SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Keragaman Genetik Gen Hormon Pertumbuhan dan Hubungannya dengan Kualitas Karkas pada Sapi Aceh adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.
Bogor, April 2011
Eka Meutia Sari
EKA MEUTIA SARI. Genetic Polymorphism of Growth Hormone (GH) in Association with Carcass Quality of Aceh Cattle. Under the supervision of RONNY RACHMAN NOOR, CECE SUMANTRI, and ENDANG TRI MARGAWATI.
This study was conducted in order to identify polymorphism of growth hormone gene and to characterize nucleotide changes and its position in the DNA sequence of the exon five in the bovine growth hormone gene. In addition, this study was done to determine the association of GH/AluI polymorphism with carcass quality and to describe D-Loop of mtDNA and microsatellite alleles in Aceh cattle. A total of 242 DNA genome samples were extracted from four Aceh cattle population, i.e., Banda Aceh (29), Aceh Besar (30), Indrapuri (129), and Saree (54), while for sample comparison was derived from the Gen Bank. The bGH gene was sequenced to identify new single nucleotide polymorphism (SNP). The sequence data were analyzed using BLAST and MEGA 4 software, and the PCR-RFLP was used to amplify 404 bp of GH gene. D-Loop sequences of mtDNA amplification were done by using specific primer with the PCR product of 980 bp, and the dnaSP program was used to build the NJ tree and to identify the haplotype. Three markers of BM1824, SPS115, and ILSTS028 were used for microsatellite DNA genotyping. The data of genotyping was analyzed using GeneMapper versi 4.0 software and Excel program. The result showed that one new SNP was found in the exon five of bGH gene, which located at position of 2.230 bp (C/T). Genotype frequencies of SNP in position 2.230 bp of Aceh cattle were 0.36; 0.14; and 0.50; for CC, TT, and CT respectively. On the contrary, the LL genotype was the only genotype which found in other Aceh cattle population. This finding indicated that there was not evidence of polymorphism of GH/AluI in Aceh cattle, and there was not correlation of GH/AluI gene with carcass quality of Aceh cattle. It could be affected by small number of sampling size. D-Loop mtDNA analyses showed that there was 27 haplotypes, and 28 Aceh cattle integrated into group of Buthan, China, India, and Zebu cattle with maternal origin of Bos indicus and one sample was from Bos taurus. These finding could be assumed that Aceh cattle has more genetic introgression of Bos indicus compared to that Bos taurus breeds. Microsatellite analyses showed that the average number of allele per locus was 7.6. The genotype of Indrapuri population was higher than those of Banda Aceh and Saree population. Based on the microsatellite alleles analyses, the frequency of C alele locus of SPS115 and ILSTS028 was higher in Indrapuri population. Nevertheless, these locus could be uses for further study to get more information about polymorphism in Indrapuri population. However, this study suggests that GH gene could be possible used as genetic marker.
EKA MEUTIA SARI. Keragaman Genetik Gen Hormon Pertumbuhan (GH) dan Hubungannya dengan Kualitas Karkas pada Sapi Aceh. Dibimbing oleh RONNY RACHMAN NOOR, CECE SUMANTRI dan ENDANG TRI MARGAWATI.
Sapi Aceh merupakan salah satu dari tujuh bangsa sapi asli yang ada di Indonesia, selain sapi Pesisir, Bali, Madura, Grati, Sumba Ongole, dan Ongole cross. Sapi Aceh jantan dan betina bertanduk, dengan warna bulu bervariasi yaitu putih, merah bata, hitam. Sapi Aceh resisten terhadap serangan parasit dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan di daerah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Meskipun dengan tatalaksana pemeliharaan yang sederhana, tetapi sapi Aceh dapat berproduksi dan melahirkan anak sapi yang sehat dan induknya mampu merawat anak dengan baik. Daging sapi Aceh memiliki serat daging yang halus dan warna daging merah.
Populasi sapi Aceh semakin lama semakin menurun, karena persilangan dengan bangsa sapi unggul lainnya, memiliki turunan anak sapi yang berukuran besar dan memiliki nilai jual yang tinggi. Apabila kondisi ini dibiarkan berlangsung, maka keberadaan sapi Aceh akan terancam punah, karena hilangnya sumber daya genetik sapi Aceh. Melestarikan dan mempertahankan keberadaan spesies dan bangsa sapi yang memiliki keunikan sangat diperlukan.
Berdasarkan pemikiran tersebut maka dilakukan suatu penelitian yang bertujuan untuk identifikasi polimorfisme gen hormon pertumbuhan (GH) dan karakterisasi perubahan nukleotida dan posisinya di ekson lima pada gen GH, juga membuktikan hubungan polimorfisme gen GH/AluI dengan kualitas karkas pada sapi Aceh. Penelitian ini juga menentukan keragaman genetik D-Loop mtDNA dan DNA mikrosatelit yang berguna sebagai acuan dalam pelaksanaan program pelestarian plasma nutfah sapi Aceh untuk pengembangan dan pemanfaatannya yang berkelanjutan.
Jumlah sampel sapi Aceh yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 242 ekor yang berasal dari Banda Aceh (29), Aceh Besar (30), Indrapuri (129) dan Saree (54), serta data sampel sapi pembanding berasal dari Gen Bank. Ekstraksi dan purifikasi DNA total dilakukan menurut metode Sambrook. Primer gen GH yang digunakan berasal dari Gen Bank (kode akses M577641.1). Sekuensing gen GH dilakukan untuk identifikasi adanya perubahan single nucleotide polymorphism (SNP). Data sekuensing dianalisis dengan BLAST dan MEGA 4 software, dan PCR-RFLP digunakan untuk amplifikasi gen GH sepanjang 404 bp. Sekuensing juga dilakukan pada D-Loop dengan produk PCR sepanjang 980 bp. Program dnaSP digunakan untuk pembentukan NJ tree serta untuk identifikasi jumlah haplotipe. Analisa DNA mikrosatelit menggunakan tiga lokus yaitu BM1824, SPS115 dan ILSTS028. Ukuran-ukuran alel mikrosatelit dianalisis dengan program GeneMapper versi 4.0 dan program Excel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan satu SNP baru di ekson lima gen GH, yang berlokasi pada 2.230 bp (C/T). Frekuensi genotipe SNP pada posisi 2.230 bp pada sapi Aceh adalah CC (0.36), TT (0.14) dan CT (0.50).
GH/AluI pada sapi Aceh, dan membuktikan juga belum ada hubungan antara gen GH/AluI dengan kualitas karkas pada sapi Aceh. Keadaan ini disebabkan karena terbatasnya jumlah sampel yang dimiliki. Namun demikian, dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa gen GH dapat digunakan sebagai marker genetik untuk sapi Aceh. Hasil analisis D-Loop mtDNA menunjukkan bahwa terdapat 27 haplotype, dengan 28 sampel sapi Aceh menyebar luas diantara sampel sapi Buthan, China, India dan Zebu yang memiliki turunan Bos indicus dan hanya satu sampel yang memiliki turunan Bos taurus. Fenomena ini dapat diasumsikan bahwa sapi Aceh memiliki introgresi genetik dari Bos indicus dan Bos taurus.
Hasil analisis DNA mikrosatelit menunjukkan, bahwa rataan alel per lokus adalah 7.6. Sapi Aceh memiliki derajat heterozigositas yang tinggi. Populasi sapi Aceh yang berasal dari Indrapuri memiliki genotipe yang lebih banyak dari populasi yang berasal dari Banda Aceh dan Saree. Hasil analisis alel mikrosatelit, frekuensi alel C pada lokus SPS115 dan ILSTS028 adalah tinggi pada populasi sapi Aceh di Indrapuri. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan bahwa lokus-lokus mikrosatelit ini dapat digunakan sebagai genetik marker pada populasi sapi Aceh di Indrapuri.
Penulis dilahirkan di Banda Aceh 24 Desember 1967 sebagai anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan H. Sadi Lubis (Alm) dan Hj. Saadah AK (Alm). Penulis menyelesaikan pendidikan di SD Negeri 1 Banda Aceh (1980), SMP Negeri 1 Banda Aceh (1983), dan SMA Negeri 1 Banda Aceh (1986). Pada tahun 1986 penulis melanjutkan pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala jurusan Peternakan Prodi Produksi Ternak dan pada tahun 1989 penulis mendapatkan beasiswa TID (Tunjangan Ikatan Dinas) dan lulus sebagai Sarjana peternakan pada tahun 1991. Pada tahun 1992 penulis diangkat menjadi Staff Pengajar di jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Unsyiah dalam bidang studi Ilmu Pemuliaan dan Genetika Ternak. Kesempatan untuk melanjutkan pendidikan Master of Agriculture Science di University of New England, Armidale Australia NSW pada tahun 1997 – 1998 setelah penulis mendapatkan beasiswa dari pemerintahan Australia berupa Australian Development Scholarship (ADS) dalam bidang Quantitative Genetics. Pada tahun 2008 penulis melanjutkan pendidikan Doktor pada Institut Pertanian Bogor (IPB) pada program Mayor Ilmu dan Teknologi Peternakan dengan beasiswa pendidikan dari BPPs Dikti Jakarta. Pada tahun 2009 penulis mendapatkan beasiswa program Sandwich dari Dikti dan penulis memperoleh kesempatan untuk melakukan penelitian di Laboratorium CAAS (Chinese Academy of Agriculture Sciences) – ILRI (International Livestock Research Institute) JLLFGR (Joint Laboratory on Livestock and Forage Genetic Resources) Beijing – China sebagai visiting scientist. Sebuah artikel telah diterbitkan dengan judul Identification of Genotype DNA Microsatellite in Association with Performance of Indonesian Aceh Cattle pada Journal of Genetic Engineering and Biotechnology (JGEB) National Research Centre, Cairo, Egypt, Vol. 8 No 1 2010. Artikel lain tentang D-Loop dan gen GH sedang dalam tahap penyelesaian. Karya-karya ilmiah tersebut merupakan bagian dari program S3 penulis.
Usaha peternakan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam secara umum telah dilakukan secara turun temurun meskipun dalam jumlah kecil skala rumah tangga, namun usaha tersebut telah memberikan kontribusi yang cukup besar dalam menunjang pembangunan sub sektor peternakan. Kontribusi tersebut terutama dalam memenuhi kebutuhan penyediaan bahan pangan asal ternak, baik dalam bentuk ternak hidup maupun daging, khususnya kebutuhan domestik dan daerah. Meskipun kontribusi petani peternak cukup menentukan dan memegang peranan penting dalam penyediaan kebutuhan sapi potong, namun belum sepenuhnya mampu menjawab tantangan dan peluang pasar yang cenderung meningkat yang mengakibatkan tingginya harga daging sapi di pasaran Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Persilangan yang semakin luas dan tidak terkontrol terhadap sapi Aceh dengan bangsa sapi eksotik akan memberikan dampak terhadap peningkatan produktivitas sapi-sapi Aceh disatu sisi, namun menurunkan keaslian sapi Aceh. Kekhawatiran ini telah terjadi pada sapi di Lithuania (Eropah Timur) yang terancam punah (Maleviciute et al. 2002) akibat persilangan yang disengaja tetapi tidak terstruktur. Bahkan beberapa sapi asli di negara India telah punah sebelum sapi ini diidentifikasi dan dimanfaatkan (Sodhi et al. 2006). Hal demikian juga ditegaskan oleh FAO (2000) bahwa, sumber daya genetik ternak asli akan punah akibat permintaan pasar, persilangan yang tidak terkendali, pergantian breed
(pergantian bangsa sapi yang sudah ada dengan bangsa sapi baru) dan kegiatan mekanisasi pertanian (pergantian penggunaan tenaga sapi dengan tenaga mesin untuk mengolah lahan pertanian). Mempertahankan sumber daya ternak lokal juga penting artinya untuk mencapai ketahanan pangan yang berkelanjutan bagi umat manusia, selain itu juga memperkaya daftar plasma nutfah sebagai sumber protein hewani. Oleh karena itu, dalam rangka mengurangi laju kepunahan, khususnya pada sumber genetik ternak lokal Indonesia, salah satu yang harus dilakukan yaitu menggali informasi genetik melalui upaya karakterisasi keanekaragaman genetik pada ternak lokal tersebut.
Pertumbuhan merupakan indikator terpenting dalam menentukan tingkat produksi daging pada sapi, sehingga memiliki nilai ekonomi penting dalam budidaya sapi pedaging. Sapi Aceh merupakan salah satu jenis sapi pedaging di Indonesia yang telah dikenal sebagai jenis sapi yang cocok untuk dikembangkan di Indonesia. Sapi Aceh ini dapat beradaptasi dengan baik pada kondisi lingkungan Indonesia, tahan terhadap iklim tropis, dapat hidup dengan kondisi pakan dan air setempat, dan tahan terhadap keberadaan bakteri dan parasit (Gunawan 1998). Meskipun sapi ini mampu beradaptasi dengan baik, namun produktivitasnya masih rendah jika dibandingkan dengan sapi impor. Melalui peningkatan produktivitas sapi lokal Indonesia, diharapkan minat para peternak untuk beternak sapi lokal akan meningkat. Dengan demikian, populasi sapi lokal akan meningkat dan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia akan daging maupun sapi dari negara lain.
Peningkatan produktivitas sapi pedaging Indonesia akan lebih tepat bila dilakukan melalui seleksi yang tidak hanya berdasarkan pada penampakan luar (fenotip), melainkan dikombinasikan dengan seleksi langsung pada tingkat DNA yang mengkodekan fenotip yang ingin diperbaiki kualitasnya. Peta genom pada sapi (bovine genome map) yang dibuat berdasarkan marker pada DNA genom menggunakan teknik molekuler seperti RFLP, mikrosatelit, minisatelit, PCR-RFLP, dan PCR-SSCP dimungkinkan untuk mengidentifikasi lokus-lokus gen yang bertanggung jawab terhadap variasi sifat yang memiliki nilai ekonomi.
Bruford et al. (2003) menyatakan bahwa diantara beberapa penanda molekuler yang digunakan pada genom inti, mikrosatelit merupakan penanda yang paling banyak digunakan. Hal ini karena mikrosatelit bersifat polimorfik dan sangat informatif, keberadaannya di dalam genom inti relatif banyak dan dapat diamplifikasi melalui PCR. Mikrosatelit telah digunakan untuk menjelaskan pola domestikasi dan migrasi pada sapi Eropa (Loftus et al. 1994) dan karakterisasi populasi ternak sapi dari turunan Bos indicus dan Bos taurus (Beja-Pereira et al. 2003). Lokus-lokus mikrosatelit juga digunakan oleh Machado et al (2003) untuk mengevaluasi keanekaragaman genetik dalam masing-masing bangsa sapi dan perbedaan genetik di antara setiap bangsa, sehingga informasi tersebut dapat
digunakan untuk membuat keputusan tentang konservasi pada ternak sapi (Sodhi
et al. 2006).
Patricia et al. (2002) mengggunakan DNA mitokondria untuk membuktikan dan menganalisa variasi dalam dan antarspesies, stuktur populasi dan filogeni. Hal ini juga dibenarkan oleh Muladno (2006) bahwa DNA mitokondria terutama daerah D-loop, sangat baik digunakan untuk analisis keragaman hewan, baik intraspesies maupun antarspesies. Penelitian yang dilakukan oleh Nijman et al. (2003) dan Edwards et al. (2007), penentuan daerah D-loop mtDNA pada sapi telah dapat menunjukkan sejarah sapi, dan hibridisasi yang terjadi pada Banteng dan sapi Madura. Berdasarkan penelitian Abdulah (2008), runutan daerah D-loop DNA mitokondria sapi Aceh berada satu klaster dengan sapi Pesisir dan PO serta mempunyai jarak genetik yang lebih dekat dengan bangsa-bangsa sapi Bos indicus (zebu) dari India, sedangkan sapi Bali dan Madura membentuk klaster sendiri. Dengan menggunakan analisis DNA mikrosatelit dibuktikan bahwa sapi Aceh memiliki klaster yang sama dengan sapi PO dan Pesisir serta satu kelompok dengan sapi Madura.
Penanda genetik molekuler yang terbaru yaitu SNP (Single Nucleotide
Polymorphism), yang dapat mengidentifikasikan dengan jelas posisi perubahan
hanya satu basa nukleotida pada sekuen DNA. Lucy et al. (1993) dan Zhang et al. (1992) menemukan SNP pada ekson lima (codon 127) dimana terjadi perubahan leusina ke valina (CTG – GTG) pada molekul GH. Ge et al. (2003) menggunakan metode sekuensing pada sapi Angus dan menemukan tiga SNP yang baru pada daerah promotor. Yao et al. (1996) mengidentifikasikan SNP pada ekson lima gen GH, dimana terjadi perubahan basa A menjadi basa C.
Penggunaan gen GH sebagai marker genetik telah banyak digunakan dalam penelitian, karena gen hormon pertumbuhan (GH) merupakan salah satu gen yang berpengaruh terhadap pertumbuhan (Di Stasio et al. 2005). Casas et al.
(2004) melaporkan QTL untuk sifat pertumbuhan, komposisi karkas dan kualitas daging sapi tersebar pada kromosom 1, 2, 3, 16, 17, 19, 20, 21 dan 26. Peran gen GH terhadap performans ternak sapi sangat jelas pengaruhnya (Breier. 1999), sehingga polimorfisme gen GH pada sapi Aceh sangat menarik untuk dikaji.
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengindentifikasikan keragaman genetik gen hormon petumbuhan (GH) dan hubungannya dengan kualitas karkas sapi Aceh. Penentuan keragaman genetik ini dapat dipakai sebagai indikator untuk melakukan seleksi genetik sapi Aceh. Perbaikan kualitas karkas dan daging pada sapi Aceh melalui penggunaan marka gen hormon pertumbuhan (GH) dapat meningkatkan nilai ekonomis ternak sapi Aceh. Selanjutnya melestarikan keberadaan sapi Aceh dapat juga dilakukan dengan mengkarakterisasikan keragaman genetik dengan penanda genetik molekuler SNPs, D-Loop dan mikrosatelit, sehingga seluruh informasi yang didapat dari hasil penelitian dapat melengkapi data yang telah ada untuk dijadikan sebagai database dalam melakukan kebijakan pelestarian sapi Aceh dan penggunaannya yang berkelanjutan.
Tujuan Penelitian
a. Mengidentifikasi posisi perubahan basa nukleotida sekuen DNA gen GH pada ekson lima, dan mempelajari jumlah dan frekuensi alel SNPs pada populasi sapi Aceh.
b. Mendeterminasi polimorfisme genotipe dan alel gen GH/AluI serta pengaruh dari masing-masing genotipe terhadap kualitas karkas pada sapi Aceh
c. Mengidentifikasi keragaman pada populasi sapi Aceh dengan menggunakan marker genetik D-Loop dan Mikrosatelit
Manfaat Penelitian
a. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam rangka perbaikan mutu genetik sapi Aceh melalui aplikasi teknik biologi molekuler
b. Dimungkinkan penciri genetik yang diperoleh dapat digunakan sebagai MAS (Marker Assisted Selection) dalam percepatan perbaikan mutu genetik sapi Aceh dan pengembangan ternak nasional pada umumnya.
c. Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan Biologi Molekuler/Genetika Molekuler, khususnya penerapan teknologi marker genetik pada sapi Aceh.
Hipotesis
1. Penciri PCR-RFLP fragmen gen GH/AluI dan marker genetik D-Loop serta mikrosatelit memiliki polimorfisme yang tinggi pada sapi Aceh. 2. Terdapat korelasi yang nyata antara polimorfisme gen GH/AluI dengan
SAPI ACEH
PEMECAHAN MASALAH
Kehilangan/Punahnya Plasma Nutfah
• Data Kuantitatif/Kualitatif • Data Molekuler terbatas
GENETIK GEN GH FENOTIPIK PERFORMANS KUALITAS KARKAS PRODUKSI Pemanfaatan Genetik Marker
Program Pemuliaan & Pemanfaatan Secara Berkelanjutan
SEKUENSING DARAH/DAGING
POLIMORFISME
Sumber daya ternak sapi di Indonesia saat ini terdiri atas tiga kelompok, yakni (1) ternak asli, (2) ternak impor dan (3) ternak yang telah beradaptasi. Sehubungan dengan pentingnya nilai konservasi pada kelompok ternak ini, beberapa bangsa sapi menjadi target konservasi sekaligus pemanfaatannya (Utoyo 2002). Sumber daya ternak sapi tersebut diantaranya ialah sapi Aceh, Bali, Peranakan Ongole, Sumba Ongole, Madura, Jawa, Pesisir dan Grati. Keanekaragaman sapi di Indonesia menurut Utoyo (2002) terbentuk dari sumber daya genetik asli dan impor. Bos indicus Ongole dari India telah diimpor mulai pada awal abad ke-20 dan bangsa sapi ini memegang peranan penting dalam program pengembangan peternakan di Indonesia. Sapi Ongole murni pertama dibawa ke pulau Sumba kemudian disebut sebagai Sumba Ongole. Sapi ini kemudian dibawa ke tempat-tempat lain untuk disilangkan dengan sapi asli Jawa dan terbentuk Peranakan Ongole dan sapi Madura. Hasil domestikasi spesies liar Bos (bibos) banteng adalah sapi Bali (Bos sondaicus) atau Bos javanicus (Talib et al. 2002) yang sekarang telah menjadi salah satu bangsa ternak asli Indonesia (Martojo 2003).
Sumber daya genetik ternak merupakan kerangka dasar acuan bagi peternakan dan pengembangan galur dan bangsa ternak untuk masa yang akan datang. Berlimpahnya keanekaragaman bangsa ternak asli yang mampu beradaptasi secara lokal dapat menyelamatkan petani dalam menghadapi iklim yang sulit dan wilayah yang marjinal. Sumber daya genetik ternak lokal dapat dimanfaatkan dengan biaya (input) minimum dan memegang peranan penting dalam budaya masyarakat pedesaan (FAO 2001). Keragaman genetik pada ternak penting dalam rangka pembentukan rumpun ternak modern dan akan terus berlanjut sampai masa yang akan datang (Soebandriyo dan Setiadi 2003). Punahnya keragaman plasma nutfah ternak tidak akan dapat diganti meskipun dengan kemajuan bioteknologi paling mutakhir, karena itu, pelestarian sumber daya genetik ternak perlu dilakukan.
Menurut ILRI (1995), terdapat tujuh ternak sapi asli di Indonesia, yaitu Sumba Ongole, Ongole cross, Bali, Madura, Aceh, Pesisir dan Grati. Sapi Aceh sebagai salah satu sumber daya genetik ternak lokal dan menjadi aset plasma nutfah nasional berperan sangat penting sebagai sumber daging bagi masyarakat di Nanggroe Aceh Darussalam dan sekitarnya. Selain berperan sebagai sumber daging, sapi Aceh juga sangat populer untuk kebutuhan hewan kurban dan hari besar Islam lainnya. Keunggulan sapi Aceh lainnya mempunyai daya tahan terhadap lingkungan yang buruk seperti krisis pakan, air dan pakan berserat tinggi, penyakit parasit, temperatur panas dan sistem pemeliharaan tradisional (Gunawan 1998).
Pelestarian terhadap sumber daya genetik ternak lokal sebagai bagian dari komponen keanekaragaman hayati adalah penting untuk memenuhi kebutuhan pangan di masa yang akan datang. Ada beberapa alasan untuk hal tersebut, antara lain (1) lebih dari 60 persen dari bangsa-bangsa ternak di dunia berada di negara sedang berkembang, (2) konservasi bangsa ternak lokal tidak menarik bagi petani, (3) secara umum tidak ada program monitoring yang sistematis dan tidak tersedianya informasi deskriptif dasar sumber daya genetik hewan ternak dan (4) sedikit sekali bangsa-bangsa ternak asli yang telah digunakan dan dikembangkan secara aktif (FAO 2001).
Karakteristik Sapi Aceh
Sapi Aceh merupakan jenis sapi yang telah lama dikenal sebagai salah satu jenis ternak yang dipelihara masyarakat tani di pedesaan (Gambar 2). Pada awalnya penggunaan sapi Aceh sebagai ternak kerja untuk mengolah lahan pertanian dan ternak potong serta sebagian kecil untuk hewan kesenangan atau tabungan. Sapi Aceh memiliki beberapa variasi pada warna tubuhnya (merah bata, cokelat, hitam, putih dan kombinasi yang mengarah ke warna gelap dan terang dengan warna dominan merah bata dan coklat muda), berpunuk, bergelambir, mempunyai garis muka dan garis punggung yang cekung, bertanduk dengan bentuk tanduk sapi betina mengarah ke samping melengkung ke atas kemudian ke