merupakan pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan barang-barang modal (capital goods). serta fasilitas-fasilitas yang erat kaitannya dengan investasi.

2.1.3.2. Pendayagunaan ZIS Melalui Program Ikhtiar

Program Ikhtiar adalah program pendayagunaan ZIS yang dilakukan melalui pemberdayaan berbasis komunitas (community based empowerment) dengan mekanisme kelompok (parcipatory group) dan ditujukan secara khusus bagi kaum perempuan dari keluarga berpenghasilan rendah (women of the poor or

(30)

low income families). Konsep tersebut diadopsi dari konsep Grameen Bank yang diprakarsai oleh Muhammad Yunus, seorang profesor ekonomi di Universitas Chittagong, Bangladesh. Muhammad Yunus menekankan tiga ciri utama Grameen Bank (Kuncoro, 2008), yaitu:

1) Menggunakan prinsip tanpa surat perjanjian (paperless),

2) Kepercayaan adalah hal utama dan dalam pelaksanaannya tidak ada pemberlakuan sanksi,

3) Grameen Bank bertujuan untuk membuat sistem perbankan yang adil, prorakyat miskin, dan properempuan.

Berbeda dengan sistem dan prinsip bank konvensional, Grameen Bank merancang kredit mikro berbasis kepercayaan. Teknisnya, peminjam diminta untuk membuat kelompok yang terdiri dari lima orang dengan satu pemimpin.

Pinjaman bergulir diberikan secara berurutan sehingga orang kedua baru bisa mendapatkan pinjaman setelah pinjaman orang pertama dikembalikan. Jika terdapat nasabah yang tidak mampu membayar, maka teman dalam satu kelompoknya harus membantu supaya orang tersebut mampu membayar (tanggung renteng). Metode pelayanan keuangan mikro yang dilakukan oleh Grameen Bank telah sukses diterapkan di Bangladesh dan berhasil membawa Muhammad Yunus menjadi peraih penghargaan Nobel Perdamaian Tahun 2006.

Mayoritas nasabah Grameen Bank adalah kaum perempuan, yaitu sebanyak 96 persen. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan posisi tawar kaum perempuan dan kualitas hidup anak. Riset membuktikan, peningkatan ekonomi perempuan berbanding lurus dengan tingkat pendidikan dan kesehatan anak. Selain itu,

(31)

perempuan juga merupakan pengelola keuangan dan aset rumah tangga, oleh karena itu pemberdayaan yang dilakukan diharapkan mampu meningkatkan kapasitas mereka dalam mengelola keuangan dan aset rumah tangga. Metode penyaluran kredit mikro yang digunakan oleh Grameen Bank ini kemudian dipadukan dengan prosedur dan praktik keuangan syariah serta panduan dari CGAP (Consultative Group to Assist The Poor) sebagai bahan acuan sistem dan prosedur pelaksanaan Program Ikhtiar.

Program Ikhtiar merupakan perpaduan dari dua elemen penting dalam pemberdayaan masyarakat, yaitu:

1) Membangun kapasitas sosial masyarakat sehingga mampu untuk memberdayakan dirinya. Hal ini dilakukan melalui tiga pendekatan yang meliputi pelayanan keuangan mikro; pendidikan mengenai pengelolaan ekonomi keluarga, kewirausahaan, koperasi, dan pendidikan kewargaan;

serta penguatan kapasitas masyarakat dalam berorganisasi dan menyampaikan pendapat.

2) Pendayagunaan dana-dana ZIS untuk pemberdayaan mustahiq melalui proses secara sistematis, terencana, dan berkelanjutan.

Secara operasional, program ini merupakan suatu proses untuk membangun keuangan mikro agar mampu memenuhi kebutuhan dasar peserta program, pendampingan pengelolaan aset ekonomi rumah tangga dan kewirausahaan, serta membangun proses pembelajaran dan pengorganisasian bagi perempuan keluarga miskin melalui kegiatan simpan pinjam secara berkelompok. Pelayanan simpan pinjam dimaksudkan untuk mengelola dan mengakumulasi kekuatan tabung

(32)

(saving power) mereka sehingga dapat dimanfaatkan dalam keadaan mendesak.

Sementara itu, pinjaman yang diberikan merupakan stimulan untuk meningkatkan kapasitas mereka, sehingga sumber daya yang dikelola menjadi lebih besar.

a. Latar Belakang Program Ikhtiar

Program Ikhtiar dimulai pertama kali pada tahun 1999 di Desa Sukaluyu, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Pada awalnya di desa tersebut dibentuk tiga majelis yang terdiri dari 35 orang peserta sebagai pilot project. Jumlah peserta Program Ikhtiar terus mengalami pertumbuhan yang signifikan setiap tahunnya. Data sebaran dan jumlah anggota Program Ikhtiar hingga bulan April 2009 dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Sebaran dan Jumlah Anggota Program Ikhtiar Per April 2009

No Kecamatan Desa/Kelurahan Jumlah

(jiwa) A Kabupaten Bogor

1 Tamansari Sukaluyu, Sukajaya, Sukaresmi, Sukajadi, Tamansari

1.860 2 Ciomas Sukamakmur, Ciomas Rahayu, Sukaharja 527

3 Tenjolaya Gunung Malang 508

4 Ciampea Ciampea 357

5 Dramaga Sukadamai, Sukawening 232

6 Cibungbulang Ciaruteun Ilir, Cijujung 605

7 Rumpin Cidokom 170

B Kota Bogor

8 Tanah Sareal Kebon Pedes, Kedung Badak, Kedung Jaya

351 9 Bogor Barat Gunung Batu, Cilendek Timur, Cilendek

Barat

232

10 Bogor Tengah Cibogor 36

11 Bogor Selatan Mulyaharja 147

12 Bogor Utara Tegal Gundil, Bantarjati, Tanah Baru, Ciluer

438

Jumlah 5.463

Sumber: Koperasi BAIK, 2009.

(33)

Berkembangnya Program Ikhtiar tidak terlepas dari peranan tiga lembaga yang merupakan inisiator dan pelaksana program, yaitu Yayasan Peramu, BM Bogor, dan Koperasi BAIK.

1) Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Mustadh’afin

Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Mustadh’afin (Peramu) adalah sebuah yayasan yang concern terhadap keuangan mikro syariah. Pembentukan yayasan ini diawali dengan terbentuknya Kelompok Simpan Pinjam (KSP) yang tersebar di berbagai kecamatan di wilayah Kabupaten dan Kotamadya Bogor. Pada awalnya, program tersebut dilaksanakan oleh Biro Pengembangan Masyarakat (BPM), sebuah unit kerja pada Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI). Pada tahun 1993, dilakukanlah pelembagaan BPM menjadi sebuah lembaga independen yang bernama Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Mustadh’afin (Peramu).

Program yang dikembangkan oleh Yayasan Peramu adalah pemberdayaan ekonomi rakyat berbasis syariah. Program tersebut dilakukan melalui pengembangan skema kredit (pembiayaan) dengan sistem bagi hasil (profit and loss sharing). Dalam kurun waktu 1993-1997, Yayasan Peramu mulai merintis pemodelan Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) dalam bentuk Baytul Maal wat Tamwil (BMT) untuk memfasilitasi KSP-KSP yang telah terbentuk sebelumnya. Hal ini terrealisasi melalui penumbuhan tiga unit pilot project BMT di Bogor. Ketiga BMT tersebut adalah BMT Wihdatul Ummah (WU) yang didirikan pada tahun 1994, serta BMT Khidmatul Ummah (KU) dan BMT Tadbiirul Ummah (TBU) yang didirikan pada tahun 1995.

(34)

Dalam upaya mengembangkan LKMS, Yayasan Peramu juga merintis pembentukan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS), hingga pada tahun 1998 didirikanlah sebuah BPRS bernama Bank Islam Rif’atul Ummah (BIRU).

Pembentukan LKMS-LKMS tersebut bertujuan untuk memberikan akses modal kepada masyarakat yang selama ini tidak dapat memiliki akses terhadap lembaga keuangan seperti bank, karena dinilai tidak bankable.

Selain pengembangan LKMS, Yayasan Peramu aktif melakukan pembinaan dan pendampingan. Program pembinaan dan pendampingan yang kini tengah dijalankan oleh Yayasan Peramu antara lain adalah penguatan organisasi yang meliputi proses capacity building bagi anggota LKMS, serta program Desa Siaga yang merupakan pelatihan bagi masyarakat desa mengenai pola hidup sehat, penanganan wanita yang melahirkan, dan kesiagaan menghadapi bencana.

2) Baytul Maal Bogor

Berdirinya BMT dan BPRS ternyata belum bisa menjadi solusi atas keterbatasan akses masyarakat terhadap lembaga keuangan. Pada kenyataannya, masih banyak kelompok masyarakat miskin yang belum tersentuh oleh pelayanan keuangan dari BMT dan BPRS yang telah ada. Hal ini karena kedua lembaga tersebut dalam kegiatan operasionalnya memakai akad-akad komersil dan syarat- syarat tertentu yang tidak mampu dipenuhi oleh masyarakat yang tergolong masyarakat miskin/dhua’afa. Kenyataan ini memicu komunitas BMT dan BPRS yang difasilitasi oleh Yayasan Peramu untuk mendirikan sebuah lembaga keuangan yang dapat diakses oleh kaum dhu’afa yang selama ini termarjinalkan.

Maka, pada tahun 1999 dibentuklah sebuah LAZ bernama Baytul Maal (BM)

(35)

Bogor dengan tujuan melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin/mustahiq melalui pendayagunaan dana-dana amanah seperti Zakat, Infaq, Shadaqah, Wakaf, dan Hibah (ZISWAH).

Dalam usaha mencapai tujuannya untuk melakukan pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat miskin/mustahiq, dana ZISWAH yang dihimpun oleh BM Bogor disalurkan melalui dua program utama, yaitu:

1) Program Amanah

Program Amanah merupakan program santunan yang diberikan kepada para mustahiq untuk mengatasi masalah rawan pangan, musibah, dan pemberian beasiswa pendidikan.

2) Program Ikhtiar

Program Ikhtiar adalah program untuk memicu aksi kemandirian mustahiq yang bertumpu pada partisipasi masyarakat lokal. Program ini dilakukan melalui pemenuhan kebutuhan dasar yang bersifat strategis, terintegrasi, dan berkesinambungan.

3) Koperasi Baytul Ikhtiar

Terbentuknya Koperasi Baytul Ikhtiar (BAIK) berawal dari pembentukan Unit Pelayanan Keuangan (UPK) Ikhtiar, sebuah UPK pada Yayasan Peramu yang dibentuk untuk menjalankan Program Ikhtiar bersama dengan BM Bogor.

Pada Maret 2008, untuk meningkatkan kapasitas dan skala pelayanan, UPK Ikhtiar dibadanhukumkan menjadi Koperasi Baytul Ikhtiar (BAIK). Dalam teknis pelaksanakan Program Ikhtiar, Koperasi BAIK menghimpun dana yang berasal dari tabungan anggota, dana kerjasama program, serta dana-dana amanah seperti

(36)

ZIS. Dana tersebut kemudian disalurkan kepada masyarakat miskin dan pelaku usaha mikro melalui pembiayaan produktif dalam bentuk modal bergulir. maupun pembiayaan multiguna (konsumtif) yang bertujuan memenuhi kebutuhan rumah tangga, kesehatan, dan pendidikan masyarakat miskin. Skema manajemen dana Koperasi BAIK dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Sumber: Baytul Maal Bogor, 2007 (dengan perubahan).

Gambar 2.2. Skema Manajemen Dana Koperasi BAIK

b. Tujuan Program Ikhtiar

Program Ikhtiar bertujuan untuk membangun kapasitas keluarga miskin agar mampu memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri melalui pelayanan keuangan mikro yang dilakukan dengan menyertakan proses pemberdayaan berbasis komunitas.

c. Sasaran Program Ikhtiar

Kelompok sasaran Program Ikhtiar adalah keluarga miskin di perkotaan dan pedesaan (urban dan rural poor) yang masih memiliki potensi produktif

Alokasi Dana Sumber Dana

Pembiayaan Produktif Pembiayaan

Multiguna Non-Profit Loan

Anggota dan Masyarakat Sekitar

(masyarakat miskin dan keluarga berpenghasilan rendah) Dana Amanah

Dana Kerjasama Program Tabungan

Koperasi BAIK

Kontribusi Anggota

(37)

(economically active). Pada umumnya mereka memiliki pekerjaan sebagai buruh kasar atau pelaku usaha mikro, seperti pedagang sayur di pasar/pedagang sayur keliling, pengrajin/pemilik bengkel sepatu, pedagang warungan, pedagang makanan jajanan, serta petani dan buruh tani.

Sedangkan dilihat dari sisi wilayahnya, sasaran Program Ikhtiar adalah desa/kelurahan yang merupakan kantong kemiskinan di pedesaan atau pemukiman kumuh (slump area) di perkotaan, serta daerah yang merupakan cluster kegiatan ekonomi rakyat di sektor pertanian, industri rumah tangga, atau kelompok pekerja informal perkotaan.

d. Mekanisme Pelaksanaan Program Ikhtiar

Mekanisme pendayagunaan ZIS melalui Program Ikhtiar terdiri dari tujuh tahap, yaitu penentuan wilayah sasaran, persiapan sosial, rekrutmen anggota, pelayanan pinjaman, pertemuan rutin, monitoring kinerja majelis, serta tahap monitoring, evaluasi, dan perencanaan program.

Gambar 2.3. Tahapan Pelaksanaan Program Ikhtiar Penentuan Wilayah

Sasaran

Monitoring, Evaluasi, dan Perencanaan Program

Persiapan Sosial

Rekrutmen Anggota

Pelayanan Pinjaman

Pertemuan Rutin Monitoring Kinerja

Majelis

(38)

1) Penentuan Wilayah Sasaran

Wilayah sasaran Program Ikhtiar adalah desa/kelurahan yang merupakan kantong kemiskinan di pedesaan atau pemukiman kumuh di perkotaan serta daerah yang merupakan cluster kegiatan ekonomi rakyat di sektor pertanian, industri kecil rumahan atau kelompok pekerja informal perkotaan. Secara fisik, wilayah sasaran memiliki keterbatasan berbagai sarana, seperti jalan/perhubungan, angkutan, pendidikan, kesehatan, kondisi rumah dan sanitasi lingkungan, air bersih, listrik, telepon umum, dan layanan publik lainnya. Secara statistik, wilayah tersebut memiliki indikator kesejahteraan penduduk yang rendah. Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka kemiskinan penduduk serta angka kematian ibu dan balita, juga rendahnya tingkat pendidikan warga.

Secara teknis, suatu wilayah dinyatakan layak sebagai area pelaksanaan program jika memenuhi kriteria berikut:

(i) Potensi keluarga miskin yang memiliki kegiatan produktif berjumlah minimal 30 persen dari total populasi penduduk di wilayah tersebut, (ii) Potensi pelayanan berkisar antara 300-500 KK,

(iii) Memiliki jarak tempuh sekitar 30 km dan dapat dijangkau dalam waktu maksimal 30 menit dari kantor pelayanan.

2) Persiapan Sosial

Persiapan sosial merupakan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan penerimaan dan dukungan masyarakat terhadap Program Ikhtiar yang dilakukan melalui pengenalan tujuan dan mekanisme program. Rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam tahap persiapan sosial ini antara lain adalah kunjungan,

(39)

wawancara, dan diskusi dengan contact person (tokoh masyarakat setempat);

presentasi mengenai Program Ikhtiar pada pertemuan warga; juga pendataan awal calon peserta program.

Selain bertujuan untuk memperoleh data dasar calon peserta program, kegiatan ini juga diharapkan dapat menghasilkan data calon tenaga lokal yang nantinya akan menjadi pelaksana teknis Program Ikhtiar di wilayah sasaran.

Dalam rangka menarik minat masyarakat untuk berpartisipasi, kegiatan ini biasanya disertai dengan kegiatan bakti sosial (baksos), seperti pemberian santunan bahan pokok, distribusi daging kurban, dan kegiatan sosial lainnya.

3) Rekrutmen Anggota

Proses penerimaan anggota Program Ikhtiar dimulai dengan pendaftaran secara berkelompok kepada petugas lapangan, setiap kelompok minimal terdiri dari 15 orang. Petugas kemudian akan melakukan uji kelayakan (UK) terhadap para calon anggota program dengan menggunakan indeks rumah, indeks pendapatan dan saving power, serta indeks aset rumah tangga. Keluarga miskin yang tidak memiliki sumber pendapatan tidak menjadi target group pelayanan Program Ikhtiar. Namun, meski sasaran program ini adalah keluarga miskin yang memiliki potensi ekonomi produktif, pada praktiknya tidak semua anggota program termasuk dalam kategori keluarga miskin. Pada beberapa majelis Program Ikhtiar terdapat anggota yang tergolong mampu atau tokoh masyarakat yang cukup memiliki pengaruh di wilayah setempat. Keberadaan mereka dalam program ini adalah sebagai reference group yang diharapkan dapat menarik minat masyarakat agar ikut berpartisipasi dalam program.

(40)

Calon anggota yang telah lolos UK akan diikutsertakan dalam Latihan Wajib Kelompok (LWK) yang dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut dengan lama pertemuan maksimal satu jam setiap harinya. Setiap calon anggota wajib hadir secara penuh dalam LWK, bila ada calon anggota yang berhalangan, maka LWK akan dibatalkan dan ditunda hingga pekan berikutnya. LWK merupakan sarana untuk memperkenalkan hal-hal yang terkait dengan Program Ikhtiar, seperti lembaga yang terlibat, mekanisme pelayanan, dan produk-produk dalam Program Ikhtiar. Selain itu, LWK juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk menguji kejujuran dan kedisiplinan setiap calon anggota program. Apabila lulus dalam latihan wajib ini, maka kelompok dan majelis telah terbentuk, sehingga setiap anggotanya telah berhak atas pinjaman dari Koperasi BAIK.

4) Pelayanan Pinjaman

Pinjaman dalam Program Ikhtiar diberikan secara bergiliran dengan menggunakan pola 2-2-1 dalam kelompok 5-an. Maksudnya, dalam kelompok yang terdiri dari lima orang tersebut hanya ada dua orang yang bisa mengajukan pinjaman pada saat pengajuan pertama (pekan ke-1). Begitupun pada saat pengajuan kedua (pekan ke-2), dua orang berikutnya akan mendapat giliran untuk mengajukan pinjaman. Sedangkan pada saat pengajuan ketiga (pekan ke-3), barulah orang terakhir (satu orang) dapat mengajukan pinjaman. Lama masa angsuran pinjaman adalah 50 pekan. Namun jika mampu, anggota juga diperbolehkan melunasi pinjamannya sebelum masa angsuran habis sehingga dapat mengajukan pinjaman berikutnya. Dalam satu tahun, setiap anggota berhak atas dua kali pinjaman, dengan syarat pinjaman pertama telah dilunasi.

(41)

Plafon pinjaman yang tersedia adalah mulai Rp 300 ribu-Rp 5 juta. Namun, pada praktiknya terdapat anggota majelis yang dana pinjaman pertamanya kurang dari Rp 300 ribu. Hal tersebut karena jumlah pinjaman disesuaikan dengan pendapatan dan saving power anggota. Kenaikan plafon pinjaman diberikan secara bertahap dengan mempertimbangkan disiplin kehadiran, disiplin angsuran, disiplin tabungan, dan kesepakatan tanggung renteng oleh anggota lainnya.

Pengajuan pinjaman oleh anggota dilakukan pada saat pertemuan majelis.

Peminjaman dana harus diputuskan oleh seluruh anggota majelis karena adanya mekanisme tanggung renteng di antara sesama anggota majelis. Artinya, jika pada suatu saat terjadi pinjaman bermasalah (peminjam tidak dapat membayar pinjaman), maka hutangnya akan menjadi tanggungan seluruh anggota majelis tersebut. Pengajuan pinjaman anggota yang telah mendapat persetujuan dari seluruh anggota majelis akan diproses oleh financial officer. Apabila pengajuan pinjaman tersebut disetujui, maka satu pekan kemudian pinjaman sudah dapat dicairkan dalam pertemuan majelis.

Pembayaran angsuran pinjaman terdiri pembayaran angsuran pokok, tabungan wajib, tabungan kelompok, dan tabungan cadangan. Tabungan wajib adalah sejumlah uang yang wajib ditabungkan oleh seluruh anggota Ikhtiar dan tidak dapat diambil selama masih menjadi anggota majelis Ikhtiar. Tabungan kelompok adalah tabungan setiap anggota Ikhtiar yang hanya dapat diambil bila majelis mereka bubar. Sedangkan tabungan cadangan adalah tabungan anggota Ikhtiar yang dapat akan dikembalikan bila anggota telah melunasi pinjamannya.

Besar tabungan wajib, tabungan kelompok, dan tabungan cadangan tergantung

(42)

pada besarnya plafon pinjaman. Ketentuan besar plafon beserta komponen angsuran yang harus dibayar dalam Program Ikhtiar dapat dilihat dalam Tabel 2.2.

Tabel 2.2. Komponen Angsuran Dana Program Ikhtiar Berdasarkan Plafon Pinjaman

No Plafon (Rp) Angsuran Pokok (Rp)

Tabungan (Rp)

Wajib Kelompok Cadangan

1 300.000 6.000 200 300 500

2 400.000 8.000 200 300 500

3 500.000 10.000 200 300 500

4 600.000 12.000 200 300 500

5 700.000 14.000 200 300 500

6 750.000 15.000 250 500 750

7 800.000 16.000 250 500 750

8 900.000 18.000 400 600 1.000

9 1.000.000 20.000 400 600 1.000

10 1.200.000 24.000 400 600 1.000

11 1.300.000 26.000 400 600 1.000

12 1.500.000 30.000 400 600 1.500

13 2.000.000 40.000 800 1.200 2.000

14 2.500.000 50.000 1.000 1.500 2.500

15 3.000.000 60.000 1.000 1.500 2.500

16 3.500.000 70.000 2.000 3.000 5.000

17 4.000.000 80.000 2.000 3.000 5.000

18 4.500.000 90.000 2.000 3.000 5.000

19 5.000.000 100.000 2.000 3.000 5.000

Sumber: Koperasi BAIK, 2009.

Bagi anggota yang melakukan pinjaman dengan akad komersil (murabahah, ijarah, dan hiwalah), maka bertambah lagi satu jenis komponen angsuran, yaitu profit/keuntungan yang diberikan anggota kepada lembaga (Koperasi BAIK).

Besarnya profit tersebut tergantung pada kesepakatan antara lembaga dan anggota pada saat pengajuan pinjaman. Selain itu, pada setiap pertemuan majelis, setiap anggota juga mengumpulkan dana infaq dan dana sasarengan yang diperuntukkan bagi Koperasi BAIK, sebagai wujud kontribusi dan rasa memiliki anggota terhadap lembaga ini.

(43)

5) Pertemuan Rutin

Pertemuan rutin majelis dipandu oleh fasilitator dan TPL. Pertemuan rutin merupakan sarana dalam melakukan pelayanan kas angsuran dan tabungan, serta pengajuan dan pencairan pinjaman. Agenda lain yang biasanya dilakukan pada pertemuan rutin adalah evaluasi mengenai kinerja kelompok dalam kehadiran, pinjaman, dan tabungan, serta pembahasan usulan-usulan yang diberikan oleh anggota. Pertemuan ini kemudian ditutup dengan pembacaan hasil transaksi dan validasi oleh ketua majelis, serta pembacaan kembali ikrar anggota majelis Ikhtiar.

6) Monitoring Kinerja Majelis

Perkembangan kegiatan pendampingan majelis dimonitoring dalam briefing pekanan yang bertujuan untuk memperoleh informasi dan data mengenai kinerja majelis. Monitoring kinerja majelis didasarkan pada informasi lapangan dari fasilitator dan TPL, serta data prestasi majelis yang berupa prestasi angsuran, tabungan, dan kehadiran anggota. Pada setiap bulannya, data mengenai prestasi majelis akan dilaporkan oleh bagian operasional Koperasi BAIK. Data tersebut kemudian akan dibahas dalam rapat monitoring kinerja majelis yang dilakukan setiap satu kali per bulan. Output dari rapat monitoring kinerja majelis adalah pemetaan kualitas majelis dan rekomendasi bagi kegiatan pendampingan.

7) Monitoring, Evaluasi, dan Perencanaan Program

Proses monitoring, evaluasi, dan perencanaan sangat diperlukan untuk mengetahui kinerja program dan memperbaikinya. Hal ini bertujuan untuk mencapai kinerja yang optimum, sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

(44)

Monitoring program dilakukan dalam rapat bulanan dan pekanan. Rapat bulanan dilakukan untuk membahas laporan dan proyeksi finansial, perkembangan kinerja majelis dan kelompok, serta evaluasi dan rencana pendampingan. Sedangkan rapat pekanan dilakukan sebagai sarana monitoring kinerja TPL. Evaluasi dan perencanaan program dilakukan selama satu kali dalam setahun melalui suatu lokakarya yang bertujuan untuk menghasilkan rumusan program tahunan.

Rumusan program tahunan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi rencana kerja dan anggaran tahunan (annual working plan and budget) serta proyeksi finansial.

2.1.4. Dimensi dan Konsep Kemiskinan

Kemiskinan merupakan masalah kompleks dan multidimensional yang mencakup dimensi ekonomi, sosial, dan politik (Nasoetion, 1996). Dimensi kemiskinan ditinjau dari sisi ekonomi adalah kondisi yang menggambarkan rendahnya permintaan agregat yang menyebabkan berkurangnya insentif untuk mengembangkan sistem produksi, rasio kapital per tenaga kerja yang rendah sehingga menyebabkan produktivitas tenaga kerja rendah, serta penyebab misalokasi sumber daya, terutama tenaga kerja. Dilihat dari sisi sosial, kemiskinan mengindikasikan lemahnya potensi masyarakat untuk berkembang. Selain itu, kemiskinan juga terlihat dari minimnya aspirasi dan pendeknya horizon waktu wawasan ke depan suatu masyarakat. Sedangkan apabila dilihat dari sisi politik, kemiskinan dapat digambarkan melalui ketergantungan dan eksploitasi suatu kelompok masyarakat oleh kelompok masyarakat lainnya. Kemiskinan

(45)

sekelompok masyarakat akan menimbulkan kesenjangan yang dampaknya lebih buruk daripada kemiskinan itu sendiri.

Pada umumnya ketika orang membicarakan mengenai kemiskinan, maka yang dimaksud adalah kemiskinan yang bersifat material. Seseorang termasuk dalam kategori miskin jika tidak mampu memenuhi standar minimum kebutuhan dasar/pokok untuk dapat hidup layak (Rintuh dan Miar, 2003). Dalam Islam, kebutuhan dasar manusia tersebut mencakup lima unsur pokok yang harus dipelihara dan diwujudkan agar manusia dapat mewujudkan kemaslahatan di dunia dan akhirat (Djamil, 2004). Lima unsur pokok tersebut adalah:

a. Terpeliharanya agama (Hifdz al-Din) b. Terpeliharanya jiwa (Hifdz al-Nafs) c. Terpeliharanya keturunan (Hifdz al-Nasl) d. Terpeliharanya akal (Hifdz al-Aql)

e. Terpeliharanya harta/kekayaan (Hifdz al-Maal)

Selain memiliki definisi yang bersifat multidimensional, kemiskinan juga memiliki konsep yang beragam. Konsep-konsep kemiskinan yang telah berkembang antara lain adalah kemiskinan absolut dan relatif, serta kemiskinan kultural dan struktural.

a. Kemiskinan Absolut dan Relatif

Tambunan (2003) menyatakan bahwa kemiskinan dapat diukur dengan atau tanpa mengacu kepada garis kemiskinan. Pengukuran kemiskinan yang mengacu pada garis kemiskinan disebut dengan konsep kemiskinan absolut, sedangkan pengukuran kemiskinan yang tidak mengacu pada garis kemiskinan disebut

(46)

dengan konsep kemiskinan relatif. Seseorang dikatakan miskin secara absolut apabila tidak memenuhi standar yang ditetapkan sebagai garis kemiskinan.

Ukuran kemiskinan absolut bersifat tetap dan dapat diukur berdasarkan kebutuhan kalori minimum serta komponen-komponen nonpangan yang sangat diperlukan untuk bertahan hidup.

Di Indonesia, BPS menetapkan garis kemiskinan dengan menggunakan pendekatan konsumsi. Garis kemiskinan tersebut diukur dari kemampuan membeli bahan makanan ekuivalen dengan 2100 kkalori per kapita per hari dan biaya untuk memperoleh kebutuhan minimal akan barang/jasa, pakaian, perumahan, kesehatan, transportasi, dan pendidikan. Sementara itu, Bank Dunia menetapkan garis kemiskinan dari sisi pendapatan (income poverty), yaitu pendapatan di bawah $2 per hari (untuk kategori kemiskinan moderat) dan pendapatan di bawah $1 per hari (untuk kategori kemiskinan absolut).

Kemiskinan relatif melihat kemiskinan yang didasarkan pada kondisi riil tingkat kemakmuran masyarakat. Misalnya, garis kemiskinan ditetapkan sebesar 20 persen dari rata-rata pendapatan penduduk di suatu daerah, serta ketertinggalan pendidikan diukur berdasarkan rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas. Sebagai ukuran relatif, kemiskinan relatif dapat berubah antartempat dan antarwaktu.

b. Kemiskinan Kultural dan Struktural

Hamid (2008) mendefinisikan kemiskinan kultural sebagai kemiskinan yang terjadi karena budaya masyarakat yang “menerima” kemiskinan yang terjadi pada dirinya. Mereka bahkan tidak merespons usaha-usaha pihak lain yang

(47)

membantunya keluar dari kemiskinan tersebut. Sedangkan kemiskinan struktural merupakan kemiskinan yang disebabkan oleh struktur dan sistem ekonomi yang timpang dan tidak berpihak pada si miskin. Menurut Nasoetion (1996), kemiskinan struktural memiliki beberapa hierarki, dan hierarki tertinggi dalam kemiskinan struktural disebabkan oleh adanya ketimpangan dalam struktur perekonomian nasional. Hal ini menimbulkan masalah-masalah struktural ekonomi yang semakin menyudutkan keberadaan orang miskin.

2.2. Tinjauan Penelitian Terdahulu

a. Irfan Syauqi Beik (2008): Analysis on The Role of Zakat in Alleviating Poverty: Dompet Dhuafa Republika Case Study

Penelitian Beik (2008) bertujuan untuk menganlisis perubahan indikator kemiskinan mustahiq setelah mendapat distribusi dana ZIS. Pada penelitian ini, indikator kemiskinan dianalisis dengan menggunakan beberapa macam indeks kemiskinan, yaitu:

1) Headcount ratio, yaitu ukuran yang menunjukkan persentase jumlah orang miskin dalam populasi.

2) Poverty gap ratio (P1) dan income-gap ratio (I), yaitu ukuran yang menggambarkan selisih pendapatan rata-rata masyarakat miskin dengan garis kemiskinan.

3) Sen index poverty (P2) dan FGT index (P3), yaitu ukuran yang menunjukkan distribusi pendapatan/pengeluaran di antara masyarakat miskin.

Penelitian dilakukan terhadap 50 orang mustahiq penerima bantuan dari Dompet Dhuafa Republika dengan menggunakan garis kemiskinan yang

(48)

ditetapkan Jaring Pengaman Sosial (JPS) Jakarta tahun 2007 yaitu sebesar Rp 266.874,00/kapita/bulan. Garis kemiskinan tersebut kemudian dikonversi menjadi garis kemiskinan keluarga dengan cara mengalikannya dengan rata-rata jumlah orang dalam sebuah keluarga yang ditetapkan oleh BPS (2007), sehingga diperoleh garis kemiskinan/keluarga/bulan sebesar Rp 1.254.308,00.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah adanya distribusi ZIS, indikator-indikator/ukuran kemiskinan mustahiq mengalami penurunan. Hal ini berarti bahwa distribusi dana ZIS terbukti mampu memperbaiki kondisi kemiskinan mustahiq. Perubahan indikator-indikator kemiskinan mustahiq sebelum dan setelah adanya distribusi ZIS berdasarkan hasil penelitian Beik (2008) dapat dilihat pada Tabel 2.3.

Tabel 2.3. Indikator Kemiskinan Sebelum dan Setelah Adanya Distribusi ZIS

Indikator Kemiskinan Sebelum Distribusi ZIS Setelah Distribusi ZIS

H 0,84 0,74

P1 (Rp) 540.657,01 410.337,06

I 0,43 0,33

P2 0,46 0,33

P3 0,19 0,11

Sumber: Beik, 2008.

b. Irma Rahmawati (2005): Analisis Dampak Pendistribusian Zakat Melalui Kredit terhadap Pendapatan Mustahik (Studi Kasus: Program Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa)

Pada penelitian ini, dilakukan analisis terhadap faktor-faktor yang penting dalam peningkatan pendapatan mustahiq dengan menggunakan metode regresi eksponensial yang kemudian dilinearkan dan diolah dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS). Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi pendapatan per kapita mustahiq adalah jumlah dana Masyarakat Mandiri yang

(49)

diterima (pembiayaan), pembinaan yang diikuti, jumlah tanggungan, serta variabel dummy berupa tingkat pendidikan (SD atau tidak sekolah) dan cara pemasaran yang dilakukan oleh mustahiq (di dalam desa atau di luar desa).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pendapatan per kapita mustahiq dipengaruhi secara signifikan dan positif oleh jumlah dana pembiayaan, jumlah pembinaan yang diikuti, dan variabel dummy tingkat pendidikan mustahiq. Jumlah tanggungan mustahiq juga berpengaruh signifikan terhadap laju pendapatan per kapita mustahiq, namun dengan hubungan yang negatif. Sedangkan variabel dummy cara pemasaran tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap laju pendapatan per kapita mustahiq.

c. Wirawan (2008): Analisis Pemberdayaan Masyarakat Miskin Melalui Dana Zakat, Infaq, dan Shodaqoh (Studi Kasus: Program Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa terhadap Komunitas Pengrajin Tahu di Kampung Iwul, Desa Bojong Sempu, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor)

Salah satu tujuan dari penelitian Wirawan (2008) adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan pendapatan mustahiq pengrajin tahu yang merupakan peserta program Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa (MM DD) di Kampung Iwul. Variabel yang diduga berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan mustahiq adalah modal pinjaman dari MM-DD, pemakaian tenaga kerja, pendapatan harian dari usaha tahu, dan pendapatan harian lain-lain diluar usaha tahu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan harian dari usaha tahu dan pendapatan harian lain-lain di luar usaha tahu berpengaruh secara signifikan dan

Gambar

Tabel 1.1.  Jumlah  dan  Persentase  Penduduk  Miskin  Menurut  Daerah  Periode Maret 2007-Maret 2008
Tabel 1.2.  Estimasi Potensi Zakat Indonesia Tahun 2009
Tabel 1.3.  Angka  Kemiskinan  Provinsi  Jawa  Barat  Menurut  Kabupaten/Kota Tahun 2005-2006  Kabupaten/Kota  Tahun 2005  Tahun 2006 Jumlah Penduduk  Miskin  (ribu jiwa)  Persentase Penduduk  Miskin (%)  Jumlah  Penduduk Miskin  (ribu jiwa)  Persentase Pe
Gambar 1.1.  Lingkaran Setan Kemiskinan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Fakultas Teknik Informatika Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Judul Skripsi “Perancangan Sistem Informasi Pengarsipan Data Surat Masuk Dan Surat Keluar Pada Pelayanan

Seluruh dosen program studi Diploma 3 Teknik Informatika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu

Saat satelit mulai menjauh dari ground station, dapat terlihat pada tampilan spectran bahwa sinyal mulai kembali seperti bentuk awal dengan bentuk

Merupakan suatu bentuk hak penguasaan tanah oleh Negara dimana apabila disandingkan dengan hak-hak atas tanah di Indonesia secara terjemahan tidak berbeda dengan

Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, telaah pustaka dan analisis berbagai data sekunder.Dengan adanya kesadaran masyarakat untuk sama sama memelihara

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan Karya Tulis

Kata dasar atau bentuk dasar yang menjadi dasar segala bentukan kata diperlakukan sebagai lema atau entri, sedangkan bentuk derivasinya (kata turunan, kata ulang, dan gabungan

Dalam pem- buatan pupuk hayati dibutuhkan mikroba-mikroba yang mempunyai beberapa kemampuan sekaligus baik sebagai pupuk yang menyediakan unsur-unsur yang dibutuhkan