• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Contoh

Rata-rata prevalensi stunting di delapan provinsi berdasarkan hasil analisis

sebesar 28.11%, lebih rendah daripada rata-rata nasional sebesar 35.6%. Provinsi dengan prevalensi stunting terendah yaitu DI Yogyakarta (15.5%) dan tertinggi

yaitu Nusa Tenggara Timur (46.5%). Jika dibandingkan, terdapat perbedaan prevalensi stunting hasil analisis dengan hasil pada laporan Riskesdas 2010

dimana prevalensi stunting hasil analisis cenderung lebih rendah daripada hasil

laporan Riskesdas 2010, kecuali di provinsi Bali. Perbedaan tersebut diduga karena perhitungan prevalensi stunting pada analisis mempertimbangkan beberapa

kriteria inklusi dan eksklusi.

Tabel 13 Sebaran contoh berdasarkan provinsi dan status gizi

Provinsi

Normal (n=6262)

Stunting

(n=2448) Persentase pada laporan stunting Riskesdas 20101)

n % n %

Nusa Tenggara Timur 359 53.50 312 46.50 58.5

Nusa Tenggara Barat 403 63.36 233 36.64 39.6

Sumatera Utara 906 64.90 490 35.10 43.2 Jawa Barat 3164 73.98 1113 26.02 34.2 Bangka Belitung 194 79.84 49 20.16 28.6 Bali 357 81.69 80 18.31 15.6 DKI Jakarta 602 83.38 120 16.62 23.9 DI Yogyakarta 277 84.45 51 15.55 23.1 Total 6262 71.89 2448 28.11 35.6 1)Sumber: Balitbangkes (2010)

Usia, jenis kelamin dan status gizi

Penelitian ini menganalisis contoh anak usia sekolah dari rentang usia 6-12 tahun. Tabel 14 menunjukkan bahwa prevalensi contoh stunting signifikan lebih

tinggi pada kelompok usia 10-12 tahun dibandingkan pada kelompok usia 6-9 tahun. Rata-rata nilai z-skor TB/U contoh usia 10-12 tahun sebesar -1.32±1.50 SD, signifikan lebih rendah daripada contoh usia 6-9 tahun sebesar -1.09±1.67 SD (p<0.05). Rata-rata usia contoh stunting juga signifikan lebih tinggi dibandingkan

contoh normal. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa semakin bertambah usia, rata-rata nilai z-skor TB/U semakin menjauh dari nilai median seperti yang ditampilkan pada Gambar 4. Hasil ini sejalan dengan hasil kajian Friedman et al.

(2005), Mushtaq et al. (2011) dan Senbanjo et al. (2011).

Tabel 14 Sebaran contoh berdasarkan karakteristik contoh dan status gizi

Variabel

Normal

(n=6262) (n=2448)Stunting (n=8710) Total TB/Uz-skor 1) valuep- 2)

n % n % n % Usia 6-9 tahun 3771 73.80 1339 26.20 5110 58.67 -1.09±1.67a 0.000 10-12 tahun 2491 69.19 1109 30.81 3600 41.33 -1.32±1.50b Rata2±SD1) 8.84±1.96a 9.10±1.95b 8.91±1.96 Jenis kelamin Perempuan 3141 73.70 1121 26.30 4262 48.93 -1.15±1.58a 0.000 Laki-laki 3121 70.17 1327 29.83 4448 51.07 -1.21±1.63a Total 6262 71.89 2448 28.11 8710 100.00

1)uji t, huruf yang berbeda pada baris dan kolom yang sama menunjukkan p<0.05; 2)

chi-square

Gambar 3 Rata-rata nilai z-skor TB/U berdasarkan usia

Hasil analisis Senbanjo et al. (2011) menunjukkan bahwa penurunan

tinggi badan dibandingkan dengan referensi NCHS mencapai puncaknya di usia 12 tahun pada perempuan dan usia 13 tahun pada laki-laki. Penelitian longitudinal pada anak usia sekolah di Kenya menunjukkan bahwa indeks TB/U semakin menjauh dari nilai median NCHS sejalan dengan peningkatan usia (Friedman et al. 2005). Hasil analisis yang menunjukkan lebih tingginya prevalensi stunting

sejalan dengan peningkatan usia umumnya terjadi pada anak di negara-negara berpendapatan menengah ke bawah dimana setelah usia tiga bulan terjadi gangguan pertumbuhan yang secara persisten berjalan lambat sampai masa usia sekolah. Peningkatan prevalensi stunting sejalan dengan peningkatan usia telah

dihubungkan dengan percepatan pertumbuhan (growth spurt) yang tidak terjadi

atau lambat terjadi jika dibandingkan dengan anak normal (Senbanjo et al. 2011).

Persentase jumlah anak perempuan dan laki-laki pada analisis ini hampir sama yaitu perempuan sebesar 48.93% dan laki-laki sebesar 51.07%. Hasil analisis menunjukkan bahwa contoh laki-laki yang stunting signifikan lebih tinggi

dibandingkan contoh perempuan (Tabel 13). Rata-rata nilai z-skor TB/U contoh laki-laki sebesar -1.21±1.63 SD, sedikit lebih rendah dari contoh perempuan sebesar -1.15±1.58 SD, tetapi perbedaannya tidak signifikan (p=0.068) (Gambar 5). Hasil analisis ini sejalan dengan hasil kajian Lwambo et al. (2000), Friedman et al. (2005) dan Hasan et al. (2011) yang juga menunjukkan bahwa prevalensi stunting pada anak laki-laki signifikan lebih tinggi dibandingkan anak perempuan

berdasarkan hasil analisis bivariat. El Hioui et al. (2011) membuktikan adanya

hubungan signifikan antara stunting dengan jenis kelamin pada anak usia 12-15

tahun di Maroko. Penelitian longitudinal pada anak sekolah dasar kelas 1-3 menunjukkan anak laki-laki mengalami defisit tinggi badan sebesar 11.9 cm dan anak perempuan sebesar 8.5 cm dibandingkan nilai referensi (Stolzfus et al.

1997). Namun, berbeda dengan Senbanjo et al. (2011) dimana prevalensi stunting

lebih tinggi pada anak perempuan usia 5-9 tahun di Nigeria sedangkan Dekker et al. (2010) menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan antara stunting dengan

jenis kelamin anak.

Gambar 4 Sebaran nilai z-skor TB/U berdasarkan jenis kelamin

Berdasarkan hasil analisis, hampir sepertiga contoh tergolong stunting

(28.11%) dan 11.38% diantaranya masuk dalam kategori severe stunting (z-skor

TB/U <-3 SD). Rata-rata tinggi badan contoh stunting sebesar 114.70±10.94 cm

lebih rendah 14 cm dari rata-rata tinggi badan contoh normal (128.96±12.34 cm) dan perbedaannya signifikan (p<0.05). Rata-rata nilai z-skor TB/U contoh

stunting sebesar -3.06±0.93 signifikan lebih rendah dari contoh normal sebesar -

0.45±1.16 (p<0.05) (Gambar 5). Gambar 5 juga menunjukkan bahwa rata-rata nilai z-skor BB/U contoh stunting (-1.77±1.41 SD) signifikan lebih rendah

Perempuan (-1.15±1.58 SD)

daripada contoh normal (-0.49±1.36 SD) (p<0.05). Hasil penelitian Andiani (2013) menyatakan bahwa nilai z-skor BB/U <-2 SD (underweight) merupakan

salah satu faktor determinan stunting pada balita.

Gambar 5 Rata-rata nilai z-skor BB/U, TB/U dan IMT/U berdasarkan status gizi Pada indeks IMT/U, terjadi hal sebaliknya yaitu nilai z-skor IMT/U contoh

stunting signifikan lebih tinggi (0.05±1.89 SD) daripada contoh normal (-

0.40±1.60 SD) (p<0.05) walaupun nilai keduanya masih tergolong kategori normal. Hal ini didukung pula oleh rata-rata nilai IMT dimana rata-rata nilai IMT contoh stunting sebesar 17.13±4.01 kg/m2, signifikan lebih tinggi daripada contoh

normal yaitu sebesar 16.05±2.99 kg/m2 (p<0.05). Data tersebut menunjukkan bahwa contoh stunting cenderung lebih gemuk daripada contoh normal. Popkin et al. (1996) menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara stunting

dengan status overweight (indeks BB/TB) pada anak usia 3-9 tahun di empat

negara yaitu, Rusia, Brasil, Afrika Selatan dan Cina. Risiko anak stunted untuk

menjadi overweight sebesar 1.7 sampai 7.8 kali lebih tinggi dibandingkan anak

normal. Hasil yang serupa juga diperoleh Bove (2012) yang menunjukkan bahwa bayi stunting hampir tiga kali berisiko mengalami overweight (OR=2.7, CI

95%1.8-4.1). Mamabolo et al. (2005) juga menunjukkan terdapat 19% batita yang

mengalami stunting dan overweight secara bersamaan diantara 120 batita di

Afrika Selatan. Namun, berbeda halnya dengan Jinabhai et al. (2003) yang

meneliti anak usia 8-11 tahun di Afrika Selatan. Jinabhai et al. (2003) tidak

menemukan adanya hubungan antara stunting dengan overweight (p>0.05).

Adanya hubungan antara stunting dengan overweight/obesitas dapat

dijelaskan dengan mekanisme terjadinya perlambatan pertumbuhan dan perubahan respon hormonal yang dikombinasikan dengan konsumsi pangan yang buruk. Anak stunted memiliki massa tubuh tanpa lemak yang lebih sedikit

sehingga mengakibatkan penurunan tingkat metabolisme basal dan aktivitas fisik. Saat asupan energi mencukupi, terjadi perbedaan antara potensi pertumbuhan

-0.49 -0.45 -0.40 -1.77 -3.06 0.05 -0.84 -1.18 -0.27 -3.50 -3.00 -2.50 -2.00 -1.50 -1.00 -0.50 0.00 0.50

z-skor BB/U z-skor TB/U z-skor IMT/U

linear dengan deposisi jaringan adiposa. Hal tersebut dapat terjadi karena beberapa hal, yaitu asupan yang dikonsumsi tidak cukup mengandung zat gizi esensial untuk pertumbuhan linear tetapi cukup mengandung zat gizi yang dapat meningkatkan deposisi jaringan adiposa serta proses pemrograman gizi awal kemungkinan menghasilkan sejumlah pengaruh hormonal terhadap pertumbuhan linear yang terbatas, tetapi untuk potensi pertambahan berat badan tidak mengalami kekurangan pengaruh hormonal (Popkin et al. 1996). Stunting

menyebabkan serangkaian perubahan penting meliputi pengeluaran energi yang lebih rendah, lebih rentan terhadap pengaruh asupan tinggi lemak, oksidasi lemak yang lebih rendah, terganggunya pengaturan konsumsi pangan (Sawaya & Roberts 2003) serta metabolisme lemak terganggu (Li et al. 2010). Penelitian

longitudinal selama 36 bulan pada 30 anak perempuan usia 7-11 tahun di Brasil menunjukkan bahwa grup stunted memiliki resting metabolic rate lebih rendah

selama periode follow-up dengan perbedaan signifikan saat periode follow-up 24

dan 36 bulan. Hal tersebut berhubungan dengan peningkatan kecepatan pertambahan berat badan dan penurunan massa tanpa lemak ketika dibandingkan dengan grup normal. Kondisi ini mengindikasikan risiko obesitas pada grup

stunted (Grillo et al. 2005).

Stunting dan overweight yang terjadi bersamaan pada anak usia sekolah

dapat menggambarkan aspek transisi gizi (Jinabhai et al. 2003). Di masa lalu, stunting dan kurangnya akses terhadap pangan sangat berhubungan, tetapi

hubungan tersebut tidak sejelas di masa kini terutama di negara yang mengalami transisi gizi, seperti di Indonesia. Transisi gizi tersebut misalnya dalam hal perubahan pola makan dari diet tradisional menjadi diet dengan tipe Barat (padat energi, tinggi lemak dan rendah serat) atau diet tinggi karbohidrat tetapi rendah protein (Mamabolo et al. 2005) sehingga anak yang semula stunting dan kurang

berat badan menjadi kelebihan berat badan tetapi tetap stunting.

Karakteristik contoh yang dikeluarkan

Jumlah total contoh yang dikeluarkan sebanyak 2625 atau 23.16%. Persentase contoh yang dikeluarkan terbesar pada provinsi Nusa Tenggara Timur (26.34%) dan terkecil pada provinsi Bali (9.15%) (Tabel 15).

Tabel 15 Rata-rata z-skor TB/U contoh yang dikeluarkan berdasarkan provinsi

Provinsi n Contoh terpilih % z-skor TB/U* n Contoh yang dikeluarkan % z-skor TB/U* Nusa Tenggara Timur 671 73.66 -1.86±1.45a 240 26.34 -1.96±2.29a

Nusa Tenggara Barat 636 81.12 -1.56±1.45a 148 18.88 -1.78±2.30a

Sumatera Utara 1396 75.18 -1.50±1.67a 461 24.82 -1.23±2.80a Jawa Barat 4277 75.41 -1.12±1.58a 1395 24.59 -1.29±2.28b Bangka Belitung 243 80.20 -1.07±1.16a 60 19.80 -0.65±1.85a Bali 437 90.85 -0.70±1.60a 44 9.15 -0.37±2.03a DKI Jakarta 722 76.00 -0.49±1.73a 228 24.00 -0.63±2.44a DI Yogyakarta 328 87.00 -0.77±1.33a 49 13.00 -0.76±2.05a Total 8710 76.84 -1.18±1.61a 2625 23.16 -1.27±2.40a

Rata-rata z-skor TB/U contoh yang dikeluarkan cenderung lebih rendah (- 1.27±2.40 SD) dibandingkan contoh terpilih (-1.18±1.61 SD) tetapi tidak berbeda signifikan berdasarkan uji t (p=0.075). Hal ini didukung dengan grafik sebaran data z-skor TB/U semua contoh sebelum di-cleaning yang tidak berbeda dengan

sebaran data z-skor TB/U contoh terpilih. Contoh yang dikeluarkan juga cenderung lebih banyak berjenis kelamin perempuan, berusia lebih tua (10-12 tahun), tinggal di pedesaan dan berasal dari rumah tangga dengan pengeluaran menengah ke bawah (kuintil 1 dan 2). Tingkat kecukupan energi dan protein contoh yang dikeluarkan juga signifikan lebih rendah dibandingkan contoh terpilih (p<0.05).

Karakteristik Keluarga Tinggi badan Ibu

Tinggi badan Ibu merupakan salah satu faktor penting yang diketahui memiliki hubungan dengan status gizi TB/U anak. Secara keseluruhan, terdapat 9.63% Ibu tergolong pendek (TB<145 cm). Rata-rata tinggi badan Ibu contoh

stunting lebih rendah 1 cm dibandingkan contoh normal dan perbedaannya

signifikan (Tabel 16). Rata-rata nilai z-skor TB/U contoh yang Ibunya tergolong pendek (TB<145 cm) sebesar -1.67±1.34 SD, signifikan lebih rendah dibandingkan contoh yang Ibunya tergolong normal (TB≥145 cm) yaitu - 1.13±1.63 SD (p<0.05). Tabel 16 juga menunjukkan bahwa persentase contoh

stunting signifikan lebih tinggi pada kategori Ibu dengan tinggi badan <145 cm

dibandingkan dengan Ibu normal (TB≥145 cm). Hasil analisis ini sejalan dengan Dekker et al. (2010) yang juga menunjukkan bahwa prevalensi anak stunting

signifikan lebih tinggi pada ibu dengan TB <154 cm (kuintil terendah) dibandingkan ibu dengan TB≥162 cm (kuintil tertinggi). Rona et al. (2003) juga

membuktikan bahwa tinggi badan Ibu berhubungan signifikan dengan tinggi badan anak usia 4-10 tahun.

Tabel 16 Sebaran contoh berdasarkan tinggi badan Ibu dan status gizi

Kategori (n=6262) Normal

Stunting

(n=2448) (n=8710) Total TB/Uz-skor 1) valuep- 2)

n % n % N % ≥ 145 cm 5753 73.09 2118 26.91 7871 90.37 -1.13±1.63a 0.000 < 145 cm 509 60.67 330 39.33 839 9.63 -1.67±1.34b Rata2±SD1) 152.34±5.93a 151.10±6.29b 152.02±6.06 Total 6262 71.89 2448 28.11 8710 100.00

1)uji t, huruf yang berbeda pada baris dan kolom yang sama menunjukkan p<0.05; 2)

chi-square Usia orangtua

Tabel 17 menunjukkan bahwa rata-rata usia Ayah sebesar 41 tahun sedangkan usia Ibu sebesar 36 tahun. Rata-rata usia Ayah dan Ibu pada kategori contoh stunting dan normal juga tidak berbeda (p>0.05). Hasil uji chi-square

Ibu (p>0.05). Rata-rata z-skor TB/U contoh berdasarkan usia Ayah (-1.22±1.60 vs -1.15±1.62 SD) dan usia Ibu juga tidak berbeda (-1.18±1.61 vs -1.18±1.60 SD).

Tabel 17 Sebaran contoh berdasarkan usia orangtua dan status gizi

Variabel

Normal (n=6262)

Stunting

(n=2448) (n=8710) Total TB/Uz-skor 1) valuep- 2)

n % n % n % Usia Ayah < 40 tahun 2822 71.90 1103 28.10 3925 45.06 -1.22±1.60a 0.994 ш 40 tahun 3440 71.89 1345 28.11 4785 54.94 -1.15±1.62a Rata2±SD1) 41.36±7.67a 41.25±8.12a 41.33±7.80 Usia Ibu < 40 tahun 4227 71.73 1666 28.27 5893 67.66 -1.18±1.61a 0.620 ш 40 tahun 2035 72.24 782 27.76 2817 32.34 -1.18±1.60a Rata2±SD1) 36.81±6.70a 36.62±6.83a 36.75±6.73 Total 6262 71.89 2448 28.11 8710 100.00

1)uji t, huruf yang berbeda pada baris dan kolom yang sama menunjukkan p<0.05; 2)

chi-square Hasil analisis ini sejalan dengan kajian Dekker et al. (2010) yang juga

menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan antara usia Ibu dengan stunting

pada anak usia sekolah di Kolombia. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa anak

stunting tersebar merata pada semua kelompok usia orangtua. Seperti tersaji pada

Tabel 17, prevalensi stunting pada kedua kategori usia Ayah sama yaitu sekitar

28% dan Ibu hanya berbeda 0.5%. Selain itu, rata-rata usia Ayah dan Ibu pada kelompok contoh normal dan stunting juga tidak berbeda yaitu sama-sama 41

tahun (Ayah) dan 36 tahun (Ibu). Hal ini juga sama dengan hasil analisis Dekker

et al. (2010) dimana prevalensi stunting pada semua kelompok usia Ibu hampir

sama yaitu sekitar 25%.

Tingkat pendidikan orangtua

Tingkat pendidikan orangtua merupakan salah satu karakteristik penting yang dapat menggambarkan kondisi sosial ekonomi keluarga contoh. Tabel 18 menyajikan sebaran contoh berdasarkan tingkat pendidikan orangtua. Sekitar setengah dari total Ayah dan Ibu berpendidikan hanya sampai tamat SD (47.75% Ayah dan 52.59% Ibu) serta sebanyak 3.31% Ayah dan 4.13% Ibu tidak pernah sekolah. Sekitar 12% Ayah maupun Ibu contoh tidak tamat SD. Hanya kurang dari 10% Ayah dan Ibu contoh yang berpendidikan Perguruan Tinggi (PT).

Tabel 18 menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan semakin rendah tingkat pendidikan orangtua, semakin tinggi persentase contoh stunting. Rata-rata

nilai z-skor TB/U contoh yang orangtuanya berpendidikan ≤ tamat SD signifikan lebih rendah dibandingkan contoh yang orangtuanya berpendidikan SMP-SMA dan PT (p<0.05) serta rata-rata z-skor TB/U contoh yang orangtuanya berpendidikan SMP-SMA juga signifikan lebih rendah dengan orangtua berpendidikan PT (p<0.05). Hasil uji chi-square juga membuktikan bahwa

terdapat hubungan antara tingkat pendidikan orangtua dengan stunting pada

Tabel 18 Sebaran contoh berdasarkan tingkat pendidikan orangtua dan status gizi

Variabel (n=6262) Normal

Stunting

(n=2448) (n=8710) Total TB/Uz-skor 1) valuep- 2)

n % n % n % Tk. Pendidikan Ayah PT 644 83.20 130 16.80 774 8.89 -0.64±1.58a 0.000 SMP-SMA 2836 75.09 941 24.91 3777 43.36 -1.05±1.61b ≤ Tamat SD 2782 66.89 1377 33.11 4159 47.75 -1.40±1.57c Tk. Pendidikan Ibu PT 515 85.83 85 14.17 600 6.89 -0.50±1.52a 0.000 SMP-SMA 2653 75.18 876 24.82 3529 40.52 -1.05±1.61b ≤ Tamat SD 3094 67.54 1487 32.46 4581 52.59 -1.37±1.58c Total 6262 71.89 2448 28.11 8710 100.00

1)one way Anova, huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan p<0.05; 2)

chi-square Hasil yang sama juga ditemukan oleh Senbanjo et al. (2011) yaitu

prevalensi stunting signifikan lebih tinggi pada anak yang orangtuanya

berpendidikan rendah (≤pendidikan menengah). Prevalensi stunting juga

signifikan lebih tinggi pada anak dengan Ibu yang tidak tamat SD dibandingkan Ibu dengan pendidikan tamat SD sampai Perguruan Tinggi (Dekker et al. 2010). Stunting pada anak dengan orangtua yang buta huruf juga signifikan lebih tinggi

dibandingkan anak dengan orangtua berpendidikan lebih tinggi (Mushtaq et al.

2011).

Penyakit infeksi orangtua

Penyakit infeksi orangtua pada analisis ini yaitu penyakit Tuberkulosis paru (TB paru). Penyakit TB paru pada orangtua merupakan salah satu indikasi tidak langsung dari keadaan sosial ekonomi orangtua (keluarga). Orangtua contoh yang mengidap penyakit TB paru biasanya berasal dari status sosial ekonomi menengah ke bawah karena TB paru dan kemiskinan sangat erat hubungannya (WHO 2000b).

Tabel 19 Sebaran contoh berdasarkan penyakit infeksi orangtua dan status gizi

Variabel (n=6262) Normal

Stunting

(n=2448) (n=8710) Total TB/Uz-skor 1) valuep- 2)

n % n % n %

Penyakit Infeksi (TB paru) Ayah

Tidak 6118 71.82 2400 28.18 8518 97.80 -1.19±1.61a

0.333

Ya 144 75.00 48 25.00 192 2.20 -1.02±1.42a

Penyakit Infeksi (TB paru) Ibu

Tidak 6164 71.87 2413 28.13 8577 98.47 -1.18±1.61a

0.644

Ya 98 73.68 35 26.32 133 1.53 -1.09±1.43a

Total 6262 71.89 2448 28.11 8710 100.00

1)uji t, huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan p<0.05; 2)

Sebanyak 192 Ayah contoh (2.2%) pernah didiagnosis TB paru dengan rincian 48 diantaranya merupakan Ayah dari contoh stunting. Selain itu, dari 192

Ayah contoh tersebut, 66 diantaranya masih mengidap TB paru dalam 1 tahun terakhir. Sama halnya dengan Ayah contoh, hanya 133 Ibu contoh (1.53%) yang pernah didiagnosis TB paru dan 35 diantaranya merupakan Ibu dari contoh

stunting. Sebanyak 54 orang Ibu contoh masih mengidap TB paru 1 tahun

terakhir. Persentase contoh stunting cenderung lebih tinggi pada kelompok

orangtua yang tidak pernah didiagnosis TB paru walaupun perbedaannya dengan kelompok orangtua yang pernah didiagnosis TB paru tidak signifikan (p>0.05). Hal tersebut diduga karena persentase orangtua yang pernah didiagnosis TB paru sangat kecil (<3%). Rata-rata z-skor TB/U contoh berdasarkan penyakit TB paru Ayah (-1.19±1.61 vs -1.02±1.42 SD) dan penyakit TB paru Ibu juga tidak berbeda (-1.18±1.61 vs -1.09±1.43 SD) (p>0.05) (Tabel 19).

Analisis ini ingin mencoba melihat hubungan antara penyakit infeksi pada orangtua yaitu TB paru dengan kejadian stunting pada anak. Walaupun hasilnya

tidak terbukti ada hubungan dan bahkan prevalensi stunting cenderung lebih

rendah pada orangtua yang didiagnosis TB paru, penyakit TB paru dapat menjadi salah satu indikator kondisi sosial ekonomi keluarga contoh. TB paru sangat erat hubungannya dengan kemiskinan. Rumah tangga miskin biasanya tinggal di lingkungan padat penduduk sehingga lebih rentan saling menularkan penyakit. Probabilitas untuk terinfeksi berhubungan dengan malnutrisi, lingkungan padat penduduk, sirkulasi udara dan sanitasi yang buruk. Ketika misalkan yang terinfeksi adalah orangtua (khususnya Ayah), pendapatan rumah tangga menurun karena tidak ada yang bekerja untuk menambah pendapatan. Selain itu, jika Ibu juga terinfeksi, aktivitas rumah tangga yang biasanya Ibu lakukan seperti memasak, membersihkan rumah dan mengasuh anak menjadi berkurang (WHO 2000b). Hal tersebut secara tidak langsung dapat mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan anak.

Kebiasaan merokok orangtua

Kebiasaan merokok orangtua pada analisis ini merupakan kebiasaan merokok orangtua selama satu bulan terakhir. Orangtua yang memiliki kebiasaan merokok diketahui dapat mempengaruhi proses pertumbuhan anak. Tabel 20 menyajikan sebaran contoh berdasarkan kebiasaan merokok orangtua.

Tabel 20 Sebaran contoh berdasarkan kebiasaan merokok orangtua dan status gizi

Variabel (n=6262) Normal

Stunting

(n=2448) (n=8710) Total TB/Uz-skor 1) valuep- 2)

n % n % n %

Kebiasaan merokok Ayah

Tidak 990 74.72 335 25.28 1325 15.21 -1.01±1.71a

0.013 Ya 5272 71.39 2113 28.61 7385 84.79 -1.21±1.59b

Kebiasaan merokok Ibu

Tidak 5881 72.08 2278 27.92 8159 93.67 -1.17±1.61a

0.138

Ya 381 69.15 170 30.85 551 6.33 -1.31±1.57a

Total 6262 71.89 2448 28.11 8710 100.00

1)uji t, huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan p<0.05; 2)

Tabel 20 menunjukkan bahwa sebanyak 84.79% Ayah memiliki kebiasaan merokok sedangkan ada 6.33% Ibu yang terbiasa merokok. Persentase Ayah yang merokok pada analisis ini lebih tinggi daripada hasil kajian Semba et al. (2007)

dan Best et al. (2008) yang menunjukkan bahwa sebanyak berturut-turut 73.8%

Ayah di perkotaan dan 73.1% Ayah di pedesaan pada keluarga miskin Indonesia terbiasa merokok.

Persentase contoh stunting cenderung lebih tinggi pada kelompok baik

Ayah maupun Ibu yang memiliki kebiasaan merokok dibandingkan pada kelompok Ayah dan Ibu yang tidak merokok. Rata-rata nilai z-skor TB/U contoh pada kelompok Ayah merokok signifikan lebih rendah (p<0.05) dibandingkan dengan kelompok Ayah tidak merokok (-1.21±1.59 vs -1.01±1.71 SD). Begitu pula halnya dengan contoh pada kelompok Ibu merokok, rata-rata nilai z-skor TB/U contoh lebih rendah daripada kelompok Ibu tidak merokok (-1.31±1.57 vs - 1.17±1.61 SD), tetapi perbedaannya tidak signifikan (p>0.05). Namun berdasarkan hasil uji chi-square, hanya kebiasaan merokok Ayah yang terbukti

berhubungan dengan stunting pada contoh (p=0.013). Stunting pada contoh tidak

berhubungan dengan kebiasaan merokok Ibu (p=0.138).

Hasil analisis ini memperkuat hasil penelitian Semba et al. (2007) dan

Best et al. (2008) pada keluarga miskin perkotaan dan pedesaan Indonesia yang

menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara status merokok Ayah dengan stunting pada balita. Namun, Semba et al. (2007) berhasil membuktikan

adanya hubungan signifikan antara status merokok Ibu dengan stunting pada

balita. Tidak terbuktinya hubungan signifikan antara status merokok Ibu dengan

stunting contoh pada analisis ini diduga karena persentase Ibu yang merokok

sangat rendah (6.33%) walaupun terdapat kecenderungan prevalensi contoh

stunting lebih tinggi pada Ibu yang merokok (30.85%) dibandingkan yang tidak

merokok (27.92%). Mushtaq et al. (2011) juga membuktikan adanya hubungan

antara merokok di lingkungan tempat tinggal dengan stunting pada anak sekolah

dasar di Pakistan.

Pada rumah tangga dengan Ayah seorang perokok, proporsi pengeluaran per kapita mingguan untuk pangan berkualitas baik seperti telur, ikan, buah dan sayur berkurang. Semba et al. (2007) menunjukkan bahwa rokok menyumbang

pengeluaran rumah tangga per kapita mingguan sebesar 22% pada rumah tangga miskin di perkotaan Indonesia dengan Ayah perokok. WHO telah menyatakan tiga mekanisme rokok dapat memperparah kondisi kemiskinan pada tingkat rumah tangga yaitu pengeluaran untuk rokok mengambil alih pengeluaran yang seharusnya dikeluarkan untuk kebutuhan dasar, merokok mengakibatkan peningkatan kebutuhan perawatan kesehatan, hilangnya produktivitas dan kematian dini serta orang yang bekerja di lapangan pekerjaan terkait rokok mendapat upah yang rendah dan risiko kesehatan yang tinggi (Semba et al. 2007).

Hasil analisis mengenai hubungan status merokok dengan stunting pada

contoh ini menunjukkan bahwa asap rokok dapat mempengaruhi proses pertumbuhan anak. Asap rokok mengandung banyak polutan berbahaya. Beberapa polutan beracun yang ditemukan pada rokok meliputi karbon monoksida, benzena dan 1-3-butadien. Studi pada hewan coba menunjukkan bahwa janin tikus yang terpapar benzena mengalami penundaan perkembangan tulang. Nikotin yang

ditemukan pada rokok berpengaruh langsung terhadap proses penundaan pertumbuhan tulang (Kyu et al. 2009). Orangtua yang merokok juga dapat

menyebabkan anak terpapar asap rokok yang dapat meningkatkan risiko penyakit saluran pernafasan. Infeksi saluran pernafasan dan asma dapat menyebabkan defisit pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Asap rokok juga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin. Sejumlah karsinogen pada asap rokok dan metabolitnya melewati plasenta menuju janin dan mengakibatkan rusaknya DNA dan mengganggu perkembangan sistem organ janin. Diduga hal tersebut akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak di tahap kehidupan selanjutnya (Best et al. 2008).

Jenis pekerjaan orangtua

Tabel 21 menunjukkan sebaran jenis pekerjaan orangtua contoh. Bagian terbesar Ayah contoh bekerja dalam bidang wiraswasta/jasa/dagang (34.83%) diikuti dengan buruh (23.24%) dan petani (22.93%). Terdapat 1.5% Ayah contoh yang tidak bekerja. Lain halnya dengan Ayah, hampir setengah dari Ibu contoh tidak bekerja atau sebagai Ibu rumah tangga (49.77%). Sebagian besar Ibu contoh tidak bekerja juga ditemukan oleh Hasan et al. (2011) yaitu sebanyak 62.4% Ibu

tidak bekerja atau menjadi ibu rumah tangga. Fenomena ini diduga karena lebih sedikitnya kesempatan kerja Ibu karena tingkat pendidikan yang rendah. Hal ini dapat dijelaskan melalui data pada Tabel 18 yang menunjukkan bahwa lebih banyak Ibu (52.59%) dibandingkan Ayah (47.75%) yang berpendidikan ≤tamat SD.

Tabel 21 Sebaran jenis pekerjaan orangtua contoh

Jenis pekerjaan n Ayah % n Ibu %

Tidak bekerja 131 1.50 4335 49.77 Sekolah 4 0.05 16 0.18 TNI/POLRI 94 1.08 4 0.05 PNS/pegawai 1042 11.96 450 5.17 Wiraswasta/jasa/dagang 3034 34.83 1085 12.46 Petani 1997 22.93 1475 16.93 Nelayan 123 1.41 9 0.10 Buruh 2024 23.24 563 6.46 Lainnya 261 3.00 773 8.87 Total 8710 100.00 8710 100.00

Indeks Massa Tubuh (IMT) orangtua

Status gizi orangtua yang dilihat berdasarkan IMT diduga memiliki hubungan dengan status gizi contoh, khususnya stunting. Tabel 22 menunjukkan

sebaran contoh berdasarkan IMT orangtua. Tabel 22 menunjukkan bahwa sebagian besar IMT Ayah (71.54%) dan IMT Ibu (59.81%) tergolong normal. Hanya sekitar <10% Ayah dan Ibu yang tergolong kurus (IMT <18.5 kg/m2).

Tabel 22 Sebaran contoh berdasarkan IMT orangtua dan status gizi

Dokumen terkait