• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERBIT STKIP PGRI Sumbar Press

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENERBIT STKIP PGRI Sumbar Press"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

(1)

Pendidikan dan Sains Biologi

Tema

Evolusi dan Revolusi Pendidikan Biologi di Era Keterbukaan Pengetahuan"

Padang

10 November 2018

PENERBIT

STKIP PGRI Sumbar Press

(2)

SEMINAR NASIONAL Pendidikan dan Sains Biologi

Tema "Evolusi dan Revolusi Pendidikan Biologi di Era Keterbukaan Pengetahuan"

Reviwer

Dr. Erismar Amri,. M. Si Diana Susanti,.M.Pd

Editor / Penyunting Silvi Susanti, M.Si.

Aulia Afza, M.Pd.

Panitia Pelaksana

Pelindung : Jarudin, M.A, Ph.D

Penasehat : Siska Nerita, M.Pd dan Elza Safitri, M.Si.

Penanggung Jawab : Vivi Fitriani, S.Si, M.Pd Sterring Commitee

Fajri Ori Sandy M. Agmal Arya Putra Kurnia Wulan Sari Mesy Aliya Meliza Iqlas Sari AS

Organization Committee

Ketua Pelaksana : Mhd. Asri Ubaidilah Sekretaris 1 : Nia Tania

Sekretaris 2 : Fitri Suci Angraini

(3)

Koordinator : Ilma Syaftia Anggota : 1. Sinta Imanungsi

2. Nurul Izzah

3. Annisa Rahim

4. Debi Wahyuni E 2. Divisi Soal

Koordinator : Kurnia Wulan Sari Anggota : 1. Iqlas Sari AS

2. Dini Pratiwi 3. Elva Sarmadani

3. Divisi komsumsi

Koordinator : Martha Ulfani Anggota : 1. Afrizal Sugianto

2. Khairatun Nisa 3. Mega Seprina 4. Nefri Yeni 5. Rizqia Nita 6. Rosita Yesti 4. Divisi Perlengkapan

Koordinator : Evie Adriani Anggota : 1. Adi Winoto

2. Desrisa Ramadhani

(4)

5. Divisi Humas

Koordinator : Febri Tri Lestari Anggota :1. Ani ramadhani 2. Zulkhairatunnas 3.Nofriyanda 4. Junika Puputri 5. Titi Permata Sari 6. Yoga Mardani 6. Divisi kreatif

Koordinator : Pradina Ayusma Rosa Anggota : 1. Cindi Evira

7. Devisi dana

Koordinator : Nyimas Erika Dewi Anggota : 1. Puja Dahlia

2. Ratri

3.Dhian Anjarwani 4. Winda Gustifa Sari 5. Galuh Bening Auliasari 8. Devisi kebersihan

Koordinator : Elsy Gusmila Putri Anggota : 1. Belia Intan Oktaviani

(5)

Koordinator : Merissa Sumiardi

Anggota : 1. Mufid

Penerbit:

STKIP PGRI Sumbar Press

Kantor Pusat:

Gd. A Lt. 2 Kampus I STKIP PGRI Sumatera Barat Jl. Gajah Mada Gunung Pangilun Kota Padang, Phonecell/Telp: 085365372924/ (0751) 7053731. Email:

[email protected] Hak cipta dilindungi undang-undang

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit

(6)

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat sehingga prosiding ini dapat terselesaikan. Prosiding ini merupakan kumpulan artikel yang telah dipresentasikan pada Seminar Nasional dan Lomba Biologi tingkat SMA/MA se Sumatera Barat yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa (HIMA) Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat.

Prosiding ini terdiri dari 14 artikel yang terbagi atas dua bidang, yaitu Bidang Pendidikan dan Sains Biologi.

Akhirnya, secara umum atas nama Panitia dan secara khusus atas nama Editor mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah menyelesaikan prosiding ini.

Padang, 2019

Dewan Penyunting

(7)

KATA PENGANTAR PENGANTAR

DAFTAR ISI

Bidang Pendidikan Biologi

ANALISIS KURIKULUM DAN SISWA TERHADAP PENGEMBANGAN PENUNTUN PRAKTIKUM BIOLOGI BERORIENTASI PENDEKATAN PROBLEM BASED

LEARNING PADA MATERI RUANG LINGKUP BIOLOGI DAN KEANEKARAGAMAN HAYATI UNTUK SMA

Desi Sri Kurnia, Diana Susanti, Liza Yulia Sari ... 1 PERSEPSI GURU BIDANG STUDI ILMU PENGETAHUAN ALAM TERHADAP

PELAKSANAAN PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM KURIKULUM 2013 DI SMP NEGERI 1 LENGAYANG KABUPATEN PESISIR SELATAN

Destaria Sudirman, Ennike Gusti Rahmi ... 18

PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN BIOLOGI BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK SISWA KELAS X SMA NEGERI I KAPUR IX KABUPATEN 50 KOTA

Yohana, Gustina Indriati, Liza Yulia Sari ... 16 STRATEGI PEMBELAJARAN PQ4R (PREVIEW, QUESTION, READ, REFLECT,

RECITE, REVIEW) TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI PADA RANAH AFEKTIF DAN PSIKOMOTOR SISWA KELAS XI SMAN3 PARIAMAN

Ria Kasmeri, Ruth Rize Paas Megahati ... 23 ANALISIS SOAL ULANGAN HARIAN PADA MATERISISTEM REPRODUKSI

KELAS XI SMA NEGERI I PANTIKABUPATEN PASAMAN

Liza Yulia Sari, Des Eka Putri, Silvi Susanti ... 31 VALIDITAS PENUNTUN PRATIKUM IPA (BIOLOGI) BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA MATERI KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP UNTUK SMP

Mustika Dewi, Diana Susanti, Vivi Fitriani ... 38

VALIDITAS HANDOUT BERBASIS PENEMUAN TERBIMBING PADA MATERI HEREDITAS MANUSIA UNTUK SISWA KELAS XII SMA

Nesti Novalina Putri, Siska Nerita, Annika Maizeli ... 45

(8)

STUDI POPULASI KERANG Atactodea striata Gmelin DI PANTAI BATUKALANG KECAMATAN KOTO XI TARUSAN KABUPATEN PESISIR SELATAN

Indah Puteri Ramadhani, Armein Lusi Zeswita, Elza Safitri ... 52

JENIS-JENIS BURUNG HIAS YANG DIPERDAGANGKAN DI KOTA PADANG

Nurhadi, Fachrul Reza, Mimin M. Zural ... 160

PENYEBARAN Ceratium hirudinella (O.F. Moell) Dujardin Di DANAU DIATAS KABUPATEN SOLOK

Rina Widiana, Abizar, Azatul Hasnaini …... 171

JENIS-JENIS IKAN PADA KAWASAN INTERTIDAL DI TELUKCAROCOK TARUSAN KENAGARIAN CAROCOK ANAU KECAMATANKOTO XI TARUSAN KABUPATEN PESISIR SELATAN

Lora Purnamasari, Nursyahra, Elsha Pratiwi Zamril ... 177

KARAKTERISTIK POPULASI KERANG AIR TAWAR (Corbicula moltkiana) DI BATANG ANTOKAN KENAGARIAN III KOTO UTARA KECAMATAN IV KOTO AUR MALINTANG KABUPATEN PADANG PARIAMAN

Ismed Wahidi, Armein Lusi Zeswita ... 86

KEPADATAN POPULASI Littoraria scabra PADA ZONA INTERTIDAL DI PANTAI BATU KALANG KECAMATAN KOTO XI TARUSAN

KABUPATEN PESISIR SELATAN

Febri Yanti , Widuri Handayani, Armein Lusi Zeswita,... 94

PENINGKATAN BERAT BADAN BENIH IKAN NILA (Oreochormis Nilothicus) dengan KOMBINASI TEPUNG DAUN LAMTORO (Leucena Leucocephala) dan EKSTRAK KUNYIT PUTIH (Curcuma longa)

Silvi Susanti, Rina Widiana, Muflihah Darajat ... 100

(9)

ISSN 2579-7766 1 ANALISIS KURIKULUM DAN SISWA TERHADAP PENGEMBANGAN PENUNTUN PRAKTIKUM BIOLOGI BERORIENTASI PENDEKATAN

PROBLEM BASED LEARNING PADA MATERI RUANG LINGKUP BIOLOGI DAN KEANEKARAGAMAN HAYATI UNTUK SMA

Desi Sri Kurnia, Diana Susanti, Liza Yulia Sari Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat

Jalan Gunung Pangilun Padang, Kota Padang, Sumatera Barat Email : [email protected]

ABSTRACT

The hallmark of Biology learning is practicum activities both inside the laboratory and outside the laboratory. Practicum will be more effective when using a practicum guide. During this time the practicum process has not used a practical guide or learning approach that is able to encourage students to learn actively. The purpose of this study was to find out the curriculum analysis and students for the development of practicum guides on biology subjects using Problem Based Learning (PBL). This research is a development research using a 4D model (define, design, develop, and disseminate) at this stage only until define. Data obtained from curriculum analysis and student analysis and analyzed by descriptive analysis. The results showed that curriculum analysis in PBL-oriented material on biological and biodiversity scope material was developed based on core competencies, basic competencies, indicators, and learning objectives developed in the material of scientific methods, work safety in laboratories, plant diversity, and diversity of animals . The results showed that Curriculum and Student Analysis of Guided Biology Practicum Development Guidelines for Problem Based Learning Approaches in the Scope of Biology and Biodiversity needed students in conducting practical activities based on questionnaires that had been distributed.

Keywords: practicum guide, Problem Based Learnimg (PBL)

ABSTRAK

Ciri pembelajaran Biologi adalah adanya kegiatan praktikum baik di dalam laboratorium maupun di luar laboratorium. Praktikum akan lebih efektif apabila menggunakan penuntun praktikum. Selama ini proses praktikum yang berlangsung belum menggunakan penuntun praktikum maupun pendekatan pembelajaran yang mampu mendorong siswa untuk belajar aktif. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui analisis kurikulum dan siswa untuk pengembangan penuntun praktikum biologi berorientasi problem based learning (PBL) pada mata pelajaran biologi. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan menggunakan model 4D (define, design, develop, dan disseminate) pada tahap ini hanya sampai tahap define. Data didapat dari analisis kurikulum dan analisis siswa dan dianalisis dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis kurikulum pada materi berorientasi PBL pada materi ruang lingkup biologi dan keanekaragaman hayati dikembangkan

(10)

ISSN 2579-7766 2 berdasarkan kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan tujuan pembelajaran dikembangkan pada materi metode ilmiah, keselamatan kerja di laboratorium, keanekaragaman tumbuh-tumbuhan, dan keanekaragaman hewan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Analisis Kurikulum dan Siswa Terhadap Pengembangan Penuntun Praktikum Biologi Berorientasi Pendekatan Problem Based Learning Pada Materi Ruang Lingkup Biologi dan Keanekaragaman Hayati dibutuhkan siswa dalam melakukan kegiatan praktikum berdasarkan angket yang telah disebarkan.

Kata kunci: penuntun pratikum, problem based learnimg (PBL)

I. PENDAHULUAN

Ciri dari pembelajaran biologi adalah adanya kegiatan praktikum baik di dalam laboratorium maupun diluar laboratorium. Banyak konsep-konsep kompleks dalam biologi yang tidak dapat hanya dijelaskan secara lisan, namun perlu dilakukan praktik secara langsung guna memudahkan siswa dalam memahami konsep yang cukup rumit. Dengan adanya kegiatan praktikum, siswa akan memperoleh gambaran secara nyata mengenai teori ataupun materi yang telah diterima dikelas. Praktikum akan lebih efektif untuk meningkatkan keahlian siswa dalam pengamatan dan meningkatkan keterampilan serta sebagai sarana berlatih untuk menggunakan peralatan. Pelaksanaan praktikum harus ditunjang dengan sarana dan prasarana laboratorium biologi yang harus sesuai dengan standar minimal laboratorium.

Praktikum merupakan salah satu kegiatan yang sangat berperan dalam menunjang keberhasilan proses belajar mengajar IPA salah satunya yaitu Biologi.

Menurut Halimatul dan Supriyanti (2006) fungsi praktikum antara lain: a) memperjelas konsep yang disajikan di kelas melalui contoh langsung dengan alat, bahan atau peristiwa alam; b) meningkatkan keterampilan intelektual siswa melalui observasi atau pencarian informasi teori secara lengkap dan selektif yang mendukung pemetaan persoalan praktikum, melatih siswa dalam memecahkan masalah, menerapkan pengetahuan dan keterampilan terhadap situasi yang dihadapi; c) melatih dalam merancang eksperimen, melakukan eksperimen, menginterpretasi data, dan mengambil sikap ilmiah.

Dari hasil wawancara dengan guru SMA Negeri 1 V Koto Kampung Dalam dan siswa pada bulan Juni 2018 dimana pada sekolah tersebut telah memiliki

(11)

ISSN 2579-7766 3 sebuah laboratorium biologi dan alat-alat yang memadai untuk melakukan kegiatan praktikum. Pelaksanaan kegiatan praktikum sudah dilaksanakan namun pada pelaksanaannya siswa tidak memiliki penuntun praktikum tersendiri. Pada praktikum yang dilaksanakan, siswa hanya menggunakan buku paket yang didalamnya hanya memuat alat dan bahan yang digunakan, serta langkah-langkah pelaksanaannya. Lembar kegiatan praktikum yang terdapat pada buku paket tidak sesuai dengan penuntun praktikum yang semestinya. Dalam proses pelaksanaan praktikum siswa masih terlihat bingung dan kesulitan karena siswa tidak memahami langkah kerja yang terdapat dalam buku paket tersebut.

Pelaksanaan praktikum akan lebih efektif apabila menggunakan penuntun karena dapat membantu siswa dalam mengembangkan proses belajar ilmiah.

Penggunaan penuntun praktikum juga dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, sehingga dapat membantu siswa untuk menemukan konsep sendiri dan mampu menemukan solusi dari setiap permasalahan yang ditemukan. Oleh karena itu perlu dikembangkan sebuah penuntun praktikum yang dapat membantu siswa, yaitu penuntun praktikum yang valid dan praktis.

Untuk mengetahui karakteristik siswa dilakukan dengan penyebaran angket kepada siswa dengan megajukan beberapa pertanyaan yaitu : 1) apakah ananda menyukai penuntun praktikum biologi?; 2) apakah ananda pernah melakukan kegiatan praktikum?; 3) apakah dalam kegiatan praktikum anada menggunakan penuntun praktikum?; 4) apakah ananda merasa kesulitan dalam melakukan kegiatan praktikum?; 5) apakah ananda membutuhkan sebuah buku penuntun praktikum?; 6) apakah ananda merasa terbantu apabila dalam pelaksanaan kegiatan praktikum menggunakan buku penuntun praktikum?; 7) apakah ananda tau langkah-langkah Problem Based Learning?; 8) apakah ananda setuju jika di dalam kegiatan praktikum menggunkan buku penuntun praktikum berbasis Problem Based Learning?; 9) warna apakah yang ananda sukai?; 10) jenis tulisan yang ananda sukai?; 11) ukuran tulisan yang ananda sukai?; 12) ukuran spasi yang ananda sukai?.

Dalam hal ini peneliti mengembangkan penuntun pratikum agar guru dalam melakukan kegiatan pratikum dapat lebih efektif dan efisien menggunakan penuntun pratikum yang telah dikembangkan. Bagi siswa, agar siswa lebih mudah

(12)

ISSN 2579-7766 4 dalam melakukan kegiatan pratikum pada materi ruang lingkup biologi dan keanekaragaman hayati.

II. METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan (research and the development) dengan model prosedural. Model prosedural adalah model yang bersifat deskriptif yang menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk berupa penuntun praktikum berbasis Problem Based Learning (PBL) pada materi ruang lingkup biologi dan keanekaragaman hayati untuk SMA kelas X. Penelitian ini dilaksanakan di STKIP PGRI Sumatera Barat dan di SMAN 1 V Koto Kampung Dalam Kabupaten Padang Pariaman pada semester genap tahun 2018/2019.

Dalam penelitian ini model pengembangan yang digunakan adalah memodifikasi model pengembangan 4-D. Prosedur penelitian pengembangan meliputi 4 tahap pengembangan, yaitu pendefinisian (Define), perancangan (Design), pengembangan (Develop) dan penyebaran (Disseminate). Penelitian ini dilakukan sampai tahap pendefinisian (Define) (Trianto, 2010: 93).

III. HASIL

Berdasarkan Berdasarkan hasil angket yang dibagikan kepada siswa, selanjutnya diketahui bahwa siswa tersebut umumnya menyukai warna yang cerah seperti biru, hijau, dan merah. Kemudian sebanyak 83,87% siswa menyukai penuntun praktikum biologi, 67,74% siswa menyatakan pernah melakukan kegiatan praktikum, 83,87% siswa menyatakan tidak menggunakan penuntun dalam kegiatan praktikum, 70,96% siswa meyatakan merasa kesulitan dalam melaksanakan kegiatan praktikum, 64,51% siswa menyatakan membutuhkan sebuah penuntun praktikum, dan 83,87% siswa menyatakan merasa terbantu dengan adanya penuntun praktikum dalam pelaksanaan kegiatan praktikum. Hasil dari analisis siswa ini dijadikan kerangka acuan dalam menyiapkan aspek-aspek yang berhubungan dengan penuntun praktikum yang akan dibuat, sehingga peneliti dapat merancang penuntun praktikum yang sesuai dengan karakteristik siswa.

(13)

ISSN 2579-7766 5 Analisis tugas bertujuan untuk mengidentifikasi tugas-tugas utama yang akan dilakukan siswa. Analisis tugas terdiri dari analisis terhadap Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) terkait materi yang akan dikembangkan.

1) Analisis Struktur Isi

Analisis struktur isi dilakukan dengan berpedoman kepada kurikulum yang berlaku, yaitu kurikulum 2013. Hasil analisis struktur isi kurikulum 2013 pada mata pelajaran Biologi SMA pada materi Ruang Lingkup Biologi dan Keanekaragaman Hayati sebagai berikut:

a) Menentukan Kompetensi Inti

KI1 :Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

KI2 :Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

KI3: Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

KI4: Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

b) Menentukan Kompetensi Dasar

3.1 Memahami tentang ruang lingkup biologi (permasalahan pada berbagai obyek biologi dan tingkat organisasi kehidupan), metode ilmiah dan prinsip keselamatan kerja berdasarkan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari.

3.2 Menganalisis berbagai tingkat keanekaragaman hayati di Indonesia beserta ancaman dan pelestariannya.

(14)

ISSN 2579-7766 6 c) Menentukan Indikator

(a) Menjelaskan tahapan-tahapan metode ilmiah.

(b) Mengkomunikasikan laporan ilmiah.

(c) Menjelaskan fungsi dan peraturan laboratorium.

(d) Menjelaskan alat dan bahan yang berbahaya.

(e) Menjelaskan simbol-simbol dalam laboratorium.

(f) Mengidentifikasi keanekaragaman gen, jenis, dan ekosistem makhluk hidup.

(g) Mengenali kekhasan berbagai tingkat keanekaragaman di lingkungan sekitar.

(h) Menjelaskan keanekaragaman hayati di Indonesia berdasarkan garis Weber dan Wallace.

(i) Menyebutkan manfaat keanekaragaman hayati di Indonesia.

(15)

ISSN 2579-7766 7 IV. PEMBAHASAN

Pada tahap ini bertujuan untuk mengetahui hal apa saja yang dibutuhkan oleh siswa dalam pembelajaran Biologi khususnya kegiatan praktikum.

Berdasarkan hasil analisis dari angket karakteristik siswa dan respon siswa terhadap bahan ajar, terungkap bahwa siswa rata-rata berusia antara 15-18 tahun, sebanyak 83,87 % siswa menyukai penuntun praktikum biologi, 67,74 % siswa menyatakan pernah melakukan kegiatan praktikum, 83,87 % siswa menyatakan tidak menggunakan penuntun dalam kegiatan praktikum, 70,96 % siswa meyatakan merasa kesulitan dalam melaksanakan kegiatan praktikum, 64,51 % siswa menyatakan membutuhkan sebuah penuntun praktikum, dan 83,87 % siswa menyatakan merasa terbantu dengan adanya penuntun praktikum dalam pelaksanaan kegiatan praktikum. Pada umumnya peserta didik menyukai warna- warna cerah seperti biru, merah, dan hijau.

Pada tahap analisis kurikulum bertujuan untuk mengidentifikasi tugas- tugas utama yang akan dilakukan siswa. Analisis ini terdiri dari analisis terhadap Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), indikator, dan tujuan pembelajaran. Analisis struktur isi berpedoman pada kurikulum yang berlaku, yaitu kurikulum 2013.

V. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis kurikulum dan siswa yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa perlunya dilakukan pengembangan terhadap bahan ajar yaitu penuntun praktikum biologi berorientasi problem based learning .

DAFTAR PUSTAKA

Arends, RichardI. 2007. Learning to Teach. New York : Mc Graw-Hill.

Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).2008. Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Ditjen Dikdasmenum.

Prastowo, A. 2011.Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta:

Diva press.

Rohman Amri, Sofan Amri. 2013. Strategi dan Desain Pengembangan Sistem Pembelajaran. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.

Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, dan kontekstual. Jakarta: Kencana Predanamedia Grup.

(16)

ISSN 2579-7766 8 PERSEPSI GURU BIDANG STUDI ILMU PENGETAHUAN ALAM TERHADAP PELAKSANAAN PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM KURIKULUM 2013 Di SMP NEGERI 1 LENGAYANG KABUPATEN

PESISIR SELATAN

Destaria Sudirman, Ennike Gusti Rahmi Pendidikan Biologi STKIP Ahlussunnah Bukittinggi

Email : [email protected]

ABSTRACT

Indonesia always experience curriculum change which one of them is curriculum 2013. This curriculum change is done by the government with the aim of improving the education system in Indonesia, it caused by 2013 curriculum got many critics not only agree but also disagree from various particular. The aim of this research was to analyze perception of natural science teachers in junior high school 2 in lengayang district pesisir selatan in implementation scientific learning in 2013 curriculum. this research was qualitative with descriptive design, the population was all of natural science teacher of junior high school 2 in lengayang district. Sample of this research was natural science teacher who had implemented the 2013 curriculum.technique of collecting data was observation, interview, and questioner. Further analyzed using percentage formula. The results of this study indicate that the teacher's perception in the field of Natural Knowledge in Lengayang Junior High School 2 about the implementation of scientific approach learning in the 2013 curriculum is sufficient for its application, but there are still deficiencies, the implementation is still quite complicated because students have not fully understood the steps of scientific learning because it is using conventional learning, supporting infrastructure in schools is not adequate such as lack of available learning books at school, and incomplete laboratory equipment as well as the penilainya technique is still difficult because not used applied in the learning process.

Keywords: perception, curriculum 2013, scientific approach ABSTRAK

Indonesia selalu mengalami perubahan kurikulum yang salah satunya yaitu kurikulum 2013. Perubahan kurikulum ini dilakukan pemerintah dengan tujuan perbaikan sistem pendidikan di Indonesia, dimana dalam kurikulum 2013 ini muncul berbagai pendapat atau tanggapan serta terjadi pro dan kotra dari berbagai pihak. Kegiatan evaluasi dan teknis penilaian dan pelaksanaan kurikulum 2013 merupakan aspek yang dipandang sulit untuk diaplikasikan oleh guru dalam pembelajaran di kelas. Guru diharuskan merekapitulasi semua aspek penilaian baik secara kognitif dan sikap (etika siswa) selama proses pembelajaran berlangsung, dengan adanya format penilaian yang begitu banyak membuat guru merasa kesulitan dalam mengoptimalkan waktu pada penerapan saintifik dalam kurikulum 2013. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji Persepsi dari setiap guru bidang studi Ilmu Pengatahuan Alam di SMPN 1 Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan terhadap pelaksanaan Pendekatan Saintifik dalam kurikulum 2013. Jenis

(17)

ISSN 2579-7766 9 penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Populasi penelitian ini semua guru bidang studi Ilmu Pengatahuan Alam di SMPN 1 Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan dan yang menjadi sampel adalah guru bidang studi Ilmu Pengatahuan Alam yang sudah melaksanakan kurikulum 2013. Dalam pengumpulan data digunakan teknik observasi, wawancara, dan angket. Selanjutnya dianalisis menggunakan rumus persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi guru bidang studi Ilmu Pengatahuan Alam di SMPN 1 Lengayang tentang pelaksanaan pembelajaran pendekatan saintifik dalam kurikulum 2013 tergolong cukup untuk penerapannya, namun masih terdapat kekurangan yaitu pelaksanaannya masih cukup rumit karena siswa belum memahami betul langkah- langkah pembelajaran saintifik karena terbiasanya menggunakan pembelajaran konvensional, sarana prasarana penunjang pada sekolah belum memadai seperti kurangnya buku pembelajaran yang tersedia disekolah, dan peralatan laboratorium yang kurang lengkap serta teknik penilain yang masih sulit karena belum terbiasa diterapkan dalam proses pembelajaran.

Kata kunci: persepsi, kurikulum 2013, pendekatan saintifik

I. PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan hal penting bagi perkembangan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia, karena pendidikan merupakan salah satu alat yang digunakan untuk membebaskan manusia dari keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan. Pendidikan mampu menanamkan kemampuan yang baru bagi semua orang untuk mempelajari pengetahuan dan keterampilan baru sehingga dapat diperoleh manusia yang lebih unggul. Salah satu upaya perkembangan itu ditempuh dengan menerapkan perubahan kurikulum baru yaitu kurikulum 2013 yang disusun dengan dilandasi pemikiran tantangan masa depan, yaitu tantangan abad ke-21 dilandasi dengan abad ilmu pengetahuan dan kompetensi masa depan (Kurinasih dan Sani, 2014).

Perubahan kurikulum ini dilakukan pemerintah dengan tujuan perbaikan sistem pendidikan di Indonesia. Pengembangan kurikulum pada hakikatnya adalah proses penyusunan rencana tentang isi dan bahan pelajaran yang harus dipelajari serta bagaimana cara mempelajarinya sebagaimana yang dijelaskan oleh Sanjaya (2008 :31).

Dari hasil observasi yang dilakukan peneliti bulan oktober 2017 di beberapa SMPN Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan didapatkan informasi bahwa di SMPN 1 Lengayang kelas VII dan kelas VIII pada proses

(18)

ISSN 2579-7766 10 pembelajarannya sudah menggunakan kurikulum 2013, namun untuk pembelajaran di kelas IX tetap difokuskan pada kurikulum lama yaitu kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Selama kurang lebih satu setengah tahun pelaksanaan kurikulum pada kelas VII dan VIII ternyata tidak sedikit guru yang merasa sulit untuk bisa menerapkan pembelajaran di kelas dengan kurikulum 2013 tersebut. Kesulitan itu dipandang dari aspek teknik selama proses pembelajaran diantaranya pendekatan saintifik pada siswa sehingga pembelajaran siswa dapat menemukan jawaban dari permasalahan pembelajaran, namun pada kenyataannya guru belum bisa mengarahkan siswa dalam pelaksanaan pendekatan saintifik secara optimal.

Kegiatan evaluasi dan teknis penilaian dan pelaksanaan kurikulum 2013 merupakan aspek lain yang dipandang sulit untuk diaplikasikan oleh guru dalam pembelajaran di kelas. Guru diharuskan merekapitulasi semua aspek penilaian baik secara kognitif dan sikap (etika siswa) selama proses pembelajaran berlangsung, dengan adanya format penilaian yang begitu banyak membuat guru merasa kesulitan dalam mengoptimalkan waktu pada penerapan saintifik dalam kurikulum 2013. Hal ini juga merupakan tahap awal penyesuaian guru dari pelaksanaan perubahan kurikulum lama dengan penerapan kurikulum yang baru.

Penerapan pembelajaran di kelas dengan kurikulum 2013 mengalami kesulitan dipandang dari aspek teknik selama proses pembelajaran diantaranya penerapan pendekatan saintifik yaitu pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran dilakukan melalui proses ilmiah (Fadlillah, 2014).

Kegiatan evaluasi dan teknis penilaian dan pelaksanaan kurikulum 2013 merupakan aspek lain yang dipandang sulit untuk diaplikasikan oleh guru dalam pembelajaran di kelas. Karena proses penilaian pembelajaran menggunakan pendekatan penilaian otentik atau authentic assessment (Abdullah, Ridwan Sani, 2014).

Dari perkembangan kurikulum 2013 ini diharapkan mampu mencapai penerapannya dengan hasil yang diinginkan. Namun dalam pelaksanaan kurikulum ini juga banyak mengundang pro dan kontra yang menimbulkan persepsi yang berbeda diantara guru. Persepsi tersebut ada yang positif dan ada

(19)

ISSN 2579-7766 11 yang negatif. Dalam hal pengertian persepsi ini sendiri adalah bagaimana pandangan guru itu sendiri terhadap pelaksaaan kurikulum 2013.

Berdasarkan paparan di atas maka tujuan penelitian ini untuk mengetahui Persepsi Guru Bidang Studi Ilmu Pengetahuan Alam Terhadap Pelaksanaan Pendekatan Saintifik Dalam Kurikulum 2013 Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan.

II. METODE PENELITIAN

Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yang bersifat kualitatif.

Dimana, penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Margono, 2010). Data yang diperoleh dari lapangan akan dideskripsikan melalui kata-kata oleh peneliti.

Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh guru sekolah SMP bidang studi IPA yang ada di SMPN 1 Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan, dan sampelnya adalah guru bidang studi IPA SMPN 1 Lengayang yang sudah melaksanakan kurikulum 2013. Untuk menentukan sampel ini, penulis menggunakan tehnik sampling jenuh atau total sampling yaitu tehnik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel (Sugiyono, 2014).

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, quisoner (angket) dan dokumentasi. Kisi-kisi angket sebagai berikut.

Tabel 1.Kisi-kisi angket tentang persepsi guru bidang studi IPA SMP di Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan terhadap pelaksanaan pendekatan saintifik dalam kurikulum 2013

NO INDIKATOR BUTIR SOAL JUMLAH

1 Pemahaman pembelajaran pendekatan sanitifik dalam

kurikulum 2013 1,2,3,4,5 5

2 Kesiapan pembelajaran pendekatan sanitifik dalam

kurikulum 2013 6,7,8,9,10,11 6

3 Penerapan atau pelaksanaan pembelajaran

pendekatan sanitifik dalam kurikulum 2013 12,13,14,15,16,17 6 4 Kesulitan pembelajaran pendekatan sanitifik dalam

kurikulum 2013 18,19,20,21,22 5

(Kosasih, 2014)

Sebelum angket ini digunakan, maka terlebih dahulu divalidasi oleh 1 orang dosen yaitu Citra Ayu, M.Pd. Selanjutnya data yang diperoleh dari

(20)

ISSN 2579-7766 12 instrument penelitian diolah dengan menggunakan teknik persentase (%) (Purwanto, 2006).

III. HASIL

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dengan guru-guru SMPN 1 Lengayang, kurikulum 2013 diterapkan pada semester pertama tahun ajaran 2016.

Tetapi tidak semua sekolah menerapkan kurikulum ini. Hanya sekolah yang ditunjuk pemerintahan saja yang dianggap mampu menjadi contoh untuk sekolah lainnya. Diantara sekolah yang menerapkan kurikulum 2013 dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Data Sekolah yang telah menerapkan Kurikulum 2013

No Nama Sekolah Kurikulum

1 2 3

1 SMPN 1 Lengayang Kurikulum 13

2 SMPN 2 Lengayang Kurikulum 13

3 SMPN 3 Lengayang Kurikulum 13

4 SMPN 4 Lengayang Kurikulum 13

5 SMPN 5 Lengayang KTSP

6 SMPN 6 Lengayang KTSP

(Sumber: Dinas Pendidikan Pessel)

Berdasarkan hasil penelitian yang didapat setelah dilakukan pengolahan data dengan menggunakan teknik persentase (%) dilihat dari jawaban angket responden yaitu Guru-Guru IPA SMPN 1 Lengayang mengenai “Persepsi Guru Bidang Studi Ilmu Pengetahuan Alam Terhadap Pelaksanaan Pendekatan Saintifik Dalam Kurikulum 2013 SMPN 1 Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan” dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3.Pengelompokkan Data Hasil Penelitian Berdasarkan Indikator

No

Item Instrume

n

Indikator

Jumlah Skor Item

(R)

Jumlah Skor Maksimal

(N)

Persentase

% Kategori

1 1-4 Pemahaman

Pembelajaran Pendekatan Saintifik dalam Kurikulum 2013

50 64 78,12% Cukup

2 5-10 Kesiapan

pembelajaran pendekatan sanitifik dalam kurikulum 2013

60 80 60,50% Kurang

3 11-16 Penerapan atau pelaksanaan pembelajaran

45 96 71,92% Cukup

(21)

ISSN 2579-7766 13

pendekatan sanitifik dalam kurikulum 2013

4 17-20 Kesulitan pembelajaran pendekatan sanitifik dalam kurikulum 2013

35 63 77,13% Cukup

Persepsi Guru Bidang Studi IPA di SMPN 1 Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan terhadap Pelaksanaan Pendekatan Saintifik dalam Kurikulum 2013

190 252 71,91% Cukup

Berdasarkan data hasil penelitian pada tabel di atas, maka dapat diketahui hasil penelitian ini tergolong pada kategori cukup dengan persentase 71,91%.

IV. PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Ibu Rahmawati, S.Pd Guru IPA SMPN 1 Lengayang bahwa kurikulum 2013 ini baik diterapkan pada proses pembelajaran, karena langkah-langkah pembelajaran yang menuntun siswa aktif karena pendekatan saintifik yang diterapkan pada kurikulum 2013 dapat membuat siswa lebih aktif, kreatif dan inovatif dalam mencari informasi, dan pemecahan masalah. Pembelajaran juga lebih terarah karena adanya langkah-langkah dalam pembelajaran pendekatan saintifik karena berkaitan erat dengan metode saintifik.

Metode saintifik menurut Abdullah, Ridwan Sani (2014) melibatkan pengamatan atau observasi, mengumpulkan data, memaparkan data yang diperoleh melalui pengamatan atau percobaan yang dapat diganti dengan kegiatan memperoleh informasi dari berbagai sumber. Hanya saja dalam pelaksanaannya masih cukup rumit karena siswa belum memahami betul langkah-langkah pembelajaran saintifik karna terbiasanya menggunakan pembelajaran konvensional.

Pembelajaran konvensional menurut Sanjaya (2010), siswa ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif.

Selain itu sarana prasarana penunjang pada sekolah belum memadai seperti kurangnya buku pembelajaran yang tersedia disekolah, peralatan laboratorium yang kurang lengkap.

Sebagian guru menyebutkan kesulitan dalam penerapan pembelajaran saintiftik dalam penilaian yang begitu banyak karena memiliki sistem penilaian

(22)

ISSN 2579-7766 14 yang lengkap dengan format beragam. Sistem remedial yang masih dibawa kriteria ketuntasan minimal (KKM) dengan alasan sistem remedial membutuhkan waktu dan kesempatan pembelajaran yang lebih.

Pembelajaran saintifik dalam kurikulum 2013 dapat merubah karakter siswa dalam bersikap menjadi lebih baik, karena siswa mengetahui bahwa penilaian pada sikap mempengaruhi penilaian lainnya. Sehingga siswa dapat memperhatikan dan mengikuti pelajaran dengan baik. Sedangkan setelah diterapkan kurikulum 2013 guru menyebutkan bahwa penilaian sikap kadang- kadang dapat merubah sikap siswa dan tidak dapat merubah siswa karena masih saja ada siswa yang tidak peduli dengan adanya penilaian sikap ini. Siswa masih sibuk dengan sendirinya tanpa mau belajar.

Penilaian pada pembelajaran dengan pendekatan saintifik meliputi tiga aspek penilaian yaitu: (a) penilaian proses atau keterampilan, dilakukan melalui observasi saat siswa bekerja kelompok, bekerja individu, berdiskusi, maupun saat presentasi dengan menggunakan lembar observasi kinerja, (b) penilaian produk berupa pemahaman konsep, prinsip dan hukum dilakukan dengan tes tertulis, (c) penilaian sikap, melalui observasi saat siswa bekerja kelompok, bekerja individu, berdiskusi, maupun saat presentasi dengan menggunakan lembar observasi sikap (Kurinasih dan Sani, 2014).

V. KESIMPULAN

Dari hasil penelitian terlihat dalam pelaksanaan pembelajaran pendekatan saintifik, persepsi guru tentang pembelajaran pendekatan saintifik dalam kurikulum 2013 tergolong cukup. Pelaksanaannya masih cukup rumit karena siswa belum memahami betul langkah-langkah pembelajaran saintifik karena terbiasanya menggunakan pembelajaran konvensional, sarana prasarana penunjang pada sekolah belum memadai seperti kurangnya buku pembelajaran yang tersedia disekolah, dan peralatan laboratorium yang kurang lengkap serta tekhnik penilaian yang rumit.

(23)

ISSN 2579-7766 15 UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan berkontribusi dalam penelitian ini. Terima kasih kepada ketua STKIP Ahlussunnah Bukittinggi Bapak Awerman, S.Sn., M.Hum., Ph.D, Ketua LPPM STKIP Ahlussunnah Bukittinggi Ibu Citra Ayu, M.Pd, Ketua Prodi Pendidikan Biologi Ibu Siska Arimadona, M.Pd, Guru IPA di sekolah SMPN 1 Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Ridwan Sani. 2014. Pembelajaran Saintifik Untuk Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Fadlillah. 2014. Implementasi Kurikulum 2013 Dalam Pembelajaran SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA. Yogyakarta: AR-Ruzz Media.

Kosasih. 2014. Strategi belajar dan pembelajaran implementasi kurikulum 2013.

Bandung: YramaWidya.

Kurinasih dan sani.2014. Sukses mengimplementasikan kurikulum 2013.

Surabaya: Kata Pena.

Kurinasih dan sani. 2014. Implementasi kurikulum 2013 konsep dan penerapanya.

Surabaya. Kata Pena.

Margono. 2010.Metodologi penelitian pendidikan. Jakarta: Pt Asdi mahasatya.

Purwanto.2006. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran.Bandung : PT.

Remaja Rosdakarya.

Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Prenada Media Group

Sugiyono. 2014.Metode penelitian kombinasi. Bandung: Alfabeta.

(24)

ISSN 2579-7766 16 PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN BIOLOGI

BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK SISWA KELAS X SMA NEGERI I KAPUR IX KABUPATEN 50 KOTA

Yohana, Gustina Indriati, Liza Yulia Sari

Program Studi Pendidikan Biologi SKIP PGRI Sumatera Barat Jalan Gunung Pangilun Padang, Kota Padang, Sumatera Barat

Email : [email protected]

ABSTRACT

Learning media used in SMAN 1 Kapur IX is still not have a module that uses a particular approach, this causing low creativity, this making students bared in learning. In connection with that, the development of modules besed on local wisdom with aimed at producing a Biology modules based on local wisdom in class X Students of SMAN 1 Kapur IX is valid and practical.This research includes development research (Research and Develoment). The research procedure uses 4-D (Four D) desigh wich consist of define (Define), design (Design), development (Develomemt), dessiminate (Dessiminate). At the development stage the receacher make validators using a validation queationaiere and looked at the partically of the modules based on local wisdom by using teacher and students response questionnaire. The result of the modul validation data acquisition obtained an average result of 79,16% with valid criteria. The practical result obtained from the teacher and students response an average 94,89% with very practical criteria. This is can be concluded that Biology modules besed on local wisdom are valid and practical to because for environment change material.

Keywords: module, local wisdom, enviromental change ABSTRAK

Media pembelajaran yang digunakan di SMAN 1 Kapur IX masih belum memiliki modul yang menggunakan pendekatan tertentu, sehingga menyebabkan rendahnya kreatifitas, sehingga membuat siswa bosan dalam pembelajaran. Sehubungan dengan itu dilakukan pengembangan modul yang berbasis Kearifan Lokal dengan tujuan menghasilkan modul Biologi berbasis Kearifan Lokal untuk siswa kelas X SMAN 1 Kapur IX yang Valid dan Praktis. Penelitian ini termasuk penelitian pengembangan (Research and development). Prosedur penelitian menggunakan desain 4-D (four D) yang terdiri dari tahap pendefenisian (define), perancangan (design), pengembangan (development), penyebaran (disseminate). Pada tahap pengembangan peneliti melakukan validasi terhadap modul Biologi berbasis Kearifan Lokal yang dilakukan oleh 3 orang validator dengan menggunakan angket validasi dan melihat Praktikalitas modul berbasis Kearifan Lokal dengan menggunakan angket respon guru dan siswa. Hasil pengolaan data validasi modul memperoleh hasil rata-rata sebesar 79,16 % dengan kriteria valid. Hasil praktikalitas yang diperoleh dari respon guru dengan rata-rata 92,5 % dengan kriteria sangat praktis. Hasil praktikalitas yang diperoleh dari respon siswa diperoleh rata-rata 94,89% dengan criteria sangat praktis. Dengan demikian dapat

(25)

ISSN 2579-7766 17 disimpulkan modul biologi yang berbasis kearifan lokal sudah valid dan praktis digunakan untuk materi perubahan lingkungan.

Kata kunci : modul, kearifan lokal, perubahan lingkungan

I. PENDAHULUAN

Pendidikan secara umum harus relevan dengan garis hidup untuk mencerdaskan rakyat dan mengangkat martabat bangsa, dalam rangka membangun kerja sama yang saling menguntungkan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Lufri dkk. (2007:4) menyatakan bahwa “Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah penggunaan media dan sumber pembelajaran”. Pengembangan modul pembelajaran merupakan salah satu solusi dalam meningkatkan daya serap pembelajaran Biologi, dengan menonjolkan kemampuan mengaplikasikan dalam konsep dasar untuk menciptakan proses pembelajaran yang baik.

Berdasarkan observasi yang dilakukan dengan mewawancarai guru Biologi di SMA N 1 Kapur IX pada 2 Januari 2018 ditemukan masalah bahwa proses pembelajaran yang dilakukan oleh beberapa guru Biologi, masih menggunakan buku paket yang dijadikan sebagai sumber belajar bagi siswa dan materi yang disajikan masih banyak yang bersifat abstrak materi Biologi masih belum bisa dipahami dengan mudah oleh siswa, karena masih banyak terdapat kata-kata yang sulit (bahasa latin atau istilah dalam Biologi) sehingga akan menyebabkan kebosanan pada saat belajar. Hal ini diduga sebagai penyebab rendahnya kreatifitas, sehingga membuat siswa menjadi bosan dalam proses pembelajaran.

Wibowo (2015:18) menyatakan bahwa kearifan lokal kepandaian dan strategi-strategi pengelolaan alam semesta dalam menjaga keseimbangan ekologis yang sudah berabad-abad teruji oleh berbagai bencana dan kendala serta keteledoran manusia. Kearifan lokal tidak hanya terhenti pada etika tetapi sampai pada norma, tindakan, dan tingkah laku, sehingga kearifan lokal dapat menjadi seperti religi yang mempedomani manusia dalam bersikap dan bertindak, baik dalam konteks kehidupan sehari-sehari maupun menentukan peradaban manusia lebih jauh. Dengan demikian memanfaatkan kearifan lokal dalam pembelajaran

(26)

ISSN 2579-7766 18 diharapkan minat, bakat dan kreatifitas siswa dapat dikembangkan dalam pembelajaran.

Salah satu materi Biologi adalah Perubahan Lingkungan yang berhubungan dengan lingkungan yang terdapat di Kapur IX Kabupaten 50 Kota pada modul sehingga pendekatan yang diberikan adalah kearifan lokal yang berhubungan dengan lingkungan alam yang ada di lingkungan sekolah, sehingga pemanfaatannya nanti sejalan dengan yang digariskan dalam buku sumber dan kurikulum.

Modul merupakan bahan ajar cetak yang dirancang untuk dapat dipelajari secara mandiri oleh siswa. Modul berisi materi yang disusun sedemikian rupa agar pelaksanaan kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan maksimal (Susilo,2014:51).

Modul berbasis kearifan lokal disusun dengan memperhatikan ada tidaknya kearifan lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Kearifan lokal yang ditemukan dilingkungan SMA N 1 Kapur IX tersebut berupa lubuk larangan, namun keberadaan lubuk larangan tersebut belum dimanfaatkan sebagai sumber belajar.

Fasilitas sekolah dapat dikatakan lengkap dan memadai, sarana prasarana seperti perpustakaan dan laboratorium dapat ditemukan pula. Sudjana dan Rivai (2010:213) Dengan mempelajari lingkungan alam diharapkan peserta didik dapat lebih memahami materi yang dipelajari di sekolah sehingga dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap alam, kesadaran untuk menjaga dan memelihara lingkungan, serta mau menanggulangi kerusakan lingkungan dan menjaga lingkungan agar tetap lestari.

Berdasarkan uraian tersebut telah dilakukan pengembangan modul pembelajaran yang memanfaatkan pengembangan lingkungan yang berbasis kearifan lokal sebagai media pembelajaran Biologi yang bervariasi sehingga memotivasi siswa dalam belajar, agar tujuan pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan dengan materi pembelajaran. Dengan pengembangan modul berbasis kearifan lokal ini diharapkan tujuan pembelajaran yang susuai dengan yang diharapkan.

(27)

ISSN 2579-7766 19 II. METODE PENELITIAN

Penelitian dan pengembangan, yang lebih dikenal dengan Research dan Development (R & D). Penelitian pengembangan dapat memberi preskripsi yang berguna dalam pemecaha masalah rancangan dan desain dalam pembelajaran dan adanya semangat tinggi dan kompeksitas tentang sifat kebijakan dan reformasi pendidikan (Setyosari, 2013:222). Adapun produk yang dikembangkan dalam penelitian ini bahan ajar cetak berupa modul.

Model yang digunakan dalam pembelajaran adalah 4-D (four D), yang terdiri dari empat tahap. Tahap-tahap pengembangan ini terdiri dari define (pendefenisian), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran) dalam Trianto (2012:93).

Subjek penelitian dalam pengembangan modul barbasis kearifan lokal pada materi Perubahan Lingkungan adalah guru Biologi SMA yang dijadikan subjek dalam penelitian in sebanyak dua orang, sedangkan siswa kelas X MIPA I SMAN I kapur IX sebanyak 23 orang pada tahun ajaran 2017/2018. Jenis data yang diambil dalam penelitian adalah data primer dan data sekunder.

Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa angket validasi terhadap modul yang dikembangkan dan angket praktikalitas guru dan peserta didik di SMA Negeri 1 Kapur IX.

Instrumen validasi terhadap modul dilakukan oleh tiga orang validator, yaitu 2 orang dosen Pendidikan Biologi STKIP Yayasan Abdi Pendidikan Payakumbuh dan 1 orang guru Biologi di SMA Negeri 1 Kapur IX.

Teknik analisis yang dilakukan adalah data yang diperoleh dari hasil validasi oleh pakar dan data yang diambil dari pelaksanaan uji coba terbatas disekolah seperti angket praktikalitas oleh guru dan siswa.

III. HASIL

Penilaian modul yang dilakukan oleh tiga orang pakar dengan menggunakan angket penilaian pakar yang meliputi kelayakan isi, kelayakan penyajian, penilaian kebahasaan, kelayakan kegrafikan, dan nuansa kearifan lokal.

Data dari pakar dapat dilihat dari hasil penilaian pada Tabel 1.

(28)

ISSN 2579-7766 20

Tabel 1 Hasil Validasi Oleh Validator Biologi Terhadap Modul No

Standar Penilaian

Validator Jumlah Nilai Validasi (%)

Kriteria Skala

V1 V2 V3

1 Kelayakan Isi 18 18 20 56 77,77 Valid

2 Kelayakan Penyajian 18 20 18 56 77,77 Valid

3 Penilaian Kebahasaan 18 18 21 57 79,16 Valid

4 Kelayakan Kegrafikan 9 11 10 30 83,33 Sangar Valid

5 Nuansa Kearifan Lokal 9 11 8 28 77,77 Valid

Jumlah 227 395,8

Rata-rata total 19,16 Valid

Keterangan :

Validator 1 : Diana Zulyetty, M.Pd Validator 2 : Drs.Elijonnahdi, M.Si Validator 3 : Pebriana, S.Pd

Dari hasil uji coba yang dilakukan kepada dua orang guru Biologi SMAN 1 Kapur IX seperti yang terdapat pada Tabel 2.

Tabel 2 Praktikalitas Oleh Guru Biologi Terhadap Modul

No Aspek Penilaian Jumlah Persentase Item (%) Kriteria Penilaian

1 Kemudahan Modul 10 100 Sangat Praktis

2 Isi Materi Modul 10 100 Sangat Praktis

3 Penyajian Modul 12 100 Sangat Praktis

4 Berbasis Kearifan Lokal 7 87,5 Sangat Praktis

5 Kepraktisan 3 75 Praktis

Rata-rata 92,5 Sangat Praktis

Berikut merupakan distribusi data siswa terhadap modul yang dikembangkan dengan hasil pada Tabel 3.

Tabel 3 Hasil Respon Siswa Terhadap Modul

No Aspek Penilaian Jumlah Persentase Item (%) Kriteria Penilaian

1 Kemudahan Penggunaan 110 95,65 Sangat Praktis

2 Isi Materi 66 95,65 Sangat Praktis

3 Penyajian Modul 169 91,84 Sangat Praktis

4 Berbasis Kearifan Lokal 42 91,30 Sangat Praktis

5 Kepraktisan 46 100 Sangat Praktis

Rata-rata 94,89 Sangat Praktis

Berdasarkan hasil penilaian modul yang terlihat pada Tabel 1 bahwa kelima aspek yaitu kelayakan isi, kelayakan penyajian, penilaian dari kebahasaan, kelayakan kegrafikan dan nuansa kearaifan lokal termasuk pada kategori valid.

Dari penilaian modul yang dilakukan memalaui pembagian angket dapat digunakan, namun harus melakukan proses revisi berdasarkan dari saran yang diberikan oleh validator terhadap modul.

Berdasarkan dari hasil praktikalitas guru terhadap modul yang dikembangkan pada uji coba produk terlihat pada Tabel 2, maka praktikalitasnya

(29)

ISSN 2579-7766 21 di peroleh adalah sangat praktis, sehingga modul dapat digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan pada Tabel 3 dapat dilihat dari kelima aspek terhadap uji coba modul yang dilakukan kepada siswa dengan kategori sangat praktis.hal ini didukung dengan pendapat Rochmad (2012:70) menyatakan bahwa produk dikatakan praktis jika produk tersebut diterakan dilapangan dan keterlaksanaannya dalam kelas. Modul yang dikatakan sangat praktis dikarenakan dengan adanya materi yang dilengkapi dengan gambar sehingga membantu siswa dalam proses pembelajaran berlangsung.

IV. PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka modul yang telah dikembangkan sudah sesuai dengan kurikulum dan perekembangan siswa sehingga modul dapat dikatakan valid dan praktis digunakan oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran

Respon yang diperoleh oleh guru biologi SMAN 1 Kapur IX sebanyak 2 orang diperoleh hasil dengan rata-rata 92,5 % dengan kriteria Sangat Praktis dan dapat digunakan oleh guru biologi pada materi Perubahan Lingkungan. Materi yang berisi dengan penjelasan dan saling keterkaitan dengan topik serta akan lebih mudah diajarkan kepada siswa dengan adanya gambar-gambar yang dapat menunjang materi sehingga modul memiliki penampilan yang menarik serta dapat memotivasi siswa dalam prose pembelajaran.

Respon dari siswa terhadap modul yang dikembangkan pada uji coba tanggal 26 April - 3 Mei 2018 di kelas X MIPA 1 yang berjumlah 23 orang, diperoleh rata-rata 94,89 % dengan katergori sangat Praktis. Hal ini menunjukkan secara keseluruhan modul ini memiliki daya tarik dan memotivasi siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini sejalan dengan Pribadi (2017:23) menyatakan “pemanfaatan media bertujuan untuk (1) memperoleh informasi dan pengetahuan; (2) mendukung aktivitas pembelajaran; (3) sarana persuasi dan motivasi”. Pernyataan tersebut sejalan dengan hasil yang sangat baik dengan demikian tujuan pembelajaran telah tercapai.

Setelah dilakukan revisi berdasarkan respon siswa barulah tercipta modul yang digunakan dalam proses pembelajaran pada materi Perubahan Lingkungan

(30)

ISSN 2579-7766 22 yang berbasiskan kearifan lokal yang terdapat di Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Lima Puluh Kota sehingga siswa dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

V. KESIMPULAN

Dari penelitian yang telah dilakukan maka diperoleh kesimpulan yaitu Penilaian modul oleh validator dengan penilaian valid dengan rata-rata 79,16 % sehingga modul dapat digunakan dalam proses pembelajaran Biologi di SMAN 1 Kapur IX. Respon guru terhadap prkatikalitas modul yang dikembangkan memiliki rata-rata 92,5% dengan penilaian sangat praktis. Repon siswa terhadap modul yang dikembangkan dengan rata-rata total 94,60% dengan penilaian sangat praktis.

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri & Aswan Zain. 2014. Strategi Belajar Mengajar.

Jakarta: Rineka Cipta.

Istarani. 2012. 58 Model Pembelajaran Inovatif. Medan: Media Persada.

Lufri. 2007. b. Strategi Pembelajaran Biologi. Padang: UNP

Mohamad, Nurdin & Hamzah B Uno. 2011. Belajar dengan Pendekatan PAILKEM. Jakarta: Bumi Aksara.

Silberman, Melvin. 2013. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif.

Bandung: Nuansa Cendekia.

(31)

ISSN 2579-7766 23 STRATEGI PEMBELAJARAN PQ4R (PREVIEW, QUESTION, READ, REFLECT, RECITE, REVIEW) TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI PADA RANAH AFEKTIF DAN PSIKOMOTOR SISWA KELAS XI SMAN

3 PARIAMAN

Ria Kasmeri, Ruth Rize Paas Megahati

Program Studi Pendidikan Biologi SKIP PGRI Sumatera Barat Jalan Gunung Pangilun Padang, Kota Padang, Sumatera Barat

Email :

ABSTRACT

This research was motivated by the existence of early observations in the school of SMAN 3 Pariaman where the low biology learning outcomes of class XI students of SMAN 3 Pariaman. The low learning outcomes are caused by several things including when the teacher explains the material there are some students who pay less attention and there are some students who chat apart from the material being discussed. In addition, it is also caused by the absence of feedback or responses from students when the teacher asks about students 'understanding of the material being studied and also the lack of students' desire in using media and source books and the limited number of available source books. This is one of the causes of the low student biology learning outcomes and has not reached the Minimum Completion Criteria (KKM) that has been set by the school. One solution that can improve student learning outcomes is by applying the PQ4R learning strategy (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review). The purpose of this study was to find out how PQ4R learning strategies (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) on affective biology learning outcomes and psychomotor domains of class XI students of SMAN 3 Pariaman. The design of this study is Randomized Control Posted Only Design. This type of research is experimental research with a population of class XI students of SMAN 3 Pariaman registered in 2017/2018. Experimental class XI2 and XI4 control class were taken using Purposive Sampling techniques. The research instrument used in the affective domain is in the form of observation sheets and psychomotor domains in the form of product evaluation (summary). Affective and psychomotor domain data analysis techniques use the t-test. The results of the assessment data analysis in the affective domain with the experimental class 71 and control class 69. The results of the t-test are obtained th = 4.5 while tt = 1.67 means th> tt so the hypothesis is accepted (H1). In the psychomotor domain with an experimental class average of 86 and a control class of 75. The results of the t-test are obtained th = 1.52 while tt = 1.67 means th <tt thus the hypothesis is rejected (H0). Based on data analysis, it can be concluded that the PQ4R learning strategy (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) can affect the affective learning outcomes while in the psychomotor realm it has no effect.

Keywords: affective, PQ4R, psychomotor.

(32)

ISSN 2579-7766 24 ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya observasi awal di sekolah SMAN 3 Pariaman dimana rendahnya hasil belajar biologi siswa kelas XI SMAN 3 Pariaman. Rendahnya hasil belajar disebabkan oleh beberapa hal diantaranya pada saat guru menerangkan materi ada beberapa siswa yang kurang memperhatikan dan ada beberapa siswa yang mengobrol selain dari materi yang dibicarakan. Selain itu juga disebabkan oleh tidak adanya umpan balik atau tanggapan dari siswa saat guru menanyakan tentang pemahaman siswa pada materi yang telah dipelajari dan juga kurangnya keinginan siswa dalam penggunaan media dan buku sumber serta keterbatasan jumlah buku sumber yang ada. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab rendahnya hasil belajar biologi siswa dan belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang telah ditetapkan sekolah. Salah satu solusi yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan menerapkan strategi pembelajaran PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana strategi belajar PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) terhadap hasil belajar biologi ranah afektif dan ranah psikomotor siswa kelas XI SMAN 3 Pariaman. Rancangan penelitian ini adalah Randomized Control Posted Only Design. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan populasi siswa kelas XI SMAN 3 Pariaman yang terdaftar pada tahun 2017/2018. Kelas eksperimen XI2 dan kelas kontrol XI4 yang diambil dengan menggunakan teknik Purposive Sampling. Instrumen penelitian yang digunakan pada ranah afektif berupa lembar observasi dan ranah psikomotor berupa penilaian produk (ringkasan). Teknik analisis data ranah afektif dan ranah psikomotor menggunakan uji-t. Hasil analisis data penilaian pada ranah afektif dengan rata- rata kelas eksperimen 71 dan kelas kontrol 69. Hasil uji-t diperoleh th = 4,5 sedangkan tt =1,67 berarti th > tt sehingga hipotesis diterima (H1). Pada ranah psikomotor dengan rata- rata kelas eksperimen 86 dan kelas kontrol 75. Hasil uji-t didapatkan th = 1,52 sedangkan tt

= 1,67 berarti th < tt dengan demikian hipotesis ditolak (H0). Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan strategi belajar PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) dapat berpengaruh pada hasil belajar ranah afektif sedangkan pada ranah psikomotor tidak berpengaruh.

Kata kunci : afektif, PQ4R, psikomotor.

I. PENDAHULUAN

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang penulis lakukan terhadap guru biologi di SMAN 3 Pariaman pada bulan Oktober tahun 2017 diperoleh informasi bahwa dalam proses belajar mengajar guru menghadapi beberapa kendala, diantaranya ada beberapa siswa yang kurang memperhatikan, dan ada beberapa siswa yang mengobrol selain dari materi pembelajaran di dalam kelas saat guru menerangkan. Hal tersebut dapat terlihat dari tidak adanya umpan

(33)

ISSN 2579-7766 25 balik atau tanggapan dari siswa saat guru menanyakan tentang pemahaman siswa pada materi yang telah dipelajari, serta kurangnya penggunaan media dan buku sumber.Hal ini memberi dampak pada hasil belajar siswa, yaitu hasil belajar siswa masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Rendahnya hasil belajar siswa terlihat dari nilai rata-rata Ulangan Harian pada materi sistem reproduksi tahun ajaran 2016/2017 SMAN 3 Pariaman kelas XI, yaitu XI IPA1 (71), XI IPA2 (71), XI IPA3 (73), XI IPA4 (70). Hasil belajar siswa tersebut dibawah kriteria ketuntasan minimal (KKM), sedangkan KKM yang ditetapkan untuk mata pelajaran Biologi di SMAN 3 Pariaman adalah 79.

Dilihat dari segi materi, sistem reproduksi pada manusia menuntut siswa untuk memahami konsep. Konsep pada materi sistem reproduksi yang sulit dipahami oleh siswa diantaranya, sulit memahami struktur dari sistem reproduksi pada pria dan wanita dimana siswa terbalik dalam menyebutkan antara organ pria dan wanita, sulit memahami proses spermatogenesis, proses oogenesis, menstruasi dan siswa juga kurang memahami proses fertilisasi, dimana pada proses tersebut siswa terbalik-balik dalam mengurutkan tahapan- tahapannya dan hormon- hormon yang berperan pada proses tersebut.

Untuk mengatasi masalah tersebut, salah satu caraya adalah dengan mengunakan strategi yang mampu meningkatkan kreatifitas siswa. Diantaranya dengan menggunakan strategi pembelajaran PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite dan Review). Strategi PQ4R menurut Trianto (2009: 150) merupakan salah satu bagian dari strategi elaborasi. Strategi ini digunakan untuk membantu siswa mengingat apa yang mereka baca, dan dapat membantu proses belajar mengajar di kelas yang dilaksanakan dengan kegiatan membaca buku. Kegiatan membaca buku bertujuan untuk mempelajari sampai tuntas bab demi bab suatu buku pelajaran. Oleh karena itu keterampilan pokok pertama yang harus dikembangkan dan dikuasai oleh para siswa adalah membaca buku pelajaran dan bacaan tambahan lainnya.

Penelitian yang pernah dilakukan oleh Wijaya (2014: 1) tentang Pengaruh Metode Pembelajaran PQ4R Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas VIII Di SMP Negeri 1 Sawan, hasil belajar yang didapatkan pada kelas eksperimen

(34)

ISSN 2579-7766 26 53,42 dan pada kelas kontrol 44,25, Agustina dkk (2015: 25) tentang Pengaruh Penerapan Strategi Belajar PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) Menggunakan Media Komik Pada Kemampuan Kognitif Siswa Pada Materi Sistem Saraf, hasil belajar yang didapatkan pada kelas eksperimen 85,25 dan pada kelas kontrol 55,87, dan Hidayah dkk (2015: 146) Penerapan Pendekatan PAIKEM dengan Strategi PQ4R Dalam Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Pada Pelajaran Biologi, didapatkan peningkatan hasil belajar dari siklus I ke siklus II sebesar 12,75.

II. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April semester II di SMAN 3 Pariaman tahun pelajaran 2017/2018.

Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah eksperimen. Penelitian ini menggunakan dua kelas sampel yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen adalah kelas yang diberi perlakuan yaitu penerapan strategi pembelajaran PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, dan Review), sedangkan kelas kontrol proses pembelajarannya dengan diskusi dan tanya jawab.

III. HASIL 1. Ranah Afektif

Penilaian ranah afektif dilakukan selama proses pembelajaran yang dinilai oleh observer. Hasil observasi pada ranah afektif kelas eksperimen dan kelas kontrol yang mencakup dua indikator yaitu bekerja sama dan bertanggung jawab disajikan pada Gambar 1.

(35)

ISSN 2579-7766 27

Gambar 1. Hasil Belajar Siswa Ranah Afektif

Pada Gambar 1 dapat dilihat rata-rata nilai afektif pada kelas eksperimen yang diberikan perlakuan dengan penerapan strategi pembelajaran PQ4R lebih tinggi dari pada kelas kontrol yang menggunakan diskusi tanya jawab. Pada uji normalitas kedua kelas sampel berdistribusi normal, dan untuk uji homogenitas kedua kelas sampel memiliki varians yang homogen. Setelah dilakukan uji hipotesis didapatkan hasil bahwa hipotesis diterima, artinya penerapan strategi pembelajaran PQ4R dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas XI SMAN 3 Pariaman pada ranah afektif.

2. Ranah Psikomotor

Berdasarkan uji hipotesis pada ranah psikomotor didapatkan hasil bahwa hipotesis ditolak artinya penerapan strategi pembelajaran PQ4R tidak dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas XI SMAN 3 Pariaman pada ranah psikomotor. Indikator yang diamati pada ranah psikomotor dilihat dari kelengkapan isi ringkasan, kerapian, kebersihan, dan kejelasan dalam penulisan ringkasan.

IV. PEMBAHASAN 1. Ranah Afektif

Rata- rata penilaian afektif pada kelas eksperimen adalah 71 berada pada predikat (B) dan kelas kontrol dengan rata- rata 69 predikat (C). Rata- rata nilai

Gambar

Tabel  1.Kisi-kisi  angket  tentang  persepsi  guru  bidang  studi  IPA  SMP  di  Kecamatan  Lengayang  Kabupaten  Pesisir Selatan terhadap pelaksanaan pendekatan saintifik dalam kurikulum 2013
Tabel 3.Pengelompokkan Data Hasil  Penelitian Berdasarkan Indikator
Tabel 1 Hasil Validasi Oleh Validator Biologi Terhadap Modul  No
Gambar 1. Hasil Belajar Siswa Ranah Afektif
+7

Referensi

Dokumen terkait

temannya. Klien sering merasa enggan ketika akan meminta bantuan dengan orang lain ketika dalam kesulitan. c) Merasa dirinya gagal dan tidak ada gunanya lagi. Selalu berputus asa

Definisi: Himunan P dengan relasi R pada P dinamakan poset jika R memenuhi sifat refleksif, antisimetris, dan transitif.. Contoh1: Misalkan Z adalah himpunan semua bilangan

SK NO SURAT REKOMENDASI DARI PROVINSI NO NAMA PERUSAHAAN PROVINSI KABUPATEN / KOTA NO DAN TAHUN SK WILAYAH

Konsep pemikiran yang kritis seperti inilah kelihatan jelas dalam ungkapan-ungkapan mantera yang dikemukakan menerusi ritual mengagah harimau, di mana dapat dilihat

Berdasarkan 15 atribut kemitraan yang dianalisa, terdapat 6 atribut kemitraan yang memiliki tingkat kepentingan yang tinggi dan kinerja dari atribut kemitraan

7 Terdapat informasi yang jelas mengenai status perusahaan target dalam melakukan merger dan akuisisi, baik perusahaan publik maupun perusahaan non publik

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka yang menjadi kesimpulan dari penelitian ini adalah hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran

Kualitas Spermatozoa Setelah Pengenceran Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan laktosa di dalam pengencer dapat meningkatkan persentase spermatozoa motil, sper- matozoa