Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan di 6 lokasi (2 divisi) di perkebunan PT ANJ Agri Binanga (Gambar 3), di peroleh bahwa prevelensi penyakit dari semua lokasi yaitu 100% (Tabel 1). Hal ini di sebabkan seluruh lokasi survei diperoleh serangan BPB dengan kejadian dan keparahan penyakit yang berbeda-beda.
Secara umum terlihat di perkebunan PT ANJ Agri Binanga telah ditemukan serangan BPB di setiap lokasi, dari serangan ringan sampai sangat parah. Pada tanaman muda yang berumur 14 tahun tingkat serangan BPB rendah yaitu 5,13% dibandingkan tanaman tua. Ariffin et al. (2000) menyatakan semakin tua tanaman kelapa sawit maka kejadian penyakit dapat meningkat sebesar 40%.
Hasil pengamatan di lapangan dan pemetaan gejala serangan menunjukkan bahwa serangan Ganoderma pada tanaman kelapa sawit masih sangat rendah dikarenakan Ganoderma merupakan salah satu penyakit tular tanah (soil borne disease) sehingga pada umumnya penyakit ini berkembang sangat lambat apabila di lahan perkebunan sumber inokulumya masih rendah. Sumber inokulum yang masih rendah itu di sebabkan pertanaman di areal tersebut merupakan tanaman F1 atau tanaman generasi pertama. Hal ini sesuai dengan pernyataan Susanto et al.
(2013) bahwa Ganoderma telah menjadi salah satu alasan masalah paling serius dalam budidaya kelapa sawit terutama pada generasi lebih dari satu atau dua generasi tanaman.
Gambar 3. Peta lokasi survei divisi 5 dan divisi 8 di blok H33, J32, I37, H19, G18, J17
Tabel 1. Prevelensi penyakit BPB yang di sebabkan Ganoderma boninense di seluruh lokasi survei
penyakit antara 5,13% - 14,22%. Persentase kejadian penyakit tertinggi berada di divisi 5 blok I37 pada umur tanaman 23 tahun sebesar 14,22% dan pada blok H33 pada umur tanaan 27 tahun sebesar 10,67%. Persentase kejadian penyakit terendah berada di divisi 8 blok J17 pada umur 14 tahun sebesar 5,13% dan blok G18 pada umur tanaman 15 tahun sebesar 5,83%. Hal ini dikarenakan serangan G.
boninense yang di amati di lapangan menyerang semua fase umur tanaman kelapa sawit. Susanto et al. (2008) menyatakan tingkat serangan Ganoderma sp. semakin meningkat seiring dengan semakin tua umur tanaman kelapa sawit, pada tanaman muda persentase serangan awal nilainya kecil jika dibandingkan dengan tanaman yang lebih tua.
Tabel 2. Kejadian penyakit BPB yang di sebabkan Ganoderma boninense
Lokasi Kode Umur Kejadian
Blok Tanaman (tahun) Penyakit (%)
Divisi 5 H33 27 10,67 tanaman yang lebih tua. Hal ini dikarenakan pada tanaman tua tingkat serangan lebih tinggi dikarenakan penyebaran penyakit BPB melalui kontak akar sakit dengan akar sehat. Sutarta et al. (2003) menyatakan akar tanaman yang sakit akan menjadi sumber inokulum yang berpotensi menyebarkan Ganoderma sp, areal pertanaman akan terus terkontaminasi dan inokulum patogen akan terakumulasi
sejalan dengan waktu, semakin tua tanaman tersebut maka sumber inokulum Ganoderma sp. semakin banyak.
Gambar 4. . Gejala serangan Busuk Pangkal Batang: a.). tanama tua yang daunnya sengkleh. b.). tanaman remaja yang daunnya menguning
Pada tanaman remaja ditandai dengan menguningnya semua pelepah (Gambar 4a), sedangkan pada tanaman tua pelepah akan menggantung atau sengkleh (Gambar 4b). Kamu et al. (2015) mengatakan berdasarkan tingkat keparahan serangannya penyakit Busuk Pangkal Batang, stadium awal lebih susah diamati secara eksternal daripada stadium berat, hal ini dikarenakan perkembangan penyakit yang lambat. Gejala eksternal sulit diamati di stadium awal karena menunjukkan ciri yang mirip dengan kondisi tanaman yang mengalami defisit air, defisiensi hara, tergenang, atau gejala serangan rayap.
Keparahan penyakit
Keparahan penyakit tanaman kelapa sawit yang di sebabkan oleh jamur G.
boninense dapat di lihat pada Tabel 3. Persentase keparahan penyakit yang diperoleh adalah antara 2,35% - 5,78%.Persentase keparahan penyakit tertinggi terdapat pada divisi 5 blok I37 pada umur tanaman 23 tahun sebesar 5,78%dan pada blok H33 pada umur tanaan 27 tahun sebesar 5,62%(Tabel 3). Persentase
a b
keparahan penyakit terendah terdapat di divisi 8 blok J17 pada umur 14 tahun sebesar 2,35% dan blok G18 pada umur tanaman 15 tahun sebesar 3,33%. Dari hasil yang di dapat keparahan penyakit berbanding lurus dengan kejadian penyakit. Dimana tingkat keparahan dan kejadian penyakit lebih tinggi dengan bertambahnya umur tanaman, atau dengan kata lain keparahan dan kejadian penyakit lebih tinggi pada tanaman yang lebih tua.
Pada tanaman yang terserang penyakit BPB dengan gejala ringan terlihat badan buah Ganoderma mulai muncul (Gambar 5a). Tanaman kelapa sawit tumbang akibat serangan Ganoderma (Gambar 5b). Tubuh buah ganoderma mulai berkembang dan menyebar ke seluruh bagian batang bawah kelapa sawit (Gambar 5c). dan terdapat lubang pada batang basal (Gambar 5d). Gejala di atas adalah gejala spesifik penyakit busuk batang basal Ganoderma menurut Abdul et al.
(1998).
Tabel 3. Keparahan penyakit PBP yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense
Lokasi Kode Umur Keparahan
Blok Tanaman (tahun) Penyakit (%)
Gambar 5. Gejala penyakit busuk batang basal Ganoderma di lapangan: a.). tubuh buah Ganoderma mulai muncul. b.). Tanaman mati. c.). tubuh buah mulai membesar. d.). lubang di batang basal
Analisis Tanah
Dari hasil analisis sampel tanah untuk semua lokasi yang disurvei, diketahui bahwa kejadian dan keparahan penyakit tertinggi di blok I37 memiliki pH tanah yang asam 5,55 dan lokasi yang kejadian dan keparahan terendah memilliki pH tanah yang sangat masam (ekstrim) 3,82 (Tabel 4). Hal ini di perkuat dengan pernyataan Abadi dan Dharmaputra (1998) yang menyatakan bahwa G. boninense tumbuh baik dengan pH tanah antara 3,0 - 8,5, berdasarkan
a b
c d
serangan Ganoderma, dari hasil penelitian yang dilakukan pH tanah di setiap lokasi survei memiliki kisaran pH berkisar 3,82-5,55.
Hasil analisis tanah yang di lakukan, pada blok H33 dan I37 memiliki persentasi pasir yang tinggi 82,61% dan 87,69%. Blok H33 dan I37 merupakan lokasi yang serangan Ganoderma tertinggi. Hal ini sesuai dengan Chang (2003) yang menyatakan bahwa lahan dengan tekstur tanah berpasir memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk terserang penyakit busuk batang basal karena kondisi ini mempengaruhi matriks tanah alami. Infeksi Ganoderma lebih cepat terjadi pada tanah berpasir karena tekstur tanah mempunyai porositas yang tinggi sehingga menyebabkan akar tanaman lebih cepat mencapai inokulum. Tingginya porositas tanah pada lahan berpasir juga berpengaruh pada populasi Ganoderma.
Kondisi status hara tanah C-organik dan N-total tidak memperlihatkan adanya pengaruh yang nyata terhadap keberadaan G. boninense. Puspika (2018) menyatakan pada dasarnya unsur hara tidak pernah terlibat secara langsung dalam mengurangi laju pertumbuhan populasi maupun laju infeksi G. boninense pada tanah. Keberadaan unsur hara baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro memainkan perannya lewat tanaman. Tanaman yang kecukupan haranya terpenuhi akan tumbuh sehat dan daya tahan terhadap infeksi patogen meningkat, sehingga tanaman tidak mudah terserang penyakit.
Tabel 4. Hasil analisis contoh tanah di lokasi survei pada blok H33, J32, I37, H19, G18, J17.
No Jenis Analisis
Kode Blok
H33 J32 I37 H19 G18 J17
1 C-organik (%) 3,44 3,00 0,87 0,77 0,85 0,94 2 N-total (%) 0,45 0,28 0,04 0,06 0,08 0,06
3 pH 3,82 4,16 5,55 3,68 4,24 3,82
4
Tekstur
Pasir (%) 82,61 85,07 87,69 79,31 74,89 76,94 Debu (%) 15,22 10,66 8,21 6,21 8,37 6,94 Liat (%) 2,17 4,26 4,10 14,49 16,74 16,77