• Tidak ada hasil yang ditemukan

Stratifikasi dusung sangat dipengaruhi oleh struktur dan komposisi jenis tanaman, baik jenis tanaman yang dibudidayakan oleh masyarakat maupun jenis tanaman yang tumbuh sendiri selama berlangsungnya proses suksesi. Hasil analisa vegetasi pada beberapa bentuk penutupan lahan di Desa Wakal dan Hatu menunjukkan adanya pengaruh suksesi dari dusung vegetasi jarang menjadi dusung vegetasi sedang dan selanjutnya menjadi dusung vegetasi rapat, disajikan pada Tabel berikut.

Tabel 8 Komposisi vegetasi penyusun dusung sesuai tingkat pertumbuhan berdasarkan bentuk penutupan lahan

Penutupan Lahan Σ Kera- patan (individu /ha) LBD (m2/ha) (%) LBD (%) Kera- patan Σ patan Kera- (individu /ha) LBD (m2/ha) (%) LBD (%) Kera- patan Dusung vegetasi jarang (DVJ) Pohon 8 60 4,74 100 2,12 7 40 2,61 100 8,70 Tiang 4 70 0,76 0,02 2,47 4 40 0,62 0,02 8,70 Pancang + Semai 9 2.700 0,78 0,02 95,41 10 380 0,39 0,02 82,61 Jumlah 21 2.830 4,74 30 21 460 2,61 8 Dusung vegetasi sedang (DVS) Pohon 10 115 2,79 73,56 5,41 12 135 8,61 81,42 5,88 Tiang 7 110 1 26,42 5,18 11 260 1,96 18,58 11,33 Pancang + Semai 14 1.900 0,67 0,02 89,41 18 1.900 0,52 0,005 82,79 Jumlah 31 2.125 3,80 23 41 2.295 11,09 41 Dusung vegetasi rapat (DVR) Pohon 13 305 9,09 81,54 6,89 13 410 13,89 89,21 14,14 Tiang 11 449 2,06 18,45 10,15 8 330 1,68 10,79 11,38 Pancang + Semai 18 3.670 0,64 0,01 82,96 18 2.160 0,56 0,004 74,48 Jumlah 42 4.424 11,15 47 39 2.900 15,57 51

Hasil analisis vegetasi penyusun dusung pada ketiga bentuk penutupan lahan menunjukkan bahwa jumlah jenis, kerapatan dan luas bidang dasar pohon paling tinggi ditemukan pada bentuk penutupan lahan dusung vegetasi rapat. Di lokasi Desa Wakal ditemukan jumlah dan jenis tanaman pada berbagai tingkat pertumbuhan yang lebih banyak, ini juga ditunjukkan dengan jumlah kerapatan untuk dusung vegetasi jarang sebanyak 2.830 individu/ha atau 30 %, untuk vegetasi sedang sebanyak 2.125 individu/ha atau 23 % dan untuk dusung vegetasi rapat sebanyak 4.424 individu/ha atau 47 %. Sedangkan di Desa Hatu, untuk

40

dusung vegetasi jarang kerapatan tanaman sebanyak 460 individu/ha atau 8 %, untuk dusung vegetasi sedang dengan 2.295 individu/ha atau 41 % dan dusung vegetasi rapat adalah 2.900 individu/ha atau sebesar 51 %.

Penelitian Wardah (2008), pada ekosistem kebun hutan di Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa luas bidang dasar tingkat pohon dan tiang di ladang paling rendah adalah 0,2 m2/ha dan 0,03 m2/ha, sedangkan untuk tingkat pancang dan semai tidak ditemukan. Sebaliknya luas bidang dasar 0,01 m2/ha sampai 0,02 m2/ha ditemukan lebih banyak di dusung vegetasi jarang, sedang atau vegetasi rapat terutama untuk tingkat tiang, pancang dan semai di Desa Wakal dan Desa Hatu. Bila dibandingkan dengan hasil penelitian beberapa ahli khusus untuk perubahan suksesi dari bentuk penggunaan lahan hutan sekunder muda menjadi hutan sekunder tua maupun selanjutnya menjadi hutan alam hasil penelitian Wardah (2008), bahwa rata-rata pertumbuhan pohon hutan sekunder muda adalah 15,5 m2/ha dan hutan sekunder tua dapat mencapai 28,4 m2/ha. Studi Dietz et al (2006) di Toro adalah 51 m2/ha; studi hutan alam oleh Brodbeck et al (2003) adalah 31,6 – 33,1 m2/ha.

Pada Desa Wakal untuk ukuran kelas diameter pohon antara 20 s/d 30 cm sebanyak 38 pohon/ha sementara untuk diameter > 30 cm hanya sebanyak 18 pohon/ha, hal ini dapat diduga bahwa proses suksesi pada penggunaan lahan dusung vegetasi rapat baru saja dimulai. Di Desa Hatu diameter tingkat pohon antara 20 s/d 30 cm sebanyak 29 pohon/ha dan untuk diameter > 30 cm sebanyak 43 pohon/ha. Pertumbuhan dan pertambahan jenis-jenis tanaman buah-buahan produktif yang mendominasi dusung vegetasi sedang dan dusung vegetasi rapat diduga akan mempercepat proses suksesi menuju terbentuknya hutan sekunder kerapatan tinggi dengan hadirnya beragam spesies baru, baik tumbuhan- tumbuhan, hewan atau mikroorganisme.

Jenis tanaman buah-buahan produktif pada dusung vegetasi sedang di Desa Wakal dan Hatu, didominasi oleh tanaman coklat (Theobroma cacao sp), durian (Durio zibethinus), kelapa (Cocosnucifera), jambu (Eugenia sp), rambutan (Nephelium lappaceum), langsa (Lancium domesticum). Tanaman monokultur seperti cengkeh (Eugenia aromatica), pala (Myristica fragran) dan sagu (Metroxillon spp) akan membuka peluang untuk mempercepat proses

41

terbentuknya dusung hutan sekunder kerapatan tinggi, karena sudah masuk juga beberapa tanaman kehutanan seperti kayu samama (Anthosepalus macrophylla), pule (Alstonia scholaris), salawaku (Paraserianthes falcataria), guyawas hutan (Duabanga mollucana), dan kayu yang ditanam masyarakat seperti kayu jati (Tectona grandis), kayu titi (Gmelina mollucana) dan kayu lenggua (Pterocarpus indicus).

Pertambahan jenis tanaman berkayu dan buah-buahan milik masyarakat ini, merupakan hasil penanaman dan pengayaan secara alami yang telah dilakukan 20 sampai 30 tahun yang lalu, karena jumlah diameter tanaman yang ditemukan lebih banyak di atas 30 cm yang mendominasi komposisi tegakan, begitu pula untuk tingkat tiang, pancang dan semai yang ditemukan di lokasi studi.

Bentuk Penggunaan Lahan Sistem Dusung

Berdasarkan hasil observasi lapangan dan wawancara dengan petani, maka ditetapkan 3 bentuk penggunaan lahan pada sistem dusung di Desa Wakal dan Hatu, disajikan pada Tabel 9 dan Gambar 3.

Tabel 9 Bentuk penggunaan lahan sistem dusung di Desa Wakal dan Hatu

Bentuk Wakal Hatu

Penggunaan Jenis Bentuk Jenis Bentuk

Lahan Tanaman Penanaman Tanaman Penanaman Ladang

Kacang tanah, ubi talas, jagung,ubi jalar, terung, ubi kayu dan lainnya

Tumpangsari dan

Monokultur

Ubi kayu, talas, kacang, timun panjang, terung, dan lainnya Tumpangsari dan Monokultur Kebun Campuran Pisang,coklat, salak, langsa, duku, pulai, rambutan, jati, samama, pisang, lenggua, durian dan lainnya Tumpangsari dan Agroforest Langsa, nenas, coklat,cempedak, durian, pisang, sengon, kelapa, kenari, lenggua dan lainnya Tumpangsari dan Agroforest Kebun Monokultur Cengkeh, pala, sagu Tumpangsari dan Monokultur Cengkeh, pala, Sagu Tumpangsari dan Monokultur

Usahatani dusung merupakan multi cropping system yang di dalamnya ditemukan berbagai bentuk penggunaan lahan dengan pola; ladang, kebun campuran, dan kebun dengan hanya satu jenis komoditas tanaman (kebun monokultur).

42

Ladang terbentuk oleh kebiasaan-kebiasan bertani masyarakat secara tradisional dengan menanam jenis tanaman umbi-umbian dan sayuran seperti ubi kayu (Manihot utilisima), ubi jalar (Xanthosoma sagittifolium), talas (Calocasia esculenta), pisang (Musa spp), kacang tanah (Arachis hipogea) dan lainnya. Biasanya luas lahan usahatani adalah sebesar 0,1 – 2 ha dan berjarak 100 - 500 m dari Desa.

Kebun campuran terbentuk oleh pola pertanian forest crops yang dilakukan sejak awal melalui tebang seleksi pada tahap pembukaan lahan hutan sehingga jenis-jenis pohon yang ditinggalkan umumnya tanaman komersil yang berfungsi sebagai tanaman pelindung seperti lenggua (Pterocarpus indicus), pule (Alstonia scholaris), guyawas hutan (Duabanga mollucana), titi (Gmelina mollucana), kemudian dilakukan penanaman pengayaan dengan tanaman buah- buahan untuk jangka panjang yang ditemukan seperti kelapa (Cocos nucifera), kenari (Canarium commune), durian (Durio zibethinus), dan lainnya.

Pola usahatani dusung dengan monokultur tanaman tahunan (khusus: cengkeh, pala) terbentuk awalnya dari pola ladang dengan tanaman pangan khususnya untuk konsumsi keluarga kemudian diikuti dengan penanaman tanaman pala (Myristica fragran) dan cengkeh (Eugenia aromatica) sehingga berkembang menjadi dusung dengan pola kebun monokultur. Begitu pula dengan tanaman sagu (Metroxylon spp) yang ditanam pada lahan dataran rendah dengan kondisi tanah tergenang air (rawa), dan daerah cekungan seperti pinggiran sungai.

Gambar 3 Bentuk penggunaan lahan pada sistem dusung

Ditinjau dari kelompok sistem agroforestri, maka sistem dusung dengan pola usahatani ladang dan kebun monokultur dapat dikelompokan sebagai bentuk agroforestri sederhana, karena pepohonan umumnya ditanam secara tumpangsari

43

dengan satu atau lebih jenis tanaman semusim atau ditanam hanya satu atau dua jenis tanaman saja. Sebaliknya kebun campuran merupakan agroforestri kompleks (agroforest) karena biasanya terdapat berbagai jenis tanaman pepohonan (berbasis pohon) yang sengaja ditanam maupun tumbuh sendiri secara alami (Huxley 1999).

Bentuk agroforestri dusung sangat dipengaruhi oleh budaya masyarakat, pola bercocok tanam dan kondisi tapak/tempat tumbuh tanaman. Hal ini mencirikan kondisi agroekosistem dusung yang terbentuk juga sangat berbeda dengan ciri agroforestri yang ada dibeberapa daerah di Indonesia.

Berdasarkan bentuk penggunaan lahan yang terdapat pada sistem dusung di kedua lokasi studi, maka hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh de Foresta et al. (2000) bahwa, pola agroforestri lahir dari praktek tradisional masyarakat dalam rangka diversifikasi produk, baik produksi pangan, tanaman semusim (tanaman pertanian) maupun tanaman kehutanan yang memiliki struktur yang serupa dengan hutan alam primer atau sekunder, karena didominasi pepohonan dan keanekaragaman tetumbuhan.

Pola Usahatani Tradisional Sistem Dusung

Sistem silvikultur tradisional dusung sudah ada jauh sebelum sistem silvikultur modern saat ini dikenal. Mengapa ?, karena pola usahatani ini terbentuk sesuai dengan budaya dan tradisi masyarakat secara turun-temurun. Kebiasaan usahatani dengan cara menanam tanaman jangka pendek (peladangan) dan sayuran, akan dilanjutkan dengan menanam tanaman berkayu dan buah- buahan secara bertahap pada lahan milik pribadi maupun milik keluarga (marga/faam). Proses terbentuknya dusung berdasarkan pola usahatani, seperti disajikan pada Tabel 10.

Terbentuknya dusung di lokasi studi ditunjukkan dengan pola usahatani yang sama, dimulai dari pembukaan ewang (hutan primer) untuk berladang. Proses ini dilakukan dengan cara menebang kayu di hutan alam dan memanfaatkan pohon-pohon tersebut untuk kayu bakar, kayu pertukangan maupun kayu bangunan rumah. Setelah itu selang beberapa hari dilihat bahwa biomasa tanaman yang ditebang sudah mulai kering dan siap dibakar, maka

44

dilanjutkan dengan kegiatan pembakaran areal penebangan dan dibiarkan begitu saja selama seminggu.

Tabel 10 Matriks proses terbentuknya dusung berdasarkan pola usahatani

Proses Pembentukan

Masa Tanam

(Tahun) Jenis-Jenis Tanaman

Pertumbuhan, Pemeliharaan & Pengayaan (Tahun) Masa Bera (Aong), dan sasi adat (Tahun) Masa Panen (Tahun)

Ewang (Hutan primer menjadi ladang tahap I

* 0,1-0,3

Ubi kayu, pisang, bayam, jagung, kacang tanah, papaya, dan lainnya 0,1 – 1 0,6 – 1 atau sesuai aturan adat 0,3 - 0,6

Aong (ladang tahap 1) diberakan, ditanami menjadi ladang tahap II *

1-6

Ubi jalar, talas, matel, tomat, kacang panjang, terung, timun, papari dan lainnya

0,3 – 1

0,8 – 1,5 atau sesuai aturan

adat

0,6 – 1

Aong (ladang tahap II) diberakan lagi & pengayaan menjadi kebun campuran tahap I ** Tahun ke-5 Tanaman buah ; kelapa, durian, langsat, duku, rambutan, gandaria,

mangga, jati, titi, lenggua dan lainnya 5 – 10 1 – 5 atau sesuai aturan adat sesuai musim panen

Kebun campuran tahap I mengalami suksesi menjadi hutan sekunder *** Setiap Tahun kenari, alpukat, manggis, jambu, samama, salawaku, pulai, Pete, Kuini dan lainnya. 5 – 10 1 – 5 atau sesuai aturan adat sesuai musim panen

*) Tanaman pertama setelah pembersihan dan pengolahan tanah sekaligus pembuatan pagar pelindung kemudian selang waktu diberakan (terbentuknya aong)

**) Tanaman kedua ditanam sementara kegiatan peladangan dan tegalan dilanjutkan dengan perbaikan pagar pelindung kemudian selang waktu diberakan (terbentuknya aong)

***) Tanaman tumbuh sendiri atau ditanam selama selang waktu diberakan (terbentuknya aong)

Penyiapan lahan untuk mulai bercocok tanam dilakukan lebih kurang dua minggu yang dipahami secara tradisional bahwa abu hasil pembakaran itu mengandung kalium yang berfungsi untuk menetralisir tanah bersifat masam. Kemudian dilakukan penanaman tanaman peladangan/tegalan dan sayuran secara bergiliran untuk jangka waktu pendek seperti ubi kayu (Manihot esculenta), pisang (Musa spp), bayam (Amarantus sp), Jagung (Zea mays), kacang tanah (Arachis hipogea), papaya (Carica papaya), sawi (Brasisca sp), ubi jalar (Xanthosoma sagittifolium), talas (Calocasia esculenta), kacang panjang (Vigna sinensis), terong (Solannum tuberesum), ketimun (Cucurbita sp), tomat (Solannum lycopersicum), papari (Nomordica charantia). Kegiatan ini akan dihentikan setelah dirasakan bahwa tanah tersebut tidak lagi memberikan hasil

45

yang menguntungkan (tidak produktif), maka kemudian lahan tersebut dibiarkan terlantar (diberakan) untuk suatu waktu tertentu biasanya disebut masyarakat dengan istilah aong.

Setelah sekian waktu lamanya dilihat bahwa kebun ladang/tegalan yang ditinggalkan (aong) sudah secara alamiah ditumbuhi jenis-jenis tanaman pionir, maka dilakukan upaya penanaman kembali dengan tanaman buah-buahan dan tanaman kehutanan secara bergiliran, seperti kelapa (Cocos nucifera), durian (Durio zibethinus), langsat (Lancium sp), duku (Lancium domesticum), rambutan (Naphelium lapeceaum) gandaria (Buea macrophylla), mangga (Mangifera spp); jati (Tectona grandis), titi (Gmelina mollucana), lenggua (Pterocarpus indicus), kenari (Canarium commune), alpukat (Persea americana), manggis (Garcinia mangostana), jambu (Eugenia jambolana), samama (Anthosepalus macrophylla), salawaku (Paraserianthes falcataria), pulai (Alstonia scholaris), pete (Parkia speciosa), kuini (Mangifera odorata) dan tanaman lainnya yang tumbuh sendiri tanpa dilakukan perawatan sehingga terbentuklah dusung (Gambar 4 dan Tabel 10).

Pola pertanian dusung secara umum dikenal 2 tipe ditinjau dari aspek pembentukan dan tahapan kegiatannya, yaitu, (1). Membangun dusung dengan membuka lahan hutan, dan (2). Membangun dusung dengan membuka lahan semak belukar. Perbedaan dasar dari kedua sistem ini adalah terletak pada proses pengadaan forest crops. Pada pola pertanian dusung model pertama, proses

Gambar 4 Proses terbentuk dusung

Hutan Alam (Ewang) Penebangan dan

Pembakaran

Ladang Kebun Monokultur

Semak Belukar

Dusung

Penanaman

Kebun Campuran

Dokumen terkait