Kebun Helvetia terdiri dari dua wilayah yaitu wilayah Helvetia dan wilayah Klambir Lima. Struktur organisasi PT. Perkebunan Nusantara II (Persero) Kebun Helvetia Wilayah Helvetia dipimpin oleh seorang manajer. Struktur organisasi vertikal ke bawah menunjukkan adanya departemen-departemen terpisah yang menjalankan fungsi masing-masing untuk melaksanakan aktivitas produksi.
Secara umum, departemen-departemen tersebut terdiri atas Kadis Tanaman dan Kadis Pengolahan (Gudang FS). Kadis Tanaman membawahi beberapa asisten, antara lain Asisten Tebu (Asisten DP I dan Asisten DP II) dan Asisten Kelapa Sawit (AFD). Setiap asisten membawahi beberapa karyawan, karyawan tetap dan karyawan harian lepas. Kadis Pengolahan bertugas dalam pengolahan tembakau kering yang diterima dari bangsal sampai pada proses pengebalan untuk dilelang. Struktur organisasi perusahaan dapat dilihat pada Lampiran 2 (dua).
Kondisi Umum Lokasi Penelitian
PT. Perkebunan Nusantara II adalah sebuah Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam bidang agribisnis perkebunan yang mengusahakan komoditi kelapa sawit, karet, kakao, gula dan tembakau. Pengelolaan tanaman tebu dilakukan di lahan kering yang ditanam pada areal seluas 16.046 Ha, tediri dari tebu sendiri (TS) 14.474 Ha dan tebu rakyat (TR) 1.572 Ha.
PT. Perkebunan Nusantara II (Persero) mempunyai beberapa kebun untuk budidaya tebu, yaitu Tandem, Tandem Hilir, Bulu Cina, Klumpang, Helvetia, Tanjung Jati, Kuala Bingei, Sampali, dan Batang Kuis.
Jenis tanaman yang dibudidayakan di Kebun Helvetia terdiri dari tanaman kelapa sawit, tebu, dan tembakau. Kebun Helvetia adalah salah satu kebun tebu yang tetap dipertahankan keberadaannya disebabkan oleh faktor produksi yang dinilai masih tinggi guna menyeimbangkan produksi gula.
Lahan perkebunan tebu Helvetia berada di Kabupaten Deli Serdang dan berbatasan langsung dengan kota Medan. Kebun Helvetia berada di ketinggian ± 5 m dpl dengan curah hujan rata-rata pertahunnya sebesar 1762,3 mm yang sesuai dengan pertumbuhan tanaman tebu. Luas lahan kebun Helvetia saat ini adalah ± 2.976,62 Ha termasuk areal yang digunakan untuk perumahan karyawan, kantor kebun, dan lain-lain. Di sebelah Barat kebun Helvetia berbatasan dengan Sei Semayang. Sebelah Timur berbatasan dengan Pulau Brayan. Di sebelah Utara kebun Helvetia berbatasan dengan Kebun Klumpang dan di sebelah Selatan berbatasan dengan Tanjung Usta. Dahulu kawasan perumahan ini merupakan lahan kebun Helvetia yang sudah beralih fungsi.
Produktivitas
PT.Perkebunan Nusantara II merupakan salah satu penyumbang gula terbesar untuk wilayah Sumatera Utara secara khusus dan produksi gula nasional secara umum. Hasil produksi berasal dari dua pabrik gula (PG) yaitu PG Kuala Madu yang berdomisili di Kabupaten Langkat dan PG Sei Semayang yang berdomisili di Kabupaten Deli Serdang.
Adapun produksi gula pasir PG Sei Semayang dan PG Kuala Madu lima tahun terakhir adalah:
Tabel 9. Produksi gula pasir PG Sei Semayang dan PG Kuala Madu Tahun
Produksi (Ton)
PG Sei Semayang PG Kuala Madu Produksi Gula Sumut Pertumbuhan (%) 2005 17627.400 23009.000 40636.400 - 2006 21295.000 29578.000 50873.000 25.191 2007 20601.750 17192.000 37793.750 -25.710 2008 17691.401 22759.000 40450.401 7.029 2009 16417.500 14347.650 30765.150 -23.944 Rerata 18726.610 21377.130 40103.740 -4.358
Berdasarkan data diatas, produksi gula Sumatera Utara selama tahun 2005-2009 cenderung mengalami penurunan. Penurunan produksi terbesar terjadi pada tahun 2007 dimana produksi turun 25,71 persen dari tahun sebelumnya atau turun 13079,25 ton. Rendahnya produksi gula Sumatera Utara tidak terlepas dari rendahnya produksi tebu giling yang dihasilkan. Seperti halnya produksi tebu giling Kebun Helvetia yang secara umum produktivitasnya selalu mengalami penurunan. Penurunan drastis juga dirasakan pada tahun 2007 dimana rata-rata hasil panen dari dua daerah penanaman hanya 49,025% dari target produksi.
Dengan produktivitas yang tinggi diharapkan PT.Perkebunan Nusantara II dapat memenuhi konsumsi gula Sumatera Utara yang setiap tahunnya meningkat. Akan tetapi pada kenyataannya produksi gula PT.Perkebunan Nusantara II tidak dapat memenuhi konsumsi gula di Sumatera Utara. Untuk memenuhi konsumsi gula Sumatera Utara maka pemerintah mengimpor gula dari luar provinsi. Untuk wilayah Sumatera Utara PT.Perkebunan Nusantara VII yang berdomisili di Bandar Lampung adalah salah satu importir gula terdaftar sesuai dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia
nomor:61/MPP/KEP/2/2004 tentang perdagangan antar pulau, impor gula pasir hanya dilakukan oleh importir terdaftar (Manik,2007).
Rendahnya produksi gula Sumatera Utara salah satunya disebabkan karena rendahnya produksi tebu giling yang dihasilkan. Peningkatan produktivitas tebu giling dapat dilakukan dengan perluasan areal tanam. Akan tetapi jika perluasan areal tidak dapat dilakukan maka upaya peningkatan dapat dilakukan dengan peningkatan kesesuaian lahan tanaman tebu, yang mana dengan adanya perbaikan lahan maka dapat meningkatkan hasil produksi karena kesesuaian lahan berkaitan erat dengan peningkatan produk agar dicapai peningkatan produksi dan hasil yang optimal serta lestari.
Identifikasi Sistem Budidaya Tebu
Sistem budidaya tebu memegang peranan penting dalam menghasilkan tebu dengan rendemen yang tinggi. Sistem budidaya tebu terdiri dari persiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, serta panen yang mana kesemuanya itu saling terkait satu dengan yang lainnya.
Persiapan lahan dilakukan dengan pengolahan tanah yang terdiri dari pembajakan, penggemburan, dan pembuatan juringan agar perkecambahan tebu berjalan normal. Alat pengolahan tanah yang digunakan adalah Davis Flow yang ditarik dengan traktor roda rante untuk pembajakan dan Davis Flow jumbo yang ditarik dengan traktor roda ban untuk pembuatan juringan.
Bibit merupakan salah satu faktor penting dalam penyelenggaraan tebu giling. Bibit yang bermutu baik dan sehat akan menghasilkan tanaman yang baik dan sehat pula. Bibit yang ditanam di PT. Perkebunan Nusantara II adalah BZ 134 yang didapatkan dari RISBANG (Riset dan Pengembangan Tebu) PT.Perkebunan
Nusantara II. Pupuk yang digunakan adalah pupuk Halei dengan jumlah pemakaian 500 kg/Ha. Pemupukan dilakukan secara manual yaitu dengan menabur pupuk pada tanaman.
Pemeliharaan tanaman dilakukan dengan penyisipan jika tebu gundul; penyiangan yaitu membuang rumput-rumput yang tumbuh di kebun; penggemburan tanah di sekitar perakaran tanaman; klentek untuk memperbaiki sirkulasi udara dan kebersihan kebun, memperbanyak sinar matahari yang masuk mengenai batang tebu, dan meningkatkan kualitas tebangan.
Tanaman PC maupun Ratoon, penebangannnya dilakukan dalam bentuk tebu segar. Tebu yang telah ditebang diangkut dengan menggunakan truk dengan kapasitas truk 15 ton.
Produktivitas Tebu Giling Kebun Helvetia
Produktivitas merupakan hasil persatuan lahan, tenaga kerja, modal, waktu ataupun input lainnya (misalnya uang tunai, energi, air, dan unsur hara). Pengukuran produktivitas adalah cara terbaik dalam menilai kemampuan sebuah lembaga karena hanya dengan produktivitas manajemen PT. Perkebunan Nusantara II (Persero) Kebun Helvetia akan mendapatkan tambahan biaya produksi. Parameter produktivitas diukur dari keseluruhan panen tebu giling baik tanaman plant cane (PC), ratoon I(RI), dan ratoon II (RII). Analisis produktivitas dilakukan dengan menggunakan data produksi tebu giling selama 5 tahun dari tahun 2005-2009. Grafik di bawah ini menyajikan jumlah produksi tebu giling/Ha berdasarkan Rencana Kegiatan Anggaran Perusahaan (RKAP) dan hasil realisasi di lapangan setiap tahunnya.
0 20 40 60 80 100 120 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 T on/ H a Te bu Realisasi RKAP
Gambar 3. Grafik produksi tebu giling
Grafik di atas menggambarkan adanya fluktuasi produktivitas tebu giling dalam 5 tahun terakhir. Secara umum produktivitas tebu selalu mengalami penurunan dimana hasil realisasi di lapangan tidak dapat mencapai target RKAP.
Penurunan drastis dirasakan pada tahun 2007 baik pada DP I maupun DP II untuk masing-masing tingkat tanam yaitu PC, RI, dan RII. Hal ini dikarenakan curah hujan yang rendah pada bulan Februari, Maret, dan Juni 2007. Kurangnya ketersediaan air bagi tanaman tebu sangat mempengaruhi proses pembentukan rendemen gula. Selain itu, bibit yang sudah dikepras berulang-ulang diduga PC RI RII PC RI RII PC RI RII PC RI RII PC RI RII PC RI RII PC RI RII PC RI RII PC RI RII PC RI RII
DP I DP I DP I DP I
DP I DP II DP II DP II DP II DP II
2005 2006 2007 2008 2009
menjadi penyebab menurunnya produksi. Sehingga hasil panen hanya mampu mencapai 66,52%, 52,89%, dan 40,82% pada DP I dan 51,99%, 33,83%, dan 48,1% pada DP II.
Tahun 2006 adalah tahun yang cukup menggembirakan untuk hasil produksi tebu giling meskipun hasil realisasi penen tidak melampaui target produksi. Akan tetapi hasil yang didapat cukup baik jika dibandingkan dengan tahun-tahun yang lain. Hasil panen dari lapangan pada DP I mencapai 93,2%, 88,5%, 80,72% untuk ketiga tingkat tanam dan pada DP II mencapai 78,58%, 91,31%, 73,82% untuk ketiga tingkat tanam.
Hasil realisasi ketiga tingkat tanam pada tahun 2009 cukup meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hasil panen dari lapangan untuk ketiga tingkat tanam pada DP I mencapai 81,28%, 83,47%, dan 78,67% dan pada DP II 114,10%, 85,90%, dan 88,08%. Hasil yang menggembirakan hanya diperoleh dari tingkat tanam PC pada DP II yaitu melampaui target sebesar 14,10%. Peningkatan ini diduga disebabkan oleh ketersediaan air yang cukup karena di tanaman PC dibuat sumur bor yang diisap dengan menggunakan pompa. Selain itu, untuk meningkatkan hasil produksi pada DP I dan DP II telah dilakukan upaya-upaya perbaikan seperti pemenuhan alat-alat mekanis yang digunakan untuk mengolah tanah, pembuatan saluran parit, dan drainase; kebutuhan akan tenaga kerja; serta cara merawat dan ketepatan waktu panen. Akan tetapi, upaya tersebut tidak memberikan hasil yang optimal untuk mencapai target yang diharapkan. Di lain pihak, tidak tercapainya target produksi diduga disebabkan oleh berkurangnya jumlah pupuk yang digunakan dari 700 kg/Ha menjadi 500 kg/Ha serta penurunan kondisi lahan (seperti bahan organik tanah, pH, porositas, dan lain-lain).
Kesesuaian Lahan
Penurunan produksi sangat dipengaruhi oleh kesesuaian lahan karena kesesuaian lahan berkaitan erat dengan peningkatan produk agar dicapai peningkatan produksi dan hasil yang optimal serta lestari (Susilowati, 2008). Oleh karena itu kesesuaian lahan sangat erat kaitannya dengan produktivitas tanaman yang dihasilkan. Semua jenis tanaman agar dapat tumbuh atau hidup dan berproduksi memerlukan persyaratan-persyaratan tertentu yang berbeda satu sama lain seperti temperatur, kelembaban, oksigen, hara, serta media perakaran. Persyaratan tumbuh yang diperlukan oleh masing-masing komoditas pertanian mempunyai batas kisaran minimum, optimum, dan maksimum. Untuk menentukan kelas kesesuaian lahan, persyaratan tersebut dijadikan dasar dalam menyusun kriteria kelas kesesuaian lahan.
Penurunan hasil produksi diduga karena terjadi penurunan jumlah pupuk yang digunakan, penurunan kondisi lahan seperti drainase, kejenuhan basa, kandungan bahan organik, pH, porositas, dan lain-lain mengingat PT. Perkebunan Nusantara II tidak pernah melakukan analisa tanah terhadap lahan mereka sehingga kemungkinan karakteristik lahan sekarang ini tidak sesuai lagi dengan syarat tumbuh tanaman tebu. Berdasarkan pengamatan di lapangan kemungkinan lahan perkebunan termasuk dalam kelas S3.
Evaluasi Aspek/Ruang Lingkup Permasalahan Sistem Karakteristik lahan
Karakteristik lahan adalah sifat lahan yang dapat diukur atau diduga seperti total curah hujan, kedalaman tanah, topografi, drainase, kejenuhan basa, dan lain-lain. Karakteristik lahan tersebut dapat dikatakan sebagai persyaratan
tumbuh tanaman, yang mana jika salah satu sifat karakteristik lahan tidak cocok untuk pertumbuhan tanaman maka tanaman tersebut tidak akan berproduksi dengan baik. Demikian halnya dengan tanaman tebu, tebu akan berproduksi dengan baik jika karakteristik lahannya sesuai untuk pertumbuhannya.
Ketidaksesuaian lahan dibuktikan dengan hasil pengujian tanah di laboratorium serta pengamatan di lapangan. Uji tanah dilakukan pada beberapa blok yang diambil berdasarkan tingkat tanam yaitu PC, RI, dan RII dengan melihat hasil produksi tertinggi dan terendah. Berdasarkan hasil uji tanah diperoleh bahwa lahan pada DP I untuk ketiga tingkat tanam memiliki kejenuhan basa yang rendah yaitu sebesar 40,94%, 50%, dan 48,29% sehingga masuk dalam kelas S2 yang berbanding terbalik pada DP II dengan kejenuhan basa yang baik (>50%). Kejenuhan basa merupakan salah satu kriteria kelas kesesuaian lahan yang menggambarkan jumlah kation basa yang ada di dalam tanah. Rendahnya kejenuhan basa tanah menyebabkan lahan masuk dalam kelas S2 kesesuaian lahan. Tanah-tanah dengan kejenuhan basa yang tinggi menandakan bahwa tanah tersebut belum banyak mengalami pencucian dan merupakan tanah yang mempunyai nilai kesuburan yang baik. Meskipun KTK tanah tinggi, tetapi bila kejenuhan basa rendah, maka ditinjau dari segi kesuburan tanah kurang baik, karena basa-basa yang merupakan unsur hara bagi tanaman berada dalam jumlah yang sedikit. Kejenuhan basa merupakan tolak ukur kualitas dari serapan hara.
Berdasarkan pengamatan di lapangan diperoleh bahwa sistem drainase lahan perkebunan terhambat/buruk. Hal ini menyebabkan lahan pada DP I dan DP II masuk dalam kelas S3. Sistem drainase lahan perkebunan yang buruk menyebabkan akar tanaman tebu tidak dapat menyerap unsur hara dengan baik
karena drainase berhubungan erat dengan aerasi tanah. Buruknya aerasi tanah disebabkan oleh drainase yang jelek dan pemadatan tanah secara mekanis. Ciri yang dapat diketahui di lapangan, yaitu tanah mempunyai bercak atau karatan besi dan adanya genangan air.
Salah satu karakteristik lahan yang tidak mendukung hasil produksi adalah penyinaran matahari yang kurang terhadap tanaman, yang hanya sebesar 1387 jam/tahun sehingga masuk dalam kelas S3. Intensitas sinar matahari sangat penting bagi tanaman tebu. Sinar matahari langsung sangat baik bagi pertumbuhan tanaman. Sinar matahari tidak hanya penting bagi pembentukan gula dan tercapainya kadar gula yang tinggi dalam batang, tetapi juga mempercepat proses pemasakan. Sinar matahari yang tidak mencukupi menghasilkan pertanaman yang kurus tinggi dengan kandungan gulanya yang rendah. Cuaca yang mendung dan intensitas cahaya yang rendah (kekurangan cahaya) disertai dengan kelembaban udara yang berubah-ubah dapat menyebabkan kulit batang menjadi lunak sehingga menambah kepekaan tanaman terhadap gangguan hama dan penyakit (Setyamidjaja dan Azharni, 1992).
Kualitas tenaga kerja
Usia dominan para pekerja sistem adalah 41-60 tahun. Pada usia ini keterbatasan tenaga menjadi permasalahan sistem karena para pekerja cenderung lambat dalam melakukan kegiatan produksi. Hal ini dimaklumi saja oleh pihak manajemen mengingat susahnya mencari pekerja yang berusia 18-40 tahun.
Peralatan kerja produksi
Peralatan kerja sangat penting dalam hal pengolahan lahan, pembuatan parit, dan saluran drainase. Alat-alat yang digunakan harus disesuaikan dengan kondisi/tata letak kebun. Rusaknya alat pengolahan tanah diduga menjadi penyebab penurunan produksi tebu giling pada tahun 2004. Upaya pemenuhan alat-alat produksi di PT. Perkebunan Nusantara II sudah dilakukan contohnya penyediaan rotary digger (medium dan jumbo digger) yang digunakan untuk membuat parit.
Teknik budidaya tebu
Teknik budidaya tebu meliputi persiapan lahan, pengolahan tanah, masa tanam bibit, pemupukan, perawatan tanaman, dan waktu panen, kesemuanya itu sangat berpengaruh terhadap produksi. Pengolahan tanah hendaknya dilakukan dengan pembajakan, penggemburan, dan pembuatan juringan. Waktu panen tebu giling bervariasi tergantung jenis varietasnya. Untuk varietas BZ 134, waktu panennya adalah 10-12 bulan. Penurunan produksi pada tahun 2007 diduga karena bibit varietas BZ 134 yang sudah dikepras berulang-ulang. Ketepatan dalam menentukan waktu panen adalah salah satu cara untuk mempertahankan tebu giling. Setelah dipanen, tebu giling diharuskan untuk segera diangkut ke pabrik gula atau dengan kata lain tidak boleh lebih dari 24 jam. Ini dilakukan untuk mempertahankan rendemen gula. Semua kegiatan teknik budidaya tebu diharapkan dapat dilakukan tepat waktu.
Penyusunan Diagram Kotak Hitam (Blackbox Diagram) dan Solusi
Perancangan diagram kotak hitam dibagi menjadi beberapa variabel yaitu input, parameter perancangan sistem, output, dan manajemen pengendalian.
Input pada perancangan diagram ini terdiri atas input terkendali, input tidak terkendali, dan input lingkungan. Input terkendali dapat divariasikan selama operasi untuk menghasilkan perilaku sistem sesuai dengan yang diharapkan, perwujudan input dapat meliputi manusia, barang, tenaga, modal, dan informasi. Dalam sistem ini input terkendali terdiri atas karakteristik lahan dan sistem budidaya tebu. Input tidak terkendali terdiri atas perkembangan kota, jumlah panen tebu giling untuk ketiga tingkat tanam, serta serangan hama dan penyakit tanaman. Input lingkungan adalah peubah yang mempengaruhi sistem tetapi tidak dipengaruhi oleh sistem yang meliputi kondisi iklim dan peraturan pemerintah.
Parameter rancangan sistem adalah parameter-parameter yang mempengaruhi input sampai menjadi (transformasi) output. Tiap-tiap sistem memiliki parameter rancangan sendiri yang dapat berupa lokasi fisik, ukuran dari sistem dan komponennya, ukuran fisik dari sistem, serta jumlah dan tipe komponen dari sistem (Eriyatno,2003). Parameter rancangan sistem terdiri atas temperatur, curah hujan, kelembaban udara, sinar matahari, drainase, tekstur, bahan kasar, kedalaman tanah, KTK liat, kejenuhan basa, pH H2O, C-organik, salinitas, alkalinitas, lereng, bahaya erosi, genangan, batuan di permukaan, dan singkapan batuan.
Kejenuhan basa merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi tebu giling. Kejenuhan basa menggambarkan jumlah kation basa yang ada di dalam tanah. Rendahnya kejenuhan basa tanah menyebabkan lahan masuk
dalam kelas S2 kesesuaian lahan. Kejenuhan basa merupakan tolak ukur kualitas dari serapan hara. Upaya perbaikan kejenuhan basa dapat dilakukan dengan pengapuran untuk meningkatkan kation-kation basa di dalam tanah. Upaya perbaikan ini tingkat pengelolaannya termasuk dalam kategori sedang dan tinggi. Tingkat pengelolaan sedang artinya pengelolaan dapat dilakukan pada tingkat petani menengah, memerlukan modal yang cukup besar dan teknik pertanian sedang. Tingkat pengelolaan tinggi artinya pengelolaan hanya dapat dilakukan dengan modal yang relatif besar, umumnya dilakukan oleh pemerintah atau perusahaan besar/menengah (Rayes,2007). Perbaikan ini merubah kualitas lahan menjadi lebih baik sehingga kelas kesesuaian lahan naik dari S2 menjadi S1.
Drainase lahan perkebunan di PT. Perkebunan Nusantara II buruk/terhambat sehingga lahan masuk dalam kelas S3. Pada umumnya tanaman menghendaki drainase yang baik sehingga aerasi tanah cukup baik. Dengan demikian akan cukup tersedia oksigen dalam tanah dan akar tanaman dapat berkembang dengan baik serta mampu menyerap unsur hara secara optimal. Upaya perbaikan yang dapat dilakukan adalah dengan cara pembuatan saluran-saluran drainase misalnya pembuatan parit untuk membuang kelebihan air. Upaya perbaikan ini tingkat pengelolaannya termasuk dalam kategori sedang dan tinggi (Rayes,2007). Dilakukannya perbaikan drainase akan mengakibatkan perubahan yang menguntungkan terhadap kualitas lahan sehingga kelas kesesuaian lahan naik satu tingkat yaitu dari S3 menjadi S2.
Persyaratan tumbuh lainnya yang tidak cocok untuk tanaman tebu sehingga menyebabkan produktivitasnya menurun adalah penyinaran matahari yang kurang terhadap tanaman, hanya sebesar 1387 jam/tahun sehingga masuk
dalam kelas S3. Intensitas sinar matahari sangat penting bagi tanaman tebu. Sinar matahari langsung sangat baik bagi pertumbuhan tanaman. Sinar matahari tidak hanya penting bagi pembentukan gula dan tercapainya kadar gula yang tinggi dalam batang, tetapi juga mempercepat proses pemasakan. Akan tetapi hal ini tidak dapat dilakukan perbaikan sehingga meskipun kejenuhan basa dan drainase dapat diperbaiki, kelas kesesuaian lahan tetap S3 karena berdasarkan metode
matching kriteria penilaian didasarkan pada penilaian terendah karakteristik lahan,
dengan catatan hanya intensitas matahari mendapat nilai S3 sedangkan faktor lainnya adalah S2 dan S1.
Proses transformasi input dan parameter rancangan sistem akan menghasilkan output. Output terdiri dari dua yaitu output yang dikehendaki dan output yang tidak dikehendaki. Output yang dikehendaki biasanya dihasilkan dari adanya pemenuhan kebutuhan yang ditentukan secara spesifik pada waktu analisa kebutuhan. Output yang dikehendaki yaitu kesesuaian lahan potensial (kesesuaian lahan setelah dilakukan perbaikan) sehingga dapat meningkatkan produktivitas, laba bagi perusahaan, serta penyediaan lapangan kerja. Sedangkan output yang tidak dikehendaki merupakan hasil sampingan atau dampak yang ditimbulkan bersama-sama dengan output yang diharapkan. Output yang tidak dikehendaki dalam sistem ini adalah kerugian bagi perusahaan yg disebabkan penurunan produktivitas yang pada akhirnya dapat menyebabkan penutupan perkebunan tebu giling helvetia.
Manajemen pengendalian dan pengawasan produksi berfungsi sebagai pengontrol pengoperasian sistem agar hasil keluaran yang diharapkan tetap seperti yang telah direncanakan.
Gambar 4. Diagram kotak hitam kesesuaian lahan tebu INPUT TIDAK TERKENDALI
1. Perkembangan kota
2. Jumlah panen tebu giling untuk ketiga tingkat tanam
3. Serangan hama dan penyakit tanaman
INPUT TERKENDALI 1. Karakteristik lahan 2. Sistem budidaya tebu
PARAMETER PERANCANGAN SISTEM Temperatur, curah hujan, kelembaban udara, sinar matahari, drainase, tekstur, bahan kasar, kedalaman tanah, KTK liat, kejenuhan basa, pH H2O, C-organik, salinitas, alkalinitas, lereng, bahaya erosi, genangan, batuan di permukaan, singkapan batuan.
OUTPUT TIDAK DIKEHENDAKI 1. Kerugian bagi perusahaan
2. Penutupan perkebunan tebu giling Helvetia
OUTPUT YANG DIKEHENDAKI 1. Kesesuaian lahan potensial 2. Peningkatan produktivitas 3. Laba bagi perusahaan 4. Penyediaan lapangan kerja INPUT LINGKUNGAN
1. Peraturan pemerintah 2. Kondisi iklim
KESESUAIAN LAHAN