• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Panjang Sulur Tanaman (cm)

Data pengamatan panjang sulur tanaman (cm) mulai dari 1 MSPT sampai 10 MSPT disajikan pada Lampiran 7, 9, 11, 13, 15, 17, 19, 21, 23 dan 25 sedangkan sidik ragamnya disajikan pada Lampiran 8, 10, 12, 14, 16, 18, 20, 22, 24 dan 26. Dari Lampiran 7 sampai 26 dapat dilihat bahwa perlakuan media tanam berpengaruh nyata terhadap parameter panjang sulur tanaman (cm) pada 2, 6, 7, 8, 9 dan 10 MSPT sedangkan pada 1, 3, 4 dan 5 MSPT perlakuan media tanam tidak berpengaruh nyata. Perlakuan pupuk hayati untuk semua pengamatan mulai dari pengamatan 1 sampai 10 MSPT tidak menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata, demikian juga interaksi antara media tanam dengan pupuk hayati berpengaruh tidak nyata pada parameter panjang sulur tanaman.

Hasil uji beda rataan panjang sulur tanaman (cm) pada 2, 6, 7, 8, 9 dan 10 MSPT dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Panjang sulur tanaman (cm) dengan perlakuan media tanam dan pupuk hayati.

Perlakuan

Panjang sulur tanaman (MSPT)

2MSPT 6MSPT 7MSPT 8MSPT 9MSPT 10MSPT Media Tanam (M)

M0 11,4b 65,06b 96,46b 131,98b 176,66b 227,99b M1 13,26a 130,25a 187,46a 219,86a 269,15a 364,36a M2 13,98a 137,99a 190,26a 218,76a 278,12a 370,73a Pupuk Hayati (R)

R0 13,63 117,89 161,16 190,89 239,88 309,73 R1 13,31 114,41 153,42 187,28 245,3 328,14 R2 12,24 109,86 154,09 186,22 235,41 316,65 R3 12,34 105,23 163,58 196,39 244,64 329,59 Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh notasi yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf 5 %

Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa pada panjang sulur tanaman (cm), media tanam berpengaruh nyata pada 2, 6,7,8,9 dan 10 MSPT, dengan rataan tetinggi terdapat pada M2 (370,73) dan terendah terdapat pada M0 (277,99).

Hubungan antara media tanam dengan panjang sulur tanaman (cm) pada 10 MSPT ditampilkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Panjang sulur tanaman (cm) dengan perlakuan media tanam pada 10 MSPT

Hasil pada Tabel 3 memperlihatkan bahwa media tanam berpengaruh nyata terhadap panjang sulur tanaman (cm) pada 2,6,7,8,9 dan 10 MSPT, dengan rataan tertinggi terdapat pada perlakuan M2 (370,73) dan rataan terendah terdapat pada M0 (227,99). Panjang sulur tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar. Akan tetapi lingkungan luar seperti kesesuaian media tanam, kesuburan tanah, radiasi surya, suhu, udara dan ketersediaan air tanah lebih mempengaruhi panjang sulur tanaman. Tanah yang sesuai dan subur memacu tanaman untuk meningkatkan pertumbuhan, karena tanaman mendapat nutrisi yang cukup untuk membentuk bagian-bagian vegetatifnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sutanto (2005), yang menyatakan bahwa sifat tanah yang penting dalam mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah kesesuaiannya sebagai media pertumbuhan akar

0 100 200 300 400 M0 M1 M2 P a n ja n g S u lu r T a n a m a n ( cm )

tanaman. Air, udara, penyerapan panas dan pasokan unsur hara bersama-sama akan meningkatkan kesuburan tanah.

Jumlah Seluruh Bintil Akar (Bintil)

Data pengamatan jumlah seluruh bintil akar (bintil) disajikan pada Lampiran 27 sedangkan sidik ragamnya disajikan pada Lampiran 28. Dari Lampiran 27 dan 28 dapat dilihat bahwa perlakuan media tanam berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah seluruh bintil akar (bintil). Perlakuan pupuk hayati tidak menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata, deemikian juga interaksi antara media tanam dan pupuk hayati berpengaruh tidak nyata pada parameter jumlah seluruh bintil akar.

Hasil uji beda rataan jumlah seluruh bintil akar (bintil) dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Jumlah seluruh bintil akar (bintil) dengan perlakuan media tanam dan pupuk hayati

Media Rhiposant Total Rataan

R0 R1 R2 R3 M0 335,67 332,33 355,33 383,67 1407,00 117,08b M1 581,33 551,33 506,67 438,33 2077,67 173,14a M2 549,33 610,67 577,67 639,33 2377,00 198,08a Total 1466,33 1494,33 1439,67 1461,33 5861,67 Rataan 162,93 166,04 159,96 162,37

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh notasi yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf 5 %

Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa pada jumlah seluruh bintil akar (bintil), perlakuan media tanam berpengaruh nyata, dengan rataan tertinggi pada M2 (49,52) dan terendah pada M0 (29,31).

Hubungan antara media tanam dengan jumlah seluruh bintil akar (bintil) ditampilkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Jumlah seluruh bintil akar (bintil) dengan perlakuan media tanam

Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa media tanam berpengaruh nyata terhadap jumlah seluruh bintil akar (bintil), dengan rataan tertinggi terdapat pada perlakuan M2 (198,08) dan rataan terendah terdapat pada M0 (117,25). Jumlah seluruh bintil akar sebenarnya dipengaruhi oleh pupuk hayati yang diaplikasikan. Tetapi pada saat pengaplikasian pupuk iklim tidak mendukung, yaitu dengan curah hujan yang tinggi yang dapat mencuci pupuk yang telah diaplikasikan, padahal akar tanaman akan tumbuh dengan baik dan membentuk banyak bintil akar dengan curah hujan yang sesuai yaitu 3-10 hari hujan/bulan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Harahap, dkk (2008), yang menyatakan bahwa curah hujan yang diinginkan 1000-2500 mm/tahun dan 3-10 hari hujan/bulan.

Jumlah Bintil Akar Efektif (bintil)

Data pengamatan jumlah bintil akar efektif (bintil) disajikan pada Lampiran 29 sedangkan sidik ragamnya disajikan pada Lampiran 30. Dari Lampiran 29 dan 30 dapat dilihat bahwa perlakuan media tanam berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah bintil akar efektif (bintil). Perlakuan pupuk hayati tidak menunjukkaan pengaruh yang berbeda nyata, demikian juga interaksi antara media tanam dan pupuk hayati berpengaruh tidak nyata pada parameter jumlah bintl akar efektif (bintil). 0 50 100 150 200 250 M0 M1 M2 Ju m la h S e lu ru h B in ti l A k a r (b in ti l)

Hasil uji beda rataan jumlah bintil akar efektif (bintil) dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Jumlah bintil akar efektif (bintil) dengan perlakuan media tanam dan pupuk hayati

Media Rhiposant Total Rataan

R0 R1 R2 R3 M0 318,67 317,33 325,67 378,33 1340,00 111,67b M1 529,33 484,33 464,00 398,67 1876,33 156,36a M2 446,00 562,00 524,67 586,33 2119,00 176,58a Total 1294,00 1363,67 1314,33 1363,33 5335,33 Rataan 143,78 151,52 146,04 151,48

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh notasi yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf 5 %

Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa pada jumlah bintil akar efektif (bintil), perlakuan media tanam berpengaruh nyata, dengan rataan tertinggi pada M2 (44,15) dan terendah pada M0 (27,92).

Hubungan antara media tanam dengan jumlah bintil akar efektif (bintil) ditampilkan pada Gambar 3.

Gambar 3. Jumlah bintil akar efektif (bintil) dengan perlakuan media tanam

Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa media tanam berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah bintil akar efektif (bintil) rataan tertinggi dengan perlakuan media tanam terdapat pada M2 (176,58) sedangkan rataan terendah terdapat pada M0 (111,67). Pupuk hayati yang mengandung rhizobium yang diaplikasikan pada tanaman kurang kefektifannya karena keadaan lingkungan yang kurang

0 50 100 150 200 M0 M1 M2 Ju m la h B in ti l A k a r E fe k ti f (b in ti l)

mendukung, padahal akar tanaman yang memiliki bintil akar yang efektif dan banyak dapat memfiksasi N dari udara atau secara simbiosis dengan bakteri Rhizobium sp. yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Hal ini sesuai dengan pernyatan Rao (1994), yang menyatakan bahwa bintil akar efektif mampu memfiksasi N dari udara dan jumlah leghemoglobin didalam bintil akar memiliki hubungan langsung dengan jumlah N yang difiksasi.

Bobot Basah Tajuk (g)

Data pengamatan bobot basah tajuk (g) disajikan pada Lampiran 31 sedangkan sidik ragamnya disajiakan pada Lampiran 32. Dari Lampiran 31 dan 32 dapat dilihat bahwa perlakuan media tanam berpengaruh nyata terhadap parameter bobot basah tajuk (g). Perlakuan pupuk hayati tidak menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata, demikian juga interaksi antara media tanam dengan pupuk hayati berpengaruh tidak nyata pada parameter bobot basah tajuk (g).

Hasil uji beda rataan bobot basah tajuk (g) dengan perlakuan dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Bobot basah tajuk (g) terhadap perlakuan media tanam dan pupuk hayati

Media Rhiposant Total Rataan

R0 R1 R2 R3 M0 291,51 257,80 303,58 212,46 1065,35 88,78b M1 1179,37 1178,66 980,01 1315,69 4653,73 387,81a M2 1447,13 1914,28 1679,98 1729,67 6771,06 564,26a Total 2918,01 3350,73 2963,58 3257,82 12490,14 Rataan 324,32 372,30 329,29 361,98

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh notasi yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf 5 %

Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa perlakuan media tanam berpengaruh nyata pada bobot basah tajuk (g), dengan rataan tertinggi pada M2 (141,06) dan terendah pada M0 (22,19).

Hubungan antara media tanam dengan bobot basah tajuk (g) ditampilkan pada Gambar 4.

Gambar 4. Bobot basah tajuk (g) dengan perlakuan media tanam

Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa perlakuan media tanam berpengaruh nyata terhadap bobot basah tajuk (g), rataan tertinggi terdapat pada M2 (564,26) dan rataan terendah terdapat pada M0 (88,78). Jumlah air mempengaruhi tingkat pertumbuhan tanaman yang apat tercermin pada bobot basah. Namun bobot basah cenderung lebih banyak dipengaruhi oleh status air pada tubuh tanaman itu sendiri dibandingkan dengan perlakuan yang diberikan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Salisbury dan Ross (1995), yang menyatakan bahwa pertambahan massa segar dengan menimbang cepat-cepat sebelum air pada bahan tidak terlalu banyak menguap dinilai sangat beragam, bergantung pada status air tanaman.

Luas Daun (cm2)

Data pengamatan luas daun (cm2) disajikan pada Lampiran 33 sedangkan sidik ragamnya disajikan pada Lampiran 34. Dari Lampiran 33 dan 34 dapat dilihat bahwa perlakuan media tanam berpengaruh nyata terhadap parameter luas daun (cm2). Perlakuan pupuk hayati tidak menunjukkan pengaruuh yang berbeda nyata, demikian juga interaksi antara media tanam dengan pupuk hayati berpengaruh tidak nyata pada parameter luas daun (cm2).

0 100 200 300 400 500 600 M0 M1 M2 B o b o t B a sa h T a ju k ( g )

Hasil uji beda rataan luas daun (cm2) dengan perlakuan dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Luas daun (cm2) terhadap perlakuan media tanam dan pupuk hayati

Media Rhiposant Total Rataan

R0 R1 R2 R3 M0 292,85 257,56 262,40 244,69 1057,50 88,13b M1 306,74 296,89 319,93 278,69 1202,25 100,19a M2 287,73 308,64 313,26 320,25 1229,88 102,49a Total 887,33 863,08 895,59 843,63 3489,63 Rataan 98,59 95,90 99,51 93,74

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh notasi yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf 5 %

Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa perlakuan media tanam berpengaruh nyata pada luas daun (cm2) , dengan rataan tertinggi pada M2 (25,62) dan terendah pada M0 (22,03).

Hubungan antara media tanam dengan luas daun (cm2) ditampilkan pada Gambar 5.

Gambar 5. Luas daun (cm2) dengan perlakuan media tanam

Hasil pada Tabel 7 memperlihatkan bahwa media tanam berpengaruh nyata terhadap parameter luas daun (cm2) rataan tertinggi terdapat pada perlakuan M2 (102,49) dan rataan terendah terdapat pada M0 (88,13). Pada saat tanaman dalam masa pertumbuhan vegetatif iklim sangat mempengaruhi perkembangan rhizobium dalam membentuk bintil akar. Dengan aktifnya pembentukan bintil akar akan

80 85 90 95 100 105 M0 M1 M2 Lu a s D a u n ( cm 2)

mempengaruhi dalam peningkatan jumlah nitrogen, sehingga akan berhubungan dalam pertambahan luas daun. Hal ini sesuai dengan pernyataan Arinong, dkk (2005), yang menyatakan bahwa keadaan N tersedia dalam tanah lebih banyak dibandingkan dengan unsur lainnya, maka pertumbuhan tanaman lebih mengarah kepada besarnya laju pertumbuhan vegetatif, dimana permukaan daun menjadi lebih lebar dan memacu proses fotosintesis tanaman. Hal ini juga didukung oleh Agung dan Rahayu (2004), yang menyatakan bahwa ketersediaan air diperlukan untuk menyesuaikan diri dan digunakan untuk pertumbuhan tanaman, diantaranya untuk peningkatan luas daun.

Bobot Kering Tajuk (g)

Data pengamatan bobot kering tajuk (g) disajikan pada Lampiran 35 sedangkan sidik ragamnya disajikan pada Lampiran 36. Dari Lampiran 35 dan 36 dapat dilihat bahwa perlakuan media tanam berpengaruh nyata terhadap parameter bobot kering tajuk (g). Perlakuan pupuk hayati tidak menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata, demikian juga interaksi antara media tanam dengan pupuk hayati berpengaruh tidak nyata pada parameter bobot kering tajuk (g).

Hasil uji beda rataan bobot kering tajuk (g) dengan perlakuan dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Bobot kering tajuk(g) terhadap perlakuan media tanam dan pupuk hayati

Media Rhiposant Total Rataan

R0 R1 R2 R3 M0 94,06 78,39 97,00 64,23 333,67 27,81b M1 296,48 315,61 270,39 356,90 1239,37 103,28a M2 365,23 485,76 396,12 430,53 1677,64 139,80a Total 755,76 879,76 763,51 851,66 3250,69 Rataan 83,97 97,75 84,83 94,63

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh notasi yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf 5 %

Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa perlakuan media tanam berpengaruh nyata pada bobot kering tajuk (g), dengan rataan tertinggi terdapat pada M2 (34,95) dan terendah pada M0 (6,95).

Hubungan antara media tanam dengan bobot kering tajuk (g) ditampilkan pada Gambar 6.

Gambar 6. Bobot kering tajuk (g) dengan perlakuan media tanam

Dari Tabel 8 menunjukkan bahwa media tanam berpengaruh nyata pada bobot kering tajuk (g) rataan tertinggi dengan perlakuan media tanam terdapat pada M2 (139,80) dan rataan terendah terdapat pada M0 (27,81). Bobot kering tajuk berkaitan dengan bobot basah tajuk, yaitu bobot kering tajuk diperoleh setelah kandungan air yang terdapat pada bobot basah tajuk dikeringkan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Agung dan Rahayu (2004), yang menyatakan bahwa defisit air dalam jangka waktu yang pendek hanya berpengaruh pada kapasitas pertukaran gas dan efisiensi fotosintesis, sedangkan untuk jangka panjang mengakibatkan menurunnya efisiensi pembentukan bahan kering.

Kadar Klorofil (mg/g jaringan)

Data pengamatan kadar klorofil (mg/g jaringan) disajikan pada Lampiran 37 sedangkan sidik ragamnya disajikan pada Lampiran 38. Dari Lampiran 37 dan 38 dapat dilihat bahwa perlakuan pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap parameter kadar

0 50 100 150 M0 M1 M2 B o b o t K e ri n g T a ju k ( g )

klorofil (mg/g jaringan). Perlakuan media tanam tidak menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata, demikian juga interaksi antara media tanam dengan pupuk hayati berpengaruh tidak nyata pada parameter kadar klorofil (mg/g jaringan).

Hasil uji beda rataan kadar klorofil (mg/g jaringan) dengan perlakuan dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Kadar klorofil (mg/g jaringan) terhadap perlakuan media tanam dan pupuk hayati

Media Rhiposant Total Rataan

R0 R1 R2 R3 M0 419,03 445,83 454,70 485,17 1804,73 150,39 M1 442,00 447,23 438,47 484,83 1812,53 151,04 M2 428,07 415,97 380,53 483,40 1707,97 142,33 Total 1289,10 1309,03 1273,70 1453,40 5325,23 Rataan 143,23b 145,45b 141,52b 161,49a

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh notasi yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf 5 %

Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa perlakuan pupuk hayati berpengaruh nyata pada kadar klorofil (mg/ g jaringan), dengan rataan tertinggi pada R3 (53,83) dan terendah pada R2 (47,17).

Hubungan antara pupuk hayati dengan kadar klororfil (mg/g jaringan) ditampilkan pada Gambar 7.

Gambar 7. Kadar klorofil (mg/g jaringan) dengan perlakuan pupuk hayati

130 135 140 145 150 155 160 165 R0 R1 R2 R3 K a d a r K lo ro fi l ( m g /g ja ri n g a n )

Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa pemberian pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap kadar klorofil (mg/g jaringan) Mucuna, dengan rataan tertinggi terdapat pada R3 (116,49) dan rataan terendah terdapat pada R2 (141,52). Kadar klorofil erat hubungannya dengan kadar nitrogen daun tanaman. Jika kadar nitrogen pada daun tanaman tinggi maka kadar klorofil juga akan meningkat, karena nitrogen merupakan salah satu unsur pembentuk klorofil di daun. Hal ini sesuai

dengan pernyataa

yang menyatakan bahwa nitrogen berperan dalam pembentukan sel, jaringan dan organ tanaman dan berfungsi sebagai bahan sintesis klorofil, protein dan asam amino.

Kadar N, P dan K (%)

Data pengamatan kadar N, P, dan K (%) disajikan pada Lampiran 39, 41 dan 43 sedangkan sidik ragamnya disajikan pada Lampiran 40, 42 dan 44. Dari Lampiran 39 sampai 44 dapat dilihat bahwa perlakuan media tanam berpengaruh nyata terhadap kadar N (%) daun dan tidak berpengaruh nyata terhadap kadar P dan K (%) daun. Perlakuan pupuk hayati untuk semua pengamatan mulai dari pengamatan kadar N, P dan K (%) daun tidak menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata, demikian juga interaksi media tanam dengan pupuk hayati berpengaruh tidak nyata terhadap kadar N, P, dan K (%) daun.

Hasil uji beda rataan kadar N, P dan K (%) dengan perlakuan dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Kadar N, P dan K (%) terhadap perlakuan media tanam dan pupuk hayati

Perlakuan

Kadar Hara Daun (%)

N P K

Media Tanam (M)

M1 2,08a 0,14 0,44 M2 2,09a 0,13 0,38 Pupuk Hayati (R) R0 2,1 0,14 0,36 R1 2,15 0,14 0,44 R2 2,22 0,13 0,42 R3 2,19 0,11 0,4

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh notasi yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf 5 %

Dari Tabel 10 dapat dilihat bahwa perlakuan media tanam berpengaruh nyata terhadap kadar hara N (%) daun dan tidak berpengaruh nyata terhadap kadar hara P dan K (%) daun, dengan rataan tertinggi pada M0 (2,33) dan terendah pada M1 (2,08).

Hubungan antara kadar N (%) daun dengan media tanam ditampilkan pada Gambar 8.

Gambar 8. Kadar N (%) daun dengan perlakuan media tanam

Hasil pada Tabel 10 menunjukkan bahwa media tanam berpengaruh nyata terhadap kadar hara N (%) daun dan berpengaruh tidak nyata terhadap kadar hara P dan K (%) daun. Rataan tertinggi kadar hara N daun terdapat pada M0 (2,33) dan terendah terdapat pada M1 (2,08). Hal ini disebabkan pada perlakuan M0 hanya terjadi penambahan pupuk hayati Rhiphosant yang mengandung bradyrhizobium yang dapat menambat N bebas di udara. Hal ini sesuai dengan peryataan Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan (2010), yang menyatakan bahwa Rhiphosant

1,9 2 2,1 2,2 2,3 2,4 M0 M1 M2 K a d a r H a ra N D a u n ( % )

adalah inokulan berbahan aktif bakteri penambat N bebas dan pelarut P. Bakteri penambat N dari udara yang igunakan berasal dari jenis Bradyrhizobium japonicum yang mampu menangkap N bebas dalam udara tanah.

Analisis Tanah

1.Analisis Tanah Awal

Data hasil analisis tanah subsoil sebelum diberi perlakuan disajikan pada Tabel berikut.

Tabel 11. Data hasil analisis tanah subsoil sebelum diberi perlakuan

No Pengamatan Parameter Hasil Kriteria Sifat Tanah (BPP Medan)

1. Pasir (%) 22,56

2. Debu (%) 20,00 Lempung Berpasir

3. Liat (%) 57,44 4. pH (H2O) 5,74 Agak Masam 5. C (%) 0,30 Sangat Rendah 6. N (%) 0,02 Sangat Rendah 7. C/N 15,00 Sedang 8. P2O5 (%) 0,02 Sangat Rendah 9. K2O (%) 0,10 Sedang

10. Ca (me/100) 0,67 Sangat Rendah

Sumber : Laboratorium Riset dan Teknologi, Fakultas Pertanian, USU.

Dari Tabel 11 dapat dilihat bahwa tanah yang diuji merupakan jenis tanah lempung berpasir, yang memilki pH agak asam dengan kadar hara yang sangat rendah seperti kandungan karbon, total N, P2O5, dan Ca. Sedangkan C/N dan kadar hara K2O memiliki kadar yang sedang.

2.Analisis Tanah Akhir

Data hasil analisis tanah akhir percobaan disajikan pada Tabel 12 berikut. Dari Tabel 12 dapat dilihat bahwa terjadinya penurunan pada pH tanah seperti pada perlakuan M0R0, M0R1, M0R2, M0R3, M1R2 dan M1R3. Terjadinya peningkatan pada berbagai unsur hara seperti pada C yaitu pada M1R0, M1R1,

M1R3. Pada C/N yaitu pada M0R1, M1R0, M1R1, M1R2, M1R3, M2R2 dan M2R3. Pada unsur hara P2O5 terjadi pada semua perlakuan mulai dari M0R0 sampai M2R3. Dan pada unsur hara K2O terjadi pada semua perlakuan kecuali pada perlakuan M0R0 dan M0R1 yang tidak mengalami perubahan. Sedangkan pada kandungan Ca tanah tidak terjadinya perubahan pada setiap perlakuan.

Dari hasil pada Tabel 11 dan 12 terlihat perbedaan yang dominan. Adanya peningkatan dan penurunan pada hasil awal dan hasil akhir dari analisis tanah yang dilakukan. Hasil awal pH tanah menunjukkan kriteria pH tanah terletak pada agak masam, setelah perlakuan terjadi penurunan pH menjadi masam, yaitu pada perlakuan M0R0, M0R1, M0R2, M0R3, M1R2, dan M1R3. Hal ini disebabkan karena pemberian pupuk hayati yang mengandung mikroorganisme hanya membantu penyediaan unsur hara di tanah, namun tidak dapat mempengaruhi pH tanah. Sedangkan pada kandungan C pada tanah awal dengan kriteria sangat rendah menjadi tinggi pada tanah akhir yaitu pada M1R0, M1R1, M1R2 dan M1R3. Pada kandungan N dan P2O5 dengan kriteria sangat rendah menjadi rendah, dan pada C/N dan kandungan K2O pada tanah awal dengan kriteria sedang menjadi tinggi pada tanah akhir. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan media dan pemberian pupuk hayati yang mengandung mikroorganisme yang dapat membantu penyediaan unsur hara dalam tanah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (2005), yang meyatakan bahwa mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu nitrogen (N), fosfat (P) dan kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba.

KESIMPULAN

Kesimpulan

1. Perlakuan media tanam (M) berpengaruh nyata pada parameter panjang sulur tanaman, jumlah seluruh bintil akar, jumlah bintil akar efektif, bobot basah tajuk, luas daun dan bobot kering tajuk. Hasil terbesar pada perlakuan media tanam dengan bobot kering tajuk 139,80 g yang terdapat pada perlakuan M2.

2. Perlakuan pupuk hayati (R) berpengaruh nyata pada parameter kadar klorofil. Hasil terbesar pada perlakuan dengan menggunakan pupuk hayati dengan bobot kering tajuk 97,75 g yang terdapat pada perlakuan R1.

3. Penggunaan Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) sebagai campuran media tanam dapat digantikan oleh Abu Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dengan perbandingan 3:1, seperti pada kadar C dan N tanah.

Saran

Sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan bahan

tanaman dari perbanyakan vegetatif yaitu stek untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan pertumbuhan pada Mucuna bracteata.

Dokumen terkait