BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Hasil
1. Hasil Data Survei (Kuesioner)
a. Manajemen Pendidikan di Era Covid-19
Beberapa perubahan proses pembelajaran di era pandemi Covid-19 juga mempengaruhi perubahan teknis terutama sarana prasarana dan penganggaran. Pada masa sebelum pandemi Covid-19 maupun sesudah pademi Covid-19, beberapa sekolah seperti SLB sumbangan orang tua masih berjalan, namun ada beberapa perubahan sebagaimana penjelasan pada gambar berikut.
Gambar 4.13.
Besaran Biaya Sumbangan Pendidikan di Era Pandemi Covid-19
Dari grafik 4.13 menunjukkan bahwa besarnya biaya sumbangan pendidikan di era pandemi Covid-19 dinyatakan menurun 20% atau lebih 34 responden, menurun kurang dari 20% atau 12 responden, yang menjawab tetap 34 responden, naik kurang dari 20%
sebanyak 2 responden, yang menjawab dan naik 20% atau lebih sebanyak 3 responden.
Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan harus benar-benar memperhatikan keberlangsungan pembelajaran daring selama pandemi. Penyelenggaraan pembelajaran harus diawasi sehingga baik guru dan murid benar-benar melakukan pembelajaran yang berkualitas sehingga tetap berjalan dengan nyaman dan murid-murid dapat memahami dengan baik pelajaran yang disampaikan. Hal ini telah dibuktikan oleh sekolah dan guru dalam penelitian yang dilakukan, sebanyak 50,30% guru menyatakan bahwa pengawasan cukup diperhatikan dan sebanyak 49,41% sekolah telah melakukan pengawasan terhadap pembelajaran daring.
49 Tabel 4.10.
Pengawasan Penyelenggaraan Pembelajaran Jarak Jauh di Era Pandemi Covid-19 No. Pengawasan kualitas pembelajaran Pendapat Sekolah Pendapat Guru
Jumlah % Jumlah %
Terkait dengan ketersediaan sarpras pembelajaran jarak jauh, terdapat perbedaan pendapat antara sekolah dan guru dengan walimurid dan siswa. Dari total 85 sekolah, sebanyak 54,12% menyatakan bahwa sarana prasarana yang diberikan kepada guru cukup memadai. Sependapat dengan sekolah, 42,96% guru menyatakan bahwa sarana prasarana yang dimiliki oleh guru dalam pembelajaran jarak jauh cukup memadai. Ketersediaan sarana prasarana pembelajaran jarak jauh sangat berpengaruh dalam menjalankan proses pembelajaran yang diberikan oleh guru kepada para murid dan sekolah sangat berperan penting dalam penyediaan terkait pembelajaran berbasis teknologi.
Tabel 4.11.
Pendapat Mengenai Ketersediaan Sarpras Pembelajaran Jarak Jauh No.
Sarpras Pembelajaran
Jarak Jauh
Pendapat
Sekolah Pendapat Guru Pendapat
Walimurid Pendapat Siswa
Adapun pendapat walimurid sebanyak 185 orang (4,49%) menyatakan sangat memadai, 1190 orang (28,86%) cukup memadai, 1.221 orang (29,61%) memadai, 1.383 orang (33,54%) kurang memadai, dan 145 orang (3,52%) sangat kurang. Sedangkan pendapat siswa 481 orang (4,79%) menyatakan sangat memadai, 2.955 orang (29,41%) cukup memadai, 2.891 orang (28,77%) memadai, 3.222 orang (32,07%) kurang memadai, dan 499 orang (4,97%) menyatakan sangat kurang.
50 b. Kualitas Pendidikan
Dari sisi kualitas lulusan SLTA sebelum pandemi Covid-19 sebagian besar menyatakan terjadi penurunan kualitas lulusan. Hal ini bisa dimengerti bahwa penyelenggaraan pendidikan pada masa ini merupakan pengalaman pertama kali dan belum didukung dengan sarana prasarana yang cukup memadai.
Tabel 4.12.
Kualitas Lulusan Dibanding Sebelum Pandemi Covid-19 No. Kualitas Lulusan SMA
Swasta Jumlah Persentase
1. Sangat baik 2 0 1 2 5 5,88
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa 5,88% sekolah menyatakan bahwa kualitas lulusan pada masa pandemi Covid-19 sangat baik dibanding sebelum pandemi, kemudian 9,41% menyatakan sedikit lebih baik, 36,47% menyatakan relatif sama, 44,71% sekolah menyatakan agak menurun, dan sebanyak 3,53% menyatakan sangat menurun.
Demikian pula kualitas pembelajaran sebagian besar menyatakan agak menurun dan sangat menurun, karena pembelajaran tatap muka dengan PJJ sangat berbeda.
Tabel 4.13.
Kualitas Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covid-19 dan Sebelum Pandemi Covid-19 No. Kualitas Pembelajaran Sekolah Guru Walimurid Siswa
1. Sangat baik 5,88 3,73 3,03 4,36
Kualitas pembelajaran pada masa pandemi Covid-19 sebanyak 5,88% sekolah menyatakan sangat baik, 3,53% menyatakan sedikit lebih baik, 20,00% sekolah menyatakan relatif sama, 58,82% menyatakan agak menurun dan sebanyak 11,76%
menyatakan sangat menurun. Adapun untuk guru memandang bahwa kualitas pembelajaran lebih banyak menurun dibanding sebelum pandemi dengan metode tatap
51 muka/luring. Sebanyak 64,74 persen guru memandang kualitas pembelajaran agak menurun, dan 17,21 persen memandang sangat menurun. Wali Murid sebanyak 3,03 persen menyatakan sangat baik, 5,60 persen sedikit lebih baik, 11,11 persen relatif sama, 59,82 persen agak menurun dan 20,44 persen sangat menurun. Sedangkan murid sebanyak 4,36 persen menyatakan sangat baik, 7,14 persen sedikit lebih baik, 11,43 persen relatif sama, 56,03 persen agak menurun dan 21,05 persen menyatakan sangat menurun.
Tabel 4.14.
Kualitas Daring (PJJ) Era Pandemi Covid-19 Dibanding Tatap Muka No.
Selain kurang efektif, pembelajaran daring dinilai kurang baik dalam kualitas.
Sebanyak 72,92% guru setuju bahwa kualitas pembelajaran daring yang diberikan kepada siswa kurang berkualitas dibanding dengan pembelajaran yang langsung di dalam kelas.
Dalam pembelajaran daring, guru tidak dapat benar-benar yakin bahwa apa yang telah diajarkan diterima dengan baik oleh murid. Menurut guru, pembelajaran di saat pandemi berdampak pada pembentukan kualitas karakter murid-murid. Di sekolah guru dapat menerapkan kedisiplinan ketat namun selama pembelajaran daring kedisiplinan murid menjadi kurang terkontrol. Seperti contohnya ketika seharusnya jam 7 sudah mulai pembelajaran, akan tetapi masih ada murid yang belum bangun tidur. Banyak pendidikan karakter yang bisa dilakukan di sekolah namun tidak bisa dijalankan ketika PJJ.
Tabel 4.15.
Efektifitas Metode Daring Era Pandemi Covid-19 No. Pendapat Efektifitas
52 Dari hasil penelitian memperlihatkan bahwa 58% guru dan 61.18% sekolah menyatakan metode daring dalam pembelajaran selama masa pandemi adalah kurang efektif. Walaupun banyak kemudahan yang diberikan dalam pembelajaran daring, tetap tidak mampu menggantikan metode pembelajaran tatap muka yang dirasa oleh sebgaian besar guru dan pihak sekolah lebih efektif dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
Banyak mata pelajaran yang memerlukan penjelasan lebih banyak, sedangkan melalui daring, banyak guru yang merasa kekurangan waktu ketika menjelaskan kepada para murid dikarenakan keterbatasan media daring yang digunakan, contohnya jika pembelajaran daring menggunakan aplikasi whatsapp, guru kesulitan ketika harus menjelaskan karena harus mengetik kalimat panjang.
Perubahan pola pembelajaran juga menuntut perubahan sikap dan perilaku. Selain itu metode dan teknik yang digunakan juga mempengaruhi minat siswa. Menurut sebagian siswa, metode daring yang sudah berjalan saat ini dianggap kurang menyenangkan atau bahkan sangat tidak menyenangkan bagi mereka. Hanya sebagian kecil siswa (2,95%) yang menyatakan sangat menyenangkan dan agak menyenangkan sebanyak 12,53 persen, 31,14 persen menyatakan biasa saja. Hal ini menunjukkan perlu adanya pembaharuan atau inovasi.
Tabel 4.16.
Pendapat Siswa Terkait Pembelajaran Daring Era Pandemi Covid-19
No. Pendapat Siswa Mengenai Proses Belajar Daring Jumlah Persentase
1. Sangat tidak menyenangkan 1491 14,84
2. Kurang menyenangkan 3873 38,54
3. Biasa saja 3129 31,14
4. Agak menyenangkan 1259 12,53
5. Jauh lebih menyenangkan 296 2,95
Total 10048 100
Sumber : Data Primer 2020
c. Permasalahan dan Upaya Penanganannya
Pembelajaran melalui daring tidaklah mudah jika tidak dipersiapkan dengan baik segala fasilitasnya. Berdasar hasil kuesioner kepada guru-guru, ada beberapa kendala yang dihadapi ketika pembelajaran daring. Kendala yang paling besar menurut 32,64% guru adalah sinyal internet. Kendala yang kedua berdasar 14,77% guru adalah sarana prasarana seperti ketersediaan perangkat/gadget yang digunakan dalam pembelajaran daring.
Kendala selanjutnya sebanyak 12,60% guru menyatakan bahwa adanya keterbatasan kuota internet yang dapat disediakan.
53 Tabel 4.17.
Kendala dalam PJJ Menurut Guru
No. Kendala dalam PJJ Menurut Guru Jumlah Persentase
1. Penguasaan teknologi 46 4,75
2. Sarpras 143 14,77
3. Paket data/kuota 122 12,60
4. Sinyal internet 316 32,64
5. Penyiapan materi pembelajaran 102 10,54
6. Partisipasi siswa kurang (malas, jenuh) 45 4,65
7. Kendala lainnya 25 2,58
8. Tidak ada kendala 169 17,46
Jumlah 968 100
Sumber: data primer (2020)
Kesulitan- kesulitan yang dialami oleh guru tentu saja membutuhkan upaya untuk mengatasi kesulitan tersebut. Ada beberapa upaya-upaya yang bisa dilakukan oleh guru, upaya yang pertama sebanyak 24,67% guru memilih untuk lebih banyak melakukan komunikasi dan pemberian motivasi kepada siswa. Hal ini dapat membangun kedekatan dengan siswa sehingga dapat mempengaruhi suasana pembelajaran yang lebih nyaman.
Upaya berikutnya yang dipilih oleh sebanyak 15,16% guru adalah penyiapan materi yang lebih kreatif sehingga memotivasi siswa untuk lebih tertarik dalam belajar daring. Disusul sebanyak 13,48% guru memilih upaya dengan pemberian kuota untuk mendukung proses pembelajaran daring.
Tabel 4.18.
Upaya Guru untuk Mengatasi Kendala PJJ di Era Pandemi No. Upaya Guru untuk Mengatasi Kendala PJJ
di Era Pandemi Jumlah Persentase
1. Pelatihan/ Workhsop/ Belajar IT 51 6,14
2. Subsidi Sarpras 54 6,50
3. Subsdi Paket Data/ Kuota 112 13,48
4. Blended Learning/ Kelompok Belajar Onlina 14 1,68
5. Penyiapan Materi Pembelajaran 126 15,16
6. Tatap Muka & Home Visit 21 2,53
7. Manajemen Waktu Pembelajaran 48 5,78
8. Inovasi Pembelajaran/ Alternatif 32 3,85
9. Penguatan Akses Internet 82 9,87
10. Komunikasi & Memotivasi Siswa 205 24,67
11. Solusi Lainnya 63 7,58
12. Tidak Ada Solusi 23 2,77
Jumlah 831 100,00
Sumber: data primer (2020)
54 Selain kesulitan diri sendiri, guru juga melihat ada kesulitan di pihak siswa.
Berbagai kesulitan tersebut tidak terlepas dari latar belakang keluarga, terutama ekonomi, kondisi georgrafis terutama masalah sinyal atau jaringan, serta kondisi siswa itu sendiri.
Gambar 4.14.
Pendapat Guru tentang Kesulitan siswa dalam mengikuti PJJ
Berdasar diagram di atas mengenai permasalahan yang dihadapi siswa dalam mengikuti PJJ, bahwa 51% menyatakan tidak adanya kesulitan dan 49% menyatakan mengalami kesulitan. Berbagai jenis kesulitan yang dihadapi oleh siswa dalam pengikuti PJJ.
Masalah yang paling banyak (39,36%) adalah kurangnya ketersediaan sarana prasarana yang mendukung pembelajaran seperti gadget (hp/laptop/tablet) yang harus digunakan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran. Permasalahan kedua adalah kendala sinyal. Sebanyak 28,11 guru menyatakan bahwa kendala yang dihadapi oleh siswanya dalah sambungan internet yang tidak stabil. Ketika sambungan internet tidak tersedia dengan baik, penerimaan pembelajaran otomatis akan terganggu.
Tabel 4.19.
Berbagai Jenis Permasalahan Siswa dalam Mengikuti PJJ Menurut Para Guru No. Berbagai Jenis Permasalahan Siswa dalam
Mengikuti PJJ Menurut Para Guru Jumlah Persentase
1. Kurangnya sarpras 196 39,36
2. Penguasaan teknologi 68 13,65
3. Paket kuota/data 65 13,05
4. Jaringan/sinyal 140 28,11
5. Kendala lain (ekonomi keluarga) 18 3,61
6. Tidak ada kendala 11 2,21
Total 498 100,00
Sumber: data primer (2020)
55 Tidak hanya guru, dari sisi walimurid dan siswa sendiri mereka juga menyatakan ada kesulitan di dalam pembelajaran daring di era pandemi Covid-19. Baik walimurid maupun siswa menyatakan adanya kesulitan di dalam menikuti proses pembelajaran.
Sebagian mereka (lebih dari 30%) menyatakan bahwa ada kendala atau kesulitan mengikuti, sementara seagian besar lainnya menyatakan tidak ada kendala berarti.
Tabel 4.20.
Kesulitan Siswa dalam Mengikuti PJJ Menurut Walimurid dan Siswa No. Pendapat Mengenai Kesulitan
Pembelajaran Jarak Jauh
Beberapa kesulitan yang dialami oleh siswa dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh di era pandemi Covid-19 menurut walimurid dan siswa sendiri, terutama terkait dengan keterbatasan sinyal atau jaringan, keterbatasan kuota/data, dan kesulitan dalam pendalaman materi pembelajaran. Hal ini merupakan dampak dari belum siapnya sarana dan prasaran, sistem pembelajaran, serta sumberdaya manusia itu sendiri dimana belum memiliki budaya atau kebiasaan pembelajaran jarak jauh.
Tabel 4.21.
Berbagai Jenis Kendala Siswa dalam Pembelajaran Daring No. Kendala Siswa dalam
Pembelajaran Daring
Menurut Walimurid Manurut Siswa Jumlah Persentase Jumlah Persentase 1. Keterbatasan sinyal/ jaringan 2278 35,87 5433 39,41 2. Keterbatasan Kuota data internet 815 12,83 2226 16,15 3. Daya serap pelajaran rendah 820 12,91 1990 14,43
Beberapa upaya dilakukan oleh walimurid maupun siswa di dalam mengatasi kendala tersebut. Sebagian besar siswa yang mengalami kterbatasan sinyal/jaringan mereka pergi keluar rumah untuk mencari lokasi sinyal/jaringan yang bagus, atau mencari
56 jaringan wifi. Untuk permasalahn kuota, sebagian menambah kapasitas paket data atau kuota internet mereka. Sebagian lagi memilih komunikasi intensif dengan guru dan bahkan ada yang mengusulkan tatap muka.
Tabel 4.22.
Berbagai Upaya untuk Mengatasi Kendala PJJ No. Upaya yang Dilakukan untuk
Mengatasi Kendala
Menurut
Walimurid Manurut Siswa
Jumlah % Jumlah %
1. Cari sinyal / wifi yang lebih kuat 1260 30,94 3348 33,72 2. Penambahan kuota / data internet 646 15,86 1708 17,20 3. Atur waktu & damping anak 148 3,63 1748 17,60 4. Komunikasi dengan guru 318 7,81 652 6,57
5. Mengusulkan atap muka 244 5,99 422 4,25
6. Perbaikan sarpras (HP. Laptop) 190 4,66 374 3,77 7. Mendukung anak semangat-sabar 456 11,20 370 3,73 8. Minta dukungan sekolah 123 3,02 306 3,08
9. Lainnya 530 13,01 590 5,94
10. Tidak ada/tidak tahu 158 3,88 411 4,14
Total 4073 100 9929 100
Sumber: data primer (2020)
d. Dukungan dan Bantuan Sekolah
Dukungan sekolah kepada guru sangatlah diperlukan dalam proses pembelajaran jarak jauh. Sebanyak 92% menyatakan bahwa sekolah memberi bantuan kepada guru selama penyelenggaran pembelajaran jarak jauh. Hal ini menunjukkan bahwa guru sangat di dukung sekolah untuk menjalankan PJJ selama pandemi Covid-19. Bantuan yang paling banyak diberikan oleh sekolah kepada guru adalah bantuan paket data/ kuota internet.
Sebanyak 92% guru mendapatkan bantuan berupa kuota ini selama PJJ dan 8% mendapat bantuan berupa pelatihan/diklat untuk mendukung pembelajaran berbasis teknologi.
Gambar 4.15.
Bantuan Kepada Guru dalam Penyelenggaraan PJJ
Gambar 4.16.
Jenis Bantuan Kepada Guru dalam Pembelajaran Daring di Era Pandemi Covid-19
57 Peran guru dalam pembelajaran sangatlah penting. Di masa pandemi Covid-19, pilihan utama sistem pembalajaran adalah melalui daring, oleh karena itu kemampuan guru dalam menguasai teknologi perlu ditingkatkan. Sebanyak 87 guru atau 61% mendapatkan pelatihan peningkatan kemampuan pembelajaran online, sedangkan 16% tidak mendapat pelatihan. Sudah seharusnya semua sekolah memberi pelatihan kepada guru sehingga proses pembelajaran lebih baik.
Gambar 4.17.
Pelatihan Bagi Guru untuk Meningkatkan Kemampuan Pembelajaran Online
Beberapa pelatihan yang diselenggarakan sekolah guna meningkatkan kemampuan guru terkait pembelajaran daring, antara lain pengenalan IT dan kompetensi (28%), pengembangan aplikasi (16%), kemampuan pengembangan aplikasi dan pelatihan Office 365 (16%), pelatihan penggunaan google form (8%), pelatihan mengenai LMS (7%), pelatihan penggunaan zoom (6%) dan pelatihan menggunakan Microsoft team (6%) dalam pembelajaran daring.
Gambar 4.18.
Jenis Pelatihan yang Diberikan Kepada Guru
58 Sedangkan bantuan sekolah kepada siswa untuk pembelajaran jarak jauh di era pandemi Covid-19 ada perbedaan pendapat menurut sekolah dan walimurid serta siswa.
Sebanyak 94 persen pihak sekolah menyatakan memberikan bantuan, sementara wlaimurid dan siswa hanya 81 persen yang menyatakan ada bantuan.
Tabel 4.23.
Bantuan Sekolah Kepada Siswa Menurut Sekolah, Walimurid, dan Siswa No. Bantuan Sekolah Kepada
Siswa b. Lainnya (HP, Tablet, Laptop,
Wifi, uang)
6 5 5
Sumber: data primer (2020)
Jenis bantuan terutama berupa subsidi paket data/kuota internet serta perangkat dan pendukungnya. Sebanyak 94 sekoah memberi bantuan berupa subsidi pulsa/ paket data, dan 6 persen diberi bantuan berupa perangkat HP dan bantuan lainnya. Dengan memberi fasilitas berupa bantuan dana kuota atau bantuan peminjaman perangkat yang dilakukan oleh sekolah sangat membantu para murid dalam menjalani pembelajaran daring. Aspek ekonomi menjadi salah satu hambatan yang sangat dirasakan oleh banyak murid ketika pembelajaran daring karena kebutuhan biaya kuota dan perangkat tidak semua orangtua murid sanggup memenuhinya.
e. Kapasitas dan Kemampuan
Perubahan pola dan metode pembelajaran membutuhkan kesiapan semua pihak, baik sekolah, guru, maupun siswa. Di dalam proses pembelajaran, tentunya kemampuan guru di dalam penggunaan metode pembelajaran jarak jauh sangat menentukan keberhasilannya, begitu juga dengan kemampuan siswa. Kesiapan guru di dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh digambarkan dalam tabel berikut.
Tabel 4.24.
Kesiapan Guru dalam Pembelajaran Daring di Era Pandemi No. Kesiapan Guru dalam
Pembelajaran Daring
Pendapat Guru Pendapat Orang Tua
Jml % Jml %
1. Sangat Siap 56 6,74 213 6,42
2. Cukup Siap 61 7,34 800 24,11
3. Siap 441 53,07 1095 33,00
59 No. Kesiapan Guru dalam
Pembelajaran Daring
Pendapat Guru Pendapat Orang Tua
Jml % Jml %
4. Masih Terus Belajar 242 29,12 420 12,66
5. Belum Siap 31 3,73 412 12,42
6. Tidak Tahu 378 11,39
Total 831 100 3318 100
Sumber: data primer (2020)
Sebagian besar mereka menyatakan bahwa kesiapan guru dalam pembeajaran dari di era pandemi 56 guru (6,74) menyatakan siap, 61 guru (7,34) menyatakan cukup siap, 441 guru (53,07) menyatakan siap, 242 guru (29,12) masih terus belajar, 31 guru (3,73) belum siap. Sementara walimurid sebanyak 213 orang (6,42%) menyatakan siap, 800 orang (24,11) cukup siap, 1.095 orang (33%) siap, 420 orang (12,66) masih terus belajar, 412 orang (12,42) belum siap dan 378 orang (11,39) tidak tahu.
Proses pembelajaran pada masa Covid-19 juga memberikan keuntungan sendiri bagi stakeholder pendidikan dimana mereka tidak lagi gagap teknologi, meskipun ada yang menyatakan kesulitan.
Gambar 4.19.
Kemampuan Penguasaan Teknologi Para Guru dalam Pembelajaran Jarak Jauh
Dampak pandemi mengakibatkan sekolah-sekolah menggunakan sistem daring dalam proses pembelajarannya. Guru-guru mau tidak mau harus melek teknologi karena ini adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki dalam proses pembelajaran berbasis teknologi. Akan tetapi tetap saja ada beberapa kesulitan penggunaan teknologi selama pembelajaran jarak jauh, yang pertama adalah sebanyak 62% guru menyatakan belum terbiasa terhadap penggunaan teknologi dalam pembelajaran daring. Urutan kedua adalah keterbatasan sinyal, sebanyak 24% guru menyatakan kesulitan sinyal ketika proses pembelajaran. Hal berikutnya adalah terbatasnya kuota (8%) dan terbatasnya perangkat
60 (6%). Oleh karenanya, peningkatan kemampuan penggunaan teknologi dan perangkat harus diupayakan oleh semua pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran daring sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan baik.
Gambar 4.20.
Alasan Kesulitan Penggunaan Teknologi dalam Pembelajaran Daring
Sebagaimana diketahui, perkembangan media cukup pesat, baik media sosial, maupun media pembelajaran. Selama masa panemi Covid-19, guru-guru memanfaatkan berbagai media tersebut. Hal ini dilakukan karena media tersebut sudah cukup familiar dan banyak digunakan masyarakat. Sebagian juga memanfaatkan media yang dikembangkan sendiri oleh pihak sekolah baik dengan aplikasi maupun website. Berikut adalah beberapa aplikasi yang digunakan dalam pembelajaran di era pandemi Covid-19.
Tabel 4.25.
Aplikasi yang Digunakan untuk Melakukan Pembelajaran Daring No.
61
Banyak guru mengggunakan berbagai jenis media secara bersamaan, misalnya zoom meeting untuk penyampaian materi dan whatsapp untuk mengumpulkan tugas dan konsultasi. Dari berbagai aplikasi tersebut di atas, ada beberapa media yang sangat seirng digunakan karena mudah dan familiar, sebagaimana tabel di bawah ini.
Tabel 4.26.
Aplikasi yang Paling Sering Digunakan untuk Melakukan Pembelajaran Daring No.
Dari data yang diperoleh, bermacam aplikasi pembelajaran yang digunakan, aplikasi pembelajaran yang paling banyak digunakan adalah WhatsApp group, sebanyak 33,64% guru menggunakan aplikasi tersebut di dalam pembelajaran. Guru-guru menggunakan WhatsApp grup untuk mengirim tugas baik dalam bentuk file atau video pembelajaran sekaligus sebagai media dalam membahas materi pembelajaran. Tak jarang
62 juga ada guru yang menggunakan sarana video call whats app ketika diperlukan untuk berbicara langsung. Urutan kedua adalah Google Classroom, ada sebanyak 30,56% atau 367 guru yang menggunakannya. Melalui aplikasi Google Classroom, guru dapat mengirim tugas dalam bentuk file, video, link materi pembelajaran. Aplikasi ini hampir sama fungsinya seperti WhatsApp group namun banyak guru yang belum familiar dengan aplikasi ini sehingga tidak mudah untuk menggunakannya dibanding dengan WhatsApp.
Aplikasi lain yang juga digunakan adalah Google meet, Microsoft office 365, Zoom, Website, E-learning sekolah, Schology, Teams, Live Chat, Youtube, Telegram, Quizizz, Skype, Quizlet, Video, Google Site, Eduprime.
f. Peran Orang Tua
Di dalam proses pembelajaran jarak jauh, sebagian orang tua mendampingi anak-anak mereka, ada yang membantu di dalam pembelajarn atau hanya sekedar mengawasi.
Sebagian orang tua (39,10%) mengaku tidak mendampingi anak-anak mereka, dan sebagian kecil lainnya hanya memantau (4,72%).
Tabel 4.27.
Pendampingan Orang Tua/ Wali Murid dalam Pembelajaran Jarak Jauh No. Pendampingan Orang Tua Terhadap Siswa
Saat PJJ Jumlah Persentase
1. Tidak mendampingi 1665 39,10
2. Jarang 76 1,78
3. Kadang-kadang 317 7,44
4. Sering/selalu 1608 37,76
5. Memantau 201 4,72
6. Jawaban lain (kekurangan/ kendala) 373 8,76
7. Tidak menjawab 18 0,42
Total 4258 100,00
Sumber: data primer (2020)
Jawaban orang tua atau walimurid tersebut di atas tidak jauh berbeda dengan jawaban para siswa. Sebanyak 57 persen repsonden siswa menyatakan bahwa orang tua mereka tidak mendampingi atau jarang sekali terlibat dalam proses pembelajaran.
Sementara 43 persen lainnya menyatakan bahwa orang tua mendampingi mereka dalam proses pembelajaran.
63 Gambar 4.21.
Peran Pendampingan Orang Tua dalam Pembelajaran PJJ
Beberapa alasan dikemukakan oleh orang tua/ wali murid terkait mengapa mereka tidak atau jarang mendampingi anak dalam proses pembelajaran jarak jauh di era pandemi Covid-19. Alasan utama ialah karena mereka harus bekerja atau tidak memiliki waktu luang (62,84%). Kemudian sebagaian lagi karena tidak memahami materi pelajaran dikarenakan tingkat pendidikan mereka. Alasan lain ialah karena orang tua percaya bahw anak mampu belajar sendiri karena sudah menginjak dewasa, serta sebagian anak justru tidak mau didampingi oleh orang tua.
Tabel 4.28.
Alasan Orang Tua Tidak Mendampingi Anak dalam Pembelajaran Jarak Jauh No. Alasan Walimurid tidak Mendampingi PJJ Jumlah Persentase
1. Tidak ada waktu/harus kerja 465 62,84
2. Tidak memahami pembelajaran 117 15,81
3. Percaya anak bisa belajar sendiri 112 15,14
4. Anak tidak mau didampingi 46 6,22
Total 740 100
Sumber: data primer (2020)
Terkait dengan masalah waktu dalam pembelajaran jarak jauh, terdapat sedikit perbedaan antara walimurid dan siswa. Sebesar 65 persen walimurid mengaku siswa tidak mengalami kesulitan di dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh dan hanya 35 pesen yang mengalami kesulitan namun 55 persen siswa yang mengaku mengalami kesulitan membagi waktu dan sisanya 45 persen tidak mengalami kesulitan. Tidak adanya tatap muda membuat siswa banyak memanfaatkan waktu untuk hal lain di luar pembelajaran, bahkan ada sebagian kasus siswa telat bangun tidur untuk mengukuti kelas online karena tidur terlalu larut malam.
64 Gambar 4.22.
Pendapat Walimurid dan Siswa Mengenai Kesulitan Membagi Waktu Mengikuti PJJ Dari sisi walimurid, kesulitan membagi waktu, terutama mendampingi atau memfasilitasi anak dalam mengukiti pembelajaran jarak jauh terutama juga diakibatkan karena sibuk bekerja. Sebagian yang tidak bekerja mengaku karena banyaknya pekerjaan rumah tangga. Sebanyak 9 persen orang tua atau wali muid mengeluhkan masalah jadwal yang kadang berbenturan dengan kegiatan lain.
Gambar 4.23.
Alasan Walimurid Mengenai Kesulitan Membagi Waktu Mendampingi PJJ g. Kemajuan atau Keuntungan
Walaupun menemui banyak kendala dalam pembelajaran daring, terdapat juga keuntungan- keuntungan yang bisa dirasakan. Hal yang menguntungkan yang dapat dirasakan oleh sebanyak 33,45% guru adalah peningkatan kemampuan penguasaan teknologi. Oleh karena dituntut untuk mampu menguasai teknologi, mau tidak mau guru kemudian belajar. Hal ini merupakan pengalaman baru yang didapat selama PJJ.
Keuntungan selanjutnya, sebanyak 33,09% guru, menunjukkan bahwa pembelajaran melalui daring lebih efisien dalam waktu, tenaga dan biaya.
65 Tabel 4.29.
Keuntungan PJJ di Era Pandemi Menurut Guru
No. Keuntungan PJJ di Era Pandemi Jumlah Persentase
1. penguasan teknologi 278 33,45
2. efisiensi waktu/ tenaga/biaya 275 33,09
3. pengenalan metode baru 118 14,20
4. inovasi pembelajaran 32 3,85
5. memudahkan pembelajaran 32 3,85
6. kemajuan lainnya 32 3,85
7. tidak ada kemajuan 64 7,70
Jumlah 831 100,00
Sumber: data primer (2020)
Selain guru, walimurid dan siswa juga merasakan adanya keuntungan dari pembelajaran jarak jauh ini. Sebagian besar merasakan keuntungan di sisi efisiensi waktu,
Selain guru, walimurid dan siswa juga merasakan adanya keuntungan dari pembelajaran jarak jauh ini. Sebagian besar merasakan keuntungan di sisi efisiensi waktu,