• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam dokumen Sifat Pemesinan Kayu Ekaliptus (Halaman 30-44)

Rekapitulasi rata-rata permukaan cacat dan bebas cacat pada kayu ekaliptus pada seluruh proses pengerjaan disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Persentase Rata-rata Permukaan Cacat dan Bebas cacat pada Kayu Ekaliptus

No Pengujian Cacat Permukaan (%) Permukaan Sifat

Bulu Tanda Serat Penyobekan Bebas Pemesinan

Halus Serpih Terserpih Cacat (%)

1 Penyerutan 2,75 18,33 4,05 - 81,48 SB 2 Pembentukan 4,72 - 12,50 - 89,49 SB 3 Pengeboran 11,30 - - 6,96 86,25 SB 4 Pengampelasan 3,33 - - - 99,84 SB 5 Pelubang Persegi 7,39 - - 6,66 97,17 SB 6 Pembubutan 18,33 - - - 99,13 SB Rata-rata 7,97 18,33 8,27 6,81 92,23 Keterangan SB = Sangat baik

Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu ekaliptus menunjukkan kualitas sifat pemesinan sangat baik (kelas I).

Penyerutan (Planing)

Penyerutan adalah proses pemesinan yang paling umum nomor dua setelah penggergajian. Penentuan kualitas permukaan kayu hasil dari proses penyerutan pada umumnya berdasarkan permukaan bebas cacat Davis (1962) dalam Siswanto (2002). Berdasarkan proses penyerutan yang telah dilakukan, diperoleh nilai bebas cacat dan kelas mutu yang disajikan pada Tabel 1. Dari tabel tersebut dapat dilihat

bahwa kayu ekaliptus menunjukkan kualitas penyerutan mutu sangat baik (kelas I), dengan persentase permukaan bebas cacat 81,48%.

Luas permukaan bebas cacat pada sampel berkaitan dengan cacat-cacat pemesinan yang muncul pada proses penyerutan, yaitu cacat bulu halus (fuzzy

grain), serat terserpih (chip grain), serta tanda serpih (chip mark). Pada kayu

ekaliptus, cacat yang terbesar adalah cacat tanda serpih dengan persentase sebesar 18,33% yang diikuti dengan cacat serat terserpih sebesar 4,05%, kemudian cacat bulu halus dengan persentase cacatnya 2,75%.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ramawati (2006) cacat-cacat yang timbul pada proses penyerutan adalah cacat bulu halus, cacat tanda serpih, serat terserpih. Sedangkan cacat serat terangkat sangat kecil akibat proses penyerutan.

Gambar 2. Hasil Penyerutan Kayu Ekaliptus

Serat terserpih adalah cacat berupa terserpih/tercabiknya sekelompok serabut kayu karena proses penyerutan, sehingga serat kayu terlepas dan terbentuk lekukan pada permukaan kayu. Cacat ini diduga timbul pada permukaan kayu yang memiliki serat terpadu. Menurut Darmawan (1997) dalam Siswanto (2002) adanya miring serat dan serat berpadu ini cenderung merangsang timbulnya cacat pengetaman yang disebut cacat serat terserpih.

Gambar 3. Cacat Serat Terserpih Hasil Proses Penyerutan Kayu Ekaliptus Menurut Darmawan (1997) dalam Adha (2005), cacat tanda serpih terbentuk akibat rendahnya kekerasan kayu, sehingga tatal-tatal kayu yang terbentuk akan sangat mudah dilekukan pada permukaan papan yang telah diketam oleh pisau-pisau pengetam. Cacat jenis ini dapat dikurangi dengan cara menyemprotkan permukaan mata pisau dengan suatu larutan pelicin dan juga disarankan agar pipa penghisap tatal berfungsi dengan sempurna. Dijelaskan oleh Bakar (2003) dalam Sitinjak (2008), bahwa spesies yang mempunyai kerapatan rendah menghasilkan permukaan potong yang lebih kasar dibandingkan dengan spesies yang berkerapatan tinggi. Dari lampiran 1 dapat dilihat bahwa kayu ekaliptus mempunyai kerapatan sebesar 0,64 gr/cm³.

Menurut SNI 01-500.4-1999 dalam Ruhendi dan Sucipto (2003) bekas tanda serpih adalah cacat berupa cekungan dangkal pada permukaan kayu yang disebabkan oleh adanya serpih yang tertinggal, baik pada saat penyerutan maupun pada saat pembentukan. Tanda serpih kemungkinan terjadi dikarenakan mata pisau pemotong kayu tidak tajam (tumpul) sehingga pada saat pemotongan kayu tidak terpotong sempurna. Darmawan (1997) dalam Sitinjak (2008) mengatakan tanda serpih dapat disebabkan oleh adanya kayu yang menempel pada ujung pisau

sehingga ujung pisau menjadi tumpul dan disebabkan oleh resin kayu terlalu tinggi.

Gambar 4. Cacat Tanda Serpih Hasil Proses Penyerutan Kayu Ekaliptus

Gambar 5. Cacat Bulu Halus Hasil Proses Penyerutan Kayu Ekaliptus Pada beberapa sampel tidak ditemukan adanya cacat bulu halus seperti pada Gambar 5, meskipun jumlah persentase yang ditunjukkan pada Tabel 2 menyatakan bahwa cacat bulu halus pada kayu ekaliptus dari hasil penyerutan sebesar 2,75%. Bulu halus merupakan cacat berupa kekasaran permukaan kayu karena adanya sekelompok serabut yang berdiri (tidak terpotong sempurna) pada contoh uji. Cacat ini biasanya ditemukan pada perbatasan kayu gubal dan kayu teras serta pada pinggir kayu. Timbulnya cacat ini diduga adanya perbedaan kadar air pada kayu gubal (KA tinggi) dan kayu teras (KA rendah), sehingga terjadi

pemotongan yang tidak sempurna pada daerah tersebut dan timbul cacat bulu halus.

Cacat bulu halus terjadi diduga juga karena mesin ketam yang digunakan sudah tumpul. Seperti yang dinyatakan oleh Darmawan (1997) dalam Siswanto (2002), banyak faktor yang memainkan peranan penting dalam menentukan kualitas hasil pengetaman. Salah satu dari faktor tersebut berasal dari jenis kayu yang sedang diserut dimana jenis kayu yang bagus menghasilkan serutan yang bagus pula dan jenis kayu yang kurang bagus menghasilkan serutan yang kurang bagus pula, sedangkan beberapa faktor lainnya dapat berasal dari mesin ketam yang dipergunakan. Sehingga dimungkinkan bisa menjadi penyebab serat kayu tidak terpotong sempurna, sehingga dengan terdapat sekelompok serat bulu halus yang masih berdiri.

Cacat bulu halus juga sering ditemukan pada permukaan papan gergajian yang berasal dari kayu reaksi. Diduga karena kayu reaksi memiliki berat jenis yang lebih tinggi dari pada kayu biasa. Kayu dengan berat jenis yang tinggi akan sulit dikerjakan meskipun akan menghasilkan kayu gergajian dengan kualitas pemesinan yang baik tetapi dalam pengerjaannya membutuhkan tenaga yang berkali-kali lipat dari pengerjaan kayu biasa. Pengerjaan jenis kayu ini membuat mata pisau yang digunakan menjadi panas sehingga menyulitkan penyelesaian akhir yang memuaskan. Menurut Siswanto (2002), kayu reaksi sukar untuk dikerjakan menjadi bentukan lain, susah untuk digergaji, diketam dan hasil ketamannya berbulu atau berbulu halus.

Menurut Lerch (1987) bahwa untuk meratakan benda kerja, arah serat dan tebal benda kerja harus diperhatikan. tebal benda kerja juga diukur, agar

ketebalaan benda kerja yang diketam dapat ditentukan. Menurut Maloney et al. (1995) dalam Siswanto (2002), kecepatan pengumpanan, kadar air kayu dan sudut potong kayu adalah variabel-variabel penting yang diketahui sebagai penduga kualitas penyerutan. Hasil terbaik pada proses penyerutan akan dicapai pada tebal serutan akhir tidak kurang dari 1 mm dan tidak lebih dari 2 mm. Kayu ekaliptus mempunyai kadar air sebesar 17,89%.

Pembentukan (Shaping)

Secara umum kayu ekaliptus memiliki kualitas pembentukan sangat baik (kelas I), dengan rata-rata persentase bebas cacat sebesar 89,49%. Cacat permukaan dan nilai bebas dapat dilihat pada tabel 2 .

Cacat-cacat yang timbul akibat proses pembentukan antara lain cacat bulu halus dan serat terserpih. Persentase cacat permukaan pada kayu ekaliptus untuk cacat bulu halus sebesar 4,72 dan persentase cacat permukaan serat terserpih sebesar 12,50.

Hasil penelitian yang dilakukan Mulyono (2000), jenis cacat yang ditimbulkan pada proses pembentukan didominasi oleh jenis cacat serat bulu. Seperti halnya pengetaman, bahwa cacat serat berbulu timbul karena adanya kelembaban kayu.

Gambar 6. Hasil Pembentukan pada Kayu Ekaliptus

Gambar 7. Cacat Bulu Halus Hasil Proses Pembentukan Kayu Ekaliptus Cacat bulu halus diduga timbul karena serat-serat kayu yang berpadu tidak terpotong sempurna oleh mata pisau sehingga terjadi kerusakan serat-serat kayu yang mengakibatkan terbentuknya cacat serat berbulu pada bidang pemotongan. Berdasarkan hasil penelitian Adha (2005), bahwa proses pembentukan menyebabkan sudut potong pisau dengan arah serat kayu menjadi tegak lurus, sehingga serat kayu yang tidak terpotong sempurna akan berdiri dan membentuk bulu-bulu halus. Hal ini dikuatkan dengan adanya bagian kayu dengan arah serat berpadu.

Gambar 8. Cacat Serat Terserpih Hasil Proses Pembentukan Kayu Ekaliptus Serat terserpih diduga timbul karena pada saat pemotongan kayu ekaliptus tidak searah dengan serat, mata pisau yang tumpul serta sudut potong pisau yang terlalu besar sehingga pisau yang memotong kayu tersebut mengangkat serat sehingga serat tersebut menjadi seperti serabut yang terlepas. Menurut Darmawan (1997) dalam Sitinjak (2008), serat terserpih ini disebabkan oleh mata pisau yang tumpul serta sudut potong pisau yang terlalu besar.

Pengeboran (Boring)

Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kayu ekaliptus menunjukkan kualitas pengeboran sangat baik (kelas I) dengan persentase permukaan bebas cacat sebesar 86,25%. Cacat-cacat yang muncul pada hasil uji pengeboran yang disajikan pada lampiran 4 adalah bulu halus dan serat tersobek. Cacat yang paling banyak muncul adalah bulu halus sebesar 11,30% , diikuti serat tersobek sebesar 6,96%.

Priyatno (2003) dalam Sitinjak (2008) menambahkan bahwa adanya serat patah, terjadi karena pada saat pemesinan permukaan papan uji tercabut dengan paksa. Hal ini terjadi diduga mata bor yang kurang tajam. Pengamatan selama proses pengeboran dilakukan, menunjukkan adanya kecenderungan bahwa

kestabilan tapak/alat saat mengebor sangat mempengaruhi munculnya cacat tersebut. Berbeda dengan proses pengetaman dan pengamplasan, kondisi kayu sebelum dilakukan pengeboran juga sangat mempengaruhi hasil akhir pengeboran. Hal ini diduga terjadi karena mekanisme dan arah potong pada proses pengeboran sedikit berbeda dengan kedua proses tersebut. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahayu et al., (2005) cacat-cacat yang timbul pada proses pengeboran adalah cacat serat terangkat, cacat tanda serpih.

Gambar 9. Hasil Proses Pengeboran Kayu Ekaliptus

Gambar 11. Cacat Penyobekan Hasil Proses Pengeboran Kayu Ekaliptus Priyatno (2003) dalam Sitinjak (2008) menjelaskan bahwa pada mata bor terdapat dua sisi tajam yang bekerja, dimana sisi yang satu bekerja untuk membuat tapak dan melubangi workpiece secara tegak lurus/cross cutting (arah potong 90-90), sedang sisi lainnya berfungsi untuk mendesak dan memotong bagian dalam kayu yang dibor hingga terbentuk lubang bor sesuai ukuran mata bor yang digunakan.

Pengampelasan (Sanding)

Secara umum hasil pengampelasan yang diperoleh untuk kayu ekaliptus termasuk kedalam kelas sangat baik (kelas I). Dengan cacat teramati adalah bulu halus sebesar 3,33% seperti pada Tabel 2. Nilai rata-rata persentase bebas cacat terbesar 99,84%.

Gambar 13. Cacat Bulu Halus Hasil Pengampelasan Kayu Ekaliptus Berbeda dengan dengan hasil penyerutan, pada pengampelasan cacat bulu halus seperti pada Gambar 13 lebih merata pada hampir semua contoh uji, yang ditandai dengan berdirinya serat-serat kayu. Davis (1965) dalam Siswanto (2002) menyatakan bahwa cacat bulu halus lebih sering muncul pada proses pengampelasan dari pada penyerutan, karena serat-serat kayu pada saat diampelas tersobek ke atas sehingga muncul bulu-bulu halus.

Timbulnya cacat bulu halus kadang-kadang dipengaruhi oleh karakteristik kayu, ukuran grit ampelas yang digunakan serta arah pengumpanan kayu saat memasukkan kayu pada mesin ampelas. Jika arah pengumpanan berlawanan dengan arah serat kemungkinan terjadinya cacat bulu halus akan semakin besar, karena pada saat proses pengampelasan serat tidak terpotong sempurna akan bangun oleh gesekan ampelas (Koch, 1964 dalam Siswanto, 2002).

Prayitno (2003) dalam Ramawati (2006) menjelaskan bahwa berat jenis berpengaruh terhadap hasil pengampelasan, dimana berat jenis kayu yang rendah hasil pengampelasan menunjukkan cendrung luasan cacatnya besar dan sebaliknya.

Pelubang Persegi (Mortising)

Secara umum hasil pelubang persegi yang diperoleh pada kayu ekaliptus termasuk kedalam mutu sangat baik (kelas I). Tabel 2 menyatakan nilai persentase rata-rata cacat permukaan kayu dan permukan bebas cacat pada kayu ekaliptus dari hasil pengeboran dengan persentase bebas cacat sebesar 97,17%.

Pada kayu ekaliptus, cacat-cacat yang timbul dari proses pelubang persegi adalah bulu halus dan serat tersobek, dengan persentase cacat permukaan sebesar 7,02%. Cacat yang paling banyak timbul adalah bulu halus 7,39 %, diikuti serat tersobek sebesar 6,66 %. Seperti yang dikemukakan pada proses pengeboran bahwa adanya serat patah, terjadi karena pada saat pemesinan permukaan papan uji tercabut dengan paksa. Hal ini terjadi diduga mata bor yang kurang tajam. Pengamatan selama proses pengeboran dilakukan, menunjukkan adanya kecenderungan bahwa kestabilan tapak/alat saat mengebor sangat mempengaruhi munculnya cacat tersebut. Hal ini terjadi juga pada proses pelubang persegi.

Gambar 15. Cacat Bulu Halus Hasil Proses Pelubang Persegi Kayu Ekaliptus

Gambar 167. Cacat Penyobekan Hasil Proses Pelubang Persegi Kayu Ekaliptus.

Pembubutan (Turning)

Berdasarkan proses mesin bubut yang telah dilakukan, diperoleh nilai bebas cacat dan kelas mutu yang disajikan pada Tabel 1. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa kayu ekaliptus menunjukan kualitas mesin bubut mutu sangat baik (kelas I), dengan persentase permukaan bebas cacat 99,13%.

Cacat-cacat yang muncul pada hasil uji pembubutan yang disajikan pada lampiran 7 adalah bulu halus sebesar 18,33%. Seperti yang dikemukakan pada proses pembentukan bahwa cacat bulu halus diduga timbul karena serat-serat kayu yang berpadu tidak terpotong sempurna oleh mata pisau sehingga terjadi

kerusakan serat-serat kayu yang mengakibatkan terbentuknya cacat serat berbulu pada bidang pemotongan sama halnya terjadi pada proses pembubutan. Cacat bulu halus yang timbul akibat pembubutan seperti yang terlihat pada gambar 18.

Gambar 17. Hasil Proses Mesin Bubut Kayu Ekaliptus

Dalam dokumen Sifat Pemesinan Kayu Ekaliptus (Halaman 30-44)

Dokumen terkait