kepadatan tanah yang berkurang dapat menyerap air dan unsur hara yang terlarut. Bokashi pupuk
HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi Tanaman Kedelai
Pemberian kombinasi amelioran dan NPK terhadap dua varietas kedelai tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman kedelai pada semua umur pengamatan. Hal ini menunjukan bahwa perlakuan yang diberikan tidak ada korelasi atau hubungan dalam memacu proses pertumbuhan tinggi tanaman yang diamati.
Pertumbuhan tanaman merupakan proses dimana terdapatnya pertambahan ukuran, berat dan jumlah sel pada tanaman. Tinggi tanaman merupakan ukuran tanaman yang sering diamati
sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan atau perlakuan yang diterapkan. Atas dasar kenyataan bahwa tinggi tanaman merupakan ukuran pertumbuhan tanaman yang paling mudah dilihat (Sitompul dan Guritno, 1995).
Gambar 1. Rata-Rata Tinggi Tanaman Umur 14-42 HST
Secara kualitatif varietas Baluran lebih baik dibandingkan varietas Rajabasa, karena mempunyai dampak positif yang paling besar terhadap pertumbuhan tinggi tanaman, dan juga secara sifat genetik varietas Baluran lebih tinggi dari varietas Rajabasa. Kombinasi amelioran dan NPK ternyata tidak dapat memacu proses pertumbuhan tinggi tanaman kedelai sampai diakhir
pengamatan (42 hst) (Gambar 1). Secara kualitas kombinasi amelioran dan NPK tertinggi terlihat pada A1 (49,18 cm) dan A2(48,17 cm), meningkatnya tinggi tanaman selama pertumbuhannya akibat efek dari proses fisiologis. Disamping itu juga, ketersediaan air bagi tanaman relatif kurang. Padahal faktor lingkungan seperti air sangat diperlukan oleh tanaman kedelai untuk mencapai pertumbuhan yang baik. Rata-rata curah hujan selama penelitian dari bulan Juli-September 2009 adalah 23,57 mm bulan-1) yang diperoleh dari Badan Meteorologi dan Geofisika. Curah hujan seperti ini tidak menguntungkan karena mengakibatkan kurang tersedianya air bagi tanaman.
Berat Kering Total Tanaman
Pemberian kombinasi amelioran dan NPK terhadap dua varietas kedelai tidak berpengaruh terhadap berat kering total tanaman. Saat penelitian, terjadi kabut asap sehingga terganggunya proses fotosintesis. Saat pertumbuhan tanaman, dimana penyinaran matahari kurang. Padahal pada saat pertumbuhan, tanaman sangat memerlukan cahaya matahari untuk melakukan fotosintesis.
Cahaya matahari merupakan sumber energi bagi fotosintesis. Karena cahaya matahari
mempunyai pengaruh yang besar terhadap proses fotosintesis, yang meliputi intensitas cahaya, lama penyinaran dan kualitas cahaya matahari. Cahaya yang berpengaruh pada tanaman dalam kegiatan fotosintesisnya disebut dengan PAR (Photosynthetic Activity Radiation) yang memiliki panjang gelombang sekitar 400 mm dan 750 mm (Jumin, 1994). Agar dapat memanfaatkan radiasi matahari secara efisien, tanaman harus dapat menyerap sebagian besar radiasi tersebut dengan jaringan fotosintesisnya yang hijau. Daun sebagai organ utama untuk menyerap cahaya dan untuk melakukan fotosintesis pada tanaman budidaya, mungkin berkembang dari embrio di dalam biji atau dari jaringan meristem di batang (Gardner dkk., 1991).
Jumlah Polong Isi Tanaman-1
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa faktor tunggal pemberian kombinasi amelioran dan NPK berpengaruh terhadap jumlah polong isi tanaman-1, sedangkan pada faktor tunggal varietas tidak berpengaruh.
Varietas Kedelai (V) Amelioran (A) Rata-rata A0 A1 A2 A3 A4 V1 12.39 28.06 25.89 23.34 22.67 22.47 V2 17.06 26.72 24.83 24.50 23.95 23.41 Rata-rata 14.73 a 27.39 b 25.36 b 23.92 ab 23.31 a 22.94 BNJ 5 % A = 10.01
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5 %.
Pada Tabel 1 dan Gambar 2, perlakuan A1 menghasilkan rata-rata polong isi terbesar yaitu A1
(27,39) dan A2 (25,36). Tingginya hasil perlakuan A1 dan A2 dibandingkan dengan perlakuan A0
(14,73), A3 (23,92), dan A4 (23,31), diduga kombinasi amelioran dan NPK cukup baik. Hal ini bisa dilihat dari manfaat pengapuran dan pupuk kandang terhadap jumlah polong isi. Hasil analisis tanah awal pH 3,72, penambahan pupuk kandang ke dalam tanah selain berfungsi untuk memperbaiki permeabilitas tanah juga dapat memperbaiki kesuburan kimia tanah karena
mengandung unsur N, P, K, Ca, Mg dan Cl, serta dapat meningkatkan kegiatan mikroorganisme tanah yang berarti juga akan meningkatkan kesuburan tanah (Sutedjo, 2002). Darung (1999), menambahkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang kotoran ayam 14 ton ha-1 dan kapur 1,70 ton ha-1 mampu mendatangkan manfaat bagi pertumbuhan tanaman dan hasil panen tanaman kedelai ditanam pada tanah gambut pedalaman Kalimantan.
Jumlah Polong Hampa Tanaman-1
Pemberian kombinasi amelioran dan NPK terhadap dua varietas kedelai tidak berpengaruh terhadap jumlah polong hampa tanaman-1.
Gambar 2. Rata-Rata Jumlah Polong Hampa dan Isi Kedelai Tanaman-1
Secara kuantitatif jumlah polong hampa berfluktuasi pada masing-masing perlakuan selain karena terganggunya proses fotosintesis akibat kabut asap selama penelitian, juga karena
serangan hama yaitu hama penghisap polong (Riptortus linearis) dan penggerek polong (Etiella zinckenella). Menurut Irwan (2006), hama penghisap polong (Riptortus linearis) menyebabkan polong bercak-bercak hitam dan menjadi hampa. Penggerek polong (Etiela zinchenella)
menyerang pada bagian polong terdapat lubang kecil. Waktu buah masih hijau, di dalam polong terdapat ulat gemuk hijau dan kotorannya. Salah satu faktor yang mempengaruhi tinggi
rendahnya hasil dari budidaya tanaman kedelai serangan hama (Rukmana, 2001). Berat Biji Petak-1
Faktor tunggal varietas pemberian kombinasi amelioran dan NPK berpengaruh terhadap berat biji petak-1.
Varietas Kedelai (V) Amelioran (A) Rata-rata A0 A1 A2 A3 A4 V1 193.83 469.38 370.22 333.67 304.56 334.33 b V2 177.23 239.57 264.27 299.92 302.04 256.60 a Rata-rata 185.53 354.47 317.24 316.80 303.30 295.47 BNJ 5 % V = 17.43
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5 %.
Pada Tabel 2, kombinasi amelioran dan NPK tidak berpengaruh antara perlakuan, sedangkan faktor varietas berpengaruh. Perlakuan yang diberikan berpengaruh terhadap berat kering biji petak-1, varietas V1 (Baluran)dengan rata-rata 334,33 gram petak-1 lebih tinggi dibandingkan dengan V2 (Rajabasa)rata-rata 256,60 gram petak-1. Ini karena adanya unsur hara P yang terdapat pada pupuk dasar amelioran seperti dolomit dan kotoran ayam, dan pupuk NPK mampu meningkatkan hasil berat biji petak-1,
Unsur N yang diserap tanaman pada varietas Baluran lebih banyak dengan perlakuan kombinasi amelioran dan NPK A2V1 (3.22), sedangkan pada varietas Rajabasa lebih rendah A3V2 (3.38). Unsur P yang diserap tanaman pada Varietas Baluran lebih banyak dengan perlakuan kombinasi amelioran dan NPK A1V1 (803.84), sedangkan pada varietas Rajabasa lebih rendah A1V2
(623.26). Unsur K yang diserap tanaman pada varietas Baluran lebih banyak dengan perlakuan kombinasi amelioran dan NPK A1V1 (12336.47), dibandingkan dengan varietas Rajabasa lebih rendah A1V2 (12172.87).
Unsur P pada varietas Baluran yang diserap tanaman tertinggi pada perlakuan A1, sehingga dapat meningkatkan hasil biji dan protein yang terdapat dalam biji (Rukmana, 2001). Unsur N yang diserap varietas Baluran tertinggi pada perlakuan A1 merupakan unsur yang juga berperan dalam meningkatkan hasil tanaman, karena N diperlukan dalam pembentukan bagian vegetatif seperti akar, batang, dan cabang untuk memacu terbentuknya bunga. Menurut Rukman (2001),
Pemupukan N dan P sering dapat meningkatkan hasil yang baik, terutama bila kandungan N dan P dalam tanah miskin unsur hara.
Unsur K yang diserap oleh varietas Baluran, lebih besar dibandingkan dengan varietas Rajabasa. Berdasarkan hasil analisis jaringan penyerapan unsur K tertinggi pada varietas Baluran A1V1
(12336.47), sedangkan pada varietas Rajabasa A1V2 (12172.87). Tanaman diduga memperoleh suplai unsur hara K yang cukup untuk meningkatkan berat biji petak-1 panen. Menurut Irwan (2006), unsur K sangat penting dan berperan dalam membantu pembentukan protein dan karbohidrat untuk meningkatkan hasil, yaitu berupa biji.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat biji kedelai varietas Baluran adalah 0,56 ton ha-1, dan pada varietas Rajabasa 0,43 ton ha-1. Hasil ini masihlebih rendah dari deskripsi varietas Baluran 2,5 ton ha-1, dan Rajabasa 2,05 ton ha-1 (Saragih, 2004).
Berat Kering 100 Biji
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa faktor tunggal varietas akibat pemberian kombinasi amelioran dan NPK berpengaruh terhadap berat kering 100 biji.
Tabel 3. Rata-rata Berat Kering 100 Biji Varietas Kedelai (V) Amelioran (A) Rata-rata A0 A1 A2 A3 A4 V1 10.71 13.66 11.44 11.68 10.95 11.69 b V2 7.61 8.83 8.82 9.58 9.94 8.96 a Rata-rata 9.16 11.25 10.13 10.63 10.45 10.32 BNJ 5 % V = 1.10
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama, tidakberbeda nyata menurut uji BNJ 5 %.
Demikian juga untuk berat 100 biji, berdasarkan pengamatan secara kualitatif bahwa varietas Baluran 11,69 gram memiliki rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Rajabasa 8,96 gram (Tabel 3). Selain berasal dari sifat genetik juga dipengaruhi oleh tingkat adaptasi terhadap lingkungan tempat tumbuhnya. Menurut Marwoto (2005), faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan dan hasil produksi tanaman, selain dari tanaman adalah faktor lingkungan seperti tanah yang memberikan unsur hara dan penyinaran dalam bentuk cahaya.
Rendahnya berat biji dan berat 100 biji pada masing-masing varietas yaitu Balurandan Rajabasa dibandingkan dengan deskripsinya, diduga selain faktor genetik juga karena faktor lingkungan yang tidak mendukung, yaitu terjadinya kabut asap hampir selama penelitian berlangsung yang mengakibatkan kurangnya cahaya matahari untuk melakukan proses fotosintesis. Budi dkk. (2009) menyatakan, bahwa meningkatnya energi radiasi matahari yang dapat diterima tajuk tanaman kedelai menjadikan proses fotosintesis meningkat, sehingga fotosintat yang dihasilkan akan meningkatkan hasil biji, karena memperbesar pasokan fotosintat ke bagian biji.