Pegukuran geolistrik diperlukan untuk mengetahui sebaran tinggi aquifer dan muka air tanah di lokasi penelitian. Dengan teknik pengukuran ini dapat diprediksi distribusi nilai resistivitas material di bawah permukaan dalam arah lateral secara lebih baik dan lebih cepat, karena dengan menggunakan metode ini maka kedalaman, ketebalan sekaligus penyebaran suatu lapisan batuan dapat terdeteksi (Astawa, 2007).
Hasil pengukuran geolistrik di tempat penelitian sebanyak 4 (empat) titik disajikan pada tabel 2.
16
Tabel 2. Hasil analisi uji geolistrik No Titik Pendugaan Geolistrik Kedalaman (m) Penafsiran Litologi 1 GL 1 0 - 3 Tanah penutup
3 - 13 Pasir (diduga akuifer bebas)
13 – 15,45 Pasir Lempungan
15,5 – 30,2 Breksi / batu breksi kasar
30,2 - ∞ Lempung
2 GL 2 0 - 8 Tanah penutup
8 – 40,11 Pasir (diduga akuifer bebas) 40,11 - 50 Breksi / batu breksi kasar
50 – 58,99 Lempung
59 - ∞ Lempung pasiran (diduga lap. Akuifer dalam)
3 GL 3 0 - 2 Tanah penutup
2 – 6,24 Pasir (diduga akuifer bebas)
6,24 – 9,87 Pasir lempungan
9,87 - ∞ Pasir (diduga akuifer bebas)
4 GL 4 0 - 2 Tanah penutup
2 – 13,48 Pasir (diduga akuifer bebas)
13,48 - 27 Pasir lempungan
27 - ∞ Breksi / batu breksi kasar
Berdasarkan hasil pengukuran geolistrik pada titik GL-1, akuifer bebas berada pada kedalaman 3-13 m dengan litologi terdiri dari pasir dan pasir lempungan, sedangkan breksi kasar berada pada kedalaman 15-30 m. Pada titik GL-2, akuifer bebas berada pada kedalaman 8-40 m dengan litologi pasirdan batu breksi kasar, sedangkan lempung dan pasir lempungan berada pada kedalaman 40-59 m, dan sudah masuk pada area aquifer dalam. Pada titik GL-3, aquifer bebas berada pada kedalaman 2-6 m dengan susunan litologi pasir dan pasir lempungan. Sedangkan pada titik GL-4, akuifer bebas berada pada kedalaman 2-14 meter dengan litologi pasir dan pasir lempungan, pada kedalaman 27 m terdapat breksi kasar.
Berdasarkan interpretasi pendugaan geolistrik di lokasi penelitian, di daerah ini bertahanan jenis antara 15-358 ohm.m. Pada kisaran nilai tahanan jenis tersebut secara umum dapat dikelompokkan berdasarkan perbedaan kontras harga tahanan jenisnya pada tabel 2, berikut ini:
Tabel 3. Interpretasi nilai tahanan jenis di lokasi penelitian Tahanan jenis Perkiraan litologi
< 10 Lempung
10 – 20 Batu lempung
20 – 35 Pasir lempungan
35-50 Pasir
17 Seperti yang dikemukan Rosenshein dalam Tufenkji (2002), RBF biasanya dilakukan dalam akuifer aluvial yang merupakan sistem hidrologi kompleks yang menunjukkan heterogenitas fisik dan geokimia. Akuifer aluvial paling banyak didominasi oleh pasir dan kerikil, tapi flood plain juga meninggalkan lapisan lumpur dan tanah liat pada stratigrafi. Dari hasil penelitian uji geolistrik diatas, maka bisa dipertimbangkan lokasi sumur bor RBF berada disekitar titik penyelidikan geolistrik dengan kedalaman sumur berkisar antara 3-10 meter. Desain jarak antar sumur bisa diketahui lebih lanjut dengan uji pumping yang dilakukan setelah tahap desain RBF dan pengeboran.
Uji Pemompaan (Pumping Test)
Tujuan dari uji pemompaan adalah untuk menetapkan kemampuan sumur yang akan diproduksi. Dari uji ini akan didapat data debit Q dan penurunan muka air s yang diukur dapat diperoleh kapasitas jenis sumur atau sebaliknya penurunan jenis sumurnya. Kapasitas jenis sumur merupakan ukuran kemampuan produksi suatu sumur. Metode yang digunakan dalam penilitian ini adalah metode konstan, yaitu dengan melakukan pemompaan secara terus menerus sampai mendapatkan debit yang konstan pada sumur-sumur yang telah ditetapkan. Data yang didapat kemudian dianalisis dengan metode perhitungan Theis dan untuk aquifer adalah unconfined (tidak tertekan). Dari hasil analisis tersebut akan didapat grafik penurunan muka air tanah dan air imbuhan seperti pada Gambar 8 dibawah ini, juga informasi tinggi muka air tanah pada setiap sumur sebelum dilakukan pemompaan seperti yang tersaji pada tabel 4.
Debit pada saat pemompaan sumur 1adalah 0,44 l/det, pada sumur 2 0,44 l/det, sedangkan pada sumur 3 dan 4 debit yang terukur terlalu kecil sehingga mendekati 0 l/det. Rata-rata di sumur RBF adalah 0,439 l/s dengan pendugaan nilai konduktivitas hidraulik metode Theis 2,32 m/hari (Prakoso, 2014).
18
Pada sumur RBF imbuhan dominan diperoleh dari air sungai dan sebagian kecil dari air aquifer setempat. Pendugaan imbuhan dominan dilakukan dengan membandingkan kurva penurunan dan imbuhan sumur dari uji pemompaan pada sumur yang terletak dalam satu garis lurus memotong aliran sungai.
Pada sumur RBF 1 besaran penurunan muka air selama pemompaan mencapai 1,04 m dari statistik water level, sedangkan pada sumur RBF 3 dan RBF 4 hanya mencapai 0,23 m. kurva imbuhan pada sumur RBF 1 memiliki respon imbuhan lebih cepat dibanding sumur RBF 3 dan 4 yang mana jarak kedua sumur itu lebih jauh dibanding sumur RBF 1 dan RBF 2.
Hal tersebut menunjukkan jika sistem aliran air bawah permukaan memiliki sistem influen, dimana air sungai masuk ke dalam tanah memberikan pasokan terhadap air tanah. Sehingga apabila ada suatu pencemaran pada sungai maka akan dapat membahayakan kondisi air tanah yang digunakan sebagai air minum (Raharjo, 2010).
Tabel 4. Tinggi Muka Air Tanah Pada Setiap Sumur
No. Nama Sumur Tinggi Muka Air Tanah
(m) dpts
3 Sumur 1 1,46
4 Sumur 2 1,33
5 Sumur 3 2,01
6 Sumur 4 1,64
Kualitas Air sungai dan Air Tanah Sungai Cihideung
Kualitas Air sungai Cihideung
Penilaian pada dasarnya dilakukan dengan membandingkan nilai parameter kualitas air dari hasil pengambilan sample dilapangan kemudian diuji di laboratorium dengan baku mutu perairan sesuai peruntukannya yang berlaku di Indonesia yakni mengacu pada PP no. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air. Salah satu pemanfaatan air sungai di DAS Cisadane adalah untuk pertanian, meskipun masih banyak dibeberapa daerah yang menggunakannya untuk keperluan sehari-hari seperti mandi-cuci-kakus, maka berdasarkan peraturan tersebut dalam penelitian ini sebagai pembanding digunakan baku mutu air kelas IV, yaitu air yang peruntukannya digunakan sebagai pertanian dan tempat rekreasi.
Data kualitas air sungai Cihideung berada pada kualitas kelas air 3 untuk parameter TDS, Fosfat, dan Nitrat seperti yang tersaji pada tabel 5. Jika dibandingkan dengan baku mutu air kelas IV, nilai TDS di sungai Cihideung masih jauh di bawah baku mutu dengan nilai TDS 60 Mg/L, sama halnya juga dengan nilai Fosat, Nitrat, dan Permanganat dalam air sungai.
19 Tabel 5. Hasil pengukuran kualitas air sungai Cihideung, DAS Cisadane Segmen Hulu
Kualitas Baku mutu *) Parameter Satuan Kelas Air sungai I II III IV TDS + Mg/L 60 1000 1000 1000 2000 Total Fosfat + Mg/L 0,23 0,2 0,2 1 5 Nitrat (NO3-N) Mg/L 1,46 10 10 20 20 Nilai Permanganat (TOM) mgKMnO4/L 40,45 (-) (-) (-) (-) + : Parameter yang terakreditasi
*) : PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air
LD : Limited detection
Kualitas Air Tanah Cihideung
Airtanah sangat rentan terhadap kontaminasi senyawa organik, khususnya jika transformasi biologis lambat karena suhu yang lebih rendah dan penurunan aktivitas enzim. Berbagai penelitian telah berfokus pada nasib polutan organik seperti herbisida, pestisida, dan senyawa-senyawa lain selama Riverbank Filtration terjadi. Juttner menyelidiki efisiensi Riverbank Filtration dalam menghilangkan senyawa-senyawa organik di sungai Ruhr, Jerman Pusat. Hingga 99% dari kontaminan dapat berkurang dibagian awal filtrasi. Begitupun dengan nilai parameter TDS, Fosfat, Nitrat, dan Permanganat pada ke empat sumur RBF dan satu sumur gali menunjukkan penurunan nilai parameter air pada setiap sumur (Tabel 6). Semakin jauh jarak sumur bor dengan tepi sungai maka dapat dikatakan hampir semua nilai parameternya mengalami penurunan yang masing-masing penurunannya dijabarkan secara rinci pada tabel 7.
Tabel 6. Hasil pengukuran kualitas air tanah di Riverbank Filtration (RBF)
Parameter Satuan Air Tanah Standar
kualitas air*) Sumur Gali Sumur 1 Sumur 2 Sumur 3 Sumur 4 TDS mg/L 64 54 46 42 40 2000 Nitrat (NO3-N) mg/L 1,19 0,20 0,38 1,72 2,02 20 Total Fosfat + mg/L 0,11 0,05 0,04 0,03 0,02 5 TOM mgKMnO4/L 35,39 34,10 33,50 32,86 32,23 - + : Parameter yang terakreditasi
*) : PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air
20
Tabel 7. Penurunan nilai parameter pada air tanah
Parameter Satuan Penurunan nilai parameter pada Air Tanah Sumur Gali Sumur 1 Sumur 2 Sumur 3 Sumur 4 TDS mg/L +4 -10 -8 -4 -2 Nitrat (NO3-N) mg/L -0,96 -0,98 +0,18 +1,33 +0,29 Total Fosfat + mg/L -1,34 -0,06 -0,01 -0,05 -0,01 TOM mgKMnO4/L -5,06 -1,26 -0,63 -0,64 -0,63
Berdasarkan hasil analisis korelasi dengan menggunakan SPSS (Statistical Product and Service Solution). Hasil koefisien korelasi menunjukkan adanya korelasi negatif antara jarak sumur dengan kualitas air. Hal ini berarti semakin jauh jarak sumur dari tepi sungai maka akan semakin rendah nilai parameter TDS, Fosfat, dan Permanganat yang terkandung dalam air. Hal ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan Schijven (2002) bahwa metode RBF efektif mengurangi berbagai macam kontaminan pada jarak yang lebih jauh dalam batas jari-jari pengaruh sumur. Hasil output perhitungan korelasi dengan menggunakan SPSS (Statistical Product and Service Solution) dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8. Hasil Perhitungan SPSS korelasi pengukuran kualitas air
Parameter R-Sq Tidak Standar Koefisien Standar Koefisien Uji t Sig. Beta Beta TDS 0, 94 -0,03 -0,97 -8,64 0,00 Konstanta - 62,25 - 31,38 0,00 Nitrat 0,06 0,04 0,25 0,52 0,02 Konstanta 0,67 - 1,53 0,20 Fosfat 0,86 -0,15 -0,93 -5,12 0,00 Konstanta 0,14 - 4,48 0,01 TOM 0,69 -0,01 -0,83 -3,03 0,03 37,48 - 30,25 0,00
Korelasi Antara Jarak Sumur RBF pada Kualitas Air
Total Dissolved Solid (TDS)
Grafik korelasi antara jarak sumur pada nilai parameter TDS dalam air memiliki nilai R-Sq 0,94 (Gambar 9). Hal ini menunjukkan bahwa model regresi dapat menjelaskan jarak sumur berpengaruh pada nilai TDS di lokasi sebesar 0,94. Model regresi TDS = 62,251 exp-0,037 Sumur, hasil menunjukkan bahwa uji t
21 (prob) (0,0001) < 5% yang menunjukkan bahwa jarak sumur berpengaruh terhadap TDS. Nilai -0,037 menunjukkan bahwa kenaikan sumur 1% akan menurunkan TDS sebesar 0,037%.
Kualitas TDS dalam air sungai sebesar 60 mg/l, dalam air sumur gali sebesar 64 mg/l, dalam air sumur 1 sebesar 54 mg/l, air sumur 2 sebesar 46 mg/l, air sumur 3 sebesar 42 mg/l, dan sumur 4 sebesar 40 mg/l. Baku mutu kulitas air kelas IV berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001 untuk total padatan terlarut maksimal 2000 mg/l. Nilai total padatan terlarut (TDS) di Sungai Cihideung dan sumur memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan, meskipun nilai TDS pada Sumur Gali yang berjarak 1 meter dari sisi sungai, kedalaman 2 meter dan diameter 30 cm lebih besar dibanding nilai TDS air sungai Cihideung, yaitu 64 mg/l. Rendahnya pengaruh jarak dan kedalaman sumur RBF terhadap kualitas air pada Sumur Gali, hal ini bisa disebabkan oleh padatan yang masuk ke sumur tersebut lebih banyak berbentuk padatan yang ukurannya lebih kecil.
Gambar 9. Korelasi Antara Jarak Sumur pada Nilai TDS
Nitrat (N-NO3)
Korelasi antara jarak sumur pada nilai parameter Nitrat yang terkandung dalam air memiliki nilai R-Sq 0,65. Hal tersebut menunjukkan bahwa model regresi dapat menjelaskan keberagaman jarak sumur sebesar 0,65. Sisanya 0,93 dijelaskan oleh variabel lain. Grafik korelasi dapat dilihat pada Gambar 10. Persamaan regresi Nitrat = 0,678 exp0,046 Sumur , hasil menunjukkan bahwa uji t (prob) (0,625) > 5% yang menunjukkan bahwa kualitas nitrat pada sumur tidak dipengaruhi oleh jarak dari tepi sungai.
Hal tersebut disebabkan karena nilai Nitrat pada sumur 2 dengan jarak 7 m dari sungai sebesar 0,38 mg/l, sumur 3 dengan jarak 10 m dari sungai memiliki kandungan Nitrat sebesar 1,72 mg/l, dan sumur 4 dengan jarak 13 m dari sisi sungai mengalami kenaikan 2,02 mg/l. Dalam proses Riverbank Filtration dimana air permukaan berinfiltrasi melalui tepi sungai menuju akuifer, akan ada keadaan
22
dimana oksigen menjadi berkurang, dibawah kondisi anoksik atau keadaan tanpa oksigen yang sering kali terdapat di rawa-rawa daerah tropis atau pada permukaan tertentu suatu perairan aktivitas mikroba denitrifikasi yang membentuk senyawa nitrat dapat bekerja pada keadaan anaerob. Karena proses kimia yang terjadi pada daerah filtrasi inilah, konsentrasi Nitrat secara umum akan naik meskipun jarak sumur dengan tepi sungai jauh.
Seperti yang bisa dilihat pada Gambar 6 mengenai skema kualitatif penggambaran evolusi beberapa parameter dalam jalur aliran infiltrasi pada RBF, parameter Nitrat terus mengalami peningkatan di zona aerasi setelah berkurang pada reduced zone. Zona aerasi inilah yang menjadi faktor aktivitas mikroba denitrifikasi yang membentuk senyawa nitrat dapat bekerja sehingga meningkatkan kadar nitrat.
Sumber polusi Nitrat sendiri berasal dari pupuk atau kotoran. Kenaikan konsetrasi Nitrat pada sumur 2, sumur 3 dan sumur 4 juga bisa disebabkan lahan tersebut digunakan untuk pertanian yang mana unsur nitrat disumbangkan dari pupuk. Keberadaan senyawa nitrogen dalam perairan dengan kadar yang berlebihan dapat menimbulkan permasalahan pencemaran. Kandungan nitrogen yang tinggi disuatu perairan dapat disebabkan oleh limbah yang berasal dari pertanian, peternakan, industri (Siahaan, 2012) dan limbah domestik yang masuk ke dalam sungai. Lokasi penelitian sebagaian besar digunakan sebagai lahan pertanian. Kontaminasti Nitrat pada wilayah sekitar dikarenakan adanya kegiatan pertanian yang sudah berlangsung sejak lama. Sisa dari pupuk buatan maupun pupuk kandang yang berasal dari kotoran hewan. Karena itulah nilai Nitrat pada ketiga sumur tersebut mengalami kenaikan.
Gambar 10. Korelasi Antara Jarak Sumur pada Nilai Nitrat
Jika dibandingkan dengan baku mutu PP No. 82 Tahun 2001 yang mensyaratkan kandungan Nitrat 20 mg/l untuk air baku kelas IV, maka kandungan Nitrat di air sungai dan di sumur masih dibawah baku mutu air.
23 Fosfat (PO4-P)
Hasil analisi kualitas air di sungai menunjukkan nilai fosfat lebih dari 0,1 mg/l, dimana sir sungai Cihideung memiliki kandungan fosfat sebesar 0,23 mg/l, dan sumur gali 0,11 mg/l. Sedangkan pada sumur 1 smemiliki kandungan fosfat sebesar 0,05 mg/l, sumur 2 sebesar 0,04 mg/l, sumur 3 sebesar 0,03 mg/l, dan pada sumur 4 memiliki kandungan fosfat sebesar 0,02 mg/l. Hal ini menunjukkan bahwa di sungai terjadi akumulasi fosfat yang bersumber dari sisa pakan ikan. Kotoran manusia dan deterjen juga mengandung unsur fosfat yang cukup tinggi yang dapat meningkatkan kandungan fosfat di air sungai. Sejalan pernyataan tersebut, Chester (1990) menyatakan bahwa fosfat yang terdapat diperairan sungai bersumber dari kegiatan antropogenik seperti limbah perkotaan dan pertanian seperti polifosfat yang terdapat pada deterjen.
Korelasi antara jarak sumur pada nilai parameter Fosfat yang terkandung dalam air memiliki nilai R-Sq 0,86. Hal tersebut menunjukkan bahwa model regresi dapat menjelaskan keberagaman jarak sumur sebesar 0,86. Sisanya 0,14 dijelaskan oleh variabel lain. Grafik korelasi dapat dilihat pada Gambar 11. Persamaan regresi Fosfat = 0,149 exp-0,153 Sumur , hasil menunjukkan bahwa uji t (prob) (0,0007) < 5% yang menunjukkan bahwa jarak sumur berpengaruh terhadap Fosfat. Nilai -0,153 menunjukkan bahwa kenaikan sumur 1% akan menurunkan fosfat sebesat 0,153%.
Gambar 11. Korelasi Antara Jarak Sumur pada Nilai Fosfat
Berdasarkan baku mutu air kelas IV sebagai sumber air pertanian dipersyaratkan kadar fosfat > 5 mg/l. dengan demikian dapat disimpulkan jika air sungai Cihideung dan sumur tidak mengalami pencemaran fosfat, karena nilai yang ada menunjukkan tidak lebih besar dari 5 mg/l.
Permanganat (TOM)
Korelasi antara jarak sumur pada nilai parameter Permanganat (TOM) yang terkandung dalam air memiliki nilai R-Sq 0,69. Hal tersebut menunjukkan
24
bahwa model regresi dapat menjelaskan keberagaman jarak sumur sebesar 0,69. Sisanya 0,31 dijelaskan oleh variabel lain.
Persamaan Permanganat (TOM) = 37,483 exp-0,013 Sumur , hasil menunjukkan bahwa uji t (prob) (0,039) < 5% yang menunjukkan bahwa jarak sumur berpengaruh terhadap Permanganat (TOM). Nilai -0,013 menunjukkan bahwa kenaikan sumur 1% akan menurunkan TOM sebesar 0,013%. Nilai TOM berkurang secara signifikan seiring dengan jauhnya jarak sumur dari sisi sungai. Air sungai Cihideung memiliki kandungan permanganat sebesar 40,45 mg/l, sumur gali 35,39 mg/l, sumur 1 sebesar 34,10 mg/l, sumur 2 sebesar 33,50 mg/l, sumur 3 sebesar 32,86 mg/l, sumur 4 sebesar 32,23 mg/l.
Keadaan sungai di lokasi penelitian disominasi oleh vegetasi, dari tumbuhan rumput liar yang cukup tinggi dan beberapa jenis tumbuhan seperti bambu yang tumbuh di tepi sungai yang secara biokimia akan mengalami penguraian yang intensif untuk menghasilkan TOM. Permanganat merupakan bahan kimia yang berbahaya. Apabila kontak dengan senyawa yang mudah menimbulkan api. Permanganat juga merupakan asam yang kuat peroksida, dan senyawa kimia logam aktif. Pada gambar 12 terlihat penurunan TOM secara signifikan dari setiap sumur konsentrasinya semakin berkurang.
Gambar 12. Korelasi Antara Jarak Sumur pada Nilai Permanganat
Penurunana nilai Permanganat pada setiap sumur karena banyaknya lapisan pasir di lokasi penelitian. Filter pasir dapat menurunkan logam aktif sebesar 43,71% (Oktiawan et al, 2007) dan curah hujan atau adsorpsi dalam sedimen akuifer telah diidentifikasi sebagai sebuah mekanisme penting penghapusan logam seperti seng dan kadmium (Tufenkji et al, 2002). Untuk permanganat di baku mutu PP No. 8 Tahun 2001 tidak disebutkan. Namun di Amerika, standar Permanganat yang diperbolehkan terdapat pada air minum sebesar 60 mgKMnO4/L. Meskipun begitu senyawa ini dapat dikategorikan sangat berbahaya jika air mengandung senyawa ini karena dalam jumlah yang banyak akan mengganggu kesehatan seperti iritasi pada mata, kerusakan pada ginjal, paru-paru dan hati, juga akan mengakibatkan panas apabila terjadi kontak dengan kulit.
25
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Dari penelitian ini bisa disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
a. Karakteristik RBF di lokasi diantaranya memiliki kedalaman air tanah antara 2-48 m dengan lapisan yang terdiri dari pasir, pasir lempungan, dan breksi. Jarak sumur terdekat ke sungai adalah 1 meter sedang untuk yang terjauh 13 m.
b. Nilai konduktivitas hasil perhitungan 2,32 m/hari dengan karakteristik aliran akuifer setempat influen, dimana air tanah setempat dipasok sebagian besar oleh sungai Cihideung.
c. Kualitas air sungai di Daerah Aliran Sungai Cisadane Sub-DAS Sungai Cihideung, yaitu TDS sebesar 60 mg/l, Fosfat sebesar 0,23 mg/l, Nitrat sebesar 1,46 mg/l, dan Permanganat sebesar 40,45 mgKMnO4/l. Sedangkan nilai TDS dalam air pada setiap sumur berturut-turut adalah sebesar 64 mg/l, 54 mg/l, 46 mg/l, 42 mg/l, dan 40 mg/l. Nilai Nitrat dalam air pada setiap sumur berturut-turut adalah sebesar 1,19 mg/l, 0,20 mg/l, 0,38 mg/l, 1,72 mg/l, dam 2,02 mg/l. Nilai Fosfat dalam air pada setiap sumur berturut-turut adalah sebesar 0,11 mg/l, 0,05 mg/l, 0,04 mg/l, 0,03 mg/l, dan 0,02 mg/l. Nilai Permanganat (TOM) dalam air pada setiap sumur berturut-turut adalah sebesar 35,39 mg/l, 34,10 mg/l, 33,50 mg/l, 32,86 mg/l dan 32,23 mg/lBerdasarkan peraturan air baku di indonesia, ke empat parameter uji termasuk ke dalam kelas 3.
Saran
Saran untuk peneliti selanjutnya yang memiliki ketertarikan untuk melakukan penelitian pada bidang yang sama adalah perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan skala DAS dan peruntukkannya bukan sebagai sumber air irigasi tapi sebagai air minum. Dan ditambahkan untuk parameter Fisik dan Kimia yang akan diuji, jika perlu parameter Biologi dimasukkan kedalam parameter uji.