• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 HASIL DAN PEMBAHASAN Perdagangan Indonesia dengan Turk

Nilai ekspor Indonesia pada tahun 2014 adalah 176 miliar dolar, sedangkan nilai impornya 178 miliar dolar. Komoditi unggulan ekspor Indonesia diantaranya adalah minyak kelapa sawit, karet, kopi, tekstil dan produk tekstil, serta hasil hutan berupa kayu. Sedangkan komoditi unggulan impor Indonesia diantaranya adalah minyak bumi, mesin, peralatan elektronik, besi dan baja, serta plastik. Negara tujuan utama ekspor (importir) Indonesia adalah Jepang, Cina, Amerika, Singapore, dan India. Sedangkan negara eksportir utama adalah Cina, Singapore, Jepang, Korea, dan Malaysia.

Nilai ekspor Turki pada tahun 2014 adalah 157 miliar dolar, sedangkan nilai impornya 242 miliar dolar. Komoditi unggulan ekspor Turki diantaranya adalah kendaraan, mesin, pakaian rajut, peralatan elektronik, dan besi serta baja. Sedangkan komoditi unggulan impor adalah minyak bumi, mesin, peralatan elektronik, besi dan baja, serta kendaraan. Negara tujuan ekspor utama Turki adalah Jerman, Irak, Inggris, Italia, dan Perancis. Negara pengekspor utama adalah Rusia, Cina, Jerman, dan Amerika.

Turki merupakan salah satu dari 30 negara tujuan ekspor Indonesia terbesar (Kementrian Perindustrian, 2014). Kelompok hasil industri yang menjadi unggulan ekspor dari Indonesia ke Turki diantaranya adalah tekstil, pengolahan kelapa/kelapa sawit, pengolahan karet, kimia dasar, serta pulp dan kertas. Sedangkan kelompok hasil industri yang menjadi unggulan impor dari Turki diantaranya adalah tekstil; kelompok besi baja, mesin, dan otomotif; kimia dasar; makanan dan minuman; serta rokok.

Neraca perdagangan antara Indonesia dengan Turki pada rentang waktu 2001-2014 mengalami surplus kecuali pada tahun 2008 mengalami defisit sebesar US$ 346 juta. Defisit perdagangan antara Indonesia dan Turki pada tahun 2008 disebabkan oleh kondisi perekonomian Indonesia yang mengalami defisit neraca pembayaran akibat krisis global. Dari sisi transaksi berjalan, terjadi pertumbuhan ekspor yang menurun seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi global dan merosotnya harga komoditas ekspor. Sedangkan dari sisi impor, kebutuhan impor terus meningkat seiring dengan permintaan domestik yang tumbuh pesat (Laporan Perekonomian Indonesia, 2008). Surplus terbesar dari perdagangan kedua negara ini terjadi pada tahun 2012 yaitu mencapai US$ 1.01 miliar, namun pada tahun berikutnya mengalami penurunan yang sangat tajam menjadi US$ 221 juta. Neraca perdagangan mengalami peningkatan kembali pada tahun 2014 menjadi US$ 415 juta meskipun besarnya surplus ini belum cukup besar dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu tahun 2010-2012. Neraca perdagangan non migas menunjukkan tren yang meningkat dan selalu terjadi surplus. Namun, pada neraca perdagangan migas dan non migas terdapat defisit yang dipengaruhi sektor migas.Perkembangan neraca perdagangan tersebut ditunjukkan oleh Gambar 6.

Sumber: ITC Trademap (2015)

Ekspor Indonesia ke Turki bergerak antara US$ 1 miliar hingga US$ 1.5 miliar selama periode 2010-2014. Ekspor ini mengalami angka yang paling tinggi pada tahun 2013 yaitu sebesar US$ 1.5 miliar. Meskipun ekspor pada tahun 2013 paling tinggi, namun impor pun mengalami peningkatan yang sangat tajam dan merupakan tingkat impor paling tinggi selama periode 2010-2014. Oleh karena itu, pada tahun 2013 ini neraca perdagangan mengalami penurunan yang sangat tajam karena peningkatan impor yang sangat tajam menjadi US$ 1.3 miliar dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya sebesar US$ 300 juta. Peningkatan impor yang tajam pada tahun 2013 ini salah satunya dipicu oleh impor migas. Impor migas pada tahun 2012 hanya sebesar US$ 4.4 ribu menjadi US$ 1.05 miliar. Di sisi lain, Indonesia tidak mengekspor migas ke Turki pada tahun 2013, berbeda dari tahun sebelumnya Indonesia mengekspor migas ke Turki sebesar US$ 6 juta.

Peningkatan impor yang tajam pada tahun 2013 ini disebabkan oleh keadaan perekonomian Indonesia yang mengalami defisit neraca perdagangan. Defisit neraca perdagangan ini terutama dipengaruhi oleh sektor migas. Laporan Perekonomian Indonesia (2013) mencatat defisit neraca perdagangan migas pada tahun 2013 sebesar 9.7 miliar dolar AS, lebih besar dibandingkan dengan defisit pada 2011 sebesar 0.7 miliar dolar AS dan 5.2 miliar dolar AS pada 2012. Defisit neraca perdagangan sektor migas ini dipengaruhi oleh impor migas yang tinggi. Impor minyak mencapai 40.4 miliar dolar AS pada tahun 2013, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 38.3 miliar dolar AS. Peningkatan impor minyak tersebut dipengaruhi oleh peningkatan konsumsi bahan bakar minyak di dalam negeri, khususnya sektor transportasi. Peningkatan impor juga dipengaruhi oleh produksi minyak yang menurun yaitu dari 862 ribu barel/hari pada 2012 menjadi 827 ribu barel/hari pada 2013.

Defisit neraca perdagangan migas juga dipengaruhi oleh penurunan ekspor gas. Ekspor gas pada tahun 2013 tercatat 15.7 miliar dolar AS, turun 11.2% dibandingkan tahun 2012. Penurunan ekspor gas tersebut antara lain dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah melakukan konversi energi dari bahan bakar minyak menjadi bahan bakar gas melalui pemanfaatan produksi gas di dalam negeri.

146387207072213257 302404 474901 644537 914859 545613 435155 738440 10406051052029 1255175 1185927 147835215007215135 302895 497047 645282 309699 -345990 90733 768989878427 1064822 221266 376923 -600000 -400000 -200000 0 200000 400000 600000 800000 1000000 1200000 1400000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Nilai n era ca (US$ 0 0 0 ) Tahun

non migas migas dan non migas

Meskipun menyebabkan ekspor gas turun cukup dalam, kebijakan tersebut di sisi lain mampu mencegah peningkatan impor minyak yang lebih tinggi.

Kesesuaian Struktur Ekspor Indonesia dengan Impor Turki

Nilai TCI berkisar antara 0-100. Nilai 0 menunjukkan tidak adanya komplementaritas artinya negara-negara tersebut merupakan kompetitor dalam perdagangan, sedangkan 100 menunjukkan bahwa perdagangan negara-negara tersebut saling melengkapi.

Gambar 7 menunjukkan nilai TCI Indonesia dengan Turki dari tahun 2001 hingga 2014. Hasil menunjukkan nilai TCI berkisar antara 20-30. Nilai TCI tertinggi terjadi pada tahun 2001 yaitu sebesar 29.6094 kemudian pada tahun berikutnya terjadi penurunan. Pada tahun 2010 terjadi peningkatan hingga mencapai nilai 27.9091. Kemudian nilai yang paling rendah terjadi pada tahun 2012 yaitu 19.9410 dan mengalami sedikit peningkatan pada tahun berikutnya hingga 2014. Nilai TCI yang rendah ini menunjukkan rendahnya kesesuaian dari struktur ekspor Indonesia dengan impor Turki.

Turki bukan merupakan negara tujuan ekspor utama Indonesia. Dilihat dari ekspor Indonesia ke dunia, pangsa ekspor Indonesia ke Turki hanya sebesar 0.8%. Negara tujuan ekspor utama Indonesia diantaranya adalah Jepang, Cina, Amerika, Singapore, dan India. Sama halnya dengan Turki, Indonesia bukan merupakan negara pengimpor terbesar bagi Turki. Negara-negara pengimpor terbesar Turki adalah Rusia, Cina, Jerman, dan Italia. Turki banyak mengimpor komoditi seperti minyak bumi, mesin, peralatan elektronik, besi dan baja, serta kendaraan. Sedangkan Indonesia merupakan pengekspor komoditi seperti minyak kelapa sawit, karet, kopi, tekstil dan produk tekstil, serta hasil hutan berupa kayu. Hal ini menunjukkan mengapa kesesuaian struktur ekspor Indonesia dan impor Turki rendah. Meskipun bukan negara tujuan ekspor utama, Turki dapat menjadi gerbang bagi Indonesia untuk melakukan perdagangan dengan Uni Eropa.

Komoditi Unggulan Ekspor Indonesia ke Pasar Turki

Komoditi unggulan ekspor Indonesia ke Turki dipilih berdasarkan pangsa yang tinggi pada impor Turki dan memiliki nilai RCA lebih dari 1 yang

30 27 26 26 27 28 26 26 24 28 21 20 20 21 0 5 10 15 20 25 30 35 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014 2016 N ilai T C I Tahun

menunjukkan adanya keunggulan komparatif. Tabel 8 menunjukkan komoditi ekspor manufaktur yang memiliki keunggulan komparatif dan pangsa pada impor Turki yang tinggi.

Tabel 8 Komoditi ekspor manufaktur dengan keunggulan komparatif Kode

Produk Label Produk RCA

Pangsa pada Impor Turki (%) 551611 Woven fabrics,containg>/=85% of

artificial staple fibres,unbleached/bl 51.916307 85.5 540774 Woven fabrics,>/=85% of synthetic

filaments, printed, nes 1007.6463 75.2

382311 Stearic acid 102.32701 72.2

551311 Plain weave polyest stapl fib

fab,<=170g/m2,unbl/bl 79.292314 70.8

540772 Woven fabrics,>/=85% of synthetic

filaments, dyed, nes 676.12242 65.8

521011 Plain weave cotton fab, 135.38991 59.4

550921 Yarn,>/=85% of polyester staple fibres,

single, not put up 105.36672 59.2

551012 Yarn,>/=85% of artificial staple fibres,

multiple, not put up, nes 85.294152 57.8

540751 Woven fabrics,>/=85% of textured

polyester filaments, unbl or bl, nes 35.717561 56.2 551011 Yarn,>/=85% of artificial staple fibres,

single, not put up 75.688641 50.6

480990 Paper,copying/transfer,rolls of a wdth

>36cm,sheets one side >36cm,nes 361.65947 50.5

Komoditi ekspor manufaktur yang ditunjukkan Tabel 8 telah memenuhi kriteria untuk diteliti dari segi nilai RCA dan presentase pangsa pasar. Namun, komoditi yang dipilih harus memiliki kekonsistenan data dari 1996-2014. Komoditi yang memiliki kekonsistenan data sehingga layak untuk diteliti adalah komoditi dengan kode HS 551611 (Kain yang ditenun dari serat stapel buatan) dan HS 382311 (Asam Stearat).

Sama halnya dengan komoditi ekspor manufaktur, pemilihan untuk komoditi ekspor pertanian didasarkan pada nilai RCA, pangsa pasar, dan kekonsistenan data yang tersedia. Tabel 9 menunjukkan komoditi ekspor dari sektor pertanian yang memiliki keunggulan komparatif, yaitu dengan nilai RCA yang tinggi dan pangsa pada impor Turki yang tinggi. Setelah dilihat dari kekonsistenan data, maka dipilih komoditi dengan kode HS 400122 (Karet Alam) dan HS 151190 (Palm Oil).

Beberapa komoditi unggulan yang dipilih dalam penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Oktaviani, et al (2009). Penelitian tersebut menyebutkan beberapa komoditi unggulan ekspor dari Indonesia ke Turki adalah CPO, karet alam, serat tekstil dan sintesis, kelapa, katun, dan polimer vinil klorida.

Tabel 9 Komoditi ekspor pertanian dengan keunggulan komparatif Kode

Produk Label Produk RCA

Pangsa pada Impor Turki

(%) 090619 Cinnamon and cinnamon-tree flowers (excl.

cinnamon Cinnamomum eylanicu 312.3026 92.6

030759 Octopus, frozen, dried, salted or in brine 170.1822 69.7 400122 Technically specified natural rubber (TSNR) 93.38458 66.2 230660 Palm nut/kernel oil-cake&oth solid

residues,whether/not ground/pellet 92.643516 65.6 151190 Palm oil and its fractions refined but not

chemically modified 52.068616 64.7

151620 Veg fats &oils&fractions

hydrogenatd,inter/re-esterifid,etc,ref'd/not 15.663732 64.2 151329 Palm kernel/babassu oil their fract,refind but

not chemically modifid 56.957446 62.8

090611 Cinnamon Cinnamomum eylanicum Blume

(excl. crushed and ground) 73.621468 55.5

Berdasarkan kriteria dalam pemilihan komoditi yang dapat diteliti seperti yang telah disebutkan sebelumnya, maka terdapat empat komoditi ekspor yang diteliti dalam penelitian ini. Keempat komoditi ekspor baik dari sektor manufaktur maupun pertanian ditunjukkan pada Tabel 10.

Tabel 10 Komoditi unggulan ekspor Indonesia ke pasar Turki

Ekspor Manufaktur

HS Komoditi Pangsa RCA IIT

551611 Woven fabrics,containg>/=85% of artificial staple

fibres,unbleached/bl 85.5 67.4328 0

382311 Stearic acid 72.2 74.9525 0

Ekspor Pertanian

HS Komoditi Pangsa RCA IIT

400122 Technically specified natural

rubber (TSNR) 66.2 77.4394 0

151190 Palm oil and its fractions refined

but not chemically modified 64.7 69.6719 0 Tekstil (Woven fabrics,containg>/=85% of artificial staple fibres,unbleached/bl)

Tekstil dan produk tekstil merupakan salah satu dari 10 komoditi ekspor unggulan Indonesia. Data dari kementerian perindustrian (2014) menunjukkan kelompok hasil industri tekstil merupakan kelompok dengan nilai ekspor ketiga terbesar. Kelompok hasil industri tekstil memiliki nilai ekspor sebesar 12.4 miliar dolar pada tahun 2012 dan 12.7 miliar dolar pada tahun 2014 dengan tren pertumbuhan 1.09%. Kelompok hasil industri tekstil merupakan kelompok dengan nilai ekspor terbesar dalam perdagangan antara Indonesia dengan Turki. Nilai

ekspor kelompok hasil industri tekstil dari Indonesia ke Turki sebesar 564 juta dolar pada tahun 2012 dan 650 juta dolar pada tahun 2014 dengan tren pertumbuhan sebesar 7.33%.

Nilai ekspor tekstil berupa kain yang ditenun dari serat stapel buatan (HS 551611) dari Indonesia ke dunia pada tahun 2014 adalah 50.5 juta dolar dengan tren pertumbuhan 9% dan pangsa pada ekspor dunia adalah 13.7%. Ekspor kain dari serat stapel (HS 551611) dari Indonesia ke Turki senilai 26 juta dolar. Perkembangan nilai ekspor produk tekstil tersebut dari Indonesia ke Turki pada tahun 2001-2014 ditunjukkan pada Gambar 8. Produk ini memiliki pangsa pasar 85.5% pada impor Turki, artinya sebagian besar impor produk tersebut berasal dari Indonesia. Negara lainnya yang menjadi pengekspor produk tersebut ke Turki adalah Cina, Malaysia, Korea dan Thailand. Selain itu, Indonesia pun mengekspor komoditi tersebut ke negara lainnya seperti Jepang, Thailand, Uni Emirat Arab, Spanyol, Jerman.

Sumber: ITC Trademap (2015)

Nilai RCA bilateral rata-rata dari tahun 2001-2014 menunjukkan angka 67.4328 yang berarti komoditi tersebut memiliki keunggulan komparatif. Perkembangan nilai RCA dari tahun 2001-2014 ditunjukkan oleh Gambar 9. Pada tahun 2001 nilai RCA bilateral mencapai 85.1905 kemudian turun hingga mencapai 40.3754 pada tahun berikutnya, hal ini disebabkan adanya peningkatan ekspor produk tekstil tersebut ke Turki dari negara lain seperti Malaysia, Thailand, Inggris. Nilai RCA yang berfluktuasi dipengaruhi oleh peningkatan dan penurunan nilai ekspor negara-negara yang turut mengekspor produk yang sama ke Turki. Angka tertinggi terjadi pada tahun 2008 yang mencapai 104.2042. Pada tahun 2008, pangsa impor produk tekstil tersebut (HS 551611) dari Indonesia mencapai 93% dari jumlah yang diimpor Turki dari dunia. Nilai RCA pada tahun berikutnya, yaitu 2009-2014 berkisar antara 51-62. Hal ini disebabkan meningkatnya ekspor dari negara lain ke Turki terutama dari Malaysia dan Cina.

Produk tekstil dengan HS 551611 ini juga memiliki keunggulan komparatif pada ekspor dunia. Negara yang juga mengekspor produk tekstil dengan kode HS 551611 tersebut antara lain Cina, Spanyol, Perancis dan Jerman. Perkembangan nilai RCA pada produk tekstil ekspor dari Indonesia ke dunia menunjukkan rata- rata 15.45033. Perkembangan nilai RCA pada produk tekstil dari Indonesia ke Turki dan dari Indonesia ke dunia memiliki pergerakan yang hampir sama

7894 3600 5700 4328 4895 9745 22966 20787 8482 19542 30031 267742930925978 0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Tahun N ilai E kspo r (U S$ 000)

Tekstil

meskipun nilainya lebih rendah dari RCA bilateral. Nilai RCA mengalami peningkatan pada tahun 2006 dan 2007 serta mengalami nilai tertinggi pada tahun 2008 dan mengalami penurunan yang tajam pada tahun berikutnya. Penurunan nilai RCA tersebut disebabkan oleh menurunnya nilai ekspor Indonesia dari US$ 59 juta pada tahun 2008 menjadi US$ 20 juta pada tahun 2009. Peningkatan ekspor dari Cina juga menyebabkan nilai RCA Indonesia menurun, peningkatan tersebut terjadi pada tahun 2009 dengan nilai US$ 100 juta yang pada tahun sebelumnya sebesar US$ 99 juta.

Perkembangan IIT dari tahun 2001-2014 menunjukkan angka yang konstan 0 yang berarti tidak ada intra industry trade pada produk ini atau dengan kata lain menunjukkan bahwa perdagangan hanya terjadi satu arah dalam hal ini hanya Indonesia yang mengekspor produk tersebut. Namun, pada tahun 2012 angka IIT mencapai 0.00747 yang menunjukkan adanya integrasi lemah, hal ini dikarenakan Indonesia mengimpor produk yang sama dari Turki senilai 1 000 dolar AS.

Asam Stearat (Stearic acid)

Ekspor asam stearat dari Indonesia ke dunia 440 juta dolar, dengan perkembangan sebesar 15% dan pangsa pada ekspor dunia sebesar 39.5%. Nilai ekspor asam stearat dari Indonesia ke Turki sebesar 8.9 juta dolar. Perkembangan ekspor asam stearat dari Indonesia ke Turki tahun 2001-2014 ditunjukkan pada Gambar 10. Perkembangan ekspor asam stearat ini memiliki tren yang meningkat. Gambar 10 memperlihatkan nilai ekspor tertinggi terjadi pada tahun 2012 yaitu sebesar 38 juta dolar AS. Asam stearat (HS 382311) memiliki pangsa pasar yang lebih tinggi dari Serat Stapel yaitu sebesar 72.2% yang artinya Turki mengimpor sebagian besar komoditi tersebut dari Indonesia. Turki mengimpor sebagian kecil lainnya dari Malaysia, Italia, Belgia, dan Jerman. Sementara Indonesia juga mengekspor komoditi tersebut ke Cina, Korea, dan Belanda. Turki merupakan negara ke 4 tujuan ekspor asam stearat ini.

Nilai RCA bilateral rata-rata asam stearat dari tahun 2001-2014 menunjukkan angka 74.9525 yang berarti komoditi ini memiliki keunggulan komparatif. Perkembangan nilai RCA asam stearat ditunjukkan oleh Gambar 11. Pada tahun 2001, nilai RCA menunjukkan angka 22.1205. Nilai ekspor dari Indonesia ke Turki masih lebih kecil dibandingkan nilai ekspor dari Malaysia ke

Gambar 9 Perkembangan nilai RCA produk tekstil

85 40 93 54 62 68 97 104 55 62 62 55 54 52 13 9 12 11 11 21 27 31 13 13 13 13 14 15 00 20 40 60 80 100 120 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Tahun N ilai RCA

Tekstil

Turki dari tahun 2001-2003. Selama 2001-2003 pangsa impor dari Malaysia mencapai 50% sedangkan Indonesia hanya sekitar 16-20%. Peningkatan terjadi pada tahun 2004 hingga 106.5372 yang disebabkan meningkatnya ekspor dari Indonesia dengan pangsa yang mencapai 52%, sedangkan Malaysia hanya sekitar 39%. Nilai RCA paling rendah terjadi pada tahun 2007, yaitu 38.4389 dimana pada tahun tersebut pangsa impor dari Indonesia sebesar 28%, sedangkan Malaysia mencapai 40%, diikuti dengan peningkatan impor yang signifikan dari negara lain seperti Cina, Italia, dan Australia. Nilai RCA pada tahun-tahun berikutnya mengalami peningkatan hingga mencapai angka 102.3270 pada tahun 2014 dimana pangsa impor dari Indonesia mencapai 72%, sedangkan dari Malaysia sekitar 22% dan sisanya dari negara lain.

Sumber: ITC Trademap (2015)

Asam stearat dari Indonesia juga memiliki keunggulan komparatif di pasar dunia, meskipun nilai RCA dunia lebih rendah dibandingkan nilai RCA bilateral. Hal ini dapat dilihat dari nilai RCA dunia rata-ratanya sebesar 20.7568. Negara yang juga menjadi pengekspor asam stearat ini antara lain Malaysia, Belanda, Amerika, dan Jerman. Perkembangan nilai RCA tersebut memiliki tren yang meningkat. Meskipun terjadi penurunan keunggulan komparatif pada perdagangan dengan Turki, yakni ditunjukkan oleh nilai RCA yang menurun tajam pada tahun 2007. Namun, nilai RCA pada perdagangan dengan dunia tidak mengalami penurunan tajam seperti halnya yang terjadi pada perdagangan dengan Turki. Hal ini menunjukkan bahwa asam stearat ini masih memiliki keunggulan komparatif di pasar dunia.

Perdagangan yang terjadi hanya satu arah yaitu dari Indonesia yang ditunjukkan oleh angka IIT dengan nilai 0. Perkembangan IIT dari tahun 2001-2014 menunjukkan angka yang tetap, yaitu 0.

610 1060 1773 7559 9297 11004 8913 1357013669 24479 33299 37886 3453236179 0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Tahun N ilai E kspo r (U S$ 000)

Asam Stearat

Karet Alam (Technically specified natural rubber)

Karet dan produk karet merupakan salah satu dari 10 komoditi unggulan ekspor Indonesia. Kelompok hasil industri pengolahan karet merupakan kelompok dengan nilai ekspor ke-5 terbesar dari Indonesia ke dunia. Nilai ekspor kelompok hasil industri pengolahan karet sebesar 7.5 miliar dolar pada tahun 2014. Kelompok hasil industri pengolahan karet merupakan kelompok dengan nilai ekspor terbesar ke-3 dari Indonesia ke Turki. Nilai ekspor kelompok hasil industri pengolahan karet tersebut sebesar 178 juta dolar pada tahun 2012 dan 150 juta dolar pada tahun 2014 dengan tren pertumbuhan sebesar -8.25%.

Produksi karet pada tahun 2010 adalah 2.735 juta ton dan 3.237 juta ton pada tahun 2014 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 5.8%. Pertumbuhan ini masih rendah jika dibandingkan dengan kelapa sawit yang mencapai 8.2% dari tahun 2010-2014. Namun, pertumbuhan ini masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan komoditi lainnya seperti kakao yang mencapai -4.6% dan kopi dengan tingkat pertumbuhan rata-rata sebesar -0.33%.

Nilai ekspor karet alam (HS 400122) dari Indonesia ke dunia sebesar 7.1 miliar dolar pada tahun 2010 dan 4.6 miliar dolar pada tahun 2014 dengan pertumbuhan rata-rata sebesar -13%. Pangsa pasar pada ekspor dunia sebesar 39.5%. Nilai ekspor karet alam dari Indonesia ke Turki memiliki tren yang cenderung meningkat. Nilai ekspor tertinggi terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar 303 juta dolar AS. Namun, ekspor ini mengalami penurunan pada tahun-tahun berikutnya hingga pada tahun 2014 nilai ekspor mencapai 127 juta dolar AS. Perkembangan ekspor karet alam dari Indonesia ke Turki pada tahun 2001-2014 dapat dilihat pada Gambar 12.

Sumber: ITC Trademap (2015)

TSNR atau karet alam merupakan salah satu komoditi ekspor unggulan dari Indonesia ke Turki. Hal ini dapat dilihat dari nilai RCA bilateral rata-rata dari tahun 2001-2014 yang mencapai 77.4394. Perkembangan nilai RCA karet alam ditunjukkan oleh Gambar 13. Nilai RCA bilateral pada tahun 2001 adalah 26.1204 dimana pada tahun tersebut pangsa impor dari Indonesia hanya 16%, sedangkan Malaysia sebesar 44%, dan Thailand sebesar 27%. Tren pertumbuhan nilai RCA

Gambar 11 Perkembangan nilai RCA asam stearat

22 23 32 107 99 85 38 69 90 90 90 101 102 102 11 9 7 22 22 18 16 16 17 21 23 35 34 41 00 20 40 60 80 100 120 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Tahun N ilai RCA

Asam sterat

bilateral karet alam meningkat, hingga pada tahun 2014 mencapai 93.3846 dengan pangsa yang mencapai 66.2%, sedangkan Thailand 13% dan Malaysia 10%.

Karet alam dari Indonesia juga memiliki keunggulan komparatif di pasar dunia, meskipun nilai RCA dunia lebih rendah dibandingkan nilai RCA bilateral. Negara yang juga mengekspor karet alam dengan kode HS 400122 antara lain Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Hal ini dapat dilihat dari nilai RCA dunia rata- ratanya sebesar 48.6967. Perkembangan nilai RCA karet alam di pasar Turki memiliki tren yang meningkat. Namun, perkembangan nilai RCA di pasar dunia memiliki tren yang menurun. Meskipun demikian, karet alam Indonesia masih memiliki keunggulan komparatif di pasar dunia dilihat dari nilai RCA yang lebih dari 1. Tren perkembangan nilai RCA yang menurun ini disebabkan oleh terus meningkatnya ekspor dari negara lain seperti Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Sementara itu, Indonesia mengalami penurunan ekspor pada tahun 2009 menjadi US$ 3.104 miliar yang pada tahun sebelumnya sebesar US$ 5.674 miliar. Kemudian meningkat pada tahun berikutnya, namun mengalami penurunan kembali pada tahun 2012 menjadi US$ 7.626 miliar yang pada tahun sebelumnya mencapai US$ 11.416 miliar. Nilai ekspor karet alam Indonesia terus menurun pada tahun berikutnya, yaitu pada tahun 2013 sebesar US$ 6.706 miliar dan pada tahun 2014 sebesar US$ 4.595 miliar.

3751125521727429822 345025173379867 97533 64280 169191 303963 157667167154 126931 0 50000 100000 150000 200000 250000 300000 350000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Tahun N ilai E kspo r (U S$ 000)

Karet Alam

Gambar 12 Perkembangan ekspor karet alam dari Indonesia ke Turki

Gambar 13 Perkembangan nilai RCA karet alam

26 62 69 87 63 60 65 83 101 100 96 83 98 93 53 55 60 65 60 63 54 53 46 42 30 26 35 40 00 20 40 60 80 100 120 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Tahun N ilai RCA

Karet Alam

Perdagangan satu arah dari Indonesia ditunjukkan oleh nilai IIT sebesar 0. Selain itu, TSNR merupakan komoditi ekspor yang dianggap penting karena Turki mengimpor sebagian besar komoditi ini dari Indonesia, hal ini ditunjukkan dengan pangsa pasar yang mencapai 66.2%. Turki juga mengimpor komoditi ini dari negara lainnya seperti Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Sementara bagi Indonesia sendiri, Turki merupakan negara tujuan ekspor ke-9 untuk komoditi karet alam ini setelah Amerika, Jepang, Cina, India, Korea, Brazil, Kanada, dan Jerman.

Palm Oil (Palm oil and its fractions refined but not chemically modified)

Kelapa sawit merupakan salah satu dari 10 komoditi unggulan ekspor Indonesia. Kelompok hasil industri pengolahan kelapa/kelapa sawit merupakan kelompok hasil industri dengan nilai ekspor terbesar berdasarkan data dari kementerian perindustrian (2014). Nilai ekspor kelompok hasil industri pengolahan kelapa/kelapa sawit dari Indonesia ke dunia sebesar 23.7 miliar dolar. Sedangkan

Dokumen terkait