• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.6. Hasil Penelitian dan Pembahasan

4.6.1. Hasil Estimasi Analisis Ordinary Least Square (OLS)

menengah pada tahun 1974 tercatat sebesar 1.148.801 orang meningkat menjadi 40.683.239 orang pada tahun 2004 atau meningkat rata-rata 5 persen per tahun.

4.6. Hasil Penelitian dan Pembahasan

4.6.1. Hasil Estimasi Analisis Ordinary Least Square (OLS)

Hubungan antara variabel independen akumulasi modal fisik (AMF), investasi human capital (GIHC), tenaga kerja produktif berpendidikan menengah (SHCM) serta tenaga kerja produktif berpendidikan tinggi (SHCU) terhadap variabel dependen Produk Domestik Bruto (PDB) dalam penelitian ini dituliskan dalam persamaan :

PDB = + 1 AMF + 2 GIHC + 3 SHCM + 4 SHCU + µ

Untuk melihat seberapa besar pengaruh variabel independen (AMF, GIHC, SHCM, SHCU) terhadap pertumbuhan ekonomi (PDB) Indonesia maka dilakukan uji estimasi melalui metode Ordinary Least Square (OLS) untuk data time series (1975-2004) dengan menggunakan Program E-views versi 4.1. dengan hasil sebagaimana diurai oleh Tabel-4.3. berikut ini :

TABEL – 4.3. Hasil Estimasi Variabel AMF, GIHC, SHCM dan SHCU Terhadap Varaiabel Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia (Tahun 1975-1974)

Variabel Koefisien Std. Error t-Statistik Probabilitas

Konstanta -1212,34 8386,892 -1,4560 0,1578

Akumulasi Modal

Fisik (AMF) 2,0923 0,1624 12,8774 0,0000

Inv. Dalam Human

Capital (GIHC) 2,6002 1,1904 2,1843 0,0385 T-kerja Berpddkn Menengah (SHCM) 0,0007 0,0019 0,4170 0,6802 T-kerja Berpddkn Tinggi (SHCU) 0,0396 0,0121 3,2579 0,0032 Dependen Produk Domestik Bruto - - - - R2 = 0,9924 Adj. R2 = 0,9911

D-W-statistik = 1,5958 F-statistik = 817,2829 Prob.(F-statistik) = 0,0000 Sumber : Lampiran-1

Persamaan yang diperoleh dari estimasi OLS tersebut di atas adalah : PDB = -1212 + 2,0923 AMF + 2,6002 GIHC + 0,0007 SHCM + 0,0395 SHCU

Std. error (0,162) (1,190) (0,001) (0,012)

t-statistik (12,877)*** (2,184)** (0,417) (3,257)***

R2 = 0,9924 ¯R2 = 0,9911 F-rasio = 817,28 D-W test = 1,5958

F- Statistik = 817,28 Prob. F-stat. = 0,000

Keterangan : ***) signifikan pada = 1 %

Persamaan hasil estimasi di atas menunjukkan bahwa variabel investasi pemerintah Indonesia dalam bidang pembangunan Human Capital (GIHC), akumulasi modal fisik (AMF), jumlah tenaga kerja produktif berpendidikan menengah (SHCM) dan jumlah tenaga kerja produktif berpendidikan tinggi (SHCU) mampu menjelaskan pertumbuhan PDB Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,9924. Artinya secara keseluruhan variabel bebas dalam persamaan tersebut mampu menjelaskan 99.24 persen variasi pertumbuhan PDB Indonesia selama kurun waktu yang diteliti, sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam persamaan dimaksud.

Bila dianalisis secara simultan dari masing-masing variabel bebas dalam persamaan tersebut maka pengaruhnya terhadap variabel dependen peningkatan PDB Indonesia ternyata mempunyai pengaruh yang sangat signifikan pada tingkat kepercayaan hampir mencapai 100 persen. Hal ini dapat dilihat dari hasil estimasi di mana nilai F-statistik 817,28 dan nilai probabilitas uji F-statistik sebesar 0,00.

Apabila dianalisis secara parsial terhadap masing-masing variabel bebas jumlah tenaga kerja produktif, maka berdasarkan persamaan estimasi terlihat bahwa hanya variabel jumlah tenaga kerja berpendidikan menengah (SHCM) memberikan pengaruh kurang signifikan terhadap peningkatan PDB Indonesia. Sedangkan variabel jumlah tenaga kerja berpendidikan tinggi (SHCU) menunjukkan adanya pengaruh yang cukup berarti terhadap peningkatan PDB Indonesia. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa tenaga kerja yang lebih berpendidikan dan

lebih sehat diharapkan akan lebih produktif dan termotivasi serta lebih berinovasi untuk meningkatkan produktifitas faktor produksi lainnya (van den Berg, 2001).

Dengan kata lain, dengan memperhatikan nilai t-statistik dari hasil estimasi terhadap variabel akumulasi modal fisik (AMF) = 12,877 dan investasi pemerintah dalam bidang human capital (GIHC) = 2,184 serta tenaga kerja produktif berpendidikan tinggi (SHCU) =3,257 diperoleh gambaran bahwa variabel independen AMF, GIHC dan SHCU memberikan pengaruh yang cukup berarti dan sangat signifikan terhadap pertumbuhan PDB Indonesia. Berdasarkan hasil persamaan estimasi di atas tanda koefisien regresi dari semua variabel bebas menunjukkan tanda positip. Hal ini sesuai dengan hipotesis 1, 2, 3 dan 4 yang dinyatakan dalam penelitian ini.

Tanda positip dari koefisien variabel akumulasi modal fisik (AMF) memberi indikasi adanya pengaruh yang positip dari akumulasi modal fisik terhadap peningkatan PDB Indonesia selama periode runtun waktu yang diamati dengan nilai koefisien sebesar 2,0923. Dengan kata lain apabila akumulasi modal fisik (AMF) meningkat sebesar 1 miliar rupiah, ceteris paribus, maka laju pertumbuhan PDB Indonesia akan meningkat sebesar 2,09 miliar rupiah. Dan ini sesuai dengan hipotesis-1 dari penelitian ini yang menyatakan bahwa akumulasi modal fisik berpengaruh positip terhadap peningkatan PDB Indonesia, ceteris paribus. Koefisien regresi sebesar 2,0923 dengan nilai uji t sebesar 12,877 menunjukkan bahwa variabel

akumulasi modal fisik (AMF) tersebut memberikan pengaruh yang sangat signifikan pada taraf = 1 persen atau tingkat kepercayaan 99 persen.

Hasil estimasi untuk variabel bebas investasi pemerintah Indonesia dalam bidang human capital (GIHC) menunjukkan tanda koefisien regresi dengan tanda positip sebesar 2,6002. Artinya apabila investasi pembangunan pemerintah dalam bidang pendidikan dan kesehatan meningkat 1 miliar rupiah, ceteris paribus, maka akan meningkatkan laju pertumbuhan PDB Indonesia sebesar 2,60 miliar rupiah. Koefisien regresi 2,6002 dan nilai uji t sebesar 2,184 dari hasil estimasi menunjukkan bahwa variabel investasi pemerintah Indonesia dalam bidang pendidikan dan kesehatan memberikan pengaruh yang sangat nyata (signifikan) terhadap pertumbuhan PDB Indonesia dalam kurun waktu yang diteliti pada = 5 persen atau tingkat kepercayaan 95 persen.

Ini berarti sesuai dengan hipotesis-2 dari penelitian ini yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh positip anggaran pembangunan pemerintah dalam bidang pendidikan dan kesehatan terhadap peningkatan PDB Indonesia, ceteris paribus. Hasil temuan ini masih konsisten dengan beberapa hasil penelitian empiris sebelumnya, antara lain Engelbrecht (2003), Heckman (2003) serta Tallman dan Wang (1992).

Demikian pula hasil estimasi untuk variabel jumlah tenaga kerja produktif berpendidikan tinggi (SHCU) menunjukkan tanda koefisien regresi yang positip sebesar 0,0396. Artinya apabila jumlah tenaga kerja produktif berpendidikan tinggi

(lulusan Akademi dan Universitas) meningkat sebanyak 1 orang, ceteris paribus, maka akan meningkatkan laju pertumbuhan PDB Indonesia sebesar 0,0396 miliar rupiah atau 3,96 juta rupiah. Nilai positip koefisien regresi 0,0396 dan nilai uji t sebesar 3,2579 memberi arti bahwa variabel jumlah tenaga kerja produktif yang berpendidikan tinggi memberi pengaruh positip dan cukup signifikan terhadap peningkatan PDB Indonesia selama kurun waktu yang diteliti pada = 1 persen atau tingkat kepercayaan 99 persen. Hal ini sesuai dengan hipotesis-3 dari penelitian ini yang menyatakan terdapat pengaruh yang positip jumlah tenaga kerja produktif berpendidikan tinggi terhadap peningkatan PDB Indonesia, ceteris paribus.

Berdasarkan hasil estimasi, tanda positip nilai koefisien regresi dan nilai t -statistik yang sangat rendah atas variabel jumlah tenaga kerja produktif berpendidikan menengah (SHCM) memberi arti adanya pengaruh yang positip namun kurang signifikan dari jumlah tenaga kerja berpendidikan menengah terhadap peningkatan PDB Indonesia selama periode waktu yang diamati dalam penelitian ini. Nilai koefisien regresinya relatif sangat kecil yakni sebesar 0,0008 demikian juga nilai t -statistik yakni 0,4170 . Artinya apabila jumlah tenaga kerja produktif yang berpendidikan menengah meningkat sebanyak 1 orang, ceteris paribus, maka akan meningkatkan laju peningkatan PDB Indonesia sebesar 0,0008 miliar rupiah atau 80 ribu rupiah. Nilai positip koefisien regresi dengan nilai uji t sebesar 0,4170 ini sesuai dengan hipotesis-4 dari penelitian ini yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positip jumlah tenaga kerja berpendidikan menengah terhadap peningkatan PDB

Indonesia, ceteris paribus. Namun nilai pengaruh tersebut sangat kecil atau kurang signifikan.

Uji kesesuaian (goodness of fit) R2 merupakan koefisien determinasi berganda yang menjelaskan variabel independen AMF, GIHC, SHCM dan SHCM mempengaruhi variabel dependen peningkatan PDB Indonesia (Y). Dalam penelitian ini nilai R2 = 0,9924 artinya, empat variabel independen dalam model persamaan tersebut mampu menjelaskan 99,24 persen hubungan variabel independen terhadap variasi variabel dependen Y, sedangkan selebihnya diterangkan oleh variabel lainnya.

Uji parsial (t-test) dari 4 variabel independen dalam penelitian ini menunjukkan nilai t-hitung untuk 3 variabel AMF (= 12,8774), GIHC (= 2,1843) dan SHCU (= 3,2578) lebih besar dari t-tabel. Artinya H0 ditolak dan H1 diterima sehingga 3 variabel tersebut dalam penelitian ini dapat dinyatakan sangat signifikan terhadap peningkatan PDB, sementara variabel SHCM (t-hitung = 0,4170) lebih kecil dari t-tabel

dapat dinyatakan kurang signifikan terhadap peningkatan PDB.

Untuk menguji sejumlah variabel eksplanatori secara serempak (simultaneously) digunakan Uji serempak (Uji-F) melalui teknik analysis of variance (ANOVA) atau F-test. Dalam penelitian ini nilai F-hitung = 817,28 atau lebih besar dari F-tabel sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, artinya variabel independen AMF, GIHC, SHCM dan SHCU secara keseluruhan berpengaruh sangat signifikan terhadap variabel dependen peningkatan PDB Indonesia.

Uji multikolinieritas dapat dilihat melalui nilai R2 dari masing-masing hasil regresi antar variabel independen AMF, GIHC, SHCM, SHCU (Lampiran-2) dengan membandingkannya terhadap nilai R2 hasil regresi pokok bahasan (Lampiran-1) seperti yang diuraikan tabel berikut ini :

Tabel 4 – 4 : Uji Multikolinieritas Melalui Nilai Determinasi R2 Dari Hasil Estimasi Masing-masing Variabel Dependen AMF,GIHC, SHCM dan SHCU

Estimasi Antar Variabel No. Indepnd. Dependen Nilai Deter-minasi R2 Nilai Determinasi R2 Pokok Bahasan 01. AMF GIHC, SHCM, SHCU 0,8095 < 0,9924 02. GIHC AMF, SHCM, SHCU 0,8295 < 0,9924 03. SHCM AMF, GIHC, SHCU 0,9543 < 0,9924 04. SHCU AMF, GIHC, SHCM 0,8904 < 0,9924 Sumber : Lampiran-1 dan Lampiran-2

Apabila nilai R2 dari masing-masing hasil regresi antar variabel independen adalah lebih besar dari nilai R2 hasil regresi pokok bahasan maka terdapat multikolinieritas demikian pula sebaliknya. Dari hasil regresi antar variabel independen (Lampiran-2) diperoleh nilai R2 masing-masing adalah 0,8094 ; 0,8295 ; 0,9543 dan 0,8904 yang semuanya lebih kecil dari R2 pokok bahasan (= 0,9924). Maka dapat disimpulkan bahwa hasil analisis regresi variabel independen terhadap variabel dependen dalam penelitian ini tidak terdapat multikolinieritas.

Untuk mengetahui apakah spesifikasi model yang digunakan sudah benar dapat dilihat melalui Uji Linieritas dengan menggunakan Uji Ramsey atau Ramsey-Reset test. Dari hasil uji Ramsey RESET untuk penelitian ini (Lampiran-4) diperoleh nilai F-hitung = 1,0851 yang mengindikasikan bahwa spesifikasi model adalah signifikan atau lebih kecil dari nilai X2tabel.(5,77) Artinya hipotesis yang menyatakan residual µi adalah berdistribusi normal diterima atau tidak dapat ditolak. Sehingga spesifikasi model yang digunakan sudah dapat dinayatakan tepat.

Selanjutnya dilakukan uji normalitas untuk memenuhi asumsi penaksir mempunyai sifat-sifat statistik yang diinginkan yaitu tidak bias dan mempunyai varian yang minimum maka harus diketahui normal atau tidaknya faktor pengganggu

I dengan melakukan Uji Jarque-Berra (J-B test). Uji ini menggunakan hasil estimasi residual dan chi-square probability distribution yaitu membandingkan nilai J-Bhitung

dengan nilai X2tabel. Bila nilai J-Bhitung lebih besar dari nilai X2tabel maka hipotesis H0

yang menyatakan bahwa residual I berdistribusi normal ditolak, demikian sebaliknya.

Dari histogram regresi residual (Lampiran-3) menunjukkan nilai Skewness = 0,1245 dan nilai Kurtosis = 2,6752. Variabel berdistribusi normal jika nilai Skewness dan Kurtosis masing-masing 0 dan 3. Dengan pembulatan nilai Skewness (0) dan nilai Kurtosis (3) maka dari histogram regresi residual dapat disimpulkan variabel berdistribusi normal. Sementara diperoleh nilai J-Bhitung adalah 0,2093 lebih kecil dari nilai Probability p (= 0,9006). Sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan

H1 diterima, yaitu hipotesis yang menyatakan bahwa residual I adalah berdistribusi normal.

Apabila dalam observasi (khususnya data runtun waktu/time series) mengandung saling ketergantungan antara faktor pengganggu dipengaruhi oleh unsur gangguan yang berhubungan dengan pengamatan lainnya maka dilakukan uji otokorelasi dengan menggunakan first order serial correlation yaitu metode Uji Durbin-Watson (Uji D-W) dan higher order autoregressive dengan metode Breusch-Godfrey test atau LM-test.

Hasil regresi dalam first-order serial correlation dalam penelitian ini nilai uji D-W adalah 1,5958. Sementara untuk level signifikansi 0,01 nilai dL = 0,941 dan dU

= 1,511. Dengan demikian nilai uji-D-W dalam penelitian ini berada pada zona tidak terdapat otokorelasi positip dan zona tidak terdapat otokorelasi negatip atau kedua-duanya. Artinya H0 atau H*0 atau keduanya diterima pada tingkat signifikansi 0,01. Sedangkan pada tingkat signifikansi 0,05 nilai dL = 1,143 dan dU = 1,739. Dengan demikian maka nilai uji D-W penelitian ini berada pada wilayah interval dL dengan dU yaitu zona inconclusive yang berarti zona tidak ada keputusan pada tingkat signifikansi 0,05. Hal tersebut dapat diuraikan dalam lampiran-6.

Dokumen terkait