Pakan yang diberikan pada penelitian ini adalah modifikasi formula tepung ikan lele, probiotik, dan minyak ikan lele. Berikut hasil analisis proksimat kandungan gizi pakan perlakuan pada Tabel 3 dibawah ini.
Tabel 3 Hasil analisis proksimat kandungan gizi pakan perlakuan
No Kandungan Pakan A1 Pakan A2 Pakan A3
1 Kadar Air (%) 13.3 12.5 19.6 2 Kadar Abu (%) 1.2 1.7 2.1 3 Lemak (%) 21.6 22.7 27.2 4 Protein (%) 17.8 19.0 19.2 5 Karbohidrat (%) 50.9 51.1 55.1 6 Serat Kasar (%) 2.9 3.2 3.7 7 Energi (Kal/kg) 406.0 424.1 435.9
Keterangan: Jumlah % dalam berat basah. Hasil analisis proksimat Laboratorium Terpadu Institut Pertanian Bogor 2013.
Tepung ikan lele memiliki nilai gizi yang tinggi terutama kandungan proteinnya yang kaya akan asam amino esensial, terutama lisin dan metionin, selain itu tepung ikan lele juga kaya akan vitamin B, mineral, serta memiliki kandungan serat yang rendah (Departemen Perdagangan 1982 dalam Mervina 2009). Probiotik yang digunakan adalah E. faecium IS-27526. Probiotik ini telah teruji mampu meningkatkan bakteri asam laktat (Surono 2004), serta dapat memperbaiki status intoleransi laktosa dan mencegah diare (Collado et al. 2007). Penggunaan probiotik dalam ransum dapat meningkatkan daya cerna sehingga zat-zat pakan lebih banyak diserap oleh tubuh untuk pertumbuhan (Barrow 1992). Mekanisme kerja bakteri probiotik dibutuhkan dalam memecah protein menjadi
10
senyawa sederhana seperti asam amino, sehingga kebutuhan akan protein dalam pembentukan sel-sel darah dapat terpenuhi (Ali et al. 2013).
Minyak ikan yang berasal dari air tawar (ikan lele, gabus, dan mas) dapat dijadikan sebagai sumber asam lemak omega 6 (Srimiati 2011). Zat gizi utama yang terkandung dalam minyak ini adalah asam lemak tidak jenuh yang sebagian besar berupa asam lemak linoleat (Pudjiadi 1997). Strategi yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan asam lemak esensial adalah dengan mengonsumsi minimal 2 ikan setiap minggu (Gebauer et al. 2006).
Ketiga pakan formulasi yang diberikan memiliki kandungan gizi yang tidak jauh berbeda. Pakan A3 yang ditambahkan probiotik dan minyak ikan lele memiliki kadar air, kandungan lemak dan energi yang lebih tinggi dibandingkan pakan lainnya. Sementara kandungan protein pakan yang diberikan tidak jauh berbeda, padahal pakan A1 lebih banyak tepung badan ikan daripada pakan A2 dan A3 yang ditambahkan tepung kepala ikan. Hal ini diduga disebabkan karena pada bagian kepala ikan yang digunakan untuk pembuatan tepung, daging dalam jumlah kecil yang menempel pada kepala tidak dipisahkan, sehingga kandungan proteinnya tidak jauh berbeda. Mervina et al. (2012) menyatakan bahwa kadar protein tepung badan ikan sebesar 63.83% bk, sedangkan kadar protein tepung kepala ikan sebesar 56.04% bk.
Hewan coba mengkonsumsi pakan formulasi selama tiga bulan, tetapi konsumsi pakan MEP selama intervensi menunjukkan respon yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan jenis pakan dan daya terima MEP terhadap pakan yang diberikan selama intervensi. Tabel 4 di bawah ini menggambarkan rata-rata dan persentase konsumsi pakan selama intervensi.
Tabel 4 Rata-rata dan presentasi konsumsi pakan selama intervensi Perlakuan Berat pakan
(gram) Rata-rata konsumsi (gram) Presentasi konsumsi(%) A1 100 90.9 ± 0.3 90.9 A2 100 85.7 ± 0.4 85.7 A3 100 89.2 ± 0.4 89.2
Keterangan: A1 = Pakan standar; A2 = Pakan standar + probiotik; A3 = Pakan standar + probiotik + minyak ikan lele
Rata-rata konsumsi MEP terhadap ketiga jenis pakan cukup baik, karena mencapai lebih dari 80%. Konsumsi tertinggi pada pakan A1 (90.9%), sedangkan konsumsi terendah pada pakan A2 (85.7%). Perbedaan rata-rata konsumsi dipengaruhi oleh daya terima MEP terhadap pakan yang diberikan. Menurut Bennet et al. (1996), faktor yang dapat mempengaruhi daya terima primata terhadap makanan adalah jenis nutrisi, palatabilitas, bentuk, dan bahan makanan.
Penelitian Utama
Darah merupakan cairan (90%) yang terdapat dalam tubuh, yang berfungsi untuk menyerap dan membawa nutrien yang dibutuhkan untuk metabolisme jaringan, membuang sisa hasil metabolisme jaringan yang tidak diperlukan,
11 mempertahankan tubuh terhadap infeksi dan invasi mikroorganisme, serta memelihara keseimbangan asam basa (Mccanca et al. 2010).
Darah akan menghasilkan dua fraksi yang berpisah apabila disentrifusi yaitu fraksi padatan yang disebut butir-butir darah dan fraksi cairan (plasma). Harper et al. (1979) menyatakan bahwa butir darah dapat digolongkan menjadi 3 komponen penting yaitu eritrosit, leukosit dan trombosit. Tabel 5 di bawah ini merupakan kondisi profil darah awal sebelum perlakuan terhadap MEP.
Tabel 5 Nilai profil darah awal monyet ekor panjang
Parameter (Satuan) A1 A2 A3 Nilai
Rata-rata Nilai Normal* Eritrosit (× 106/µl) 3.4±1.2 4.4±0.8 4.4±0.4 4.1±0.6 5.3-6.3 Hemoglobin (g/dl) 9.1±2.9 12.0±2.5 11.4±0.6 10.9±1.5 11.0-12.4 Hematokrit (%) 23.8±8.8 30.5±5.7 30.1±3.0 28.1±3.8 33.1-37.5 MCV (fl) 69.1±1.9 69.1±0.7 68.5±0.5 68.9±0.3 59.0-66.0 MCH (pg) 26.9±3.5 27.3±2.2 26.1±1.1 26.8±0.6 19.0-21.0 MCHC (g/dl) 39.0±5.7 39.4±3.1 38.1±1.9 38.8±0.7 32.0-35.0 Leukosit(× 106/ml) 7.6±4.1 4.4±2.3 5.1±1.8 5.7±1.7 6.1-12.5 Trombosit (× 103) 239±109 238±16 243±56 240±2 300-512
Keterangan: A1 = Pakan standar; A2 = Pakan standar + probiotik; A3 = Pakan standar + probiotik + minyak ikan lele
*sumber : Fortman et al. 2001
Tabel 5 di atas menunjukkan bahwa hewan coba yang akan diberi pakan A1 memiliki nilai eritrosit, hemoglobin, hematokrit, MCH, dan MCHC yang lebih rendah dibandingkan MEP yang akan diberi pakan A2 dan A3. Profil darah MEP ini menunjukkan bahwa hewan coba mengalami anemia yang ditandai dengan nilai hemoglobin dan hematokrit di bawah nilai normal. Secara umum nilai hemoglobin dan hematokrit digunakan untuk memantau derajat anemia (Kemenkes 2011). Hewan coba yang akan diberi pakan A2 dan A3 memiliki status normal, karena nilai hemoglobin MEP berada pada nilai normal.
Jika melihat nilai leukosit MEP sebelum perlakuan, diketahui bahwa MEP yang akan diberi pakan A1 memiliki nilai yang normal, sedangkan MEP yang akan diberi pakan A2 dan A3 memiliki nilai yang lebih rendah. Hal ini mengindikasikan hewan coba mengalami infeksi virus. Nilai leukosit yang rendah juga dapat disebabkan karena hewan coba mengalami stres (Kemenkes 2011). Nilai trombosit MEP berada di bawah nilai normal mengindikasikan terjadi trombositopenia. Hal ini berhubungan dengan idiopatik trombositopenia purpura (ITP), anemia hemolitik, aplastik, dan pernisiosa (Kemenkes 2011).
Profil darah pada hewan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti umur, jenis kelamin, bangsa, penyakit, temperatur lingkungan, keadaan geografis, dan kegiatan fisik. Selain itu, profil darah juga dipengaruhi oleh pakan yang diberikan. Proses pembentukan darah (homopoeisis) memerlukan zat seperti besi, mangan, kobalt, vitamin, dan asam amino. Berikut merupakan rata-rata nilai profil darah MEP dengan tiga perlakuan pada Tabel 6 di bawah ini.
12
Tabel 6 Rata-rata nilai profil darah monyet ekor panjang selama perlakuan
Parameter (Satuan) A1 A2 A3 Nilai
Rata-rata Eritrosit (× 106/µl) 3.8±0.9 4.2±0.7 4.5±0.3 4.2±0.3 Hemoglobin (g/dl) 10.8±1.9 11.9±1.8 12.1±0.7 11.6±0.7 Hematokrit (%) 26.4±6.2 29.3±4.9 30.6±2.3 28.7±2.1 MCV (fl) 68.8±1.0 68.8±0.6 68.3±0.4 68.6±0.3 MCH (pg) 28.5±3.1 28.0±2.0 27.0±1.3 27.9±0.8 MCHC (g/dl) 41.5±4.8 40.7±3.0 39.6±1.9 40.6±1.0 Leukosit(× 106/ml) 8.4±3.3 5.8±1.7 7.2±2.3 7.1±1.3 Trombosit (× 103) 228±57 243±60 269±37 247±20
Keterangan: A1 = Pakan standar; A2 = Pakan standar + probiotik; A3 = Pakan standar + probiotik + minyak ikan lele
Rata-rata nilai profil darah MEP yang diberi pakan A3 lebih tinggi pada eritrosit, hemoglobin, hematokrit, dan trombosit dibandingkan MEP dengan pakan A1 dan A2, sedangkan MCV, MCH, MCHC, dan leukosit MEP tertinggi pada MEP dengan pakan A1. Apabila dibandingkan dengan nilai normal, nilai profil darah MEP masih belum sesuai pada eritrosit, hematokrit, MCV, MCH, MCHC, dan trombosit. Hal ini diduga disebabkan karena nilai profil darah MEP pada awal intervensi belum menunjukkan nilai yang optimal pada ketiga jenis perlakuan.
Sel Darah Merah (Eritrosit)
Sel darah merah atau eritrosit merupakan jenis sel darah paling umum, berbentuk lempengan bikonkaf dan terpulas merah muda dengan pewarna eosin (Eroschenko 2000). Eritrosit dibentuk di dalam sumsum tulang dengan jangka hidup normal eritrosit pada hewan adalah 115-120 hari. Sel darah merah tua akan hancur dalam limpa, sumsum tulang, dan hati (Mitruka & Rawnsley 2001). Jumlah eritrosit dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, keadaan gizi, masa laktasi, kehamilan, temperatur lingkungan dan ketinggian (Mccance et al. 2010).
Keterangan: A1= Pakan standar; A2 = Pakan standar + probiotik; A3 = Pakan standar + probiotik + minyak ikan lele
Gambar 3 Grafik Kadar Eritrosit Monyet Ekor Panjang Selama Perlakuan
0 hari 30 hari 60 hari 90 hari
A1 3,43 4,30 3,77 3,81 A2 4,40 4,30 4,30 3,99 A3 4,40 4,66 4,51 4,34 3,00 3,50 4,00 4,50 5,00 K adar (x 10 6/µ l)
13 Jumlah rata-rata eritrosit monyet ekor panjang yang diberi pakan perlakuan sebesar 4.2±0.5(x106/µl). Nilai ini menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan penelitian Soma et al. (2011) yang menyatakan bahwa kadar eritrosit monyet ekor panjang betina antara 3.9±0.5(x106/µl), tetapi hal ini berbeda dengan Fortman et al. (2001) yang menyatakan bahwa nilai normal eritrosit pada monyet ekor panjang adalah 5.3-6.3(x106/µl).
Tabel 7 Rata-rata perubahan kadar eritrosit monyet ekor panjang
Perlakuan ∆ 30 hari ∆ 60 hari ∆ 90 hari Rata-rata p value A1 0.87±0.8 0.34±0.5 0.38±0.7 0.53±0.3a
A2 -0.11±0.1 -0.10±0.3 -0.42±0.2 -0.21±0.2b A3 0.26±0.2 0.12±0.2 -0.06±0.1 0.11±0.2b
Rata-rata 0.34±0.5 0.12±0.2 -0.03±0.4 0.14±0.1 .081
p value .004 .170
Keterangan: A1 = Pakan standar; A2 = Pakan standar + probiotik; A3 = Pakan standar + probiotik + minyak ikan lele
Berdasarkan Tabel 7 di atas diketahui bahwa rata-rata perubahan eritrosit bulan pertama sebesar 0.34±0.5 (×106/µl) dan mengalami penurunan pada bulan kedua dan ketiga. Hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa perubahan kadar eritrosit MEP berbeda nyata (p<0.05) antara perlakuan, namun tidak berbeda nyata (p>0.05) terhadap lama intervensi, baik pada bulan pertama, kedua, maupun ketiga, serta tidak berbeda nyata (p>0.05) terhadap interaksi perlakuan dengan lama intervensi. Pemberian pakan A1 dan A3 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan nilai eritrosit pada titik 30 hari dan menurun di titik 60 dan 90 hari, sedangkan pemberian pakan A2 menunjukkan terjadi penurunan kadar eritrosit pada titik 30, 60, dan penurunan terbesar terjadi pada titik 90 hari. Perubahan nilai eritrosit pada MEP didasarkan pada pencapaian nilai optimum, sehingga pemberian perlakuan bertujuan untuk mencapai nilai optimum pada kadar eritrosit. Bukan semata-mata hanya meningkatkan nilai eritrosit dalam darah.
Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa perubahan nilai eritrosit MEP perlakuan pakan A1 berbeda nyata dengan perlakuan pakan A2 dan A3. Pakan standar (A1) meningkatkan kadar eritrosit dalam darah, sedangkan pakan A2 dan A3, peningkatan kadar eritrosit dalam darah cenderung lebih sedikit. Hal ini berbeda dengan penelitian Ali et al. (2013) yang menyatakan bahwa pemberian probiotik dalam pakan tambahan dapat menguntungkan bagi ternak, dimana probiotik menyeimbangkan mikroflora usus, meningkatkan ketersediaan nutrient ternak, meningkatkan imun tubuh dan dapat memperbaiki profil darah (jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan hematokrit).
Pembentukan eritrosit memerlukan dua faktor, yaitu faktor ekstrinsik yang ditemukan dalam daging, ragi, hati, dedak, telur, dan susu, serta faktor intrinsik yang dihasilkan oleh mukosa lambung, dan mukosa duodenum. Sitokin, faktor pertumbuhan, hormon, interaksi sel stroma dengan sumsum tulang dan elemen, seperti zat besi (Fe), folat, dan vitamin B12 juga berperan dalam mekanisme proses pembentukan eritrosit (Kyriazi 2011). Harper et al. (1979) menyatakan bahwa kegagalan pembentukan eritrosit disebabkan oleh kekurangan besi dan protein dalam makanan.
14
Proses eritropoeisis tidak dapat berlangsung jika tidak ada vitamin-vitamin, terutama B12, asam folat, B6, riboflavin, asam pantotenat, niasin, asam askorbat, dan vitamin E, serta zat besi untuk pembentukan hemoglobin dan tembaga sebagai katalisator. Vitamin B12 adalah molekul utama yang dibutuhkan untuk mensekresi protein (Mccance et al. 2010). Pakan A1 mengandung 25 gram tepung badan ikan lele yang merupakan sumber kalsium (Ca) dan phospor (P), serta mengandung trace element seperti seng (Zn), yodium (I), besi (Fe), mangan (Mn) dan kobalt (Co) (Moeljanto 1982) serta protein yang cukup untuk proses eritropoeisis.
Hemoglobin
Warna merah pada darah disebabkan karena adanya hemoglobin. Hemoglobin dalam eritrosit merupakan besi heme yang mengandung protein (Elliott 2008). Adanya hemoglobin membuat darah dapat mengikat oksigen dalam bentuk oksihemoglobin (HbO2) dan karbondioksida dalam bentuk karboksihemoglobin HbCO2. Semakin banyak jumlah molekul hemoglobin yang terkandung dalam sel darah merah, semakin banyak oksigen yang dapat diikat (Frandson 1986).
Keterangan: A1 = Pakan standar; A2 = Pakan standar + probiotik; A3 = Pakan standar + probiotik + minyak ikan lele
Gambar 4 Grafik Kadar Hemoglobin Monyet Ekor Panjang Selama Perlakuan Hewan coba yang diberi pakan perlakuan memiliki kadar hemoglobin rata-rata antara 10.8-12.1 g/dl. Hal ini sesuai dengan Fortman et al. (2001) yang menyatakan kadar hemoglobin normal pada MEP adalah 11.0-12.4 g/dl. Sama halnya dengan perubahan nilai eritrosit, perubahan nilai hemoglobin pada MEP juga didasarkan pada pencapaian nilai optimum, yaitu mencapai 11.0-12.4 g/dl.
Tabel 8 Rata-rata perubahan kadar hemoglobin monyet ekor panjang Perlakuan ∆ 30 hari ∆ 60 hari ∆ 90 hari Rata-rata p value
A1 3.07±2.7 1.87±1.7 1.57±2.2 2.17±0.8a A2 0.17±0.6 -0.10±1.0 -0.77±0.4 -0.23±0.5b A3 0.20±0.7 -0.50±2.3 -1.07±2.5 -0.46±0.6b
Rata-rata 1.14±1.7 0.42±1.3 -0.09±1.4 0.49±1.5 .362
p value .011 .994
Keterangan: A1 = Pakan standar; A2 = Pakan standar + probiotik; A3 = Pakan standar + probiotik + minyak ikan lele
0 hari 30 hari 60 hari 90 hari
A1 9,13 12,20 11,00 10,70 A2 12,03 12,20 11,93 11,27 A3 11,93 12,40 12,20 11,80 8,00 9,00 10,00 11,00 12,00 13,00 K adar (g /d l)
15 Tabel 8 di atas menunjukkan perubahan kadar hemoglobin MEP selama tiga bulan perlakuan. Berdasarkan tabel tersebut, diketahui bahwa rata-rata perubahan kadar hemoglobin berbanding lurus dengan perubahan kadar eritrosit. Hasil uji sidik ragam menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata (p<0.05) antara perubahan kadar hemoglobin dengan perlakuan, namun tidak terdapat perbedaan yang nyata (p>0.05) terhadap lama intervensi, dan interaksi perlakuan dengan lama intervensi. Kadar hemoglobin MEP yang diberi pakan A1 mengalami peningkatan selama tiga bulan perlakuan mencapai rata-rata 2.17 g/dl. Hal ini sesuai dengan penelitian Gera et al. (2012) yang menyebutkan bahwa saus ikan memiliki bioavaibilitas heme zat besi yang tinggi, dan fortifikasi Fe pada makanan signifikan meningkatkan Hb (0.42 g/dl).
Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa perubahan kadar hemoglobin perlakuan pakan A1 berbeda nyata dengan pakan A2 dan A3. Kadar hemoglobin meningkat setelah diberi pakan A1, sedangkan pakan A2 dan A3 menurunkan nilai kadar hemoglobin MEP. Hal ini diduga disebabkan karena MEP dengan pakan A1 memiliki nilai hemoglobin yang belum mencapai nilai optimum pada awal perlakuan, sedangan MEP dengan pakan A2 dan A3 sudah mencapai nilai optimum, sehingga MEP dengan pakan A1 lebih banyak menyerap zat gizi yang diberikan karena hewan coba mengalami kekurangan. Hal tersebutlah yang menyebabkan zat gizi lebih banyak terserap dan peningkatan nilai hemoglobin lebih tinggi dibandingkan pakan lain.
Kandungan zat besi dalam tepung ikan lele berperan dalam sintesis hemoglobin, sehingga pemberian perlakuan berperan dalam meningkatkan nilai hemoglobin dalam darah. Selain zat besi, mangan yang terkandung dalam tepung ikan lele berperan dalam metabolisme asam amino, sedangkan kobalt merupakan bagian yang penting dari vitamin B12 untuk membantu mencegah anemia dan merangsang produksi eritrosit (Marliyati dan Kustiyah 2008). Peningkatan status hemoglobin berkorelasi positif dengan peningkatan status riboflavin. Powers et al. (2011) menyatakan bahwa defisiensi riboflavin pada hewan dapat menurunkan penyerapan.
Hematokrit
Keterangan: A1 = Pakan standar; A2 = Pakan standar + probiotik; A3 = Pakan standar + probiotik + minyak ikan lele
Gambar 5 Grafik Kadar Hematokrit Monyet Ekor Panjang Selama Perlakuan
0 hari 30 hari 60 hari 90 hari
A1 23,80 29,67 25,90 26,13 A2 30,47 29,73 29,50 27,30 A3 30,13 31,90 30,73 29,50 23,00 25,00 27,00 29,00 31,00 33,00 K ad ar (% )
16
Menurut Wijayakusuma dan Sikar (1986), hematokrit adalah persentase sel darah merah dalam 100 ml darah. Pada hewan normal nilai hematokrit sebanding dengan jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobin. Kebanyakan hewan mempunyai nilai hematokrit antara 38-48% dengan rataan 40%. Pada hewan percobaan, nilai Hematokrit berkisar antara 26.4-30.6%. Hal ini masih dibawah nilai normal menurut Soma et al. (2011) yang menyatakan kadar hematokrit MEP betina dewasa sebesar 32.1±4.1%. Hematokrit abnormal menunjukkan adanya masalah pada sirkulasi darah merah (Tortora dan Anagnostakos 1990).
Tabel 9 Rata-rata perubahan kadar hematokrit monyet ekor panjang
Perlakuan ∆ 30 hari ∆ 60 hari ∆ 90 hari Rata-rata p value A1 5.87±5.5 2.10±3.2 2.33±4.8 3.43±2.1a
A2 -0.73±0.8 -0.97±2.0 -3.17±0.9 -1.62±1.3b A3 1.77±1.9 0.60±1.7 -0.63±0.9 0.58±1.2ab
Rata-rata 2.30±3.3 0.58±1.5 -0.49±2.8 0.80±2.5 .150
p value .006 .866
Keterangan: A1 = Pakan standar; A2 = Pakan standar + probiotik; A3 = Pakan standar + probiotik + minyak ikan lele
Hasil uji sidik ragam menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata (p<0.05) antara perubahan kadar hematokrit MEP dengan perlakuan, namun lama intervensi dan interaksi perlakuan dengan lama intervensi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (p>0.05). Rata-rata kadar hematokrit MEP setelah satu bulan perlakuan mengalami peningkatan sebesar 2.30±3.3% dan cenderung mengalami penurunan pada bulan berikutnya. Perubahan kadar hematokrit ini berbanding lurus dengan kadar eritrosit, yaitu pemberian pakan A1 dan A3 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan nilai hematokrit pada titik 30 hari dan menurun di titik 60 dan 90 hari, sedangkan pemberian pakan A2 menunjukkan terjadi penurunan kadar hematokrit pada titik 30, 60, dan penurunan terbesar terjadi pada titik 90 hari.
Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa pakan A1 berbeda nyata dengan pakan A2, namun tidak berbeda nyata dengan pakan A3. Pakan A1 meningkatkan kadar hematokrit MEP, sedangkan pakan A2 cenderung menurunkan kadar hematokrit MEP. Hal ini diduga disebabkan karena MEP dengan pakan A2 sudah memiliki kadar hematokrit yang cukup baik, sehingga asupan makanan yang diberikan tidak terlalu menunjukkan perubahan. Selain itu diduga disebabkan karena status hidrasi MEP baik, sehingga tidak meningkatkan nilai hematokrit. Baldy (1995) menyatakan bahwa hematokrit juga berfungsi untuk menilai status dehidrasi tubuh. Kondisi dehidrasi karena kekurangan cairan, penurunan pasokan cairan, redistribusi dari plasma ke jaringan akibat cidera akan meningkatkan nilai hematokrit.
Mean Corpuscular Volume
Parameter fisiologis sel darah merah dapat diketahui melalui perhitungan rataan ukuran Mean Corpuscular Volume (MCV), Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH), dan Mean Cospuscular Hemoglobin Concentration (MCHC) (Dharmawan 2002). MCV menunjukkan ukuran (volume) rata-rata dari satu sel darah merah.
17
Keterangan: A1 = Pakan standar; A2 = Pakan standar + probiotik; A3 = Pakan standar + probiotik + minyak ikan lele
Gambar 6 Grafik MCV Monyet Ekor Panjang Selama Perlakuan
Gambar 6 menunjukkan bahwa ukuran rata-rata sel darah merah pada MEP adalah 68.6±0.3fl, hal ini lebih dari ukuran normal menurut Fortman et al. (2001) yang menyatakan bahwa nilai MCV pada MEP adalah 59.0-66.0 fl. Nilai MCV akan naik bila ukuran sel darah merah lebih besar dari ukuran normal (macrocytic), contohnya pada anemia yang disebabkan oleh defisiensi vitamin B12
(AACC 2009).
Tabel 10 Rata-rata perubahan kadar MCV monyet ekor panjang
Perlakuan ∆ 30 hari ∆ 60 hari ∆ 90 hari Rata-rata p value A1 -0.10±1.7 -0.43±1.3 -0.50±1.2 -0.34±0.2a
A2 0.00±0.3 -0.53±0.5 -0.63±0.5 -0.39±0.3a A3 -0.07±0.9 -0.47±0.7 -0.57±0.5 -0.37±0.3a
Rata-rata -0.06±0.1 -0.48±0.1 -0.57±0.1 -0.37±0.0 .493
p value .995 1.000
Keterangan: A1 = Pakan standar; A2 = Pakan standar + probiotik; A3 = Pakan standar + probiotik + minyak ikan lele
Tabel 10 di atas menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara nilai MCV pada pakan perlakuan dan waktu. Hasil uji beda juga menunjukkan bahwa nilai MCV tidak berbeda nyata (p>0.05) terhadap perlakuan, lama intervensi, dan interaksi perlakuan dengan lama intervensi. Setelah diberi pakan perlakuan, nilai MCV MEP cenderung mengalami penurunan, yang berarti ukuran sel semakin kecil, biasanya terjadi karena defisiensi zat besi (AACC 2009). Namun pada percobaan kali ini, penurunan nilai MCV diduga bukan karena defisiensi zat besi, melainkan karena pakan yang diberikan mencoba untuk mencapai nilai optimum untuk kadar MCV pada MEP, dimana pada awal intervensi nilai MCV pada MEP cenderung lebih tinggi dari batas nilai optimum.
Mean Corpuscular Hemoglobin
Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH) menunjukkan rata-rata jumlah oksigen terikat hemoglobin yang terdapat dalam satu sel darah merah. Rata-rata
0 hari 30 hari 60 hari 90 hari
A1 69,07 68,97 68,63 68,57 A2 69,10 69,10 68,57 68,47 A3 68,53 68,47 68,07 67,97 67,80 68,10 68,40 68,70 69,00 69,30 K ad ar (fl )
18
nilai MCH MEP yang diberi perlakuan A1, A2, dan A3 berturut-turut adalah 28.5±3.1, 28.0±2.0, 27.0±1.3. Nilai rata-rata MCH MEP tidak terlalu berbeda antara ketiga perlakuan.
Keterangan: A1 = Pakan standar; A2 = Pakan standar + probiotik; A3 = Pakan standar + probiotik + minyak ikan lele
Gambar 7 Grafik MCH Monyet Ekor Panjang Selama Perlakuan
Hewan coba dengan perlakuan A3 lebih rendah dibandingkan yang lain. Namun nilai ini lebih tinggi dari nilai normal MCH MEP menurut Fortman et al. (2001) yang mengatakan bahwa rata-rata MCH pada MEP adalah sebesar 19.0-21.0 pg. MCH biasanya akan meningkat dalam keadaan anemia macrocytic yang berhubungan dengan defisiensi vitamin B12 dan asam folat (AACC 2009).
Tabel 11 Rata-rata perubahan kadar MCH monyet ekor panjang
Perlakuan ∆ 30 hari ∆ 60 hari ∆ 90 hari Rata-rata p value A1 -1.90±1.9 2.80±2.1 1.63±1.2 2.11±0.6a
A2 1.13±0.8 0.70±1.6 1.20±1.8 1.01±0.3a A3 0.77±0.9 1.50±0.7 1.50±0.2 1.26±0.4a
Rata-rata 1.27±0.6 1.67±1.1 1.44±0.2 1.46±0.2 .827
p value .230 .804
Keterangan: A1 = Pakan standar; A2 = Pakan standar + probiotik; A3 = Pakan standar + probiotik + minyak ikan lele
Tabel 11 di atas menunjukkan perubahan kadar MCH MEP setelah diberi perlakuan selama tiga bulan. Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa pemberian perlakuan meningkatkan kadar MCH. Hasil uji sidik ragam menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan (p>0.05) antara perlakuan, lama intevensi, dan interaksi perlakuan dengan lama intevensi terhadap perubahan nilai MCH. Pemberian pakan A1 meningkatkan kadar MCH lebih tinggi dibandingkan yang lain. Peningkatan tertinggi terjadi pada titik ke 60. Pemberian pakan A3 menunjukkan peningkatan kadar MEP yang stabil.
0 hari 30 hari 60 hari 90 hari
A1 26,93 28,83 29,73 28,57 A2 27,27 28,40 27,97 28,47 A3 26,07 26,83 27,57 27,57 25,00 26,00 27,00 28,00 29,00 30,00 K adar (p g )
19 Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration
Keterangan: A1 = Pakan standar; A2 = Pakan standar + probiotik; A3 = Pakan standar + probiotik + minyak ikan lele
Gambar 8 Grafik MCHC Monyet Ekor Panjang Selama Perlakuan
Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC) merupakan konsentrasi hemoglobin rata-rata pada setiap sel darah merah. Nilai rata-rata MCHC MEP dengan tiga perlakuan tidak jauh berbeda. Nilai MCHC tertinggi pada MEP yang diberi pakan A1, namun nilai MCHC ini masih diatas batas normal menurut Fortman et al. (2001). Penurunan nilai MCHC (hypochromia) terlihat pada kondisi hemoglobin dalam sel darah merah yang encer. Hal ini dapat terjadi karena anemia defisiensi zat besi dan thalasemia. Peningkatan nilai MCHC (hyperchromia) terlihat pada kondisi hemoglobin dalam sel darah merah yang pekat. MCHC dapat turun saat nilai MCV turun, sedangkan peningkatannya terbatas hanya sampai pada jumlah hemoglobin yang layak dalam kapasitas tampung sebuah sel darah merah (AACC 2009).
Tabel 12 Rata-rata perubahan kadar MCHC monyet ekor panjang
Perlakuan ∆ 30 hari ∆ 60 hari ∆ 90 hari Rata-rata p value A1 2.73±2.3 4.33±2.8 2.70±1.7 3.26±0.9a
A2 1.67±1.3 1.40±2.2 2.17±2.3 1.74±0.4a A3 1.17±0.7 2.43±0.8 2.47±0.1 2.02±0.7a
Rata-rata 1.86±0.8 2.72±1.5 2.44±0.3 2.34±0.8 .591
p value .196 .768
Keterangan: A1 = Pakan standar; A2 = Pakan standar + probiotik; A3 = Pakan standar + probiotik + minyak ikan lele
Uji sidik ragam menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.05) antara nilai MCHC dengan perlakuan, lama intevensi, dan interaksi perlakuan dengan lama intevensi yang diberikan. Perubahan nilai MCHC sama dengan perubahan nilai MCH, yaitu MCHC MEP yang diberi pakan A1 memiliki perubahan yang paling tinggi, diikuti dengan pakan A3 dan A2.
0 hari 30 hari 60 hari 90 hari
A1 39,03 41,77 43,37 41,73 A2 39,40 41,07 40,80 41,57 A3 38,07 39,23 40,50 40,53 37,50 38,50 39,50 40,50 41,50 42,50 43,50 K ad ar (g/d l)
20
Sel Darah Putih (Leukosit)
Sel darah putih (leukosit) merupakan sel yang berfungsi untuk mempertahankan tubuh terhadap mikroorganisme yang menyebabkan infeksi dan berperan dalam sistem kekebalan tubuh (Mccance et al. 2010).
Keterangan: A1 = Pakan standar; A2 = Pakan standar + probiotik; A3 = Pakan standar + probiotik + minyak ikan lele
Gambar 9 Grafik Kadar Leukosit Monyet Ekor Panjang Selama Perlakuan Penyimpangan persentase jumlah dari diferensiasi sel darah putih menunjukkan kondisi patologis yang serius, misalnya infeksi, demam dan influenza, alergi, serta serangan virus (Benson et al. 1999). Rata-rata nilai leukosit MEP dengan perlakuan A1 lebih tinggi dibandingkan A2 dan A3.
Tabel 13 Rata-rata perubahan kadar leukosit monyet ekor panjang
Perlakuan ∆ 30 hari ∆ 60 hari ∆ 90 hari Rata-rata p value A1 2.93±1.4 0.90±1.1 -0.67±2.3 1.06±1.8a
A2 2.43±3.3 1.90±4.1 1.33±2.8 1.89±0.6a A3 3.27±2.0 3.43±1.3 1.63±1.2 2.78±1.0a
Rata-rata 2.88±0.4 2.08±1.3 0.77±1.3 1.91±0.9 .196
p value .333 .874
Keterangan: A1 = Pakan standar; A2 = Pakan standar + probiotik; A3 = Pakan standar + probiotik + minyak ikan lele
Hasil sidik ragam pengaruh perlakuan terhadap perubahan kadar leukosit monyet ekor panjang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0.05) antara perlakuan, lama intevensi, dan interaksi perlakuan dengan lama intevensi. Pemberian pakan perlakuan terhadap MEP meningkatkan kadar leukosit dalam darah yang berarti meningkatkan daya tahan terhadap infeksi.