• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Dasar

Peran varietas sebagai produk pemuliaan tanaman dalam peningkatan produksi tanaman sangat tinggi. Pengalaman Indonesia dalam meningkatkan produksi beras nasional, varietas memegang peranan hingga 75% dibandingkan input produksi lainnya (Darajad, 2009). Namun demikian, tidak semua varietas yang dihasilkan melalui program pemuliaan tanaman terpusat atau Formal Plant Breeding diadopsi oleh petani (PRGA, 2007). Dari 250.000 varietas tanaman yang telah dirilis, hanya 3% yang digunakan di lapang (IDRC, 2010).

Program pemuliaan tanaman terpusat umumnya dikerjakan hanya oleh pemulia profesional dan dilaksanakan di lingkungan optimum. Produknya lebih ditujukan untuk sistem pertanian skala luas dengan kondisi agroekologi tanpa cekaman. Hasil program pemuliaan tanaman seperti ini kurang diadopsi oleh petani di lahan marjinal karena produktivitasnya rendah dan membutuhkan input produksi yang tinggi (Abay dan Bjornstad, 2008). Kondisi ini menyebabkan erosi genetik pada sistem pertanian (IDRC, 2010).

Berdasarkan kajian di atas, konsep dasar munculnya program pemuliaan tanaman partisipatif atau Participatory Plant Breeding adalah tidak ada varietas tanaman yang dihasilkan melalui program pemuliaan tanaman modern mampu beradaptasi dengan baik pada berbagai kondisi agroekologi. Pada lahan marjinal,

interaksi antara genotipe dan lingkungan sangat tinggi, sehingga suatu varietas yang di lahan optimum mampu berproduksi dengan baik namun di lahan marjinal produktivitasnya rendah. Untuk mengatasi kesenjangan ini, program pemuliaan tanaman di lahan marjinal harus didesentralisasi di lingkungan target dengan melibatkan petani atau stakeholders lain guna mendapatkan tanaman yang adaptif dan disukai pada agroekologi tersebut. Dengan cara seperti ini akan diperoleh varietas tanaman yang mampu beradaptasi dengan baik di lingkungan spesifik dengan produktivitas tinggi dan dalam jangka waktu lama (Ceccarelli, 2001).

Secara umum, program pemuliaan tanaman partisipatif yang memadukan kondisi biofisik dan sosial ekonomi petani sangat baik diterapkan di Indonesia. Kondisi lahan usahatani di Indonesia terutama di lahan kering banyak didominasi tanah masam (Hidayat dan Mulyani, 2002); sedangkan gambaran kondisi sosial ekonomi petaninya tercermin dari penguasaan lahan garapan yang sangat sempit (Sumarno, 2005), aspek permodalan sangat rendah (Zuraida dan Sumarno, 2003), dan tidak mampu mengelola sistem kelembagaan (Sumardjo, 2010). Selain baik diterapkan pada kondisi tersebut, PPB juga baik diterapkan pada komoditi yang belum populer dan mempunyai nilai ekonomi seperti sorgum. Untuk komoditas seperti ini, program PPB dapat mempercepat proses desiminasi dan pengembangannya di masyarakat.

Materi Genetik

Materi genetik atau bahan pemuliaan tanaman yang sering digunakan pada penelitian participatory varietal selection yang melibatkan petani biasanya berupa populasi segregasi, landrace, atau varietas. Penggunaan materi genetik tersebut masing-masing mempunyai alasan sesuai dengan tujuan penelitian. Seleksi terhadap materi genetik di lingkungan bercekaman dan melibatkan petani umumnya untuk meningkatkan potensi hasil dengan mendapatkan tanaman yang adaptif serta meningkatkan biodiversitas tanaman (Sthapit et al., 2007). Beberapa penelitian PVS yang menggunakan materi genetik tersebut telah banyak dilakukan oleh peneliti di berbagai Negara.

Seleksi terhadap populasi segregasi sebagai hasil persilangan antara dua atau lebih tetua dengan sifat yang diinginkan kemungkinan akan mendapatkan tanaman

77 yang dikehendaki. Hulscher et al. (2008) telah melalukan percobaan PVS dengan membandingkan antara varietas dan populasi segregasi dari bawang putih untuk mendapatkan daya adaptasi yang baik pada sistem pertanian organik di Belanda. Ceccarelli dan Grando (2000) menggunakan landrace tanaman barley untuk mendapatkan kesesuaian terhadap kondisi kekeringan dan kualitas biji yang lebih baik melalui percobaan PVS di Syiria. Rana et al. (2006) melakukan percobaan PVS dengan menggunakan landrace dan varietas modern padi yang sudah dikenal dan dibudidayakan oleh petani untuk mendapatkan tanaman yang lebih adaptif pada ketinggian tempat dan sistem pemupukan berbeda di Nepal.

Berbeda dengan penelitian PVS pada umumnya yang menggunakan materi genetik berupa populasi segregasi, landrace, atau varietas, percobaan PVS ini menggunakan materi genetik berupa galur mutan yang ragam genetiknya dikembangkan melalui teknik mutasi fisika dengan radiasi sinar gamma oleh PATIR-BATAN. Alasan penggunaan galur mutan pada percobaan ini karena lebih mudah mendapatkan ragam genetik sebagai syarat utama dalam melakukan seleksi. Pada prinsipnya, mutasi dapat menyebabkan timbulnya keragaman yang tidak tersedia pada populasi tanaman saat itu, selain juga dapat menimbulkan keragaman yang tidak dikehendaki (Welsh, 1991). Hal ini disebabkan sorgum di Indonesia belum dikembangkan sehingga varietas yang ada sangat sedikit dan penelitian genetika untuk mengembangkan populasi segregasi masih sangat langka. Selain itu, sorgum bukan tanaman asli Indonesia sehingga landrace-nya sulit diperoleh atau bahkan tidak ada.

Seleksi langsung oleh petani terhadap galur mutan dengan keragaman yang sangat tinggi untuk memilah daya adaptasinya di tanah masam kurang efisien. Untuk itu telah dilakukan seleksi pendahuluan melalui penapisan (screening) oleh pemulia profesional yang memilah galur mutan sorgum menjadi toleran, moderat, dan peka di tanah masam. Materi genetik hasil screening inilah yang disebut sebagai materi pemuliaan lanjut. Terhadap materi pemuliaan lanjut, metode PPB yang paling efisien dengan tingkat keberhasilan tinggi adalah Participatory Varietal Selection (PVS), dimana petani melakukan seleksi berdasarkan preferensinya terhadap materi tersebut (Joshi et al., 2001).

Kondisi Umum Posisi Geografis Lokasi Percobaan

Secara geografis posisi lokasi percobaan yang terpencar di empat Kabupaten atau Kota di Propinsi Lampung berada pada lintang rendah, yaitu berada pada kisaran 4o-6oLS dan 104o-105oBT. Kota Bandarlampung yang digunakan sebagai mother trial berada pada posisi 5o20’LS-5o30’LS dan 105o28’BT- 105o37’BT; empat percobaan baby trial masing-masing berlokasi di Lampung Selatan berada pada posisi 5o15’LS-6o0’LS dan 105o0’BT-105o45’BT; Lampung Timur 4o35’LS-4o60’LS dan 104o45’BT-105o55’BT; dan Tanggamus 4o50’LS- 5o41’LS dan 104o18’BT-105o12’BT (Atlas Sumberdaya Pesisir Lampung, 1999) (Gambar 7).

Gambar 7. Peta lokasi percobaan Participatory Plant Breeding di Lampung.

Mother trial: Bandarlampung (1), Baby trial: Lampung Selatan (2), Lampung Timur (3), dan Tanggamus (4).

Berdasarkan posisi geografisnya, lokasi percobaan yang berada di Lampung merupakan daerah beriklim tropis humid dengan angin laut lembah yang bertiup dari Samudera Indonesia sehingga mengalami dua musim angin setiap tahunnya. November sampai Maret angin bertiup dari arah Barat ke Barat Laut yang menyebabkan musim hujan, dan April sampai Oktober angin bertiup dari Timur

4 1 2 3 1 2 3 4

79 ke Tenggara yang menyebabkan musim kemarau. Kecepatan angin rata-rata 5,83 km/jam dengan suhu rata-rata antara 26oC-28oC; suhu maksium mencapai 33oC dan minimum 20oC. Kelembaban udara rata-rata berada pada kisaran 80-88% (Atlas Sumberdaya Pesisir Lampung, 1999).

Secara lebih rinci, kondisi iklim di masing-masing wilayah percobaan dijelaskan oleh Setyanto (2000) yang menghubungkan antara tipe daerah agroklimat dengan pertanin menurut Oldeman dengan curah hujan yang ada di wilayah percobaan. Bandarlampung, Kalianda, dan Jabung adalah wilayah yang mempunyai rata-rata curah hujan > 200 mm selama 3-4 bulan berturut-turut. Daerah dengan curah hujan seperti ini masuk zona agroklimat tipe C1, artinya dapat ditanami padi satu kali dan dua kali palawija setiap tahunnya. Berbeda dengan tiga wilayah lainnya, Gadingrejo merupakan wilayah yang mempunyai curah hujan > 200 mm selama < 3 bulan berturut-turut. Daerah ini termasuk zona agroklimat C2, artinya hanya dapat ditanami padi satu kali dan tanaman palawija yang kedua telah memasuki bulan kering.

Jarak lokasi percobaan dari Bandarlampung (mother trial) ke baby trial

masing-masing adalah: Lampung Selatan sekitar 100 km, Lampung Timur sekitar 120 km, dan Tanggamus sekitar 40 km. Posisi geografis yang berbeda dan jarak antar lokasi yang beragam menyebabkan adanya keragaman, baik pada kondisi biofisik lokasi percobaan maupun kondisi sosial ekonomi peserta PVS.

Kondisi Lahan Percobaan

Lampung Selatan. Lahan percobaan di Lampung Selatan merupakan sawah tadah hujan yang umumnya ditanami padi setahun sekali oleh petani yaitu pada saat musim hujan. Di luar musim hujan, petani biasanya menanam cabai, jagung, kedelai, singkong, atau palawija lainnya. Tanah di lokasi ini termasuk tanah masam dengan pH tanah rata-rata 4,8.

Selama percobaan berlangsung dari Maret sampai Juli 2008, kondisi curah hujan di Lampung Selatan menunjukkan kecenderungan yang semakin menurun. Curah hujan pada Maret dan April berada pada posisi 147 mm dan 113 mm, sedangkan Mei, Juni, dan Juli mempunyai curah hujan masing-masing 20 mm, 95 mm, dan 1 mm (BMG Stasiun Klimatologi Masgar, 2008).

Lampung Timur. Lahan percobaan di Lampung Timur merupakan lahan kering atau tegalan yang biasa ditanami jagung atau singkong dengan lapisan top soil yang tebal. Sebelum tanah dicangkul, petani mengaplikasikan herbisida untuk mengendalikan gulma karena lahan didominasi oleh beberapa gulma daun sempit. Tanah di lokasi percobaan ini termasuk jenis tanah podzolik merah kuning yang bereaksi masam dengan pH tanah rata-rata 4,7.

Curah hujan selama percobaan berlangsung di Lampung Timur, yaitu antara Maret sampai Juli 2008 menunjukkan kecenderungan yang semakin menurun sebagaimana kondisi di Lampung Selatan. Curah hujan pada bulan Maret 247 mm dan April 242 mm, dan curah hujan memasuki Mei sampai Juli terus menurun yaitu masing-masing 68 mm, 45 mm, dan 9 mm (BMG Stasiun Klimatologi Masgar, 2008).

Tanggamus. Lahan di lokasi percobaan Tanggamus adalah lahan kering berupa tegalan yang selama ini diberakan oleh pemiliknya untuk penggembalaan ternak. Pada waktu akan digunakan untuk percobaan lahan dicangkul untuk menggemburkan tanah dan gulma tidak dikendalikan dengan herbisida sehingga cepat sekali muncul sewaktu ada pertanaman. Jenis tanahnya adalah podzolik merah kuning yang bereaksi masam dengan pH rata-rata 4,7.

Kondisi curah hujan di Tanggamus antara Maret sampai Juli 2008 juga menunjukkan kecenderungan semakin menurun sebagaimana Lampung Selatan dan Lampung Timur. Pada Maret curah hujan 160 mm, April 63 mm, dan Mei 65 mm. Setelah bulan tersebut curah hujan terus turun, yaitu Juni 19 mm, dan Juli 26 mm (BMG Stasiun Klimatologi Masgar, 2008).

Berdasarkan data di atas tampak bahwa pada awal penanaman di semua lokasi baby trial curah hujan masih cukup dan hal ini sangat diperlukan untuk proses perkecambahan benih sorgum. Namun pada fase pertumbuhan vegetatif dan generatif hingga memasuki masa panen curah hujan sudah sangat rendah dan telah memasuki bulan kering. Pada periode seperti ini petani tidak menanam padi atau jagung yang membutuhkan air cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa sorgum merupakan tanaman yang tahan terhadap kekeringan.

Bandarlampung. Lokasi percobaan di Bandarlampung yang digunakan sebagai mother trial merupakan lahan kering yang selama ini sering ditanami

81 singkong. Berdasarkan sejarahnya, tanah di lahan ini pernah digunakan untuk membuat batu bata sehingga lapisan top soil-nya hilang yang menyebabkan bahan organik di lahan ini sangat sedikit. Rendahnya bahan organik menyebabkan tanah cepat sekali kering karena kemampuan menahan air sangat rendah.

Kondisi Sosial Ekonomi Petani

Hasil kegiatan Participatory Rural Appraisal (PRA) menunjukkan bahwa petani yang terlibat dalam kegiatan PVS tidak hanya berjenis kelamin laki-laki tetapi juga perempuan dengan latar belakang pendidikan dan usia yang beragam. Di Desa Sidoharjo, Lampung Selatan terdapat lima petani yang terlibat dalam kegiatan PVS dan satu orang berjenis kelamin wanita. Usia petani di lokasi ini berkisar antara 35-60 tahun dengan pendidikan paling banyak Sekolah Dasar (SD) yaitu 3 orang, dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) 2 orang (Tabel 15). Tabel 15. Nama, jenis kelamin, umur, dan pendidikan petani yang terlibat dalam

kegiatan PVS di tiga kabupaten berbeda di Lampung

No Nama Petani Jenis Kelamin

(L/P)

Umur (tahun)

Lama Pendidikan Formal (tahun) Desa Sidoharjo, Lampung Selatan

1. Sukirin L 60 6

2. Alfiyah P 35 6

3. Widiyono L 50 6

4. Warsono L 35 12

5. Anda Suhanda L 40 12

Desa Negeri Agung, Lampung Timur

1. Samiran L 47 6

2. Trimo Joyotruno L 60 9

3. Thoyib L 28 12

4. Suyanto L 42 12

5. Suharti P 40 12

Desa Mataram, Tanggamus

1. Darsono L 45 12

2. Sangidun L 38 12

3. Sunaryo L 55 6

4. Slamet L 53 6

Di Desa Negeri Agung, Lampung Timur, usia petani yang mengikuti kegiatan PVS antara 28-60 tahun. Di lokasi ini, dari lima petani yang terlibat terdapat satu petani berjenis kelamin wanita sebagimana di Lampung Selatan. Tingkat pendidikan petani di Desa Negeri Agung lebih baik dibandingkan dua

desa lainnya, yaitu 1 orang berpendidikan SD, 1 orang SLTP, dan 3 orang berpendidikan SLTA. Di Desa Mataran, Tanggamus, petani ang terlibat PVS empat orang dan semuanya berjenis kelamn laki-laki dengan usia antara 38-55 tahun dengan tingkat pendidikan SD 2 orang dan SLTA 2 orang (Tabel 15).

Pengalaman bertani dari petani yang terlibat dalam kegiatan PVS rata-rata lebih dari 20 tahun, dan mereka umumnya mempunyai lahan sendiri selain juga melakukan buruh tani jika telah selesai menggarap lahan milik sendiri. Di Desa Sidoharjo petani yang terlibat PVS telah bertani antara 21-40 tahun dan memiliki lahan antara 0,75-3,0 hektar. Komoditi yang diusahakan oleh petani di desa ini umumnya adalah padi tadah hujan yang diusahakan setahun sekali. Setelah itu, petani menanam palawija seperti jagung, kedelai, dan cabai. Pada musim kemarau (MK-2) yaitu antara bulan Juli-September, umumnya tanah diberakan. Selain tanaman pangan, petani di daerah ini juga menanam kelapa disekitar rumah, serta mengusahakan ternak sapi, kerbau, atau kambing (Tabel 16).

Tabel 16. Lama bertani, luas kepemilikan lahan, dan komoditas yang diusahakan oleh petani peserta PVS di tiga kabupaten berbeda di Lampung

No Nama Petani Lama Bertani

(tahun)

Luas Lahan

(ha) Komoditas

Desa Sidoharjo, Lampung Selatan

1. Sukirin 40 1,25 Padi

2. Alfiyah 20 0,75 Padi, cabai

3. Widiyono 30 3,00 Padi, jagung

4. Warsono 20 1,00 Padi

5. Anda Suhanda 21 1,00 Padi, kedelai

Desa Negeri Agung, Lampung Timur

1. Samiran 27 1,00 Jagung, singkong

2. Trimo Joyotruno 48 2,25 Padi, lada

3. Thoyib 7 0,50 Jagung, singkong

4. Suyanto 14 2,00 Jagung, singkong

5. Suharti 5 0,50 Padi, jagung

Desa Mataram, Tanggamus

1. Darsono 25 0,50 Padi, jagung

2. Sangidun 20 1,00 Padi, jagung

3. Sunaryo 40 0,50 Padi

4. Slamet 40 0,50 Padi, jagung

Petani di Desa Negeri Agung merupakan petani lahan kering dengan luas lahan antara 0,50-2,25 hektar. Mereka umumnya menanam palawija jagung dan

83 singkong serta berkebun lada, selain juga ada yang bercocok tanam padi di beberapa lokasi. Petani di desa ini merupakan campuran antara penduduk asli Lampung dan pendatang dari Jawa Tengah. Sedangkan petani di Desa Mataram memiliki lahan garapan antara 0,50-1,0 hektar (Tabel 16). Lahan di desa ini umumnya lahan kering dan sawah tadah hujan. Mereka mengusahakan padi pada waktu musim hujan, dan setelah itu menanam jagung. Petani di desa ini umumnya transmigran dari Jawa Tengah yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar dengan kehidupan sosial budaya yang bercirikan Jawa.

Pengetahuan petani tentang sorgum di tiga lokasi PRA sangat beragam. Petani di Desa Sidoharjo, Lampung Selatan yang umumnya transmigran dari Jawa Tengah telah mengenal sorgum dengan nama “cantel”, sedangkan petani di dua desa lainnya, yaitu Negeri Agung, Lampung Timur dan Mataram, Tanggamus belum mengenal sorgum dengan baik. Petani di Desa Sidoharjo tertarik untuk menanam sorgum sebagai bahan pangan alternatif di musim kemarau, karena mereka tahu bahwa sorgum (cantel) tahan terhadap kekeringan. Selain sebagai sumber pangan alternatif dengan memanfaatkan bijinya, batang dan daun sorgum juga akan dimanfaatkan untuk pakan ternak. Petani di Desa Negeri Agung dan Mataram akan menanam sorgum jika harganya baik.

Petani atau stakeholders lain yang terlibat dalam kegiatan PVS umumnya sangat paham terhadap komoditi yang dimuliakan, karena kegiatan PVS biasanya menggunakan komoditi yang ditanam oleh petani setempat. Tujuan penelitiannya adalah agar petani dapat lebih mudah dan murah dalam mengakses benih, adaptif pada kondisi agroekologi setempat sehingga input budidaya tanaman lebih murah, dan meningkatkan biodiversitas tanaman. Beberapa contoh penggunaan komoditi yang telah dikenal petani dan derajad partisipatisi petani pada percobaan PPB dikemukakan oleh Ashby dan Lilja (2008) yang mengacu kepada hasil percobaan beberapa peneliti di berbagai negara sebagai berikut: (1) derajad partisipasi konsultatif dilakukan terhadap tanaman padi di Nepal, ubi kayu di Colombia, barley di Syiria, dan kentang di Bolivia; (2) derajad partisipasi kolaboratif dilakukan pada tanaman jagung di Honduras, millet di India, dan kacang tanah di Tanzania; (3) derajad partisipasi kolegial telah dilakukan pada tanaman millet di Namibia, dan jagung di Brazil; serta (4) partisipasi penuh oleh petani atau

percobaan petani (farmer experimentation) dilakukan pada tanaman padi di Philippina dan jagung di China.

Penelitian PVS yang dilakukan pada percobaan ini menggunakan komoditi yang belum atau tidak dikenal oleh petani. Sorgum untuk petani di Indonesia pada umumnya dan petani Lampung pada khususnya belum dikenal karena belum diusahakan secara komersial. Penggunaan metode PVS pada percobaan ini lebih pada memanfaatkan keunggulan PPB dalam mendapatkan tanaman yang adaptif pada kondisi tanah masam, dan sekaligus untuk mengenalkan (dissemination) akan manfaat dan kegunaan tanaman sorgum kepada petani melalui diskusi terfokus pada kegiatan PRA (Gambar 8).

Gambar 8. Diskusi terfokus dengan petani peserta PVS melalui kegiatan PRA di Lampung Selatan (a) dan Lampung Timur (b)

Kendala yang dihadapi pada percobaan PVS dengan komoditi yang belum dikenal oleh petani diantaranya adalah: (1) petani belum memahami ideotipe tanaman sorgum seperti apa yang sesuai untuk diusahakan, (2) preferensi petani sebagai dasar penilaian terhadap karakter seleksi di lahan marjinal belum mengarah ke karakter ideal. Kendala ini selaras dengan yang dikemukakan oleh Bentley (1994) dalam Peters dan Peters (2000) yang menyatakan bahwa hambatan pada percobaan partisipatif diantaranya adalah: (1) petani miskin akses, (2) pengamatan yang berbeda gaya, (3) perbedaan kondisi sosial ekonomi dan lingkungan, (4) kendala waktu, dan (5) adanya jarak sosial.

85 Akibat kendala di atas, maka preferensi petani terhadap tanaman sorgum hanya mengarah kepada budidaya tanaman secara umum yang dilakukan oleh petani setempat atau budidaya umum lokal. Penerapan budidaya umum lokal ini sangat dipengaruhi oleh latar belakang komoditi yang dikembangkan dan kebiasaan yang dilakukan oleh petani. Bagi petani yang terbiasa menanam palawija seperti jagung tidak ada hambatan yang berarti pada waktu menanam sorgum. Namun pada waktu panen dan penanganan pasca panen petani belum terbiasa sehingga banyak bertanya kepada peneliti.

Kondisi Pertanaman

Lampung Selatan. Sebagai sawah tadah hujan, secara fisik lapisan olah tanah di Lampung Selatan lebih tebal dibandingkan lokasi lainnya yang berbentuk tegalan. Berdasarkan pengamatan visual, kemampuan tanah di lokasi ini menahan air lebih tinggi sehingga tanahnya cenderung lembab. Walaupun reaksi tanahnya masam, kondisi tersebut menyebabkan pertumbuhan tanaman sorgum di lokasi ini sangat baik (Gambar 9). Dari sisi biofisik, pengaruh lapisan olah tanah terhadap pertumbuhan sorgum sangat besar, karena sorgum adalah tanaman dengan tipe pertumbuhan tajuk berkembang setelah pertumbuhan akar tercapai (SFSA, 2008). Selain itu dari aspek budidaya, petani di lokasi ini memberikan abu sekam yang dicampur dengan pupuk kandang sebagai penutup lubang tanam. Teknik ini memberikan kondisi lingkungan tumbuh yang sangat baik dan berpengaruh terhadap proses perkecambahan dan pertumbuhan tanaman muda.

Selain faktor biofisik, pengalaman petani peserta PVS yang lama yaitu antara 20-40 tahun dan terbiasa menanam cabai dan kedelai yang relatif lebih sulit dari menanam sorgum menjadikan petani di lokasi ini lebih serius merawat tanaman. Selama percobaan berlangsung, pertumbuhan gulma di lokasi ini sangat tertekan sehingga tidak mengganggu tanaman utama. Karena merupakan sawah tadah hujan, petani membuat drainase untuk menghindari genangan air.

Dari aspek sosial, motivasi petani di lokasi ini untuk mengembangkan sorgum sangat tinggi yang dibangun dari persepsi yang baik akan manfaat tanaman sorgum sebagai tanaman pangan, pakan ternak, dan bahan bakar nabati. Persepsi muncul dengan adanya informasi tentang manfaat tanaman sorgum dari

peneliti yang mereka peroleh melalui kegiatan PRA. Syahyuti (2006) menyatakan bahwa sikap seseorang dalam mengambil suatu tindakan sangat dipengaruhi oleh motivasi yang ada pada dirinya. Motivasi muncul karena adanya persepsi yang dibangun oleh adanya informasi awal yang dapat berasal dari pengalaman, pemberitahuan, membaca, dan kegiatan lainnya.

Gambar 9. Kondisi umum tanaman sorgum di Lampung Selatan (baby trial)

Lampung Timur. Kondisi tanaman di Lampung Timur secara umum baik dan tidak jauh berbeda dengan Lampung Selatan (Gambar 10). Hal ini didukung oleh kondisi tanah yang gembur dengan lapisan olah yang tebal sehingga perakaran tanaman sorgum dapat berkembang secara ekstensif.

Dibandingkan Lampung Selatan dan Tanggamus, pengalaman bertani dari peserta PVS di lokasi ini rata-rata lebih rendah, namun mempunyai latar belakang pendidikan yang lebih tinggi sehingga kemampuan menyerap inovasi lebih baik. Menurut Syahyuti (2006), pendidikan dapat meningkatkan pengetahuan sedangkan pengetahuan merupakan kekuatan (empowerment) bagi individu atau kelompok untuk betindak ke arah yang lebih baik. Empowerment adalah salah satu konsep utama yang menjadi tiang dari participatory rural appraisal. Tindakan petani di Lampung Timur yang menunjukkan tingkat pengetahuan yang

87 lebih baik diantaranya adalah mampu mengaplikasikan herbisida di lahan percobaannya sesuai dengan karakteristik gulma yang ada, sehingga pengendalian gulma di pertanaman sorgum pada tahap berikutnya lebih ringan.

Gambar 10. Kondisi umum tanaman sorgum di Lampung Timur(baby trial)

Tanggamus. Pertumbuhan tanaman sorgum di Tanggamus tidak sebaik di Lampung Selatan maupun Lampung Timur (Gambar 11). Faktor biofisik dan pengelolaan petani terhadap tanaman berpengaruh terhadap kondisi tersebut. Tanah di lokasi ini selain bereaksi masam (pH 4,7) juga lapisan olahnya sangat tipis sehingga perakaran tanaman sorgum tidak berkembang secara ekstensif. Selain itu, petani di Tanggamus terlambat melalukan penjarangan tanaman dan pengendalian gulma. Penjarangan dilakukan pada umur 4 MST bersamaan dengan pengendalian gulma, sedangkan di dua lokasi lainnya penjarangan dilakukan ada umur 2 MST. Hal ini berpengaruh terhadap pertumbuhan awal

Dokumen terkait