Jahe Merah
Ekstraksi merupakan peristiwa perpindahan massa zat aktif yang semula berada di dalam sel ditarik oleh cairan penyari (pelarut) sehingga zat aktif larut oleh cairan penyari (Harborne 2007). Suruhan diekstraksi dengan metode maserasi, yaitu merendam serbuk simplisia dalam pelarut tanpa pemanasan. Pelarut yang digunakan dalam penelitian ini adalah etanol 70%. Filtrat hasil maserasi dipekatkan dengan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental sehingga dapat diketahui nilai rendemennya.
Nilai rendemen ekstrak suruhan yang diperoleh adalah sebesar 24.03% yang merupakan rata-rata dari 3 kali ulangan rendemen (Lampiran 3). Hasil ini tidak berbeda jauh dengan hasil penelitian Mudrikah (2006), yaitu sebesar 27.20%. Adanya perbedaan ini dimungkinkan karena perbedaan lingkungan tempat tumbuh suruhan. Penelitian Mudrikah (2006) menggunakan suruhan dari daerah sekitar Bogor, sedangkan suruhan dalam penelitian ini diperoleh dari daerah Depok Jawa Barat.
Jahe merah diekstraksi dengan menggunakan metode refluks, yaitu bahan dan pelarut dipanaskan sampai mendidih dan uap yang terbentuk akan melewati kondensor sehingga kembali lagi ke dalam larutan. Pelarut yang digunakan dalam penelitian ini adalah air. Sebanyak 142.5 g simplisia jahe merah yang diekstraksi diperoleh ekstrak pekat berupa serbuk sebanyak 30.48 g. Sehingga didapat nilai rendemen ekstrak dari jahe merah pada percobaan ini sebesar 21.39% (Lampiran 3). Nilai rendemen ekstrak jahe merah yang diperoleh lebih kecil bila dibandingkan dengan nilai rendemen ekstrak jahe merah pada penelitian Mudrikah (2006), yaitu sebesar 46.23%. Hal ini dimungkinkan karena perbedaan lingkungan tempat tumbuh jahe merah. Penelitian Mudrikah (2006) menggunakan jahe merah dari daerah Pasar Anyar Bogor, sedangkan jahe merah dalam penelitian ini diperoleh dari daerah Tegalwaru Ciampea. Kadar senyawa-senyawa dalam suatu simplisia dapat berbeda-beda. Perbedaan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu bergantung pada bagian tanaman yang digunakan, umur tanaman, waktu panen, dan lingkungan tempat tumbuh (Agoes 2007).
Etanol 70% dipilih sebagai pelarut dalam ekstraksi suruhan karena merupakan pelarut yang umum digunakan pada industri farmasi.
Selain itu, menurut Darusman et al. 2001 etanol adalah pelarut yang umum digunakan dalam pembuatan jamu dan obat-obatan fitofarmaka. Proses evaporasi yang dilakukan dalam ekstraksi suruhan menggunakan rotary evaporator bertujuan untuk menguapkan pelarut dari ekstrak sehingga diperoleh ekstrak pekat. Prinsip kerja rotary evaporator didasarkan pada titik didih pelarut dan adanya tekanan yang menyebabkan uap dari pelarut terkumpul di atas, serta adanya kondensor (suhu dingin) yang menyebabkan uap ini mengembun dan akhirnya jatuh ke tabung pengumpul pelarut. Suhu yang digunakan dalam proses evaporasi sebesar 50 0C karena mendekati titik didih etanol yaitu 78.1 0C (Mahlindan & Maurina 2011).
Pelarut yang digunakan dalam mengekstrak jahe merah adalah air. Cara ini dipilih karena pada umumnya masyarakat mengkonsumsi jahe merah dengan cara merebusnya terlebih dahulu kemudian meminum air rebusannya. Air rebusan yang diperoleh kemudian dipekatkan dengan freeze dry atau pengeringan beku. Prinsip penghilangan air dengan cara ini adalah membekukan air dan menghilangkannya dengan proses sublimasi. Dengan demikian air dapat dihilangkan tanpa merusak bahan yang dikeringkan (Purnama 2006).
Komponen Fitokimia Ekstrak Suruhan dan Ekstrak Jahe Merah
Metode fitokimia digunakan untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder dan makromolekul dari tumbuhan (Harborne 2007). Dari hasil uji fitokimia ini dapat diduga golongan senyawa yang berperan dalam menghambat aktifitas enzim siklooksigenase-2. Pengujian dilakukan terhadap ekstrak etanol suruhan dan ekstrak air jahe merah. Pengujian fitokimia ini didasarkan pada metode Harborne (2007). Senyawa-senyawa yang diperiksa keberadaannya adalah flavonoid, fenolik, alkaloid, tanin, saponin, steroid, dan terpenoid.
Hasil analisis uji fitokimia pada Tabel 2 menunjukkan bahwa ekstrak etanol suruhan mengandung flavonoid, fenolik, alkaloid, tanin, saponin, dan steroid sedangkan untuk terpenoid tidak terdeteksi. Hasilanalisis fitokimia ini didukung oleh hasil penelitian Mudrikah (2006) yang menyatakan ekstrak etanol suruhan mengandung alkaloid, tanin, flavonoid, saponin, fenolik, dan steroid. Penelitian Ojo et al. (2012) menunjukkan bahwa ekstrak etanol suruhan mengandung
terpenoid. Perbedaan ini dikarenakan lingkungan tempat tumbuh suruhan yang digunakan. Penelitian Ojo et al. (2012) menggunakan suruhan dari daerah Ekiti, Nigeria sedangkan suruhan yang dipakai pada penelitian ini dari daerah Depok, Indonesia.
Berbeda halnya dengan ekstrak etanol suruhan, ekstrak air jahe merah mengandung terpenoid akan tetapi tidak terdeteksi adanya steroid dan saponin. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Mudrikah (2006) yang menyatakan bahwa ekstrak air jahe merah tidak mengandung steroid dan saponin. Tidak terdeteksinya steroid dan saponin (glikosida dari steroid) karena keduanya bersifat cenderung nonpolar sehingga tidak terekstrak oleh air (Wina et al. 2005). Steroid dan saponin mungkin dapat terekstrak dengan pelarut yang kepolarannya lebih rendah dari air contohnya etanol. Penelitian Sukandar et al. (2009) menyatakan bahwa ekstrak etanol jahe merah mengandung flavonoid, saponin, tanin, steroid, dan terpenoid.
Kedua ekstrak menunjukkan hasil positif untuk pengujian flavonoid dan fenolik. Flavonoid adalah senyawa fenol yang banyak terdapat pada tumbuhan yang dapat larut dalam air. Senyawa ini dapat diektraksi dengan etanol 70% (Harborne 2007). Adanya tanin ditunjukkan dengan terbentuknya warna hijau kehitaman. Tanin merupakan senyawa polifenol yang dapat larut dalam air, gliserol, metanol, kloroform, dan eter. Kedua ekstrak menunjukkan hasil yang positif untuk uji alkaloid terhadap ketiga pereaksi (Wagner, Mayer, dan Dragendorf). Alkaloid merupakan golongan terbesar dari senyawaan hasil metabolit sekunder pada tumbuhan. Alkaloid dapat ditemukan dalam berbagai bagian tanaman seperti biji, daun, ranting, dan kulit kayu (Suradikusumah 1989).
Tabel 2 Hasil uji fitokimia ekstrak suruhan dan jahe merah
Uji Ekstrak etanol suruhan Ekstrak air jahe merah Flavonoid + + Fenolik + + Alkaloid + + Tanin + + Saponin + - Steroid + - Terpenoid - +
Keterangan: (+): ada, (-): tidak ada
Sitotoksisitas Ekstrak Berdasarkan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)
Uji sitotoksisitas merupakan uji pendahuluan untuk mengamati aktivitas
farmakologi suatu senyawa. Uji sitotoksisitas menggunakan metode brine shrimp lethality test (BSLT) terhadap larva Artemia salina Leach dilakukan untuk mengamati tingkat kematian larva A. salina Leach yang disebabkan oleh ekstrak kasar tanaman. Tingkat kematian atau mortalitas dari larva udang selanjutnya dianalisis probit untuk menentukan konsentrasi LC50 (lethal
concentration 50%), yaitu konsentrasi yang menyebabkan kematian populasi larva Artemia salina Leach sebesar 50% dari populasi total. (Meyer et al. 1982).
Penentuan LC50 menggunakan analisis
probit dengan selang kepercayaan 95% pada program SPSS v16. Data jumlah kematian udang pada tiap konsentrasi masing-masing ekstrak dimasukkan dalam program SPSS v16 (Lampiran 5). Hasil nilai LC50 menggunakan
metode BSLT dari ketiga ekstrak ditunjukkan pada Tabel 3. Besarnya nilai LC50 dari ekstrak
suruhan, ekstrak jahe merah, dan campuran keduanya (konsentrasi 1:1) berturut-turut 339.3 μg/mL, 5λ0.8 μg/mL, dan 728.5 μg/mL. Berdasarkan nilai LC50 dari ketiga ekstrak,
menunjukkan bahwa ketiga ekstrak memiliki efek sitotoksik dan bioaktivitas. Senyawa bioaktif adalah senyawa kimia yang dapat memberikan efek atas jaringan biologis. Menurut Meyer et al. (1982) bahwa senyawa yang mempunyai LC50 lebih kecil dari 1000
ppm dikatakan memiliki potensi bioaktivitas. Hasil perbandingan nilai LC50 dengan
menggunakan metode BSLT menunjukkan bahwa ekstrak suruhan memiliki bioaktivitas yang paling tinggi karena memiliki nilai LC50
yang paling rendah, yaitu 339.3 μg/mL. Dengan demikian, ekstrak jahe merah dan campuran ekstrak suruhan dan jahe merah (konsentrasi 1:1) dapat dikatakan mempunyai potensi bioaktif yang lebih rendah dibanding ekstrak suruhan. Akan tetapi, ekstrak dengan bioaktivitas tertinggi belum tentu memiliki nilai daya hambat tertinggi dalam uji daya hambat siklooksigenase-2 karena belum diketahui secara pasti mengenai hubungan nilai LC50 terhadap aktivitas
penghambatannya. Penelitian Yustinus (2010) menunjukkan bahwa ekstrak etanol jahe merah memiliki nilai LC50 sebesar 108.37
μg/mL dan ekstrak tersebut memiliki potensi dalam menghambat enzim siklooksigenase-2.
Uji sitotoksisitas dengan metode BSLT ini telah mengungkap pengetahuan tentang senyawa-senyawa yang dapat digunakan sebagai antikanker. Kematian dari larva A.salina L mempunyai korelasi dengan aktivitas antikanker suatu senyawa yang
memiliki bioaktivitas. Larva udang yang digunakan merupakan makhluk bersel satu sehingga kematiannya merupakan kematian terhadap sel. Hal inilah yang menjadikan alasan adanya korelasi dengan aktivitas antitumor. Metode BSLT sering digunakan untuk praskrining terhadap senyawa aktif yang terkandung dalam ekstrak tumbuhan karena biaya relatif murah, sederhana, waktu pelaksanaan cepat, praktis, tidak memerlukan teknik perawatan khusus. Selain itu, jumlah sampel yang digunakan relatif sedikit dan tidak memerlukan peralatan khusus untuk melakukan uji ini (Meyer et al. 1982).
Tabel 3 Nilai LC50 hasil uji sitotoksisitas
Ekstrak Nilai LC50 (μg/mL)
Suruhan 339.3
Jahe merah 590.8
Campuran 1:1 728.5
Daya Hambat Ekstrak terhadap Aktivitas Siklooksigenase-2 (COX-2)
Pengujian aktivitas penghambatan siklooksigenase-2 dilakukan secara in vitro dengan menggunakan kit dari Cayman Chemical dengan nomor katalog 560131. Prinsip kerja dari kit yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan perhitungan langsung prostaglandin yang dihasilkan dari reaksi siklooksigenase. Prostaglandin ini akan dikuantifikasi melalui enzyme immunoassay (EIA) yang menggunakan antiserum spesifik yang dapat mengikat prostaglandin. Assay ini didasarkan atas kompetisi antara prostaglandin dari reaksi siklooksigenase dengan prostaglandin yang terikat asetilkolinesterase (PG tracer) terhadap antiserum PG yang jumlahnya tetap. Karena konsentrasi PG tracer tetap sedangkan prostaglandin dari reaksi siklooksigenase bervariasi, maka jumlah dari PG tracer yang terikat dengan antiserum PG akan berbanding terbalik dengan konsentrasi prostaglandin dari reaksi siklooksigenase pada sumur. Sebelumnya PG antiserum telah terikat pada sumur. Plat akan dicuci untuk menghilangkan semua komponen yang tidak terikat, kemudian reagen Ellman (substrat untuk asetilkolinesterase) ditambahkan pada sumur. Produk dari reaksi enzimatik ini akan menghasilkan warna kuning dan dibaca absorbansinya pada panjang gelombang 412 nm. Intensitas warna ini akan berbanding lurus dengan PG tracer yang terikat pada sumur, yang akan berbanding terbalik dengan jumlah prostaglandin dari reaksi siklooksigenase pada sumur.
Uji daya hambat aktivitas siklooksigenase- 2 oleh ekstrak suruhan, ekstrak jahe merah, dan ekstrak campuran keduanya dilakukan untuk menentukan kemampuan ekstrak tersebut sebagai antiinflamasi. Larutan sampel yang digunakan adalah diklofenak 0.02 µg/mL, ekstrak suruhan, jahe merah dan kombinasi keduanya dengan masing-masing dibuat 4 konsentrasi mendekati LC50, yaitu
LC50, ½ LC50, ¼ LC50, dan 1/8 LC50.
Konsentrasi ekstrak suruhan yang digunakan adalah sebesar 50, 100, 200, dan 400 µg/mL. Konsentrasi ekstrak jahe merah yang digunakan adalah sebesar 75, 150, 300, dan 600 µg/mL. Sedangkan untuk ekstrak campuran (konsentrasi 1:1) konsentrasi yang digunakan sebesar 87.5, 175, 350, dan 700 µg/mL. Konsentrasi yang beragam ini dimaksudkan untuk melihat hubungan penambahan konsentrasi ekstrak terhadap daya hambat yang dicapai.
Kontrol positif yang digunakan pada penelitian ini adalah diklofenak yang merupakan obat sintetik yang biasa digunakan sebagai antiinflamasi. Diklofenak yang dipakai dalam percobaan ini tidak menunjukkan adanya aktivitas dalam penghambatan siklooksigenase-2 dengan nilai penghambatan sebesar -6.9%. Hal ini dimungkinkan karena konsentrasi diklofenak yang terlalu kecil, yaitu sebesar 0.2 µg/mL. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Yustinus (2010) menunjukkan bahwa konsentrasi diklofenak sebesar 2 µg/mL dapat menghambat aktivitas siklooksigenase-2 sebesar 95.43%. Konsentrasi diklofenak yang dipakai tersebut berkisar 10 kali lebih besar jika dibandingkan konsentrasi diklofenak yang dipakai dalam penelitian ini. Hal inilah yang dimungkinkan sebagai penyebab tidak adanya aktivitas penghambatan diklofenak pada penelitian ini.
Daya hambat ekstrak suruhan, jahe merah, dan campuran ekstrak (konsentrasi 1:1) pada
keempat ragam konsentrasi 6)
memperlihatkan bahwa ketiga ekstrak tersebut cenderung berpotensi sebagai inhibitor aktivitas siklooksigenase-2 karena telah dapat menghambat aktivitas dari siklooksigenase-2, kecuali ekstrak jahe merah pada konsentrasi 75 µg/mL dan campuran ekstrak (konsentrasi 1:1) pada konsentrasi 87.5 dan 700 µg/mL karena masing-masing mempunyai daya hambat berturut-turut sebesar -17.9%, -3.2%, dan -10.3%. Berdasarkan Gambar 6, diketahui pula bahwa hubungan antara konsentrasi ekstrak dengan daya hambatnya terhadap aktivitas siklooksigenase-2 tidak linear.
Kenaikan konsentrasi ekstrak tidak selalu diiringi dengan kenaikan daya hambatnya. Hal ini disebabkan ekstrak yang digunakan masih berupa ekstrak kasar yang terdiri atas beberapa golongan senyawa yang diduga memiliki respon berbeda. Liang et al. (1999) menunjukkan bahwa beberapa golongan flavonoid dapat menekan jumlah prostaglandin (sebagai inhibitor) tetapi ada juga yang dapat meningkatkan jumlah prostaglandin ketika konsentrasinya ditingkatkan. Apigenin, genistein, dan kaemperol dapat menurunkan prostaglandin ketika konsentrasinya ditambah dari 1 µM menjadi 5 µM. Tetapi untuk EGCG (epigallocatechin-3-gallate), mirisetin, dan kuersetin jumlah prostaglandinnya meningkat ketika konsentrasinya ditambah dari 1 µM menjadi 5 µM.
Daya hambat maksimum terhadap aktivitas siklooksigenase-2 dari seluruh ekstrak berkisar sebesar 45%, yaitu dicapai oleh ekstrak suruhan pada konsentrasi 100 dan 200 µg/mL, serta ekstrak jahe merah pada konsentrasi 150 dan 200 µg/mL yang besarnya berturut-turut, 47.5%, 43.2%, 43.2%, dan 44.4%. Daya hambat tertinggi dimiliki oleh ekstrak suruhan sebesar 47.5% pada konsentrasi 100 µg/mL. Hal ini tidak terlalu jauh dari hasil yang dicapai oleh ekstrak jahe merah pada konsentrasi 300 µg/mL, yaitu sebesar 44.4%. Tetapi jika dibandingkan, maka dapat dilihat bahwa ekstrak suruhan cenderung lebih potensial bila dibandingkan dengan ekstrak jahe merah dikarenakan dengan konsentrasi yang lebih sedikit,
suruhan dapat memberikan daya hambat terhadap aktivitas siklooksigenase-2 yang cenderung lebih besar.
Adapun campuran ekstrak suruhan dan jahe merah (konsentrasi 1:1) memiliki potensi sebagai inhibitor dalam menghambat aktivitas siklooksigenase-2 sebesar 15.2% dan 0.4% pada konsentrasi 175 dan 350 µg/mL. Jika dibandingkan dengan kedua ekstrak lain memang daya hambat campuran ekstrak cenderung lebih rendah tetapi tetap memiliki potensi dalam penghambatan siklooksigenase- 2. Hal ini dimungkinkan karena jika dilihat dari bioaktivitasnya, campuran ekstrak memiliki bioaktivitas yang lebih rendah dibandingkan kedua ekstrak lain yang ditunjukkan dengan nilai LC50 yang lebih tinggi. Hal lain mungkin dikarenakan konsentrasi dalam campuran ekstrak yang lebih kecil dibandingkan konsentrasi ekstrak tunggalnya. Juga adanya kemungkinan bahwa beberapa golongan senyawa dari campuran ekstrak memiliki respon yang saling mempengaruhi satu sama lain, yaitu berupa pengaruh yang tidak sinergis dalam menghambat siklooksigenase-2.
Senyawa aktif yang terdapat pada ekstrak suruhan maupun jahe merah yang diduga berperan sebagai antiinflamasi melalui penghambatan aktivitas siklooksigenase-2 adalah flavonoid. Flavonoid dapat menstabilkan Reactive Oxygen Species (ROS) dengan bereaksi dengan senyawa reaktif dari radikal sehingga radikal menjadi inaktif. Adanya radikal bebas dapat menarik berbagai mediator inflamasi. (Nijveldt et al. 2001).
12.1 47.5 43.2 27.7 -17.9 43.2 44.4 13.6 -3.2 15.2 0.4 -10.3 -30 -20 -10 0 10 20 30 40 50 60 1/8 LC50 1/4 LC50 1/2 LC50 LC50 Da y a H a m ba t ( %) Konsentrasi (µg/mL)
Gambar 6 Daya hambat ekstrak terhadap siklooksigenase-2. LC50 suruhan : 339.3 µg/mL ; LC50 jahe merah : 590.8 µg/mL ; LC50 campuran (konsentrasi 1:1) : 728.5 µg/mL
Flavonoid bekerja menghambat fase penting dalam biosintesis prostaglandin, yaitu pada lintasan siklooksigenase. Flavonoid juga menghambat fosfodiesterase, aldoreduktase, monoamine oksidase, protein kinase, DNA polymerase dan lipooksigenase (Kurniawati 2005). Beberapa golongan flavonoid telah dibuktikan memiliki efek antiradang khususnya golongan flavonoid dalam bentuk glikosida dengan menghambat siklooksigenase-2 (Gonzalez et al. 2007).
Tanin dan saponin di kedua ekstrak juga diduga juga dapat menghambat aktivitas siklooksigenase-2. Tanin diketahui mempunyai aktifitas antiinflamasi, astringen, antidiare, diuretik dan antiseptik (Khanbabaee & Ree 2001). Saponin diketahui mempunyai khasiat anti radang (antiinflamasi), bahkan steroidal saponin mempunyai hubungan dengan komponen, antara lain seperti kortison (Trease & Evans 2009). Kortison termasuk glukokortikoid yang mempunyai efek anti radang (Katzung 2002).
SIMPULAN DAN SARAN
SimpulanCampuran ekstrak suruhan dan jahe merah (konsentrasi 1:1) berpotensi menghambat siklooksigenase-2 (15.2% pada 175 µg/mL) dalam proses inflamasi secara in vitro, namun masih lebih rendah dari ekstrak tunggalnya. Hal ini dimungkinkan karena jika dilihat dari bioaktivitasnya, campuran ekstrak memiliki bioaktivitas yang lebih rendah dibandingkan kedua ekstrak lain yang ditunjukkan dengan nilai LC50 yang lebih tinggi. Ekstrak suruhan memiliki daya hambat maksimum terhadap siklooksigenase-2 yang lebih baik (47.5% pada 100 µg/mL) daripada ekstrak jahe merah (44.4% pada 300 µg/mL) dalam proses inflamasi secara in vitro.
Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan komponen aktif dari suruhan dan jahe merah yang berperan sebagai antiinflamasi. Dan dilakukan uji efek antiinflamasi dengan perbandingan konsentrasi campuran ekstrak suruhan dan jahe merah yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Agoes G. 2007. Teknologi Bahan Alam. Bandung: ITB Pr.
Alberto MR, Zampini IC, Isla MI. 2009. Inhibition of cyclooxygenase hydroalcoholic extracts of four asteraceae species from the Argentine pune. Braz J Med Biol Res 42: 787-790.
Bermawie N, Purwiyanti S. 2011. Jahe: Botani, Sistematika, dan Keragaman Kultivar Jahe. Bogor: Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik.
Cayman Chemical Company. 2011. COX Inhibitor Screening Assay Kit catalog No.560131, USA: Cayman Chemical Company.
Dannhardt G, Laufer S. 2000. Structural approach to explain the selectivity of COX-2 inhibitors: Is there a common pharmacophore?. Curr. Med. Chem 7: 1101–1112.
Darusman LK, Rohaeti E, Sulistiyani. 2001. Kajian senyawa golongan flavonoid asal tanaman bangle sebagai senyawa peluruh lemak melalui aktivitas lipase. Bogor: Pusat Studi Biofarmaka, Lembaga Penelitian IPB.
Egwuche RU, Odetola AA, Erukainure OL. 2011. Prelimary investigation into the chemical properties of peperomia pellucid L. Journal of Phytochemistry 5:48-53. Gholib D. 2008. Uji daya hambat ekstrak
etanol jahe merah dan jahe putih terhadap Trichophyton mentagrophytes dan Crytococcus neoformans. Di dalam: Sani Y, editor. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner; Bogor, 11-12 November 2008. 827-830. Gonzalez GJ, Sanchez CS, Tunon MJ. 2007.
Anti-inflammatory properties of dietary flavonoids. Nutr. Hosp. 22: 287-293. Harborne JB. 2007. Phytochemical Methods:
A Guide to Modern Techniques of Plant Analysis. London: Chapman and Hall. Hidayati NA, Listyawati S, Setyawan AD.
2008. Kandungan kimia dan uji antiinflamasi ekstrak etanol Lantana camara L. pada tikus putih (Rattus norvegicus L.) jantan. Bioteknologi 5: 10- 17.
Hidayati A, Perwitasari DA. 2011. Persepsi pengunjung apotek mengenai penggunaan
obat bahan alam sebagai alternatif pengobatan di Kelurahan Muja Muju Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta.
Prosiding Seminar Nasional “Home Care”;
Yogyakarta, Juni 2011.
Hua YX, Liu SF, Yang ZQ. 1999. Chinese Bencao. Shanghai: Shanghai Science & Technology Pr.
Khanbabaee, K. dan Ree, T. V. 2001. Tannins: Classification and Definition. Nat Prod Rep, 18: 641-649.
Katzung BG. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta : Salemba Medika.
Kurniawati, A. 2005. Uji Aktivitas Anti Inflamasi Ekstrak Metanol Graptophyllum griff pada Tikus Putih. Majalah Kedokteran Gigi Edisi Khusus Temu Ilmiah Nasional IV, 11-13 Agustus 2005: 167-170.
Leahy KM et al. 2002. Cyclooxygenase-2 inhibition by celecoxib reduces proliferation and induces apoptosis in angiogenic endothelial cells in vivo. Cancer Res 62: 625–631.
Lestari. 2006. Pengaruh nisbah rimpang dengan pelarut dan lama ekstraksi terhadap mutu oleoresin jahe merah [skripsi]. Bogor. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Lestari P. 2010. Karakteristik simplisiadan isolasi senyawa triterpenoida/steroida dari herba suruhan [skripsi]. Medan. Fakultas Farmasi, Universitas Sumatera Utara. Loomis. 1978. Toksikologi Dasar Edisi 3.
Semarang: IKIP Semarang Pr.
Liang et al. 1999. Suppression of inducible cyclooxygenase and inducible nitric oxide synthase by apigenin and related flavonoids in mouse macrophages. Carcinogenesis 20: 1945-1952.
Lumbanraja LB. 2009. Skrinning fitokimia dan uji efek antiinflamasi ekstrak etanol daun tempuyung (Sonchus arvensis L.) terhadap radang pada tikus [skripsi]. Medan. Fakultas Farmasi, Universitas Sumatera Utara.
Mahlinda, Maurina L. 2011. Proses pemurnian metanol hasil sintesa biodiesel
menggunakan rotary eveporator. Hasil Penelitian Industry 24: 20-27.
Meyer BN et al. 1982. Brine shrimp : A convenient general bioassay for active plant constituents. Plant Medica. 45: 31- 34.
Mudrikah F. 2006. Potensi ektrak jahe merah dan campurannya dengan herba suruhan sebagai antihiperurisemia pada tikus [skripsi]. Bogor. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertania Bogor.
Mutee et al. 2010. In vivo anti-inflammatory and in vitro antioxidant activities of peperomia pellucida. Journal of Pharmacology 6: 686-690.
Mycek MJ, Haevery RA, Champe PC. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi ke- 2. Azwar A, penerjemah. Jakarta: Widya Medika. Terjemahan dari: Pharmacology. Nijveldt RJ et al. 2001. Flavonoids: A review
of probable mechanisms of action and potential applications. American Journal of Clinical and Nutrition 74:418-425. Ojo OO, Ajayi SS, Owolabi LO. 2012.
Phytochemichal screening, anti-nutrient composition, proximate analyses and the antimicrobial activities of the aqueous and organic extracts of bark of Rauvolfia vomitoria and leaves of Peperomia pellucida. Int. Res. J. Biochem. Bioinform. 6:127-134.
Prosea. 1999. Plant Resources of South-East Asia: Medicinal and Poisonus Plants 1. Leiden: Backhyus Publishers.
Purnama EP. 2006. Pengaruh suhu reaksi terhadap derajat kristalinitas dan komposisi hidroksiapatit dibuat dengan media air dan cairan tubuh buatan [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.
Safaati NS. 2007. Potensi ramuan jahe merah dan herba suruhan sebagai antioksidan pada tikus putih hiperurisemia [skripsi]. Bogor : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.
medik dan bisnis [terhubung berkala]. http://mot.farmasi.ugm.ac.id/files/13OBA T%20HERBAL_Sampurno.pdf[19 November 2012].
Suradikusumah E. 1989. Kimia Tumbuhan. Bogor: Pusat Antar Universitas, Institut Pertanian Bogor.
Mansjoer S. 2003. Mekanisme kerja obat antiradang [terhubung berkala]. http://library.usu.ac.id/download/fk/farmas i-soewarni.pdf[21 November 2012] Simmons DL, Moore BC. 2000. COX-2
inhibition, apoptosis, and chemoprevention by nonsteroidal antiinflammatory drugs. Curr Med Chem 7: 1131-1144.
Stoilova I et al. 2007. Antioxidant activity of a ginger extract. Food Chemistry 102: 764-770.
Trease GE, Evans WC. 2009. Pharmacognosy 16th Ed. London: English language Book Society.
Wagner et al. 1999. Manual of the Flowering Plants of Hawai. Honolulu: University of Hawai.
Wijaya S, Monica SW. 2004. Uji efek antiinflamasi ekstrak herba suruhan pada tikus putih jantan. Hayati 9: 115-118. Wijayakusuma H. 2006. Atasi Asam Urat dan
Rematik Ala Hembing. Jakarta: Puspa Swara.
Wina E, Muetzel S, Becker K. 2005. The Impact of saponins or saponin-containing plant materials on ruminant production. J Agri Food Chem. 53: 93-105.
Yustinus CS. 2010. Daya inhibisi ekstrak rimpang jahe merah dan kulit kayu manis terhadap aktivitas enzim siklooksigenase 2 dan enzin xantin oksidase secara in vitro. [skripsi]. Bogor. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertania Bogor.