• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap awal penelitian ini adalah peremajaan isolat murni FPP dari stok yang tersedia pada media PDA. Peremajaan isolat dilakukan dengan menumbuhkan pada media PDA. Selanjutnya dilakukan pembuatan inokulum dengan menumbuhkan pada media biji jewawut. Peremajaan pada media PDA dilakukan selama 1 minggu hingga miselium tumbuh menutupi seluruh permukaan media agar. Hasil peremajaan kedua isolat jamur pada media PDA (Gambar 4) menunjukkan isolat Omphalina sp. tumbuh lebih cepat dengan produksi miselium yang lebih banyak dibandingkan dengan isolat P.ostreatus. Setelah miselium tumbuh menutupi media agar, isolat kemudian diinokulasi ke dalam media biji jewawut.

Hasil pertumbuhan isolat pada media biji jewawut (Gambar 5) menunjukkan miselium tumbuh banyak dan sangat kompak. Kecepatan pertumbuhan miselium kedua jamur pada media biji jewawut berbeda. Berdasarkan pengamatan miselium isolat

Omphalina sp. tumbuh lebih cepat dan

menyelimuti seluruh media biji jewawut dalam waktu inkubasi 1 minggu sedangkan miselium P.ostreatus tumbuh lebih lambat, membutuhkan waktu inkubasi 2 minggu hingga miselium menyelimuti seluruh media biji jewawut. Berdasarkan pengamatan pertumbuhan miselia fungi di media PDA dan biji jewawut dapat dibedakan juga struktur miselia. Miselium tumbuh lebih kompak pada media biji jewawut dibandingkan dengan PDA. Hal ini dapat disebabkan dalam biji jewawut terkandung cadangan lemak yang berguna untuk pertumbuhan biji. Cadangan lemak ini dapat digunakan oleh fungi sebagai sumber nutrisi, terutama sumber karbon, untuk mendukung pertumbuhannya yang akan mendorong semakin banyaknya miselium yang tumbuh pada media biji jewawut dibandingkan dengan PDA.

Setelah miselium tumbuh merata pada media biji jewawut, isolat diinokulasi ke media pertumbuhan dengan substrat utama berupa TKKS dan bagas tebu. Bag log yang digunakan tingginya 18cm dan berat bersih media yang digunakan sebesar 500 gram. Media pertumbuhan yang digunakan telah dikondisikan sesuai perlakuan yang diberikan yaitu penambahan CuSO4, dedak, atau campuran CuSO4 dan dedak, serta perlakuan kontrol. Isolat kemudian diinkubasi selama tiga bulan. Selama periode inkubasi dilakukan pengamatan pertumbuhan miselium pada media TKKS dan bagas tebu. Pengamatan dilakukan setiap bulan selama tiga bulan masa inkubasi. Parameter yang diamati yaitu tinggi pertumbuhan miselium pada setiap bag log. Pengukuran tinggi pertumbuhan miselium dimulai pada batas atas media pertumbuhan hingga batas akhir pertumbuhan miselium pada media.

(a)

(b)

Gambar 4 Pertumbuhan miselium pada PDA isolat Omphalina sp. (a) dan

(a)

(b)

Gambar 5 Pertumbuhan miselium pada media biji jewawut isolat Omphalina sp. (a) dan P.ostreatus (b)

Berdasarkan data terlihat isolat Omphalina sp. baik pada TKKS dan bagas tebu. Pertimbuhannya cenderung lebih baik pada bulan pertama hingga bulan ketiga masa inkubasi dibandingkan dengan P.ostreatus.

Data tersebut menunjukkan Omphalina sp. dapat memanfaatkan sumber nitrogen dan karbon lebih efektif dibanding P.ostreatus

sehingga pertumbuhan miselium lebih baik (Tabel 1).

Bulan pertama masa inkubasi menunjukkan miselium tumbuh lebih baik pada media yang diberi dedak dan perlakuan kontrol, sedangkan pada perlakuan CuSO4 dan campuran CuSO4 dan dedak, miselium cenderung tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan dua perlakuan lainnya. Hasil ini sama dengan penelitian lainnya yang menyebutkan miselium tumbuh dengan baik pada media yang diberi dedak, yang disebabkan dedak memiliki kandungan karbon dan nitrogen yang tinggi (Yuniawati 2006). Selain merupakan sumber nitrogen dedak juga mengandung tiamin yang merupakan salah satu vitamin yang dibutuhkan dalam pertumbuhan miselium (Tominaga 1978).

Pertumbuhan miselium pada bulan kedua dan bulan ketiga terus menunjukkan peningkatan pada kedua isolat fungi di setiap media tumbuh. Pada perlakuan penambahan CuSO4 dan campuran CuSO4 dan dedak pertumbuhan miselium lebih rendah dibanding perlakuan dedak. Hal ini berbeda dengan penelitian lain dari Palmieri et al

(1999) menyebutkan pada isolat P.ostreatus, Cu adalah penyokong aktivitas lakase.

Hasil uji Duncan pada data pertumbuhan miselium di bulan ketiga menunjukkan tidak ada perbedaan nyata antara perlakuan kontrol dan dedak terhadap pertumbuhan miselium,

namun kelompok ini menunjukkan perbedaan nyata dengan perlakuan CuSO4 dan campuran CuSO4 dan dedak. Ditinjau berdasarkan data pertumbuhan miselium dan analisis statistika dapat dikatakan bahwa perlakuan kontrol menunjukkan pertumbuhan miselium lebih baik, terutama pada isolat P.ostreatus yang menunjukkan rata-rata pertumbuhan miselium pada bag log kontrol lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lain, sehingga tidak diperlukan dedak, CuSO4 maupun campuran CuSO4 dan dedak untuk menunjang pertumbuhan miselium FPP. Ditilik dari segi ekonomi, hal ini menguntungkan sebab fungi dapat tumbuh dengan baik namun biaya produksi dapat ditekan.

Data yang diperoleh juga menunjukkan bahwa perlakuan CuSO4 dan campuran CuSO4 dan dedak cenderung menghambat pertumbuhan fungi. Hal ini terlihat dengan rendahnya pertumbuhan miselium di bulan pertama dan kedua dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Pada bulan ketiga pertumbuhan miselium pada perlakuan CuSO4

dan campuran CuSO4 dan dedak menunjukkan peningkatan yang signifikan dari bulan sebelumnya. Hal ini dapat disebabkan daya hambat suplemen yang diberikan telah berkurang atau sudah tidak menghambat sama sekali sehingga pertumbuhan miselium lebih baik.

Apabila media pertumbuhan dibandingkan dari data Tabel 1, terlihat bahwa media pertumbuhan bagas tebu lebih baik dalam mendukung pertumbuhan miselium dibandingkan dengan TKKS. Hal ini terlihat dari pertumbuhan miselium Omphalina sp.

pada perlakuan kontrol TKKS dan bagas tebu masing-masing 14,67 cm dan 15,00 cm, begitu pula pada perlakuan lainnya. Berbeda dengan isolat Omphalina sp., isolat

P.ostreatus menunjukkan pertumbuhan miseliumnya lebih baik pada media TKKS dibandingkan dengan media bagas tebu. Hal ini ditunjukkan pada media yang diberi dedak dan campuran CuSO4 dan dedak. Ini berarti sumber karbon dan nitrogen yang diperlukan fungi untuk aktivitas metabolisme dan pertumbuhan miselium lebih banyak terdapat pada media TKKS dengan kandungan lignin yang lebih tinggi yaitu 28,54% (Santosa 1993) dibanding bagas tebu sebesar 22,09%.

Selain menguraikan lignin, FPP juga mampu menguraikan selulosa sehingga semakin banyak kandungan lignin dan selulosa pada media pertumbuhan, miselium yang tumbuh juga lebih banyak. Kandungan selulosa pada bagas tebu lebih tinggi yaitu

Tabel 1 Pertumbuhan miselium FPP

Isolat Media Perlakuan Rata-rata pertumbuhan miselium (cm)

Bulan ke-1 Bulan ke-2 Bulan ke-3

Omphalina sp. TKKS Kontrol 5,67a 13,33a 14,67a Omphalina sp. TKKS Dedak 7,67a 12,33a 14,67a Omphalina sp. TKKS CuSO4 3,67b 6,33b 12,00b Omphalina sp. TKKS CuSO4 + Dedak 5,33a

8,67b

14,00b Omphalina sp. Bagas Kontrol 4,33a

12,00a

15,00a

Omphalina sp. Bagas Dedak 6,33a

11,33a

15,00a

Omphalina sp. Bagas CuSO4 2,67b

6,67b

14,00b Omphalina sp. Bagas CuSO4 + Dedak 4,00a

7,67b 14,67b P. ostreatus TKKS Kontrol 6,33a 13,33a 15,00a P. ostreatus TKKS Dedak 4,33a 12,00a 14,67a P. ostreatus TKKS CuSO4 3,33b 7,33b 13,33b P. ostreatus TKKS CuSO4 + Dedak 2,33b

8,33b

13,67b

P. ostreatus Bagas Kontrol 4,00a

11,33a

15,00a

P. ostreatus Bagas Dedak 4,00a

11,33a

14,33a

P. ostreatus Bagas CuSO4 3,33b

9,00b

13,33b P. ostreatus Bagas CuSO4 + Dedak 2,67b

8,00b

13,33b

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji Duncan (P<0,05)

37,65% dibandingkan dengan TKKS sebesar 32,55% (Santosa 1993). Perbedaan kecepatan tumbuh Omphalina sp. dan P.ostreatus pada kedua media menunjukkan adanya spesifisitas tiap fungi pada media pertumbuhan. Diduga

P.ostreatus lebih sesuai untuk media yang kandungan ligninnya lebih tinggi seperti pada TKKS sedangkan Omphalina sp. sesuai pada media yang mempunyai kandungan selulosa yang lebih tinggi, dalam hal ini yaitu bagas tebu.

Analisis Aktivitas Enzim Ligninolitik

Analisis aktivitas enzim ligninolitik dari kedua isolat jamur dilakukan setelah masa inkubasi tiga bulan pada media TKKS dan bagas tebu. Tahap awal dilakukan ekstraksi enzim ligninolitik dari media TKKS dan bagas tebu. Ekstraksi dilakukan dengan bufer fosfat pH 7 karena FPP umumnya hidup pada pH netral (Panji et al 1996). Pada tahap analisis aktivitas enzim ligninolitik dilakukan karakterisasi pH untuk setiap enzim ligninolitik yaitu pH 5, 6, dan 7 terhadap bufer yang digunakan. Hasil uji Duncan terhadap aktivitas lakase (Tabel 2) menunjukkan terdapat perbedaan nyata antara aktivitas lakase pada pH 5 dengan pH 6 dan 7. Analisis pada pH 5 menunjukkan aktivitas optimum pada seluruh perlakuan dibandingkan dengan pH 6 dan 7. Nilai pH optimum yang diperoleh sesuai dengan metode analisis aktivitas lakase yang dikembangkan Buswell et al (1995) yang menggunakan bufer asetat pH 5 dalam analisisnya. Hasil penelitian lainnya terhadap aktivitas lakase pada P.ostreatus

menunjukkan lakase optimum pada pH 6,5 dengan nilai aktivitas lakase rata-rata mencapai 2,4 U/mL (Mansur et al 2003).

Aktivitas lakase dengan penambahan suplemen CuSO4, dedak, dan campuran CuSO4 dan dedak memperlihatkan pengaruh positif yaitu meningkatnya aktivitas lakase dibandingkan dengan perlakuan kontrol pada setiap pH. Isolat Omphalina sp. pada pH 5, mensekresikan lakase di media TKKS dan bagas tebu perlakuan kontrol masing-masing sebesar 0,280U/mL dan 0,203U/mL. Terdapat pengaruh positif terhadap penambahan suplemen CuSO4, dedak, dan campuran CuSO4 dan dedak terhadap aktivitas lakase yaitu aktivitas enzim meningkat hingga 0,441U/mL, 0,367U/mL, dan 0, 493U/mL pada TKKS (Tabel 2) dan pada bagas tebu 0,437U/mL, 0,329U/mL, dan 0,482U/mL. Jadi peningkatan tertinggi terlihat pada pemberian suplemen campuran CuSO4 dan dedak baik pada TKKS maupun bagas. Aktivitas lakase dari fungi P.ostreatus

pada media TKKS juga meningkat dengan pemberian suplemen. Aktivitas lakase pada perlakuan kontrol sebesar 0,223U/mL, sedangkan aktivitas lakase pada TKKS yang diberi suplemen CuSO4 sebesar 0,546U/mL, pada penambahan dedak sebesar 0,318U/mL, dan pada perlakuan campuran CuSO4 dan dedak aktivitas lakase sebesar 0,626 U/mL. Aktivitas lakase pada pH optimum 5, pada media bagas tebu isolat P.ostreatus

menunjukkan pada kontrol aktivitas lakase sebesar 0,107U/mL, sedangkan pada pemberian suplemen aktivitas lakase lebih tinggi yaitu 0,527U/mL pada penambahan suplemen CuSO4, 0,383U/mL pada pemberian suplemen dedak, dan aktivitas tertinggi diperoleh sebesar 0,545U/mL pada pemberian suplemen campuran CuSO4 dan dedak.

Tabel 2 Aktivitas lakase dari FPP dalam media lignoselulosa

Perlakuan Aktivitas rata-rata pada berbagai variasi pH (U/mL)

pH 5 pH 6 pH 7

Isolat Omphalina sp. pada media TKKS Kontrol 0,280 a* q** 0,242 a* p** 0,197 a* p** CuSO4 0,441 c r 0,272 b q 0,185 a p Dedak 0,367 b q 0,262 b p 0,265 b p

CuSO4 dan Dedak 0,493 c r

0,352 c q

0,229 b p

Isolat Omphalina sp. pada media bagas tebu Kontrol 0,203a* q** 0,148a* p** 0,144 a* p** CuSO4 0,437c r 0,255b q 0,144 a p Dedak 0,329b q 0,275b p 0,212 b p

CuSO4 dan Dedak 0,482c r

0,299c q

0,201 b p

Isolat P.ostreatus pada media TKKS Kontrol 0,223a* q** 0,197a* p** 0,173 a* p** CuSO4 0,546c r 0,299b q 0,205 a p Dedak 0,318b q 0,289b p 0,262 b p

CuSO4 dan Dedak 0,626c r

0,397c q

0,285 b p

Isolat P.ostreatus pada media bagas tebu Kontrol 0,107a* p** 0,130a* p** 0,103 a* p** CuSO4 0,527c r 0,269b q 0,139 a p Dedak 0,383b q 0,301b p 0,303 b p

CuSO4 dan Dedak 0,545c r

0,328c q

0,255 b p

Keterangan: Analisis statistik dilakukan terpisah pada tiap kategori isolat dan media

* = Angka yang diikuti huruf yang sama (vertikal) tidak berbeda nyata berdasarkan uji Duncan (P<0,05)

**= Angka yang diikuti huruf yang sama (horizontal) tidak berbeda nyata berdasarkan uji Duncan (P<0,05)

Aktivitas rata-rata enzim ligninolitik optimum pada pH 5 juga ditunjukkan dari hasil analisis aktivitas lignin peroksidase pada berbagai perlakuan dengan pH 5, 6, dan 7. (Tabel 3). Hasil uji Duncan memperlihatkan aktivitas enzim lignin peroksidase optimum pada pH 5 untuk setiap perlakuan, berbeda nyata dibandingkan dengan pH 6 dan 7. Hasil ini berbeda dengan yang dilaporkan Bockle et al (1999) yang dalam penelitiannya menunjukkan lignin peroksidase optimum pada pH 3,0.

Sekresi lignin peroksidase oleh Omphalina

sp. pada media TKKS dan bagas tebu pada perlakuan kontrol sebesar 1,404U/mL dan 1,195U/mL. Aktivitas lignin peroksidase meningkat dengan pemberian suplemen, baik pada bagas tebu maupun TKKS. Penambahan suplemen pada media TKKS menunjukkan aktivitas lignin peroksidase pada pH optimum 5 sebesar 1,493U/mL pada penambahan CuSO4, 2,043U/mL pada penambahan dedak, serta 2,019U/mL pada penambahan campuran CuSO4 dan dedak. Sedangkan penambahan suplemen CuSO4, dedak, dan campuran CuSO4 dan dedak pada media bagas tebu menunjukkan aktivitas sebesar 1,571U/mL, 1,326U/mL, dan 1,959U/mL. Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian campuran CuSO4 dan dedak meningkatkan aktivitas lignin peroksidase.

Aktivitas lignin peroksidase yang disekresikan oleh P.ostreatus pada media

TKKS juga menunjukkan pengaruh positif yaitu meningkatnya aktivitas lignin peroksidase dengan penambahan suplemen sama seperti pada isolat Omphalina sp. Aktivitas lignin peroksidase pada pH 5 pada kontrol sebesar 1,983U/mL, penambahan CuSO4 sebesar 2,198U/mL, penambahan dedak sebesar 2,061U/mL, dan penambahan campuran CuSO4 dan dedak sebesar 2,372U/mL. Aktivitas lignin peroksidase pada bagas tebu diperoleh aktivitas pada kontrol sebesar 0,866U/mL, penambahan CuSO4

sebesar 1,207U/mL, penambahan dedak sebesar 1,762U/mL, dan pada penambahan CuSO4 dan dedak sebesar 1,912U/mL. Data menunjukkan pada pH optimum yang menunjukkan perbedaan nyata hanya pada penambahan suplemen campuran CuSO4 dan dedak, dan seperti yang tergambar pada data campuran suplemen tersebut meningkatkan aktivitas lignin peroksidase sama seperti pada lakase. Hal ini terkait dengan kerja enzim yang dibantu oleh kofaktor dan koenzim. Kofaktor yang dimaksud adalah ion-ion logam, dalam hal ini adalah Cu yang turut membantu kerja enzim ligninolitik dalam mendegradasi lignin. Selain kofaktor, terdapat koenzim, yang merupakan senyawa organik yang juga membantu kerja enzim ligninolitik dalam proses degradasi lignin. Koenzim yang dimaksud yaitu tiamin (vitamin B1) yang berasal dari dedak. Oleh karena itu, dua faktor inilah yang menyebabkan aktivitas enzim

Tabel 3 Aktivitas lignin peroksidase dari FPP dalam media lignoselulosa

Perlakuan Aktivitas rata-rata pada berbagai variasi pH (U/mL)

pH 5 pH 6 pH 7

Isolat Omphalina sp. pada media TKKS Kontrol 1,404 a* q** 0,974 a* p** 0,842 a* p** CuSO4 1,493 ab q 1,051 ab p 0,902 a p Dedak 2,003 ab q 1,416 ab p 1,027 a p

CuSO4 dan Dedak 2,019 b r

1,493 b q

1,022 a p

Isolat Omphalina sp. pada media bagas tebu Kontrol 1,195a* q** 0,920a* p** 0,818 a* p** CuSO4 1,571ab q 1,051ab p 0,926 a p Dedak 1,326ab q 0,968ab p 0,657 a p

CuSO4 dan Dedak 1,959b r

1,290b q

0,956 a p

Isolat P.ostreatus pada media TKKS Kontrol 1,983a* q** 1,237a* p** 1,266 a* p** CuSO4 2,198ab q 1,332ab p 1,135 a p Dedak 2,061ab q 1,362ab p 1,189 a p

CuSO4 dan Dedak 2,372b r

1,464b q

1,260 a p

Isolat P.ostreatus pada media bagas tebu Kontrol 0,866a* q** 0,747a* p** 0,526 a* p** CuSO4 1,207ab q 0,830ab p 0,705 a p Dedak 1,762ab q 0,956ab p 0,753 a p

CuSO4 dan Dedak 1,912b r

1,225b q

0,926 a p

Keterangan: Analisis statistik dilakukan terpisah pada tiap kategori isolat dan media

* = Angka yang diikuti huruf yang sama (vertikal) tidak berbeda nyata berdasarkan uji Duncan (P<0,05)

**= Angka yang diikuti huruf yang sama (horizontal) tidak berbeda nyata berdasarkan uji Duncan (P<0,05)

ligninolitik meningkat dibanding perlakuan kontrol.

Aktivitas lignin peroksidase optimum dengan penambahan suplemen campuran CuSO4 dan dedak, sama seperti lakase. Namun hal ini tidak tergambar pada hasil analisis aktivitas lignin peroksidase pada media TKKS dengan isolat Omphalina sp.

yang menunjukkan aktivitas tertinggi terjadi pada penambahan dedak. Uji Duncan menunjukan ada perbedaan nyata antara setiap perlakuan terhadap aktivitas enzim lignin peroksidase. Hal ini berarti penambahan suplemen untuk meningkatkan aktivitas enzim ligninolitik berpengaruh terhadap produksi enzim lignin peroksidase.

Sama seperti lakase dan lignin peroksidase, analisis aktivitas enzim mangan peroksidase juga menunjukkan aktivitas yang optimum pada pH 5. Sebagai perbandingan terhadap hasil yang diperoleh, Bockle et al

(1999) menyebutkan pH optimum untuk MnP yang disekresikan P.pulmonarius yaitu pH 4,5. Data aktivitas mangan peroksidase terlihat pada Tabel 4. Aktivitas mangan peroksidase yang disekresikan oleh

Omphalina sp. pada media TKKS pada pH optimum, yaitu pH 5 menunjukkan aktivitas kontrol sebesar 0,611U/mL. Penambahan suplemen menunjukkan peningkatan aktivitas mangan peroksidase dibanding kontrol,

dengan aktivitas sebesar 0,702U/mL pada penambahan CuSO4, pada penambahan dedak sebesar 0,744U/mL, dan campuran CuSO4 dan dedak sebesar 0,721U/mL. Pada pH 5, isolat

Omphalina sp. pada media bagas tebu untuk kontrol menunjukkan aktivitas mangan peroksidase sebesar 0,427U/mL. Sama seperti TKKS terjadi peningkatan aktivitas enzim mangan peroksidase dengan penambahan suplemen dengan aktivitas sebesar 0,542U/mL pada penambahan CuSO4, 0,712U/mL pada penambahan dedak, sedangkan penambahan campuran CuSO4 dan dedak sebesar 0,537U/mL. Berdasarkan hasil ini baik pada TKKS maupun bagas penambahan suplemen CuSO4, dedak, dan campuran CuSO4 dan dedak tidak nyata meningkatkan aktivitas mangan peroksidase.

Hal yang sama juga terlihat pada isolat

P.ostreatus pada kedua media tumbuh. Data yang diperoleh pada perlakuan kontrol pada media TKKS pada pH optimum, pH 5, menunjukkan aktivitas mangan peroksidase sebesar 0,793U/mL, dan pada perlakuan pemberian suplemen CuSO4, dedak, dan campuran CuSO4 dan dedak sebesar 0,872U/mL, 0,923U/mL, dan 0,877U/mL. Perlakuan kontrol pada media bagas tebu menunjukkan aktivitas mangan peroksidase pada pH 5 sebesar 0,643U/mL dan pada penambahan suplemen CuSO4, dedak, dan

Tabel 4 Aktivitas mangan peroksidase dari FPP dalam media lignoselulosa

Perlakuan Aktivitas rata-rata pada berbagai variasi pH (U/mL)

pH 5 pH 6 pH 7

Isolat Omphalina sp. pada media TKKS Kontrol 0,611 a* r** 0,340a* q** 0,096 a* p** CuSO4 0,702a r 0,376a q 0,156 a p Dedak 0,744a r 0,463a q 0,276 a p

CuSO4 dan Dedak 0,721a r

0,372a q

0,138 a p

Isolat Omphalina sp. pada media bagas tebu Kontrol 0,427a* r** 0,303a* q** 0,096 a* p** CuSO4 0,542a r 0,349a q 0,138 a p Dedak 0,712a r 0,468a q 0,271 a p

CuSO4 dan Dedak 0,537a r

0,349a q

0,142 a p

Isolat P.ostreatus pada media TKKS Kontrol 0,793a* r** 0,533a* q** 0,335 a* p** CuSO4 0,872a r 0,666a q 0,354 a p Dedak 0,923a r 0,713a q 0,556 a p

CuSO4 dan Dedak 0,877a r

0,574a q

0,372 a p

Isolat P.ostreatus pada media bagas tebu Kontrol 0,643a* r** 0,303a* q** 0,119 a* p** CuSO4 0,771a r 0,468a q 0,211 a p Dedak 0,882a r 0,505a q 0,252 a p

CuSO4 dan Dedak 0,762a r

0,372a q

0,151 a p

Keterangan: Analisis statistik dilakukan terpisah pada tiap kategori isolat dan media

* = Angka yang diikuti huruf yang sama (vertikal) tidak berbeda nyata berdasarkan uji Duncan (P<0,05)

**= Angka yang diikuti huruf yang sama (horizontal) tidak berbeda nyata berdasarkan uji Duncan (P<0,05)

campuran CuSO4 dan dedak masing-masing sebesar 0,771U/mL, 0,882U/mL, dan 0,762U/mL. Sama dengan pada Omphalina

sp. pemberian suplemen tidak berbeda nyata dengan kontrol.

Berdasarkan hasil ini terlihat bahwa lakase dan lignin peroksidase memiliki kecenderungan yang sama, menunjukkan peningkatan aktivitas dengan penambahan suplemen, namun tidak untuk mangan peroksidase. Hal ini diduga disebabkan oleh kandungan mangan peroksidase dalam enzim ligninolitik yang disekresikan baik

P.ostreatusmaupun Omphalina sp. sangat sedikit dibanding lakase ataupun lignin peroksidase. Hasil juga menunjukkan bahwa pertumbuhan miselium yang baik akan membuat lebih banyak enzim ligninolitik yang disekresikan sehingga aktivitasnya dalam mendegradasi lignin lebih besar. Namun pada perlakuan kontrol tidak terlihat demikian, meskipun miselium pada perlakuan kontrol tumbuh lebih baik dibandingkan dengan perlakuan CuSO4 dan campuran CuSO4 dan dedak, aktivitas enzim ligninolitik perlakuan kontrol lebih rendah. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilaporkan Panji et al (1996) yang menyatakan banyaknya miselium tidak menunjukkan aktivitas enzim ligninolitik dalam mendegradasi lignin ataupun selulosa. Perlakuan dedak juga menunjukkan aktivitas enzim ligninolitik yang baik. Dedak merupakan suplemen yang telah banyak

digunakan dalam budi daya jamur. Silverio et al (1981) menyebutkan dedak adalah substrat alami yang dapat mendukung miselium

Auricularia menjadi tebal dan kompak. Walaupun begitu penambahan suplemen ini tidak berperan banyak dalam peningkatan aktivitas enzim mangan peroksidase.

Disebutkan Fitria (2005), isolat FPP

Phanerochaete chrysosporium banyak menjadi objek penelitian karena menghasilkan aktivitas lignin peroksidase dan mangan peroksidase yang tinggi. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini juga menunjukkan aktivitas lignin peroksidase yang tinggi dihasilkan

Omphalina sp. dan P.ostreatus. Hal ini berbeda dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menyatakan Pleurotus spp. yang ditumbuhkan pada media glucose-malt-yeast menunjukkan aktivitas enzim lignin peroksidase yang rendah (Fukushima & Kirk 1995 dalam Mansur et al 2003). Perlakuan dedak menunjukkan aktivitas enzim mangan peroksidase tertinggi untuk kedua isolat walaupun tidak berbeda nyata. Hal ini berbeda dengan dua enzim sebelumnya yang menunjukkan aktivitas tertinggi pada penambahan campuran CuSO4 dan dedak. Meskipun begitu pada penambahan CuSO4

serta campuran CuSO4 dan dedak, aktivitas enzim mangan peroksidase yang ditunjukkan juga cukup tinggi. Hasil uji Duncan menunjukkan pemberian suplemen dedak tidak berbeda nyata dengan tiga perlakuan

lainnya. Hal ini berarti seluruh suplemen dapat digunakan sebagai suplemen untuk meningkatkan sekresi enzim ligninolitik, namun tanpa suplemen sekalipun tidak akan berpengaruh terhadap aktivitas mangan peroksidase. Hasil yang diperoleh juga menunjukkan perbedaan antara P.ostreatus

dan Omphalina sp. dalam hal aktivitas enzim ligninolitik. P.ostreatus walaupun pertumbuhannya tidak secepat Omphalina sp. namun aktivitas enzim ligninolitik yang dihasilkannya lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan penelitian yang menyebutkan enzim ligninolitik pada Pleurotus spp. lebih aktif dan lebih baik dalam mendegradasi lignin dibandingkan C.versicolor dan Ceriporiopsis subvermispora (Fukushima & Kirk 1995, Marzullo et al 1995). Menarik juga untuk ditinjau dari hasil yang diperoleh adalah penambahan suplemen CuSO4 dan campuran CuSO4 dan dedak yang menghambat pertumbuhan miselium pada dua bulan pertama sehingga miselium tidak tumbuh dengan lebih baik dibandingkan dengan pada perlakuan dedak dan kontrol. Namun pada analisis aktivitas enzim ligninolitik pemberian CuSO4 dan campuran CuSO4 dan dedak menghasilkan aktivitas lakase dan lignin peroksidase yang tinggi dibandingkan dengan perlakuan kontrol dan penambahan dedak.

Dokumen terkait