Pelaksanaan Penelitian
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Jumlah Bakteri
Dari hasil sidik ragam pada lampiran 4 diketahui bahwa pemberian pupuk kandang (pukan) sapi dan interaksi antara pukan sapi dan pupuk anorganik berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah bakteri dalam tanah, sedangkan pemberian pupuk anorganik berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah bakteri dalam tanah. Jumlah bakteri pada masing-masing perlakuan pukan sapi dan pupuk anorganik disajikan pada tabel 1.
Tabel 1. Nilai Rataan Jumlah Bakteri (105) Pada Masing-masing Perlakuan Pukan Sapi dan Pupuk Anorganik.
Pukan
Sapi Pupuk Anorganik
M0 M1 M2 M3
C0 20,0 ab 24,3 a 23,3 a 19,3 ab C1 16,3 bc 13,0 cd 8,3 d 20,3 a
Keterangan: 1. C adalah pemberian pukan sapi dan M adalah pemberian pupuk anorganik dimana : C0 :Tanpa pukan sapi, C1: 20 ton pukan sapi / ha BTKO, M0 : Tanpa pupuk, M1: 212,5 mg SP-36, 3290 mg KCl, 2187.5 mg Mg/ 5 Kg BTKO, M2 :425 mg SP-36, 6580 mg KCl, 4375 mg Mg/ 5 Kg BTKO, M3: 637.5 mg SP-36, 9870 mg KCl, 6562.5 mg Mg/ 5 Kg BTKO
2. Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama (a, b) tidak berbeda nyata pada taraf 5% dalam uji BNT (BNT0,05 =5,94)
Kelihatan bahwa jumlah bakteri tertinggi pada perlakuan C0M1 yang berbeda nyata dengan perlakuan C1M0, C1M1, dan C1M2 dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan C0M0, C0M2, C0M3 dan C1M3.
Arif Irfan : Pengaruh Pemberian Pupuk Sp-36, KCL, Kieserit Dan Kotoran Sapi Terhadap Jumlah Mikroorganisme Pada Andisol Tongkoh Kabupaten Karo, 2007.
USU Repository © 2009
Dari hasil sidik ragam pada lampiran 7 diketahui bahwa pemberian kotoran sapi berpengaruh nyata terhadap jumlah aktinomycetes dalam tanah, dan pemberian pupuk anorganik berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah aktinomycetes dalam tanah. Sedangkan interaksi antara kotoran sapi dan pupuk anorganik berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah aktinomycetes dalam tanah. Jumlah aktinomycetes pada masing-masing perlakuan kotoran sapi dan pupuk anorganik disajikan pada tabel 2.
Tabel 2. Nilai Rataan Jumlah Aktinomycetes (105) Pada Masing-masing Perlakuan Pukan Sapi dan Pupuk Anorganik.
Pukan
Sapi Pupuk Anorganik
M0 M1 M2 M3
C0 5,3 b 4,0 b 3,0 b 3,7 b
C1 3,0 b 6,0 b 11,0 a 4,0 b
Keterangan: Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama (a, b) tidak berbeda nyata pada taraf 5% dalam uji BNT (BNT0,05 =3,83)
Kelihatan bahwa jumlah aktinomycetes tertinggi pada perlakuan C1M2 yang berbeda nyata dengan perlakuan C0M0, C0M1, C0M2 , C0M3, C1M0, C1M1 dan C1M3.
Jumlah Jamur
Dari hasil analisa yang diperoleh, bahwa jamur hanya terdapat pada perlakuan pemberian kotoran sapi dan pemberian pupuk anorganik dengan taraf dosis pupuk terendah (C1M1).
Tabel 3. Nilai Rataan Jumlah Jamur (105) Pada Masing-Masing Perlakuan Pukan Sapi Dan Pupuk Anorganik
Pukan
Sapi Pupuk Anorganik
M0 M1 M2 M3
Arif Irfan : Pengaruh Pemberian Pupuk Sp-36, KCL, Kieserit Dan Kotoran Sapi Terhadap Jumlah Mikroorganisme Pada Andisol Tongkoh Kabupaten Karo, 2007.
USU Repository © 2009
C1 0 0,7 0 0
Jumlah Total Mikroorgansime
Dari hasil sidik ragam pada lampiran 9 diketahui bahwa pemberian pukan sapi berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah total mikroorganisme dalam tanah, dan pemberian pupuk anorganik berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah total mikroorganisme dalam tanah. Interaksi antara pukan sapi dan pupuk anorganik juga berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah total mikroorganisme dalam tanah. Jumlah total mikroorganisme pada masing-masing perlakuan pukan sapi dan pupuk anorganik disajikan pada tabel 4.
Tabel 4. Nilai Rataan Jumlah Total Mikroorganisme (105) Pada Masing-masing Perlakuan Pukan Sapi dan Pupuk Anorganik.
Pukan
Sapi Pupuk Anorganik
M0 M1 M2 M3
C0 23,6abc 28,3a 24,0abc 21,3bc
C1 19,3c 24,7ab 19,3c 21,3bc
Keterangan: Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama (a, b) tidak berbeda nyata pada taraf 5% dalam uji BNT (BNT0,05 =4,79).
Arif Irfan : Pengaruh Pemberian Pupuk Sp-36, KCL, Kieserit Dan Kotoran Sapi Terhadap Jumlah Mikroorganisme Pada Andisol Tongkoh Kabupaten Karo, 2007.
USU Repository © 2009
Pembahasan
Jumlah Bakteri
Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa jumlah bakteri tertinggi pada perlakuan tanpa pemberian pukan sapi dan pemberian pupuk anorganik dengan taraf dosis pupuk terendah (C0M1) yaitu 24,3x105 dan yang terendah pada perlakuan pemberian pukan sapi dan pemberian pupuk anorganik dengan taraf dosis ke-2 (C1M2) yaitu 8,3x105. Tingginya jumlah bakteri pada perlakuan C0M1 walaupun tidak berbeda nyata dengan perlakuan C0M0, C0M2 dan C0M3, disebabkan karena pada kondisi tersebut bakteri merespon baik pemberian M1. Dimana bakteri juga membutuhkan unsur hara yang juga dibutuhkan tanaman. Hal ini sesuai dengan teori Hakim, dkk (1986) yang menyatakan bahwa Dipandang dari sudut tanaman ada dua kelompok besar jasad hidup (organisme) tanah yaitu yang menguntungkan dan merugikan. Kelompok yang menguntungkan meliputi seluruh organisme yang melakukan pelapukan bahan organik, perubahan ke anorganik, dan penambahan nitrogen. Sedangkan kelompok yang merugikan adalah yang melakukan persaingan hara dengan tanaman pokok.
Perlakuan tanpa pemberian kotoran sapi dan pemberian pupuk anorganik dengan taraf dosis pupuk terendah tidak berbeda nyata dengan perlakuan pemberian pukan sapi dan pemberian pupuk anorganik dengan taraf dosis pupuk tertinggi. Dalam hal ini didapat bahwa pemberian bahan organik yang berasal dari pukan sapi tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan mikroorganisme di dalam tanah.
Arif Irfan : Pengaruh Pemberian Pupuk Sp-36, KCL, Kieserit Dan Kotoran Sapi Terhadap Jumlah Mikroorganisme Pada Andisol Tongkoh Kabupaten Karo, 2007.
USU Repository © 2009
Untuk perlakuan kontrol, jumlah bakteri tercatat pada nilai 20x105 atau 2.000.000 sel/g tanah. Ini menandakan bahwa kondisi tanah andisol tongkoh yang menjadi objek percobaan tidak bersahabat lagi untuk kondisi perkembangan bakteri. Berdasarkan teori yang diungkapkan Foth (1991) bahwa satu gram tanah subur dapat mengandung bakteri lebih dari 1.000.000.000.
Pada perlakuan tanpa pemberian pukan dan tanpa pupuk anorganik, jumlah bakteri tercatat pada jumlah 20x105. Kemudian perlakuan tanpa pemberian pukan dikombinasikan dengan pemberian pupuk anorganik dosis taraf terendah, terjadi peningkatan jumlah bakteri yaitu pada jumlah 24,3x105. Namun ketika pupuk anorganik yang diberikan ditingkatkan dosisnya pada taraf ke-2 terjadi penurunan jumlah bakteri yang tercatat pada nilai 23,3x105. Begitu juga halnya ketika taraf pupuk ditingkatkan hingga pada level tertinggi juga terjadi penurunan, yaitu 19,3x105. Meskipun penurunan nilai ini tidak berbeda nyata Keadaan ini menggambarkan bahwa dosis M1 tidak mengganggu perkembangan bakteri.
Jumlah Aktinomycetes
Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa jumlah aktinomycetes tertinggi pada perlakuan C1M2 yaitu 11x105 dan yang terendah pada perlakuan C0M2 dan C1M0 yaitu 3x105. Tingginya jumlah aktinomycetes pada perlakuan C1M2 disebabkan karena adanya interaksi antara pupuk anorganik dan kotoran sapi yang dapat memberikan sumber energi bagi mikroorganisme tanah. Dan rendahnya aktinomycetes pada perlakuan C1M0 adalah karena kurangnya sumber makanan bagi mikroorganisme.
Pada perlakuan tanpa pemberian pukan sapi dan tanpa pupuk anorganik tercatat jumlah actinomycetes 5,3x105. Namun ketika dosis pupuk anorganik yang
Arif Irfan : Pengaruh Pemberian Pupuk Sp-36, KCL, Kieserit Dan Kotoran Sapi Terhadap Jumlah Mikroorganisme Pada Andisol Tongkoh Kabupaten Karo, 2007.
USU Repository © 2009
dikombinasikan terhadap tanpa pemberian pukan sapi ditingkatkan hingga pada taraf M3. Jumlah actinomycetes mengalami penurunan yang tidak nyata hingga 3,7x105. adanya penambahan dosis pupuk hingga pada taraf tertinggi juga dapat menurunkan jumlah actinomycetes di dalam tanah.
Untuk perlakuan kontrol tercatat jumlah actinomycetes pada nilai 530.000, sedangkan dalam satu gram tanah biasanya mengandung 1.000.000-6.000.000. Hal ini menggambarkan bahwa kondisi tanah andisol tongkoh lagi-lagi bermasalah sebagai tempat berkembang biaknya actinomycetes. Ini sesuai dengan teori Foth (1991) yang menyatakan bahwa jumlah actinomycetes antara 1.000.000 sampai 36.000.000 per gram tanah. Berat substansi hidup per are melampaui bakteri, tetapi kenyataannya mereka tidak akan sama dengan jaringan jamur.
Jumlah Jamur
Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa untuk semua perlakuan yang diaplikasikan ke andisol tongkoh hampir semuanya menyebabkan tidak terdapatnya jamur. Jamur hanya terdapat pada perlakuan C1M1. Ini juga menggambarkan bahwa andisol tongkoh yang dijadikan objek penelitian tidak terdapat jamur di dalamnya. Hal tersebut dapat dilihat dari keadaan perlakuan C0M0, jumlah nilai jamur yang di dapat adalah 0 (nol).
Kondisi yang menyebabkan terdapatnya jamurnya pada perlakuan C1M1 yaitu dikarenakan bersumber dari perlakuan pukan sapi (C1) yang diberikan ke andisol tongkoh. Namun ketika dosis pupuk anorganik yang diberikan beserta perlakuan C1 mulai ditingkatkan dari M2 hingga M3 menyebabkan nilai jumlah jamur yang terdapat dalam tanah kembali 0. Hal ini menyatakan bahwa peningkatan dosis pupuk anorganik yang diberikan ke dalam tanah dapat
Arif Irfan : Pengaruh Pemberian Pupuk Sp-36, KCL, Kieserit Dan Kotoran Sapi Terhadap Jumlah Mikroorganisme Pada Andisol Tongkoh Kabupaten Karo, 2007.
USU Repository © 2009
menyebabkan ketiadaan jamur di dalamnya. Jamur hanya toleran terhadap perlakuan dosis pupuk anorganik yang terendah yaitu M1.
Bila dilihat pada perlakuan kontrol maka yang ada pada tabel jumlah jamur hanyalah nilai 0. Hal ini dengan jelas menggambarkan kondisi sebenarnya andisol tongkoh, yang memang tidak mengandung jamur yang mempunyai peran baik di dalam tanah
Jumlah Total Mikroorganisme
Dari tabel 4 dapat dilihat bahwa jumlah total mikroorganisme tertinggi pada perlakuan C0M1 yaitu sebesar 28,3x105 dan yang terendah pada perlakuan C1M0 dan C1M2 yaitu sebesar 19,3x105.
Pemberian pupuk kandang berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah total mikroorganisme. Namun interaksi pupuk kandang dan pupuk ZA, SP-36, KCl dan Kieserit berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah total mikroorganisme.
Arif Irfan : Pengaruh Pemberian Pupuk Sp-36, KCL, Kieserit Dan Kotoran Sapi Terhadap Jumlah Mikroorganisme Pada Andisol Tongkoh Kabupaten Karo, 2007.
USU Repository © 2009