Follow “JURNAL ILMIAH AGRIPEAT FAPERTA UNPAR”
14 HST 21 HST 28 HST 14 HST 21 HST 28 HST Kontrol (D0) 3.94ab5.22a7.44a2.22a 3.67 a 5.89 a
Growmore(D1) 8.11c 10.78b 14.06b 3.67b 6.00b 11.11b Hyponex (D2) 3.50a 3.72a 7.69b 2.39a 4.11a 6.22a Mamigro (D3) 6.78bc 9.33b 12.11a 2.56a 4.22a 6.67a Bobot Segar Tanaman (g) Bobot Kering
Kontrol (D1) 0.88p 0.030p 4.34p
Growmore (D2) 1.26q 0.074r 5.94q
Hyponex (D3) 0.97p 0.035p 4.52p
Mamigro (D4) 1.13q 0.045pq 5.22pq
Keterangan : Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama pada masing-masing kolom, umur dan variabel yang sama tidak berbeda nyata menurut uji BNJ pada taraf 5 %.
Pada saat pertumbuhan tanaman, seperti halnya pertambahan tinggi tanaman dan jumlah daun seledri tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor genetik dan ketersediaan unsur hara dalam jumlah yang cukup dan berimbang. Pemberian pupuk daun Growmore dengan kandungan unsur hara N, P dan K yang lebih tinggi dibandingkan pupuk daun lainnya, yaitu 32% (N), 10% (P), dan 10% (K) tampaknya dapat memacu pertumbuhan tanaman seledri yang lebih baik, karena pada saat pertumbuhan tanaman unsur N, P dan K diperlukan dalam jumlah yang lebih banyak dan berimbang.
Peran utama unsur N, P dan K bagi pertumbuhan tanaman sesuai pernyataan Lingga dan Marsono (2001), bahwa unsur nitrogen (N) sangat penting untuk pertumbuhan vegetatif tanaman karena dapat merangsang pertumbuhan secara keseluruhan, khususnya batang, cabang dan daun. Menurut Laegreid et al (1999, dalam Hindersah dan Simarmata, 2004), ketersediaan unsur nitrogen adalah penting pada saat pertumbuhan tanaman, karena nitrogen berperan dalam seluruh proses biokimia tanaman. Sedangkan fosfor (P) menurut Rosmarkam dan Yuwono (2002)
berperan untuk pembentukan sejumlah protein tertentu, berperan dalam fotosintesis dan respirasi sehingga sangat penting untuk pertumbuhan tanaman keseluruhan, selain itu berperan penting memperbaiki sistem perakaran tanaman. Adapun kalium (K) menurut Sarief (1989) merupakan salah satu unsur hara yang sangat berperan dalam memacu pertumbuhan tinggi tanaman. Apabila tanaman mengalami kekurangan unsur kalium, maka tanaman akan tumbuh lebih pendek,
sehingga tanaman menjadi kerdil dan mudah rebah.
Dari unsur hara yang ada di perlukan tanaman, nitrogen (N) adalah unsur yang paling utama menentukan pertumbuhan dan hasil tanaman seledri, apalagi bagian ekonomis tanaman seledri yang di panen adalah bagian batang dan daun. Tersedianya unsur nitrogen yang lebih besar yang terkandung dari pupuk daun Growmore (32%) dibanding pupuk Hyponex (25%) dan Mamigro (25%), diduga berperan langsung memacu peningkatan pertumbuhan daun. Hal ini sesuai pernyataan Lakitan (1996), bahwa pada saat pertumbuhan daun, diketahui tidak semua unsur hara diperlukan dan berperan langsung terhadap pembentukan daun. Unsur hara yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan daun adalah nitrogen.
Pertambahan jumlah daun pada akhirnya akan berakibat meningkatnya luas daun secara keseluruhan, hal ini berarti kemampuan tanaman melakukan fotosintesis meningkat, sehingga hasil fotosintesis (fotosintat) yang tersedia juga akan meningkat dan dialokasikan kebagian tanaman yang bernilai ekonomis (Goldworthy dan Fisher, 1996). Selain itu pertambahan jumlah daun juga akan berakibat langsung terhadap biomassa secara keseluruhan, hal ini diperlihatkan dengan meningkatnya bobot basah dan kering yang lebih tinggi. Dari Tabel 1 juga dapat dilihat bahwa pengaruh pupuk daun juga berpengaruh sangat nyata terhadap bobot segar, bobot kering dan rasio tajuk- akar tanaman seledri. Pemberian pupuk daun Growmore (32-10-10) lebih baik
dibanding jenis pupuk daun lainnya dalam meningkatkan hasil panen (bobot segar) tanaman seledri dan berbanding lurus dengan bobot keringnya. Hal ini menunjukkan bahwa pupuk daun Growmore mengandung unsur hara makro dan mikro yang lebih tinggi sehingga mampu menyediakan kebutuhan bagi pertumbuhan tanaman dan pada akhirnya meningkatkan hasil tanaman. Selain kandungan unsur hara makro seperti N, P, dan K yang lebih tinggi, kandungan unsur hara mikro yang terkandung dari pupuk daun Growmore juga lebih tinggi dibanding Hyponex dan Mamigro.
Tersedianya hara makro dan mikro yang lebih baik dari pupuk daun Growmore akan dapat mendukung pertumbuhan yang lebih baik, dan pada akhirnya hasil tanaman juga lebih baik. Menurut Sitompul dan Guritno (1995), hasil tanaman sangat ditentukan oleh produksi biomassa pada saat masa pertumbuhan tanaman dan pembagian biomassa pada bagian yang dipanen. Produksi biomassa tersebut mengakibatkan pertambahan berat dapat pula diikuti dengan
pertambahan ukuran tanaman (Sitompul dan Guritno, 1995). Kondisi ini menurut Gardner dkk.. (1991) sangat dimungkinkan apabila pada saat pertumbuhan tanaman, unsur hara dan faktor pendukung lainnya tersedia dan tidak menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan dan pembagian hasil fotosintesis (fotosintat) ke organ hasil berjalan dengan baik.
Demikian pula rasio tajuk-akar sangat dipengaruhi oleh tersedianya nitrogen. Menurut Loomis (1953, dalam Gardner dkk.. 1991), tersedianya unsur N dan air yang banyak akan dapat
menggalakkan pertumbuhan ujung (tajuk). Hasil penelitian Murata (1969 dalam Gardner dkk. 1991) menunjukkan bahwa rasio tajuk-akar tanaman padi meningkat secara nyata akibat diberi nitrogen yang lebih banyak. Meningkatnya rasio tajuk-akar juga akan berakibat langsung terhadap peningkatan bagian ekonomis dari tanaman seledri yang dipanen.
Secara keseluruhan hasil panen tanaman seledri dari penelitian yang telah dilaksanakan masih di bawah standar normal, yaitu ± 1 g/tanaman. Apabila dibandingkan dengan hasil penelitian Paishal (2005), bahwa penggunaan pupuk daun dapat menghasilkan bobot segar seledri
mencapai 12,67 g/tanaman. Rendahnya hasil tanaman seledri dari penelitian ini, diduga karena rendahnya intensitas cahaya yang diterima tanaman akibat atap naungan yang dibuat terlalu rapat sehingga ini akan berpengaruh terhadap kemampuan tanaman berfotosintesis sehingga hasilnya rendah. Penelitian yang sama dari Paishal (2005), menunjukkan bahwa aplikasi naungan berpengaruh nyata menghambat pertumbuhan vegetatif tanaman, yaitu pada tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan jumlah rumpun. Perlakuan naungan juga menurunkan hasil produksi tanaman seledri, yaitu pada jumlah tanaman yang hidup, bobot akar, bobot yang dapat dipasarkan per panel dan bobot yang dapat dipasarkan per tanaman. Tanaman tanpa naungan memiliki pertumbuhan vegetatif yang lebih baik dibandingkan tanaman dengan aplikasi naungan.
Pengaruh Jenis tanah Terhadap pertumbuhan Tanaman dan Hasil Tanaman Seledri Penggunaan jenis berpengaruh nyata dan sangat nyata terhadap variabel pertumbuhan maupun hasil tanaman seledri, yakni pada jumlah daun, bobot segar, bobot kering dan rasio tajuk-akar. Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa penggunaan tanah tanah gambut lebih baik dibandingkan jenis tanah lainnya (tanah PMK dan tanah berpasir) dalam meningkatkan
atau sifat kimia tanah dari ke tiga jenis tanah tersebut berbeda sehingga tanaman merespon berbeda pula. Berdasarkan hasil analisis beberapa sifat kimia tanah dari ketiga jenis ini (Tabel 3), memperlihatkan adanya perbedaan. Tanah gambut walaupun pH nya lebih rendah dibandingkan 2 jenis tanah lainnya, namun kandungan N total, P total dan K totalnya lebih tinggi yaitu 0,83%, 217,88 ppm dan 1,28 ppm dibandingkan PMK yaitu 0,11%, 103,16 ppm dan 1,27 ppm dan tanah berpasir yaitu 0,25%, 120,99 ppm dan 0,83 ppm.
Tersedianya N, P dan K yang lebih tinggi pada tanah gambut menjadikan tanah ini mampu mendukung pertumbuhan tanaman seledri lebih baik dibandingkan pada tanah berpasir maupun tanah PMK. Khusus unsur N dan P pada tanah gambut kandungannya jauh lebih tinggi melebihi pada tanah berpasir dan tanah PMK, ini karena pada tanah gambut unsur N dan P bersumber dari bahan organik, berbeda dengan tanah berpasir dan PMK yang merupakan tanah mineral dengan kandungan bahan organik yang rendah (kurang 20%). Menurut Stevenson (1982, dalam
Salampak, 1993) bahwa nitrogen dan fosfor yang tinggi pada tanah gambut bersumber dari bahan organik yang tinggi, sedangkan menurut Buckman dan Brady (1982) dan Sarief (1989) pada tanah berpasir dan PMK bahan organiknya rendah sehingga kandungan unsur N dan P pada tanah inipun jadi rendah.
Tersedianya unsur N, P dan K yang lebih tinggi pada tanah gambut ini yang menyebabkan pertumbuhan tanaman seledri lebih baik, hal ini diperlihatkan dengan pertumbuhan daun (jumlah daun) yang lebih baik pula. Unsur hara yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan daun adalah nitrogen. Sutedjo dan Kartasapoetra (1991) menambahkan bahwa fungsi N antara lain untuk meningkatkan pertumbuhan daun. Daun tanaman akan menjadi banyak dan lebar dan warna yang lebih hijau. Selain N unsur P juga sangat dibutuhkan daun dalam kegiatan fosforilasi fotosintesis pada daun. Sesuai pernyataan Rosmarkam dan Yuwono (2002) bahwa fosfor dianggap sebagai kunci kehidupan karena berhubungan dengan senyawa energi sel (ATP) yang dibentuk pertama kali pada saat fosforilasi pada proses fotosintesis daun. Unsur fosfor (P) sangat berperan penting dalam kegiatan ini. Sedangkan unsur K terlibat dalam mempengaruhi membuka dan menutupnya stomata pada daun, sehingga daun dapat mereduksi CO2 yang di perlukan dalam kegiatan fotosintesis.
Tabel 2. Rata-rata Tinggi Tanaman , Jumlah Daun, Bobot Segar, Bobot Kering dan Ratio Tajuk-Akar Tanaman Seledri Pengaruh Perlakuan Jenis Tanah
Perlakuan Jenis Tanah (T)
Tinggi Tanaman Jumlah Daun
14 HST 21 HST 28 HST 14 HST 21 HST 28 HST Gambut(T1) 3.94ab 5.22a 7.44a 2.22a 3.67a 5.89a Berpasir(T2) 8.11c 10.78b 14.06b 3.67b 6.00b 11.11b PMK (T3) 3.50a 3.72a 7.69b 2.39a 4.11a 6.22a Bobot Segar Tanaman (g) Bobot Kering
Tanaman (g) Rasio Tajuk-Akar
Gambut (T1) 0.88p 0.030p 4.34p
Berpasi (T2) 1.26q 0.074r 5.94q
Keterangan : Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama pada masing-masing kolom, umur dan variabel yang sama tidak berbeda nyata menurut uji BNJ pada taraf 5 %.
Berdasarkan fakta yang dijelaskan di atas, menunjukkan bahwa tersedianya unsur N, P dan K penting sekali untuk meningkatkan pertumbuhan daun dan aktivitas fotosintesis yang tinggi. Aktivitas fotosintesis yang tinggi menjamin tersedianya fotosintat yang lebih banyak dan ini diperlukan untuk meningkatkan bobot segar dan bobot kering (biomassa) tanaman seledri yang lebih baik. Peningkatan biomassa tanaman ini erupakan akibat dari adanya pembentukan dan pertambahan organ- organ tanaman seperti akar, batang dan daun selama masa tertentu dari pertumbuhan tanaman. Sesuai pernyataan Sitompul dan Guritno (1995) bahwa tanaman selama masa hidupnya atau selamamasa tertentu membentuk biomassa yang digunakan untuk
membentuk bagian-bagian tubuhnya. Produksi biomassa tersebut akan mengakibatkan
pertambahan bobot yang diikuti dengan pertambahan ukuran lainnya secara kuantitatif. Produksi biomassa selama masa vegetatif yang lebih baik, umumnya akan menentukan hasil tanaman. Apalagi komponen hasil tanaman (bagian ekonomis) dari tanaman seledri adalah bagian vegetatif yaitu berupa batang dan daun.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1. Interaksi pemberian pupuk daun dengan tiga jenis tanah berpengaruh tidak nyata pada semua variabel pertumbuhan dan hasil tanaman yang diamati
2. Respon pertumbuhan dan hasil tanaman seledri yang lebih baik ditunjukkan pada pemberian pupuk daun Growmore (32-10-10) dibandingkan perlakuan lainnya. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya tinggi tanaman, jumlah daun, hasil bobot segar, bobot kering dan ratio tajuk-akar tanaman seledri.
3. Respon pertumbuhan dan hasil tanaman seledri pada tanah gambut lebih baik dibandingkan pada tanah berpasir dan tanah PMK.
Saran
1. Untuk pertumbuhan dan hasil tanaman seledri yang lebih baik disarankan untuk menanam pada tanah gambut dan memberikan pupuk daun Growmore (32-10-10).
2. Disarankan pula untuk penelitian lanjutan :
a. agar memperhatikan atap naungan tidak terlalu mengurangi intensitas matahari yang diterima tanaman seledri sehingga tanaman dapat etiolasi.
b. memperhatikan ukuran polybag (tidak terlalu kecil) yang digunakan sebagai tempat media tanam, minimal ukuran polybagnya untuk volume tanah 5 kg.
Tabel 3. Data hasil analisis tanah
No. Parameter yang dinalisis Tanah Gambut Tanah PMK Tanah Alluvial
1. pH H2O (1:2,5) 4,86 6,26 7,05
2. N-Total (%) 0,83 0,11 0,25
3. P-Total (ppm) 217,88 103,16 120,99
4. K-Total (ppm) 1,28 1,27 0,83
Sumber : Data dianalisis di UPT Laboratorium Dasar dan Analitik (Nopember 2010) DAFTAR PUSTAKA
Badan Pertanahan Nasional Kalimantan Tengah, 2006, Kalimtan Tengah Dalam Angka 2006, Bidang Geografis. Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah Palangka Raya.
Buckman, D.H dan Brandy,H, 1982, Ilmu Tanah, Bhatara Karya Aksara, Jakarta.
Gardner, F.P., R.B. Pearce dan R.L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Terjemahan. UI Press. Jakarta.
Goldssworthy, P.R. dan N.M. Fisher. 1996. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik (Terjemahan : Tosari). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Hanafiah, K.A. 1995. Rancangan Percobaan. Rajawali Pers. Jakarta.
Lakitan, B. 1996. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. PT. Raja Grafindo Persada.
Lingga, P dan Marsono. 2001. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta. Paishal, R. 2005. Pengaruh Naungan Dan Pupuk Daun Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Seledri (Apium Graveolens L) Dengan Teknologi Hidroponik Sistem Terapung. http://repository.ipb.ac.id. 10 Februari 2011.
Rosmarkam, A dan N.W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. Yogyakarta. Salampak, 1993, Studi Asam Fenol Tanah Gambut Pedalaman Dari Bereng Bengkel pada Keadaaan Anaerob. Thesis.Program Pascasarjana. Bogor.
Sarief, E.S. 1989. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Bandung. Sitompul,S.M. dan B. Guritno. 1995. Analisis pertumbuhan tanaman. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Sutedjo, M.,M. 1999. Pupuk dan cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta.
Sutrisna, N., S. Sastraatmadja dan I. Ishaq. 2005. Kajian Sisten Penanaman Tumpangsari Kentang dan Seledri di Lahan Dataran Tinggi Rancabali, Kabupaten Bandung. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Tekhnologi Pertanian Vol. 8. No. 1, Maret 2005 : 78-87. Tinggalkan Sebuah Komentar
PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI AMELIORAN == KAMBANG V ASIE 11 Maret 2012, 7:19 am
Filed under: Penelitian
PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI AMELIORAN DAN NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL
DUA VARIETAS KEDELAI PADA TANAH GAMBUT PEDALAMAN
(The Effect of combination Ameliorant Application and NPK Fertilizer on the growth and yield of
Two soy variety in inland peat land)
Kambang Vetrani Asie, Hadinnupan Panupesi, Erina Riak Asie Dosen Budidaya Pertanian Faperta Unpar
ABSTRACT
This research was to study the effect of interaction between the gift of combination ameliorant and NPK toward the growth and yield of two soy’s varieties in hinterland peat, to determine the best dose of ameliorant and NPK toward the growth and the plants result of two most responsive of soy’s varieties. The research was arranged by factorial group design with two levels of ameliorant, the first factor that ameliorant and NPK, the second of variety Baluran and Rajabasa. The result showed that applying of ameliorant dolomit 2 ton ha-1, chicken dirt 15 ton ha-1, and (urea 37,5 kg ha-1, SP-36 50 kg ha-1, KCL 50 kg ha-1) can improve the observation variables that are amount of contents of soy’s plants -1
. The factors variety Baluran and Rajabasa influential to dry seed in partition-1 and the weight dry 100 Soy Seed.
Keyword : Soy, Ameliorant, Fertilizer and NPK, Hinterland Peat ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara pemberian kombinasi amelioran dan NPK terhadap pertumbuhan dan hasil dua varietas kedelai pada lahan gambut pedalaman, untuk menentukan dosis terbaik kombinasi amelioran dan NPK terhadap
pertumbuhan dan hasil tanaman dua varietas kedelai yang paling responsif. Percobaan
menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari dua faktor, faktor pertama yaitu amelioran dan NPK, faktor kedua yaitu kedelai varietas Baluran dan Rajabasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi amelioran dan NPK dengan dosis kombinasi amelioran dolomit 2 ton ha-1, kotoran ayam 15 ton ha-1, dan (urea 37,5 kg ha-1, SP-36 50 kg ha-1, KCL 50 kg ha-1) merupakan perlakuan yang terbaik terhadap variabel jumlah polong isi kedelai tanaman-1. Pada faktor varietas Baluran dan Rajabasa berpengaruh terhadap berat kering biji petak-1 dan berat 100 butir biji.
Kata kunci : Kedelai, Dosis Amelioran dan NPK, Tanah Gambut Pedalaman. PENDAHULUAN
Pengembangan kedelai, perlu dilakukan upaya-upaya untuk peningkatan produktivitas dan perluasan areal tanam. Sumbangan inovasi teknologi hasil penelitian berupa varietas unggul baru spesifik lokasi dan pengelolaan lahan, air, serta tanaman merupakan andalan untuk
meningkatkan produksi baik melalui program peningkatan produktivitas maupun perluasan areal (Marwoto dkk., 2005).
Tanah gambut pedalaman mempunyai sifat fisik kimia, dan biologi tanah yang tidak
menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Beragam sifat yang perlu diperbaiki pada tanah gambut, tidak mungkin dengan aplikasi satu jenis amelioran, tetapi diperlukan perpaduan dari beberapa amelioran yang saling bersinergi dan dikombinasikan dengan pemberian pupuk untuk memperbaiki kendala budidaya pada tanah gambut.
Selama ini, amelioran yang hanya menggunakan satu jenis amelioran seperti kapur, memiliki kelemahan karena kandungan haranya tidak lengkap dan sedikit mengandung koloid sehingga cenderung tidak membentuk kompleks jerapan serta kurang memperbaiki tekstur tanah. Kelemahan kapur,
perlu diimbangi dengan pemakaian amelioran lain yang dapat melengkapi kelemahan tersebut, antara lain penggunaan pupuk organik seperti pupuk kotoran ayam.
Penggunaan kapur dan pupuk kotoran ayam dapat memperbaiki sifat fisik, biologi dan beberapa sifat kimia tanah. Namun, hal tersebut belum dianggap mampu menyediakan unsur hara makro utama seperti N, P dan K yang diperlukan tanaman dalam jumlah besar.
Produksi kedelai baik secara nasional maupun regional khususnya di Kalimantan tengah tergolong masih rendah, disebabkan beberapa faktor, yaitu beralih fungsinya lahan, kurangnya pengetahuan petani dalam pemanfaatan lahan gambut untuk budidaya tanaman kedelai dan kurangnya pengetahuan tentang pemberian pupuk dasar (amelioran), serta kurangnya
pemahaman tentang varietas yang digunakan. Sehingga untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui interaksi pengaruh pemberian kombinasi amelioran dan NPK terhadap pertumbuhan dan hasil dua varietas kedelai pada tanah gambut pedalaman.
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Sabangau, Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah, dari bulan Juli sampai Oktober 2009. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial 2 faktor. Faktor pertama (A) adalah
kombinasi amelioran (dolomit dan pupuk kotoran ayam) dengan dosis pemupukan NPK. yang terdiri dari 5 taraf yaitu : A0 = Tanpa dolomit + 22,5 ton ha-1 kotoran ayam + (75 kg ha-1 urea, 100 kg ha-1 SP-36, 100 kg ha-1 KCL), A1 = 2 ton ha-1 dolomit + 15 ton ha-1 kotoran ayam + (37, 5 kg ha-1 urea, 50 kg ha-1 SP-36, 50 kg ha-1 KCL), A2 = 2 ton ha-1 dolomit + 15 ton ha-1 kotoran ayam + (75 kg ha-1 urea, 100 kg ha-1 SP-36, 100 kg ha-1 KCL), A3 = 4 ton ha-1 dolomit + 7,5 ton ha-1 kotoran ayam + (37,5 kg ha-1 urea, 50 kg ha-1 SP-36, 50 kg ha-1 KCL), A4 = 4 ton ha-1 dolomit + 7,5 ton ha-1 kotoran ayam + (75 kg ha-1 urea, 100 kg ha-1 SP-36, 100 kg ha-1 KCL). Faktor kedua (V) adalah Varietas Kedelai, yaitu: V1 = Varietas Baluran dan V2 = Varietas Rajabasa. Jumlah kombinasi perlakuan 10 percobaan diulang 3 kali sehingga terdapat 30 satuan percobaan.
Benih ditanam dengan ditugal jarak tanam 40 cm x 20 cm. Pemupukan P dan K sesuai perlakuan yang diberikan pada saat penanaman benih, sedangkan pemberian N dilakukan 2 kali. 1/2 dosis perlakuan N diberikan 7 hst dan selanjutnya sisa diberikan saat tanaman berumur 21 hst. Panen dilakukan secara bertahap pada varietas Baluran umur 80 hst dan varietas Rajabasa umur 82 hst. Variabel yang diamati meliputi : Tinggi tanaman (umur 14, 21, 28, 35 dan 42 HST), Berat kering total tanaman (umur 42 HST), Jumlah polong hampa kedelai tanaman-1, Jumlah polong isi kedelai tanaman-1, Berat kering biji petak-1, Berat 100 butir biji,
Data dilakukan analisis ragam dengan uji F pada taraf 5% dan 1%. Jika terdapat pengaruh yang nyata, dilanjutkan dengan uji BNJ pada taraf 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi Tanaman Kedelai
Pemberian kombinasi amelioran dan NPK terhadap dua varietas kedelai tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman kedelai pada semua umur pengamatan. Hal ini menunjukan bahwa perlakuan yang diberikan tidak ada korelasi atau hubungan dalam memacu proses pertumbuhan tinggi tanaman yang diamati.
Pertumbuhan tanaman merupakan proses dimana terdapatnya pertambahan ukuran, berat dan jumlah sel pada tanaman. Tinggi tanaman merupakan ukuran tanaman yang sering diamati sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan atau perlakuan yang diterapkan. Atas dasar kenyataan bahwa tinggi tanaman merupakan ukuran pertumbuhan tanaman yang paling mudah dilihat (Sitompul dan Guritno, 1995).
Secara kualitatif varietas Baluran lebih baik dibandingkan varietas Rajabasa, karena mempunyai dampak positif yang paling besar terhadap pertumbuhan tinggi tanaman, dan juga secara sifat genetik varietas Baluran lebih tinggi dari varietas Rajabasa. Kombinasi amelioran dan NPK ternyata tidak dapat memacu proses pertumbuhan tinggi tanaman kedelai sampai diakhir
pengamatan (42 hst) (Gambar 1). Secara kualitas kombinasi amelioran dan NPK tertinggi terlihat pada A1 (49,18 cm) dan A2(48,17 cm), meningkatnya tinggi tanaman selama pertumbuhannya akibat efek dari proses fisiologis. Disamping itu juga, ketersediaan air bagi tanaman relatif kurang. Padahal faktor lingkungan seperti air sangat diperlukan oleh tanaman kedelai untuk mencapai pertumbuhan yang baik. Rata-rata curah hujan selama penelitian dari bulan Juli-September 2009 adalah 23,57 mm bulan-1) yang diperoleh dari Badan Meteorologi dan Geofisika. Curah hujan seperti ini tidak menguntungkan karena mengakibatkan kurang tersedianya air bagi tanaman.
Berat Kering Total Tanaman
Pemberian kombinasi amelioran dan NPK terhadap dua varietas kedelai tidak berpengaruh terhadap berat kering total tanaman. Saat penelitian, terjadi kabut asap sehingga terganggunya proses fotosintesis. Saat pertumbuhan tanaman, dimana penyinaran matahari kurang. Padahal pada saat pertumbuhan, tanaman sangat memerlukan cahaya matahari untuk melakukan fotosintesis.
Cahaya matahari merupakan sumber energi bagi fotosintesis. Karena cahaya matahari
mempunyai pengaruh yang besar terhadap proses fotosintesis, yang meliputi intensitas cahaya, lama penyinaran dan kualitas cahaya matahari. Cahaya yang berpengaruh pada tanaman dalam kegiatan fotosintesisnya disebut dengan PAR (Photosynthetic Activity Radiation) yang memiliki panjang gelombang sekitar 400 mm dan 750 mm (Jumin, 1994). Agar dapat memanfaatkan radiasi matahari secara efisien, tanaman harus dapat menyerap sebagian besar radiasi tersebut dengan jaringan fotosintesisnya yang hijau. Daun sebagai organ utama untuk menyerap cahaya dan untuk melakukan fotosintesis pada tanaman budidaya, mungkin berkembang dari embrio di dalam biji atau dari jaringan meristem di batang (Gardner dkk., 1991).
Jumlah Polong Isi Tanaman-1
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa faktor tunggal pemberian kombinasi amelioran dan NPK berpengaruh terhadap jumlah polong isi tanaman-1, sedangkan pada faktor tunggal varietas tidak berpengaruh.
Tabel 1. Rata-rata Jumlah Polong Isi Kedelai Tanaman-1 Varietas Kedelai (V) Amelioran (A) Rata-rata A0 A1 A2 A3 A4 V1 12.39 28.06 25.89 23.34 22.67 22.47 V2 17.06 26.72 24.83 24.50 23.95 23.41 Rata-rata 14.73 a 27.39 b 25.36 b 23.92 ab 23.31 a 22.94
BNJ 5 % A = 10.01
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama, tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5 %.
Pada Tabel 1 dan Gambar 2, perlakuan A1 menghasilkan rata-rata polong isi terbesar yaitu A1
(27,39) dan A2 (25,36). Tingginya hasil perlakuan A1 dan A2 dibandingkan dengan perlakuan A0
(14,73), A3 (23,92), dan A4 (23,31), diduga kombinasi amelioran dan NPK cukup baik. Hal ini bisa dilihat dari manfaat pengapuran dan pupuk kandang terhadap jumlah polong isi. Hasil