Hati Tikus Normal denganTikus Hiperurisemia
Hasil analisis menunjukkan bahwa rata- rata konsentrasi lipid peroksida kelompok normal lebih kecil dibandingkan dengan kelompok hiperurisemia (Gambar 5). Hal ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh dari perlakuan pemberian jus hati ayam untuk meningkatkan jumlah asam urat tikus kelompok hiperurisemia terhadap peningkatan konsentrasi lipid peroksida hati. Induksi hiperurisemia dengan memberikan jus hati ayam mampu meningkatkan konsentrasi asam urat serum darah tikus sebesar 32,5% (Darminto 2010). Secara statistik, kenaikan konsentrasi lipid peroksida kelompok hiperurisemia dibandingkan dengan kelompok normal tidak berbeda nyata (p=0,765). Berdasarkan rataan terlihat bahwa konsentrasi lipid peroksida kelompok hiperurisemia lebih besar 7,56% dibandingkan kelompok normal
Besarnya konsentrasi lipid peroksida kelompok hiperurisemia terjadi akibat peningkatan kerja enzim xantin oksidase dalam proses pembentukan asam urat, sehingga menimbulkan stress oksidatif. Peningkatan kerja enzim xantin oksidase diawali dari peningkatan aktivasi xantin oksidase sebagai katalisator yang menghasilkan radikal superoksida dan hidrogen peroksida sehingga memicu kondisi prooksidan (Haidari et al. 2009). Proses tersebut terjadi akibat adanya perlakuan induksi hierurisemia yang meningkatkan substrat dari xantin oksidase.
Peningkatan substrat berupa xantin akan meningkatkan perubahan enzim xantin dehidrogenase (XDH) yang pada keadaaan normal lebih banyak dalam keadaan fisiologis, menjadi xantin oksidase. Perubahan enzim tersebut lebih menggunakan oksigen molekuler daripda NAD+ sebagai penangkap elektron, sehingga pada proses lebih lanjut akan menyebabkan terjadinya pembentukan anion superoksida dan hidrogen peroksida (Haidari et al.
2009). Hidrogen peroksida lebih lanjut dapat bereaksi dengan ion logam (seperti Fe2+) dalam reaksi Fenton maupun bereaksi dengan O2- dan OH- dalam reaksi Haber-
Weiss. Lebih jauh, hasil reaksi tersebut akan menghilangkan keseimbangan antara status antioksidan dan prooksidan tubuh, sehingga menimbulkan keadaan stres oksidatif (Hayden & Tyagi 2004).
Gambar 5 Rata-rata konsentrasi lipid peroksida hati kelompok normal, hiperurisemia dan alopurinol
Stres oksidatif akibat peningkatan konsentrasi asam urat dapat menyebabkan perubahan fungsi antioksidan asam urat menjadi prooksidan. Keadaan stres oksidatif berkontribusi dalam pembentukan radikal bebas yang selanjutnya akan mengoksidasi lipid. Semakin tinggi konsentrasi asam urat darah maka semakin besar kemungkinan peroksidasi lipid serta penumpukan lipid peroksida sebagai hasilnya (Stinefelt et al.
2005).
Menurut teori Haidari et al. (2009) yang menjelaskan kenaikan lipid peroksida pada kelompok hiperurisemia, seharusnya konsentrasi lipid peroksida hati kelompok alopurinol akan lebih rendah dibandingkan dengan kelompok hiperuisemia. Hal tersebut karena allopurinol merupakan jenis obat komersil yang digunakan untuk menurunkan konsentrasi asam urat dengan menghambat kerja enzim xantin oksidase. Tetapi berdasarkan hasil analisis data menyebutkan bahwa konsentrasi lipid peroksida kelompok alopurinol lebih besar dibandingkan kelompok hiperurisemia.
Pada penelitian yang dilakukan Darminto (2010), menginformasikan bahwa ekstrak mahoni dan alopurinol memberikan pengaruh yang sama dalam menurunkan konsentrasi asam urat di serum darah. Namun sebagai antioksidan hanya pemberian ekstrak yang mampu menurunkan konsentrasi lipid peroksida serum darah (Lavenia 2010). Padahal kerja alopurinol dalam menghambat sintesis asam urat juga dapat digolongkan dalam kerja melawan pembentukan oksidan radikal hasil pembentukan asam urat.
Besarnya konsentrasi lipid peroksida kelompok alopurinol terjadi akibat adanya penurunan konsentrasi asam urat yang disebabkan pemberian obat alopurinol. Hal tersebut akan mempengaruhi kerja asam urat sebagai penangkap radikal bebas. Asam urat merupakan antioksidan endogen tubuh yang bekerja menghambat reaksi oksidasi terhadap lipid, yang dapat menyebabkan naiknya konsentrasi lipid peroksida. Koolman & Roehm (2005) menyebutkan bahwa alopurinol merupakan senyawa yang dapat menghambat pembentukan asam urat. Oleh karena itu kerja alopurinol dalam menghambat pembentukan asam urat akan menurunkan konsentrasi asam urat dalam tubuh, sehingga dapat menyebabkan terjadinya kenaikan konsentrasi lipid peroksida dalam tubuh. Pada percobaan yang dilakukan, diketahui bahwa aktivitas antioksidasi alopurinol hanya terbatas dalam penghambatan pembentukan radikal bebas dari sintesis asam urat saja. Hal inilah yang menyebakan konsentrasi lipid peroksida kelompok alopurinol lebih besar dibandingkan dengan kelompok normal.
Perbandingan Konsentrasi Lipid Peroksida Hati Kelompok Ekstrak Metanol dan
Ekstrak Air
Data yang diperoleh menginformasikan bahwa rata-rata konsentrasi lipid peroksida kelompok ekstrak air sebesar 63,57±16,84 nmol/gram yang berarti lebih kecil dari kelompok normal. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberian ekstrak air kulit kayu mahoni cenderung dapat menurunkan konsentrasi lipid peroksida hati sebesar tiga
Gambar 6 Penurunan konsentrasi lipid peroksida tiap kelompok terhadap kelompok normal
11
kali lebih rendah daripada kelompok normal (p=0,054) (Gambar 6). Hal tersebut konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lavenia (2010), yang melaporkan bahwa ekstrak air kulit kayu mahoni menurunkan konsentrasi lipid peroksida darah sebebesar 26,86%, sedangkan ekstrak metanol tidak memiliki efek antioksidasi.
Penurunan konsentrasi lipid peroksida oleh ekstrak air diketahui karena adanya senyawa fitokimia yang terkandung dalam ekstrak kulit kayu mahoni. Penelitian yang dilakukan Suhesti et al. (2007) menunjukkan bahwa serbuk kulit batang mahoni memiliki kandungan senyawa aktif berupa saponin, terpenoid dan flavonoid. Flavonoid berperan dalam menghambat kerja xantin okidase (Cos et al. 1998, Mo et al. 2007), dan meningkatkan aktivitas superoksida dismutase tubuh serta mampu melindungi tubuh dari stres oksidatif yang ditunjukkan oleh meningkatnya status antioksidan plasma (Vedavanam et al. 1999). Selain itu, Mardisadora (2009) melaporkan bahwa terdapat senyawa kuersetin sebagai suatu jenis flavonoid yang terdapat di dalam kulit kayu mahoni. Flavonoid dalam bentuk kuersetin juga diketahui mampu mencegah peroksidasi non-enzimatik yang diinduksi oleh asam askorbat atau ferosulfat dalam otak tikus (Tombilangi 2004).
Kemampuan flavonoid dalam menghambat peroksidasi lipid tergantung dari nilai Radical Scavenging Activity
(RSA). Kuersetin adalah salah satu flavonoid yang diketahui memiliki nilai lebih dari 50% (Amic at al. 2003), sehingga dapat dikatakan mampu menangkap radikal bebas dengan baik.Tanin dan golongan alkaloid juga berperan sebagai antioksidan. Menurut Hussein et al. (2006) tanin yang merupakan polifenol larut air yang bertindak sebagai antioksidan superior. Oksidasi tanin mengawali oligomerisasi dan produksi sejumlah situs reaktif. Selain itu, tanin mampu bertindak sebagai antioksidan dengan cara menangkap tembaga. Tanin juga melindungi protein dari oksidasi dan glikasi.
Berbeda dengan ekstrak air, pemberian ekstrak metanol ternyata tidak memberi efek antioksidan terhadap konsentrasi lipid peroksida hati. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberian ekstrak metanol meningkatkan konsentrasi lipid peroksida hati kelompok ekstrak metanol sebesar 101,04±26,68 nmol/gram. Hasil ini sangat
berbanding terbalik dengan pengaruh ekstrak metanol yang digunakan pada kondisi in vitro. Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Ningsih (2009), kandungan flavonoid yang lebih tinggi terdapat pada ekstrak metanol yang mengindikasikan bahwa ekstrak metanol berpotensi lebih baik dalam mencegah reaksi oksidasi dibandingkan ekstrak air. Mardisadora (2009) melaporkan bahwa ekstrak metanol kulit batang mahoni memiliki potensi antioksidasi lebih tinggi dibandingkan ekstrak air. Hasil persentase daya hambat 200 ppm ekstrak dengan metode TBA untuk ekstrak metanol sebesar 59.81% dan untuk ekstrak air sebesar 54.65%.
Besarnya kandungan flavonoid dalam suatu bahan belum tentu mempengaruhi fungsi flavonoid sebagai antioksidan dalam tubuh. Flavonoid yang masuk ke dalam tubuh akan didetoksifikasi oleh hati sebab flavonoid akan dikenali sebagai bahan asing oleh hati. Secara teknis terdapat perbedaan kerja masing-masing ekstrak tersebut di dalam tubuh. Perbedaan tersebut disebabkan karena ekstrak air kulit kayu mahoni menggunakan pelarut air, sehingga saat dilarutkan dengan aquades untuk pencekokkan, ekstrak air akan terlarut dengan baik. Oleh karena itu tubuh dapat menyerap ekstrak lebih baik. Berbeda dengan ekstrak metanol, potensi antioksidasi metanol yang rendah mungkin terjadi karena senyawa aktif yang terekstrak di metanol tidak terlarut dengan baik pada aquades dan mengendap, sehingga tidak dapat diserap tubuh dengan baik.
Tubuh menyerap air lebih baik dibandingkan metanol menyebabkan senyawa fitokimia yang terekstrak di air dapat bekerja lebih baik dibanding ekstrak metanol. Senyawa aktif yang terlarut di air akan terlarut pada darah, sehingga kerja senyawa aktif tersebut lebih cepat dibandingkan pada ekstrak metanol, sedangkan metanol dapat menginduksi stres oksidatif yang mempengaruhi fungsi asam urat dan memicu pembentukan radikal bebas. Menurut Parthasarathy et al. (2006), proses oksidasi metanol di hati akan meningkatkan NADH dan pembentukan anion superoksida yang dapat berkontribusi dalam peroksidasi lipid. Paparan metanol juga berhubungan dengan kerusakan mitokondria dan peningkatan proliferasi mikrosomal yang berujung pada peningkatan produksi oksigen radikal.
Korelasi Jumlah Lipid Peroksida dalam Darah dan dalam hati
Pada penelitian ini dilakukan analisis korelasi antara konsentrasi lipid peroksida darah dan hati tikus. Analisis korelasi ini dilakukan untuk melihat pengaruh dari peningkatan lipid peroksida hati terhadap lipid peroksida darah. Gambar 7 menunjukkan hubungan antara lipid peroksida darah dan lipid peroksida hati kelompok nonekstrak. Besarnya pengaruh konsentrasi kolesterol hati terhadap konsentrasi lipid peroksida darah dapat dilihat berdasarkan nilai koefisien determinasi (R2). Nilai R2 kelompok nonekstrak adalah 0,996 atau dapat disebut bahwa pengaruh konsentrasi lipid peroksida hati terhadap konsentrasi lipid peroksida darah sebesar 99,6 %. Selain itu dilihat dari
nilai P<α (α=0.05), maka diketahui adanya
hubungan korelasi yang signifikan antara kedua variabel tersebut (Tabel 1). Hal ini berarti bahwa kenaikan lipid peroksida hati memilliki pengaruh yang signifikan terhadap kenaikan lipid peroksida darah.
Korelasi yang signifikan tersebut disebabkan karena fungsi hati yang menampung semua senyawa toksik untuk didetoksifikasi. Lipid peroksida merupakan senyawa toksik yang jika jumlah berlebih di dalam organ hati, maka akan dikeluarkan menuju pembuluh darah. Menurut Yagi (1994) apabila konsentrasi lipid peroksida di hati meningkat, maka lipid peroksida ini dapat merusak sel hati sehingga peroksida akan keluar dari hati menuju pembuluh darah dan dapat merusak organ atau jaringan lain. Oleh karena itu kerusakan sel hati dapat berakibat sangat fatal bagi kelancaran metabolisme tubuh.
Begitu juga kelompok ekstrak dengan R2 masing-masing sebesar 91,7% untuk ekstrak air dan 97,9% untuk ekstrak metanol (Gambar 8). Nilai korelasi yang sangat positif tersebut menginformasikan bahwa pemberian ekstrak terhadap lipid peroksida hati memiliki pengaruh terhadap konsentrasi lipid peroksida darah. Secara statistik korelasi yang terjadi pada kelompok ekstrak signifikan (p<0.01) (Tabel 2), dengan kata lain dapat disebutkan bahwa kenaikan atau penurunan konsentrasi lipid peroksida hati yang diberi ekstrak dapat mempengaruhi kenaikan atau penurunan konsentrasi lipid peroksida darah. Kondisi korelasi yang signifikan ini juga memperkuat alasan bahwa fungsi hati sangat berperan dalam peningkatan atau penurunan lipid peroksida
darah. Jika terjadi kerusakan hati akibat akumulasi senyawa toksik termasuk lipid peroksida, maka senyawa-senyawa tersebut akan dikeluarkan ke darah.
Tabel 1 Uji korelasi kelompok nonekstrak. Kelompok (KK) (R2) P
Nonekstrak 0.998 0.996 0.000bn KP = Koefisien Pearson
R2 = Koefisien determinasi
P<α = α0.01 maka bn berarti signifikan
Tabel 2 Uji Korelasi kelompok ekstrak. Kelompok (KK) (R2) p E. Air E. Metanol 0.958 0.990 0.917 0.979 0.003bn 0.000 bn KP = Korelasi Pearson R2 = Koefisien determinasi
P<α = α0.01 maka bn berarti signifikan
Gambar 7 Korelasi konsentrasi lipid peroksida darah dan hati tikus kelompok nonekstrak
Gambar 8 Korelasi konsentrasi lipid peroksida darah dan hati tikus kelompok ekstrak metanol ( ) dan kelompok ekstrak air ( )
13