C- UPR = AVE dj: nsij x brij x sdi ; Dimana:
5 HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum Lokasi Penelitian
Desa Karimunjawa merupakan satu pulau yang masuk dalam gugusan kepulauan Karimunjawa terletak di utara Provinsi Jawa Tengah, tepatnya berada pada posisi 5o40’-5o57’ LS dan 110o04’-110o40’ BT. Secara geografis terletak di Laut Jawa, ke arah barat laut dari Jepara. Luas wilayah teritorial Karimunjawa 107.225 ha, sebagian besar berupa perairan (100.105 ha) dengan luas daratan 7.120 ha yang terbagi menjadi 27 pulau besar dan kecil (BTNKJ 2010). Karimunjawa menjadi pusat kecamatan yang berjarak ± 83 km dari Kota Jepara, Jawa Tengah. Memiliki luas sekitar 110.117 ha dengan ketinggian 0 hingga 605 m dari permukaan laut. Letak geografis 5°42’ - 6°00’ LS, 110°07’ - 110°37’ BT (DEPHUT 2002b). Pulau Karimunjawa merupakan pulau terbesar di kawasan kepulauan Karimunjawa dimana banyak terdapat tempat aktivitas pendaratan ikan yang paling banyak dibandingkan dengan pulau yang lain.
Undang-Undang No. 5 tahun 1990 mendefinisikan taman nasional sebagai Kawasan Pelestarian Alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Pada tahun 1999 Karimunjawa ditetapkan sebagai taman nasional dengan nama Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ) berdasarkan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 78/Kpts-II/1999, dengan pengelolaan berdasarkan zonasi. Sistem zonasi yang diterapkan saat ini membagi TNKJ menjadi tujuh zona dan menempatkan kegiatan perikanan tangkap di zona pemanfaatan perikanan tradisional (PPT). Perikanan karang sebagai salah satu kegiatan perikanan tangkap yang sudah berkembang jauh sebelum Karimunjawa ditetapkan sebagai taman nasional (Mujiyanto 2014).
Setelah adanya revisi zonasi berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal PHKA No. SK 28/IV-SET/2012 tentang Zonasi Taman Nasional Karimunjawa, saat ini terdapat 9 (sembilan) zona dalam kawasan Taman Nasional Karimunjawa. Zonasi ini merupakah hasil akhir revisi zonasi yang dimulai sejak tahun 2010. Zona-zona yang ada di kawasan Taman Nasional Karimunjawa adalah: zona inti, zona rimba, zona perlindungan bahari, zona pemanfaatan darat, zona pemanfaatan wisata bahari, zona budidaya bahari, zona religi, budaya dan sejarah, zona rehabilitasi dan zona perikanan tradisional.
Zona tradisional perikanan merupakan zona yang paling luas yaitu 102.899,249 ha, meliputi Seluruh perairan di luar zona yang telah ditetapkan yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Karimunjawa. Zona inti memiliki luas 444, 629 ha. Zona rimba memiliki luas 1.451,767 ha. Zona perlindungan bahari memiliki luas 2.599,770 ha. Zona pemanfaatan darat memiliki luas 55,933 ha. Zona pemanfaatan wisata bahari memiliki luas 2.733,735 ha. Zona Budidaya Bahari memiliki luas 1.370,729 ha. Zona religi, budaya dan sejarah memiliki luas 0.859 ha. Zona rehabilitasi memiliki luas 68.329 ha.
Karakteristik Sosial Ekonomi Responden
Responden yang menjadi fokus penelitian adalah rumah tangga nelayan dan lembaga yang terkait dengan aktifitas pengelolaan perikanan di Taman
Nasional Karimunjawa di Desa Karimunjawa, antara lain Taman Nasional Karimunjawa, Dinas kelautan dan Perikanan Provinsi, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jepara, Desa, Wildlife Concervation Society (WCS), Taka, Rare, Angkatan Laut (AL) serta Polisi Air dan Udara (POLAIRUD).
Responden dari rumah tangga perikanan terdiri dari nelayan dari tiga alat tangkap yaitu bubu, pancing dan panah yang merupakan nelayan yang menjadikan kerapu sebagai target. Responden memiliki kisaran umur dari 20 hingga 65 tahun. Rata-rata umur responden adalah 39 tahun, dimana usia termuda pada umur 21 dan usia tertua pada umur 65 tahun (Gambar 6).
Gambar 6 Sebaran umur responden nelayan di Desa Karimunjawa
Latar belakang pendidikan responden nelayan yaitu sebesar 24 % tidak bersekolah, 32% SD, 40% SMP dan 4% SMA (Gambar 7). Profesi sebagai nelayan di Karimunjawa merupakan mayoritas pekerjaan dari penduduknya. Sebagian besar responden telah berprofesi nelayan sejak lulus pendidikan SD atau SMP, sedangkan nelayan yang tidak mengenyam pendidikan umumnya telah berprofesi sebagai nelayan sejak umur belasan tahun. Hal ini berkaitan erat dengan posisi perikanan sebagai sumber mata pencaharian masyarakat Karimunjawa bahkan sejak sebelum didirikannya kawasan konservasi.
Lamanya nelayan melakukan pekerjaan di Karimunjawa, jika diurutkan presentase yang paling banyak adalah nelayan yang telah melakukan pekerjaan
sebagai nelayan selama ≥30 tahun, ≥20 tahun, ≤5 tahun, ≤2 tahun dan <20 tahun
(Gambar 8). Nelayan dengan lama melakukan pekerjaan ≥30 tahun umumnya
menggunakan alat tangkap pancing dan menjadikan kerapu sebagai sebagian dari hasil tangkapannya. Nelayan dengan lama melakukan pekerjaan ≥20 tahun menggunakan alat tangkap pancing dengan kombinasi bubu tengah, panah dan
bubu pinggir. Nelayan dengan lama melakukan pekerjaan ≤5 tahun menggunakan
alat tangkap pancing dengan kombinasi bubu tengah dan bubu pinggir. Nelayan
dengan lama melakukan pekerjaan ≤2 tahun menggunakan alat tangkap pancing
dengan kombinasi bubu tengah (dengan bantuan fish finder). Nelayan dengan lama melakukan pekerjaan <20 tahun menggunakan alat tangkap pancing dengan kombinasi bubu pinggir dan panah.
Gambar 8 Lama melakukan pekerjaan sebagai nelayan di Karimunjawa Pada umumnya nelayan Karimunjawa menjadikan alat tangkap panah, bubu dan pancing sebagai alat tangkap yang menjadikan kerapu sebagai target penangkapannya. Gambar 9 menjelaskan gambaran antara modal yang harus dikeluarkan oleh nelayan per alat tangkap dengan untung yang didapatkan dari usaha penangkapan. Pendapatan paling tinggi diperoleh dari alat tangkap bubu tengah dengan kombinasi pancing, hal ini disebabkan lama waktu menangkap dapat menghabiskan waktu 4 hingga 5 hari dengan jumlah bubu kurang lebih 20 unit dengan wilayah penangkapan yang lebih dalam dan sering dilakukan di luar kawasan konservasi.
Dari segi keuntungan dari hasil tangkapan, alat tangkap panah termasuk memiliki tingkat keuntungan yang tinggi dibandingkan dengan alat tangkap yang lain. Alat tangkap panah ini juga merupakan alat tangkap yang efektif untuk menangkap kerapu. Bubu pinggir merupakan alat tangkap yang menjadikan kerapu sebagai target tangkapan, namun menurut wawancara, jumlah kerapu di kedalaman yang dangkal seperti lokasi dimana bubu pinggir banyak ditempatkan sulit untuk mendapatkan kerapu. Untuk alat tangkap pancing berdasarkan wawancara lapangan, sulit untuk mendapatkan kerapu pada saat musim biasa dan mendapatkan banyak kerapu pada saat terjadi musim agregasi kerapu (sumber: wawancara) (Gambar 9).
0 200000 400000 600000 800000 1000000 1200000 1400000 1600000 1800000 2000000
Panah Bubu tengah
kombinasi pancing
Bubu pinggir Pancing
R up ia h Alat tangkap Untung Modal
Gambar 9 Perbandingan antara modal nelayan/ alat tangkap dengan untungnya Pada saat tidak ada musim agregasi kerapu, maka nelayan pancing menjadikan ikan jenis lain juga sebagai target penangkapan seperti ikan jenis tenggiri. Alat tangkap pancing modal yang relatif lebih sedikit dibandingkan alat tangkap yang lain dan untung kurang lebih tiga kali lipat dari modal, walaupun berada pada tingkat yang paling rendah dari alat tangkap yang lain, kondisi ini juga berkaitan dengan jenis yang ditangkap oleh alat tangkap pancing.
Kondisi Perikanan Karang Secara Umum
Lebih dari 9000 penduduk yang terdaftar di TNKJ. dimana Sekitar 40% melakukan penangkapan ikan menggunakan berbagai metode penangkapan tradisional (BTNKJ 2008). Selektivitas penangkapan nelayan di daerah penangkapan ikan serta target ikan bervariasi karena musim dan pengetahuan lokal untuk lokasi agregasi ikan (Campbell & Pardede 2006; Yulianto & Herdiana 2006). Nelayan migrasi telah membawa preferensi yang berbeda dalam perilaku nelayan yang dihasilkan dari pengaruh multi-etnis (Soede and Erdmann 1998) yang berasal dari kepulauan Indonesia bagian barat dan timur (misalnya suku Jawa, Madura, Bugis dan Buton (BTNKJ 2004).
Menjadi salah satu daerah penangkapan ikan tradisional yang penting di kawasan Laut Jawa, penangkapan di TNKJ telah intens dengan efek yang jelas pada populasi ikan dan habitat terumbu karang. Kajian awal penangkapan berlebih di Karimunjawa diamati oleh Edinger et al. (1998). Beberapa habitat terumbu karang Karimunjawa di sekitar pulau utama (pulau Cilik, Burung, Cemara dan Mrican). Kendala dalam otorisasi lembaga (misalnya antara Taman Nasional dan Departemen Kelautan dan Perikanan) tampaknya membatasi intervensi pengaturan penangkapan (misalnya pengaturan alat tangkap dan ikan target) pembatasan di daerah perlindungan zona inti relatif kecil (BTNKJ 2004; Dirhamsyah 2006). Zona inti bertujuan untuk meningkatkan stok ikan dengan membuat batasan di sekitar lokasi pemijahan ikan dan lokasi agregasi yang telah di identifikasi, namun kesulitan dalam membatasi akses sumber daya banyak yang masih dianggap sebagai bagian dari “hak akses umum” (BTNKJ 2004).
Kondisi Perikanan Kerapu Karimunjawa
Kerapu merupakan anggota dari famili Ephinepelinae yang merupakan salah satu komoditas perikanan yang paling penting di indonesia dan keberadaannya pada habitat terumbu karang sangat penting secara ekologi maupun ekonomi. Secara ekologi kerapu berperan sebagai predator tingkat atas yang mempunyai peran penting terhadap keseimbangan ekosistem, terutama pada habitat terumbu karang yang banyak terdapat di sekitar pulau kecil, dalam hal ini Karimunjawa sebagai contoh lokasi dimana banyak terdapat habitat khusus kerapu dengan pulau kecil yang jumlahnya 27 pulau.
Kerapu di Karimunjawa mempunyai nilai ekonomi yang penting sebab kerapu merupakan salah satu ikan target yang banyak ditangkap oleh nelayan Karimunjawa dan memiliki harga yang relatif tinggi. Plectropomus Leopardus
atau biasa disebut sebagai sunuk bintang timur misalnya mempunyai harga jual Rp 100.000/kg, Plectropomus maculatus atau biasa disebut sebagai sunuk kuning dihargai Rp 100.000/kg, Plectropomus oligacanthus atau biasa disebut sebagai sunuk macan dihargai Rp 70.000/kg, Plectropomus areolatus atau biasa disebut sebagai sunuk ireng dengan harga Rp 50.000/kg. Sedangkan untuk contoh kerapu yang dijual dalam keadaan hidup harga jual nya untuk jenis kerapu macan Rp 160.000/kg dan kerapu bebek RP 360.000/kg. Mayoritas pengepul yang ada di Karimunjawa hanya menerima kerapu yang telah didaratkaan, beberapa pengepul yang telah mempunyai usaha yang cukup besar, mempunyai KJA sebagai penampungan kerapu hidup yang ditangkap oleh nelayan dan membesarkannya apabila ukuran ikan yang dijual oleh nelayan masih berukuran kecil. Penjualan kerapu hidup kebanyakan untuk pasar lokal dan ekspor.
Kepulauan Karimunjawa terdiri dari 27 pulau kecil yang berada di laut Jawa, area ini diperuntukan sebagai Taman Nasional Karimunjawa yang memiliki luas area 1.116 km2 termasuk 22 Pulau di dalamnya. Rezonasi di tahun 2005 membuat Karimunjawa tergolong sebagai salah satu Taman Nasional yang berhasil dan efektif dalam mengelola ekosistem terumbu karang dan kerapu. Kerapu merupakan ikan target yang hidup spesifik pada ekosistem terumbu karang, sehingga Karimunjawa merupakan habitat strategis bagi sumberdaya perikanan kerapu (. Pada tahun 2005 beberapa lokasi Spawning aggregation
(SPAG) dimasukan dalam zona perlindungan. Kerapu yang ditangkap di karimunjawa ini dimanfaatkan untuk konsumsi masyarakat dan diperdagangkan ke luar daerah Karimun antara lain Jepara dan sekitarnya Beberapa jenis kerapu dimanfaatkan untuk dijual dalam keadaan hidup, karena harganya yang lebih ekonomis. Spesies kerapu yang paling banyak dijadikan target penangkapan nelayan Karimunjawa antara lain adalah spesies Cephalopolis cyanostigma, Epinephelus areolatus, Epinephelus ongus, Plectropomus oligacanthus,
Plectropomus maculatus, Plectropomus areolatus, Plectropomus leopardus.
Spesies yang teridentifikasi sebagai ikan dengan nilai ekonomis tinggi adalah
Plectropomus oligacanthus dan Plectropomus areolatus.
Terdapat sebuah kampanye yang mengatur ukuran penangkapan beberapa spesies kerapu di Karimunjawa yaitu sebaiknya menangkap P. Areolatus pada ukuran 38 cm, E. Polyphekadion pada ukuran 35 cm dan E. Fuscoguttatus pada ukuran 50 cm. Menurut informasi dari nelayan jumlah kerapu yang tertangkap dengan pancing berkurang setelah banyak alat tangkap panah yang datang untuk menangkap. Keadaan ini menimbulkan konflik antar alat tangkap, pada akhirnya
dibuatlah kesepakatan antar dua alat tangkap tersebut. Sesuai kesepakatan nelayan panah tidak diperkenankan menangkap P. areolatus pada saat dan lokasi yang sama dengan nelayan pancing. Meskipun kesepakatan tersebut tidak berpengaruh secara signifikan, tetapi kesepakatan ini berhasil mengurangi upaya alat tangkap panah, peningkatan rata-rata biomasa dan ukuran stok.
Pada tahun 2005 sampai 2012 terdapat penurunan kelimpahan kerapu yang ada di alam. Sebaliknya pada tahun 2009 sampai 2012 terjadi kenaikan pada biomasa yang ada di alam. Pada tahun 2011 upaya penangkapan dengan panah menurun, ini didasarkan pada peraturan kesepakatan oleh nelayan , menghasilkan perubahan kondisi ukuran tangkapan dan berimbas pada kesuksesan rekruitmen sumberdaya perikanan kerapu, dengan peningkatan ukuran stok dan biomasa kerapu di tahun 2012. Pada penelitian sebelumnya (Yulianto et al.2015) menghasilkan nilai yang berbeda, dimana kondisi biomasa meningkat sedangkan nilai kelimpahan menurun. Tren CPUE untuk alat pancing menurun dari tahun 2003 sampai tahun 2011, sedangkan bubu yang meningkat pada tahun 2004-2010 dan naik dari tahun 2010 sampai 2011 dan tidak ada penangkapan yang berhasil dengan menggunakan bubu. Kondisi ini disebabkan karena masih adanya dampak ikutan destruktif fishing pada tahun-tahun sebelumnya, seperti masih adanya penangkapan di zona yang dilarang dan aktivitas menggunakan alat bantu penangkapan karena adanya dorongan ekonomi dan persepsi nelayan-nelayan yang masih belum sejalan dengan tujuan kawasan konservasi dan rekruitmen yang cenderung lambat.
Penilaian SDI Kerapu di Karimunjawa Menggunakan Indikator EAFM Domain Sumberdaya Ikan
Indikator pada domain sumberdaya ikan yang digunakan pada penelitian ini antara lain indikator tren CPUE, tren panjang ikan, proporsi juvenil dan kelimpahan ikan di alam.
Tabel 7 Analisis komposit domain SDI
Sumber Daya Ikan (Kerapu) Hasil Skor (Sai) Bobot (Wi) Densitas (Di) Nilai (SCat-i) Nilai maksimum tertinggi (Cat-i max) Nilai Konversi skala setiap domain (Nk-i) 1. CPUE baku 3 45 18 2430 2430 100.00 2. Tren panjang 2 25 17 850 1275 66.67 3. Proporsi juvenile 2 20 16 640 960 66.67 4. Kelimpahan di alam 1 10 16 0.625 1.875 33.33 Total 2 100 3921 4666.88 84.01
Data yang digunakan untuk menghitung tren CPUE dan kelimpahan di alam adalah data pendaratan ikan sejak tahun 2010 hingga tahun 2014. Pada penelitian ini terdapat tiga alat tangkap yang digunakan untuk menangkap kerapu sebagai target. Pada tahun 2010 sampai dengan 2012 CPUE menurun dari 0.05 hingga 0.034, pada tahun 2012 sampai dengan tahun 2014 CPUE mengalami peningkatan menjadi 0.067. Penurunan CPUE pada tahun 2010 hingga tahun 2012 disebabkan karena pada tahun tersebut terdapat alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan yang tidak selektif yaitu muroami. Pada tahun 2012 hingga tahun 2014 CPUE mengalami peningkatan yang searah dengan
peningkatan CPUE alat tangkap panah. Kondisi ini merupakan kondisi CPUE yang lebih rendah dari kondisi CPUE pada tahun-tahun sebelumnya, namun mengalami kenaikan CPUE dari tahun 2013 hingga 2014 walaupun tidak signifikan (Gambar 10). Tren CPUE menunjukkan kecenderungan yang stabil (b1= 0.002; p-value = 0.745), sehingga indikator ini dinilai baik.
0,000 0,020 0,040 0,060 0,080 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 CP U E Tahun
Gambar 10 Tren CPUE (Kg/Trip) Kerapu di Karimunjawa, TNKJ
Secara keseluruhan penurunan CPUE sama halnya dengan penurunan penangkapan alat tangkap pancing yang menurun dari tahun 2003 hingga tahun 2011. Hal ini berkebalikan dengan CPUE alat tangkap panah yang mengalami kenaikan sejak mulai digunakannya alat tangkap ini pada tahun 2004 hingga 2010. CPUE per alat tangkap yang mempengaruhi CPUE standar yang cenderung fluktuatif dan tidak menunjukan kenaikan atau penurunan yang signifikan. Peningkatan CPUE pada tahun 2013 hingga tahun 2014 paling mungkin dapat diasumsikan dapat terjadi karena adanya peningkatan efisiensi pada alat tangkap panah sementara CPUE untuk alat tangkap pancing cenderung menurun drastis, CPUE untuk alat tangkap bubu cenderung rendah dan berfluktuasi dari tahun 2010 hingga tahun 2014. Sedangkan CPUE untuk alat tangkap pancing cenderung terus mengalami penurunan dari tahun 2010 hingga tahun 2014 (Gambar 11).
Senada dengan hasil penelitian Yulianto (2015) disebutkan bahwa CPUE pancing pada tahun 2003 hingga tahun 2011 mengalami penurunan. CPUE untuk alat tangkap panah mengalami peningkatan dari tahun 2004 hingga tahun 2010 dan menurun hingga tahun 2011. Sedangkan CPUE untuk alat tangkap bubu berfluktuasi dari tahun 2003 hingga tahun 2010. Kondisi CPUE yang fluktuatif ini menggambarkan tekanan ekologis yang disebabkan aktivitas penangkapan pada masa-masa sebelumnya. Hal ini disebabkan karena adanya alat tangkap muroami yang digunakan oleh nelayan yang berasal dari jawa tengah sejak tahun 2009 yang pada praktek penggunaanya merusak terumbu karang yang merupakan habitat dari kerapu sehingga mempengaruhi kondisi perikanan kerapu pada tahun berikutnya. Adanya muroami yang mulai diperkenalkan di perairan Karimunjawa sejak tahun 2009 menyebabkan penurunan drastis CPUE dari tahun ke tahun.
Peningkatan terus menerus alat tangkap panah dari tahun 2004 hingga tahun 2010 dan menurunnya jumlah nelayan pancing pada saat kondisi produksi sumberdaya perikanan kerapu semakin rendah menimbulkan terjadinya konflik antar nelayan pada tahun 2011 hingga dibuat sebuah kesepakatan antar nelayan yang dapat menurunkan jumlah pengguna alat tangkap panah. Hal ini mencerminkan CPUE dipengaruhi oleh kondisi sumber daya perikanan yang dipengaruhi oleh tekanan ekologis pada masa sebelumnya dan peningkatan efisiensi alat tangkap tertentu. Hal ini disebutkan dalam Waters (2013) bahwa perubahan pada tingkat penangkapan jenis ikan komersial kemungkinan tidak hanya merefleksikan perubahan sebenarnya dari sumberdaya, efisiensi alat tangkap dapat meningkat seiring inovasi teknologi dan keahlian yang meningkat.
Tren panjang kerapu pada spesies Cephalopolis cyanostigma, Epinephelus areolatus, Epinephelus ongus, Plectropomus oligacanthus, Plectropomus maculatus, Plectropomus areolatus, Plectropomus leopardus.
Setelah dianalisis menggunakan regresi linier sederhana dapat diketahui tren peningkatan/penurunan panjang kerapu per spesies dan divalidasi dengan uji t (Tabel 8).
Tabel 8 Rata-rata Panjang Kerapu/Spesies/Tahun
Spesies Rata-rata Panjang (cm) % Peningkatan Panjang X variable 1 P-value Tren Panjang
Cephalopolis cyanostigma 25.20 6.36 0.64 0.37 Stabil
Epinephelus areolatus 30.44 6.25 0.67 0.45 Stabil
Epinephelus ongus 30.44 5.23 0.58 0.44 Stabil
Plectropomus oligacanthus 41.57 4.26 0.81 0.29 Stabil
Plectropomus maculatus 43.44 5.44 1.92 0.06 Stabil
Plectropomus areolatus 38.88 2.62 0.81 0.06 Stabil
Plectropomus leopardus 43.24 8.36 2.45 0.04 Meningkat
Peningkatan ukuran tangkapan kerapu pada ketujuh spesies cenderung stabil dan berjalan lambat, kecuali pada spesies Plectropomus leopardus. Terdapat kampanye ukuran layak tangkap untuk tiga spesies, dimana diantara tujuh spesies yang menjadi objek penelitian terdapat spesies Plectropomus areolatus yang sebaiknya ditangkap pada ukuran 38 cm, namun ukuran tersebut juga merupakan ukuran dibawah Lm (44 cm). Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan menurunnya tren ukuran ikan yang tertangkap, oleh karena itu perlu
dipertimbangkan prioritas upaya konservasi keenam spesies yang peningkatan panjangnya cenderung stabil (Gambar 12) yang disesuaikan dengan Lm per spesies.
Gambar 12 Rata-rata tren panjang ikan per-spesies di Pulau Karimunjawa TNKJ, tahun 2010 sampai 2015
Peningkatan ukuran tangkapan kerapu yang lambat dapat disebabkan karakteristik biologis spesies dan ekologi terumbu karang yang sesuai sebagai
habitatnya dan tren penangkapan jenis ikan komersial yang sering ditargetkan pada ukuran tertentu (Sadovy 2003). Faktor ekologis juga dapat mempengaruhi pertumbuhan kerapu, misalnya pada genus Plectropomus yang sangat tergantung pada habitat terumbu karang yang relatif, sehat, stabil secara struktural agar mencegah dari terhambatnya proses rekruitmen. Pada semua spesies yang menjadi objek penelitian mempunyai karakteristik habitat tersendiri yang sangat tergantung pada kualitas lingkungan yang dapat pempengaruhi rekruitment.
Seperti yang terdapat pada Kuiter et al. (2001) spesies Cephalopolis
cyanostigma misalnya hidup pada terumbu karang di daerah pantai dan laguna
yang mempunyai terumbu karang dengan pertumbuhan yang tinggi dan beragam. Spesies Plectropomus leopardus yang umum ditemukan melimpah pada terumbu karang bagian dalam yang terlindung. Spesies Plectropomus maculatus
mempunyai habitat pada terumbu karang di wilayah pesisir dengan kombinasi algae dan terumbu karang pada kedalaman 6-10 meter hingga 40 meter. Spesies
Plectropomus oligacanthus terdapat pada habitat terumbu karang pesisir pada
zona buffer hingga tubir dengan pertumbuhan karang yang tinggi. Spesies
Plectropomus areolatus pada terumbu karang pesisir dan laguna yang luas yang
menjorok ke arah pantai dan terumbu karang berdinding rendah. Spesies
Epinephelus areolatus yang mempunyai habitat pasir dan lumpur yang kaya
dengan invertebrata, biasanya lebih dalam dari 10 meter. Spesies Epinephelus
ongus berhabitat pada sepanjang dinding terumbu karang bagian dalam dan luar,
ketika dewasa biasanya ditemukan pada kedalaman 20 meter ke atas.
Peningkatan panjang dipengaruhi oleh aspek biologis dan tren penangkapan. Pada genus Plectropomus misalnya mempunyai siklus hidup lebih pendek, pertumbuhan lebih cepat dan kematian alami lebih tinggi dari genus lain yang relatif berukuran sama. Berbeda dengan genus Epinephelus, pertumbuhan genus ini lebih lambat dan kematian alami yang lebih rendah dan siklus hidup lebih lama (Frisch et al. 2015). Genus Cepalopholis merupakan jenis yang berukuran relatif kecil dibandingkan Plectropomus dan Epinephelus, tidak ada satu referensipun yang diterbitkan memberikan informasi parameter populasi penting seperti umur, tingkat pertumbuhan dan mortalitas. Genus Cepalopholis
memiliki nilai ekonomi yang lebih rendah dan terpisah dengan spesies yang memiliki nilai ekonomis tinggi sepeti Plectropomus dan Epinephelus (Mosse 2007). Sehingga peningkatan tren panjang/tahun dari spesies Cepalopholis
cyanostigma mempunyai angka yang lebih besar yaitu 6.36%/tahun. Peningkatan
ukuran tangkapan ikan komersial seperti kerapu tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya, sebab kerapu jenis tersebut ditangkap menggunakan panah dan pancing yang sangat selektif terhadap ukuran (Williams et al. 2008) contohnya spesies Plectropomus oligacanthus yang mempunyai peningkatan panjang/tahun paling besar yaitu 8.36 % per tahun dan juga merupakan spesies dengan harga yang paling tinggi.
Dalam Yulianto et al. (2015) juga disebutkan bahwa peningkatan panjang yang cenderung lama paling mungkin disebabkan karena adanya rekruitmen yang lama dan pengaruh dari penangkapan tidak ramah lingkungan pada masa sebelumnya. Dimana ekosistem terumbu karang di Karimunjawa pernag mendapat tekanan ekologis dari penangkapan tidak ramah lingkungan yang menggunakan muroami.
Proporsi juvenil tiga alat tangkap berada pada tingkat yang sedang (30.41%). Masing-masing alat tangkap mempunyai proporsi juvenil yang berbeda, pada bubu merupakan persentasi yang terkecil (8.97%), kemudian pancing (40%) dan panah (41.40%) (Gambar 13).
(1)
(2)
(3)
Gambar 13Rata-rata proporsi Juvenil (%) per-alat tangkap (1) Pancing, (2) Panah, (3) Bubu di Pulau Karimunjawa TNKJ, Tahun 2010 Sampai 2015. (a)
Cephalopolis cyanostigma, (b) Epinephelus areolatus, (c) Epinephelus
ongus, (d) Plectropomus oligacanthus, (e) Plectropomus maculatus,
Proporsi juvenil dari pancing dan panah cukup besar walaupun alat tangkap ini termasuk selektif, kondisi ini dapat disebabkan penangkapan jenis