• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan Budidaya Tanaman Sagu (Metroxylon spp.)

Pelaksanaan magang yang dilakukan meliputi persiapan lahan, pembibitan, penanaman, penyulaman, pemeliharaan, panen, sensus dan aspek manajerial serta pengorganisasian kebun. Fokus kegiatan PT National Sago Prima saat ini yaitu pada kegiatan penyiapan lahan, pembibitan dan penyulaman, karena target kerja pada tahun ini kegiatan penanaman dan penyulaman pada 4 divisi sehingga tidak semua kegiatan budidaya dilakukan. Kegiatan budidaya yang dilakukan yaitu dimulai dari persiapan lahan, pemeliharaan hingga panen. Namun, kegiatan pemeliharaan seperti pemupukan, sensus produksi dan pengendalian HPT belum dilakukan.

PT National Sago Prima saat ini membutuhkan jumlah bibit yang besar untuk menanami areal kebun. Dalam memenuhi kebutuhan bibit yang tinggi PT National Sago Prima bekerjasama dengan PT Primakelola dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). PT Primakelola menggunakan sistem per- semaian kanal, sedangkan BPPT menggunakan sistem persemaian dengan polibag. Tahun 2011 PT National Sago Prima membentuk divisi baru, yaitu Divisi Pembibitan yang bertujuan untuk mengatur, mengontrol dan mengawasi semua kegiatan yang ada pada kegiatan pembibitan. Kegiatan seleksi bibit dilaksanakan oleh Divisi Pembibitan untuk tujuan mendapatkan bibit yang lebih berkualitas. Namun, bibit yang disemai belum seluruhnya sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan, seperti bibit yang masih muda dan bobot kurang dari yang ditetapkan dalam SOP. Hingga saat ini kebutuhan bibit untuk penanaman maupun penyu- laman juga masih belum terpenuhi seluruhnya. Terutama pada tahun ini PT Na- tional Sago Prima telah membuka lahan baru yaitu Divisi 5 dan 7.

Kriteria bibit yang sehat dan berkualitas baik berasal dari pohon induk yang telah dewasa atau telah dipanen, bibit masih segar ditandai dengan pelepah yang masih hijau, bibit mudah bergerak bila digoyang-goyangkan, tidak menempel pada tanaman induk, bobot antara 1.5 kg – 5.0 kg, kondisi bibit sehat, tidak terkena hama dan penyakit, memiliki jumlah akar yang banyak, tempat pe- nyimpanan bahan makanan (banir) berwarna merah muda dan keras, serta di-

utamakan bibit yang memiliki perakaran berbentuk L karena memiliki cadangan makanan yang yang banyak disbanding bentuk banir lainnya (Bintoro et al., 2010). Kriteria bibit tersebut digunakan sebagai Standart Operating Procedure (SOP) untuk pengambilan bibit perusahaan. Seluruh kegiatan budidaya tanaman diatur dengan adanya SOP yang bertujuan pada efektivitas pekerjaan.

Penanaman dilakukan setelah kegiatan persiapan lahan (Land Clearing) dan pembibitan selesai dilakukan. Setelah persiapan lahan selesai dilakukan pemancangan ajir dengan jarak tanam 8 m x 8 m. Pemancangan biasanya menggunakan pancang bantu yang berfungsi untuk memudahkan meletakkan anak pancang selanjutnya. Pembuatan lubang tanam dilakukan setelah dilakuakn pemancangan. Ukuran lubang tanam pada SOP perusahaan yaitu 40 cm x 40 cm x 40 cm atau hingga bertemu air pada lubang tanam. Sebelum penanaman dilakukan pemberian Rock Phosphate pada lubang tanam yang telah dibuat dengan dosis 500 gram perlubang tanam. Bibit ditanam pada lubang tanam dengan posisi menyandar pada lubang tanam dan banir tertutup tanah. Kegiatan penanaman harus dilakukan pengawasan dalam pelaksanaannya agar bibit yang ditanam dapat sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan.

Kegiatan penyulaman dilakukan pada bibit yang telah mati ataupun tanaman yang tidak memasuki kriteria menurut SOP perusahaan pada blok tertentu. Sebelum dilaksanakan penyulaman ulang, dilaksanakan sensus hidup mati terlebih dahulu. Sensus hidup mati dilaksanakan 3 bulan setelah penyulaman sebelumnya. Sensus hidup mati akan didapatkan data jumlah bibit yang akan digunakan untuk penyulaman. Setelah sensus hidup mati dilaksanakan kegiatan pengajiran, pem- buatan lubang tanam dan penanaman. Hingga saat tingkat kematian bibit dilapangan masih cukup tinggi yaitu sekitar 40%.

Kegiatan pengendalian gulma merupakan salah satu kegiatan pemeliharaan yang dilakukan oleh perusahaan. Pengendalian gulma yang dilakukan yaitu pengendalian secara manual dan kimia. Pengendalian gulma secara manual meng- gunakan parang, sedangkan secara kimia menggunakan herbisida. Gulma yang banyak terdapat di perkebunan yaitu gulma jenis paku-pakuan. Menurut Bintoro (2008) tanpa pengendalian gulma, tanaman akan kalah bersaing dengan vegetasi gulma. Dalam keadaan ternaungi pertumbuhan gulma dominant sehingga tanaman

sagu akan sangat tertekan, namun bila tanaman masih mendapatkan sinar matahari maka tanaman tersebut masih dapat bersaing dengan gulma. Oleh karena itu sistem pengendalian gulma yang dilaksanakan PTNational Sago Prima cukup efektif untuk menekan pertumbuhan gulma dan memperlancar kegiatan pe- meliharaan selanjutnya pada blok tersebut.

Kegiatan pemeliharaan selanjutnya yaitu pruning dan thining out. Tanpa kegiatan tersebut akan terjadi persaingan sesame tanaman sagu. Persaingan tersebut dapat menyebabkan kandungan pati dalam batang sagu berkurang dan menghambat pertumbuhan batang utama. Oleh karena itu, anakan sagu yang tidak diperlukan harus dipangkas. Pemangkasan tersebut dapat mengurangi kerapatan tajuk pohon sehingga sinar matahari dapat diterima oleh ta-naman dengan maksimal (Andany, 2009). Kegiatan pruning lebih cukup efektif dibandingkan dengan thining out karena biaya yang dikeluarkan lebih murah dalam pe- laksanaannya.

Kegiatan panen yang dilakukan di perusahaan terdapat hambatan dalam pelaksanaannya. Hal ini dapat ditunjukkan masih banyaknya tanaman sagu yang sudah lewat masa panen tetapi belum ditebang. Menurut Oates (2001) bila ingin sagu berproduksi optimal maka sagu dipanen sebelum fase inisiasi bunga. Terhambatnya kegiatan panen dikarenakan alat angkut penarikan hasil panen dan tali pengikat yang masih terbatas sehingga tual melewati batas waktu untuk keberadaannya dikanal. Oleh karena itu diperlukan perbaikan sarana budidaya yang mencukupi dalam kegiatan panen.

Kegiatan budidaya di PT National Sago Prima sudah berlangsung dengan baik. Namun masih banyak terkendala dengan jumlah tenaga kerja yang terbatas. Tenaga kerja masih banyak memilih menjadi anggota tenaga kerja borongan yang memiliki upah lebih besar dibandingkan dengan tenaga kerja harian, sehingga banyak pekerjaan menjadi terhambat pelaksanaannya. Oleh karena itu, perlu diberikan penghargaan dari perusahaan kepada pekerja yang melaksanakan pekerjaannya dengan baik serta pemberian upah yang tepat waktu sesuai dengan yang dijanjikan.

Pengaruh Bobot Bibit dan Lama Waktu Semai terhadap Pertumbuhan Bibit di Lapang

Sistem persemaian di perkebunan sagu PT National Sago Prima saat ini menggunakan sistem persemaian kanal dan polibag. Hingga saat ini, jumlah bibit yang hidup di persemaian khususnya persemaian kanal cukup tinggi. Namun, ketika bibit dari persemaian dipindah tanam ke lapang persentase hidupnya masih cukup rendah. Oleh karena itu diperlukan percobaan untuk didapatkannya umur bibit dan bobot bibit yang optimal di persemaian yang beradaptasi baik ketika dipindah tanam ke lapang. Berdasarkan tersebut sehingga diperlukan dilaku- kannya percobaan pengaruh bobot bibit dan lama waktu semai terhadap per- tumbuhan bibit dilapang.

Persentase Hidup Bibit di Lapang

Persentase hidup merupakan jumlah keseluruhan bibit yang hidup di lapang dari minggu pertama hingga akhir minggu pengamatan. Secara keseluruhan perlakuan bobot bibit pada minggu ke 3 memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap persentase hidup bibit (Tabel 2), tetapi mulai minggu ke 5 hingga 9 tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup bibit. Namun, nilai persentase hidup bibit di lapang hingga akhir pengamatan masih tergolong tinggi yaitu 79.63%.

Tabel 2. Pengaruh perlakuan bobot bibit terhadap persentase hidup bibit

Umur Bobot bibit

(MST) Uji F 2-4 kg 4-8 kg 3 ** ………...%... 100a 92.59b 5 tn 92.59a 87.04a 7 tn 91.67a 82.41a 9 tn 89.82a 79.63a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%

Persentase kehidupan tertinggi pada minggu ke 3 setelah tanam terdapat pada perlakuan B1 yaitu bobot 2-4 kg, pada MST ke-3 bobot bibit masih memberikan pengaruh yang nyata diduga karena pada MST ke-3 banir masih

memiliki cadangan makan yang baik. Kriteria bobot bibit yang berkualitas baik yaitu 1.5-5 kg (Bintoro, 2010). Karena suplai nutrisi terutama karbohidrat yang cukup, akan menentukan kemampuan hidup anakan sagu (Omori et al, 2002). Oleh karena itu cadangan makanan yang cukup pada bibit dapat mempengaruhi kehidupan bibit di lapang.

Tabel 3

. Pengaruh perlakuan umur semai terhadap persentase hidup bibit

Umur Umur Semai

(MST) 2 minggu 4 minggu 8 minggu 12 minggu

3

………..………....…%... 96.29ab 100a 96.29ab 92.59b

5 88.89a 100a 90.74a 79.63a

7 87.04ab 100a 85.19ab 75.93b

9 85.19ab 98.15a 83.33ab 72.22b

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%

Perlakuan umur (Tabel 3) pada minggu ke-3 dan 5 tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup bibit, tetapi mulai minggu ke 7 dan 9 mulai memberi pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup. Perlakuan umur 4 minggu (P2) memiliki persentase hidup yang tinggi dan berbeda nyata dengan perlakuan umur lainnya.

Gambar 10. Persentase Hidup Bibit

Presentase hidup bibit yang ditanam terjadi penurunan pada setiap pengamatan dari minggu ke-3 hingga ke-9 (Gambar 10). Kematian bibit setiap minggu terus bertambah seiring dengan berkurangnya cadangan makanan pada

banir dan keadaan lingkungan yang tidak mendukung pertumbuhan bibit. Menurut nilai rataan persentase hidup bibit dengan bobot 2-4 kg dengan umur 2 dan 4 minggu (B1P1 & B1P2) memiliki persentase hidup paling tinggi, sedangkan bibit dengan waktu semai 12 minggu dengan bobot 4-8 kg (B2P4) memiliki persentase hidup yang rendah. Namun, interaksi antara bobot bibit dan waktu semai tidak berbeda nyata. Kematian bibit di lapang banyak disebabkan oleh bibit yang mengering (Gambar 11).

Gambar 11. Bibit Mati Mengering di Lapang

Pertumbuhan Vegetatif Bibit Sagu (Metroxylon spp.)

Panjang Petiol Daun Panjang petiol daun 1

Panjang petiol pada percobaan ini diukur dari pangkal pemangkasan bibit hingga titik teratas bibit, baik berupa tunas maupun sudah menjadi daun. Pengamatan dilakukan selama 9 MST (Minggu Setelah Tanam). Perlakuan bobot bibit tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang petiol daun 1 dari awal pengamatan hingga akhir percobaan (Tabel 4). Perlakuan bobot bibit dengan umur semai memberikan interaksi yang tidak nyata pada pertumbuhan petiol pertama.

Tabel 4. Pengaruh bobot bibit dan umur semai terhadap panjang petiol daun 1 Perlakuan MST 3 5 7 9 Bobot 2-4 kg ..………..………….……....cm…………...

23.67a 24.50a 26.10a 25.19a

4-8 kg 25.19a 24.09a 26.83a 23.15a

Umur

2 minggu

………......cm………

21.55a 27.51a 29.76a 28.10a

4 minggu 31.59a 28.34a 30.14a 30.36a

8 minggu 19.69a 17.55a 19.30a 12.53a

12 minggu 24.86a 23.79a 26.65a 25.67a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%

Perlakuan umur semai juga tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan petiol daun 1 dari awal hingga akhir percobaan. Menurut Wibisono (2011) pertumbuhan petiol daun pertama akan lambat/berhenti ketika petiol 2 mulai tumbuh, karena bibit akan memfokuskan pertumbuhan petiol ke 2. Oleh karena itu pertumbuhan petiol 1 pada percobaan berhenti tumbuh setelah petiol 2 muncul.

Panjang petiol daun 2

Pengamatan dari perlakuan umur semai dan bobot bibit tidak menun- jukkan pengaruh yang nyata terhadap panjang petiol dari awal pengamatan hingga akhir percobaan (Tabel 5). Hal ini dapat disebabkan kondisi lapang yang belum mendukung pertumbuhan petiol daun sehingga mempengaruhi pertumbuhan pan- jang petiol. Selain itu ketersediaan bahan makanan bibit pada banir semakin berkurang sebelum bibit tersebut dapat beradaptasi dengan baik pada kondisi lapang.

Interaksi bobot bibit dengan umur semai tidak nyata. Kondisi lingkungan seperti suhu di lapang yang relatif tinggi menghambat pertumbuhan petiol, sehingga petiol dapat mengering. Menurut Irawan (2010) suhu optimal untuk pertumbuhan tanaman sagu yaitu 240-300C.

Tabel 5. Pengaruh bobot bibit dan umur semai terhadap panjang petiol daun 2 Perlakuan MST 3 5 7 9 Bobot Bibit 2-4 kg ..………..………cm………..…...

28.65a 35.82a 40.72a 48.56a

4-8 kg 30.04a 39.71a 43.65a 48.99a

Umur semai

2 minggu

…………cm.………

16.60a 24.80b 28.09b 33.98b

4 minggu 26.87a 33.28ab 37.88ab 43.97ab

8 minggu 35.73a 41.79ab 48.73ab 58.12a

12 minggu 38.17a 51.18a 54.05a 59.04a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%

Jumlah Daun

Daun merupakan komponen penting pada tumbuhan terutama berfungsi untuk proses fotosintesis. Jumlah daun dihitung dengan menghitung daun yang ada pada bibit tersebut. Perlakuan bobot bibit tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun dari awal hingga akhir pengamatan (Tabel 6). Hal tersebut dikarenakan cadangan makanan pada banir telah banyak digunakan pada pertumbuhan bibit di persemaian sehingga bibit tersebut ketika dipindah tanam ke lapang akan sangat tergantung pada hasil fotosintesis dari daun yang telah terben- tuk di persemaian, padahal belum semua bibit sudah dapat membentuk daun baru.

Perlakuan umur semai pada awal hingga akhir pengamatan berpengaruh yang sangat nyata terhadap jumlah daun (Tabel 6). Jumlah daun tertinggi terdapat pada perlakuan P4 atau umur semai 12 minggu, sedangkan jumlah daun paling sedikit pada perlakuan P1 atau 2 minggu. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan umur sangat berpengaruh pada jumlah daun pada bibit. Hal tersebut dikarenakan bibit dengan umur 12 minggu sebelum ditanam di lapang telah memiliki daun yang telah membuka sempurna sehingga bibit telah dapat berfotosintesis untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhannya. Oleh karena itu rata-rata bibit dengan umur semai paling lama akan memiliki jumlah daun yang lebih banyak.

Tabel 6.Pengaruh bobot bibit dan umur semai terhadap jumlah daun pada bibit Perlakuan MST 3 5 7 9 Bobot Bibit 2-4 kg ..………..………...daun...

1.59a 1.66a 1.75a 1.88a

4-8 kg 1.53a 1.60a 1.74a 1.82a

Umur Semai

2 minggu

…………...………daun………

1.31c 1.41b 1.47c 1.51c

4 minggu 1.44cb 1.54b 1.69cb 1.74cb

8 minggu 1.64ab 1.68ab 1.80ab 1.93ab

12 minggu 1.84a 1.90a 2.03a 2.21a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%

Gambar 12. Jumlah Daun pada Bibit

Daun yang dihasilkan pada bibit memiliki rata-rata antara 1.40 hingga 2.42 daun. Peningkatan jumlah daun akan terus mengalami peningkatan selama bibit mengalami pertumbuhan (Gambar 12). Jumlah daun diamati dengan menghitung pelepah daun yang tumbuh pada setiap bibit yang diamati dari minggu ke-3 hingga minggu ke-9 pengamatan. Berdasarkan nilai rata-rata perlakuan bibit dengan bobot 4-8 kg dengan umur 12 minggu (B2P4) memiliki jumlah daun yang lebih banyak, sedangkan pada perlakuan bobot bibit 4-8 kg dengan umur semai 2 minggu memiliki jumlah daun terendah. Menurut Irawan (2010) rata-rata setiap bulan dihasilkan satu daun pada saat setelah fase pembentukan batang. Selama fase pertumbuhan dapat dihasilkan dua daun perbulan (Oates, 2001). Namun, rata- rata jumlah daun pada bibit pada awal penanaman berdaun 1. Jumlah daun yang

dihasilkan bibit pada percobaan ini setelah ditanam di lapang belum menunjukkan jumlah daun yang sesuai literature karena bibit hingga akhir percobaan masih pada kondisi beradaptasi dari lingkungan persemaian menjadi di lapang.

Jumlah Anak Daun Jumlah anak daun 1

Jumlah anak daun 1 dihitung berdasarkan jumlah anak daun pada daun pertama. Perlakuan bobot bibit tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap jumlah anak daun pertama dari awal pengamatan hingga akhir percobaan (Tabel 7).

Tabel 7. Pengaruh bobot bibit dan umur semai terhadap jumlah anak daun 1

Perlakuan MST

3 5 7 9

Bobot

2-4 kg

..………..………...helai…...

15.93a 21.81a 25.06a 27.52a

4-8 kg 13.19a 18.72a 20.26a 23.37a

Umur

2 minggu

………helai……….

4.32b 7.71b 10.76b 12.82b

4 minggu 8.13b 14.70b 19.00b 19.67b

8 minggu 20.48a 28.22a 29.58a 34.62a

12 minggu 25.31a 30.41a 31.30a 34.65a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%

Menurut Wibisono (2011) pembentukan anak daun diperlukan banyak energi untuk pertumbuhan yang diperoleh dari air yang diserap melalui akar se- belum mempunyai daun. Hal ini dapat dikarenakan jumlah cadangan makanan banir telah berkurang pada pembentukan daun di persemaian sehingga bibit yang ditanam dilapang belum memiliki daun yang sanggup berfotosintesis maka pertumbuhan bibit akan lambat termasuk dalam pembentukan anak daun 1.

Sementara itu, perlakuan umur semai memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap jumlah anak daun pertama dari awal hingga akhir pengamatan (Tabel 7). Pada perlakuan umur semai 12 minggu (P4) dari awal hingga akhir percobaan memiliki jumlah anak daun paling banyak dibandingkan perlakuan umur yang lainnya. Hal ini dikarenakan pada bibit umur 12 minggu dari awal

penanaman bibit telah memiliki daun yang cukup dari persemaian sehingga sanggup melakukan fotosintesis untuk mencukupi pertumbuhannya.

Gambar 13. Pengaruh Umur Semai terhadap Jumlah Anak Daun 1

Jumlah anak daun pertama setiap minggu mengalami peningkatan, bibit dengan umur semai 12 minggu atau perlakuan P4 memiliki jumlah anak daun pertama paling banyak (Gambar 13). Perlakuan bibit dengan umur semai 2 minggu atau P1 memiliki jumlah anak daun paling sedikit, sehingga umur semai yang paling lama akan menghasilkan jumlah anak daun yang lebih banyak.

Jumlah anak daun 2

Perlakuan umur semai pada pengamatan minggu ke 3 dan ke 5 tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun ke 2, sedangkan mulai pada pengamatan minggu ke 7 hingga akhir percobaan memberikan pengaruh yang nyata. Perlakuan P4 atau umur semai 12 minggu paling baik dalam pertumbuhan jumlah anak daun 2 (Tabel 8). Perlakuan bibit dengan umur semai 2 minggu atau P1 memiliki jumlah anak daun paling sedikit, sehingga berdasarkan pengamatan umur semai yang paling lama akan menghasilkan jumlah anak daun yang lebih banyak. Hal ini dikarenakan pada bibit umur 12 minggu dari awal penanaman bibit telah memiliki daun yang cukup dari persemaian sehingga sanggup melakukan fotosintesis untuk mencukupi pertumbuhannya, terutama pada pertumbuhan anak daun 2.

Tabel 8. Pengaruh bobot bibit dan umur semai terhadap jumlah anak daun 2 Perlakuan MST 3 5 7 9 Bobot 2-4 kg ..………..………helai………...

1.37a 2.19a 4.85a 11.73a

4-8 kg 1.8a 4.79a 7.02a 11.87a

Umur

2 minggu

………...…helai……….………

0a 0a 0a 0.83b

4 minggu 1.98ab 2.5ab 3.83b 9.06b

8 minggu 0.56ab 2b 4.81b 11.51b

12 minggu 3.99a 9.47a 15.09a 25.80a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%

Perlakuan bobot bibit tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah anak daun ke 2 dari awal hingga akhir pengamatan (Tabel 8). Hal ini dikarenakan jumlah cadangan makanan banir telah berkurang pada pembentukan daun di persemaian sehingga sehingga dalam pembentukan anak daun 2 sangat bergantung pada daun pertama yang melakukan fotosintesis sebelumnya.

Keragaman pertumbuhan dapat terjadi sebagai akibat dari keadaan lingkungan yang bervariasi dari satu tempat dengan tempat lain dan kebutuhan tanaman terhadap keadaan lingkungan yang khusus (Sitompul dan Guritno, 1995). Jumlah anak daun 1 maupun 2 memiliki berhubungan dengan kegiatan foto- sintesis yang dilakukan oleh bibit dan adaptasinya pada lingkungan, semakin banyak daun maupun anak daun maka fotosintesis dapat berjalan dengan baik.

Panjang Anak Daun Panjang anak daun 1

Perlakuan umur semai memberikan pengaruh yang sangat nyata pada minggu ke-3 MST, begitu juga pada akhir pengamatan memberikan pengaruh yang nyata (Tabel 9). Namun pada minggu ke 5 dan 7 umur semai tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang anak daun 1. Pengamatan minggu ke-3 berbeda sangat nyata terhadap pertumbuhan panjang anak daun pertama, Hal ini diduga bibit pada umur semai 3 MST memiliki morfologi yang baik dari persemaian terutama pada perlakuan P4. Pengamatan minggu ke-9 umur

semai berbeda nyata dengan panjang daun pertama dan didapatkan perlakuan P4 didapatkan panjang daun paling baik dibandingkan pada perlakuan umur lainnya.

Tabel 9. Pengaruh bobot bibit dan umur semai terhadap panjang anak daun 1

Perlakuan MST

3 5 7 9

Bobot

2-4 kg

..………..……….cm...

15.56a 17.80a 19.17a 20.73a

4-8 kg 13.33a 16.36a 17.12a 17.11a

Umur

2 minggu

……….cm……….

7.29c 11.17b 13.24b 13.83b

4 minggu 10.84cb 14.77ab 16.64ab 17.24ab

8 minggu 18.19ab 19.75ab 20.22ab 19.99ab

12 minggu 21.46a 22.64a 22.49a 24.63a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%

Pengamatan dengan perlakuan bobot bibit tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang anak daun 1 dari awal hingga akhir pengamatan. Pertum- buhan panjang daun pertama akan mengalami peningkatan namun pada suatu waktu panjang daun akan melambat/berhenti pertumbuhan panjang daunnya terutama saat daun 2 sudah terbentuk, sehingga pertumbuhan akan terfokus pada daun ke-2.

Panjang anak daun pertama terjadi peningkatan setiap minggu pengamatan, bibit dengan umur semai 12 minggu atau perlakuan P4 memiliki panjang anak daun 1 paling tinggi. Perlakuan bibit dengan umur semai 2 minggu atau P1 memiliki panjang anak daun paling kecil, sehingga berdasarkan pengamatan umur semai dengan umur semai paling lama akan didapatkan panjang daun paling panjang. Panjang daun dapat menentukan luas bidang untuk proses fotosintesis pada bibit tersebut. Menurut Gusmayanti (2008) perkiraan luas daun akan menentukan beberapa karakteristik daun. Oleh karena itu pertumbuhan panjang daun dengan umur 12 minggu akan memiliki luas bidang yang lebih besar sehingga proses fotosintesis akan berlangsung baik.

Gambar14. Pengaruh umur semai terhadap panjang anak daun 1

Panjang anak daun 2

Perlakuan umur semai tidak memberikan pengaruh yang nyata pada minggu ke-3 dan ke-7, begitu juga pada akhir pengamatan memberikan pengaruh yang nyata. Namun pada minggu ke 5 dan 9 umur semai memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang anak daun 2 (Tabel 9). Berdasarkan pengamatan yang dilakukan maka didapatkan perlakuan P4 memiliki panjang daun paling baik dari awal hingga akhir percobaan. Perlakuan bobot bibit juga tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang daun ke 2 dari awal hingga akhir percobaan (Tabel 10).

Tabel 10. Pengaruh bobot bibit dan umur semai terhadap panjang anak daun 2

Perlakuan MST

3 5 7 9

Bobot

2-4 kg

..………..….…..…………...cm…………..…...

0.80a 1.03a 1.80a 5.13a

4-8 kg 1.52a 1.54a 1.67a 4.58a

Umur

2 minggu

……….cm……….

0.00a 0.00b 0.00a 0.57b

4 minggu 1.019a 0.87b 1.47a 4.46ab

8 minggu 0.97a 0.69b 1.65a 5.6ab

12 minggu 2.66a 3.57a 3.83a 8.77a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%

Gambar 15. Pengaruh Umur Semai terhadap Panjang Anak Daun 2

Panjang anak daun kedua terjadi peningkatan setiap minggu pengamatan, bibit dengan umur semai 12 minggu atau perlakuan P4 memiliki panjang anak daun 2 paling tinggi (Gambar 15). Perlakuan bibit dengan umur semai 2 minggu atau P1 memiliki panjang anak daun paling kecil. Menurut Nakamura (2005) Individu masing-masing anak daun harus menjadi ukuran penilaian ketelitian dari luas daun. Oleh karena itu bibit yang memiliki umur paling lama dipersemaian memiliki panjang daun paling banyak sehingga luas bidang fotosintesis tanaman dapat berlangsung lebih baik.

Dokumen terkait