• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Perubahan Pengunaan Lahan DAS Way Betung

Analisis perubahan penggunaan lahan DAS Way Betung menunjukkan luas hutan secara konsisten menurun dari 973,3 ha (16,7%) tahun 1991 menjadi 508,1 ha (9,7%) tahun 1999 dan menjadi 377,1 ha (7,2%) tahun 2006. Di lain pihak penggunaan lahan berupa kebun campuran dan permukiman meningkat, namun penggunaan pertanian lahan kering relatif tetap, serta penggunaan lahan semak belukar berfluktuasi seiring dengan kebijakan pemerintah.

Penggunaan lahan DAS Way Betung dikelompokkan menjadi 5 (lima) jenis penggunaan yaitu: hutan, kebun campuran, semak belukar, pertanian lahan kering dan permukiman. Karakteristik hutan dalam DAS Way Betung pada umumya didominasi vegetasi pohon yang rapat dan memiliki strata tajuk serta kondisi tumbuhan bawah yang rapat dan memiliki lapisan seresah (bahan organik) yang cukup tebal di permukaan tanah. Hal ini tentunya akan memberikan respons hidrologi yang baik terhadap masukan hujan dalam DAS Way Betung.

Karakteristik kebun campuran yang ada dalam DAS Way Betung pada umumnya didominasi oleh tanaman kopi atau kakao yang diselingi oleh tanaman peneduh seperti dadap, jarak tanam tidak terlalu rapat serta permukaan tanah pada umumnya dibersihkan dari rumput dan gulma. Proporsi luas kebun campuran yang sangat besar (>50% luas DAS) tentunya akan sangat mempengaruhi respons hidrologinya. Karakteristik semak belukar yang ada di DAS Way Betung pada umumnya didominasi oleh alang-alang dan semak yang rapat.

Karakteristik pertanian lahan kering yang biasa dilakukan oleh petani dalam DAS Way Betung adalah menanam tanaman sayuran dataran rendah seperti cabe, buncis dan tanaman palawija (jagung, kacang tanah dan kedelai). Luas lahan pertanian lahan kering relatif kecil (<10% luas DAS), namun karena umumnya petani belum menerapkan tindakan konservasi yang memadai, maka diduga kegiatan ini akan berpengaruh terhadap kondisi hidrologi DAS Way Betung.

Karakteristik permukiman yang ada di dalam DAS Way Betung umumnya berada di luar kawasan hutan dengan tipe bangunan permanen dan semi permanen. Sebagai gambaran kondisi berbagai penggunan lahan DAS Way Betung disajikan pada Gambar 11.

76

Gambar 11. Kondisi penggunaan lahan DAS Way Betung (a) hutan, (b) kebun campuran, (c) semak belukar, (d) pertanian lahan kering dan (e) permukiman

Perubahan penggunaan lahan DAS Way Betung tahun 1990/1991-2006/2007 secara rinci disajikan pada Tabel 7. Berdasarkan pada Tabel 7, terlihat bahwa persentase luas hutan dalam DAS Way Betung terus menurun dari 979,2 ha (16,6%) tahun 1990/1991 turun menjadi 508,1 ha (9,7%) tahun 1999/2000 dan menurun lagi menjadi 377,1 ha (7,2%) tahun 2006/2007. Penurunan luas hutan ini antara lain disebabkan oleh adanya kebijakan pemerintah sejak tahun 1965. Pemerintah (Dinas Kehutanan Provinsi Lampung) pada saat itu memberi kesempatan kepada masyarakat sekitar hutan untuk menggarap lahan di kawasan hutan dengan pola tumpang sari. Kegiatan tersebut menyebabkan sebagian

(a) (a) (b)

(d) (c)

77

kawasan hutan yang berubah menjadi kebun campuran, semak belukar atau pertanian lahan kering (Kanwil Dephut Provinsi Lampung, 1988). Hal ini sesuai penelitian Awang (2006), bahwa kawasan hutan Tahura WAR yang lebih dikenal sebagai kawasan hutan Register 19 Gunung Betung mulai digarap masyarakat sejak 1965.

Walaupun sejak tahun 1993, pemerintah mengubah status kawasan hutan Register 19 dari hutan lindung menjadi Taman Hutan Raya WAR (Tahura WAR), dengan tujuan kawasan hutan akan direhabilitasi sehingga fungsi hidrologinya dapat baik kembali. Kebijakan tersebut diikuti dengan perintah pengosongan kawasan hutan dari para penggarap, namun pada kenyataannya masih banyak penggarap yang memiliki lahan di dalam kawasan hutan dan secara aktif masih memanfaatkannya. Penggarap kawasan hutan pada umumnya bertempat tinggal di luar kawasan hutan, namun mereka masih aktif melakukan kegiatan bertani dalam kawasan hutan. Sejak saat itu para petani selalu sembunyi-sembunyi dari petugas kehutanan (Polisi Hutan) dalam menggarap lahan mereka di dalam kawasan hutan (Tahura WAR). Hal inilah yang menyebabkan luas hutan terus menurun dari tahun ke tahun.

Penggunaan lahan kebun campuran meningkat dari 2.458,1 (48,6%) tahun 1990/1991 menjadi 3.173,3 ha (60,3%) tahun 1999/2000 dan menurun menjadi 2.744,3 ha (52,2%) tahun 2006/2007. Berfluktuasinya luas penggunaan lahan kebun campuran tidak terlepas dari adanya kebijakan pemerintah berupa pemberian izin kegiatan hutan kemasyarakatan (HKm) dalam Tahura yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan 1998 dan berlaku selama 5 (lima) tahun (Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, 1998). Adanya kegiatan tersebut sebagian kawasan hutan (sekitar 492,7 ha) digunakan untuk kegiatan hutan kemasyarakatan (HKm), hal ini menyebabkan meningkatnya luas kebun campuran secara signifikan di dalam kawasan hutan. Pada saat itu masyarakat menyambut baik adanya program hutan kemasyarakatan (HKm) yang dicanangkan oleh pemerintah. Masyarakat/petani peserta HKm sangat mengharapkan dapat memanfaatkan kawasan hutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

78

Tabel 7. Perubahan penggunaan lahan DAS Way Betung tahun 1990/1991-2006/2007 (ha)

No Penggunaan lahan

1990/1991 1999/2000 2006/2007 APL Kawasan

Hutan Jml % ∆% APL Kawasan

Hutan Jml % ∆% APL Kawasan

Hutan (ha) % 1 Hutan 0,0 979,2 979,2 16,7 -7,1 12,2 495,9 508,1 9,7 -2,5 11,5 365,6 377,1 7,2 2 Kebun campuran 1.783,9 674,2 2.458,1 48,6 +11,7 1.740,2 1.433,1 3.173,3 60,3 -8,2 1.434,9 1.309,4 2.744,3 52,2 3 Semak belukar 396,9 911,6 1.308,5 24,8 -12,7 188,9 448,2 637,1 12,1 +9,9 523,7 632,5 1.156,2 21,9 4 Pert. lahan kering 194,9 109,6 304,5 5,7 +1,2 163,4 206,7 369,9 7,0 -0,9 161,0 161,5 322,5 6,1 5 Permukiman 164,0 13,9 178,0 3,3 +3,7 354,3 16,2 370,5 7,0 -0,2 313,4 45,3 358,7 6,8 6 Lain-lain*) 10,1 21,3 31,5 0,6 +3,2 90,5 110,6 201,0 3,8 +1,9 104,9 196,3 301,2 5,7 Jumlah 2.550,0 2.710,0 5.260,0 100,0 0,0 2.549,5 2.710,5 5.260,0 100,0 0,0 2.549,5 2.710,5 5.260,0 100,0 Sumber : Data dianalisis dari interpretasi citra (1990,1999, dan 2006); *) Tidak teridentifikasi (awan)

Keterangan : ∆ = perubahan penggunaan lahan antar dua periode berurutan, (+) bertambah dan (-) berkurang. APL = Areal penggunaan lain (di luar kawasan hutan)

79

Penggunaan lahan kebun campuran yang demikian luas (>50%) tentunya sangat mempengaruhi kondisi hidrologi DAS Way Betung. Hal ini mengingat bahwa penggunaan lahan kebun campuran pada umumnya didominasi oleh tanaman kopi atau kakao yang penutupan vegetasinya tidak terlalu rapat, sehingga diperkirakan akan menyebabkan peningkatan aliran permukaan. Untuk itu, dalam perencanaan ke depan diperlukan tindakan konservasi yang mampu menurunkan erosi dan mengurangi aliran permukaan. Diharapkan tindakan konservasi yang diterapkan dapat memperbaiki kondisi hidrologi DAS Way Betung dan selanjutnya mampu meningkatkan pasokan air bersih bagi Kota Bandar Lampung.

Penggunaan lahan semak belukar tahun 1990/1991 seluas 1.308,5 ha (24,8%) menurun menjadi 637,1 ha (9,9%) tahun 1999/2000 dan meningkat lagi menjadi 1.156,2 ha (21,9%) tahun 2006/2007. Luas semak belukar yang berfluktuasi dalam DAS Way Betung tidak terlepas dari adanya kebijakan pemerintah. Seiring dengan diberikannya izin Hkm tahun 1999/2000, luas semak belukar menurun secara siginifikan. Petani peserta HKm menggarap semak belukar yang berada dalam kawasan hutan menjadi kebun campuran, sehingga pada saat itu luas semak belukar menurun. Namun pada tahun 2006/2007 luas semak belukar kembali meningkat, hal ini disebabkan pemerintah tidak memperpanjang izin sementara pengelolaan hutan kemasyarakatan (HKm). Tidak diperpanjangnya izin kegiatan HKm terkait dengan terbitnya SK Menhut No. 31 tahun 2001 tentang HKm, dinyatakan bahwa kegiatan HKm tidak dapat dilaksanakan dalam kawasan konservasi (termasuk Tahura). Adanya kebijakan tersebut menyebabkan masyarakat/petani peserta HKm meninggalkan lahannya, sehingga sebagian berubah menjadi semak belukar kembali. Hal ini terjadi karena tanaman serbaguna atau MPTS (Multi Purpose Trees Species) masih relatif muda sehingga tidak mampu bersaing dengan gulma atau tumbuhan liar/semak. Diberlakukannya kebijakan pemerintah yang tidak memperpanjang izin pemanfaatan hutan (HKm) dalam kawasan konservasi menyebabkan masyarakat/petani peserta HKm menjadi pesimis dalam ketidakpastian status mereka dan menyebabkan mereka enggan menggarap lahan HKm (Awang, 2006).

Penggunaan lahan pertanian lahan kering DAS Way Betung tahun 1990/1991 seluas 304,5 ha (5,7) meningkat menjadi 369,9 ha (7,0%) tahun

80

1999/2000 dan menurun menjadi 322,5 ha (6,1%) tahun 2006/2007. Fluktuasi penggunaan lahan pertanian lahan kering selain dipengaruhi oleh adanya tekanan penduduk juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah. Hal ini disebabkan sebagian besar penduduk yang tinggal disekitar kawasan Tahura WAR memiliki mata pencaharian utama sebagai petani penggarap dalam kawasan hutan. Hal ini seperti diungkapkan Setiawan (2000) dan Awang (2006), bahwa Tahura WAR seluas 22.244 ha dikelilingi oleh 5 (lima) kecamatan yang meliputi 35 desa/kelurahan, sehingga tekanan penduduk terhadap kawasan hutan merupakan salah satu hal yang tidak dapat diabaikan.

Selain dipengaruhi oleh tekanan penduduk bertambahnya luas pertanian lahan kering juga dipengaruhi oleh kebijakan kegiatan HKm dalam kawasan hutan. Hal ini sesuai dengan ketentuan program HKm, bahwa masyarakat/petani peserta program HKm harus melakukan penanaman tanaman serbaguna (Multi Purpose Trees Species/MPTS). Masyarakat/petani HKm diharapkan dapat memanfaatkan hasil non kayu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun pada kenyataannya banyak lahan HKm yang ditanami MPTS belum produktif, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sebagian petani HKm tetap

mengusahakan tanaman semusim dalam kawasan hutan. Walaupun persentase luas pertanian lahan kering relative kecil (<10%),

namun kegiatan petani tersebut perlu diwaspadai, hal ini karena kegiatan pertanian lahan kering yang dilakukan oleh petani pada umumnya belum menerapkan tindakan konservasi tanah yang memadai. Kegiatan pertanian tanpa tindakan konservasi akan berpotensi menimbulkan erosi dan aliran permukaan pada saat musim hujan, sehingga akan berpengaruh terhadap kondisi hidrologi DAS Way Betung. Hal ini pendapat yang dikemukakan oleh Sinukaban (2008), bahwa degradasi lahan dan rusaknya fungsi hidrologis DAS disebabkan oleh banyak faktor, antara lain: (a) penggunaan dan peruntukan lahan yang menyimpang dari Rencana Tata Ruang Wilayah/ Daerah (misalnya hutan lindung difungsikan menjadi lahan pertanian, lahan permukiman atau industri), (b) penggunaan lahan yang tidak rasional (tidak sesuai kemampuan), (c) tidak diterapkannya teknik konservasi tanah dan air untuk lahan budidaya yang

81

berlereng curam, (d) belum adanya regulasi yang mengatur secara tegas, dan (e) tidak adanya komitmen pemerintah dalam penataan penggunaan lahan.

Penggunaan lahan permukiman/lahan terbangun dalam DAS Way Betung tahun 1990/1991 seluas 178,0 ha (3,3%) meningkat menjadi 370,5 ha (7,0%) tahun 1999/2000 dan sedikit menurun menjadi 358,7 ha (6,8%). Fluktuasi penggunaan lahan permukiman relative kecil (<5%) dan pada umumnya permukiman dibangun di luar kawasan hutan (95%). Hal ini diperkirakan tidak banyak berpengaruh terhadap kondisi hidrologi DAS Way Betung, selain itu pada umumnya permukiman penduduk dibangun di atas lahan yang telah diratakan sehinga potensi erosi dan aliran permukaan menjadi lebih kecil.

Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa perubahan penggunaan lahan di DAS Way Betung selama 15 (lima belas) tahun terakhir atau periode 1990/1991 sampai 2006/2007 sangat dinamis. Perubahan-perubahan tersebut dipengaruhi oleh 2 (dua) faktor utama yaitu : (a) kebijakan pemerintah, dan (2) tekanan penduduk terhadap lahan. Perubahan penggunaan lahan merupakan salah satu faktor penting pada suatu DAS dalam merespons masukan utama ke dalam DAS berupa curah hujan. Dengan demikian apabila penggunaan lahan berubah maka akan menyebabkan perubahan kondisi hidrologi DAS yang bersangkutan.

Perubahan penggunaan lahan yang terjadi pada DAS Way Betung seperti diuraikan di atas akan memberikan dampak terhadap kondisi hidrologinya. Beberapa parameter yang dapat menggambarkan kondisi hidrologi suatu DAS adalah : (a) koefisien aliran permukaan (run-off coefficient) (b) debit sungai, yang meliputi debit maksimum (Qmax) dan debit minimum (Qmin), dan (c) fluktuasi debit, digambarkan oleh rasio Qmax/Qmin.

Peta penggunaan lahan DAS Way Betung tahun 1990/1991, 1999/2000 dan 2006/2007 disajikan pada Gambar 12, Gambar 13, dan Gambar 14. Secara rinci penggunaan lahan, jenis tanah dan kelas lereng DAS Way Betung tahun 1990/1991, 1999/2000 dan 2006/2007 disajikan pada Lampiran 14, Lampiran 15 dan Lampiran 16.

82 Gambar 12. Peta penggunaan lahan DAS Way Betung tahun 1990/1991

83 Gambar 13. Peta penggunaan lahan DAS Way Betung tahun 1999/2000

84 Gambar 14. Peta penggunaan lahan DAS Way Betung tahun 2006/2007

85

Dampak Perubahan Penggunaan Lahan DAS Way Betung Terhadap Kondisi Hidrologi/Sumberdaya Air

Perubahan penggunaan lahan DAS Way Betung berupa penurunan luas hutan dari 16,7% (1991) menjadi 7,2 % (2006) dan peningkatan kebun campuran dari 48,6% (1991) menjadi 52,2% (2006) (Tabel 7) menyebabkan peningkatan koefisien aliran permukaan (C) tahunan dari 48,6% (1991-1995) menjadi 61,6% (2002-2006), peningkatan debit maksimum rata-rata harian (Qmax), peningkatan fluktuasi debit atau koefisien regim sungai (KRS), namun dilain pihak menurunkan debit minimum rata-rata harian (Q min).

Perubahan penggunaan lahan (1991-2006) berupa penurunan luas hutan dan peningkatan kebun campuran menyebabkan perubahan kondisi hidrologi, hal ini ditunjukkan dengan fluktuasi debit sungai (hidrograf aliran) (Gambar 15). Gambar 16 memperlihatkan bahwa penurunan luas hutan dan peningkatan kebun campuran secara nyata menurunkan debit minimum dan meningkatkan debit maksimum sungai Way Betung. Hal ini seperti telah diuraikan di depan bahwa penggunaan lahan kebun campuran pada umumnya vegetasinya tidak terlalu rapat, sehingga berpotensi meningkatkan erosi dan aliran permukaan erosi yang selanjutnya meningkatkan debit rata maksimum dan menurunkan debit rata-rata minimum.

Gambar 15. Hidrograf aliran S.Way Betung tahun 1991, 1999, dan 2006

0 1 2 3 4 5 D eb it r at a-rat a ( m 3 /d et ) 1991 1,01 1,01 0,98 1,35 0,98 1,24 3,45 2,32 2,01 1,71 2,09 1,01 1999 0,91 0,84 0,83 3,15 1,98 2,72 2,85 4,68 3,09 2,65 1,98 1,08 2006 0,91 0,91 0,87 0,88 0,95 0,97 3,13 3,91 4,06 2,29 1,15 1,05 Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun

86

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Agus, Gintings dan Noordwijk (2002) di Sumberjaya, besarnya aliran permukaan (termasuk debit sungai) ditentukan oleh kondisi topografi, sifat fisik tanah dan kualitas/kondisi penutupan lahan pada suatu DAS. Apabila salah satu faktor tersebut mengalami perubahan (perubahan hutan menjadi kebun campurn), maka kondisi hidrologi DAS bersangkutan akan berubah diantaranya adalah aliran permukaan (debit sungai). Sebaliknya kondisi penutupan hutan yang rapat dan adanya seresah yang cukup tebal akan sangat mempengaruhi respons DAS terhadap masukan hujan, yaitu meningkatkan kapasitas infiltrasi dan mengurangi aliran permukaan. Apabila luas hutan menurun maka diperkirakan menurunkan debit minimum (Q min) dan meningkatkan debit maksimum (Q max).

Perubahan penggunaan lahan DAS Way Betung yang dominan (Tabel 7), yaitu berupa penurunan luas hutan dan peningkatan kebun campuran secara nyata meningkatkan besarnya koefisien aliran permukaan tahunan (C) dari rata-rata 52,1% pada empat tahun pertama (1991-1995) menjadi 61,6% pada lima tahun terakhir (2002-2006) (Tabel 8).

Tabel 8. Koefisien aliran permukaan (C) tahunan DAS Way Betung tahun 1991-2006 Tahun Curah Hujan (mm) Debit rata-rata harian (m3 Volume debit /det) (mm) C (%) 1991 2.052,5 1,6 956,2 46,6 1992 2.243,0 1,8 1.058,8 47,2 1993 1.798,0 1,9 1.109,1 61,7 1995 1.784,0 1,7 1.017,7 57,0 1996 1.919,3 1,7 993,2 51,8 1998 1.861,0 1,7 1.017,3 54,7 1999 2.283,5 2,2 1.337,5 58,6 2001 1.831,5 1,8 1.077,7 58,8 2002 1.744,0 2,0 1.213,1 69,6 2003 1.981,0 1,9 1.137,9 57,4 2004 1.954,5 1,8 1.109,1 56,8 2005 2.161,0 2,1 1.281,6 59,3 2006 1.616,0 1,8 1.052,8 65,2

Sumber: Data diolah dari data debit dan curah hujan DAS Way Betung (1991-2006)

Keterangan: Curah hujan (Lampiran 2), Debit rata-rata harian (Lampiran 17) Volume debit = (debit*86.400*365)/Luas DAS (5.260 ha) C= Koefisien aliran permukaan(Volume debit/Curah hujan)*100

87

Besarnya koefisien aliran permukaan menggambarkan kehilangan air yang tidak dapat dimanfaatkan, karena langsung mengalir dan terbuang ke laut. Jumlah air yang hilang sebesar 62,2 juta m3

Kehilangan air yang demikian besar disebabkan karena perubahan penggunan lahan hutan ke penggunan lain seperti kebun campuran, semak, lahan kering atau permukiman, yang diduga dapat menurunkan kapasitas infiltrasi sehingga jumlah air hujan yang menjadi aliran permukaan jauh lebih besar bila dibandingkan dengan air hujan yang terinfiltrasi. Untuk itu, sangat diperlukan upaya rehabilitasi hutan dan penerapan agroteknologi yang mampu mengurangi aliran permukaan dan meningkatkan infiltrasi DAS Way Betung.

/tahun dan dengan asumsi 50% dapat dijual PDAM, maka nilai kehilangan air adalah sebesar Rp.102,6 Milyar/tahun (harga air PDAM Rp.3.300,-). Nilai tersebut kurang lebih setara dengan 5 kali pene-rimaan PDAM/tahun dari pembayaran pelanggan yang tercatat dalam meter air.

Tabel 9. Koefisien aliran permukaan (C) DAS Way Betung musim hujan (Jan-Feb-Mar-Okt-Nov-Des) tahun 1991-2006 Tahun Curah Hujan (mm) Debit rata-rata harian bln.basah (m3 Volume debit /det) (mm) C (%) 1991 2.052,5 1,9 1.132,5 55,2 1992 2.243,0 2,1 1.237,8 55,2 1993 1.798,0 2,1 1.243,1 69,1 1995 1.784,0 2,0 1.220,3 68,4 1996 1.919,3 1,9 1.166,1 60,7 1998 1.861,0 2,1 1.233,4 66,3 1999 2.283,5 3,1 1.845,8 80,8 2001 1.831,5 2,2 1.296,9 70,8 2002 1.744,0 2,5 1.494,5 85,7 2003 1.981,0 2,6 1.534,2 77,5 2004 1.954,5 2,7 1.611,4 82,4 2005 2.161,0 2,8 1.657,2 76,7 2006 1.616,0 2,3 1.387,8 85,9

Sumber: Data diolah dari data debit dan curah hujan DAS Way Betung (1991-2006)

Keterangan: Curah hujan (Lampiran 2), Debit rata-rata harian bulan basah (Lampiran 17) Volume debit = (debit*86.400*365)/Luas DAS (5.260 ha)

C= Koefisien aliran permukaan(Volume debit/Curah hujan)*100

Hal ini sesuai dengan pernyataan Arsyad (2006), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya koefisien aliran permukaan, yaitu : (1) jumlah,

88

intensitas, dan distribusi curah hujan, (2) topografi, dan jenis tanah, (3) luas DAS, (4) vegetasi penutup tanah dan (5) sistem pengelolaan tanah. Dengan demikian, apabila suatu DAS mengalami perubahan penggunaan lahan yang menyebabkan penurunan kapasitas infiltrasi, maka akan menyebabkan peningkatan koefisien aliran permukaan.

Apabila dianalisis lebih lanjut, besarnya nilai koefisien aliran permukaan (C) pada musim hujan saja (Tabel 9) memperlihatkan bahwa dampak perubahan penggunaan lahan seperti pada Tabel 7, secara nyata meningkatkan nilai C yang sangat signifikan yaitu rata-rata 61,9% pada tahun 1991-1995 meningkat menjadi rata-rata 81,6 % tahun 2002-2006. Diperkirakan jumlah air yang terbuang ke laut dan tidak dapat dimanfaatkan adalah sebesar 100,9 Juta m3/tahun dengan asumsi 50% dari jumlah tersebut dapat dijual kepada pelanggan, maka jumlah uang yang hilang Rp.166,5 Milyar/tahun (tarif air PDAM Rp.3.300/m3

Kenyataan ini menunjukkan betapa besarnya dampak perubahan penggunaan lahan (Tabel 7) terhadap kondisi hidrologi DAS Way Betung, serta potensi terjadinya kerugian sumberdaya air. Dampak yang demikian besar diduga karena perubahan penggunaan lahan hutan menjadi penggunaan lain (kebun campuran, lahan kering, permukiman dan semak) yang menyebabkan penurunan kemampuan tanah dalam menginfiltrasikan curah hujan sehingga terjadi peningkatan aliran permukaan. Hal ini senada dengan pendapat Sinukaban (2008), bahwa degradasi lahan dan rusaknya fungsi hidrologis DAS disebabkan oleh banyak faktor, antara lain: (a) penggunaan dan peruntukan lahan yang menyimpang dari Rencana Tata Ruang Wilayah/Daerah (misalnya hutan lindung difungsikan menjadi lahan pertanian, lahan permukiman atau industri), (b) penggunaan lahan yang tidak rasional (tidak sesuai kemampuan), (c) tidak diterapkannya teknik konservasi tanah dan air untuk lahan budidaya yang berlereng curam, (d) belum adanya regulasi yang mengatur secara tegas, dan (e) tidak adanya komitmen pemerintah dalam penataan penggunaan lahan.

).

Analisis lebih lanjut dampak perubahan penggunaan lahan terhadap kondisi hidrologi adalah dengan melihat hubungan (korelasi) antara nilai C (%) dengan penggunaan lahan DAS Way Betung (%) disajikan pada persamaan berikut (dengan n=13):

89

C (%) = - 25.101+274 X1 + 417 X2 - 237 X3 + 1.052 X4 + 32,7 X5………...(30) (R2 = 67,4%) (Lampiran 37).

dimana:

C = Koefisien aliran permukaan tahunan (%) X1= Luas hutan (%) X2= Luas kebun campuran (%) X3= Luas semak (%) X4= Luas pertanian lahan kering (%) X5= Luas permukiman (%)

Analisis sensitivitas (persamaan 30 dan Lampiran 37) memperlihatkan bahwa proporsi luas hutan merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap besarnya nilai koefisien aliran permukaan (C). Selanjutnya untuk melihat hubungan (korelasi) antara proporsi luas hutan dengan nilai C dilanjutkan dengan analisis regresi bertahap (Stepwise Regression) dan dilakukan simulasi perubahan proporsi luas hutan terhadap koefisien aliran permukaan (Gambar 16 dan persamaan 31). Analisis regresi bertahap (Stepwise Regression) menghasilkan persamaan:

C (%) = 73,1 – 1,54 X1 (R2= 87,7%) ………(31)

dimana:

C = Koefisien aliran permukaan tahunan (%) X1= Luas hutan (%)

Gambar 16. Simulasi perubahan proporsi luas hutan (%)terhadap koefisien aliran permukaan (%)

Simulasi seperti pada Gambar 17 memperlihatkan bahwa peningkatan proporsi luas hutan akan menurunkan koefisien aliran permukaan (C), hal menunjukkan bahwa dengan peningkatan luas hutan maka kapasitas infiltrasi

0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 0 10 20 30 40 50 K o e fi si e n A lir an P e rm u ka an ( % )

Proporsi Luas Hutan (%)

90

tanah meningkat dan aliran permukaan menurun. Selanjutnya dengan peningkatan kapasitas infiltrasi maka akan meningkatkan debit minimum, yang selanjutnya debit minimum inilah yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku bagi PDAM Kota Bandar Lampung. Seperti telah diuraikan di depan bahwa hutan memiliki lapisan seresah yang relatif tebal dan merupakan penyumbang bahan organik tanah terbesar. Hal ini sesuai dengan pendapat Yusnaini et al. (2008), bahwa kemampuan tanah untuk meresapkan dan menyimpan air sangat ditentukan oleh kandungan bahan organiknya. Lahan hutan dengan bahan organik yang tinggi mampu menyimpan air lebih banyak apabila dibandingkan dengan penggunaan lahan lainnya seperti kebun campuran atau pertanian lahan kering.

Selanjutnya dengan persamaan 31 dilakukan simulasi untuk menduga dampak perubahan penggunaan lahan khususnya perubahan proporsi luas hutan terhadap nilai koefisien aliran permukaan (C) dan perkiraan besarnya nilai air yang hilang serta yang dapat dimanfaatkan. Simulasi dampak perubahan penggunaan luas hutan terhadap nilai C dan nilai air DAS Way Betung disajikan pada Tabel 10.

Tabel 10. Simulasi perubahan penggunaan lahan hutan terhadap nilai koefisien aliran permukaan (C) dan pendugaan air yang hilang DAS Way Betung NO Luas Hutan (%) C (%) CH Thn (mm/th ) Air Hilang (Juta m3 Nilai Air /th) (Milyar/th) Air Manfaat (Juta m3 Nilai Air /th) (Milyar/th ) 1 5 65,4 1.918,3 66,0 108,9 34,9 57,6 2 10 57,7 1.918,3 58,2 96,1 42,7 70,4 3 15 50,0 1.918,3 50,5 83,2 50,5 83,2 4 20 42,3 1.918,3 42,7 70,4 58,2 96,1 5 25 34,6 1.918,3 34,9 57,6 66,0 108,9 6 30 26,9 1.918,3 27,1 44,8 73,8 121,7 7 35 19,2 1.918,3 19,4 32,0 81,5 134,5 8 40 11,5 1.918,3 11,6 19,1 89,3 147,3

Keterangan : Data disimulasi dari persamaan 31. Asumsi : Nilai air yang dapat dijual 50%

Tabel 10 memperlihatkan bahwa peningkatan luas hutan pada suatu DAS mampu menurunkan nilai koefisien aliran permukaan (C) yang pada akhirnya

91

dapat meningkatkan jumlah air yang dapat dimanfaatkan. Hal ini disebabkan karena hutan mampu mengurangi aliran permukaan dan meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah. Dengan demikian, pengembangan sumberdaya air dengan kegiatan rehabilitasi hutan (penghutanan kembali) yang diterapkan pada DAS Way Betung akan mampu meningkatkan ketersediaan air bagi Kota Bandar Lampung. Apabila nilai C dari DAS Way Betung diharapkan < 30%, maka paling tidak luas DAS yang harus dihutankan kembali minimal adalah 28% secara proporsional. Hal ini sesuai dengan pendapat Agus et al. (2002) bahwa hutan merupakan bentang alam (landscape) yang paling aman secara ekologis, karena mampu menjaga ekosistemnya sehingga memiliki fungsi hidrologi yang lebih baik dibandingkan dengan penggunaan lahan lainnya.

Analisis selanjutnya memperlihatkan bahwa perubahan penggunaan lahan seperti pada Tabel 7, menyebabkan peningkatan debit maksimum rata-rata harian (Q max) dan menurunkan debit minimum rata-rata harian (Q min) S. Way Betung. Penurunan proporsi luas hutan diduga paling berperan terhadap peningkatan Q max dan penurunan Q min, sesuai dengan nilai korelasi antara luas hutan (%) dengan Qmax dan Qmin (Gambar 17). Peningkatan debit maksimum rata-rata harian (Qmax) S. Way Betung antara lain disebabkan karena menurunnya luas hutan dan meningkatnya luas kebun campuran dan permukiman. Seperti diketahui bahwa hutan memiliki kapasitas infiltrasi lebih besar dibandingkan dengan jenis penggunan lahan lain, sehingga apabila luas hutan berkurang maka kapasitas infiltrasi akan menurun dan aliran permukaan meningkat.

Gambar 17. Korelasi antara luas hutan (%) (1991-2006) dengan debit maksimum dan minimum rata-rata harian S. Way Betung (m3/det)

y = 0,171x2- 5,639x + 57,28 R² = 1 0 10 20 30 5 10 15 20 Q m ax (m 3/ d et )

Proporsi Luas Hutan …

y = 0,004x2- 0,097x + 1,320 R² = 1 0,50 0,70 0,90 1,10 5 10 15 20 Q m in ( m 3/ d et )

Proporsi Luas Hutan …

92

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Handayani, Jayadi, dan Triatmodjo (2005) di DAS Ciliwung Hulu, bahwa penurunan tutupan hutan seluas 4.897 ha (18,1% luas DAS) tahun 1989 menjadi 4.459 ha (16,2% luas DAS) tahun 1998 akan meningkatkan debit puncak dari 489,3 m3/det menjadi 582,2 m3

Penurunan debit minimum rata-rata harian (Qmin) sungai Way Betung tidak terlepas dari perubahan penggunan lahan yang terjadi. Peningkatan luas kebun campuran (1991-2006) yang cukup besar menyebabkan peningkatan aliran permukaan. Hal ini disebabkan karena pada umumnya lahan kebun campuran berada pada kemiringan lereng 15-40 % dan masyarakat penggarapnya belum menerapkan tindakan konservasi tanah dan air yang memadai. Kombinasi antara penggunaan lahan kebun campuran dengan lereng yang relatif curam tanpa tindakan konservasi menyebabkan peningkatan aliran permukaan. Di lain pihak hal ini menyebabkan simpanan air tanah menurun sehingga secara langsung akan menurunkan debit minimum rata-rata harian. Hal ini senada dengan penelitian Agus, Gintings, dan Noordwijk (2002) di Sumberjaya, besarnya aliran permukaan (termasuk debit sungai) ditentukan oleh kondisi topografi, sifat fisik tanah dan kualitas penutupan lahan pada suatu DAS. Selanjutnya, Arsyad dan Rustiadi (2008) menyatakan bahwa dalam konteks pengelolaan DAS, setiap perlakuan terhadap sebidang tanah (lahan) yang dilakukan oleh manusia akan berpengaruh terhadap perilaku air pada lahan tersebut dan di bagian hilirnya. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Sinukaban (2007), bahwa berkurangnya kapasitas infiltrasi tanah yang mengalami erosi di bagian hulu DAS menyebabkan pengisian kembali (recharge) air di bawah tanah (ground water) juga berkurang, sehingga mengakibatkan kekeringan dimusim kemarau dan banjir pada musim penghujan.

/det (meningkat 18,9%). Kenyataan ini menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan hutan menjadi penggunaan lain berkontribusi sangat besar terhadap peningkatan debit maksimum rata-rata dan volume aliran permukaan.

Dampak perubahan penggunaan lahan (Tabel 7) menyebabkan peningkatan

Dokumen terkait