• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil dan Pembahasan

Dalam dokumen PENERBIT STKIP PGRI Sumbar Press (Halaman 87-101)

KOTO XI TARUSAN KABUPATEN PESISIR SELATAN

III. Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada ketiga stasiun di Teluk Carocok Tarusan Kenagarian Carocok Anau Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan diperoleh hasil sebagai berikut

ISSN 2579-7766 81 Tabel 1. Jenis Ikan yang Tertangkap pada Bulan Terang

Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa jenis ikan yang diperoleh terdiri dari 1 ordo yaitu Perciformes, 4 famili yaitu Leiognathidae, Scombridae, Sphyranidae, Carangidae dan 4 spesies yaitu Equulites leuciscus (Gunther, 1860), Atule mate (Cuvier, 1833), Sphyraena chrysozona (Linnaeus, 1758), Decapterus tabl (Berry, 1968).

Tabel 2. Jenis Ikan yang Tertangkap pada Bulan Gelap

ISSN 2579-7766 82 Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa jenis ikan yang diperoleh terdiri dari 2 ordo yaitu Perciformes dan Beryciformes, 6 famili yaitu Leioghnathidae, Caesionidae, Pempheridae, Mulidae, Lutjanidae, Holocentridae dan 8 spesies yaitu Equulites leuciscus (Gunther, 1860), Pterocaesio chrysozona (Cuvier, 1830), Pterocaesio pisang (Bleeker, 1853), Pemheris analis (Waite, 1910), Upeneus luzonius (Jordan and Seale, 1907), Lutjanus lutjanus (Bloch, 1790), Myripristis murdjan (Forsskal, 1775) dan Ostichthys kaianus (Gunther, 1880).

Jenis ikan yang didapatkan di Teluk Carocok Tarusan Kenagarian Carocok Anau Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan pada bulan terang sebanyak 4 spesies dan pada saat bulan gelap sebanyak 8 spesies. Hasil penelitian ini lebih sedikit dibandingkan dengan penelitian (Yogi, 2015) yang juga dilakukan pada lokasi yang sama pada tahun 2014, dimana pada penelitiannya ikan yang ditemukan sebanyak 19 spesies. Hal ini disebabkan karena Yogi memakai 6 alat tangkap yaitu jaring, pancingan, jala, tangguk, tembak ikan dan bubu lipat sedangkan peneliti hanya menggunakan 1 alat tangkap yaitu jaring saja.

Jenis ikan pada yang terdapat pada kawasan intertidal di Teluk Carocok Tarusan Kenagarian Carocok Anau Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan yaitu dimana ikan yang terdapat pada saat bulan terang lebih sedikit dibandingkan bulan gelap. Menurut (Jatmiko, 2015) posisi relatif bulan terhadap bumi menimbulkan pengaruh berupa pasang surut permukaan air laut dan pencahayaan alami di laut yang mengakibatkan adanya dinamika alami perilaku binatang laut sehingga keragaman spesies hasil tangkapan dipengaruhi oleh periode bulan.

Perubahan periode hari bulan dapat mengindikasi waktu yang baik dalam kegiatan operasi penangkapan karena adanya perbedaan intensitas cahaya pada setiap periode hari bulan dan akan mempengaruhi ikan yang memiliki sifat fototaksis positif maupun negatif terhadap cahaya sehingga perbedaan intensitas akan berpengaruh terhadap volume hasil tangkapan.

Pada saat bulan terang pada stasiun I jumlah spesies ikan yang telah di peroleh sebanyak 2 spesies yang memiliki jumlah total yaitu 4 individu. Pada stasiun II jumlah spesies ikan yang telah di peroleh sebanyak 2 spesies yang memiliki jumlah total yaitu 3 individu, dimana spesies yang banyak ditemukan

ISSN 2579-7766 83 Dan pada stasiun III jumlah spesies ikan yang telah di peroleh sebanyak 4 spesies yang memiliki jumlah total yaitu 9 individu. Baik antara stasiun I, II maupun III spesies yang paling banyak ditemukan sama yaitu Ikan maco (Equulites leuciscus).

Dan pada stasiun I spesies yang paling sedikit ditemukan yaitu ikan gambolo aceh (Decapterus tabl), pada stasiun II dan III spesies yang paling sedikit ditemukan sama yaitu ikan tete (Sphyraena chrysozona).

Pada saat bulan gelap pada stasiun I jumlah spesies ikan yang telah di peroleh sebanyak 3 spesies yang memiliki jumlah total yaitu 13 individu. Pada stasiun II jumlah spesies ikan yang telah di peroleh sebanyak 6 spesies yang memiliki jumlah total yaitu 23 individu, dimana spesies yang banyak ditemukan Dan pada stasiun III jumlah spesies ikan yang telah di peroleh sebanyak 8 spesies yang memiliki jumlah total yaitu 27 individu. Baik antara stasiun I, II maupun III spesies yang paling banyak ditemukan sama yaitu Ikan maco (Equulites leuciscus).

Dan pada stasiun I spesies yang paling sedikit ditemukan yaitu ikan gambolo aceh (Decapterus tabl), pada stasiun II spesies yang paling sedikit ditemukan sama yaitu ikan tete (Sphyraena chrysozona) dan ikan kakap (Lutjanus lutjanus) dan pada stasiun III spesies yang paling sedikit ditemukan sama yaitu ikan sirandang (Myriptis murdjan).

Berdasarkan hasil pengamatan penelitian yang dilakukan dari seluruh stasiun baik stasiun I, II dan III pada saat saat bulan terang maupun bulan gelap ikan maco (Equulites leuciscus) merupakan ikan yang memiliki kepadatan populasi yang paling tinggi dibandingkan dengan ikan-ikan lainnya di seluruh stasiun penelitian pada kawasan intertidal baik pada saat bulan terang maupun pada saat bulan gelap.

Pada bulan terang ikan yang kepadatan populasinya paling sedikit yaitu ikan tandeman (Atule mate). Pada bulan gelap ikan yang kepadatan populasinya paling sedkit yaitu ikan sirandang (Myripristis murdjan). Pada stasiun I maupun stasiun II spesies ikan tandeman (Atule mate) dan ikan sirandang (Myripristis murdjan) tidak ditemukan pada kedua stasiun. Hal ini disebabkan karena pada satsiun I aktivitas penduduk sekitar pada kawasan intertidal ini melakukan penebangan hutan mangrove yang dijadikan untuk kayu bakar sebagai keperluan rumah tangga sehari-hari dan pada stasiun II masyarakat sekitar juga membuang limbah rumah

ISSN 2579-7766 84 tangga dan sampah lainnya serta ditepi dermaga para nelayan juga memarkir kapalnya sehingga bahan bakar tersebut tercecer diperairan. Menurut (Putra, 2017) daerah penelitian banyak terdapat sampah dan limbah rumah tangga yang masuk ke dalam badan perairan dapat menyebabkan kualitas perairan tercemar, yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kualitas air dan berdampak pada ikan.

Pada stasiun III di kawasan intertidal saat bulan terang maupun saat bulan gelap banyaknya ditemukan spesies diperairan tersebut. Hal ini disebabkan karena lokasi pada kawasan tersebut jauh dari pemukiman penduduk dan sekitar kawasan juga terdapat tambak ikan (keramba jaring apung).

IV. KESIMPULAN

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jenis ikan yang tertangkap terdiri dari 2 ordo, 9 famili, 11 spesies yaitu Equulites leuciscus, Pterocaesio chrysozona, Pterocaesio pisang, Pemheris analis, Upeneus luzonius, Lutjanus lutjanus, Myripristis murdjan , Ostichthys kaianus, Atule mate, Sphyraena chrysozona, Decapterus tabl.

Daftar Pustaka

Genisa, A,S.1999. Pengenalan Jenis-jenis Ikan Laut Ekonomi Penting Di Indonesia. Balitbang Biologi Laut, Puslitbang Oseanologi-LIPI. Jakarta.

Jalil dan Jarniati. 2012. Analisis Parameter Fisika Kimia Perairan Muara Sungai Salotellue. Jurnal Bidang Keilmuan. Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka Makassar.

Jatmiko, G.G. 2015. Analisis Pengaruh Periode Hari Bulan Terhadap Hasil Tangkapan Dan Pendapatan Usaha Mini Purse Seine Di Ppp Morodemak, Demak. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Bogor.

Michael. P. 1994. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium.

Jakarta: UI Press.

Nurudin, F,A. 2013. Keanekaragaman Jenis Ikan Di Sungai Sekonter Taman Nasional Tanjung Puting Kalimantan Tengah. Skripsi. Semarang: UNS.

ISSN 2579-7766 85 Nybakken, James W. 1988. Biologi Laut. Jakarta: Gramedia.

Putra, Rozi, A. 2017. Komposisi Ikan di Kawasan Hutan Mangrove Kenagarian Kambang Barat Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan.

Skripsi. STKIP PGRI SUMBAR. Padang.

Saraswati Ni Luh,.G.R.A. Yulius. Agustin, R. Hadiwijaya, L. Salim. Aid, H. Eva, M. 2017. Kajian Kualitas Air Untuk Wisata Bahari Di Pesisir Kecamatan Moyo Hilir Dan Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa. Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana. Bali.

Yogi, P. 2015. Jenis-jenis Ikan Pada Areal Sekitar Kawasan Hutan Mangrove Di Teluk Carocok Tarusan Kenagarian Carocok Anau Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan. Skripsi. STKIP PGRI SUMBAR.

Padang.

ISSN 2579-7766 86 KARAKTERISTIK POPULASI KERANG AIR TAWAR (Corbicula moltkiana) DI BATANG ANTOKAN KENAGARIAN III KOTO UTARA KECAMATAN IV KOTO AUR MALINTANG KABUPATEN PADANG

PARIAMAN

Ismed Wahidi dan Armein Lusi Zeswita,

Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat Jalan Gunung Pangilun Padang, Kota Padang, Sumatera Barat

Email: [email protected]

ABSTRACT

Freshwater clam Corbicula moltkiana are shells that are found in the waters of lakes and rivers around West Sumatra. This freshwater mussel known as the local name is “pensi”, belonging to the Corbiculidae family, lives in muddy and sandy fresh waters. One of the Rivers found in West Sumatra is the Batang Antokan River which is the habitat of Corbicula moltkiana shells. Freshwater mussels are consumed by the community as a source of animal protein and fresh water shells are used by the community for food needs and sold on the market, besides that there are also community activities such as public toilets, as well as agricultural waste entering the Batang Antokan River. The number of residents' activities is thought to cause pollution and affect the life of Corbicula moltkiana. This study aims to determine the population density of freshwater shells in the Batang Antokan River.This research was conducted in March 2018 on the Batang Antokan River.

This research uses descriptive survey method with purposive sampling technique.

By setting three stations, sampling using a quadratic frame of 50x50 cm2.Based on the results of the study. Pattern distribution of clam are fisrt location is 1,168, scond location is 1,389 and third location is 1,452. Chategori of These value is clump. The highest population density was obtained at station 3, which was 711 ind / m2, while the lowest population density was obtained at station 2, which was 236 ind / m2. The total population density of freswater mussels found in the stalk of stems is very high, and the physical-chemical factors in the stalks are still within the normal range.

Keywords: Water Mussels, Corbicula moltkiana, Population.

ABSTRAK

Kerang air tawar Corbicula moltkiana adalah cangkang yang ditemukan di perairan danau dan sungai di sekitar Sumatera Barat. Kerang air tawar ini dikenal dengan nama lokal "Pensi", adalah keluarga milik keluarga, tinggal di air tawar berlumpur dan berpasir. Salah satu Sungai ditemukan di Sumatera Barat, Batang Antokan, yang merupakan habitat cangkang Corbicula moltkiana. Kerang air tawar juga merupakan sumber protein hewani dan cangkang air tawar, serta kegiatan masyarakat seperti toilet umum, serta pertanian limbah yang memasuki Batang Sungai Antokan. Banyaknya kegiatan warga merupakan penyebab polusi dan mempengaruhi kehidupan Corbicula moltkiana. Sungai Antokan Batang adalah sumber paling efektif untuk cangkang air tawar di Sungai Batang Antokan.

ISSN 2579-7766 87 Penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif dengan teknik purposive sampling. Dengan mengatur tiga stasiun, pengambilan sampel menggunakan frame kuadrat 50x50 cm2. Berdasarkan hasil penelitian. Distribusi pola lokasi fisik adalah 1,168, lokasi Scond adalah 1,389 dan lokasi ketiga adalah 1,452. Kategori nilai ini rumpun. Kepadatan tertinggi diperoleh di stasiun 3, yaitu 711 ind / m2, sedangkan kepadatan terendah diperoleh di stasiun 2, yaitu 236 ind / m2. Kepadatan populasi total kerang air ditemukan di tangkai batang sangat tinggi, dan faktor fisik-kimia masih dalam kisaran normal.

Kata kunci: Kerang Air, Corbicula moltkiana, Populasi.

I. PENDAHULUAN

Perairan secara umum adalah perairan di permukaan bumi yang secara permanen atau berkala digenangi oleh air, baik air tawar, air payau, maupun air laut, mulai dari garis pasang terendah ke arah daratan dan air tersebut terbentuk secara alami maupun buatan . Sekitar 75% dari permukaan bumi ditutupi perairan, terutama perairan asin, sedangkan sisanya adalah perairan tawar dan perairan payau (Kasri dan Fajri, 2012).

Sumatera Barat memiliki beberapa danau salah satunya yaitu danau Maninjau, yang memiliki aliran air keluar ke Sungai Batang Antokan. Sungai Batang Antokan terletak di Kabupaten Agam dan Kabupaten Padang Pariaman.

Tersebar ke beberapa Kecamatan diantaranya yaitu Kecamatan IV Koto Aur malintang, yang bermuara dari Tiku dan hulunya di Danau Maninjau.

Salah satu sumber daya hayati yang terdapat di Sungai Batang Antokan adalah kerang air tawar. Kerang air tawar atau Corbicula moltkiana merupakan jenis kerang yang dikenal oleh masyarakat Sumatera Barat dengan nama pensi, kerang ini memiliki peranan dalam perairan, karena kerang sebagai organisme

“filter feeders” yang dapat mengurangi dan mendaur material-material yang ada dalam perairan seperti sedimen, bahan organik, bakteri, dan fitoplankton sebagai makanannya maupun sebagai bahan partikulat.

Berdasarkan hasil observasi penulis dengan masyarakat di desa Alahan Bakali Kecamatan IV Koto Aur Malintang kerang air tawar dapat ditemukan pada dua tempat yang berpasir dan berlumpur. Kerang air tawar (pensi) sebelumnya banyak ditemukan di Sungai Batang Antokan tetapi pada saat sekarang sudah

ISSN 2579-7766 88 sedikit ditemukan. Hal ini disebabkan oleh pemanfaatan kerang air tawar oleh masyarakat, dimana diantaranya sebagai sumber protein hewani, dengan cara mengambil langsung dari habitatnya tanpa memperhitungkan keberadaannya.

Masyarakat di sekitar Batang Antokan mengambil kerang air tawar hampir setiap hari secara langsung di sungai Batang Antokan. Pengambilan kerang air tawar dilakukan dengan jumlah yang banyak untuk memenuhi kebutuhan makanan dan dijual di pasaran. Hasil yang didapatkan oleh warga dari pengambilan kerang air tawar ini satu hari sekitar 15 liter. Dari kenyataan yang terlihat di lapangan selain dari pengambilan kerang air tawar yang dilakukan oleh masyarakat juga terlihat aktivitas warga seperti MCK yang terdapat disepanjang aliran sungai.

Kemudian di sekitar sungai terdapat sawah yang alirannya dialirkan ke sungai Batang Antokan.

II. METODE PENELITIAN

Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Maret 2018 di Sungai Batang Antokan Kenagarian III koto Utara Kecamatan IV koto Aur Malintang Kabupaten Padang Pariaman. Sedankan uji kadar subsrat organik (KOS) di Laboratorium Kimia Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas.

Alat dan bahan yang digunakan dalam penlitian ini adalah Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah bingkai kuadrat ukuran 50 x 50 cm, ember, label, kantong plastik, kaki tiga, erlenmeyer, gelas ukur 150 ml, spritus,pipet tetes, suntik 1ml dan 10 ml, botol kaca 150 ml, thermometer Hg, pH meter, saringan, kamera dan alat-alat tulis. Bahan yang digunakan adalah tissu, MnSO4, H2SO4

pekat, KOH/KI, N , alkohol 70% dan sampel Corbicula moltkiana.

Penelitian dilakukan dengan metode survey deskriptif dan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Stasiun I di area hulu sungai karena pada hulu sungai belum terjadi pencemaran dan tidak ada aktivitas warga dalam mencari kerang air tawar. Stasuin II ini terdapat aliran air sawah dan aktivitas warga seperti MCK yang masuk ke dalam aliran sungai, dan stasiun III di area aktivitas wargadalam mencari kerang air tawar.

ISSN 2579-7766 89 III. HASIL

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Batang Antokan Kenagarian III Koto Utara Kecamatan IV Koto Aur Malintang Kabupaten Padang Pariaman di dapatkan kepadatan populasi kerang air tawar (Corbicula moltkiana)dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1.Kepadatan populasi dan pengukuran faktor lingkungan habitat (Corbicula moltkiana)

Lokasi Jumlah individu

Ind/m2 Suhu

0C

pH DO

mg/l

KOS %

Stasiun I 689 276 28 8,3 8 0,661

Stasiun II 591 236 27 7,0 9 0,534

Stasiun III 1778 711 25 8,0 8 0,825

Jumlah individu 3058 1020 - - - -

Rata-rata 1020 408 - - - -

IV. PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan kepadatan populasi kerang air tawar di Batang Antokan Kenagarian III Koto Utara Kecamatan IV Koto Aur Malintang Kabupaten Padang Pariaman dengan total kepadatan populasi yaitu 408 ind/m2. Kepadatan populasi yang didapatkan paling tinggi pada stasiun III yaitu 711 ind/m2 dan kepadatan populasi terendah pada stasiun II yaitu 236 ind/m2. Untuk faktor lingkungan suhu berkisar 25-280C, pH 7-8,3, oksigen terlarut 8-9 mg/l, dan kadar organik subrat 0,534-0,825%.

Kerang air tawar (Corbicula moltkiana) yang ditemukan di sungai Batang Antokan dengan kepadatan tertinggi pada stasiun III yaitu 711 ind./m2dan kepadatan terendah pada stasiun II yaitu 236 ind./m2 . Kepadatan populasi rata-rata kerang air tawar yang ditemukan di kawasan sungai Batang Antokan yaitu 408 ind./m2. Kepadatan populasi yang diperoleh dalam penelitian ini , termasuk ke dalam kepadatan populasi yang sangat tinggi, hal ini sesuai dengan pendapat Tuan (2000) dalam Octavina (2014) bahwa kerang dengan kepadatan 51-100 ind/m2

ISSN 2579-7766 90 tergolong tinggi, kepadatan 16-50 ind/m2 tergolong sedang, dan kepadatan 7-16 ind/m2 tergolong rendah.

Pada stasiun III ini yang paling banyak ditemukan kerang air tawar karena lokasi ini memiliki subsrat berlumpur sehingga dapat mendukung kehidupan kerang di stasiun ini.

Kepadatan populasi tertinggi kedua yaitu pada stasiun I, pada stasiun ini tidak adanya aktivitas warga dalam mencari kerang air tawar sehingga habitat masih terjaga, pada stasiun ini memiliki perbedaan jumlah kepadatan populasi yang jauh berbeda dengan stasiun III karena pada stasiun ini banyak tedapat batu dan kerikil.

Berbeda dengan stasiun II pada lokasi ini yang kepadatan populasi terendah dimana pada lokasi ini dipengaruhi oleh berbagai aktifitas manusia seperti adanya aktivitas warga seperti MCK, dan lahan pertanian warga dimana limbah dari lahan pertanian ini dialirkan kedalam sungai. Limbah pertanian yang masuk ke dalam sungai ini juga mempengaruhi keberadaan dari kerang air tawar. Sama halnya dengan stasiun I, pada stasiun II juga banyak terdapat kerikil sehingga dengan dasar subsrat tersebut habitat dari kerang air tawar tidak mendukung untuk kehidupan kerang air tawar.

Aktivitas manusia ini menyebabkan terganggunya habitat alami kerang terutama mikrohabitatnya. Perbedaan kepadatan antar stasiun dipengaruhi oleh substrat dasar perairan pada habitat kerang air tawar (Corbicula moltkiana). Stasiun I dan II memiliki substrat dasar berbatu, berkerikil dan berpasir. Dasar perairan berbatu dan berkerikil kurang mendukung bagi kehidupan kerang air tawar karena kerang air tawar lebih menyukai perairan dengan substrat dasar pasir berlumpur.

Berbeda dengan stasiun III pada lokasi ini subsrat yang terdapat adalah pasir dan berlumpur sehingga pada stasiun ini yang banyak ditemukan kerang air tawar karena subsrat ini sangat mendukung bagi kehidupan kerang air tawar sesuai dengan Hasil penelitian Zeswita (1999) di Danau Maninjau menyatakan bahwa kepadatan Corbicula moltkianatertinggi didapatkan pada daerah yang memiliki substrat pasir berlumpur. Sementara dari penelitian Zeswita et. al (2016) mendapat kerang air tawar C. Sumatrana ditemukan padasubsrat berpasir di Danau Singakarak.

ISSN 2579-7766 91 Kepadatan populasi kerang air tawar (Corbicula moltkiana) juga dipengaruhi oleh Faktor Fisika Kimia Air di sungai Batang Antokan Kenagarian III Koto Utara Kecamatan IV Koto Aur malintang Kabupaten Padang Pariaman pada Temperatur air pada masing-masing stasiun berbeda yaitu berkisar antara 25-28 0C.

Temperatur pada masing lokasi cenderung menurun dengan bertambahnya kedalaman perairan. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya intensitas cahaya matahari yang dapat diubah menjadi energi panas dalam badan perairan sehingga menyebabkan suhu semakin berkurang seiring dengan bertambahnya kedalaman.

Faktor yang menyebabkan perbedaan temperatur air adalah perbedaan waktu pengambilan sampel dan kondisi cuaca saat pengukuran. Hasil ini tergolong baik karena menurut Kordi (2011) suhu optimal untuk kelangsungan hidup kerang berkisar antara 25-32 0C.

Nilai pH pada masing–masing lokasi relatif sama yaitu berkisar antara 7-8.

Sebagian besar stasiun I memperlihatkan pH yaitu 8,3, stasiun II memiliki pH 7 dan stasiun III memiliki pH 8. Nilai pH tersebut mendukung untuk kehidupan kerang. Menurut Welch dan Lindell (1998)dalam Dea Rahayu (2014), kerang dapat hidup baik pada kisaran pH 5,6-8,3. Berdasarkan analisis regresi yang menunjukkan bahwa faktor substrat organik dan tingkat pH memberikan nilai positif, yang berarti bahwa kedua faktor ini mempengaruhi ketersediaan kerang di habitat.

Oksigen terlarut yang terdapat pada kawasan ini berkisar 8-9 mg/l. Kadar oksigen terlarut di dalam masa air nilainya adalah relatif dan bervariasi, biasanya berkisar antara 6-14 mg/l. (Comel dan Miller, 1995 dalam Patty, 2016).

Berdasarkan penelitian Zeswitaet.al 2016 di danau Singkarak Dissolved Oxygen (DO) Faktor memberikan korelasi negatif: setiap kali terjadi peningkatan 1 ppm akan menyebabkan penurunan kepadatan populasi

Selain itu kepadatan populasi kerang air tawar juga dipengaruhi oleh kadar organik substrat (KOS). Kadar organik subsrat tertinggi ditemukan pada stasiun III dengan subsrat berlumpur dikarenakan pada subsrat yang mengandung lumpur banyak mengandung nutrien untuk kelangsungan hidup kerang air tawar.

Sedangkan kandungan organik subsratterendah terdapat pada stasiun II yang

ISSN 2579-7766 92 memiliki bentuk subsrat hanya mengandung pasir yang jumlah nutriennya sangat sedikit karena hanya terdapat banyak pori udara didalammnya.

Makrobentos yang mempunyai sifat penggali substrat seperti kerang air tawar cenderung melimpah pada sedimen lumpur dan sedimen lunak yang merupakan daerah yang mengandung bahan organik yang tinggi (Rizal, dkk, 2013).

Kadar organik substrat pada stasin I, II dan III adalah 0,661%, 0,534% dan 0,825%.

V. KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di sungai Batang Antokan Kenagarian III Koto Utara Kecamatan IV Koto Aur malintang Kabupaten Padang Pariaman dapat disimpulkan bahwa:

1. Kepadatan populasi kerang air tawar ( Corbicula moltkiana) yang ditemukan di sungai Batang Antokan Kenagarian III Koto Utara Kecamatan IV Koto Aur Malintang Kabupaten Padang Pariaman adalah 408 ind/m2.

2. Kondisi fisika-kimia perairan masih dalam kisaran toleransi untuk kelangsungan hidup kerang air tawar.

DAFTAR PUSTAKA

Kasri.A.Fajri,E. 2012.Kualitas Perairan Muara sungai Siak Di Tinjau Dari Parameter Fisika-Kimia Dan Organisme. Jurnal Berkala Perikanan. Vol 40. No. 2.

Octavina. C, Yulianda, F, Krisanti, M.2014. Struktur Komonitas Tiram Daging di Perairan Estuari Kuala Ggieng Kabupaten Aceh Besar Provinsi AcehPdf.

ISSN 2089-7790. Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB Darmaga

Patty, S. 2016. Distribusi Suhu, Salinitas dan Oksigen terlarut, di Perairan Kema Sulawesi Utara. Jurnal Ilmiah Platax. Proyek Penelitian Oseanografi Termatik. 1 (3): 149-152

Silviana D.R. Nurdin J. and Izmiarti. 2014. Kepadatan Populasi dan Distribusi Ukuran Cangkang Kerang Lokan (Rectidens sp.) di Perairan Tanjung Mutiara Danau Singkarak, Sumatera Barat.Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.) 3(2) – Juni 2014 : 109-115 (ISSN : 2303-2162).

Zeswita, A. L. 1999. Habitat, Kepadatan Populasi , Pola Distribusi dan Selektivitas Makan Pensi (Corbicula moltikana Prime).ThesisPascasarjana Universitas Andalas Padang.

ISSN 2579-7766 93 Zeswita, A. L. Dahelmi, I. J. Zakaria and S. Salmah. 2016. Study Population Of Freshwater Shellfish CorbiculaSumatrana In Singkarak Lake West Sumatra Indonesia. Research Journal of Pharmaceutical, Biological and Chemical Sciences. Vol 7 (6). ISSN: 0975-8585

ISSN 2579-7766 94 KEPADATAN POPULASI Littoraria scabra PADA ZONA INTERTIDAL DI

ISSN 2579-7766 94 KEPADATAN POPULASI Littoraria scabra PADA ZONA INTERTIDAL DI

Dalam dokumen PENERBIT STKIP PGRI Sumbar Press (Halaman 87-101)